BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Hasil Penelitian
4.3.1 Deskripsi Hasil Penelitian
Peneliti menyebarkan kuesioner kepada 30 guru di 10 SD inklusi yang ada di Kabupaten Sleman. Kuesioner tersebut berisi 15 item pernyataan. Kuesioner yang kembali 30 instrumen. Data bentuk evaluasi belajar yang digunakan guru di sekolah dasar inklusi se-Kabupaten Sleman dihitung melalui lima tahap. Tahap pertama yaitu menghitung total dari setiap item. Tahap kedua yaitu mencari rata-rata nilai maksimal dari item. Rata-rata dihitung dengan membagi dua total skor maksimal item. Tahap ketiga yaitu mencari mean dari skor item. Tahap keempat yaitu menghitung persentase penggunaan evaluasi belajar. Persentase dihitung dengan membagi mean skor dengan mean skor maksimal dikali dengan 100. Tahap kelima yaitu memasukkan hasil presentase ke dalam tabel. Berikut adalah tabel persentase penggunaan evaluasi belajar yang digunakan guru di SD inklusi se-Kabupaten Sleman:
Tabel 4.1 Hasil Angket Evaluasi belajar yang Digunakan Guru di Sekolah Dasar Inklusi se-Kabupaten Sleman
Aspek Indikator No.
Item
Jumlah Presentase Ya Tidak Ya Tidak Tes Melakukan asesmen awal
dan akhir
1 27 3 90% 10%
2 25 5 83% 17%
3 23 7 77% 23%
Melakukan penilaian hasil belajar sesuai dengan kemampuan ABK. 4 27 3 90% 10% 5 19 11 63% 37% 6 27 3 90% 10% Melakukan penilaian kognitif. 7 26 4 87% 13% Melakukan penilaian secara berkelanjutan. 8 29 1 97% 3%
Non Tes Melakukan asesmen awal, tengah, dan akhir.
9 29 1 97% 3% 10 25 5 83% 17% 11 28 2 93% 7% Melakukan penilaian afektif. 12 20 10 67% 33% Melakukan penilaian psikomotorik. 13 22 8 73% 27% Menyesuaikan instrumen penilaian hasil belajar.
14 29 1 97% 3%
15 29 1 97% 3%
Pada item 1 dari 30 guru, ada 27 (90%) guru yang menjawab “ya” dan 3 guru (10%) yang menjawab “tidak” untuk pernyataan memberikan latihan ulangan bagi siswa agar terbiasa dengan format ujian. Tiga guru yang menjawab tidak pada item ini seharusnya memberikan latihan ulangan agar siswa terbiasa dengan format ujian dan tidak merasakan kesulitan saat mengerjakan ujian. Latihan ujian ini mampu menimbulkan rasa percaya diri kepada siswa saat mengerjakan ujian karena sudah terbiasa melakukan latihan ujian yang diberikan guru.
Pada item 2 dari 30 guru, ada 25 guru (83%) yang menjawab “ya” dan 5 guru menjawab “tidak” untuk pernyataan memberikan les atau tutor
sebelum ujian sesuai jam pembelajaran sekolah berakhir pada siswa yang berkebutuhan khusus. Sangatlah perlu memberikan les atau tutor sebelum ujian sesuai jam pembelajaran sekolah berakhir pada siswa yang berkebutuhan khusus. Namun dari hasil angket, masih ada 5 guru (17%) yang menjawan “tidak”. Perlu adanya pengarahan kepada 5 guru yang menjawab “tidak” karena memberikan les atau tutor sebelum ujian sesuai jam pembelajaran sekolah berakhir pada siswa yang berkebutuhan khusus, sangat penting agar dapat mengulang kembali materi pelajaran pada siswa berkebutuhan khusus yang belum paham.
