INTERVENSI TINDAKAN
A. Acuan Teori Area dan Fokus yang Diteliti 1.Contextual Teaching & Learning (CTL) 1.Contextual Teaching & Learning (CTL)
3. Hakikat Hasil Belajar a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar yang merupakan produk dari suatu proses belajar dapat dilihat dari perubahan kondisi pribadi pelaku pelajar dari yang semula ia tidak tahu (berpengetahuan) menjadi tahu (berpengetahuan).
Gagne menyebutkan bahwa belajar sebagai suatu perubahan dalam disposisi atau kapabilitas manusia.Perubahan dalam menunjukkan kinerja (prilaku) berarti belajar itu menentukan semua keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai yang diperoleh individu (siswa).Dalam belajar dihasilkan berbagai macam tingkah laku yang berlainan, seperti pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan, informasi dan nilai.Berbagai macam tingkah laku yang berlainan inilah yang disebut kapabilitas sebagai hasil belajar.
Bloom dengan kawan-kawannya mengklasifikasikan hasil belajar menjadi 3 domain atau kawasan, yaitu kawasan kognitif, efektif dan psikomotor.
“Kawasan kognitif menaruh perhatian pada pengembangan kapabilitas dan
keterampilan intelektual, kawasan efektif berkaitan dengan pengembangan Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi
2.1 Mengenal aktivitas ekonomi yang
berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi lain di daerahnya
2.2 Mengenal pentingnya koperasi dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat
2.3 Mengenal perkembangan teknologi
produksi, komunikasi, dan transportasi serta pengalaman menggunakannya
2.4 Mengenal permasalahan sosial di
perasaan sikap, nilai dan emosi yang dipelajari (baru), dan kawasan psikomotor
berkaitan dengan kegiatan-kegiatan manipulatif atau keterampilan motorik.”61
Dari sisi guru hasil belajar merupakan saat terselesaikannya bahan pelajaran, Tri Yogo Prabowo menyatakan bahwa hasil belajar merupakan suatu
“proses perubahan tingkah laku yang diharapkan dikuasai oleh individu melalui
proses belajar”.62
Secara umum Reigeluth mengatakan bahwa hasil pembelajaran secara umum umum dapat dikategorisasi menjadi tiga indikator, yaitu :
a. efektivitas pembelajaran, yang biasanya diukur dari tingkat keberhasilan
siswa dari berbagai sudut
b. efisiensi pembelajaran, yang biasanya diukur dari waktu belajar dan atau
biaya pembelajaran dan
c. daya tarik pembelajaran yang selalu diukur dari tendensi siswa ingin
belajar secara terus menerus.63
Hasil belajar adalah “kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”64
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata dalam buku landasan psikologi
proses pendidikan hasil belajar (achievement);
Merupakan realisasipemekaran dari kecakapan-kecakapan pontensial kapasitas
yang dimiliki seseorang”.Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat
dari pelakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan,
keterampilan berpikir maupun keterampilan motoric.Hampir sebagian terbesar
dari kegiatan perilaku yang diperlihatkan seseorang meruapakan hasil belajar.Disekolah hasil belajar ini dapat dilihat dari penguasaan siswa mata
pelajaran yang ditempuhnya.” Tingkat penguasaan siswa akan mata-mata
pelajaran dalam mata pelajaran tersebut disekolah dilambangkan dengan angka-angka atau huruf, seperti angka 0-10 pada pendidikan dasar dan
menengah dan huruf a,b,c,d pada pendidikan tinggi.65
Dalam kegiatan belajar yang terperogram dan terkontrol yang disebut dengan kegiatan pembelajaran, tujuan belajar telah ditetapkan terlebih dahulu oleh
61
Mulyono Abdurrahman,Pendidikan Bagi Anak Berkualitas Belajar,(Jakarta: Gaung Persada Press, 2004), cet. Ke-4, h. 27-30.
62 Ibid. 63
Nurdin Ibrahim, Op. Cit, h. 488. 64
Mulyono Abdurrahman, pendidikan………h.37.
