BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Persentase Penduduk Menurut Jenis Obat/Cara Pengobatan
Perbandingan jenis obat/cara pengobatan yang digunakan baik di daerah perkotaan maupun pedesaan, sebagian besar pekerja yang sakit lebih memilih obat – obat/ cara pengobatan modern d ibandingkan pengobatan tradisional.
Persentase pekerja di daerah perkotaan yang menggunakan jenis obat/cara
pengobatan modern (91,18%) relative lebih tinggi dibandingkan dengan didaerah pedesaan (89,01%). Sebaliknya, jenis obat/cara pengobatan tradisional lebih banyak digunakan di daerah pedesaan (24,65%) dibandingkan dengan di daerah perkotaan (17,94%).
Tabel 8. Persentase Penduduk Yang Bekerja dan Mengalami Keluhan Kesehatan Se rta Berobat Sendiri Menurut Jenis Obat/Cara Pengobatan 2015
No. Tipe Daerah Persentase (%)
Tradisional Modern Lainnya
1 Perkotaan 17,94 91,18 3,84
2 Pedesaan 24,65 89,10 4,75
Sumber : BPS, Susenas 2015 4.3 Karakteristik Responden
Karakteristik seseorang mempengaruhi tindakan, pola pikir, dan wawasan yang dimilikinya. Responden yang menjadi dalam penelitian ini adalah pelaku usaha kecil obat tradisional.
Tabel 9. Karakteristik Responden Pelaku Usaha Kecil Obat Tradisional
No. Uraian Rentang Rataan
1 Umur (Tahun) 42-63 55
2 Tingkat Pendidikan (Tahun) 16-20 17,6
3 Pengalaman (Tahun) 6-28 21
4 Jumlah Tanggungan 4-10 7
Sumber : Analisis data primer, 2016
Seperti yang disajikan pada tabel diatas bahwa pelaku usaha kecil obat tradisional di kota Medan memiliki rata – rata umur 55 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil obat tradisional tergolong dalam usia prodduktif sehingga masih besar potensi untuk mengembangkan usaha obat tradisional agar dapat memenuhi permintaan konsumen dan memanfaatkan peluang untuk meningkatkan konsumsi obat tradisional di kota Medan.
Rata – rata tingkat pendidikan pelaku usaha kecil obat tradisional adalah 17,6 tahun atau setara dengan tingkat sarjana. Hal ini menunjukkan tingkat pendidikan
para pelaku usaha tergolong tinggi. Tingkat pendidikan ini akan berpengaruh pada pengembangan usaha kecil obat tradisional di kota Medan.
Untuk rata – rata pengalaman menjalankan usaha kecil obat tradisional para pelaku usaha adalah 21 tahun. Pengalaman menjalankan usaha kecil obat tradisional diperoleh secara turun temurun termas uk resep obat tradisional sebagian diperoleh pelaku usaha dari nenek moyang.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi Faktor Internal dan Eksternal dalam Peningkatan Konsumsi Obat Tradisional
Peningkatan konsumsi obat tradisional menurut Yuliani (2001) dapat dilihat dari semakin meningkatnya pemakaian obat tradisional dan perkembangan industri obat tradisional yang terus berkembang dari tahun ketahun. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh dapat dilihat faktor – faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi strategi peningkatan konsumsi obat tradisional di kota Medan. Adapun faktor internal yaitu : ketersediaan bahan baku obat tradisional, ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kualifikasinya, ketersediaan bangunan, mesin dan peralatan produksi, proses produksi jamu, jaringan pemasaran obat tradisional, pengetahuan pelaku usaha obat tradisional, informasi kemasan obat tradisional dan jumlah dan variasi produk obat tradisional. Faktor eksternal yaitu : pengetahuan konsumen terhadap obat tradisional, kualitas obat tradisional, ketersediaan obat tradisional, kepercayaan konsumen mengonsumsi obat tradisional, peran Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan, peran gabungan pengusaha jamu (GP. Jamu ), pendapat konsumen mengenai rasa obat tradisional, pendapatan konsumen dan bahaya obat modern/obat kimia.
5.1.1 Deskripsi Faktor Internal
A. Ketersediaan Bahan Baku Obat Tradisional.
Pada umumnya obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang terbuat dari tumbuhan, hewan, mineral, atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut yang diolah secara tradisional dan telah digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan.
