BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
B. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Hasil Penelitian
Data penelitian ini berupa lembar kerja siswa yang menulis puisi pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data hasil tes keterampilan menulis puisi itu telah diubah ke dalam bentuk bahasa tulis (transkrip). Data yang berupa larik-larik puisi diubah ke dalam bentuk angka-angka sehingga data yang diperoleh dapat dihitung dengan menggunakan perhitungan statistik.
Untuk memperoleh angka-angka tersebut peneliti menggunakan skala 1 sampai dengan 100. Skala tersebut dilihat dari deskripsi kriteria penilaian keterampilan menulis puisi ada di lampiran. Setiap aspek penilaian keterampilan menulis puisi memiliki bobot yang berbeda. Hal ini disesuaikan dengan tingkat kepentingan masing-masing aspek dalam keterampilan menulis puisi.
Berikut akan diuraikan contoh hasil analisis tes akhir (post test)
keterampilan menulis puisi siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dalam pembahasan ini, peneliti tidak mencantumkan semua hasil analisis tes keterampilan menulis puisi karena keterbatasan waktu dan biaya. Peneliti hanya memberikan beberapa contoh mengenai langkah-langkah yang dilakukan dalam mengubah data kualitatif yang berupa kalimat menjadi data kuantitatif yang berbentuk angka-angka.
Hasil penyekoran setiap aspek dari kedua kelas kemudian di klasifikasikan menjadi tiga tingkatan. Tingkat pertama, dengan skor tertinggi yaitu 100. Tingkat kedua, dengan skor sedang yaitu 70. Tingkat ketiga, dengan skor terendah, yaitu 50. Untuk lebih jelasnya peneliti memaparkan klasifikasi perolehan skor setiap aspek sebagai berikut:
a. Deskripsi Analisis Puisi Tes Akhir (Post Test) kelas Eksperimen Subyek Nomor 10 dan 12
Analisis puisi subyek no.10
Nomor 10
Nama Cindy Tania. M
1) Tema atau Judul Puisi
Tema atau judul dalam menulis puisi pun harus diperhatikan. Tema atau judul harus tepat dengan isi puisi yang ditulis. Dalam puisi subyek nomor 10, judul yang diambil adalah Penyesalan. Judul telah sesuai dengan isi puisi karena di dalam puisi tersebut menggambarkan bahwa si penulis membenci dirinya sendiri seperti orang yang sedang lepas kendali. Tersirat ada penyesalan di dalamnya. Untuk itu peneliti memberi skor 20 untuk ketepatan penentuan tema dalam puisi di atas.
Judul puisi:
Penyesalan Kadang-kadang aku benci
Bahkan sampai aku maki
…..diriku sendiri Seperti aku Menjadi seteru …..diriku sendiri Waktu itu Aku…
Seperti orang lain dari diriku Aku tak puas
Sebab itu aku menjadi buas
2) Pemilihan Kata (Diksi)
Diksi memiliki peranan yang penting dalam sebuah puisi, karena dengan pemilihan diksi yang tepat seorang penyair akan mendapatkan efek yang lebih indah dari puisinya. Pada subyek nomor 10, pemilihan kata tampak pada penggalan: menjadi seteru//aku menjadi buas// buas dan panas.
Siswa menggunakan kata seteru dengan maksud ingin menegaskan bahwa ia sedang bertengkar atau berseteru dengan dirinya sendiri. Siswa memilih kata buas dan panas untuk menggambarkan bahwa dirinya benar-benar lepas kendali atas amarahnya. Melihat ketepatan siswa dalam memilih kata, maka peneliti memberi skor 25. 3) Gaya Bahasa (Majas)
Gaya bahasa yang digunakan oleh subyek nomor 10 ini adalah jenis gaya bahasa hiperbola, seperti pada penggalan, aku menjadi buas dan panas. Gaya bahasa pada kalimat aku menjadi buas dan panas merupakan sebuah gaya bahasa yang berlebihan. Untuk gaya bahasa yang digunakan diberikan skor 10.
4) Bait, Rima, dan Irama
Bait dalam puisi erat kaitannya dengan tipografi (perwajahan) puisi, fungsinya untuk menarik perhatian
pembaca dan membantu pembaca memahami makna dan situasi yang tergambar dalam puisi. Pemenggalan-pemenggalan pada puisi di atas yang ditulis oleh subyek no.10 telah memiliki struktur yang indah dan memudahkan pembaca memahami makna yang ingin disampaikan oleh penyairnya. Pada bait dalam puisi tersebut, siswa menulis puisi dalam bait yang masing-masing tiap lariknya semakin menjorok ke dalam. Penempatan bait diberikan skor sebesar 5.