65
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Ros Dakarya, 2007), Cet.4, h. 102-103
guru.Jadi, anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Keberhasilan seseorang guru dari proses belajar mengajar adalah ketika siswanya mengerti dan memahami atas apa yang disampaikannya.hal itu menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan dalam hasil belajar.
Untuk mencapai hasil belajar yang ideal, dituntut kemampuan para pendidik untuk membimbing siswanya dalam proses belajar. Seorang guru harus selalu siap dengan berbagai kondisi dalam mengahadapi siswa dan lingkungannya, juga harus memiliki kompetensi yang tinggi untuk dapat menjalankan kewajibannya sebagai guru teladan, agar tercipta sumber daya manusia yang berkualitas.
Oleh karena itu, kegiatan belajar akan lebih terarah dan sistematis jika disertai dengan proses pembelajaran. Belajar dengan proses pembelajaran akan lebih efektif, karena ada guru, bahan ajar, metode, serta ada lingkungan yang kondusif yang sengaja diciptakan.
Di dalam sistem pendidikan nasional mengenai rumusan tujuan pendidikan menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin S. Bloom secara garis besar
mengacu kepada tiga arah, yaitu “kognitif, afektif, dan psikomotorik”.66
Menurut A.J. Romiszowski,” hasil belajar merupakan keluaran (outputs)
dari suatu system pemprosesan masukan (inputs). Masukan dari sistem tersebut
berupa macam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah perbuatan atau
kenerja ( performance)”.67
Romiszowski menyatakan perbuatan merupakan petunjuk dari proses belajar yang telah terjadi. Hasil belajarnya dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu pengetahuan dan keterampilan.
Romiszowski menyatakan pengetahuan terdiri dari empat kategori, yaitu:
1) Pengetahuan tentang fakta.
2) Pengetahuan tentang prosedur
3) Pengetahuan tentang konsep dan
4) Pengetahuan tentang prinsip
66
Mulyono Abdurrahman, pendidikan….,h.38
67 ibid
Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, di antaranya:
1) Keterampilan untuk berfikir atau keterampilan kognitif
2) Keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motoric
3) Keterampilan beraksi atau bersikap dan
4) Keterampilan berinteraksi.68
Hasil belajar yang dicapai siswa melalui proses pembelajaran yang optimal cenderung mewujudkan hasil yang berarti sebagai berikut:
1. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar
instrinsik pada diri siswa.
2. Menambah keyakinan akan kemampuan dirinyaHasil belajar yang dicapai
bermakna bagi dirinya.
3. Hasil belajar diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif)
4. Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan
dirinya, terutama dalam menilai hasil yang dicapaikannya maupun
menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.69
Dengan demikian, hasil belajar merupakan kualitas kemampuan yang dihasilkan melalui proses aktivitas aktif dalam membangun pemahaman informasi dalam bentuk kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.
Hasil belajar dalam diri seseorang terlihat melalui kemampuan-kemampuan yang dimilikinya, belajar membawa perubahan pada individu yang belajar.Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan melainkan dalam bentuk kecepatan, kebebasan, sikap, pengertian dan minat.
Suatu proses belajar akan menghasilkan hasil belajar, terlihat dari apa yang akan dilakukan oleh siswa sebelumnya. Hasil belajar dapat terjadi pada individu yang belajar. Perubahan akibat belajar itu akan bertahan lama, bahkan sampai taraf tertentu tidak menghilangkan lagi. Kemampuan yang telah diperoleh menjadi miliki pribadi yang tidak akan terhapus begitu saja lain keadaan bila orang melupakan sesuatu, orang itu mendapat kesan bahwa hal yang dipelajarinya telah menghilang. Jadi seolah-olah hasil belajar tidak berbekas. Namun kesan itu tidak seluruhnya benar, karena ada dalam ingatannya sisa-sisa dari apa yang dipelajarinya dahulu.
