Kabupaten Takalar
G. Deskripsi Fokus penelitian
1. komunikasi merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik. Implementasi yang efektif terjadi apabila pembuat keputusan sudah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan.
Ada 3 indikator yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan variabel komunikasi tersebut diatas, yaitu:
a. transmisi, penyaluran komunikasi yang baik akan dapat mengahsilkan suatu implementasi yang baik. Seringkali yang terjadi dalam proses transmisi ini adanya salah pengertian, hal tersebut telah melalui bebebrapa tingkat birokrasi, sehingga hal yang diharapkan terdistribusi ditengah jalan.
b. Kejelasan informasi, komunikasi yang diterima oleh pelaksana kebijakan haruslah jelas dan tidak membingungkan. Kejelasan informasi kebijakan tidak selalu menghalangi implementasi kebijakan,
pada tataran tertentu para pelaksan membutuhkan fleksibilitas dalam melaksanakan kebijakan. Tetapi tataran yang lain makan hal tersebut justru akan menyelewengkan tujuan yang hendak dicapai oleh kebijakan yang telah ditetapkan.
c. Kosnsistensi; perintah ataupun informasi yang diberikan dalam pelaksanaan suatu haruslah jelas dan konsisten untuk dapat diterapkan dan dijalankan. Karena itu jika perintah yang diberikan seringkali berubah-ubah maka dapat menimbulkan bagi pelaksana lapangan.
2. Sumber daya merupakan faktor pelaksanaan program agarefektif, dimana tanpa sumberdaya maka suatu program atau kebijakan hanya sekedar kertas dokumen. Indikator sumber daya terdiri dari beberapa elemen, yaitu:
a. Staf; sumberdaya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf.
Kegagalan yang sering terjadi dalam impelementasi kebijakan salah satunya disebandingkan oleh staf yang tidak mencukupi, memadai, ataupun tidak kompoten dibidangnya.
b. Wewenang pada umumnya kewenangan harus bersifat formal agar perintah dapat dilaksanakan. Kewenangan merupakan otoritas atau legitimasi bagi para pelaksana dalam melaksanakan kebijakan yang ditetapkan secara politik.
c. Fasulitas; faktor penting dalam implementasi kebijakan. Implementor muntkin memiliki staf yang mencukupi tetapi yang harus dilakukan tanpa adanya fasilitas pendukung maka implemetasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil.
3. Disposisi; sikap dari pelaksana kebijakan adalah faktor ketiga dalam pendekatan mengenai pelaksanaan suatu kebijakan publik. Jika pelaksana suatu kebijakan ingin efektif, maka para pelaksana kebijakan tidak harus mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya sehingga dalam praktiknya tidak terjadi biasa. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada variabel disposisi ini adalah:
a. Pengangkatan birokrasi, disposisi atau sikap para pelaksana akan menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap implementasi kebijakan bila personil yang tidak melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diinginkan oleh para pejabat-pejabat tinggi. Karena itu, pemilihan dan pengangkatan personil pelaksana kebijakan haruslah orang-orang yang memiliki dedikasi pada kebijkan yang telah ditetapkan lebih khusus lagi pada kepentingan warga.
b. Insentif; salah satu tehnik yang disarakan untuk mengatasi masalah kecenderungan para pelaksana adalah dengan memanipulasi insentif.
Oleh karena itu, pada umumnya orang bertindak menurut kepentingan mereka sendiri maka memanipulasi insentif oleh para pembuat kebijakan mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Dengan cara menambah keuntungan atau biaya tertentu mungkin akan menjadi faktor pendukung yang membuat para pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik.
4. Struktur Birokrasi/Organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Aspek
dari struktur organisasi adalah Standard Operation Produre (SOP) dan figmentasi. Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks yang menjadikan aktivitas organisasi yang tidak fleksibel.
32 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA D. Konsep Implementasi
Menurut Van Metter Horn dalam (purwanto, 2012) mendefinisikan implementasi yang lebih baik spesifik, adalah “those action by public ir private individuals (or group) that are directed at tha achievement off objective set founth in prior policy decisions”, tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu-individu atau kelompok-kelompok pemerintah ataupun swasta yang diarahkan agar tetap terlaksananya tujuan-tujuan yang sudah digariskan ke dalam sebuah keputusan kebijakan.
Berikut ini ada beberapa macam model implementasi kebijakan (dalam Mustari, 2015) yaitu:
Model Implementasi Kebijakan Geogre C. Edward III
Model implementasi kebijakan ini memakai pendekatan top down, dalam menganalisis implementasi kebijakan, model implementasi kebijakan Geogre C. Edward III berfokus pada empat variable yang dianggap meyakinkan sebuah proses impelentasi kebijakan adalah sebagai berikut:
5. Komunikasi (Communication) 6. Sumber Daya (Resources) 7. Disposisi (Disposition)
8. Struktur Birokrasi (Bureucratic Structure)
Menurut Agustino, 2016, implementasi adalah suatu proses yang dinamis, dimana kebijakan melaksanakan suatu kegiatan atau aktivitas sehingga pada akhirnya akan memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran dari kebijakan itu sendiri.
