• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat Pembuatan Jamu/Obat Tradisional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Jamu Tradisional

2.3.4 Syarat Pembuatan Jamu/Obat Tradisional

Terhadap jamu/obat tradisional, pemerintah belum mengeluarkan persyaratan yang mantap, namun dalam pembinaan jamu, pemerintah telah mengeluarkan beberapa petunjuk yakni sebagai berikut (Santosa, 2006) :

1. Kadar air tidak lebih dari 10%. Ini untuk mencegah berkembang biaknya bakteri, kapang dan khamir (ragi).

2. Jumlah kapang dan khamir tidak lebih dari 10.000.

3. Jumlah bakteri nompatogen tidak lebih dari 1.000.000.

4. Bebas dari bakteri pathogen seperti Salmonella.

5. Jamu yang berbentuk pil atau tablet, daya hancur tidak lebih dari 15 menit (menurut Farmakope Indonesia). Toleransi sampai 45 menit.

6. Tidak boleh tercemar atau diselundupi bahan kimia berkhasiat.

Selain itu, pembuatan jamu tradisional juga memerlukan bahan tambahan berupa pengawet yang tidak lebih dari 0,1 %.

Pengawet yang diperbolehkan (Depkes R.I, 1994) : 1. Metil p – hidroksi benzoate (Nipagin) 2. Propil p – hidroksi benzoat (Nipasol) 3. Asam sorbet atau garamnya

4. Garam natrium benzoate dalam suasana asam 5. Pengawet lain yang disetujui

2.4 CPOTB

Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional dengan tujuan untuk menjamin produk yang dihasilkan agar dapat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Mutu produk tergantung dari bahan awal, proses produksi, dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan, dan personalia yang menangani (Depkes, 1991).

Penerapan CPOTB merupakan persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu yang diakui dunia internasional. Untuk itu sistem mutu hendaklah dibangun, dimantapkan, dan diterapkan sehingga kebijakan yang ditetapkan dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai. Dengan demikian penerapan CPOTB merupakan nilai tambah bagi produk obat tradisional Indonesia agar dapat bersaing dengan produk sejenis dari negara lain baik di pasar dalam negeri maupun internasional (BPOM, 2015).

2.5 Pedoman Untuk Mengonsumsi Jamu Tradisional

Sebagai pedoman bagi masyarakat yang ingin membeli atau mengonsumsi obat tradisional, Pemerintah telah menetapkan Permenkes RI no 246/Menkes/Per/V/1990 tentang izin usaha industri obat tradisional dan pendaftaran obat tradisional yaitu :

Pada pembungkus, wadah atau etiket brosur obat tradisional Indonesia harus dicantumkan kata “JAMU” yang terletak dalam lingkaran dan ditempatkan pada bagian atas sebelah kiri.

Kata “JAMU” harus jelas dan mudah dibaca, dan ukuran huruf sekurang – kurangnya tinggi lima millimeter dan tebal setengah millimeter dicetak dengan warna hitam diatas warna putih atau warna lain yang menyolok.

Lambang daun harus jelas dengan ukuran sekurang – kurangnya lebar 10 milimeter dan tinggi 10 milimeter, warna hitam diatas dasar putih atau warna lain yang menyolok dengan bentuk dan rupa.

Penandaan yang tercantum pada pembungkus, wadah, dan brosur harus berisi informasi tentang :

a. Nama obat tradisional atau nama dagang b. Komposisi

c. Bobot, isi atau jumlah oba tiap wadah d. Dosis pemakaian

e. Khasiat atau kegunaan f. Kontra indikasi (bila ada) g. Kadaluwarsa

h. Nomor pendaftaran i. Nomor kode produksi

j. Nama industri atau alamat sekurang – kurangnya nama kota dan kata

“INDONESIA” (Depkes R.I, 1990)

2.6. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Obat Tradisional

Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi konsumsi obat tradisional (jamu) terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang dapat dikendalikan oleh pelaku usaha. Faktor internal adalah sebagai berikut :

a. Ketersediaan Bahan Baku Obat Tradisional

Produksi produk obat tradisional targantung dengan bahan baku herbal yang notabone-nya tergantung dari alam, maka ketersediaan bahan baku, menjadi perhatian penting untuk menjaga ketersediaan yang berkesinambungan; dibudidayakan secara baik sehingga kualitas simplisia yang dihasilkan seragam dan bermutu baik. Banyak bahan baku herbal yang masih sulit untuk didapatkan; menurut Amzu dan Haryanto (1991) dalam Yuliani (2001), ada 41 jenis tumbuhan obat langka yang perlu dilestarikan, di antaranya purwoceng (Pimpinella pruatjan), kayu angin (Usnea misaminensis), pulasari (Alyxia reinwardtii), pasak bumi (Eurycoma longifolia), dan kayu repat (Parameria barbata). Sehingga, dengan menjaga kesinambungan bahan baku, produksi obat tradisional dapat terjaga ketersediaannya.