Rima dalam puisi di atas lebih dominan pada bentuk rima i-i i-i. seperti penggalan puisi; Kadang-kadang aku benci// Bahkan sampai aku maki//…diriku sendiri/. Jelas sekali bunyi akhir pada setiap larik berbentuk i-i i-i. Siswa pun mengulang bentuk rima di bait kedua dan terakhir dalam puisinya, seperti penggalannya berikut ini; Aku tak puas// Sebab itu aku menjadi buas// Menjadi buas dan panas.
Terdapat pola sajak akhir pada setiap bait. Bait kesatu: ci-ki-ri; bait kedua: ku-ru-ri; bait ketiga: tu-ku-ku; bait keempat: as-as-as. Pola sajak tersebut terasa sangat berirama dan juga liris. Kalau diperhatikan, kombinasi asonansi dari bait pertama ke bait keempat, dari asonansi i-i ke konsonansi s-s, menunjukan suasana yang sangat berat
dan murung, sesuai dengan perasaan sesal yang semakin meningkat sehingga di bait keempat semakin terasa suasana kemarahan pada dirinya sendiri. Karena menariknya unsur estetik pada puisi ini maka skor untuk kriteria penilaian rima diberikan skor sebesar 10.
Irama bernilai sangat estetik saat dibaca, jika rima yang dipilih juga bernilai estetik. Rachmat Djoko Pradopo menyebut irama sebagai orkestra bunyi, yaitu kombinasi bunyi yang meliputi semua persajakan.61 Apabila rima yang dipilih sudah bernilai estetik, maka irama yang dibentuk akan indah pula saat dibaca. Kombinasi bunyi dominan asonansi i-i dan konsonansi s-s menimbulkan rasa penyesalan yang kuat dan kemarahan yang menggelora. Karena keestetikan tersebut, maka peneliti memberi nilai 5 pada komponen penilaian irama puisi.
5) Pengimajian (Pencitraan)
Pengimajian atau imaji adalah susunan kata yang mencitrakan pengalaman sensoris seperti melihat, mendengar, dan meraba. Puisi yang ditulis oleh subyek no.10 ada pencitraan yang disebut dengan citra suhu, dalam Rachmad Djoko Pradopo, citra suhu adalah citra yang dibangkitkan melalui pengalaman sensoris yang berkaitan
61
dengan suhu.62 Citra suhu ini dapat kita lihat pada larik puisi di atas pada bait terakhir; Menjadi buas dan panas, kata panas tersebut merupakan pengalaman sensoris yang berkaitan dengan suhu. Pada kategori pencitraan ini, peneliti memberikan skor 5 dalam puisi subyek no.10.
Analisis puisi subyek no.12
Nomor 12
Nama Sintia Dewi
Nilai 90
Judul Puisi:
Sajak Putih
Beribu saat dengan kenangan Surut perlahan
Kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh Sewaktu detikpun jatuh
Kita dengar bumi yang tua dalam setia Kasih tanpa suara
Sewaktu bayang-bayang kita memanjang Mengabur batas ruang
62
Kita pun bisa tersekat dalam pesona Sewaktu ia pun memanggil-manggil
Sewaktu kata membuat kita begitu terpencil Di luar cuaca
1) Tema atau Judul
Pada puisi subyek no.12, tema/judul pada puisi ini adalah Sajak Putih. Dalam analisa peneliti, makna kata
putih pada umumnya adalah nuansa kesucian, ketulusan, kebersihan, kelembutan, dan keagungan. Keterkaitan antara judul dengan isi puisi dirasa kurang sesuai karena isi dari puisi tersebut berbicara tentang keadaan alam, yaitu kesetiaan bumi terhadap seluruh makhluk hidup yang berpijak di atasnya. Oleh karena itu, peneliti memberi skor 10 pada kategori tema/judul.
2) Pemilihan Kata (Diksi)
Pada puisi subyek no.12 terlihat si penulis sudah sangat terampil dalam memilih kata yang sesuai, seperti pada larik /Beribu saat dengan kenangan/ dan /sewaktu bayang-bayang kita memanjang / mengabur batas ruang/. Pada larik /kita dengar bumi yang tua dalam setia/, untuk menggambarkan kesetiaan, si penulis lebih memilih kata
tua. Karena ketepatan subyek no.12 dalam memilih kata, maka peneliti memberi skor sebesar 25.
3) Penggunaan Gaya Bahasa (Majas)
Gaya bahasa yang banyak digunakan dalam puisi di atas adalah majas personifikasi. Seperti pada penggalan larik ketiga; /kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh/, lalu di larik keempat; /sewaktu detik pun jatuh/, kemudian di larik kelima; /kita dengar bumi yang tua dalam setia/. Dari semua penggalan larik di atas menyiratkan bahwa seolah-olah bumi dan detik adalah makhluk hidup yang menyerupai sifat-sifat manusia. Karena ketepatan gaya bahasa yang digunakan, maka peneliti memberikan skor sebesar 25.
