• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD 2 Banjarharjo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul Tahun Pelajaran 2010/2011. Tempat penelitian ini terletak di wilayah Bantul paling timur dan berada di kawasan perbukitan.

Sekolah ini secara keseluruhan memiliki 6 kelas, dengan jumlah seluruh siswa–siswi yang terdaftar dalam institusi ini pada tahun ajaran 2010/2011 adalah sebanyak 87 siswa, yang terdiri dari kelas I sebanyak 17 siswa, kelas II sebanyak 7 siswa, kelas III sebanyak 17 siswa, kelas IV dengan 16 siswa, kelas V sebanyak 17 siswa dan kelas VI sebanyak 13 siswa.

Siswa-siswa yang bersekolah di SD 2 Banjarharjo sebagian besar dari keluarga yang mempunyai latar belakang ekonomi sedang. Orang tua siswa sebagian besar bekerja sebagai tukang kayu dan perajin anyaman. Setiap hari mayoritas orang tua murid meminta pada anak-anaknya membantu menganyam. Sehingga mereka kurang perhatian terhadap perkembangan belajar anaknya, akibatnya masih banyak anak yang mengalami kesulitan belajar.

Karakter siswa-siswi kelas IV tidak jauh berbeda dengan kelas lain dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA sangat berpusat pada guru. Siswa tidak berperan aktif dalam proses pembelajaran untuk membangun dan menemukan sendiri melalui proses interaksi langsung dengan lingkungan sekitar. Siswa cenderung hanya memperoleh pengetahuan melalui fakta – fakta yang telah ditulis di buku. Padahal pola pembelajaran yang hanya terpaku pada buku dan tidak dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari akan membuat siswa mengalami kesulitan dalam memahami suatu konsep.

Dengan penelitian ini diharapkan siswa SD 2 Banjarharjo lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar IPA, sehingga pengenalan wujud dan sifat benda akan meningkat.

commit to user

1. Deskripsi Kondisi Awal

Dalam proses kegiatan belajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa serta penggunaan model pembelajaran yang tepat dalam penyampaian materi pembelajaran. Begitupun juga dalam pembelajaran IPA, untuk meningkatkan kemampuan mengenal wujud benda dan sifatnya, hendaknya memperhatikan kondisi sosioemosional di kelas, karena emosi positif dapat merangsang otak dapat bekerja secara efektif dan efisien, sehingga dalam kondisi ini siswa dapat mengoptimalkan seluruh kemampuannya untuk berpikir kritis, fokus pada pembelajaran, melakukan eksperimen, bertanya atau menjawab pertanyaan, bekerja sama dan lain-lain. Sebaliknya keadaan stres dan rasa takut akan menghambat kerja otak dan memperlambat proses berpikir dan mengingat.

Perlu disadari bahwa ketika proses pembelajaran berlangsung, seluruh aspek kejiwaan siswa dan guru akan terlibat. Bukan hanya fisik, pikiran, perasaan, pengalaman dan bahasa tubuh emosi pun terlibat. Ini menunjukkan bahwa pada setiap pembelajaran prosesnya tidak sederhana seperti yang kita bayangkan selama ini. Wajar saja bila pada awal pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ketika guru memasuki ruang belajar dengan wajah suram, maka proses pembelajaran berlangsung dalam suasana menegangkan dan melelahkan. Siswa tidak berani bertanya apalagi mengemukakan pendapat yang berbeda dengan guru. Suasana demokratis pun lenyap. Selama proses pembelajaran berlangsung, jiwa siswa berada pada ketidaknyamanan, maka pembelajaran tidak menghasilkan apa-apa. Berdasarkan hasil penelitian awal melalui observasi dan tes awal (Lampiran 3 halaman 94) yang telah dikerjakan siswa, Gambaran pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa kelas IV SD 2 Banjarharjo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul tentang mengenal wujud benda dan sifatnya adalah sebagai berikut : Guru masih menggunakan pembelajaran konvensional dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran tidak berjalan seimbang antara guru dengan siswa, dan pada akhirnya kemampuan mengenal wujud benda dan sifatnya yang dicapai siswa kurang optimal.

