BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Data Penelitian
1. Fasilitas Belajar
Instrumen pengukur variabel fasilitas belajar secara hipotesis mampu menghasilkan skor pengukuran antara 20 – 100, dengan rata-rata = 60 dan simpangan baku = 13.33. Dalam kategori rendah – sedang – tinggi terbagi dengan interval Skor tertinggi – Skor terendah / 3, lihat tabel 1 (Yogesh Kumar Singh, 2006 : 273).
Tabel V.1. Kategorisasi Skor Fasilitas Belajar
Kategori Batas Interval Hitung
Rendah Min s/d Min + k 20.00 –46.67 Sedang > Min + 1k s/d Min + 2k > 46.67 – 73.33 Tinggi > Min + 2k s/d Min + 3k > 73.33 – 100
Hasil pengukuran mendapatkan skor antara 38 – 82 dengan rata-rata = 54.43 dan simpangan baku sebesar 10.756. Terkategori sedang menurut tabel 4.3, menandakan fasilitas belajar masih belum memadai secara baik.
Tabel V.2 Deskripsi Fasilitas belajar Parameter Skor Keterangan
Mean 54.53 Skala pengukuran hipotesis : 20 – 100 Median 56.00 Mode 45 Std. Deviation 10.756 Minimum 38 Maximum 82
Sumber : Hasil pengujian data primer, Tahun 2013/2014
Skor rata-rata tersebut tidak berbeda dengan perolehan skor tiap siswa, tabel di bawah menunjukan mayoritas siswa (60%) memberi skor fasilitas belajar dalam kategori sedang, kemudian sebanyak 34% dalam kategori rendah, dan hanya 6% yang terkategori tinggi. Menafsirkan pembuktikan melalui uji statistinya fasilitas belajar berada diantara rendah dan sedang.
Tabel V.3. Kategorisasi Skor Fasilitas belajar Kategori Interval Frekuensi % Rendah 20.00 –46.67 34 34.0 Sedang > 46.67 – 73.33 60 60.0 Tinggi > 73.33 – 100 6 6.0
Total 100 100
Gambar 1. Histogram Kategori Fasilitas Belajar
Tentang kategorisasi fasilitas belajar di atas dapat mengetahui bahwa pengelolaan datanya mengetahui sedang, rendah cenderung tinggi namun penafsiran melalui pengamatan fasilitas belajar, peneliti mengetahui bahwa penyediaan fasilitas telah memenuhi. Secara umum ketersediaan lingkungan fisik sekolah secara lengkap, penyediaan fasilitas pembelajaran, penunjang pembelajaran seperti penyediaan ruang kelas, penyediaan perpustakaan, buku-buku, Leb. Komputer, media pembelajaran, ketersediaan kamar WC, kantin Sekolah, Kantor guru-guru serba kurang.
Dalam hal ini peneliti mengetahui bahwa pemerintah (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), lembaga-lembaga pendidikan, Pihak
Sekolah dan pihak orang tua kurang konsisten dalam penanganan pengontrolan manajemen pendidikan secara komperhensip. Selain penyediaan fasilitas pembelajaran, bila konsisten dalam hal pengontrolan manajemen pendidikan dari lembaga pendidikan, pihak perusahan dan pemerintah telah mefasilitas secara baik, kenapa tidak peningkatan prestasi belajar tentu meningkat.
Pengadaan fasilitas belajar tentunya tanggung jawab bersama baik pemerintah (Dimas Pendidikan dan Kebudayaan), peneliti mengetahui saling pelimpahan wewenang antara lembaga swasta, perusahaan dan juga pemerintah (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), dalam hal mengambil tanggung jawab penuh atas peningkatan prestasi belajar siswa. Pendidikan pedalaman kabupaten Mimika lebih khusus SMPN 6 Mimika kadang sulit jangkau sehingga pembangunan peningkatan pendidikan bermutu sangat kurang dan memaknai lulusan Papua ilmu pengetahuannya minim. Peneliti memaknai bahwa kegiatan sekolah dapat meningkatkan bila parasarana belajar memadai. Dengan kelengkapan para sarana besar pengaruhnya terhadap emosional penyesuaian sosial, minat, sifat, disiplin dan perbuatan di sekolah baik adanya.
