BAB IV HASIL PENELITIAN
4.2 Deskripsi Data
4.2.2 Deskripsi Hasil Data Penelitian
Tabel 4.6
Keberadaan Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Tidak Setuju 14 19.2 19.2 19.2 Setuju 38 52.1 52.1 71.2 Sangat Setuju 21 28.8 28.8 100.0 Total 73 100.0 100.0 Diagram 4.6
Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa 38 atau 51% responden menjawab setuju mengenai keberadaan Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulan PT Angkasa Pura II, 21 responden atau 28,8% menjawab sangat setuju, sedangkan 14 responden atau 19,2% memilih tidak setuju. Hal ini menggambarkan bahwa warga RT02 RW 01 Kelurahan Suka Asih Kecamatan Tangerang Kota mengetahui keberadaan Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II.
Keberadaan Program Bina Linkungan Pemberian Ambulans ini didukung dengan informasi. Pengertian Informasi Menurut Jogiyanto HM., (1999: 692)
informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian – kejadian (event) yang nyata (fact) yang digunakan untuk pengambilan keputusan.
Abdul Kadir (2002: 31) mendefinisikan informasi sebagai data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga meningkatkan pengetahuan seseorang yang menggunakan data tersebut.
Dapat didefiniksan bahwa informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan tidak terlepas dari pengetahuan yang didapat dari infomasi.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pengetahuan bisa dimaknai sebagai segala sesuatu yang diketahui, kepandaian atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran).
Pengetahuan adalah hasil mengetahui yang didapat setelah melakukan penginderaan terhadap objek tertentu (Notoatmodjo, 2003: 13). penginderaan pada objek tertentu.
Berdasarkan pengertian pengetahuan menurut para ahli di atas, penulis bisa lebih memahami dan mengerti konsepnya. Pengetahuan bisa diartikan sebagai segala hal yang diperoleh dari proses persentuhan panca indera terhadap objek tertentu, bisa pula melalui proses belajar dan mengamati sekitar.
Dapat disimpulkan keberadaan Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II (Pesero) dapat diketahui keberadaannya karena pada umumnya responden memiliki pengetahuan seputar informasi keberadaan Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans tersebut.
Informasi ditunjang dari pada keberadaan penyebaran yang didukung teknik penyampaian pesan yang baik. Maka dari itu dapat disimpulkan pula, PT Angkasa Pura II (Persero) juga mengaplikasikan teknik penyampaian pesan yang baik dalam penyebaran informasi sehingga keberadaan Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans diketahui keberadaannya, sedangkan responden selaku penerima CSR memiliki respon yang baik dalam penerimaan Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans
Tabel 4.7
Masyarakat Mengalami Kesulitan dalam Menkangkau Lokasi Layanan Kesehatan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 2 2.7 2.7 2.7 Tidak Setuju 8 11.0 11.0 13.7 Setuju 45 61.6 61.6 75.3 Sangat Setuju 18 24.7 24.7 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.7
Berdasarkan Tabel 4.7 menunjukkan bahwa 45 Responden atau 61,6% menjawab setuju dan 18 responden atau 24,7% menjawab sangat setuju mengenai sebelum adanya Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura masyarakat mengalami kesulitan untuk menjangkau lokasi pelayanan kesehatan, dan sisanya 8 responden atau 11% menjawab tidak setuju, serta 2 responden atau 2,7% memilih sangat tidak setuju.
Salah satu yang menjadi perhatian awal dalam Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II (persero) adalah kerjasama yang telah dibentuk dengan instansi pemerintah sejak awal berdirinya perusahaan.
Pada hakikat sebuah hubungan antara perusahaan dengan stakeholder, semua itu akan berbicara kepada peran serta keduanya dalam menangani sebuah masalah ataupun isu sosial. Masalah sosial adalah kondisi yang tidak diinginkan oleh sebagian besar warga masyarakat. (Soetomo, 2001: 17)
Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur – unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial (Soerjono Soekanto, 1997: 29).