Pelaku usaha obat tradisional di kota Medan yang merupakan usaha kecil obat tradisional memproduksi obat tradisional yang termasuk dalam jenis jamu tradisional dan telah mendapatkan ijin usaha dan mengedarkan obat tradisional sesuai dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Adapun jenis obat tradisional yang diproduksi oleh usaha kecil obat tradisional di kota Medan dan khasiat yang dirasakan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Jenis Obat Tradisional dan Khasiatnya No
Sampel Nama obat tradisional Bentuk Khasiat 1 1. Zingoserin
2. Curcumasir
1. Sirup 2. Sirup
1. Membantu meredakan batuk dan melegakan tenggorokan 2. Membantu memperbaiki
nafsu makan dan memelihara kesehatan fungsi hati
2 Sari Manjakani Pil dan Serbuk
Membantu untuk mengatasi keputihan, dan bau tidak sedap
bagi wanita dan
mengencangkan kembali otot perut yang kendur.
Membantu meredakan pegal linu dan nyeri sendi
Sumber : Analisis data primer
Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa masing – masing pelaku usaha obat tradisional memproduksi 1 – 2 macam obat tradisional yang memiliki khasiat masing – masing dan obat tradisional tersebut sudah beredar di kota Medan dan diluar kota Medan sehingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas sesuai dengan kebutuhan.
Pelaku usaha obat tradisional memperoleh bahan baku dan bahan rempah – rempah lainnya dari sumber yang berbeda– beda sesuai dengan obat tradisional
yang diproduksi oleh masing – masing usaha kecil obat tradisional. Berikut adalah sumber bahan baku yang diperoleh oleh usaha kecil obat tradisional di kota Medan .
Tabel 11. Sumber Bahan Baku Obat Tradisional No
Pasar Central di kota Medan
Sumber : Analisis data primer
Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa usaha kecil obat tradisional memproduksi obat tradisional dengan jenis yang berbeda dimana bahan baku yang digunakan sesuai dengan jenis obat tradisional yang diproduksi. Sebagian pelaku usaha memperoleh bahan baku dari luar Indonesia dan sebagian lainnya masih memperoleh dari Indonesia. Sedangkan untuk bahan rempah – rempah yang dicampur dengan bahan baku sebagai bahan campuran diperoleh para pelaku usaha di kota Medan dan biasanya diperoleh dari pasar tradisional.
Bahan baku yang digunakan oleh para pelaku usaha tentunya dipilih berdasarkan pertimbangan dengan kriteria memiliki kualitas yang baik dan ber mutu. Jumlah bahan baku yang digunakan juga selalu memenuhi kebutuhan dan target produksi para pelaku usaha obat tradisional. Adapun parameter yang digunakan untuk menentukan kualitas bahan baku adalah mikroba yang salah satu metodenya adalah metode real time dengan menyimpan bahan baku dalam waktu 0 bulan – 3
bulan dan diperiksa mikobiologinya dan biasanya suhu yang digunakan adalah 250C.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku usaha bahwa bahan baku yang digunakan selalu tersedia dan tidak ada kendala dari ketersediaaan bahan baku pada masing – masing usaha kecil obat tradisional. Bahan baku yang digunakan juga berasal dari pemasok yang sudah dipercaya oleh pelaku usaha obat kecil tradisional sehingga antara pelaku usaha dan pemasok sudah terjalin kerja sama dari awal usaha sampai saat ini.
B. Ketersediaan Tenaga Kerja yang Sesuai dengan Kualifikasinya
Tenaga kerja yang tersedia di usaha kecil obat tradisional kota Medan terdiri dari tenaga kerja bagian produksi, apoteker, pengemasan dan pemasaran. Adap un jumlah tenaga kerja yang tersedia pada masing – masing industri obat tradisional berbeda – beda. Akan tetapi setiap usaha kecil obat tradisional yang memproduksi obat dalam harus memiliki minimal satu apoteker ataupun asisten apoteker sedangkan untuk obat luar tidak harus memiliki apoteker melainkan tenaga teknis yang ahli dibidangnya. Berikut merupakan jumlah tenaga kerja yang tersedia pada masing – masing usaha kecil obat tradisional di kota Medan.