Tidak hanya dengan uraikan permasalahaan di atas, sarana atau fasilitas yang mulai dengan sarana fisik atau non fisik yang merupakan faktor penentu prestasi belajar siswa. Fasilitas atau sarana yang harus dipenuhi oleh siswa beberapa macam sarana yang harus memenuhi untuk ruang belajar untuk bebas dari ganguan, sirkulas, suhu udara yang baik,
dan penerangan yang tentunya baik, untuk mendapatkan belajar dengan baik tentu menyediakan meja tulis (berfungsi sebagai meja tulis dan meja belajar) kursi, rak buku, Papan tulis dan alat tulis di sekolah ataupun di rumah.
Pralatan dan perlengkapan belajar siswa sebenarnya disediakan adalah buku tulis, bolpoin, pencil, pengaris busur, perekat, kertas, jangka pencil warna itu pun orang tua siswa di sediakan masimal mungkin, dan penediaan kelengkapan siswa maupun sarana prasarana peneliti tidak mengetahui pedalaman pendidikan lebih khusus SMPN 6 Mimika.
Pada umumnya fasilitas lengkap akan menjadikan belajar menjadi lebih baik lagi. Peneliti mengetahui keberadaan pendidikan Pedalaman Mimika kapan akan mulai sedangkan kegiatan pembelajaran SMP lain sudah mencapai tingkat yang lebih persaingan. Hal ini masalah yang menangani secara serius dan memperdulikan bersama.
2. Motivasi Belajar
Instrumen pengukur variabel motivasi belajar secara hipotesis mampu menghasilkan skor pengukuran antara 15 – 75, dengan rata-rata = 45 dan simpangan baku = 10. Dalam kategori rendah – sedang – tinggi terbagi dengan interval sebesar 20
Tabel V.4. Kategorisasi Skor Motivasi Belajar Kategori Batas Interval Hitung Rendah Min s/d Min + k 15 –35 Sedang > Min + 1k s/d Min + 2k > 35 – 55 Tinggi > Min + 2k s/d Min + 3k > 55 – 75
Hasil pengukuran mendapatkan skor antara 30 – 65 dengan rata-rata = 46.72 dan simpangan baku sebesar 9.731. Terkategori sedang menurut tabel 4.6, menandakan motivasi belajar siswa baru mencapai tingkat moderat sehingga mendesak untuk ditingkatkan.
Tabel V.5. Deskripsi Motivasi Belajar
Parameter Skor Keterangan
Mean 46.72 Skala pengukuran hipotesis : 15 – 75 Median 47.00 Mode 34 Std. Deviation 9.731 Minimum 30 Maximum 65
Sumber : Hasil pengujian data primer, Tahun2013/2014
Skor rata-rata tersebut tidak berbeda dengan perolehan skor tiap siswa, tabel di bawah menunjukan mayoritas siswa (58%) memberi skor motivasi belajar dalam kategori sedang, kemudian sebanyak 19% dalam kategori rendah, dan sebanyak 23 % yang terkategori tinggi. Menafsirkar motivasi belajar berada diantara rendah dan sedang.
Tabel V.6. Kategorisasi Skor Motivasi Belajar Kategori Interval Frekuensi % Rendah 20.00 –46.67 19 19.0 Sedang > 46.67 – 73.33 58 58.0 Tinggi > 73.33 – 100 23 23.0
Gambar 2. Histogram Kategori Motivasi Belajar
Hasil pengukuran histogram motivasi belajar bahwa terkategori sedang redah senrung tinggi, namun demikian pengamatan peneliti menganalisis bahwa siswa terdorong untuk berangkat kesekolah sebagai pelajar yang tanggung jawabnya datang kesekolah menimbah ilmu sangat minim, apalagi mempersiapkan bahan-bahan lain untuk mendukung materi belajar di sekolah.
Siswa - siswi pedalaman Kabupaten Mimika khususnya SMPN 6 Mimika, selalu proses belajarnya hanya pada beberapa bulan tidak seperti proses pembelajaran pendidikan di tempat lain. Tenaga pengajar mengajar tidak sampai satu semester melainkan mengajar hanya saat tertentu sehingga motivasi belajar siswa sangat tidak ada dan menjadi malas, karena berbulan-bulan tidak mendapat kesempatan pembelajaran. Motivasi siswa terdorong bila ada penekanan yang dituntut, baik terdorong dari diri siswa ataupun dari dorongan keluarga atau guru untuk siswa belajar dan
memberitahuan pengalaman ilmu pengetahuan secara terus menerus agar siswa menerap dan menimbulkan perasaan akan pendidikan dan memiliki rasa ingin tahuan akan pendidikan yang tinggi.
