BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1.2 Deskripsi Faktor Eksternal
A. Ketepatan Konsumen dalam Penggunaan Obat Tradisional
Efek samping obat tradisional relatif kecil jika digunakan secara tepat.
Penggunaan yang tepat adalah terkait ketepatan dosis, ketepatan waktu penggunaan, dan ketepatan cara penggunaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan konsumen obat tradisional menggunakan kuesioner diperoleh hasil bahwa sebagian masyarakat tidak mengonsumsi obat tradisional sesuai dengan dosis yang berlaku pada kemasan obat tradisional dan tidak menyesuaikan dengan waktu penggunaan obat tradisional apakah baik dikonsumsi sebelum dan sesudah makan. Hal tersebut dikarenakan konsumen obat tradisional hanya mempercayai khasiat dan manfaat obat tradisional tanpa memperhatikan ketepatan penggunaan obat tradisional. Masyarakat percaya bahwa dengan mengonsumsi obat tradisional dapat mengobati penyakit dan mempercepat proses kesembuhan. Sebagian responden konsumen yang diwawancarai ada yang mengatakan tidak memperhatikan ketepatan dosis, waktu penggunaan (pagi hari, siang hari, atau malam hari). Menurut konsumen obat tradisional tidak ada efek yang signfikan yang terjadi pada saat mengonsumsi obat yang tidak sesuai dengan aturan pakai yang ada pada kemasan. Oleh karena itu sangat perlu bagi konsumen mengetahui ketepatan dosis, cara penggunaan dan waktu penggunaan sebelum mengonsumsi obat tradisional.
B. Penilaian Konsumen Mengenai Kualitas Obat Tradisional
Berdasarkan hasil wawancara dengan konsumen diperoleh penilaian konsumen mengenai kualitas obat tradisional yang dilihat dari bagaimana konsumen menilai apakah obat tradisional di kota Medan memilik kualitas yang baik atau tidak.
Indikator penilaian konsumen terhadap kualitas obat tradisional dilihat dari apakah konsumen merasakan khasiat dari mengonsumsi obat tradisional, keamanan mengonsumsi obat tradisional, apakah konsumen pernah merasakan efek samping setelah mengonsumsi obat tradisional seperti gejala pusing, mual, ngantuk, sakit perut dan sebagainya, dan penilaian konsumen mengenai reaksi kesembuhan yang cepat apabila mengonsumsi obat tradisional. Hasil wawancara dengan konsumen cukup memuaskan karena kualitas obat tradisional di kota Medan termasuk dalam kategori yang baik sehingga konsumen mau mengonsumsi obat tradisional dan dinilai aman untuk dikonsumsi. Indikator kesembuhan yang cepat menjadi salah satu penilaian yang paling banyak tidak dirasakan secara langsung oleh konsumen obat tradisional di kota Medan.
C. Ketersediaan Obat Tradisional di Kota Medan
Salah satu faktor yang menentukan konsumen mengonsumsi obat tradisional adalah apakah obat tradisional tesedia di kota Medan atau tidak dan apakah obat tradisional mudah ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggal konsumen.
Dari hasil wawancara dengan konsumen obat tradisional diperoleh bahwa sebagian konsumen tidak kesulitan mendapatkan obat tradisional karena dapat membeli obat tradisional di apotik terdekat, di toko obat, dan kios – kios kecil yang meyediakan obat tradisional. Selanjutnya konsumen menilai bahwa setiap
konsumen akan membeli obat tradisional, obat tradisional selalu tersedia setiap saat dan dapat dibeli kapan saja konsumen memerlukannya.
D. Kepercayaan Konsumen Mengonsumsi Obat Tradisional
Kepercayaan responden konsumen dengan obat tradisional di kota Medan cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara dengan 30 konsumen obat tradisional dan hasil yang diperoleh cukup baik. Indikator yang dinilai untuk mengetahui tingkat kepercayaan konsumen obat tradisional di kota Medan bahwa konsumen percaya obat tradisional terbuat dari bahan alami yang menyehatkan, obat tradisional memiliki khasiat bagi kesehatan, layak dikonsumsi karena berada di dalam kemasan dan kepercayaan masyarakat dipengaruhi oleh budaya di lingkungan sekitar masyarakat yang secara turun temurun mengonsumsi obat tradisional. Membangun kepercayaan konsumen tidaklah mudah, akan tetapi konsumen obat tradisional telah membuktikan sendiri sehingga peran pelaku usaha hanya perlu mempertahankan dan meningkatkan kualitas dan mutu produk obat tradisional sehingga konsumen percaya mengonsumsi obat tradisional.