Menurut Mulyadi, 2015, Implementasi mengacu pada tindakan unntuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu keputusan. Tindakan ini berusaha untuk mengubah keputusan-keputusan tersebut menjadi pola-pola operasional serta berusaha mencapai perubahan-perubahan besar atau kecil sebagaimana yang telah diputuskan sebelumnya. Impelementasi pada hakikatnya juga merupakan upaya pemahaman apa yang seharusnya terjadi setelah program dilaksanakan. Dalam tataran praktis, impelemtasi adalah proses pelaksanaan keputusan dasar. Proses tersbut terdiri atas beberapa tahapan yakni:
7. Tahap pengesahan peraturan perundangan.
8. Pelaksanaan keputusan oleh instansi pelaksana.
9. Kesediaan kelompok sasaran untuk menjalankan keputusan.
10. Dampak nyata keputusan baik yang dikehendaki maupun tidak.
11. Dampak keputusan sebagaimana yang diharapkan instansi pelaksana.
12. Upaya memperbaikan atas kebijakan atau peraturan perundangan.
Proses persiapan impelementasi setidaknya menyangkut beberapa hal penting yakni:
4. Penyiapan sumber daya, unit dan metode.
5. Penerjemahan kebijakan menjadi rencana dan arahan yang dapat diterima dan dijalankan.
6. Penyediaan layanan, pembayaran dan hal lain secara rutin.
Gindlen (Mulyadi, 2015), Menyatakan implementasi merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu.
Menurut Widodo, implementasi berarti menyediakan sarana untuk melaksanakan suatu kebijakan dan dapat menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu. Pressman dan Wildavsky mengemukakan bahwa: “Implemenrasi as to carry out, acoumplish, fulfill, produce, complete” maksudnya: membawa, menyelesaikan, mengisi, menghasilakn, melengkapi. Jadi secara etismologi implementasi itu dapat dimaksudkan sebagai suatu aktifitas yang bertalian dangan menyelesaikan suatu pekerjaan dengan penggunaan sarana (alat0 untuk memperoleh hasil (Syahida, 2014).
Kemudian Gun dan Hoogwood (Tahir, 2014) mengemukakan bahwa implementasi merupakan suatu yang sangat esensial dari tehnik atau masalah manajeril.
Kapioru (2014) menyebutkan ada empat faktor yang mempengaruhi kinerja implementasi, yaitu:
5. Kondisi lingkungan (enironmental conditions).
6. Hubungan antar organisasi (inter-organizational relationship).
7. Sumberdaya (resources).
8. Karakter institusi implementor (characteristicimplementing agencies).
Pada dasarnya impementasi menurut Syaukani dkk (Pratama, 2015) merupakan salah satu tahap dalam proses kebijakan publik dalam sebuah negara.
Biasanya impelementasi dilaksankan setelah sebuah kebijakan dirumuskan dengan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang.
Laster dan stewart (Kusumanegara,2010), menjelaskan bahwa implementasi adalah suatu tahap yang dilakukan setelah aturan hukum diterapkan pada proses politik.
Menurut Agustino, 2008, implementasi merupakan suatu proses yang dinamis pelaksanaan kebujakan melakukan suatu aktifitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.
Ripley dan Franklin, bahwa implementasi adalah sesuatu yang terjadi setelah undang-undang diterapkan yang memberikan otoritas kebijakan, atau sejenis keluaran yang nyata. Grindle,juga memberikan pendapat mengenai implementasi dengan mengatakan bahwa implementasi adalah membentuk suatu kaita (linkage) yang memudahkan tujuan kebijakan bisa direalisasikan sebagai dampak dari suatu kegiatan pemerintah (Winarno, 2014).
Model yang dikemukakan Edward III dalam (Djiwandono, 2017) implementasi atau pelaksanaan kebijakan di pengaruhi oleh 4 variabel, yaitu:
1. Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu hal yang sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari pelaksanaan atau impelementasi suatu program/kebijakan komunikasi menyangkut proses penyampaian informasi yang disampaikan.
Pengetahuan atas apa yang mereka kerjakan dapat berjalan dengan baik, sehingga
setiap keputusan kebijakan dan peraturan. Ada tiga indikator yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan aspek komunikasi ini, yakni:
d) Transmisi yaitu penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilkan suatu hasil implementasi atau pelaksanaan yang baik pula. Seringkali yang terjadi dalam proses transmisi ini yaitu adanya salah pengertian, hal ini terjadi karena komunikasi pelaksanaan tersebut telah melalui beberapa tingkatan birokrasi, sehingga hal yang diharapkan terdistribusi ditengah jalan.
e) Kejelasan informasi, dimana komunikasi atau informasi yang diterima oleh pelaksana kebijakan haruslah jelas dan tidak membingungkan.