Kesehatan merupakan suatu hal yang penting untuk ditanggapi setiap pelaku bisnis termasuk PT Angkasa Pura II (Persero). Isu kesehatan yang berkembang menyebabkan setiap pelaku bisnis berlomba mengembangkan konsep corporate social responsibility.
Maraknya isu yang berkembang mengakibatkan banyaknya kasus kesehatan yang tidak memiliki titik temu penyelesaian. Inilah yang menjadikan penulis mengembangkan indikator yang berada di lapangan seputar isu kesehatan yang beredar.
Berdasarkan pada tabel di atas peneliti dapat mendeskripsikan bahwa PT Angkasa Pura II (Persero) telah melihat bahwa layanan kesehatan merupakan salah satu akomodasi yang sangat dibutuhkan masyarakat warga RT 02 RW 01 Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.
Tabel 4.8
Pemberian Ambulans Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 4 5.5 5.5 5.5 Tidak Setuju 15 20.5 20.5 26.0 Setuju 42 57.5 57.5 83.6 Sangat Setuju 12 16.4 16.4 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.8
Berdasarkan Tabel 4.8 menunjukkan bahwa 42 responden atau 57,5% menjawab setuju mengenai pemberian ambulans bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Tangerang demi mengoptimalisasikan sarana kesehatan bagi warga kota tangerang, sedangkan 15 responden menjawab tidak setuju sedangkan 12 responden atau 16,4% menjawab setuju, dan sisanya 4 responden dan 5,5% memilih tidak setuju.
Upaya Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II (Persero) tidak terlepas dari jalinan kerja sama yang ada didalamnya. Jalinan kerja sama yang ada terkait kesehatan warga masyarakat ditanggapi secara cepat oleh PT Angkasa Pura II dengan Pemberian Ambulans yang telah ada sejak tahun 2012.
Kerjasama yang dijalankan tidak hanya sebuah wacana yang kian populer di tengah perkembangan konsep corporate social responsibility. Menurut Rosen dalam Keban (2007: 32) kerjasama (cooperation) telah lama dikenal dan dikonsepsikan sebagai suatu sumber efisiensi dan kualitas pelayanan. Kerjasama dapat pula dilakukan dalam sharing investasi. Sharing dalam investasi misalnya,
akan memberikan hasil yang memuaskan dalam penyediaan fasilitas sarana dan prasarana. Kerjasama juga dapat meningkatkan kualitas pelayanan misalnya dalam pemberian atau pengadaan fasilitas, dimana masing – masing pihak tidak dapat membelinya sendiri. Dengan kerjasama, fasilitas pelayanan yang mahal harganya dapat dibeli dan dinikmati bersama seperti pusat rekreasi, pendidikan, transportasi, sarana kesehatan, dan sebagainya.
Kekuatan yang timbul diluar batas organisasi dapat mempengaruhi keputusan serta tindakan di dalam organisasi. Karenanya perlu diadakan kerjasama dengan kekuatan yang diperkirakan mungkin akan timbul. Kerjasama tersebut dapat didasarkan atas hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing –
masing orang untuk mencapai sebuah tujuan. (Tangkilisan 2005: 86)
Dalam pelaksanaan kerjasama harus tercapai keuntungan bersama. Pelaksanaan kerjasama hanya dapat tercapai apabila diperoleh manfaat bersama bagi semua pihak yang terlibat didalamnya. Apabila satu pihak dirugikan dalam proses kerjasama, maka kerjasama tidak lagi terpenuhi. Dalam upaya mencapai keuntungan atau manfaat bersama dari kerjasama, perlu komunikasi yang baik anatara semua pihak dan pemahaman sama terhadap tujuan bersama (Bowo dkk., 2007: 50)
Dalam hal ini peneliti dapat menganalisis bahwa sesungguhnya pelaksanaan sebuah program dapat tersalurkan dengan maksimal apabila ada pihak yang turut memperhatikan dan menjaga jalannya penggunaan sarana ambulans. Maka Dinas Kesehatan sebagai instansi pemerintahan yang dianggap dapat menyalurkan sarana ambulans, menjadi instansi pemerintahan yang
dipercayakan PT Angkasa Pura II (Persero) dalam mengoperasikan ambulans. Warga kota tangerang dapat dengan mudah mengakses layanan kesehatan karena PT Angkasa Pura II memberikan sarana ambulans terbuka untuk semua kalangan yang membutuhkan.
