HASIL PENELITIAN
B. Deskripsi Hasil Penelitian 1.Prasiklus 1.Prasiklus
Sebelum melaksanakan tindakan, keadaan nyata yang ada di lapangan adalah rendahnya minat membaca dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang ditunjukkan dengan tidak sedikitnya siswa yang menanyakan jawaban, baik pada guru maupun teman sebangku ketika diberi soal/ tugas dari guru tanpa adanya kemauan membaca materi pelajaran sebelumnya dan kurangnya ketertarikan serta perhatian siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama pada keterampilan membaca. Berdasarkan pengamatan peneliti selama bulan November 2010 terhadap siswa kelas IV dan dibuktikan dengan hasil angket yang menunjukkan persentase siswa yang mempunyai minat membaca kurang dari 3,01 (kriteria sedang, rendah dan sangat rendah) sebanyak 70% dari 30 siswa. Sebagai gambaran awal kegiatan pembelajaran di kelas IV masih banyak terdapat kekurangan, antara lain siswa kurang tertarik dengan pembelajaran karena guru menggunakan metode yang konvensional dalam pembelajaran. Metode konvensional yang dipakai guru adalah ceramah, sehingga siswa cenderung pasif dan bermalas-malasan ketika pembelajaran berlangsung.
Penggunaan metode yang masih konvensional kurang mendukung perkembangan siswa dalam peningkatan minat membaca. Oleh karena itu, banyak siswa yang terlihat bermalas-malasan ketika pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya ketika siswa dituntut untuk membaca. Hasil angket minat membaca siswa pada prasiklus dapat dilihat pada lampiran 11 (halaman 106). Berdasarkan hasil angket prasiklus tersebut diperoleh nilai rata-rata klasikal minat membaca siswa 2,50. Hasil minat membaca siswa pada prasiklus melalui angket diperjelas dalam tabel 3 berikut ini:
commit to user
Tabel 3. Hasil Minat Membaca Siswa Prasiklus Melalui Angket
No Kelas Jumlah Persentase Kriteria
1 0,00-1,00 0 0 Sangat Rendah 2 1,01-2,00 8 26,67 Rendah 3 2,01-3,00 13 43,33 Sedang 4 3,01-4,00 6 20 Tinggi 5 4,01-5,00 3 10 Sangat Tinggi JUMLAH 30 100 -
Berdasarkan tabel 3 di atas dapat diketahui jumlah siswa yang mempunyai minat membaca pada tiap kelas interval. Pada prasiklus dari 30 siswa sebesar 26,67% siswa mempunyai minat membaca rendah, yaitu dalam kelas interval 1,01-2,00, 43,33% siswa mempunyai minat membaca sedang, yaitu dalam kelas interval 2,01-3,00, 20% siswa mempunyai minat membaca tinggi, yaitu dalam kelas interval 3,01-4,00 dan 10% siswa mempunyai minat membaca sangat tinggi, yaitu dalam kelas interval 4,01-5,00. Dengan demikian, hanya 30% siswa yang mempunyai minat membaca lebih dari 3,00 (kriteria tinggi dan sangat tinggi).
Berdasarkan tabel 3 di atas dapat disajikan ke dalam grafik untuk mempermudah pemahaman seperti pada gambar 5 di bawah ini:
0 8 13 6 3 0 2 4 6 8 10 12 14 prasiklus 0,00-1,00 1,01-2,00 2,01-3,00 3,01-4,00 4,01-5,00
commit to user
Berdasarkan gambar 5 ditunjukkan jumlah siswa pada tiap kelas interval. Dari 30 siswa kelas IV Sekolah Negeri Pabelan 02 Kartasura Sukoharjo, siswa yang mempunyai minat membaca rendah terdapat dalam kelas interval 1,01–2,00 sebanyak 8 siswa, siswa yang mempunyai minat membaca sedang terdapat dalam kelas interval 2,01–3,00 sebanyak 13 siswa, siswa yang mempunyai minat membaca tinggi terdapat dalam kelas interval 3,01–4,00 sebanyak 6 siswa dan siswa yang mempunyai minat membaca sangat tinggi terdapat dalam kelas interval 4,01–5,00 sebanyak 3 siswa. Dengan demikian, hanya 9 siswa yang mempunyai minat membaca lebih dari 3,00 (tinggi maupun sangat tinggi) dan 21 siswa lainnya mempunyai minat membaca di bawah 3,00 (kriteria sedang, rendah, dan sangat rendah).