4) Bait, Rima, dan Irama
Struktur bait dalam puisi pada subyek no. 12 sudah baik atau sudah tepat. Walaupun struktur yang dibuat merupakan struktur yang sudah lazim digunakan. Namun si penulis konsisten dalam menuliskan setiap bait terdiri dari empat larik. Untuk bait, peneliti memberi skor 5.
Rima dalam puisi tersebut sangat terasa. Rima yang digunakan adalah aabb dan abba. Bisa dilihat pada setiap akhir paragraf, seperti pada bait pertama; beribu saat dengan kenangan/ surut perlahan/ kita dengarkan bumi
menerima tanpa mengaduh/ sewaktu detik pun jatuh/. Untuk rima pada puisi di atas, peneliti memberi skor 10.
Dikarenakan rima yang dibentuk secara konsisten dan kombinasi bunyi yang dihasilkan dari rima an-an dan
uh-uh maka terbentuk juga irama yang indah saat puisi tersebut dibaca. Rima an-an pada bait pertama seakan mengekspresikan suasana kasih atau cinta. Sedangkan rima
uh-uh menimbulkan suasana sedih atau muram. Karena keestetikannya itu, peneliti memberikan skor sebesar 5 untuk kategori irama ini.
5) Pengimajian (Pencitraan)
Pengimajian yang dibuat sudah berhasil membuat pembaca seperti merasakan apa yang dirasakan maupun yang dilihat oleh si penulis. Imaji yang terasa dalam puisi tersebut adalah imaji pendengaran dan penglihatan. Imaji pendengaran sangat terasa pada larik ketiga pada bait pertama dan larik pertama pada bait kedua; /kita dengarkan
bumi menerima tanpa mengaduh//, //kita dengar bumi yang tua dalam setia/ serta pada larik kedua di bait ketiga;
/sewaktu ia pun memanggil-manggil/. Kata ‗dengarkan‘, ‗dengar‘, dan ‗memanggil-manggil‘ adalah kata-kata yang menimbulkan imaji pendengaran. Sedangkan imaji penglihatan sangat terasa pada larik ketiga pada bait kedua;
/sewaktu bayang-bayang kita memanjang/ dan pada larik pertama di bait ketiga; /kita pun tersekat dalam pesona/. Kata ‗bayang-bayang‘, ‗memanjang‘, ‗tersekat‘, dan ‗pesona‘ merupakan kata-kata yang bisa menimbulkan imaji penglihatan. Untuk kategori penilaian pengimajian, peneliti memberikan skor sebesar 10.
b. Deskripsi Analisis Puisi Tes Akhir (Post Test) kelas Kontrol Subyek Nomor 4 dan 7
Analisis puisi subyek no. 4
Nomor 4
Nama Muhammad Anhar
Nilai 62
Judul puisi :
Sahabatku Di kala tangisku
Kaulah yang menghiburku Di kala sepiku
Sahabatku….
Kaulah teman yang setia Menemaniku
Hadir di saat suka Dan dukaku
Sahabatku…
Kaulah yang berarti Di hidupku
Kaulah yang mengerti Hidupku…
Terimakasih sahabatku Tanpa kau tak ada arti Yang indah dihidupku..
1) Tema atau Judul
Tema atau judul puisi di atas sudah sesuai dengan isi puisi. Isi cerita yang diangkat merupakan perwujudan kasih sayang seseorang terhadap sahabatnya. Oleh karena kesesuaian judul dengan isi puisi, maka peneliti memberi skor sebesar 20 pada kategori ini.
2) Pemilihan Kata (Diksi)
Pemilihan kata yang dilakukan oleh subyek no. 4 ini merupakan pilihan kata sehari-hari. Seperti terlihat pada setiap baitnya, tidak ada kata-kata yang mempunyai makna khusus. Subyek no.4 ini memaparkan yang dirasakannya secara gamblang. Oleh karena itu, peneliti memberi skor sebesar 15 untuk kategori pemilihan kata.
3) Gaya Bahasa (Majas)
Subyek no. 4 ini kurang terampil dalam mempercantik kata sehingga tidak ada gaya bahasa yang digunakan dalam puisinya. Peneliti memberi skor sebesar 10 untuk kategori gaya bahasa.
4) Bait, Rima, dan Irama
Struktur bait sudah benar atau sudah sesuai dengan struktur bait puisi pada umumnya. Bentuk dari setiap baitnya dibuat zig-zag. Peneliti memberi skor sebesar 5 untuk kategori ini.
Rima yang dimunculkan dalam puisi tersebut belum bernilai estetik, karena rima yang terbentuk adalah kebanyakan pengulangan dari kata ganti –ku. Walaupun rima akhir dari puisi tersebut berbentuk aaaa pada bait pertama dan abab pada bait-bait berikutnya, tetapi nilai
estetiknya belum terasa. Maka dari itu peneliti memberi skor sebesar 5 pada kategori rima.