68 ibid 69
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), cet. XI, h. 56-57
Jadi hasil belajar yaitu hasil yang telah dicapai secara optimal selama berlangsungnya belajar.
Pengambilan keputusan tentang hasil belajar merupkan suatu keharusan bagi seseorang guru agar dapat mengetahui berhasil tidaknya anak didik dalam proses belajar mengajar. Ketidakberhasilan proses belajar mengajar disebabkan antara lain oleh:
1. Kemampuan anak didik yang rendah
2. Kualitas materi pelajaran tidak sesuai dengan tingkat usia anak
3. Jumlah bahan pelajaran teelalu banyak sehingga tidak sesuai dengan waktu
yang diberikan
4. Komponen proses belajar mengajar yang kurang sesuai dengan tujuan.
Disamping itu, pengambilan keputusan juga diperlukan
u
ntuk mengalamianak didik dan mengatahui sejauhmana diberikan bantuan terhadap kekurangan-kekurangan anak didik.
Hasil belajar dapat diketahui dari hasil evaluasi yang diadakan.Evaluasi adalah penilaian hasil belajar merupakan usaha guru untuk mendapatkan informasi tentang siswa, baik penguasaan konsep, sikap, kemampuan maupun keterampilan.Hal ini dapat digunakan sebagai balikan sangat diperlukan dalam menentukan starategi belajar siswa.
Evaluasi hasil belajar juga bermaksud memperbaiki dan mengembangkan program pengajaraan. Seseorang dikatakan berhasil apabila ia melakukan sesuatu, dan ia mendapatkan secara puas. Siswa dikatakan berhasil apabila ia memperoleh prestasi yang bagus disekolahnya, tentu prestasi tersebut diproleh dengan belajar.
Sebagian orang beranggapan bahwa, belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran.Ada pula sebagian yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti tampak pada latihan membaca dan menulis. Skinner, seperti yang dikutip Barlow dalam bukunya Education Psycology The
Teaching Leaning Proses, berpendapat bahwa “ belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif”.70
Hintzman dalam buku The Psycology of Learning and Memory
berpendapat bahwa, “Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut”.71
Sedangkan menurut Zikri Neni Iska mendefinisikan “belajar atau disebut
juga dengan learning, adalah perubahan yang secara relative berlangsung lama
pada prilaku yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman”.72
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.Hal tersebut menyebabkan adanya pengaruh dari dalam diri siswa sebagai perbuatan belajar yang menimbulkan perubahan tingkah lakunya.
Sedangkan adanya pengaruh dari luar individu itu juga bersifat wajar, maksudnya selain keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa (faktor internal), maka faktor eksternal pun turut mempengaruhi, hal ini dikarenakan baik buruknya hasil belajar siswa akan didukung pula dari baik buruknya lingkungan tempat siswa belajar.
Untuk itu faktor-faktor di atas dalam hal ini sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Sebagai contoh: seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal) umunya akan mendapat dorongan positif dari orang tuanya maupun lingkungannya (faktor eksternal).
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang telah dicapai seseorang atau sekelompok melalui usaha yang telah dilakukan atau kegiatan belajar yang dapat diukur dan dinilai.
b. Jenis Alat Penelitian Hasil Belajar
Secara garis besar, alat penilaian atau evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu tes dan non tes.
70
Muhibbin Syah, Psikologi……., h.88 71
ibid 72
a) Tes
Tes adalah “suatu alat atau prosedur yang sistematis dan obyektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang boleh dikatakan tepat atau cepat” 73
.
Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur mahasiswa maka dibedakan atas adanya tiga macam tes, yaitu:
1) Tes diagnostik, yaitu tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan
siswa, sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
2) Tes formatif, yaitu dari kata “form” yang merupakan dasar dari istilah “formatif” maka evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana siswa telah terbentuk setelah mengikuti program tertentu
3) Tes sumatif, yaitu tes yang dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian
kelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Dalam pengalaman sekolah, tes formatif disamakan dengan ulangan harian, sedangkan tes sumatif disamakan dengan ulangan umum yang biasanya
dilaksanakan pada akhir catur wulan atau semester.74
b) Non tes
Untuk menilai aspek tingkah laku, jenis non tes lebih sesuai digunakan sebagai alat evaluasi, seperti menilai aspek sikap, minat, karakteristik, dan lain-lain. Alat penilaian jenis non tes ini antara lain:
1. Observasi, yakni pengamatan kepada tingkah laku pada suatu tertentu.
2. Wawancara, yakni komunikasi langsung antara yang mewawancarai
dan yang diwawancarai.
3. Studi kasus, yaitu mempelajari individu dalam periode tertentu secara
terus-menerus untuk melihat perkembangannya.
4. Rating scale (skala penilaian), merupakan salah satu alat penilaian
yang menggunakan skala yang telah disusun dari ujung yang negatif sampai yang positif, sehingga si penilai tinggal membubuhi tanda cek saja.
5. Chek list, hampir menyerupai rating scale hanya saja pada cek list
tidak perlu disusun kriteria atau skala dari yang negatif sampai yang positif, cukup dengan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan kita minta dari yang dievaluasi.
6. Inventory, yaitu daftar pertanyaan yang disertai alternatif jawaban
diantara setuju, kurang setuju, atau tidak setuju.75
73
Amir dan Indra Kusuma, Evaluasi Dosenan, Jilid I, h. 27 74
Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), Cet. XII, h. 29
75
Maka dapat disimpulkan, kedua jenis alat penilaian tersebut sangat baik digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar, dan hendaknya para guru dapat menempatkan penggunaan alat penilaian ini dengan tepat agar dapat memperoleh data yang akurat dan obyektif dalam menilai hasil belajar para siswanya.
c. Fungsi dan Tujuan Penilaian Hasil Belajar
“Penilaian atau evaluasi adalah suatu cara yang sistematik dalam menganalisa suatu pekerjaan sehingga kita mengetahui sampai seberapa jauh pekerjaan itu dapat memperoleh hasil yang memuaskan dengan mempergunakan bahan-bahan dan cara-cara tertentu. Adapun alat yang digunakan untuk mengadakan penilaian diantaranya tes dan non tes.”76
Adapun fungsi penilaian itu sendiri dapat dijelaskan lebih terperinci sebagai berikut :
1. Penentuan kelemahan atau kekuatan serta kesanggupan mahasiswa dalam
memiliki atau menguasai materi yang telah diterima dalam proses belajar mengajar.
2. Penentuan-penentuan yang perlu direvisi atau diperbaiki, umpamanya:
metode, materi, alat, tujuan dan sebagainya.
3. Penentuan kelemahan atau kekuatan dosen dalam melaksanakan program
belajar mengajar.
4. Menyediakan bahan untuk membimbing pertumbuhan dan perkembangan
mahasiswa secara individual atau kelompok.
5. Untuk mengetahui seberapa jauh dasar-dasar yang telah dikuasai
mahasiswa
6. Untuk mengetahui sifat-sifat yang dimilikinya, dan tingkat kecerdasan
mahasiswa.
7. Untuk mengetahui kehidupan (standing) akan dalam kelompok.
8. Sebagai seleksi dikalangan mahasiswa.
9. Untuk memberi motivasi belajar terhadap anak.
10.Hasil penilaian berupa petunjuk bagi dosen, apakah metode dan bahan mata
kuliah yang diberikannya sudah cukup baik atau tidak.
11.Hasil evaluasi dapat memberikan motivasi belajar terhadap anak-anak.