Tabel 12. Ketersediaan Tenaga Kerja Pada Usaha Kecil Obat Tradisional No
Sampel
Jumlah Tenaga Kerja Apoteker Tenaga
Teknis Produksi Pengemasan Pemasaran
1 2 - 6 1 1
2 1 - 8 2 2
3 1 - 12 1 1
4 1 - 5 1 1
5 - 1 3 1 2
Sumber : Analisis data primer
Berdasarkan Tabel 12 dapat dilihat bahwa tenaga kerja yang ada pada usaha kecil
tradisional mempunyai tugasnya masing – masing. Berdasarkan hasil wawancara rata – rata tenaga kerja pada bagian produksi obat tradisional terdiri dari wanita dan kebanyakan merupakan ibu rumah tangga dan sudah terlatih sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat dikerjakan dengan cepat dan teratur.
C. Ketersediaan Bangunan, Mesin dan Alat Produksi Obat Tradisional
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan pelaku usaha obat tradisional masing – masing usaha kecil obat tradisional yang di kota Medan yang memiliki ijin usaha kecil obat tradisional pada umumnya memiliki tempat ataupun sebuah bangunan yang sesuai untuk lokasi kegiatan produksi obat tradisional. Di dalam bangunan tersebut terdapat ruangan yang terpisah antara satu dengan yang lainnya yang terdiri dari ruang dapur, laboratorium atau ruang ekstraksi, gudang bahan baku, ruangan penimbangan, ruang pencampuran, ruang pengemasan dan gudang untuk produk jadi.
Pada ruangan laboratorium yang dipimpin oleh apoteker harus tersedia timbangan gram, milligram, alat gelas sesuai kebutuhan, alat pengering, pengukur suhu, mikroskop, lemari asam dan lainnya.
Sedangkan untuk peralatan dan mesin yang dimiliki oleh usaha kecil obat tradisional terdiri dari alat/mesin pengering, alat/mesin pengaduk, alat/mesin penumbuk, alat/mesin pengayak, timbangan besar, dan wadah agar tidak kotor dan tercemar. Usaha kecil obat tradisional juga menetapkan standar hygiene dan sanitasi pada bangunan serta ruang yang memadai.
Tabel 13. Ketersediaan Bangunan, Mesin dan Alat Produksi
No Sampel Ketersediaan
Bangunan Mesin Alat Produksi
1
2
3
4
5
Sumber : Analisis data primer
Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa usaha kecil obat tradisional di kota Medan memiliki bangunan yang memadai, mesin dan peralatan produksi yang lengkap untuk kegiatan usaha. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bangunan, mesin dan alat produksi tersedia di kota Medan.
D. Proses Produksi Obat Tradisional
Proses produksi obat tradisional berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku usaha kecil obat tradisional terdiri dari penyiapan bahan baku obat tradisional, proses produksi, pengemasan dan labelisasi merk dan logo jamu. Adapun syarat yang telah diberlakukan pada masing – masing usaha kecil obat tradisional yaitu mengikuti cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB). Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional dengan tujuan untuk me njamin produk yang dihasilkan agar dapat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Mutu produk tergantung dari bahan awal, proses produksi, dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan, dan personalia yang menangani (Depkes, 1991). Selain itu dalam proses produksi pelaku usaha dilarang untuk menggunakan bahan kimia dan jika menggunakan bahan tambahan, maka bahan tambahan yang digunakan tidak mengganggu kesehatan. Pada proses produksi hal yang paling diperhatikan oleh pelaku usaha
adalah kehigienisan tenaga kerja untuk mencegah terjadinya kontaminasi produk dengan mikroba dan sanitasi alat - alat yang digunakan pada proses produksi untuk menjamin mutu obat tradisional.
E. Pemasaran Obat Tradisional
Obat tradisional yang dapat dipasarkan adalah obat tradisional yang telah siap dikemas dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku usaha, pada umumnya mereka memasarkan obat tradisional secara langsung dari produsen ke pelanggan. Produsen yang membeli obat tradisional adalah distributor obat yang kemudian menjualnya ke toko obat dan apotik.