Peneliti peneliti mendeskripsikan bahwa motivasi yang menyangkut masuknya pesan dan informasi dalam otak manusia melalui memotivasi dari orang lain, tentunya orang tua dan guru dalam hal ini, namun pemberi pemotivasi tidak secara terus menerus mengadakan hubungan dengan linngkungan, hubungan ini di lakukan dengan panca indra penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, penciuman yang memang dibutuhkan anaknya. Pedalaman pendidikan pada hakekatnya brdampak kurang memotivasi dasar pematangan diri siswa pada prinsipnya di pedalaman pedidikan Mimika lebih khusus SMPN 6 Mimika.
3. Dukungan Keluarga
Instrumen pengukur variabel dukungan keluarga secara hipotesis mampu menghasilkan skor pengukuran antara 16 – 80, dengan rata-rata = 48 dan simpangan baku = 10.67. Dalam kategori rendah – sedang – tinggi terbagi dengan interval sebesar 21.33.
Tabel V.7. Kategorisasi Skor Dukungan Kuarga Kategori Batas Interval Hitung Rendah Min s/d Min + k 15 –35 Sedang > Min + 1k s/d Min + 2k > 35 – 55 Tinggi > Min + 2k s/d Min + 3k > 55 – 75
Hasil pengukuran mendapatkan skor antara 34 – 72 dengan rata-rata = 50.79 dan simpangan baku sebesar 9.645. Terkategori sedang menurut tabel 4.9, menandakan dukungan orang tua siswa masih belum seperti harapan, sehingga perlu ditingkatkan.
Tabel V.8. Deskripsi Dukungan Keluarga Parameter Skor Keterangan
Mean 50.79 Skala pengukuran hipotesis : 16 – 80 Median 53.00 Mode 57 Std. Deviation 9.845 Minimum 34 Maximum 72
Sumber : Hasil pengujian data primer, Tahun 2013/2014
Skor rata-rata tersebut tidak berbeda dengan perolehan skor tiap siswa, tabel di bawah menunjukan mayoritas siswa (65%) memberi skor Dukungan keluarga dalam kategori sedang, kemudian sebanyak 20% dalam kategori sedang dan hanya 15 % yang terkategori tinggi. Menafsirkan suatu dukungan yang bergerak antara rendah dan sedang, dalam hal orangtua sebagai sumber pemberdayaan anak dalam menunjang pendidikan.
Tabel V.9. Kategorisasi Skor Dukungan keluarga Kategori Interval Frekuensi % Rendah 20.00 –46.67 20 20.0 Sedang > 46.67 – 73.33 65 65.0 Tinggi > 73.33 – 100 15 15.0
Gambar 3. Histogram Kategori Dukungan Keluarga
Skor histogram penilaian peneliti ketahui hasil perhitungan rata-rata menafsirkan bahwa variabel dukungan keluarga siswa menjawab bahwah sedang, rendah sendrung tinggi. Namun hasil pengujian statistik boleh katakan siginifikan, namun peneliti mendeskripsikan pengamatan bahwa sedang, rendah sendrung tinggi yang sangat mengkuatiran minimnya dalam penyediaan fasilitas belajar siswa baik di Sekolah ataupun di rumah, membiayaan pendidikan ke ketinggkat yang lebih lanjut. Peneliti mengetahui tidak signifikan dukungan keluarga pada anak dalam peningkatan prestasi belajar siswa di pedalaman Mimika sejak tahun 2004 hingga kini tidak jauh berbeda. Rata-rata orang tua pedalaman Kabupaten Mimika lebih khusus jarang ada siswa memberi kesempatan belajar dalam penyediaan fasilitas belajar, dan pembiayaan pendidikan sehingga kebanyakan siswa melanjutkan pendidikan yang tinggi, sehingga rata-rata berpendidikan rendah.