b. Ketersediaan Tenaga Kerja yang Sesuai dengan Kualifikasinya

Menurut Badan Pengawasan Obat Tradisional (2005) bahwa tenaga kerja hendaklah mempunyai pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, dan kemampuan yang sesuai dengan tugas dan fungs inya, serta tersedia dalam jumlah yang cukup. Mereka hendaklah dalam keadaan sehat dan mampu menangani tugas yang dibebankan kepadanya. Jumlah dan kualitas tenaga kerja yang kurang memadai cenderung mempengaruhi kualitas obat tradisional. Jumlah tenaga kerja yang terbatas mengakibatkan tugas dilakukan secara tidak cermat dengan segala akibatnya. Disamping itu kekurangan tenaga kerja mengakibatkan sering dilakukan kerja lembur yang dapat menimbulkan kelelahan fisik dan mental baik bagi operator

maupun supervisor. Pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan personil hendaklah sesuai dengan persyaratan kualifikasi yang tertera pada uraian tugas masing- masing tenaga kerja.

c. Ketersediaan Bangunan, Mesin dan Alat Produksi

Aspek bangunan mempunyai dua sub aspek, yaitu bangunan dan ruangan.

Pada sub aspek bangunan, secara ideal industri kecil obat tradisional yang baik dan sehat hendaknya berada di lokasi yang bebas dari pencemaran.

Bangunan pabrik juga hendaknya memenuhi persyaratan sanitasi dan higiene dengan cara-cara tertentu. Bangunan hendaknya memiliki rancangan, ukuran, dan konstruksi yang memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku. Bangunan industri obat tradisional hendaklah memiliki ruangan-ruangan pembuatan yang rancang bangun dan luasnya sesuai dengan bentuk, sifat, dan jumlah produk yang dibuat, jenis, dan jumlah peralatan yang digunakan, jumlah karyawan yang bekerja serta fungsi ruangan (BPOM, 2005). Antar ruangan hendaklah dilakukan penyekatan sesuai dengan fungsi khusus masing- masing ruangan guna mencegah terjadinya tercampurnya bahan maupun kemungkinan terjadinya kontaminasi silang antar bahan serta mencegah resiko terlewatnya salah satu langkah dalam proses produksi.

d. Proses Produksi Obat Tradisional

Menurut WHO (2007) proses produksi merupakan salah satu tahapan kunci dimana kontrol kualitas disyaratkan untuk menjamin kualitas obat bahan alam yang diproduksi. Good Manufacturing Practice (GMP) merupakan satu dari alat paling penting untuk mengukurnya. Setiap

produsen obat tradisional dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan memproduksi obat tradisional, wajib berpedoman pada CPOTB. Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional dengan tujuan untuk menjamin produk yang dihasilkan agar dapat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Mutu produk tergantung dari bahan awal, proses produksi, dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan, dan personalia yang menangani (Depkes, 1991). Tujuan umum diterapkannya CPOTB agar melindungi masyarakat terhadap hal-hal yang merugikan dari penggunaan obat tradisional yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk obat tradisional Indonesia dalam era pasar bebas (BPOM RI, 2005). Dengan begitu dapat meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap penggunaan obat tradisional (jamu).

e. Pemasaran Obat Tradisional

Menurut Kotler (2009) pemasaran adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok dapat mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan penawaran dan secara bebas mempertukarkan produk atau jasa yang bernilai satu sama lain. Pemasaran juga merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh para pengusaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan kualitas yang baik, untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, serta penjualan yang memperoleh laba.