Konsumen dapat membeli obat tradisional dari apotik yang menjual obat tradisional tersebut. Akan tetapi pelaku usaha juga bersedia atau melayani jika ada konsumen yang ingin langsung membeli produk obat tradisional walaupun tidak dalam jumlah yang banyak. Adapun jaringan pemasaran pada masing – masing usaha kecil obat tradisional agar sampai ke tangan konsumen disajikan pada tabel dibawah ini :
Tabel 14. Jaringan Pemasaran Obat Tradisional di Kota Medan No Sampel
Pemasaran Obat Tradisional
Online Distributor Salesman Langsung Ke Konsumen
1
2 - -
3 - -
4 - -
5 - -
Sumber : Analisis data primer
Dari Tabel 14 dapat dilihat bahwa pelaku usaha kecil obat tradisional memasarkan obat tradisional melalui online dengan memanfaatkan sosial media, distributor, salesman dan melayani konsumen secara langsung. Tapi hanya satu usaha kecil obat tradisional yang memanfaatkan teknologi informas i dan komunikasi secara
online dan sebagian lainnya tidak memanfaatkan teknologi tersebut melainkan hanya menjual obat tradisional melalui distributor.
F. Pengetahuan Pelaku Usaha Kecil Obat Tradisional
Untuk memulai usaha kecil obat tradisional, hal yang paling penting dan harus dimiliki oleh seorang pelaku usaha adalah pengetahuan dalam menjalankan usaha dan menguasai hal – hal yang berhubungan dengan usaha kecil obat tradisional termasuk keterampilan dalam hal meracik bahan baku menjadi obat tradisional yang berkualitas. Berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku usaha kecil obat tradisional diperoleh bahwa seluruh pelaku usaha menguasai pengetahuan yang berhubungan dalam menjalankan usahanya. Pengetahuan tersebut diperoleh dari keluarga secara turun temurun. Tidak hanya didasarkan pada pengetahuan akan tetapi berdasarkan pengalaman keseharian dan turun semurun serta informasi pasien atas kemanjuran obat tersebut. Adapun pengetahuan yang dimiliki oleh pelaku usaha kecil obat tradisional diantaranya adalah pengetahuan mengenai kebenaran bahan baku yang digunakan, mengenai ketepatan dosis, ketepatan mengolah bahan baku, ketepatan waktu penggunaan yang benar dan baik dalam mengonsumsi obat tradisional dan khasiat obat tradisional dan pengetahuan mengenai efek samping. Dari seluruh pelaku usaha kecil obat tradisional diperoleh bahwa pelaku usaha memiliki pengetahuan tersebut.
G. Kelengkapan Informasi pada Kemasan
Informasi pada kemasan obat tradisional sangat membantu konsumen dalam mengonsumsi obat tradisional. Obat tradisional yang sudah dimasukkan kedalam botol dan dikemas dengan pembungkus yang melindungi wadah selama penyimpanan, pengangkutan dan peredaran. Usaha kecil obat tradisional di kota
Medan memproduksi obat tradisional dalam kategori jamu tradisiona l. Oleh karena itu pada kemasan obat tradisional terdapat penandaan khusus label
“JAMU” dalam lingkaran dan terletak di debelah kiri atas. Kemudian juga terdapat logo jamu yang berbentuk lingkaran dengan warna hijau dan kuning yang menandakan bahwa obat tradisional tersebut merupakan produk jamu. Penandaan lainnya yang tersedia pada kemasan obat tradisional diantaranya adalah nama obat tradisional atau nama dagang, komposisi bahan yang digunakan, dosis pemakaian, cara pemakaian, khasiat/kegunaan yang disetujui Menteri Kesehatan, kontraindikasi, nomor pendaftaran, nomor kode produksi, merek dagang, dan nama dan alamat perusahaan. Seluruh penandaan tersebut tersedia pada kemasan obat tradisional yang di produksi oleh usaha kecil obat tradisional di kota Medan.
Adapun kelengkapan informasi pada kemasan obat tradisional di kota Medan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel 15. Kelengkapan Penandaan Pada Kemasan Obat Tradisional No No Sampel
Penandaan 1 2 3 4 5
1. Label “JAMU” - - - -
2. Logo Jamu -
3. Nama Obat Tradisional
4. Komposisi Bahan
5. Bobot/Volume
6. Dosis Pemakaian -
7. Cara Pemakaian
8. Khasiat / Kegunaan
9. Kontraindikasi - - - - -
10. Tanda Peringatan - -
11. Nomor Pendaftaran POM
12. Nomor Kode Produksi
13. Merek Dagang
14. Nama dan Alamat Perusahaan
15 Tanggal Kadarluasa
Sumber : Analisis data primer
Dari Tabel 15 dapat dilihat bahwa terdapat beberapa penandaan pada kemasan obat tradisional yang diproduksi pelaku usaha kecil obat tradisional di kota Medan dan sangat membantu konsumen untuk mengetahui informasi obat tradisional sehingga konsumen tidak bingung pada saat akan mengonsumsi obat tradisional tersebut. Selain itu penandaan tersebut telah ditetapkan dari peraturan Menteri Kesehatan agar dipenuhi oleh para pelaku usaha obat tradisional.
