BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
Dari hasil olah data, diketahui bahwa evaluasi belajar tes maupun non tes cukup seimbang digunakan oleh guru di sekolah dasar inklusi se- Kabupaten Sleman untuk mengetahui perkembangan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik belajar siswa. Oleh karena itu, jenis tes dan non tes perlu dilakukan guru untuk melihat perkembangan anak berkebutuhan khusus dan anak yang tidak berkebutuhan secara khusus. Guru perlu memiliki kemampuan untuk mengevaluasi:
1. Evaluasi Belajar dengan Aspek Tes
Evaluasi belajar dengan tes adalah cara penilaian dan pengukuran yang berbentuk pemberian tugas. Pemberian tugas yang diberikan berupa pertanyaan atau soal untuk siswa. Evaluasi belajar dengan tes, guru dapat memberikan tugas yang diberikan dengan cara serangkaian pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan tersebut diberikan sebelum pelajaran (pre-test) sebagai asesmen awal maupun diberikan sesudah pelajaran (post-test) sebagai asesmen akhir. Soal-soal yang disusun oleh guru disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Hasil dari tes dapat dijadikan acuan untuk melakukan penilaian kognitif sekaligus menjadi dasar untuk melakukan penilaian berkelanjutan.
2. Evaluasi Belajar dengan Aspek Non Tes
Evaluasi belajar dengan non tes adalah penilaian untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik, sikap, atau kepribadian siswa. Bentuk non tes dapat berupa rubrik pengamatan. Evaluasi belajar
dengan non tes, guru dapat melakukan pengamatan sebelum, saat, dan sesudah pelajaran sebagai asesmen awal, tengah, dan akhir. Hasil dari pengamatan dapat digunakan dalam rubrik penilaian afektif dan psikomotorik.
Rubrik penilaian afektif misalnya ada pernyataan yang mengarah pada perilaku yang menunjukan adanya perkembangan siswa dalam hal ketekunan, kedisiplinan, kesabaran, kerja keras, minat dan sebagainya. Contoh rubrik perkembangan afeksi untuk siswa slow learner adalah siswa tekun mengerjakan tugas atau soal sesuai perpanjangan waktu yang telah diberikan oleh guru dan untuk contoh perkembangan afeksi bagi anak siswa yang tidak berkebutuhan khusus adalah siswa sabar menunggui temannya yang berkebutuhan secara khusus untuk menyelesaikan tugas atau soal yang diberikan oleh guru. Pemberian contoh rubrik perkembangan afektif dan psikomotorik ini karena di sekolah dasar inklusi se-Kabupaten Sleman paling banyak adalah siswa yang mengalami slow learner.
Rubrik penilaian psikomotorik misalnya ada pernyataan yang memandu guru untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mendengarkan perintah guru, mempresentasikan tugas, kesediaan membantu teman dan sebagainya. Rubrik penilaian disesuaikan dengan instrumen penilaian hasil belajar. Contoh rubrik penilaian psikomotorik untuk siswa slow learner adalah siswa dapat mendengarkan perintah dari guru dengan baik untuk mengerjakan tugas atau soal dan untuk
siswa yang tidak berkebutuhan secara khusus rubrik penilaian psikomotoriknya adalah siswa bersedia membantu temannya yang berkebutuhan khusus untuk menyelesaikan tugasnya.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mengadakan lokakarya bagi guru tentang pentingnya mengetahui dan menguasai evaluasi belajar yang digunakan di sekolah dasar inklusi, khususnya evaluasi belajar dengan aspek tes dan non tes yang menjadi ciri khas dalam evaluasi belajar di sekolah inklusi. Guru dalam penggunaan evaluasi belajar perlu memahami dan mengetahui tingkat kemampuan siswa. Guru juga perlu memahami kecerdasan ganda agar dapat memadukan evaluasi belajar dengan kecerdasan ganda siswa secara maksimal di sekolah inklusi sehingga guru dapat membantu siswa untuk mengembangkan potensi/kemampuan yang dimiliki siswa tersebut.