2. Siklus I
Tindakan pada siklus I dilaksanakan selama 2 minggu mulai dari tanggal 1 sampai 15 Februari 2011 sebanyak 3 kali pertemuan. Adapun tahapan yang dilaksakan adalah sebagai berikut :
a. Perencanaan
Dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disusun, peneliti melakukan langkah-langkah pembelajaran dengan metode mendongeng (story telling) sebagai bentuk pembiasaan, antara lain :
1) Pemberian tugas kepada siswa untuk membaca sebuah bacaan dan meringkas hasil bacaan tersebut.
2) Menyiapkan lembar angket minat membaca siswa pada lampiran 3 (halaman 93), lembar pedoman wawancara minat membaca siswa pada lampiran 5 (halaman 97), dan lembar pedoman wawancara guru pada lampiran 7 (halaman 100), serta lembar pengamatan minat membaca siswa pada lampiran 8 (halaman 101).
b. Pelaksanaan
Dalam tahap ini, guru menyiapkan pembelajaran seperti yang tertulis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun
commit to user
pada lampiran 12 dan 13 (halaman 107 dan 112). Rencana pembelajaran yang telah disusun pada siklus I dengan menggunakan metode mendongeng (story telling) pada akhir kegiatan pembelajaran ini akan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan.
1) Pertemuan Pertama
Pada pertemuan pertama, materi Bahasa Indonesia yang diajarkan adalah mengenai pembahasan soal-soal latihan dari guru kelas. Adapun penerapan metode mendongeng (story telling) pada pertemuan ini belum dilaksanakan, hanya berupa sosialisasi dan perkenalan. Pembahasan soal-soal latihan disertai dengan penjelasan-penjelasan ulang tiap soal. Soal latihan tersebut merupakan tugas rumah yang diberikan oleh guru kelas dan peneliti hanya diberi tanggung jawab untuk membahas dan mengulasnya.
Adapun di kegiatan akhir, peneliti mensosialisasikan metode mendongeng (story telling) yang akan dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya. Siswa mendapatkan tugas untuk membaca teks yang telah dipersiapkan peneliti dan meringkas bacaan tersebut, yang akan disampaikan di depan kelas pada pertemuan selanjutnya.
2) Pertemuan Kedua
Pada pertemuan kedua, materi Bahasa Indonesia yang diajarkan adalah mengenai menulis pengumuman. Namun, metode mendongeng (story telling) ini tidak ada hubungan langsung dengan materi pembelajaran ini. Metode mendongeng digunakan di akhir kegiatan pembelajaran sebagai sisipan untuk menciptakan suatu kebiasaan membaca. Kegiatan awal dimulai dengan apersepsi berupa tanya jawab tentang pengumuman yang diketahui siswa, menarik perhatian siswa dengan melakukan permainan tepuk konsentrasi, dan menyampaikan tujuan dari pembelajaran.
Kegiatan inti dimulai dengan penjelasan materi tentang menulis pengumuman dari guru dan pemberian kesempatan bertanya kepada
commit to user
siswa. Setelah itu, salah seorang siswa diminta menyimpulkan hasil penjelasan guru. Siswa diminta untuk membuat contoh teks pengumuman secara individu dan boleh melihat catatan.
Hasil dari pekerjaan siswa dikumpulkan dan salah satu pekerjaan dikoreksi bersama-sama agar mengetahui letak kekurangannya. Sehingga, siswa dapat mengetahui kekurangan dalam teks pengumuman masing-masing. Guru dan siswa menyimpulkan bersama hasil dari kegiatan pembelajaran tersebut. Untuk lebih meyakinkan tentang penguasaan materi menulis pengumuman, guru membagikan lembar evaluasi.
Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, kurang lebih 15 menit terakhir digunakan untuk mendongeng. Dalam kegiatan ini, semua siswa mengumpulkan hasil ringkasan/ resensi bacaan yang telah dibaca di rumah sebagai bentuk tugas pada pembelajaran sebelumnya. Selanjutnya, salah seorang siswa maju ke depan kelas (baik ditunjuk maupun kesadaran siswa) untuk mendongeng/ bercerita. Siswa lain memperhatikan/ menyimak teman yang mendongeng/ bercerita di depan kelas. Setelah selesai, semua siswa dipersilahkan untuk bertanya tentang cerita yang disampaikan, dan teman yang bercerita akan menjawab pertanyaan tersebut. Guru menanyakan beberapa pertanyaan kepada semua siswa tentang cerita yang disampaikan secara bergantian.
3) Pertemuan Ketiga
Pada pertemuan ketiga, materi Bahasa Indonesia yang diajarkan adalah mengenai membaca pengumuman. Sama seperti pertemuan kedua, metode mendongeng (story telling) ini tidak ada hubungan langsung dengan materi pembelajaran ini. Metode mendongeng digunakan di akhir kegiatan pembelajaran sebagai sisipan untuk menciptakan suatu kebiasaan membaca. Kegiatan awal dimulai dengan apersepsi berupa tanya jawab tentang pelajaran yang, menarik perhatian siswa dengan
commit to user
melakukan permainan tepuk konsentrasi, dan menyampaikan tujuan dari pembelajaran.