Kejelasan informasi kebijakan tidak selalu menghalangi pelaksanaan kebijakan atau program, dimana pada tataran tertentu para pelakasana membutuhkan fleksibilitas dalam melaksanakan program, tetapi tataran yang lain maka hal tersebut justru akan menyelewengkan tujuan yang hendak dicapai oleh kebijakan yang telah ditetapkan.
f) Konsistensi informasi yang disampaikan yaitu perintah ataupun informasi yang diberikan dalam pelaksanaan suatau haruslah jelas dan konsisten untuk dapat diterapkan dan dijalankan. Apabila perintah yang diberikan seringkali berubah-ubah, maka dapat menimbulkan kebingungan bagi pelaksana lapangan.
2. Sumberdaya
Meskipun isi kebijakan telah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, akan tetapi pelaksanaan atau impelemtor kekurangan sumberdaya untuk
melaksanankan kebijakan, maka implementor tidak akan berjalan secara efektif. Sumberdaya adalah faktor penting untuk pelaksanaan program agar efektif, dimana tanpa sumberdaya maka program atau kebijakan hanya sekedar kertas dokumen. Edward III (agustino,2012), menyatakan bahwa hal ini meliputi empat komponen, yaitu:
e) Staf, sumber daya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf.
Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan salah satunya disebandingkan dengan oleh staf yang tidak mencukupi, memadai, ataupun tidak kompoten dibidangnya.
f) Informasi dalam impelemtasi kebijakn, informasi mempunyai dua bentuk, yaitu pertama informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan. Implementor harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan disaat mereka diberi perintah untuk melakukan tindakan. Kedua informasi mengenai data kepatuhan dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang telah ditetapkan.
g) Wewenang pada umumnya kewenangan harus bersifat formal agar perintah dapat dilaksanakan. Kewenangan merupakan otoritas atau legitimasi bagi bara pelaksana dalam melaksanankan kebijakan yang ditetapkan secara politik.
h) Fasilitas merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan.
Impelementor mungkin memiliki staf yang mencukupi, mengerti apa
yang harus dilakukannya dan tanpa adanya fasilitas pendukung maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil.
3. Disposisi atau attitudes
Disposisi adalah sikap dan komitmen aparat pelaksana terhadap program.
Khususnya dari mereka yang menjadi pelaksana atau implementor dari program. Dalam hal ini terutama adalah aparatur birokrasi. Apabila implementor memiliki diposisi yang baik maka dia akan menjalankan kebijakan dengan baik seperti yang diinginkan oleh pembuat kebijakan atau program. Sedangkan apabila implementor atau pelaksana memiliki sikap yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses impelemtasi atau pelaksanan program juga menjadi tidak efektif.
c. Pengangkatan birokrasi; disposisi atau sikap para pelaksana akan menimbulkan hambatan-hambatan yang nyata terhadap implementasi kebijakan bila personil yang tidak melaksanakan kebijakan-kebijakan yang diinginkan oleh para pejabat-pejabat tinggi. Karena itu, pemilihan dan pengangkatan personil pelaksanaan kebijakan haruslah orang-oarang yang memilik desikasi pada kebijakan yang telah ditetapkan lebih khusus lagi pada kepentingan warga.
d. Insentif; salah satu teknik yang disarankan untuk mengatasi masalah kecenderungan para pelaksana adalah dengan memanipulasi insentif.
Oleh karena itu, pada umumnya bertindak menurut kepentingan mereka sendiri maka memanipulasi intensif oleh para pembuat kebijakan mempengaruhi tindakan para pelaksana kebijakan. Dengan
cara menambah keuntungan atau biaya tertentu mungkin akan manjasi faktor pendukung yang membuat para pelaksana kebijakan akan menjadi faktor pendukung yang membuat para pelaksana kebijakan melaksanakan perintah dengan baik.
4. Struktur Organisasi atau Birokrasi
Bertugas mengimpelemntasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Aspek dari struktur organisasi adalah standard operation produre (SOP) dan figmentasi. Struktur organisasi yang selalu penjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan pengawasan dan menimbulkan red-tape, yaitu prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks yang menjadikan aktivitas yang tidak fleksibel.
Waluyo dalam ((Haines et al et al., 2019) menyatakan bahwa implementasi merupakan pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan eksekitif yang penting atau badan peradilan lainnya. Maka dari itu, implementasi merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh individu/kelompok publik maupun swasta, yang dalam pelaksanaanya mempunyai pedoman untuk bertindak berupa undanh-undang ataupun keputusan-keputusan yang digunakan untuk mencapai tujuan yang sebelumnya telah diterapkan.