Tabel 4.9
Tujuan dari pada Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 4 5.5 5.5 5.5 Tidak Setuju 15 20.5 20.5 26.0
Setuju 35 47.9 47.9 74.0
Sangat Setuju 19 26.0 26.0 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.9
Berdasarkan tabel 4.9 35 responden menjawab setuju mengenai tujuan daripada Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans, 19 responden atau 26% menjawab sangat setuju, sedangkan 15 responden atau 20,5% menjawab tidak setuju, dan sisanya 4 responden atau 5,5% memilih sangat tidak setuju.
Pengertian dari pada program bina lingkungan sendiri merupakan sebuah ekspresi kebijakan sosial oleh perusahaan di tengah dinamika masyarakat yang
membutuhkan perhatian terhadap penciptaan dan realisasi solusi, dengan landasan bertindak praktis untuk kebersamaan lingkungan dalam upaya yang sinergis.
Pengertian tersebut tidak jauh dari pada pengertian corporate social responsiblitiy yang merupakan salah satu dari beberapa tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan (stakeholder), yang dimaksud dengan pemangku kepentingan dalam hal ini adalah orang atau kelompok yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh berbagai keputusan, kebijakan, maupun operasi perusahaan. (Ismail Solihin, 2009: 2)
Meski memiliki banyak definisi, namun secara esensi CSR merupakan wujud dari giving back dari korporat kepada komunitas. Perihal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan dan menghasilkan bisnis berdasar pada niat tulus guna memberi kontribusi yang paling positif pada komunitas (stakeholders).
Tujuan dari pada Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II (Persero):
1. Mengoptimalisasikan sarana dan prasarana kesehatan warga Kabupaten atau Kota Tangerang, khususnya wilayah operasional perusahaan.
2. Membantu perbaikan lingkungan hidup khusunya pada bidang kesehatan. 3. Meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat.
4. Mempermudah akses penerimaan layanan kesehatan masyarakat.
Adapun dari keseluruhan tujuan tersebut masyarakat juga memahami manfaat bagi perusahaan yaitu:
1. Mempermudah koordinasi dengan pemerintah daerah.
3. Tersedianya SDM yang memiliki kompetensi dari segi kesehatan di wilayah operasi perusahaan.
Dalam hal ini peneliti dapat menganalisis pemberian ambulans bukan menjadi sebuah program yang sukarela diberikan oleh pihak PT Angkasa Pura II (Persero) melainkan sudah menjadi sebuah tanggung jawab. Dapat dilihat dari pada penguraian tujuan yang mendeskripsikan bahwa program pemberian ambulans merupakan sebuah bentuk tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat.
Tabel 4.10
PT Angkasa Pura II Paham akan Kebutuhan Masyarakat Lingkungan Sekitar
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 10 13.7 13.7 13.7 Tidak Setuju 12 16.4 16.4 30.1 Setuju 34 46.6 46.6 76.7 Sangat Setuju 17 23.3 23.3 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.10
Berdasarkan Tabel 4.10 mengenai bahwa PT Angkasa Pura paham akan kebutuhan masyarakat lingkungan sekitar, 34 responden atau 46,6% menjawab
setuju, 17 atau 23% menjawab sangat setuju, 12 responden atau 16,4% menjawab tidak setuju, sedangkan sisanya 10 responden atau 13,7% menjawab sangat tidak setuju.