Pada item 3 dari 30 guru, ada 23 guru (77%) yang menjawab “ya” dan 7 guru yang menjawab “tidak” untuk pernyataan membuat alternatif bentuk pertanyaan saat ujian berlangsung bagi siswa berkebutuhan khusus. Sangatlah perlu membuat alternatif bentuk pertanyaan saat ujian berlangsung bagi siswa berkebutuhan khusus. Namun dari hasil angket, masih ada 7 guru (23%) yang menjawab “tidak”. Perlu adanya pengarahan kepada 7 guru yang menjawab “tidak” karena membuat alternatif bentuk pertanyaan saat ujian berlangsung bagi siswa berkebutuhan khusus, dapat mempermudah siswa memahami pertanyaan yang dibuat guru dan tidak mempermasalahkan pertanyaan.
Pada item 4 dari 30 guru, ada 27 guru (90%) yang menjawab “ya” dan 3 guru yang menjawab “tidak” untuk pernyataan menentukan standar kompetensi kelulusan pada setiap mata pelajaran sesuai kemampuan siswa. Sangatlah perlu menentukan standar kompetensi kelulusan pada setiap mata
pelajaran sesuai kemampuan siswa. Namun dari hasil angket, masih ada 3
guru (10%) yang menjawab “tidak”. Perlu adanya pengarahan kepada 3 guru
yang menjawab “tidak” karena menentukan standar kompetensi kelulusan pada setiap mata pelajaran sesuai kemampuan siswa. Kemampuan siswa berbeda-beda maka guru harus membuat standar kompetensi kelulusan pada setiap mata pelajaran sesuai dengan kemampuan siswa agar siswa tidak merasa kesulitan pada mata pelajaran yang diberikan guru.
Pada item 5 dari 30 guru, ada 19 guru (63%) yang menjawab “ya” dan 11 guru yang menjawab “tidak” untuk pernyataan membuat indikator yang sesuai kemampuan siswa dan menjadi acuan terhadap hasil belajar. Guru perlu membuat indikator sesuai kemampuan siswa untuk menjadi acuan hasil belajar. Indikator perlu dibuat mengingat kemampuan siswa berbeda-beda, agar siswa tidak merasa keberatan dalam mengikuti pembelajaran. Namun dalam kenyataannya, masih ada 11 guru (37%) yang menjawab tidak menggunakan instrumen penilaian yang bervariasi sesuai kemampuan siswa untuk menilai hasil belajar.
Pada item 6 dari 30 guru, ada 27 guru (90%) yang menjawab “ya”
dan 3 guru yang menjawab “tidak” untuk menggunakan instrumen penilaian
yang bervariasi sesuai kemampuan untuk menilai hasil belajar. Guru perlu membuat instrumen penilaian yang bervariasi sebab dalam menilai hasil belajar siswa, guru tidak bisa menilai dengan tes saja tetapi non tes juga perlu. Namun dalam kenyataannya, masih ada 3 guru (10%) yang
menjawab tidak menentukan standar kompetensi kelulusan pada setiap mata pelajaran sesuai kemampuan siswa.
Pada item 7 dari 30 guru, ada 26 guru (87%) yang menjawab “ya” dan 4 guru yang menjawab “tidak” untuk memberikan tes tertulis atau lisan untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa tentang materi. Pemberian tes tertulis atau lisan sangat perlu dilakukan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan siswa tentang materi. Namun dalam kenyataannya, masih ada 4 guru (13%) yang menjawab tidak memberikan nilai tes di akhir pembelajaran.
Pada item 8 dari 30 guru, ada 29 guru (97%) yang menjawab “ya”
dan 1 guru yang menjawab “tidak” untuk melakukan penilaian berdasarkan
hasil kemajuan yang dicapai siswa. Hasil kemajuan yang dicapai siswa hendaknya diberikan penilaian, karena dapat digunakan untuk penilaian berkelanjutan dan mengetahui apakah siswa itu berkembang atau tidak. Namun dalam kenyataannya, masih ada 1 guru (3%) yang menjawab tidak melakukan penilaian berdasarkan hasil kemajuan yang dicapai siswa.