Dari uraian di atas maka kesimpulan hasil penelitian tentang evaluasi belajar yang digunakan guru di sekolah dasar inklusi se- Kabupaten Sleman yaitu:
1. Guru sekolah dasar inklusi perlu menguasai evaluasi belajar dengan aspek tes dan non tes agar dapat membantu siswa berkebutuhan khusus untuk mengembangkan potensinya.
2. Guru perlu mengembangkan kemampuan mengevaluasi hasil belajar siswa agar dapat menerapkan evaluasi belajar yang sesuai dengan karakteristik siswa berkebutuhan khusus.
3. Guru perlu mengaitkan evaluasi belajar dengan kecerdasan ganda, sebab kecerdasan ganda yang dimiliki masing-masing siswa berbeda. Memadukan kecerdasan ganda yang dimiliki siswa dengan evaluasi belajar yang digunakan dapat membantu siswa untuk menggali potensi yang dimiliki.
4. Guru mampu mengembangkan kecerdasan ganda yang dimiliki masing-masing siswa agar siswa berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk menjadi sukses terlepas dari kekurangan yang dimiliki.
5. Orangtua tidak perlu merasa berkecil hati ketika memiliki anak dengan kebutuhan khusus, sebab apabila dibimbing dengan evaluasi belajar yang sesuai, maka anak berkebutuhan khusus mampu menyamakan dirinya dengan anak yang tidak berkebutuhan secara khusus.
6. Orangtua sebaiknya dengan sadar dan mengetahui bahwa setiap anak berkebutuhan khusus dan anak yang tidak berkebutuhan secara khusus mendapatkan porsi pendidikan yang sesuai dengan potensi/kemampuan yang dimiliki.
66 BAB V PENUTUP
Bab V dalam penelitian ini peneliti menguraikan tiga hal yang diuraikan dalam bagian penutup adalah kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di sekolah inklusi se- Kabupaten Sleman dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a. Di sekolah dasar inklusi se-Kabupaten Sleman guru menggunakan 2 aspek yaitu tes dan non tes. Bentuk evaluasi belajar dengan tes, yaitu melakukan asesmen awal dan akhir, melakukan penilaian hasil belajar sesuai dengan kemampuan ABK, melakukan penilaian kognitif, dan melakukan penilaian secara berkelanjutan. Bentuk evaluasi belajar dengan non tes, yaitu melakukan asesmen awal, tengah, dan akhir, melakukan penilaian afektif, melakukan penilaian psikomotorik, dan menyesuaikan instrumen penilaian hasil belajar.
b. Bentuk evaluasi belajar tersebut mendapatkan persentase penggunaan yang bervariasi, yaitu melakukan asesmen awal dan akhir 12.37%, melakukan penilaian hasil belajar sesuai dengan kemampuan ABK 11.88%, melakukan penilaian kognitif 12,87%, melakukan penilaian secara berkelanjutan 14.35%, melakukan asesmen awal, tengah, dan akhir 13.36%, melakukan penilaian afektif 9.90%, melakukan penilaian psikomotorik 10.89%, dan menyesuaikan instrumen penilaian hasil belajar
14.35. Jadi, di Kabupaten Sleman presentase penggunaan penilaian evaluasi yang paling sering digunakan adalah melakukan penilaian secara berkelanjutan dan menyesuaikan instrumen penilaian hasil belajar.
5.2 Keterbatasan Penelitian
Peneliti dalam melakukan penelitian ini menyadari sungguh bahwa masih banyak kelemahan dan keterbatasan yang dialami. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Instrumen yang peneliti kembangan ditunjukan untuk mencari data awal dalam penelitian, sehingga instrumen yang dikembangkan belum mencakup evaluasi belajar dengan maksimal.
b. Kuesioner yang dibagikan menggunakan pertanyaan dengan jawaban tertutup maka kurang menggali data deskripsi.