Pemahaman perusahaan akan isu sosial sekitar wilayah operasional perusahaan tidak dapat dipisahkan dari pada komunikasi yang berkembang didalamnya. Sudah menjadi kebiasaan setiap kejadian atau informasi yang menyangkut kehidupan manusia, baik soal pribadi atau pun kelompok, yang dianggap aktual dan luar biasa atau tidak biasa, akan menjadi bahan pembicaraan atau diskusi dalam masyarakat.
Publik ataupun masyarakat merupakan sekumpulan orang sedikit maupun banyak, yang menaruh minat dan kepentingan yang sama terhadap suatu hal. Maka opini publikpun akan terjadi dalam suatu lingkungan kecil ataupun besar dan merupakan penilaian terhadap hal yang menjadi kepentingan dan minat bersama dari orang – orang di lingkungannya itu.
Emory S. Bogardus dalam The Making Of Public Opinion mengatakan opini public hasil pengintegrasian pendapat berdasarkan diskusi dalam masyarakat demokratis (Olii, 2007:20). Ini menunjuk kepada bagaimana isu lingkungan sosial yang muncul dari pada opini publik masyarakat mengenai kesehatan dijawab dengan Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II (Persero).
Kebutuhan yang dipahami PT Angkasa Pura II (Persero) tidak terlepas hanya kepada konsumen para pengguna jasa Bandara Internasional-Soekarno Hatta, PT Angkasa Pura II melihat bahwa warga sekitar operasi perusahaan juga
merupakan bagian penting pertumbuhan ekonomi perusahaan, kerana kendali terbesar pertumbuhan ekonomi perusahaan berasal dari pada pihak eksternal wilayah operasi perusahaan. Pihak eksternal juga beranggapan bahwa pihak perusahaan juga mengerti akan kebutuhan yang mereka butuhkan. Dengan adanya planning, organizing, actuating, controlling PT Angkasa Pura II dapat mengetahui kebutuhan eksternal.
Tabel 4.11
Isu Kesehatan Merupakan Permasalahan Utama Dalam Lingkungan Daerah Wilayah Opersasi Perusahaan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 3 4.1 4.1 4.1 Tidak Setuju 12 16.4 16.4 20.5 Setuju 36 49.3 49.3 69.9 Sangat Setuju 22 30.1 30.1 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.11
Berdasarkan tabel 4.11 mengenai bahwa isu kesehatan merupakan permasalahan utama dalam lingkungan sekitar, 36 responden atau 49,3% menjawab setuju, 22 responden atau 30,1% menjawab sangat setuju, sedangkan 12 responden atau 16,4% menjawab tidak setuju, dan sisanya 3 responden atau 4,1% menjawab sangat tidak setuju.
Munculnya sebuah isu dalam sebuah perusahaan atau organisasi tidak dapat diprediksi sebelumnya, oleh sebab itu perusahaan atau organisasi diminta untuk selalu siap mengatasi isu – isu yang memungkinkan dapat membuat perusahaan atau organisasi tersebut menjadi krisis.
Kemunculan sebuah isu awalnya disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian pengertian yang dimiliki oleh pihak manajemen dan publik perusahaan. Fakta dan kenyataan berdasakan isu taraf kesehatan yang kurang layak dan kurangnya optimalisasi sarana kesehatan warga kota tangerang tidak sampai kepada pemberitaan negatif pada media massa ataupun media – media lainnya. PT Angkasa Pura II (Persero) menerapkan strategi dalam isu yang berkembang. Mengembangkan strategi dan pendekatan yang demokratis yang ditujukan kepada warga. Dengan memahami sikap dan perilaku serta keinginan masyarakat.
