• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

F. Deskripsi Fokus Penelitian

1. Proses identifikasi merupakan langkah dimana kita melakukan berbagai proses diantaranya: (a) proses identifikasi masalah dan (b) proses identifikasi

Proses

penyebab masalah yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

2. Proses Pengembangan merupakan langkah kedua dimana kita melakukan berbagai proses antara lain: (a) proses mencari solusi standar yang ada dan (b) proses pemilihan solusi yang benar dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) di Kabupaten Kepulauan Selayar.

3. Proses seleksi merupakan langkah terakhir dimana pada tahap ini solusi-solusi yang akan disaring dan disepakati dengan tujuan untuk: (a) penentuan jabatan dan melihat (b) posisi yang akan diisi dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

4. Faktor kewenangan adalah faktor yang dimiliki oleh seseorang dan mempunyai hak dalam melaksanakan berbagai kewenangan, antara lain: (a) kewenangan atas kekuasaan dan (b) kewenangan membuat keputusan yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

5. Faktor sistem adalah faktor yang terdiri dari: (a) sistem kesatuan bagian-bagian di badan pemerintah dan (b) hubungan dalam instansi yang berhubungan proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

6. Faktor Kepentingan adalah faktor dimana kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu antara lain: (a) memenuhi kepentingan pegawai dan (b) mewujudkan kepentingan pegawai dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

7. Efektifitas dipergunakan untuk melihat proses pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dan berkaitan dengan kebijakan dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Pelaksanaan penelitian sudah dilaksanakan selama Dua bulan setelah ujian proposal. Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar. Pilihan lokasi berdasarkan pertimbangan bahwa pelaksanaan mutasi jabatan di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) belum sepenuhnya sesuai dengan Undang-undang yang diberlakukan.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

1. Jenis penelitian ini adalah Deskriptif Kualitatif. Data kualitatif adalah data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik berwujud pernyataan atau berupa kata-kata.

2. Tipe penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Yaitu bertujuan untuk memahami secara menyeluruh proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) kabupaten kepulauan selayar.

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder:

1. Data Primer, data ini adalah data yang diperoleh penulis melalui hasil wawancara sehubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

2. Data Sekunder, adalah data yang dikumpulkan peneliti yang sumbernya dari data-data yang sudah diolah sebelumnya menjadi seperangkat informasi tertulis lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian.

D. Informan Penelitian

Yang menjadi informan adalah Kepala Bidang Mutasi, Sekretaris BKD, Kasubag umum dan kepegawaian, PNS, dan Staf. Di antaranya :

Tabel 1. Keadaan Informan Penelitian menurut Nama, Jabatan, dan Inisial.

2 Ratnawati Sekbid Mutasi RTN 1 Orang

3 Marliyana Kasubag Umum

dan Kepegawaian MRL 1 Orang

4 Andi Opu Staf BKD ADO 1 Orang

5 Supriadi Staf BKD SRD 1 Orang

6 Muhammad

Arsyad PNS MDA 1 Orang

7 Nurhayati PNS NHY 1 Orang

Sumber: Kantor BKD Kabupaten Kepulauan Selayar, 2014.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini, meliputi:

1. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya dengan si

penjawab dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).

Peneliti melakukan interview atau tanya jawab kepada Kepala Bidang Mutasi, Sekretaris BKD, Kasubag Umum dan Kepegawaian, PNS, dan Staf BKD.

2. Dokumentasi

Dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatan-catatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian. Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

3. Observasi

Observasi merupakan penelitian dengan cara mengamati secara langsung hal-hal yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dimana data yang dikumpulkan di lapangan, dideskripsikan dan juga dituangkan dalam tabel, dan persentase. Analisis data yang dilakukan setelah semua data primer dan sekunder terkumpul. Setelah itu frekuensi atau persentasi. Berdasarkan hasil penelitian kemudian ditafsirkan dengan kalimat

yang bersifat kualitatif. Hasil analisis data tersebut di jadikan kesimpulan akhir dalam penelitian.

Sugiyono, (2012: 91) Mengemukakan bahwa aktifitas dalam analisis data, yaitu data reducation, data display, dan conclusion drawing/verification.

a. Data reducation ( Reduksi data ) : Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak maka untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal penting dicari tema dan polanya

b. Data Display ( Penyajian data ) : Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya kemudian berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.

c. Conclusion Drawing / Verification : Langkah ketiga dalam analisi data kualitatif menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono ( 2012 : 99 ) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.

Berdasarkan jawaban maupun data-data yang didapatkan atau yang telah diberikan oleh responden/informan.