Kegiatan inti dimulai dengan penjelasan materi tentang cara membaca pengumuman yang sesuai dengan lafal dan intonasi dari guru dan pemberian kesempatan bertanya kepada siswa. Setelah itu, salah seorang siswa diminta memberikan contoh membaca pengumuman yang sesuai lafal dan intonasi. Siswa diminta untuk berlatih membaca teks pengumuman secara berkelompok dan boleh melihat catatan.
Beberapa siswa yang telah siap menampilkan hasil latihannya dipersilahkan maju ke depan kelas dan teman yang lain menyimak serta mengoreksi/ mengomentari penampilan tersebut bersama-sama agar mengetahui letak kekurangannya. Sehingga, siswa dapat mengetahui kekuranganya dan membenahi kekurangan tersebut. Guru dan siswa menyimpulkan bersama hasil dari kegiatan pembelajaran tersebut. Untuk lebih meyakinkan tentang penguasaan materi membacapengumuman, guru membagikan lembar evaluasi.
Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, kurang lebih 30 menit terakhir digunakan untuk mendongeng. Dalam kegiatan ini, semua siswa mengumpulkan hasil ringkasan/ resensi bacaan yang telah dibaca di rumah sebagai bentuk tugas pada pembelajaran sebelumnya. Selanjutnya, salah seorang siswa maju ke depan kelas (baik ditunjuk maupun kesadaran siswa) untuk mendongeng/ bercerita. Siswa lain memperhatikan/ menyimak teman yang mendongeng/ bercerita di depan kelas. Setelah selesai, semua siswa dipersilahkan untuk bertanya tentang cerita yang disampaikan, dan teman yang bercerita akan menjawab pertanyaan tersebut. Guru menanyakan beberapa pertanyaan kepada semua siswa tentang cerita yang disampaikan secara bergantian.
Kegiatan mendongeng telah selesai dan sisa waktu digunakan untuk mengisi angket minat membaca siswa, sebagai barometer minat
commit to user
membaca siswa setelah siklus I dilaksanakan. Pengisian angket siswa dilakukan dengan bantuan/ arahan dari guru.
c. Observasi
Pada tahap observasi dilakukan pengamatan terhadap kegitan siswa selama pembelajaran, khususnya 15 menit terakhir. Proses observasi dilakukan oleh guru kolabolator untuk memudahkan dalam penelitian. Data pengamatan terhadap minat membaca siswa dapat dilihat pada lampiran 18 (halaman 123).
Selama pembelajaran dapat diketahui siswa menjadi lebih tertarik dengan adanya metode mendongeng (story telling), sedikit-banyaknya siswa yang menanyakan kapan mendongengnya dan meminta segera memulai mendongengnya. Persiapan siswa juga mendukung pembelajaran. Hal ini karena apa yang diterima siswa merupakan suatu hal yang sama sekali baru bagi mereka.
Proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, bahkan siswa terlalu bersemangat untuk mendongeng, hampir-hampir semua anak ingin maju ke depan kelas untuk mendongeng. Namun, ada sedikit kelemahan dalam siklus I ini, yaitu siswa kurang memperhatikan teman yang mendongeng.
Kegiatan siswa diamati seperti yang terlampir dalam lampiran 18 (halaman 123). Siswa kelas IV sudah memiliki kedisiplinan tinggi, hanya beberapa anak yang terlihat enggan mengikuti pelajaran. Mereka terlihat antusias untuk segera melaksanakan kegiatan mendongeng tersebut. Suasana lingkungan belajar juga sangat baik dalam mendukung proses pembelajaran. Pada siklus I siswa sudah mulai menunjukkan peningkatan minat membaca, dapat dikatakan siswa menjadi lebih tertarik dengan buku bacaan. bahkan ketika istirahat pun mulai ada siswa yang terlihat berkelompok membaca buku bacaan bersama-sama. Serta hasil kuesioner yang telah dikerjakan mengalami peningkatan mutu dan hasil wawancara dengan siswa menunjukkan adanya peningkatan terhadap minat membaca.