Dalam hal ini Humas dan Protokoler bertindak sebagai agen pemerhati dan pengendali situasi lingkungan. Beredarnya isu kesehatan yang menjadi permasalahan membuat unit Humas dan Protokoler cekatan turun ke lapangan untuk mengatasinya. Hal ini dapat dilihat bahwa public relations sebagai Journalist in Residence, artinya bertindak sebagai wartawan dalam menyebarluaskan informasi kepada publik dan mengendalikan berita atau informasinya kepada media massa. Tidak hanya berhenti sampai disana Humas dan Protokoler melakukan komunikasi dua arah yang dapat membujuk untuk membangun saling pengertian, pemahaman, dan mempercayai kedua belah pihak bahwa isu yang berkembang dapat menemui titik solusi.
Tabel 4.12
PT Angkasa Pura II Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Tangerang
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 8 11.0 11.0 11.0 Tidak Setuju 10 13.7 13.7 24.7 Setuju 47 64.4 64.4 89.0 Sangat Setuju 8 11.0 11.0 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.12
Berdasarkan tabel 4.12 mengenai PT Angkasa Pura II sudah tepat bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Tangerang, 47 responden atau 64,4% menjawab setuju, 10 responden atau 13,7% menjawab tidak setuju dan 8 responden atau 11% menjawab sangat setuju, dan sisanya 8 responden lainnya menjawab sangat tidak setuju.
Pada tahap external realtions PT Angkasa Pura II telah bekerja sama dengan instasi pemerintah sejak awal berdirinya perusahaan. Peran Humas dan Protokoler bertindak sebagai penghubung atau contact person antara PT Angkasa Pura II (Persero) dengan Dinas Kesehatan Kota Tangerang.
Kemampuan Humas dan Protokoler PT Angkasa Pura II (Persero) membangun hubungan yang positif antara lembaga yang diwakilinya dengan
publik eksternalnya. Berupaya menciptakan saling pengertian, kepercayaan, dukungan, kerja sama dan toleransi antara kedua belah pihak tersebut.
PT Angkasa Pura II (Persero) memaksimalkan kinerja Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans bekerja sama dengan instansi pemerintahan. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat tetap menikmati akses layanan kesehatan yang berasal dari pada instansi pemerintah.
Tabel 4.13
Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II (Persero) Merupakan Pemberian yang Tepat
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 7 9.6 9.6 9.6 Tidak Setuju 15 20.5 20.5 30.1 Setuju 31 42.5 42.5 72.6 Sangat Setuju 20 27.4 27.4 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.13
Berdasarkan tabel 4.13 mengenai Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II merupakan pemberian yang tepat pada lingkungan sekitar, 31 responden atau 42,5% menjawab setuju, 20 responden atau 27,4%
menjawab sangat setuju, 15 responden atau 20,5% menjawab tidak setuju, sedangkan sisanya 7 responden atau 9,6% menjawab sangat tidak setuju.
Ketepatan pemberian bantuan sosial terhadap isu kesehatan yang berkembang pada warga kota Tangerang membuat PT Angkasa Pura II (Persero) mengembangkan dan membuat keputusan yang tepat berdasarkan strategi yang dikembangkan Humas dan Protokoler di dalamnya.
Strategi merupakan sebuah cara atau proses yang digunakan organisasi untuk mencapai misinya (Sandra Oliver, 2001: 3). Di samping ketersediaan tenaga medis, strategi pemberian sarana ambulans menjadi mutlak diperlukan dalam kondisi genting, ketika pasien harus dikirm atau dijemput untuk mendapat bantuan medis sesegera mungkin. Sarana yang memadai mendukung peningkatan grafik data kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat. Atas pertimbangan tersebut Pemberian Ambulans dirasa penting untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.