5.3 Saran
Saran yang diberikan peneliti akan digunakan sebagai masukan dan bahan perbaikan unruk penelitian selanjutnya agar jangan sampai ada keterbatasan penelitian yang menghambat proses pembelajaran, diantaranya yaitu:
a. Peneliti selanjutnya perlu memberikan pertanyaan terbuka sehingga data yang didapat bervariasi.
b. Peneliti lain perlu menyusun instrumen yang mencakup seluruh evaluasi belajar supaya mendapat data yang lebih akurat.
68
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2008. Evaluasi program pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Balitbang. 2003. Penilaian tingkat kelas, pedoman bagi guru SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK. Depdiknas: Jakarta.
Budiningsih, Asri. 2012. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Delphie, Bandi. 2009. Pembelajaran anak berkebutuhan khusus dalam setting pendidikan. Jakarta: Erlangga.
Djamarah, Syaiful. 2000. Guru dan siswa dalam interaksi eduktif. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Effendi,Muhammad. 2006. Pengantar psikopendagogik anak berkelainan. Jakarta: PT bumi aksara.
Haryati, Mimin. 2008. Model dan teknik penilaian pada tingkat satuan pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Heward. 2004. Pedoman penyelenggaraan pendidikan inklusi. Jakarta: Depdiknas.
Ilahi, Mohammad Takdir. 2013. Pendidikan inklusif konsep dan aplikasinya. Yogyakarta: Arr-Ruzz Media.
Jasmine, Julia. 2012. Metode mengajar multiple intelegences. Bandung: Nuansa Cendekia.
Kountur, R. (2003). Metode penelitian untuk penulisan skripsi dan tesis. Jakarta: CV Teruna Grafica.
Kusnandar, dede.2011. Pentingnya pendidikan inklusi. Bandung: Nuansa Cendekia.
Mahdi, A. dan Mujahidin. (2014). Panduan penelitian praktis untuk menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Bandung: ALFABETA.
Mulyasa, E. 2008. Menjadi guru prefesional menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Jakarta: PT Remaja Rosdakarya.
Naim, Ngainun. 2009. Menjadi guru inklusif. Yogyakarta: Pustaka Pustaka. Nurdin, Syarifuddin. 2003. Guru prefosional dan implementasi kurikulum.
Pidarta, Made. 2000. Landasan kependidikan. Jakarta: Rineka cipta.
Prawira, Atmaja. P. 2013. Psikologi pendidikan dalam perspektif baru. Yogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Purwanto. 2014. Evaluasi hasil belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Safaria, T. 2005. Interpersonal intelegence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta: Amara Books.
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan desain sistem pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Santoso, Hargio. 2012. Cara memahami dan mendidik anak berkebutuhan khusus. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Semiawan, Conny. 1997. Perspektif pendidikan anak berbakat. Jakarta: Grasindo. Shaleh, Abdul Rahman. 2008. Psikologi suatu sengantar dalam perspektif islam.
Jakarta: Kencana.
Subini, Nini. 2014. Pengembangan pendidikan inklusi berbasis potensi. Yogyakarta: Redaksi Maxima.
Sudijono, Anas. 1996. Pengantar evaluasi pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sudijono, Anas. 2009. Pengantar evaluasi pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sugiyono. (2011). Metode penelitian pendidikan (pendekatan luantitatif, kualitatif, dan R:D). Bandung: ALFABETA.
Suharsaputra, U. (2014). Metode penelitian: kuantitatif, kualitatif dan tindakan. Bandung: PT. Refika Aditama.
Suparno, Paul. 2009. Teori intelegensi ganda dan aplikasinya di sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2010. Metode penelitian pendidikan. Bandung: PT. Remaja Posdakarya.
Suyadi.2013. Strategi pembelajaran pendidikan karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Taniredja, Tukiran dan Hidayati Mustafidah. 2012. Penelitian kuantitatif sebuah pengantar. Bandung: Alfabeta.
Tarmansyah. 2007. Pendidikan inklusi. Jakarta: Erlangga.
Widoyoko, Eko Putro. 2011. Evaluasi program pembelajaran. Yoyakarta: Pustaka Pelajar.
Yusuf, M. 2014. Metode penelitian: kuantitatif, kualitatif & penelitian gabungan. Jakarta: Prenadamedia Group.