BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Proses Pengambilan Keputusan dalam Pelaksanaan Mutasi
1. Proses Identifikasi
Proses identifikasi merupakan langkah dimana kita melakukan berbagai proses diantaranya: (a) proses identifikasi masalah dan (b) proses identifikasi penyebab masalah yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.
a. Proses Identifikasi Masalah
Proses Identifikasi masalah merupakan suatu proses dimana kita mengenal masalah-masalah yang terjadi dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi jabatan. Awal dari sebuah permasalahan akan di identifikasi berdasarkan masalah yang ada dilapangan. Identifikasi ini bertujuan untuk mengetahui apa motif atau penyebab dari masalah yang ada sehingga tercipta mutasi jabatan.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Sitti Rahmaniah selaku kepala bidang mutasi di Kantor Badan Kepagawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Cara-cara yang kami lakukan dalam pelaksanaan mutasi jabatan yaitu dengan mengidentifikasi PNS yang telah menduduki jabatan baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek dengan melakukan rotasi atau pergeseran sebagai bentuk penyegaran dalam sebuah badan pemerintah.
Akan tetapi perlu beberapa pertimbangan ketika muncul perilaku menyimpang hingga dilakukannya mutasi jabatan sebagai jalan keluar”
(Hasil wawancara STR, 20 November 2014).
Begitu pula yang dikatakan oleh Bapak Supriadi selaku Staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Proses identifikasi masalah dilakukan berdasarkan hasil observasi awal yang telah diterima kemudian di lakukan verifikasi ulang terhadap proses yang ada”(Hasil wawancara SPA, 21 November 2014)
Identifikasi PNS dapat terbukti dan berjalan dengan baik berdasarkan sistem identifikasi yang ada. Pada dasarnya identifikasi ini bertujuan untuk memilah kejadian atau semacam pelanggaran yang dilakukan oleh PNS tersebut berdasarkan laporan yang ada.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Hasil observasi awal tidak selamanya akan menjadi rujukan dalam proses identifikasi masalah karena akan berakibat fatal bagi PNS yang sedang dalam proses mutasi jabatan” (Hasil wawancara dengan Ibu ADO, 26 November 2014).
Sama halnya yang dikatakan oleh dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian.
“Orang-orang yang terlibat dalam proses identifikasi masalah betul-betul adalah pihak yang independen untuk lebih akuratif dalam mempelajari masalah yang ada untuk mendapat kebenarannya” (Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).
Kemudian dari hasil itu maka dilakukan rotasi atau pergeseran jabatan berdasarkan keputusan dan pertimbangan yang telah dilaksanakan. Akan ada beberapa pertimbangan lagi hingga akhirnya PNS betul-betul menduduki jabatan barunya.
Berbeda halnya dengan yang dikatakan oleh Ibu Ratnawati selaku Sekretaris BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Dalam pelaksanaan mutasi, setelah kami melakukan proses identifikasi terhadap masalah yang ada kemudian dilimpahkan untuk pelaksanaan seleksi melalui Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan. Kemudian Baperjakat memberikan pertimbangan kepada Bupati selaku Pejabat Pembina Kepegawaian untuk masalah ini” ( Hasil wawancara dengan Ibu RTN, 21 November 2014).
Berdasarkan wawancara dengan berbagai informan dapat disimpulkan bahwa proses identifikasi masalah merupakan pertimbangan terhadap perilaku PNS yang menyimpang yang di musyawarahkan terlebih dahulu kemudian disodorkan kepada beberapa pihak untuk dijadikan bahan rujukan dalam hal pemberian sanksi yang akan diberikan kepada PNS tersebut.
b. Proses Identifikasi Penyebab Masalah
Pelaksanaan identifikasi penyebab masalah harus dilaksanakan secara sistematis atau terstruktur berdasarkan metode yang ada. Maka pada saat dilakukan observasi tidak akan muncul pertentangan untuk mencapai hasil yang sesungguhnya.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Tugas yang paling berat disini adalah bagaimana menyusun secara sistematis hasil dari identifikasi untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan dapat dipercaya. Dan saya sangat menghindari sebenarnya untuk terjun sebagai pelaksana identifikasi karena takut akan kesalahan yang sebenarnya saya tidak tahu” (Hasil wawancara dengan Ibu ADO, 26 November 2014).