Strategi yang tepat dilihat dari pada sejauh mana perusahaan dapat menanggapi permasalahan yang terjadi. Masyarakat tidak dapat merasakan sebuah program apabila program tersebut tidak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
Tabel 4.14
PT Angkasa Pura II Melakukan Survei terhadap Lingkungan dalam Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 7 9.6 9.6 9.6 Tidak Setuju 13 17.8 17.8 27.4 Setuju 38 52.1 52.1 79.5 Sangat Setuju 15 20.5 20.5 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.14
Berdasarkan tabel 4.14 mengenai PT Angkasa Pura II melakukan survei terhadap lingkungan dalam Program Bina Linkungan Pemberian Ambulans, 38 responden atau 52,1% menjawab setuju, 15 responden atau 20,5% menjawab sangat setuju, 13 responden atau 17,8% menjawab tidak setuju, sedangkan sisanya 7 responden atau 9,6% menjawab sangat tidak setuju.
Planning dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang dari pada hal – hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan (Sondang P. Siagian, 1994: 108).
Kaufman (1972) sebagaimana dikutip Harjanto. Perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai.
Pada dasarnya planning dikembangkan dengan fakta dan survei yang berada pada lapangan. Dalam hal ini PT Angkasa Pura II (Persero) membentuk sebuah tim survei yang anggotanya berasal dari pada Unit Humas dan Protokoler,
Unit Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, serta unit akuntan dan bisnis, yang di dalamnya memiliki job desk masing – masing.
Perjalanan sebuah survei dapat berjalan dengan baik apabila sebuah perusahaan mau melibatkan semua elemen yang ada di dalamnya untuk bersinergi dalam mendulang sukses dalam sebuah program. Program CSR harus memiliki skema penghitungan yang baik agar tidak terjadi kegagalan dalam pelaksanaan. Masyarkat yang dituju juga perlu tahu akan keberadaan program yang akan dilaksanakan. Peneliti menganalisis bahwa keterkaitan masyarakat dalam survei Program Pemberian Ambulans PT Angkasa Pura II (Persero) didukung dengan strategi pendekatan yang baik. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa PT Angkasa Pura II (Persero) melibatkan semua unit di dalam perusahaan tersebut.
Tabel 4.15
Survey Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans Dilakukan dengan Baik
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 6 8.2 8.2 8.2 Tidak Setuju 14 19.2 19.2 27.4 Setuju 36 49.3 49.3 76.7 Sangat Setuju 17 23.3 23.3 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.15
Berdasarkan tabel 4.15 menggambarkan bahwa 36 responden atau 49,3% menjawab setuju mengenai tahap survey PT Angkasa Pura II dilakukan dengan baik, 17 responden atau 23,3% menjawab sangat setuju, 14 responden atau 19,2% diantaranya menjawab tidak setuju, dan sisanya 6 responden atau setara dengan 8,2% menjawab sangat tidak setuju.
Tahap survei yang dilaksanakan:
1. Petugas dan perwakilan perusahaan (tim) mengajukan permohonan dan ijin kepada instansi Pemerintah Kota Tangerang.
2. Penyelenggaraan survei berbasis masyarakat.
3. Tim menyusuri setiap wilayah Kabupaten atau Kota Tangerang.
4. Pelaksanaan survei dilakukan secara kemitraan dengan Intansi Pemerintah Kota Tangerang.
5. Pendataan Puskemas dan sarana kesehatan kabupaten dan kota Tangerang. 6. Penyuluhan Pemberian Ambulans kepada setiap perwakilan warga Kota
Tangerang, pada Dinas Kesehatan Kota Tangerang (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Angkasa Pura II (Persero), 2014: 100)
Peneliti menganalisis bahwa PT Angkasa Pura II (Persero) tidak dapat berhasil mengetahui kebutuhan masyarakat tanpa strategi survei yang diterapkan oleh Unit Humas dan Protokoler PT Angkasa Pura II (Persero) selaku Public Relations perusahaan. Penjelasan pada indikator sebelumnya memang telah menjelaskan bahwa survei yang dilakukan diketahui oleh responden. Namun disini ditegaskan bahwa pelaksanaan survei tidak hanya meliputi satu lingkup daerah ataupun wilayah. Pendataan sarana kesehatan seperti puskemas dan rumah sakit dilakukan pada setiap kecamatan kota ataupun kabupaten kota Tangerang.