E. Peran Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan
Dalam melakukan pengawasan produk yang beredar khususnya obat tradisional, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) selaku pihak regulator secara rutin melakukan pengawasan dan sosialisasi mengenai pentingnya industri jamu melakukan standar mutu, keamanan, kemanfaatan bahan baku dan produk jadi dengan melakukan sampling dan pengujian produk beredar dan monitoring efek samping produk. Pengawasan yang dilakukan oleh pihak BBPOM adalah sebulan sekali untuk menguji produk yang telah beredar di pasaran. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Medan dengan instansi yang berwenang juga
melakukan penyidikan pelanggaran pidana dibidang obat dan makanan dan melakukan informasi/penyuluhan/edukasi kepada publik mengenai pentingnya mengkonsumsi jamu berbahan alami bebas dari bahan kimia.
Menurut hasil wawancara dengan pengawas farmasi dan makanan yang bekerja pada bagian bidang sertifikasi dan layanan konsumen di BBPOM kota Medan mengatakan bahwa peran BBPOM adalah menjamin perlindungan konsumen dari penyalahgunaan obat tradisional, menjamin aspek keamanan, khasiat/manfaat dan mutu obat tradisional yang beredar di kota Medan dengan menguji sampling obat tradisional dan jika terbukti terdapat bahan berbahaya seperti bahan kimia dan bahan obat keras maka obat trad isional akan ditarik dari pasar dan pelaku usaha dipanggil untuk diberi pembinaan. Peran BBPOM saat ini hanya menjamin keamanan obat tradisional khusus obat tradisional yang telah terdaftar di BPOM dan untuk rencana kedepannya BBPOM akan melakukan pembinaa n terhadap usaha jamu keliling agar konsumen tetap aman dalam mengonsumsi obat tradisional dan selain itu dapat meningkatkan konsumsi terhadap obat yang berbahan baku tradisional.
F. Peran Gabungan Pengusaha Jamu
Gabungan pengusaha jamu merupakan wadah pengusaha jamu dan obat tradisional Indonesia berusaha untuk memberikan masukan kepada anggota, Pemerintah dan masyarakat tentang peraturan-peraturan baru, produk-produk jamu yang bermasalah dan lain- lain. Gabungan pengusaha jamu mempunyai visi menjadikan jamu sebagai produk unggulan bangsa dan salah satu misi gabungan pengusaha jamu adalah mengembangkan usaha jamu melalui peningkatan mutu produk dan kualitas industri jamu di kota Medan. Berdasarkan hasil wawancara
dengan ketua gabungan pengusaha jamu di kota Medan bahwa gabungan pengusaha jamu sangat mendukung terhadap pengembangan usaha jamu di kota Medan. Manfaat yang diperoleh oleh pelaku usaha yang tergabung dalam gabungan pengusaha jamu adalah mendapatkan informasi mengenai peraturan terbaru dari pemerintah terkait perizinan layout dan lainnya yang berhubungan dengan usaha obat tradisional. Akan tetapi masalah yang dihadapi oleh gabungan pengusaha jamu adalah kurangnya kesadaran pengusaha jamu untuk ikut berperan dalam mengembangkan usaha jamu dan sulitnya untuk mengadakan pertemuan dengan pengusaha jamu lainnya jika ada hal atau informasi yang ingin disampaikan oleh ketua gabungan pengusaha jamu. Selain itu gabungan pengusaha jamu juga sulit untuk menampung aspirasi dari pengusaha jamu atau membahas masalah terkait permsalahan yang dihadapi dalam pengembangan usaha jamu di kota Medan. Oleh karena itu ketua gabungan pengusaha jamu berharap agar anggota pengusaha jamu meningkatkan kepedulian dalam menjalin hubungan dan sosialiasi yang baik dengan sesama anggota pengusaha jamu.