H. Jumlah Variasi Obat Tradisional yang Diproduksi Usaha Kecil Obat Tradisional
Semakin bertambahnya jumlah penduduk di kota Medan, maka permintaan terhadap obat juga akan semakin meningkat sehingga penawaran dari obat juga akan meningkat. Potensi pasar yang besar seharusnya membuat para produsen obat khususnya obat tradisional di kota Medan semakin meningkatkan volume produksi maupun variasinya. Akan tetapi pada kenyataannya para produsen obat tradisional di kota Medan sebagian besar hanya memproduksi satu atau dua jenis obat tradisional dengan variasi yang mah sedikit. Kendala yang dihadapi produsen untuk menambah variasi produk obat tradisional pada saat di wawancarai adalah salah satunya keterbatasan modal untuk membeli mesin dan peralatan yang telah memiliki teknologi yang canggih sehingga memudahkan produse n untuk memproduksi obat tradisional. Selain itu juga masalah yang dihadapi produsen obat tradisional adalah perizinan untuk mengedarkan obat tradisional dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melalui proses atau alur tersebut. Oleh karena itu produsen obat tradisional di kota Medan masih memproduksi satu – dua macam obat tradisional. Akan tetapi produsen obat tradisional di kota Medan tetap optimis untuk mengembangkan
Tabel 16. Jumlah Variasi Obat Tradisional yang Diproduksi di Kota Medan No Sampel Jumlah Obat Tradisional Bentuk Obat Tradisional
1 2 Cair
2 1 Serbuk dan Pil
3 1 Pil
4 1 Serbuk dan Pil
5 2 Minyak Gosok dan Balsem
Sumber : Analisis data primer
5.1.2 Deskripsi Faktor Eksternal
A. Ketepatan Konsumen dalam Penggunaan Obat Tradisional
Efek samping obat tradisional relatif kecil jika digunakan secara tepat.
Penggunaan yang tepat adalah terkait ketepatan dosis, ketepatan waktu penggunaan, dan ketepatan cara penggunaan. Berdasarkan hasil wawancara dengan konsumen obat tradisional menggunakan kuesioner diperoleh hasil bahwa sebagian masyarakat tidak mengonsumsi obat tradisional sesuai dengan dosis yang berlaku pada kemasan obat tradisional dan tidak menyesuaikan dengan waktu penggunaan obat tradisional apakah baik dikonsumsi sebelum dan sesudah makan. Hal tersebut dikarenakan konsumen obat tradisional hanya mempercayai khasiat dan manfaat obat tradisional tanpa memperhatikan ketepatan penggunaan obat tradisional. Masyarakat percaya bahwa dengan mengonsumsi obat tradisional dapat mengobati penyakit dan mempercepat proses kesembuhan. Sebagian responden konsumen yang diwawancarai ada yang mengatakan tidak memperhatikan ketepatan dosis, waktu penggunaan (pagi hari, siang hari, atau malam hari). Menurut konsumen obat tradisional tidak ada efek yang signfikan yang terjadi pada saat mengonsumsi obat yang tidak sesuai dengan aturan pakai yang ada pada kemasan. Oleh karena itu sangat perlu bagi konsumen mengetahui ketepatan dosis, cara penggunaan dan waktu penggunaan sebelum mengonsumsi obat tradisional.
B. Penilaian Konsumen Mengenai Kualitas Obat Tradisional
Berdasarkan hasil wawancara dengan konsumen diperoleh penilaian konsumen mengenai kualitas obat tradisional yang dilihat dari bagaimana konsumen menilai apakah obat tradisional di kota Medan memilik kualitas yang baik atau tidak.