Pendidikan pedalaman Kabupaten Mimika mayoritas kurang terjangkau dengan cepat. Penyediaan fasilitas pendidikan keluarga, pemerataan penunjang pendidikan sangat minim untuk memperlancar peningkatan prestasi belajar siswa di wilayah pedalaman sehingga menanti dan menanti, khususnya siswa pedalaman Kabupaten Mimika kebanyakan umur kelanjutan kesempatan belajar telah lewat sehingga kemauan melajutkan pendidikan mulai kurang. Kadang prasiswa mencari kesempatan belajar hanya insiatif sendiri, sebab istilah perhatihan keluarga dalam melajutkan pendidikan tidak pernah memberi kesempatan anaknya melanjutkan kependidikan yang tinggi, Namun orang tua yang berpengalaman dalam pedidikan yang selalu kontribusi kapada anaknya untuk menentukan nasib masa depan dengan menjalani pendidikan.
Pada umumnya Orang tua pedalaman Mimika terlalu manja dengan lembaga-lembaga yang ada dalam pembiayaan pendidikan. Benang pemikiran orang tua, pendidikan adalah tanggung jawab perusahan atau Lembaga pendidikan sehingga tidak membutuhkan pembiayaan yang serius kepada anak yang melanjutkan tinggkat pendidikannya. Pembiaran siswa pada umumnya pedalaman Kabupaten Mimika lebih khusus SMPN 6 Mimika Papua sangat tinggi sekali orang tua rata-rata tidak memahami pendidikan sebagai pemberantasan buta huruf bangsa. Hal ini membuktikan dalam pengalaman peribadi serta peneliti sebagai pengamtaan melalui mengolaan data di lapangan.
Berdasarkan pendapat peneliti di atas dijelaskan dukungan keluarga dapat berikan kepada anak ada lima macam yaitu orang tua dapat memberikan pada anak dengan cara memberikan kebutuhan-kebutuhan, yang perlukan anak dalam belajar. Orang tua juga harus tahu kesulitan-kesulitan yang dihadapi anaknya dan berusaha untuk membantu mengatasinya.
Berdasarkan pendapat peneliti mengetahui seharusnya orang tua memiliki dan mendukung dalam belajar anak, namun para siswa-siswi SMPN 6 Mimika dan pedalaman Mimika benar-perhatihan keluarga tidak ada sama sekali.
Sebenarnya orang tua sangat penting dalam perbadian anaknya, karena orang tua merupakan pusat pendidikan yang pertama bagi anaknya. Sehingga orang tua lah yang memiliki peran besar dalam membentuk watak dan keperibadian anak. Orang tua pada umumnya pedalaman Mimika tidak memiliki melatih anak untuk menguasai cara-cara mengurus diri, seperti belajar yang baik, makan-makanan, sopan, berbicara yang baik dan benar, serta mengajari rohania (berdoa) agar sungguh-sungguh terbangun dengan membekas pada diri anak. Kemudian sikap orang tua pedalaman Mimika tidak didik baik secara pendidikan. Sikap menerima atau menolak sikap kasih sayang atau acuh tak acuh sikap sabar atau tergesa-gesa sikap melindungi atau membiarkan secara langsung mempengaruhi emosinal anak.
4. Prestasi Belajar
Prestasi belajar siswa diukur dengan instrumen yang secara hipotesis mampu menghasilkan skor pengukuran antara 15 – 75, dengan rata-rata = 45 dan simpangan baku = 10. Dalam kategori rendah – sedang –
tinggi terbagi dengan interval sebesar 20.
Tabel V.10. Kategorisasi Skor Prestasi Belajar Kategori Batas Interval Hitung Rendah Min s/d Min + k 15 –35 Sedang > Min + 1k s/d Min + 2k > 35 – 55 Tinggi > Min + 2k s/d Min + 3k > 55 – 75
Hasil pengukuran mendapatkan skor antara 31 – 61 dengan rata-rata = 43.69 dan simpangan baku sebesar 7.521. Terkategori sedang menurut tabel 5.12, menandakan Prestasi Belajar siswa masih cukup memprihatinkan dan perlu ditingkatkan.