G. Keabsahan Data

Triangulasi bermakna pengecekan silang yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang dikumpulkan dari berbagai sumber data, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang lain, serta pengecekan pada waktu yang berbeda.

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek pada sumber lain keabsahan data yang telah diperoleh sebelumnya.

2. Triangulasi Metode

Triangulasi metode bermakna data yang diperoleh dari satu sumber dengan menggunakan metode atau teknik tertentu, diuji keakuratan atau ketidakakuratannya dengan menggunakan metode atau teknik pengumpulan data yang lain.

3. Triangulasi Waktu

Triangulasi waktu berkenaan dengan waktu pengambilan data peneliti melakukan wawancara dengan informan dalam kondisi waktu yang berbeda untuk menentukan kredibilitas data.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar 1. Visi Badan Kepegawaian Daerah (BKD)

Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan daerah yang menghasilkan pegawai yang berkualitas, Visi Badan Kepegawaian daerah Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu Terwujudnya kualitas aparatur pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar dan amanah.

2. Misi Badan Kepegawaian Daerah (BKD)

Misi merupakan tujuan baik bagi instansi swasta maupun pemerintah. Berikut adalah misi dari Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar :

a. Memberikan pelayanan di bidang administrasi negara kepegawaian secara transparan, jujur, dan akuntabel.

b. melakukan penguatan manajemen kepegawaian, untuk peningkatan kompetensi dan kesejahteraan.

3. Tugas dan Fungsi Badan Kepegawaian Daerah

Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar adalah lembaga teknis daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Badan Kepegawaian Daerah merupakan salah satu perangkat daerah yang mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 18 Tahun 2009 sebagai berikut :Secara garis besar tugas pokok Badan Kepegawaian Daerah adalah merencanakan pengadaan pegawai, menempatkan pegawai, mengadakan

mutasi, melakukan pembinaan terhadap kedisiplinan pegawai serta melakukan pendidikan dan latihan baik berupa pendidikan penjenjangan maupun dalam bentuk pendidikan teknis dan fungsional.

Selain mempunyai tugas pokok, fungsi Badan Kepegawaian Daerah adalah merumuskan kebijakan teknis di Bidang Kepegawaian Daerah.Tugas Pokok Dan Fungsi Jabatan sebagai berikut :

a. Kepala Badan

Kepala badan mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah di bidang kepegawaian daerah. Dalam menyelenggarakan tugas pokok, Kepala Badan Kepegawaian Daerah mempunyai fungsi:

a. Perumusan Kebijakan Tekhnis di Bidang Kepegawaian Daerah,

b. Pelayanan Penunjang Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Bidang Kepegawaian,

c. Pelaksanaan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh pimpinan.

b. Sekretariat

Sekretariat adalah unsur pelayanan teknis administrasi dilingkungan Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, dipimpin oleh seorang Sekretaris yang disebut Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah yang kedudukannya berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Badan. Sekretaris mempunyai tugas pokok melaksanakan penatausahaan dan peningkatan kapasitas organisasi dan tata laksana serta urusan hukum dan

perundang-undangan, perencanaan, kerumahtanggaan, kepegawaian dan keuangan di lingkungan Badan Kepegawaian Daerah.

Dalam menyelenggarakan tugas pokok tersebut, Sekretaris mempunyai fungsi :

a. Pelayanan staf baik teknis maupun administratif kepada Kepala Badan dan semua bidang dilingkungan Badan Kepegawaian Daerah,

b. Pelaksanaan administrasi ketatausahaan, kearsipan, perlengkapan, pengelolaan dokumentasi, kepustakaan dan kerumahtanggaan,

c. Pelaksanaan fasilitas dan koordinasi penyusunan program/kegiatan bidang kepegawaian daerah,

d. Pelaksanaan fasilitas peyusun konsep rancangan peraturan dan keputusan pada bidang kepegawaian daerah,

c. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

Sub Bagian Umum dan Kepegawaian adalah Sub bagian pada Sekretariat, dipimpin oleh seorang kepala yang disebut Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas :

a. Menyelenggarakan urusan surat menyurat, kearsipan dan memberikan layanan informasi tentang kegiatan Badan Kepegawaian Daerah,

b. Melaksanakan urusan kepegawaian, perlengkapan dan urusan kerumahtanggaan,

c. Melaksanakan pembinaan SDM aparatur,

d. Melaksanakan tugas lain yang diberikan pimpinan.

d. Bidang Mutasi Pegawai

Bidang mutasi pegawai adalah unsur pelaksana teknis di bidang kepangkatan, pengangkatan dalam jabatan, perpindahan/mutasi, kenaikan pangkat PNS dalam lingkup pemerintah daerah, dipimpin oleh seorang kepala yang disebut Kepala Bidang Mutasi Pegawai yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Kepegawaian Daerah dan secara teknis melalui Sekretaris. Kepala Bidang Mutasi Pegawai mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi Kepala Badan Kepegawaian Daerah yaitu mengkoordinasikan kegiatan di bidang Mutasi Pegawai, Mutasi Jabatan, Kepangkatan PNS, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil Daerah.