commit to user

Permasalahan yang ditemui pada diri siswa yaitu : Kurang aktif pada saat kegiatan pembelajaran, cenderung tidak serius dan tidak memperhatikan saat guru sedang memaparkan materi pelajaran, tidak berani tampil di depan kelas, siswa kurang antusias dalam menjawab pertanyaan guru, dan siswa cenderung menunjukkan sikap jenuh dan bosan pada pembelajaran yang diterapkan guru, dilihat dari sikap siswa yang asyik bermain sendiri ataupun mengobrol dengan teman.

Rendahnya hasil belajar siswa yang ditunjukkan dari tes awal tentang wujud benda dan sifatnya yaitu dari 16 siswa hanya 31,25 % atau 5 siswa yang mendapat nilai di atas batas Kriteria Ketuntasan Belajar (KKM), sedangkan yang lainnnya berada di bawah batas KKM. Dari tes awal tersebut terdapat 18,75% siswa mendapat nilai berkisar antara 31 – 40, 31,25% siswa mendapat nilai berkisar antara 41 – 50, 18,75 % siswa mendapat nilai berkisar antara 51 - 60, 6,25% siswa mendapat nilai berkisar antara 61-70, 12,5 % siswa mendapat nilai berkisar antara 71-80, dan 6,25% siswa mendapat nilai berkisar antara 81-90.

Fakta hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mendapatkan nilai rendah. Dengan demikian pengenalan wujud dan sifat benda siswa kelas IV SD 2 Banjarharjo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul perlu ditingkatkan. Berdasarkan data nilai yang terlampir dalam Lampiran 4 halaman 98 data nilai tes awal dapat dibuat Tabel 2 frekuensi nilai sebagai berikut:

Tabel 2. Frekuensi Data nilai Tes Awal Sebelum Tindakan

No Rentang Nilai Frekuensi Persentase

1 31 – 40 3 18,75 % 2 41 – 50 5 31,25 % 3 51 – 60 3 18,75 % 4 61 – 70 1 6,25 % 5 71 – 80 2 12,5 % 6 81 – 90 1 6,25 % 7 91 – 100 0 0 % JUMLAH 16 100 %

commit to user

Berdasarkan Tabel 2 di atas, data tes awal sebelum tindakan dapat dibuat grafik ke dalam Gambar 10 sebagai berikut :

0 1 2 3 4 5 31-40 41-50 51-60 61-70 71-80 81-90

Gambar 10 .Grafik Data nilai sebelum tindakan

Dari hasil tes awal siswa diperoleh nilai rata-rata kemampuan siswa menjawab soal dengan benar adalah 55,31 dimana hasil tersebut masih di bawah rata-rata nilai yang diinginkan dari pihak peneliti yaitu sebesar 60. Sedangkan besarnya persentase siswa tuntas pada materi mengenal wujud benda dan sifatnya sebesar 31,25% saja, dari pihak sekolah ketuntasan siswa diharapkan mencapai lebih dari 75%. Nilai terendah dari hasil tes awal adalah 35 sedangkan nilai tertinggi yang mampu diraih siswa pada tes awal adalah 85. Untuk lebih jelasnya, hasil tes awal dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut :

Tabel 3. Hasil Tes Awal

Keterangan Tes Awal

Nilai terendah 35

Nilai tertinggi 85

Rata-rata nilai 55,31

Siswa belajar tuntas 31, 25%

F r e k u e n s i

commit to user

Dari hasil tes awal pada Tabel 2 di atas dapat disimpulkan sementara bahwa kemampuan mengenal wujud benda dan sifat-benda pada siswa kelas IV SD 2 Banjarharjo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul masih rendah.

Untuk mengupayakan penyelesaian dari permasalahan-permasalahan tersebut maka peneliti berusaha untuk dapat meningkatkan bahwa kemampuan mengenal wujud benda dan sifat-benda pada siswa kelas IV SD 2 Banjarharjo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul , salah satunya dapat menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning.

Dokumen terkait