Pemasaran pada industri kecil obat tradisional umumnya menggunakan pemasaran langsung, yaitu proses jual beli berlangsung langsung dari produsen ke pelanggan (direct-to-customers bussines). Komunikasi terjadi langsung antara pelaku usaha dengan konsumen baik untuk memperoleh respon dan tanggapan langsung dari konsumen mengenai efek dari khasiat jamu yang dikonsumsi. Keuntungan pemasaran ini bisa berinteraksi langsung dengan target pasar sehingga bisa tahu responnya secara langsung terhadap produk/jasa yg ditawarkan, serta dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut dari respon pasar (mengetahui "consumer insight").

f. Pengetahuan Pelaku Usaha

Menurut Hidayat (2007) pengetahuan adalah adalah suatu proses dengan menggunakan pancaindra yang dilakukan seseorang terhadap objek tertentu dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan. Hal penting yang harus dimiliki oleh seorang pelaku usaha obat tradisional dalam menjalankan usahanya adalah kemampuan dalam meracik jamu dan tidak hanya itu, pelaku usaha obat tradisional juga harus benar – benar memahami mengenai khasiat dari jamu yang diproduksinya. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh pelaku usaha berdasarkan pengalaman sendiri dan juga informasi dari konsumen mengenai kemanjuran dari jamu yang dikonsumsi oleh konsumennya.

g. Kelengkapan Informasi pada Kemasan

Menurut Bearden (2001) pada sebuah kemasan bisa dijumpai adanya label berupa cetakan tulisan, gambar, dan grafik yang merupakan informasi

produk. Kemasan memuat komponen dasar yaitu label yang merupakan deskripsi informasi produk yang tercetak pada kemasan tersebut.

Kejelasan dan kelengkapan informasi produk pada label ke masan obat tradisional (jamu) merupakan suatu kesempatan baik yang diberikan produsen bagi konsumen dalam rangka mengkomunikasikan pengeta huan poduknya secara menyeluruh dan dapat mempengaruhi konsumen dalam meningkatkan konsumsi terhadap jamu.

h. Jumlah dan Variasi Obat Tradisional

Menurut BBPOM (2015) dalam rencana strategis bahwa semakin bertambahnya jumlah penduduk di kota Medan, maka permintaan terhadap obat juga akan semakin meningkat sehingga penawaran dari obat juga akan meningkat. Potensi pasar yang besar seharusnya membuat para produsen obat termasuk obat tradisional di kota Medan semakin meningkatkan jumlah dan variasi obat tradisional.

Sedangkan untuk faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh pelaku usaha adalah sebagai berikut :

a. Ketepatan Konsumen dalam Penggunaan Obat Tradisional

Menurut Katno (2008) bahwa dibanding obat modern, memang obat tradisional memiliki beberapa kelebihan antara lain efek sampingnya relative kecil jika digunakan secara tepat. Obat tradisional akan bermafaat dan aman jika digunakan dengan mempertimbangkan sekurang – kurangnya enam aspek ketepatan, yaitu tepat takaran, tepat waktu dan cara penggunaan, tepat pemilihan bahan dan telaah informasi serta sesuai dengan indikasi penyakit tertentu.

b. Kualitas Obat Tradisional

Obat bahan alam termasuk jamu yang diproduksi oleh industri obat bahan alam (IOT) maupun industri kecil obat bahan alam (IKOT) mempunyai persyaratan yang sama yaitu aman untuk digunakan, berkhasiat atau bermanfaat dan bermutu baik (Lestari, 2007). Hal yang menjadi penilaian konsumen dalam mengonsumsi obat tradisional dengan memperhatikan efek samping dari obat tradisional, respon yang cepat terhadap penyembuhan dan khasiat yang diperoleh konsumen setelah mengonsumsi obat tradisional.

c. Ketersediaan Obat Tradisional

Menurut Mullins dan Walker (2010) salah satu kategori yang dievaluasi oleh konsumen dalam proses pengambilan keputusan pembeliaan adalah ketersediaan.

Dalam upaya mengembangkan obat tradisional, ketersediaan bahan baku, ketersediaan obat dalam jenis dan jumlah yang cukup, keterjaminan kebenaran khasiat, mutu dan keabsahan obat yang beredar, serta perlindungan masyarakat dari penyalahgunaan obat yang dapat merugikan/membahayakan masyarakat merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan (Yuliani, 2001).

d. Kepercayaan Konsumen dalam Penggunaan Obat Tradisional

Kepercayaan konsumen menurut Mowen (2002) adalah semua pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya. Membangun kepercayaan konsumen dalam hubungan jangka panjang adalah suatu

faktor yang penting untuk menciptakan loyalitas pelanggan. Kepercayaan ini tidak begitu saja dapat diakui oleh pihak lain/ mitra bisnis, melainkan harus dibangun mulai dari awal dan dapat dibuktikan.