Sama halnya yang dikatakan oleh dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian.
“Penyebab masalah yang sering muncul dalam melatarbelakangi pelaksanaan mutasi biasanya hanya karena masalah kecil antar sesama pegawai dan kerap dibesar-besarkan”(Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).
Seleksi baperjakat disini yaitu melakukan penilaian akan posisi apa yang harus diberikan kepada PNS uang melakukan penyimpangan. Dapat dibahasakan bahwa akan kemana PNS tersebut dirotasi. Alasan baperjakat di berikan wewenang karena merupakan salah satu badan pertimbangan sebelum usulan atau hasil dari identifikasi ini diserahkan kepada Bupati setempat.
Berikut adalah wawancara dengan Bapak Supriadi selaku Staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Ada berbagai macam penyebab yang menimbulkan pertikaian hingga sampai pada pihak BKD yang diserukan untuk melakukan pelaksanaan mutasi jabatan”(Hasil wawancara SPA, 27 November 2014)
Begitu pula yang dikatakan oleh Ibu Ratnawati selaku Sekretaris BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Masalah mutasi jabatan tidak selamanya dikaitkan dengan hal negatif akan tetapi ada tujuan lain misalnya promosi jabatan untuk dialihkan kejabatan yang lebih tinggi” ( Hasil wawancara dengan Ibu RTN, 21 November 2014).
Menyusun secara sistematis hasil dari proses identifikasi akan mempermudah kita dalam mengerjakan dan melaksanakan masalah ini secara cepat dan tidak akan ada kesalahan-kesalahan yang perlu di lakukan identifikasi ulang.
Berikut adalah wawancara dengan Bapak Muhammad Arsyad selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Ada pihak yang sering menjadikan mutasi jabatan ini sebagai alat untuk menjadikan seseorang jelek di mata pimpinannya maupun di mata rekan kerjanya” (Hasil wawancara MDA, 25 November 2014).
Pelaksanaan identifikasi adalah orang-orang yang sudah ditugaskan dari pihak BKD untuk melakukan peninjauan, pengkajian, dan melakukan pelaporan baik dari pihak internal maupun eksternal BKD.
Berdasarkan wawancara dengan informan diatas dapat disimpulkan bahwa proses identifikasi dimulai dengan mengidentifikasi PNS tersebut berdasarkan jabatan yang diduduki kemudian akan dilakukan rotasi atau pergeseran jabatan yang sebelumnya diseleksi melalui Baperjakat dan Baperjakat memberikan pertimbangan kepada Bupati sebelum melakukan mutasi jabatan.
2. Proses Pengembangan
Proses Pengembangan merupakan langkah kedua dimana kita melakukan berbagai proses antara lain: (a) proses mencari solusi standar yang ada dan (b) proses pemilihan solusi yang benar dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) di Kabupaten Kepulauan Selayar.
a. Proses Mencari Solusi
Proses mencari solusi merupakan proses dimana kita mencari jalan keluar terbaik untuk keluar dari masalah pelaksanaan mutasi ini. Proses mencari solusi ini adalah lanjutan dari proses identifikasi masalah yang telah dilaksanakan akan tetapi di sandingkan dengan berbagai solusi yang akan menjadi jalan keluar.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Ratnawati selaku sekretaris bidang mutasi BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Tahap pengembangan kami lakukan berdasarkan sistem dan ketentuan yang sudah ada karena terkadang jika tidak dipercepat prosesnya maka esok akan terlampaui dengan kasus-kasus baru yang sudah menunggu. Sulit
memang meminimalisir hal seperti ini, namun inilah yang kerap terjadi dalam dunia kepegawaian” (Hasil wawancara RTN, 21 November 2014).
Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Solusi tercipta dari orang-orang yang memiliki pemikiran positif tentang proses kerja yang sebenarnya. Namun terkadang diproses inilah sering muncul beberapa pendapat yang berbeda”(Hasil wawancara dengan Ibu ADO, 26 November 2014).