Dalam menyelenggarakan tugas pokok tersebut, Kepala Bidang Mutasi mempunyai fungsi :

a. Penyiapan dan pelaksanaan pengangkatan, kenaikan pangkat, perpindahan Pegawai Negeri Sipil Daerah sesuai dengan norma, standar, dan prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan,

b. Pelayanan dalam pengangkatan, perpindahan dan pemberhentian dalam jabatan Struktural atau Fungsional sesuai norma, standar, dan prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan,

c. Penyusunan formasi jabatan, d. Menganalisis jabatan yang lowong,

B. Proses Pengambilan Keputusan dalam Pelaksanaan Mutasi di Kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar

1. Proses Identifikasi

Proses identifikasi merupakan langkah dimana kita melakukan berbagai proses diantaranya: (a) proses identifikasi masalah dan (b) proses identifikasi penyebab masalah yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

a. Proses Identifikasi Masalah

Proses Identifikasi masalah merupakan suatu proses dimana kita mengenal masalah-masalah yang terjadi dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi jabatan. Awal dari sebuah permasalahan akan di identifikasi berdasarkan masalah yang ada dilapangan. Identifikasi ini bertujuan untuk mengetahui apa motif atau penyebab dari masalah yang ada sehingga tercipta mutasi jabatan.

Berikut adalah wawancara dengan Ibu Sitti Rahmaniah selaku kepala bidang mutasi di Kantor Badan Kepagawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Cara-cara yang kami lakukan dalam pelaksanaan mutasi jabatan yaitu dengan mengidentifikasi PNS yang telah menduduki jabatan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek dengan melakukan rotasi atau pergeseran sebagai bentuk penyegaran dalam sebuah badan pemerintah.

Akan tetapi perlu beberapa pertimbangan ketika muncul perilaku menyimpang hingga dilakukannya mutasi jabatan sebagai jalan keluar”

(Hasil wawancara STR, 20 November 2014).

Begitu pula yang dikatakan oleh Bapak Supriadi selaku Staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Proses identifikasi masalah dilakukan berdasarkan hasil observasi awal yang telah diterima kemudian di lakukan verifikasi ulang terhadap proses yang ada”(Hasil wawancara SPA, 21 November 2014)

Identifikasi PNS dapat terbukti dan berjalan dengan baik berdasarkan sistem identifikasi yang ada. Pada dasarnya identifikasi ini bertujuan untuk memilah kejadian atau semacam pelanggaran yang dilakukan oleh PNS tersebut berdasarkan laporan yang ada.

Berikut adalah wawancara dengan Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Hasil observasi awal tidak selamanya akan menjadi rujukan dalam proses identifikasi masalah karena akan berakibat fatal bagi PNS yang sedang dalam proses mutasi jabatan” (Hasil wawancara dengan Ibu ADO, 26 November 2014).

Sama halnya yang dikatakan oleh dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian.

“Orang-orang yang terlibat dalam proses identifikasi masalah betul-betul adalah pihak yang independen untuk lebih akuratif dalam mempelajari masalah yang ada untuk mendapat kebenarannya” (Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).

Kemudian dari hasil itu maka dilakukan rotasi atau pergeseran jabatan berdasarkan keputusan dan pertimbangan yang telah dilaksanakan. Akan ada beberapa pertimbangan lagi hingga akhirnya PNS betul-betul menduduki jabatan barunya.

Berbeda halnya dengan yang dikatakan oleh Ibu Ratnawati selaku Sekretaris BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Dalam pelaksanaan mutasi, setelah kami melakukan proses identifikasi terhadap masalah yang ada kemudian dilimpahkan untuk pelaksanaan seleksi melalui Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan. Kemudian Baperjakat memberikan pertimbangan kepada Bupati selaku Pejabat Pembina Kepegawaian untuk masalah ini” ( Hasil wawancara dengan Ibu RTN, 21 November 2014).