Menurut Prasaranphanich (2007), ketika konsumen mempercayai sebuah perusahaan, mereka akan lebih suka melakukan pembelian ulang dan membagi informasi pribadi yang berharga kepada perusahaan tersebut.

e. Peran Balai Besar Pengawasan Obat Tradisional

Badan POM berperan dalam membina industri maupun importer/distributor secara komprehensif mulai dari pembuatan, peredaran serta distribusi, agar masyarakat terhindar dari penggunaan obat tradisional yang berisiko bagi pemeliharaan kesehatan. Pengawasan yang dilakukan oleh Badan POM dimulai sebelum produk beredar yaitu dengan evaluasi produk pada saat pendaftaran, inspeksi sarana produksi sampai kepada pengawasan produk di peredaran. Oleh karena itu peran balai besar pengawasan obat dan makanan sangat berpengaruh terhadap keamanan mutu produk obat tradisional yang akan dikonsumsi konsumen.

f. Peran Pengusaha Gabungan Pengusaha Jamu

Gabungan pengusaha jamu merupakan wadah pengusaha jamu dan obat tradisional Indonesia yang mempunyai visi menjadikan jamu sebagai produk unggulan bangsa dan misi gabungan pengusaha jamu adalah mengembangkan usaha jamu melalui peningkatan mutu produk dan kualitas obat tradisional. Melalui wadah tersebut para pelaku usaha dapat bertukar pikiran apabila ada terdapat permasalahan dalam menjalankan

usaha jamu termasuk bagaimana cara meningkatkan kesadaran masyarakat mengonsumsi obat tradisional (BPOM, 2015).

g. Pendapatan

Menurut teori dan fakta, semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula konsumsi masyarakat terhadap obat yang memiliki standar dan kualitas. Berdasarkan data konsumsi obat yang dilakukan pada masyarakat kota Medan bahwa sebagian besar penduduk masih banyak yang mengonsumsi obat modern dibandingkan dengan obat tradisional. Jumlah konsumen obat modern adalah sebanyak 91,40 % sedangkan obat tradisional hanya sebanyak 24,33 %.

Menurut Soekartawi (2002) menjelaskan bahwa pendapatan akan mempengaruhi banyaknya barang yang akan dikonsumsi. Dengan bertambahnya pendapatan, maka barang yang dikonsumsi bukan saja bertambah akan tetapi kualitas barang juga akan menjadi perhatian.

h. Bahaya Obat Modern atau Obat Kimia

Bahaya mengkonsumsi obat kimia sangatlah penting karena efek yang di timbulkan dari obat kimia ini berdampak buruk bagi kesehatan tubuh secara jangka panjang . Obat yang mengandung kimia tidak baik untuk tubuh jika secara terus menerus mengkonsumsi obat kimia maka akan banyak faktor resiko penyakit yang lebih parah. Semakin rutin mengkonsumsi obat kimia , maka resisten tubuh dan penyakit akan lebih kebal untuk melawan pengobatan yang di berikan .

Obat kimia memang memiliki efek yang sangat cepat, namun obat kimia hanya sebagai penghilang rasa seketika dan pada suatu saat penyakit

tersebut akan kambuh lagi, dengan kata lain hanya menekan gejala yang timbul tanpa menjangkau penyebab dari penyakit tersebut.

2.7. Landasan Teori

Strategi merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan. Alat analisis yang cocok untuk merumuskan strategi tersebut adalah analisis SWOT. Dimana analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuata n (strength) dan peluang (opportunity), dan secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threat) (Rangkuti, 2003).

Menurut Rangkuti (2008), analisis SWOT adalah sebuah bentuk analisis situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberikan gambaran). Analisis ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai faktor masukan, yang kemudian dikelompokkan menurut kontribusinya masing- masing.

Untuk merumuskan strategi yang tepat dibutuhkan faktor- faktor strategis internal dan eksternal. Faktor strategis internal merupakan suatu kondisi yang ada di dalam perusahaan dan dapat dikendalikan oleh perusahaan. Faktor strategis eksternal merupakan suatu kondisi di luar perusahaan dan tidak dapat dikontrol oleh perusahaan.