Sudah banyak perencanaan yang telah dilaksanakan untuk meminimalisir hal ini akan tetapi masih terlihat bayang-bayang pihak yang mau memberikan pernyataan yang salah dalam pelaksanaan tahap pengembangan.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Sitti Rahmaniah selaku Kepala bidang mutasi Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Pihak internal Badan Kepegawaian Daerah saling berinteraksi secara kelompok untuk mencari lobi atau jalan keluar terhadap proses pengembangan dalam pelaksanaan mutasi jabatan kepada setiap Pegawai Negeri Sipil” (Hasil wawancara STR, 20 November 2014).
Begitu pula yang dikatakan oleh Bapak Supriadi selaku Staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Dalam pengembangan sebuah masalah solusi disaring berdasarkan solusi terbaik yang telah di rekomendasikan oleh berbagai pihak terkait dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi jabatan” (Hasil wawancara SPA, 27 November 2014)
Proses pengembangan membutuhkan waktu seperti halnya waktu yang digunakan dalam proses identifikasi. Tahap pengembangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang sudah ada karena ini memungkinkan akan ada berbagai pihak yang tidak dibenarkan oleh BKD untuk ikut campur dalam proses
pengembangannya. Banyak pihak yang ingin lebih terlibat dalam hal ini namun BKD sudah mengikat terhadap ketentuan yang sudah ada.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kep. Selayar.
“Proses pengembangan yang kami lakukan awalnya adalah dengan melihat kembali hasil identifikasi sebagai proses awal karena di proses inilah sebagian kesimpulan harus ditemukan untuk memilih solusi yang terbaik untuk orang yang akan dimutasi dari jabatannya” (Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).
Dalam melakukan tahap pengembangan maka harus dilihat kembali hasil dari proses identifikasi karena takutnya ada kesalahan tindakan dan kesalahan putusan yang akan diambil nantinya.
b. Proses Pemilihan Solusi
Pemilihan solusi yang terbaik harus betul-betul dilaksanakan disini. Badan Kepegawaian Daerah pada dasarnya harus bersikap independen dalam mengatasi setiap permasalahan yang muncul dari setiap Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Kepulauan Selayar. Solusi yang terbaik juga yaitu dengan melakukan mutasi jabatan ke posisi yang betul-betul sesuai dengan keahliannya.
Berikut adalah wawancara dengan Bapak Muhammad Arsyad selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Terkadang dalam proses identifikasi ada yang memunculkan berbagai pendapat yang berbeda sehingga tidak dapat dilakukan penarikan kesimpulan secara cepat. Dan menurut saya ini sangat merugikan pihak yang akan dimutasi” (Hasil wawancara MDA, 25 November 2014).
Begitu pula yang dikatakan oleh Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Solusi yang baik tidak selamanya akan menjadi jalan keluar yang tepat dalam setiap pelaksanaan keputusan. Untuk itu perlu berbagai revisi untuk dilihat bagaimana kebenarannya” (Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).
Penarikan kesimpulan harus dilakukan secara tepat sehingga tidak memunculkan kekecewaan dari PNS yang dimutasikan jabatannya. Kesimpulan merupakan sebuah simbolis namun hasilnya sangat berpengaruh.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Nurhayati selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Kami dari pegawai yang sedang dalam proses mutasi jabatan hanya bisa berdoa agar mendapatkan anugrah yang terbaik dengan solusi yang tepat dalam penyelesaian masalah ini” (Hasil Wawancara NHY, 26 November 2014).
Sama halnya yang dikatakan Ibu Ratnawati selaku sekretaris bidang mutasi BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Dari berbagai solusi yang telah di rekomendasikan maka akan disaring solusi-solusi yang sangat dibutuhkan oleh pihak Badan Kepegawaian Daerah untuk dijadikan bahan rujukan dalam proses pengembangan”
(Hasil Wawancara RTN, 21 November 2014).
Badan Kepegawaian Daerah merupakan instansi pemerintah yang menangani masalah yang berkaitan dengan kepegawaian. Seperti halnya masalah penerimaan dan penempatan pegawai serta masalah mutasi dan promosi jabatan.