Berdasarkan wawancara dengan berbagai informan dapat disimpulkan bahwa proses identifikasi masalah merupakan pertimbangan terhadap perilaku PNS yang menyimpang yang di musyawarahkan terlebih dahulu kemudian disodorkan kepada beberapa pihak untuk dijadikan bahan rujukan dalam hal pemberian sanksi yang akan diberikan kepada PNS tersebut.

b. Proses Identifikasi Penyebab Masalah

Pelaksanaan identifikasi penyebab masalah harus dilaksanakan secara sistematis atau terstruktur berdasarkan metode yang ada. Maka pada saat dilakukan observasi tidak akan muncul pertentangan untuk mencapai hasil yang sesungguhnya.

Berikut adalah wawancara dengan Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Tugas yang paling berat disini adalah bagaimana menyusun secara sistematis hasil dari identifikasi untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan dapat dipercaya. Dan saya sangat menghindari sebenarnya untuk terjun sebagai pelaksana identifikasi karena takut akan kesalahan yang sebenarnya saya tidak tahu” (Hasil wawancara dengan Ibu ADO, 26 November 2014).

Sama halnya yang dikatakan oleh dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian.

“Penyebab masalah yang sering muncul dalam melatarbelakangi pelaksanaan mutasi biasanya hanya karena masalah kecil antar sesama pegawai dan kerap dibesar-besarkan”(Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).

Seleksi baperjakat disini yaitu melakukan penilaian akan posisi apa yang harus diberikan kepada PNS uang melakukan penyimpangan. Dapat dibahasakan bahwa akan kemana PNS tersebut dirotasi. Alasan baperjakat di berikan wewenang karena merupakan salah satu badan pertimbangan sebelum usulan atau hasil dari identifikasi ini diserahkan kepada Bupati setempat.

Berikut adalah wawancara dengan Bapak Supriadi selaku Staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Ada berbagai macam penyebab yang menimbulkan pertikaian hingga sampai pada pihak BKD yang diserukan untuk melakukan pelaksanaan mutasi jabatan”(Hasil wawancara SPA, 27 November 2014)

Begitu pula yang dikatakan oleh Ibu Ratnawati selaku Sekretaris BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Masalah mutasi jabatan tidak selamanya dikaitkan dengan hal negatif akan tetapi ada tujuan lain misalnya promosi jabatan untuk dialihkan kejabatan yang lebih tinggi” ( Hasil wawancara dengan Ibu RTN, 21 November 2014).

Menyusun secara sistematis hasil dari proses identifikasi akan mempermudah kita dalam mengerjakan dan melaksanakan masalah ini secara cepat dan tidak akan ada kesalahan-kesalahan yang perlu di lakukan identifikasi ulang.

Berikut adalah wawancara dengan Bapak Muhammad Arsyad selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Ada pihak yang sering menjadikan mutasi jabatan ini sebagai alat untuk menjadikan seseorang jelek di mata pimpinannya maupun di mata rekan kerjanya” (Hasil wawancara MDA, 25 November 2014).

Pelaksanaan identifikasi adalah orang-orang yang sudah ditugaskan dari pihak BKD untuk melakukan peninjauan, pengkajian, dan melakukan pelaporan baik dari pihak internal maupun eksternal BKD.

Berdasarkan wawancara dengan informan diatas dapat disimpulkan bahwa proses identifikasi dimulai dengan mengidentifikasi PNS tersebut berdasarkan jabatan yang diduduki kemudian akan dilakukan rotasi atau pergeseran jabatan yang sebelumnya diseleksi melalui Baperjakat dan Baperjakat memberikan pertimbangan kepada Bupati sebelum melakukan mutasi jabatan.

2. Proses Pengembangan

Proses Pengembangan merupakan langkah kedua dimana kita melakukan berbagai proses antara lain: (a) proses mencari solusi standar yang ada dan (b) proses pemilihan solusi yang benar dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) di Kabupaten Kepulauan Selayar.

a. Proses Mencari Solusi

Proses mencari solusi merupakan proses dimana kita mencari jalan keluar terbaik untuk keluar dari masalah pelaksanaan mutasi ini. Proses mencari solusi ini adalah lanjutan dari proses identifikasi masalah yang telah dilaksanakan akan tetapi di sandingkan dengan berbagai solusi yang akan menjadi jalan keluar.

Berikut adalah wawancara dengan Ibu Ratnawati selaku sekretaris bidang mutasi BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Tahap pengembangan kami lakukan berdasarkan sistem dan ketentuan yang sudah ada karena terkadang jika tidak dipercepat prosesnya maka esok akan terlampaui dengan kasus-kasus baru yang sudah menunggu. Sulit

memang meminimalisir hal seperti ini, namun inilah yang kerap terjadi dalam dunia kepegawaian” (Hasil wawancara RTN, 21 November 2014).

Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Solusi tercipta dari orang-orang yang memiliki pemikiran positif tentang proses kerja yang sebenarnya. Namun terkadang diproses inilah sering muncul beberapa pendapat yang berbeda”(Hasil wawancara dengan Ibu ADO, 26 November 2014).

Sudah banyak perencanaan yang telah dilaksanakan untuk meminimalisir hal ini akan tetapi masih terlihat bayang-bayang pihak yang mau memberikan pernyataan yang salah dalam pelaksanaan tahap pengembangan.

Berikut adalah wawancara dengan Ibu Sitti Rahmaniah selaku Kepala bidang mutasi Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Pihak internal Badan Kepegawaian Daerah saling berinteraksi secara kelompok untuk mencari lobi atau jalan keluar terhadap proses pengembangan dalam pelaksanaan mutasi jabatan kepada setiap Pegawai Negeri Sipil” (Hasil wawancara STR, 20 November 2014).

Begitu pula yang dikatakan oleh Bapak Supriadi selaku Staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Dalam pengembangan sebuah masalah solusi disaring berdasarkan solusi terbaik yang telah di rekomendasikan oleh berbagai pihak terkait dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi jabatan” (Hasil wawancara SPA, 27 November 2014)

Proses pengembangan membutuhkan waktu seperti halnya waktu yang digunakan dalam proses identifikasi. Tahap pengembangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang sudah ada karena ini memungkinkan akan ada berbagai pihak yang tidak dibenarkan oleh BKD untuk ikut campur dalam proses

pengembangannya. Banyak pihak yang ingin lebih terlibat dalam hal ini namun BKD sudah mengikat terhadap ketentuan yang sudah ada.

Berikut adalah wawancara dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kep. Selayar.

“Proses pengembangan yang kami lakukan awalnya adalah dengan melihat kembali hasil identifikasi sebagai proses awal karena di proses inilah sebagian kesimpulan harus ditemukan untuk memilih solusi yang terbaik untuk orang yang akan dimutasi dari jabatannya” (Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).

Dalam melakukan tahap pengembangan maka harus dilihat kembali hasil dari proses identifikasi karena takutnya ada kesalahan tindakan dan kesalahan putusan yang akan diambil nantinya.

b. Proses Pemilihan Solusi

Pemilihan solusi yang terbaik harus betul-betul dilaksanakan disini. Badan Kepegawaian Daerah pada dasarnya harus bersikap independen dalam mengatasi setiap permasalahan yang muncul dari setiap Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Kepulauan Selayar. Solusi yang terbaik juga yaitu dengan melakukan mutasi jabatan ke posisi yang betul-betul sesuai dengan keahliannya.

Berikut adalah wawancara dengan Bapak Muhammad Arsyad selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Terkadang dalam proses identifikasi ada yang memunculkan berbagai pendapat yang berbeda sehingga tidak dapat dilakukan penarikan kesimpulan secara cepat. Dan menurut saya ini sangat merugikan pihak yang akan dimutasi” (Hasil wawancara MDA, 25 November 2014).

Begitu pula yang dikatakan oleh Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Solusi yang baik tidak selamanya akan menjadi jalan keluar yang tepat dalam setiap pelaksanaan keputusan. Untuk itu perlu berbagai revisi untuk dilihat bagaimana kebenarannya” (Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).

Penarikan kesimpulan harus dilakukan secara tepat sehingga tidak memunculkan kekecewaan dari PNS yang dimutasikan jabatannya. Kesimpulan merupakan sebuah simbolis namun hasilnya sangat berpengaruh.

Berikut adalah wawancara dengan Ibu Nurhayati selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Kami dari pegawai yang sedang dalam proses mutasi jabatan hanya bisa berdoa agar mendapatkan anugrah yang terbaik dengan solusi yang tepat dalam penyelesaian masalah ini” (Hasil Wawancara NHY, 26 November 2014).

Sama halnya yang dikatakan Ibu Ratnawati selaku sekretaris bidang mutasi BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.

“Dari berbagai solusi yang telah di rekomendasikan maka akan disaring solusi-solusi yang sangat dibutuhkan oleh pihak Badan Kepegawaian Daerah untuk dijadikan bahan rujukan dalam proses pengembangan”

“Dari berbagai solusi yang telah di rekomendasikan maka akan disaring solusi-solusi yang sangat dibutuhkan oleh pihak Badan Kepegawaian Daerah untuk dijadikan bahan rujukan dalam proses pengembangan”

Dokumen terkait