Tabel 4.16
Survei Pemberian Ambulans Melibatkan Lingkungan Sekitar Frequency Percent Valid Percent Cumulative
Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 3 4.1 4.1 4.1 Tidak Setuju 15 20.5 20.5 24.7 Setuju 38 52.1 52.1 76.7 Sangat Setuju 17 23.3 23.3 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.16
Berdasarkan tabel 4.16 mengenai survei pemberian ambulans melibatkan lingkungan sekitar, 38 responden diantaranya atau setara dengan 52,1% menjawab
setuju, 17 responden atau 23,3% menjawab sangat setuju, 15 responden atau 20,5% menjawab tidak setuju, dan sisanya 3 responden atau 4,1% memilih sangat tidak setuju.
Dalam survey berbasis masyarakat memberi pengertian bahwa dalam tahap survei masyarakat perlu tahu akan adanya Program Bina Lingkungan Pemberian Ambulans yang dilakukan PT Angkasa Pura II (Persero).
PT Angkasa Pura II (Persero) Bandara Internasional Soekarno-Hatta melakukan survei berbasis masyarakat bertujuan agar tidak ada kerugian yang diterima perusahaan akan adanya program pemberian ambulans. Apabila masyarakat tidak dapat menerima pemberian ambulans dengan baik PT Angkasa Pura II menyimpulkan bahwa pemberian ambulans merugikan pihak perusahaan dari laju perekonomian perusahaan.
Tabel 4.17
Kriteria Ambulans Sangat Tepat
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 7 9.6 9.6 9.6 Tidak Setuju 10 13.7 13.7 23.3 Setuju 27 37.0 37.0 60.3 Sangat Setuju 29 39.7 39.7 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.17
Berdasarkan tabel 4.17 mengenai ambulans yang diberikan sudah sangat memenuhi kriteria dalam mengoptimalisasikan kesehatan lingkungan, 29 responden atau 39,7% menjawab sangat seutuju, 27 responden atau 37% menjawab setuju, 10 responden atau 13,7% menjawab tidak setuju, sedangkan 7 responden atau 9,6% menjawab sangat tidak setuju.
Ambulans merupakan kendaraan roda empat yang telah diserahterimakan kepada Dinas Kesehatan Kota Tangerang, yang menandakan bahwa PT Angkasa Pura II (Persero) ikut serta dalam menangani jalannya aktivitas kesehatan masyarakat Tangerang di wilayah operasional perusahaan. Suzuki APV dipilih untuk menjadi kendaraan ambulans guna menjawab kebutuhan masyarakat akan kesehatan, bahkan untuk medan berat sekalipun.
Tabel 4.18
Prosedural Penggunaan Ambulans Tidak Sulit
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
Sangat Tidak Setuju 2 2.7 2.7 2.7 Tidak Setuju 12 16.4 16.4 19.2 Setuju 40 54.8 54.8 74.0 Sangat Setuju 19 26.0 26.0 100.0 Total 73 100.0 100.0
Diagram 4.18
Berdasarkan tabel 4.18 mengenai prosedural penggunaan ambulans tidak sulit 40 responden atau 54,8% menjawab setuju, 19 responden atau 26% menjawab sangat setuju, 12 responden atau 16,4% menjawab tidak setuju, sedangkan 2 responden atau 2,7 persen menjawab sangat tidak setuju.
Meyakinkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan yang baik tidak hanya sebatas pada alokasi pemberian program bantuan sosial, tetapi kemudahan dalam mendapatkan program bantuan sosial yang menjadi salah satu alasan utama agar program bantuan sosial tidak keluar dari jalur tujuannya.