Makanya setiap ada masa-masa tertentu banyak pihak yang terlibat didalamnya untuk saling bekerjasama dengan baik.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Andi Opu selaku staf Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Badan Kepegawaian Daerah tidak selamanya berdiri sendiri dalam setiap penyelesaian masalah maupun dalam proses pengembangan masalah
namun terkadang menerima rekomendasi solusi dari pihak eksternal”
(Hasil Wawancara ADO, 26 November 2014)
Dari hasil wawancara dengan berbagai informan dapat disimpulkan bahwa proses pengembangan merupakan proses lanjutan dari identifikasi awal. Karena dari hasil identifikasi inilah yang akan dibahas dan ditelusuri dalam proses pengembangan masalah yang ada.
3. Proses Seleksi
Proses seleksi merupakan langkah terakhir dimana pada tahap ini solusi-solusi yang akan disaring dan disepakati dengan tujuan untuk: (a) penentuan jabatan dan melihat (b) posisi yang akan diisi dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.
a. Penentuan Jabatan
Penentuan jabatan dalam pelaksanaan mutasi terkadang tidak konsisten dengan jabatan yang dimiliki pegawai sebelum dilakukan mutasi. Sering terjadi kesalahan posisi ketika jabatan tersebut sudah ditentukan tanpa melihat jabatan sebelumnya. Tahap seleksi inilah yang menentukan jabatan mana yang akan diduduki setelah orang yang bersangkutan tersebut di mutasi dari jabatan sebelumnya.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Dalam proses seleksi, cara memilih solusi yang tepat dalam proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi yaitu dengan menyesuaikan antara jabatan yang akan diisi dan kompetensi yang diharapkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh PNS yang akan dimutasi”
(Hasil wawancara MRL, 21 November 2014).
Begitu pula yang dikatakan oleh Ibu Sitti Rahmaniah selaku kepala bidang mutasi di Kantor Badan Kepagawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Dalam menduduki sebuah jabatan terkadang pihak internal Badan Kepegawaian Daerah melakukan lelang jabatan untuk memilih dengan benar siapa saja yang pantas menduduki jabatan yang sedang kosong”
(Hasil Wawanacara STR, 20 November 2014).
Proses pengambilan keputusan di Badan Kepegawaian Daerah bukan hanya melibatkan pihak internal BKD tetapi juga melibatkan pihak eksternal Badan Kepegawaian Daerah. Macam-macam bentuk kerjasama yang biasa dilakukan antara pihak internal dan eksternal Badan Kepegawaian Daerah.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Jabatan didalam naungan Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota biasa juga ditentukan langsung oleh pihak Internal Badan Kepegawaian Daerah dengan melihat rekomendasi rekan kerjanya terlahan pelaksanaan mutasi jabatan” (Hasil wawancara dengan Ibu ADO, 26 November 2014).
Sama halnya yang dikatakan oleh dengan Ibu Ratnawati selaku Sekretaris BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Jabatan ditentukan berdasarkan kemampuan atau skill yang dimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil. Jadi tergantung dari merekalah bagaimana cara dia berusaha untuk mendapatkan jabatan yang diinginkan” ( Hasil wawancara dengan Ibu RTN, 21 November 2014).
Seleksi penerimaan pegawai melalui berbagai proses, mulai dari proses administrasi, seleksi pengetahian akademik dan test lainnya. Setelah dilakukan pengumuman kelulusan penerimaan Pegawai Negeri Sipil maka juga dilakukan berbagai proses untuk sampai pada jabatan yang telah ditentukan.
Berikut adalah wawancara dengan Bapak Supriadi selaku Staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Pihak Badan Kepegawaian Daerah tidak pernah langsung memilih dan langsung menentukan jabatan yang akan diduduki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil, akan tetapi ada langkah-langkah tersendiri dalam melakukan evaluasi” (Hasil SPA, 21 November 2014).