Faktor strategis internal terdiri dari kekuatan dan kelemahan. Kekuatan adalah unsur-unsur yang dapat diunggulkan oleh perusahaan tersebut seperti halnya keunggulan dalam produk yang dapat diandalkan, memiliki keterampilan dan berbeda dengan produk lain, sehingga dapat membuat lebih kuat dari para pesaingnya. Kelemahan adalah kekurangan atau keterbatasan dalam hal sumberdaya yang ada pada perusahaan baik itu ketrampilan atau kemampuan yang menjadi pengahalang bagi kinerja organisasi. Keterbatasan atau kekurangan

dalam sumberdaya, ketrampilan dan kapabilitas yang secara serius menghambat kinerja efektif perusahaan (Rangkuti, 2008).

Faktor strategis eksternal terdiri dari peluang dan ancaman. Peluang adalah berbagai hal dalam situasi yang mungkin menguntungkan bagi suatu perusahaan, serta kecenderungan-kecenderungan yang merupakan salah satu sumber peluang.

Ancaman adalah faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan da lam perusahaan jika tidak diatasi maka akan menjadi hambatan bagi perusahaan yang bersangkutan baik masa sekarang maupun yang akan datang (Rangkuti, 2008).

Proses strategi terdiri dari tiga tahapan yaitu : a. Perumusan strategi

Perumusan strategi adalah mengembangkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan ancaman (faktor eksternal) perusahaan, menetapkan kekuatan dan kelemahan (faktor internal), menetapkan tujuan jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan.

b. Implementasi strategi

Implementasi strategi mensyaratkan perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan dan mengalokasikan sumberdaya sehingga strategi yang telah diformulasikan dapat dijalankan.

Implementasi strategi termasuk mengembangkan budaya yang mendukung strategi, menciptakan struktur organisasi yang efektif dan mengarahkan usaha pemasaran, menyiapkan anggaran, mengembangkan dan memberdayakan sistem informasi dan menghubungkan kinerja karyawan dengan kinerja organisasi.

c. Evaluasi strategi

Evaluasi strategi merupakan tahap akhir dalam manajemen strategi. Tiga macam aktivitas dasar untuk mengevaluasi strategi adalah: (1) meninjau faktor- faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi sekarang, (2) mengukur prestasi, dan (3) mengambil tindakan korektif. Evaluasi strategi diperlukan karena keberhasilan hari ini tidak menjamin keberhasilan di masa depan (David, 2006).

Analisis SWOT merupakan identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Analisis ini meliputi pemaksimalkan kekuatan (Strength) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan Ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pemanfaatan dan peningkatan konsumsi obat tradisional itu sendiri. Dengan demikian, konsumen sebagai perencana strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor- faktor yang menjadi kekuatan,

kelemahan, peluang dan ancaman dalam kondisi yang ada saat ini. Proses penyusunan rencana strategis melalui tiga tahap yaitu:

1. Tahap pengumpulan data.

2. Tahap analisis.

3. Tahap pengambilan keputusan.

Tahap pengumpulan data ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data, tetapi juga suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra analisis.

Data dibedakan menjadi dua yaitu data eksternal dan data internal yang diperoleh dari dalam dan luar kegiatan konsumen dalam mengonsumsi obat tradisional, model yang dapat digunakan dalam tahap ini yaitu:

a. Matriks faktor strategi eksternal.

b. Matriks faktor strategi internal.

c. Matriks posisi.

Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal

Menurut Glueck dan Jauch (1997), lingkungan internal adalah proses dimana perencanaan strategi mengkaji faktor internal perusahaan untuk menentukan dimana perusahaan memiliki kekuatan dan kelemahan yang berarti sehingga dapat mengelola peluang secara efektif dan menghadapi ancama n yang terdapat dalam lingkungan. Sedangkan menurut Pearce dan Robinson Jr, dalam Kotler (2005), analisis lingkungan internal adalah pengertian mengenai pencocokan kekuatan dan kelemahan internal dengan peluang dan ancaman eksternal.