Indikator penilaian konsumen terhadap kualitas obat tradisional dilihat dari apakah konsumen merasakan khasiat dari mengonsumsi obat tradisional, keamanan mengonsumsi obat tradisional, apakah konsumen pernah merasakan efek samping setelah mengonsumsi obat tradisional seperti gejala pusing, mual, ngantuk, sakit perut dan sebagainya, dan penilaian konsumen mengenai reaksi kesembuhan yang cepat apabila mengonsumsi obat tradisional. Hasil wawancara dengan konsumen cukup memuaskan karena kualitas obat tradisional di kota Medan termasuk dalam kategori yang baik sehingga konsumen mau mengonsumsi obat tradisional dan dinilai aman untuk dikonsumsi. Indikator kesembuhan yang cepat menjadi salah satu penilaian yang paling banyak tidak dirasakan secara langsung oleh konsumen obat tradisional di kota Medan.
C. Ketersediaan Obat Tradisional di Kota Medan
Salah satu faktor yang menentukan konsumen mengonsumsi obat tradisional adalah apakah obat tradisional tesedia di kota Medan atau tidak dan apakah obat tradisional mudah ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggal konsumen.
Dari hasil wawancara dengan konsumen obat tradisional diperoleh bahwa sebagian konsumen tidak kesulitan mendapatkan obat tradisional karena dapat membeli obat tradisional di apotik terdekat, di toko obat, dan kios – kios kecil yang meyediakan obat tradisional. Selanjutnya konsumen menilai bahwa setiap
konsumen akan membeli obat tradisional, obat tradisional selalu tersedia setiap saat dan dapat dibeli kapan saja konsumen memerlukannya.
D. Kepercayaan Konsumen Mengonsumsi Obat Tradisional
Kepercayaan responden konsumen dengan obat tradisional di kota Medan cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara dengan 30 konsumen obat tradisional dan hasil yang diperoleh cukup baik. Indikator yang dinilai untuk mengetahui tingkat kepercayaan konsumen obat tradisional di kota Medan bahwa konsumen percaya obat tradisional terbuat dari bahan alami yang menyehatkan, obat tradisional memiliki khasiat bagi kesehatan, layak dikonsumsi karena berada di dalam kemasan dan kepercayaan masyarakat dipengaruhi oleh budaya di lingkungan sekitar masyarakat yang secara turun temurun mengonsumsi obat tradisional. Membangun kepercayaan konsumen tidaklah mudah, akan tetapi konsumen obat tradisional telah membuktikan sendiri sehingga peran pelaku usaha hanya perlu mempertahankan dan meningkatkan kualitas dan mutu produk obat tradisional sehingga konsumen percaya mengonsumsi obat tradisional.
E. Peran Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan
Dalam melakukan pengawasan produk yang beredar khususnya obat tradisional, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) selaku pihak regulator secara rutin melakukan pengawasan dan sosialisasi mengenai pentingnya industri jamu melakukan standar mutu, keamanan, kemanfaatan bahan baku dan produk jadi dengan melakukan sampling dan pengujian produk beredar dan monitoring efek samping produk. Pengawasan yang dilakukan oleh pihak BBPOM adalah sebulan sekali untuk menguji produk yang telah beredar di pasaran. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Medan dengan instansi yang berwenang juga
melakukan penyidikan pelanggaran pidana dibidang obat dan makanan dan melakukan informasi/penyuluhan/edukasi kepada publik mengenai pentingnya mengkonsumsi jamu berbahan alami bebas dari bahan kimia.
Menurut hasil wawancara dengan pengawas farmasi dan makanan yang bekerja pada bagian bidang sertifikasi dan layanan konsumen di BBPOM kota Medan mengatakan bahwa peran BBPOM adalah menjamin perlindungan konsumen dari penyalahgunaan obat tradisional, menjamin aspek keamanan, khasiat/manfaat dan mutu obat tradisional yang beredar di kota Medan dengan menguji sampling obat tradisional dan jika terbukti terdapat bahan berbahaya seperti bahan kimia dan bahan obat keras maka obat trad isional akan ditarik dari pasar dan pelaku usaha
Menurut hasil wawancara dengan pengawas farmasi dan makanan yang bekerja pada bagian bidang sertifikasi dan layanan konsumen di BBPOM kota Medan mengatakan bahwa peran BBPOM adalah menjamin perlindungan konsumen dari penyalahgunaan obat tradisional, menjamin aspek keamanan, khasiat/manfaat dan mutu obat tradisional yang beredar di kota Medan dengan menguji sampling obat tradisional dan jika terbukti terdapat bahan berbahaya seperti bahan kimia dan bahan obat keras maka obat trad isional akan ditarik dari pasar dan pelaku usaha