G. Pendapat Konsumen Mengenai Rasa Obat Tradisional
Masalah yang sering dihadapi oleh konsumen pada saat mengonsumsi obat tradisional adalah rasa obat tradisonal kurang disukai karena cenderung lebih terasa pahit. Akibatnya beberapa konsumen mengeluhkan rasa obat yang sangat tradisional akan tetapi karena khasiat dari obat tradisional yang membuat konsumen tetap mengonsumsi. Berdasarkan hasil wawancara dengan konsumen, diperoleh hasil hampir seluruh responden tidak menyukai rasa obat tradisional dan hanya sebagian kecil yang tidak mempermasalahkan hal tersebut. Konsumen berharap agar industri obat tradisional melakukan pengembangan rasa agar lebih
enak dan diterima oleh konsumen obat tradisional bahkan konsumen non pengguna. Konsumen obat tradisional juga menambahkan agar menambahkan cita rasa buah dalam obat tradisional jika memungkinkan.
H. Pendapatan Konsumen
Menurut teori dan fakta, semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula konsumsi masyarakat terhadap obat yang memilki standar dan kualitas.
Berdasarkan data konsumsi obat tradisional yang dilakukan masyarakat Indonesia bahwa sebagian besar penduduk masih banyak mengonsumsi obat modern dibandingkan dengan obat tradisional (BBPOM, 2015). Hasil yang diperoleh berdasarkan wawancara dengan konsumen obat tradisional bahwa apabila pendapatan konsumen meningkat, maka konsumen akan meningkatkan standar dan kualitas obat tradisional yang mereka konsumsi. Sebagian konsumen mengatakan mengonsumsi obat tradisional yang telah teruji klinis seperti produk fitomarka dan sebagian lain menyebutkan mengonsumsi obat herbal yang telah terstandar yang telah terbukti secara klinis dan mempunyai mutu produk yang tinggi dan kualitas yang baik. Harga obat tradisional yang belum teruji praklinis maupun klinis dinilai konsumen sangat terjangkau sehingga konsumen beranggapan bahwa obat tradisional yang sudah teruji klinis dinilai lebih aman walaupun harganya lebih mahal dan bersaing dengan obat modern.
I. Bahaya Obat Kimia/Obat Modern
Obat kimia adalah obat yang berasal dari zat kimia, tertentu yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan memperlambat pertumbuhan penyakit.
Berdasarkan data dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, konsumsi obat modern pada tahun 2015 mencapai 91,40 % sedangkan obat tradisional hanya
sebanyak 24,33 %. Hal ini berarti bahwa masyarakat Indonesia masih mempercayai obat modern dibandingkan obat tradisional. Berdasarkan hasil wawancara dengan konsumen obat tradisional di kota Medan diperoleh bahwa alasan konsumen lebih memilih obat tradisional dibandingkan dengan obat modern adalah bahwa obat modern memiliki efek samping, kurang efektif untuk penyakit tertentu, dan mengakibatkan ketergantungan. Beberapa konsumen menyebutkan mengonsumsi obat modern mengakibatkan efek samping secara langsung maupun tidak langsung yang mungkin dikarenakan bahan kimia yang terkandung didalam obat modern, selain itu mengonsumsinya dapat mengakibatkan kertergantungan karena proses penyembuhan untuk penyakit tertentu dinilai konsumen dapat bereaksi dengan cepat. Dan juga berdasarkan pengalaman konsumen obat tradisional, obat modern kurang efektif untuk penyakit tertentu yang belum diketahui penyebabnya dikarenakan setelah mengonsumsi obat modern tidak mengalami perbaikan bahkan dampaknya semakin buruk. Oleh karena konsumen obat tradisional menilai lebih aman untuk mengonsumsi obat tradisional karena tidak mengandung bahan kimia dan bahan baku yang digunakan berasal dari alam yang terbukti berkhasiat.
5.2 Analisis Strategi Peningkatan Konsumsi Obat Tradisional