Berdasarkan wawancara dengan berbagai informan maka dapat disimpulkan bahwa pada proses pelaksanaan pengambilan keputusan terhadap pegawai yang akan dimutasi maka bukan hanya pihak internal Badan Kepegawaian daerah yang terlibat akan tetapi banyak juga pihak lain yang terlibat untuk memberikan rekomendasi terhadap pelaksanaan mutasi jabatan.
b. Posisi Yang Akan Diisi
Pemilihan solusi harus disesuaikan berdasarkan posisi yang akan diisi nantinya dan sesuai dengan keahliannya. Ini menjadi pilihan agar Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat lebih betah dan meningkatkan prestasinya dalam bidang kerja yang digelutinya.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Ratnawati selaku sekretaris bidang mutasi BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Kami dari pihak Badan Kepegawaian Daerah sering memberikan pengumuman kepada semua Pegawai Negeri Sipil tentang posisi-posisi yang sedang kosong atau perekrutan pegawai di Badan kerja kami” (Hasil Wawancara RTN, 21 November 2014).
Berbeda halnya dengan yang dikatakan oleh Bapak Muhammad Arsyad selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Jika dikatakan telah sampai pada tahap seleksi kemudian ditentukan jabatan mana yang akan diduduki oleh orang tersebut, tidak mutlak jika jabatan yang diputuskan tersebut akan lebih baik dari jabatan kita sebelumnya” (Hasil wawancara MDA 25 November 2014).
Hasil dari proses pengembangan yang akan menentukan jabatan apa yang telah diputuskan untuk orang yang dimutasi tersebut. Jika kemudian nantinya
akan diberi jabatan sesuai dengan keahliannya maka akan berdampak baik.
Namun ketika jabatan itu tidak sesuai maka ini dianggap bahwa ada beberapa pihak yang memberikan usulan yang tidak semestinya.
Berikut adalah wawancara dengan ibu Nurhayati selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Saya selaku Pegawai Negeri Sipil sering dipromosikan oleh pimpinan kepada pihak Badan Kepegawaian Daerah ketika telah diinfokan bahwa ada kekosongan jabatan dan posisi tersebut sesuai dengan keahlian saya” (Hasil Wawancara NHY, 26 November 2014).
Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Seringkali ada pegawai yang ingin diselipkan atau dengan istilah menjadi pegawai tumpang untuk mengisi jabatan tersebut namun tidak sesuai dengan keahlian yang dimilikinya dengan posisi yang akan diisi” (Hasil Wawancara ADO, 26 November 2014).
Kompetensi yang dimiliki oleh PNS yang akan dimutasi harus sejalan dengan apa yang akan dikerjakannya nanti. Dalam analisis prestasi kerja, seseorang yang lama diendapkan dalam jabatan yang tidak sesuai dengan keahlian maka akan menurunkan semangat kerja orang tersebut.
Berikut adalah wawancara dengan Bapak Supriadi selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Pelaksanaan mutasi dapat dilihat berdasarkan prestasinya, namun ada juga yang dimutasi karena mendapatkan sanksi akibat dari pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai negeri sipil tersebut” (Hasil wawancara SPA 27 November 2014).
Sanksi akibat sebuah pelanggaran sebenarnya tidak mutlak dengan langsung melakukan mutasi, akan tetapi terlebih dahulu harus diberikan peringatan-peringatan agar tidak melakukan penyimpangan itu lagi. Seleksi yang ditawarkan
dapat dinilai berdasarkan kemampuan kinerja, kemampuan mengaplikasi serta prestasi baik prestasi yang positif maupun yang buruk. Dari segi prestasi orang tersebut tidak akan digeser ke jabatan yang lebih rendah ketika prestasinya menguntungkan terhadap instansi. Akan lebih merugikan instansi ketika ia mampu mengembangkan sebuah badan pemerintahan.