Hasil dari analisis lingkungan internal akan menghasilkan kekuatan dan kelemahan perusahaan.Kekuatan atau keunggulan perusahaan itu meliputi keunggulan pemasaran, keunggulan sumberdaya manusia, keunggulan keuangan, keunggulan operasi dan keunggulan organisasi dan manajemen

Lingkungan eksternal terdiri atas unsur-unsur yang berada di luar organisasi, dimana unsur-unsur ini tidak dapat dikendalikan dan diketahui terlebih dahulu oleh manajer. Disamping itu juga akan mempengaruhi manajer dalam pengambilan keputusan yang akan dibuat. Unsur-unsur lingkungan eksternal organisasi contohnya yaitu perubahan ekonomi, peraturan pemerintah, perilaku konsumen atau masyarakat, perkembangan teknologi, politik dan lain sebagainya.

2.8. Kerangka Pemikiran

Obat tradisional merupakan alternatif kesehatan yang dapat dikonsumsi masyarakat dari berbagai macam penyakit yang ada saat sekarang ini.

Pemanfaatan dan peningkatan konsumsi tanaman obat didukung dengan besarnya potensi kekayaan sumber daya alam Indonesia sebagai sumber bahan baku yang dapat diolah menjadi obat tradisional. Oleh karena itu, diperlukan penentuan alternatif strategi dalam peningkatan konsumsi obat tradisional dengan menggunakan analisis SWOT, dimana didalam analisis SWOT tersebut dapat diidentifikasi faktor internal, yaitu kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness)dan faktor eksternal, yaitu peluang (opportunity) dan ancaman (threat)

dalam suatu usaha tanaman obat tradisional.

Setelah dilakukan analisis faktor internal dan eksternal dengan menggunakan SWOT, berdasarkan hasil skoring dan pembobotan serta dibuat dalam matriks posisi dan matriks SWOT, maka kita dapat menentukan strategi peningkatan apa yang cocok dan bisa diterapkan untuk meningkatkan konsumsi obat tradisional didaerah penelitian.

Untuk mempermudah pemahaman kerangka pemikiran peneliti, berikut disajikan skema kerangka pemikiran.

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Obat Tradisional (Jamu Tradisional)

Faktor – Faktor SWOT Internal

1. Ketersediaan bahan baku 2. Ketersediaan tenaga kerja

3. Ketersediaan fasilitas, mesin dan alat produksi

4. Proses produksi 5. Jaringan Pemasaran 6. Pengetahuan pelaku usaha

7. Kelengkapan informasi pada kemasan

8. Jumlah dan variasi obat tradisional

Eksternal

1. Ketepatan konsumen dalam penggunaan obat tradisional

2. Kualitas obat tradisional 3. Ketersediaan obat tradisional

4. Kepercayaan konsumen obat tradisional

5. Peran BBPOM

6. Peran gabungan pengusaha jamu 7. Rasa obat tradisional

8. Pendapatan konsumen 9. Bahaya obat modern/kimia

Strategi Peningkatan Konsumsi Obat Tradisional Kekuatan

(Strength)

Kelemahan

(Weakness) Peluang

(Opportunity)

Ancaman (Threats)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan secara purposive yakni penentuan lokasi penelitian yang sengaja dipilih berdasarkan tujuan tertentu karena Kota Medan merupakan salah satu wilayah dimana masih terdapat konsumen yang mengonsumsi obat tradisional (jamu) untuk mengatasi masalah kesehatan dan konsumen memperoleh obat tradisional dari berbagai tempat yang menjual obat tradisional. Salah satu yang mengembangkan obat tradisional adalah pelaku usaha yang mendirikan usaha kecil obat tradisional di kota medan. Data usaha kecil obat tradisional diperoleh dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan di kota Medan .

3.2 Metode Penentuan Responden

Responden adalah orang yang berperan sebagai informan untuk memberikan keterangan tentang sesuatu berupa fakta/pendapat mengenai permasalahan yang sedang diteliti. Keterangan tersebut dapat disampaikan dalam bentuk tulisan, yaitu ketika mengisi angket/lisan ketika menjawab wawancara.

Metode yang digunakan dalam penentuan responden dalam penelitian ini adalah metode Purposive Sampling, yaitu pelaku usaha yang terlibat dalam kegiatan memproduksi obat tradisional, ketua gabungan pengusaha jamu, pihak yang mengawasi sekaligus menjamin keamanan obat tradisional serta konsumen yang mengonsumsi obat tradisional.

Responden yang diperlukan dalam menentukan strategi peningkatan konsumsi obat tradisional diambil dari pelaku usaha yang memiliki industri kecil

obat tradisional, pengawas farmasi dan makanan bidang sertifikasi dan layanan

obat tradisional, pengawas farmasi dan makanan bidang sertifikasi dan layanan