Tabel V.11. Deskripsi Prestasi Belajar
Parameter Skor Keterangan
Mean 43.69 Skala pengukuran hipotesis : 15 – 75 Median 44.50 Mode 34 Std. Deviation 7.621 Minimum 31 Maximum 61
Sumber : Hasil pengujian data primer, Tahun 2013/2014
Skor rata-rata tersebut tidak berbeda dengan perolehan skor tiap siswa, tabel di bawah menunjukan mayoritas siswa (63 %) memberi skor Prestasi Belajar dalam kategori sedang, kemudian sebanyak 25% dalam kategori rendah, dan hanya 11 % yang terkategori tinggi. Menafsirkan prestasi sedang cenderung rendah.
Tabel V.12. Kategorisasi Skor Prestasi Belajar Siswa Kategori Interval Frekuensi % Rendah 20.00 –46.67 25 25.0 Sedang > 46.67 – 73.33 64 64.0 Tinggi > 73.33 – 100 11 11.0
Total 100 100
Gambar 4. Histogram Kategori Prestasi Belajar Siswa
Peneliti mengetahui bahwa histogram Kategori Prestasi Belajar Siswa menujukkan rata-rata para siswa mengisi dengan jawaban yang sedang, rendah sendrung tinggi, namun peneliti mendeskripsikan secara fokus bahwa penyediaan secara umum justru dapat memadai, sehingga siswa menjawab secara serentak sedang, rendah tinggi. Hal demikian peneliti sadar akan hal itu secara wajar pemberdayaan pendidikan pada umumnya. Namun ketersedian fasilitas pendidikan secara lengkap sangat kurang khususnya pendidikan pedalaman Mimika oleh pemerintah daerah (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) Kabupaten Mimika, pembuktian melalui peneliti dan dibuktikan nyata di lapangan kurang signifikan dengan kenyataan kinerja pemerintah dalam penanganan pemerataan
tenaga pendidik dan pemberdayaan fasilitas pendidikan pedalaman Mimika. Maka dengan demikian peneliti kuatirkan bahwa keterlibatan pemerintah tidak secara terius, tingkat tercapai prestasi belajar siswa SMPN6 dan pada umumnya di pedalaman Mimika.
Peningkatan prestasi belajar pada khususnya pedalaman Kabupaten Mimika menujukkan penyelewengan yang secara serius kalau kita menyatakan sebenarnya. Peningkatan pendidikan bermutu, peningkatan prestasi belajar dapat meningkat bila peranan pemerintah dan pihak yang berwewenang (guru) dan peduli akan pendidikan menimbulkan kesadaran akan pendidikan secara berkompten. Orang tua harus sadar memberi memotivasi dalam belajar anak di sekolah ataupun di rumah. Selain memotivasi membeli alat perlengkapan penujang pendidikan, sehingga rasa bangga dan timbul perasaan rasa inggin tahuan belajar akan timbul dalam diri anak.
Sekolah Menengah Pertama di pedalaman Kabupaten Mimika rata-rata tenaga pengajar betah di Kabupaten dari pada tempat pengabdian. Kebanyakan tenaga pengajar pengabdian mereka tidak konsisten sehingga mereka mengabdi hanya satu dua bulan dan sebelum memasuki kalender libur atau dekat libur awal. Kemudian hasil raport siswa justru sangat bagus dibanding dengan sekolah lain.
Hal ini peneliti mendeskripsikan nilai hanya buat-buat dan pengabdian tenaga pengajar kurang konsisten dan dukungan keluarga sangat minim sehingga motivasi siswa sangat prihatin dengan semua pihak
melihat secara serius. Sehingga peningkatan prestasi belajarnya pendidikan pedalaman Mimika tidak seperti semula dengan kontribusi dari pihak-pihak yang berwewenang perlu dukung secara serius.
Dari pendapat-pendapat atau pengertian prestasi belajar yang telah uraikan dalam penelitian maka datapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah capai seseorang siswa berupa penguasaan pengetahuan atauketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran yang diberikan guru atau pelatih tertentu dalam jangka waktu tertentu. Namun sekolah pedalaman Mimika belajar atau tidak nilai raportmya tetap bagus-bagus dibanding sekolah yang kesempatan belajarnya lancar. Sehingga peneliti menilai hal ini menujukkan kurang perhatihan keluarga kemudian kesadaran belajar siswanya sangat tidak termotivasi dan minimnya Perhatihan kinerja guru serta kesadaran pemerintah (Dinas pendidikan dan Kebudayaan) dalam hal penyedian pemberdayaan guru dan penunjang fasilitas belajar tidak secara konsisten.