Irama yang dimunculkan dalam puisi saat puisi itu dibacakan masih kurang terasa indah. Maka peneliti memberi skor sebesar 2 pada kategori ini.
5) Pengimajian (Pencitraan)
Imaji yang ditimbulkan oleh kata-kata dalam puisi tersebut belum mampu membawa pembaca ke dalam perasaan yang dirasakan penyair pada saat menuliskan puisi tersebut. Karena kata-kata yang digunakan belum bisa merangsang imajinasi dan mengguah perasaan. Maka dari itu peneliti memberi skor sebesar 5 untuk kategori ini.
Analisis puisi subyek no.7
Nomor 7
Nama Mamay Suprihartini
Nilai 62
Judul puisi:
Masa lalu Dalam kenangan dulu Aku selalu merindukanmu Dalam masa lalu
Aku sangat menyayangimu
Dalam diriku teringat tentangmu Terbayang wajahmu
Teringat setiap malam di kala Aku merana
Kini tak ada lagi yang bisa aku rindukan Tak ada lagi yang bisa kusayangi Karena itu hanyalah sekedar masa lalu
1) Tema atau Judul
Keterkaitan tema/judul dengan isi puisi memang penting. Pada subyek no.7 ini pemilihan judul dengan isi puisi sudah sesuai. Judul yang diberikan oleh penyair adalah
Masa Lalu. Judul tersebut sesuai dengan isi puisi yang memang menceritakan sebuah kisah masa lalu. Karena kesesuaian tema/judul puisi ini, maka peneliti memberikan skor sebesar 20.
2) Pemilihan Kata (Diksi)
Sama seperti subyek no.4, subyek no.7 ini juga menggunakan pilihan kata sehari-hari untuk mengekspresikan perasaannya dalam puisi. Ada beberapa kata yang menurut peneliti kurang sesuai, seperti pada lirik
pemilihan kata dalam diriku dan disandingkan dengan kata
teringat tentangmu kurang sesuai. Akan lebih indah dan sesuai jika diriku diganti dengan benakku sehingga menjadi; /dalam benakku, teringat tentangmu/. Oleh karena kurang sesuainya pemilihan kata yang digunakan, maka peneliti memberikan skor sebesar 15 untuk kategori ini.
3) Gaya Bahasa (Majas)
Puisi pada subyek no.7 ini tidak menggunakan gaya bahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian yang tidak mengandung makna yang mendalam. Karena dalam puisi ini tidak menggunakan gaya bahasa, maka peneliti memberikan skor sebesar 10.
4) Bait, Rima, dan Irama
Bait yang ditulis berstruktur zig-zag. Dalam satu bait terdiri empat larik dan ada yang terdiri dari tiga larik. Struktur bait ini sudah benar. Maka peneliti memberikan skor sebesar 5.
Rima yang dibentuk oleh penulis masih kurang sesuai. Walaupun di akhir setiap larik terdapat akhiran rima yang sama, tetapi menurut peneliti masih belum bernilai estetik, karena akhiran rima itu lebih banyak mengulang akhiran kata ganti –mu. Maka dari itu, peneliti memberikan skor sebesar 5.
Sedangkan irama puisi saat puisi tersebut dibacakan masih kurang terasa indah, karena irama puisi saat dibaca kurang menimbulkan dan menggambarkan suasana perasaan yang dirasakan si penulis puisi itu. Maka dari itu peneliti memberi skor 2.
5) Pengimajian (Pencitraan)
Imaji yang ditimbulkan dalam kata-kata yang ditulis oleh subyek no. 7 adalah imaji penglihatan seperti pada bait kedua, pada larik kedua, /terbayang wajahmu/. Walaupun subyek no.7 ini memberikan imaji penglihatan dalam puisinya, namun imaji yang ditimbulkan itu masih belum membuat pembaca merasakan kedalaman rasa sang penulis tentang apa yang dirasakan dan dilihatnya. Maka dari itu, peneliti memberikan skor 5 pada kategori ini.
Jadi, kesimpulan dari analisis pemberian skor di atas adalah terdapat perbedaan pada hasil post test kedua kelas di atas. Kelas eksperimen mendapat nilai lebih baik dari pada kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, skor menulis puisi subyek no.10 mendapatkan skor sebesar 80 dan subyek no.12 mendapatkan skor sebesar 90. Sedangkan pada kelas kontrol, skor menulis puisi subyek no.4 mendapatkan skor sebesar 62 dan subyek no.7 mendapatkan skor sebesar 62. Hasil lebih lengkapnya dapat dilihat pada pemaparan hasil analisis data dan uji hipotesis di sub. bab berikut ini.