Pada item 9 dari 30 guru, ada 29 guru (97%) yang menjawab “ya” dan 1 guru yang menjawab “tidak” mengenai pernyataan melakukan penilaian secara berkala pada seluruh siswa. Kegiatan penilaian secara berkala dapat dilakukan untuk mengetahui kemajuan setiap siswa. Namun dalam kenyataannya, masih ada 1 guru (3%) yang menjawab tidak pada mengidentifikasi seluruh siswa melalui observasi untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum mengerjakan tes.
Pada item 10 dari 30 guru, ada 25 guru (83%) yang menjawab “ya”
dan 5 guru yang menjawab “tidak” pada pernyataan mengobservasi kondisi
kemampuan siswa pada saat proses pembelajaran. Kegiatan observasi perlu dilakukan oleh guru untuk mengetahui situasi dan kondisi siswa. Obervasi saat siswa mengerjakan soal tes perlu dilakukan untuk mengetahui bisa atau tidak siswa dalam mengerjakan soal. Namun dalam kenyataannya, masih ada 5 guru (17%) yang menjawab tidak pada mengobservasi kondisi siswa pada saat mengerjakan soal tes.
Pada item 11 dari 30 guru, ada 28 guru (93%) yang menjawab “ya” dan 2 guru yang menjawab “tidak” pada pernyataan mengobservasi kemampuan siswa diakhiri proses pembelajaran. Mengobservasi kemampuan siswa diakhir proses pembelajaran ini berguna untuk mengetahui kemampuan siswa selama mendapatkan pembelajaran. Namun dalam kenyataannya, masih ada 2 guru (7%) yang menjawab tidak pada meninjau kembali dengan memastikan bahwa seluruh bagian dari pertanyaan telah terjawab.
Pada item 12 dari 30 guru, ada 20 guru (67%) yang menjawab “ya” dan 10 guru yang menjawab “tidak” pada pernyataan membuat indikator tentang aspek/afektif. Guru dalam membuat indikator tentang aspek/afektif untuk mengetahui kesiapan dan minat siswa dalam mengerjakan soal. Namun dalam kenyataannya, masih ada 10 guru (33%) yang menjawab tidak pada mengobservasi ketertarikan siswa saat mengerjakan tes.
Pada item 13 dari 30 guru, ada 22 guru (73%) yang menjawab “ya” dan 8 guru yang menjawab “tidak” pada pernyataan mengobservasi untuk meninjau sikap setiap siswa. Mengobservasi sikap siswa perlu dilakukan oleh guru sebab untuk mengetahui sikap siswa baik dalam mengerjakan soal maupun setelah mengerjakan soal. Namun dalam kenyataannya, masih ada 8 guru (27%) yang menjawab tidak pada mengobservasi ketertarikan siswa saat mengerjakan tes.
Pada item 14 dari 30 guru, ada 29 guru (97%) yang menjawab “ya” dan 1 guru yang menjawab “tidak” pada pernyataan membuat indikator tentang aspek psikomotor. Guru perlu membuat indikator tentang aspek psikomotor untuk mengetahui perilaku anak saat mengerjakan soal maupun setelah mengerjakan soal. Namun dalam kenyataannya, masih ada 1 guru (3%) yang menjawab tidak pada mengubah nilai huruf atau angka kesimbol pada siswa yang berkebutuhan khusus untuk menerangkan nilai arti yang sesungguhnya.
Pada item 15 dari 30 guru, ada 29 guru (97%) yang menjawab “ya” dan 1 guru yang menjawab “tidak” pada pernyataan membuat instrumen observasi untuk meninjau ketrampilan siswa. Setiap siswa mempunyai keterampilan yang berbeda-beda maka dari itu guru perlu membuat instrumen observasi untuk mengembangkan keterampilan yang siswa miliki.