12.Dengan hasil penilaian, dosen dapat memberikan saran-saran kepada anak
dan orang tua, jalan atau cara yang baik dalam belajar dan bekerja
selanjutnya.77
76
Dedeh Sukarsih dan Kadarsah, Beberapa Jenis Penilaian yang Dilaksanakan oleh Dosen di Kampus ,(Jakarta: CV Indra Jaya, 1986), Cet. IV, h. 11
77 ibid
d. Macam-macam Hasil Belajar
Kingsley membagi hasil belajar menjadi tiga macam yaitu, “Keterampilan
dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita”.78
Gagne
membagi hasil belajar menjadi lima kategori yaitu: “Informasi verbal,
keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, keterampilan
motoris”.79
Informasi verbal diperoleh sebagai hasil belajar disekolah dan juga dari kata-kata yang diucapkan orang dari membaca dan lain-lain.Keterampilan intelektual didapat dari berinteraksi dengan lingkungannya melalui penggunaan simbol-simbol atau gagasan. Strategi kognitif digunakan siswa apabila ia ingin memilih dan mengubah perhatian, pola belajar, ingatan dan proses berpikir dalam memecahkan masalah. Sikap terutama sikap sosial yang muncul dapat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap benda-benda.Menggunakan alat distilasi dalam pembelajaran kimia merupakan contoh dari keterampilan motoris yang digabung dengan keterampilan intelektual karena keterampilan motoris tidak hanya mencakup kegiatan fisik saja.
Abu Ahmadi dalam bukunya mengungkapkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar secara langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor tersebut digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:
1. Faktor-faktor Stimulus belajar, mencakup panjangnya bahan pelajaran,
kesulitan bahan pelajaran, berat ringannya tugas, dan suasana lingkungannya eksternal.
2. Faktor-faktor metode belajar, mencakup kegiatan berlatih, resitasi dalam
belajar, pengenalan tentang hasil-hasil belajar, bimbingan dalam belajar, dan kondisi-kondisi intensif.
3. Faktor-faktor individual, mencakup usiaKronologis, perbedaan jenis kelamin,
pengalaman sebelumnya kapasitas mental, kondisi kesehatan, jasmani, kondisi kesehatan rohani, dan motivasi.
Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku,
78
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, h. 22 79
dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan masalah atau berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap. Berdasarkan urian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi merupakan tingkah laku yang dimiliki individu sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar yang ditempuh. Hasil belajar adalah kemampuan yang telah dicapai oleh seseorang yang menyebabkan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman atau latihan yang dijalani.hasil belajar ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru sebagai tujuan pengajaran.
Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang didapatkan dari proses perubahan tingkah laku yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ketiga kemampuan ini merupakan Minded Integrity, artinya kemampuan ini dapat
diperoleh melalui suatu proses pembelajaran. Dalam arti bahwa kemampuan sebagai konsekuensi pembelajaran merupakan indicator untuk mengetahui hasil belajar.
IPS pada dasarnya, disiplin-disiplin ilmu (sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan sebagainya) adalah sumber utama pendidikan untuk ilmu-ilmu sosial. Materi pendidikan adalah apa yang dipelajari siswa untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu tujuan kurikulum imu-ilmu sosial, termasuk dalam pengertian materi ini adalah substansi dan proses yang berasal dari disiplin-disiplin ilmu sosial.
Pendidikan ilmu-ilmu sosial tidak hanya berhubungan dengan pengajaran materi ilmu-ilmu sosial. Melainkan juga berkaitan dengan materi pendidikan yang diajarkan dalam rangka mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu sesuai dengan tujuan yang akan dikembangkan dari luar disiplin ilmu dan umumnya materi tersebut digunakan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan moral siswa. Realita kehidupan dimasyarakat atau pada suatu bangsa, disebuah Negara hendaklah dijadikan materi dasar dalam pendidikan iilmu-ilmu sosial
yang terus dikembangkan untuk berbagai aspek.80
80
Berdasarkan definisi-defenisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar IPS adalah kemampuan yang didapatkan dari proses belajar yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang meliputi aspek kognitif, afektif dan aspek psikomotorik melalui latihan dan pengalamn yang menghasilkan perubahan dalam bidang IPS, baik dalam segi kemampuan berfikir logis atau dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-sehari.