Berdasarkan wawancara dengan beberapa informan diatas dapat disimpulkan bahwa di dalam proses seleksi inilah seorang pegawai negeri sipil akan diberikan posisi berdasarkan prestasi atau berdasarkan keahlian yang telah dimilikinya.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Mutasi dilakukan di Kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar
1. Faktor Kewenangan
Faktor kewenangan adalah faktor yang dimiliki oleh seseorang dan mempunyai hak dalam melaksanakan berbagai kewenangan, antara lain: (a) kewenangan atas kekuasaan dan (b) kewenangan membuat keputusan yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan mutasi di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kepulauan Selayar.
a. Kewenangan Atas Kekuasaan
Kewenangan seseorang atas kekuasaan yang dimiliki terkadang dipergunakan untuk memerintah dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain. Kekuasaan yang dimiliki oleh orang-orang yang memiliki posisi penting dalam instansi pemerintahan terutama di instansi Badan Kepegawaian Daerah
sering membuat Pegawai Negeri Sipil seolah-olah takut berurusan dengannya, dengan alasan adanya proses mutasi jabatan.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Nurhayati selaku PNS di Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Kami selaku Pegawai Negeri Sipil di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, semakin hari semakin akan menjaga sikap karena takut dengan adanya pelaksanaan mutasi jabatan di badan pemerintahan” (Hasil Wawancara, NHY 26 November 2014)
Begitu pula yang dikatakan oleh Bapak Supriadi selaku Staf BKD Kab.
Kepulauan Selayar.
“Banyak Pegawai Negeri Sipil yang selalu merasa bahwa pihak Badan Kepegawaian Daerah bersikap sewenang-wenang dalam setiap pemberian sanksi akan tetatpi merekalah yang tidak sadar bahwa selama ini mereka sudah beberapa kali diperingati atas kesalahan yang sudah dilakukan”
(Hasil Wawancara, SPA 21 November 2014)
Pembina eksternal BKD bisa dikatakan adalah orang-orang dari pemerintahan Kabupaten Kepulauan Selayar yang diminta pertimbangannya untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan mutasi jabatan atau masalah lainnya yang membutuhkan pihak pembina.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Selain dari pihak Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar serta pembina dari eksternal badan Kepegawaian daerah maka disini tidak ada yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan mutasi jabatan” (Hasil wawancara MRL k24 November 2014).
Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Ibu Andi Opu selaku staf BKD Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Kewenangan tidak selamanya bersifat atau berasal dari jabatan yang tinggi akan tetapi setiap warga Badan Kepegawaian Daerah maupun pihak
Pegawai Negeri Sipil memiliki kewajiban penuh untuk melaporkan sesuatu”
(Hasil Wawancara ADO, 26 November 2014).
Kewenangan itu sendiri adalah sesuatu yang dipegang oleh para petinggi daerah Kab. Kepulauan Selayar tersebut. Karena seolah-olah tidak ada sesuatu yang terlihat secara nyata tanpa adanya orang yang berwenang terlibat didalamnya.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Sitti Rahmaniah selaku Kepala bidang mutasi Kabupaten Kepulauan Selayar.
“Setiap pegawai berwenang untuk menyampaikan aspirasinya ketika ada sesuatu yang berada diluar hak dan kewajibannya selaku Pegawai Negeri sipil, serta sesuatu yang kontra dengan akal pikirannya” (Hasil Wawancara STR, 20 November 2014).
Berdasarkan wawancara dengan berbagai informan maka dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang berwenang bukan berarti harus sewenang-wenang dalam mengambil sebuah keputusan. Banyak pihak-pihak yang terlibat baik dari petinggi-petinggi di daerah Kabupaten Kep. Selayar maupun pihak terkait lainnya.
b. Kewenangan membuat keputusan
Masukan maupun berbagai pertimbangan sangat besar perannya dalam hal penentuan pemberian sanksi maupun mutasi jabatan secara langsung. Namun yang sering muncul yaitu kewenangan yang disalah gunakan oleh sebagian kalangan yang berwenang dalam membuat keputusan.
Berikut adalah wawancara dengan Ibu Marliyana selaku Kasubag Umum dan Kepegawaian.
“Kewenangan yang dimiliki oleh para petinggi di daerah ini akan memunculkan berbagai masukan atau pertimbangan ketika orang yang
menjadi sasaran mutasi tersebut dimisalkan adalah seseorang yang telah melakukan kesalahan terhadap salah satu orang yang memiliki kewenangan"
(Hasil wawancara, MRL 21 November 2014).
Begitu pula yang dikatakan oleh Ibu Andi Opu selaku Staf Badan
Begitu pula yang dikatakan oleh Ibu Andi Opu selaku Staf Badan