commit to user
Setelah diadakan tindakan pada siklus I, berikut ini adalah hasil pengukuran minat membaca siswa melalui angket (kuesioner) dan wawancara
1) Minat Membaca Siswa Siklus I Melalui Angket
Data minat membaca siswa pada siklus I dengan pengukuran melalui angket dapat dilihat lebih lengkapnya pada lampiran 14 (halaman 117). Dalam data tersebut diperoleh nilai rata-rata klasikal minat membaca siswa 3,06. Hasil minat membaca siswa pada siklus I melalui angket diperjelas dalam tabel 4 berikut ini:
Tabel 4. Hasil Minat Membaca Siswa Siklus I Melalui Angket
No Kelas Jumlah Persentase Kriteria
1 0,00-1,00 0 0 Sangat Rendah 2 1,01-2,00 6 20 Rendah 3 2,01-3,00 5 16,67 Sedang 4 3,01-4,00 15 50 Tinggi 5 4,01-5,00 4 13,33 Sangat Tinggi JUMLAH 30 100 -
Berdasarkan tabel 4 di atas dapat dilihat persentase siswa pada masing-masing kelas interval. Dari 30 siswa kelas IV SD Negeri Pabelan 02 Kartasura, sebesar 20% siswa mempunyai minat membaca rendah pada kelas interval 1,01-2,00 dan 16,67% siswa mempunyai minat membaca sedang pada kelas interval 2,01-3,00. Sedangkan 63,33% siswa lainnya terbagi dalam kriteria minat membaca tinggi pada kelas interval 3,01-4,00 sebesar 50% dan 13,33% siswa pada kriteria minat membaca sangat tinggi, yaitu dalam kelas interval 4,01-5,00. Dengan demikian, hanya 63,33% siswa yang mempunyai minat membaca lebih dari 3,00 (kriteria tinggi dan sangat tinggi).
commit to user
Berdasarkan data pada tabel 4 akan disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 6 berikut ini :
0 6 5 15 4 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Siklus I 0,00-1,00 1,01-2,00 2,01-3,00 3,01-4,00 4,01-5,00
Gambar 6. Grafik Minat Membaca Siswa Siklus I Melalui Angket
Pada gambar 6 di atas ditunjukkan frekuensi dari masing-masing kelas interval. Siswa yang mempunyai minat membaca rendah terdapat dalam kelas interval 1,01–2,00 sebanyak 6 siswa, siswa yang termasuk dalam kriteria minat membaca sedang terdapat dalam kelas interval 2,01–3,00 sebanyak 5 siswa, siswa yang termasuk dalam criteria minat membaca tinggi terdapat dalam kelas interval 3,01–4,00 sebanyak 15 siswa dan siswa yang termasuk dalam kriteria minat membaca sangat tinggi terdapat dalam kelas interval 4,01–5,00 sebanyak 4 siswa. Dengan jumlah keseluruhan 30 siswa, masih terdapat 11 siswa yang belum mempunyai minat membaca lebih dari 3,00 (kriteria tinggi dan sangat tinggi).
2) Minat Membaca Siswa Siklus I Melalui Wawancara
Selain data minat membaca siswa melalui angket, diperoleh juga data pengamatan minat membaca siswa melalui wawancara langsung dengan masing-masing siswa yang terlampir pada lampiran 16
commit to user
(halaman 121) dan wawancara dengan guru pada lampiran 17 (halaman 122). Berdasarkan nilai hasil wawancara siswa diperoleh nilai rata-rata klasikal minat membaca siswa 3,00.
Hasil minat membaca siswa pada siklus I melalui wawancara diperjelas dalam tabel 5 berikut ini:
Tabel 5. Hasil Minat Membaca Siswa Siklus I Melalui Wawancara
No Kelas Jumlah Persentase Kriteria
1 0,00-1,00 0 0 Sangat Rendah 2 1,01-2,00 6 20 Rendah 3 2,01-3,00 5 16,67 Sedang 4 3,01-4,00 15 50 Tinggi 5 4,01-5,00 4 13,33 Sangat Tinggi JUMLAH 30 100 -
Berdasarkan tabel 5 di atas dapat dilihat persentase siswa pada masing-masing kelas interval. Dari 30 siswa kelas IV SD Negeri Pabelan 02 Kartasura, sebesar 20% siswa mempunyai minat membaca rendah yaitu termasuk dalam kelas interval 1,01-2,00 dan 16,67% siswa mempunyai minat membaca sedang, yaitu termasuk dalam kelas interval 2,01-3,00. Sedangkan 63,33% siswa lainnya mempunyai minat membaca tinggi dan sangat tinggi, yaitu dalam kelas interval 3,01-4,00 dengan kriteria minat membaca tinggi sebesar 50% siswa dan dalam kelas interval 4,01-5,00 dengan kriteria minat membaca sangat tinggi sebesar 13,33% siswa. Dengan demikian, hanya 63,33% siswa yang mempunyai minat membaca lebih dari 3,00 (kriteria tinggi maupun sangat tinggi).
commit to user
Berdasarkan data pada tabel 5 akan disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 7 berikut ini :
0 6 5 15 4 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Siklus I 0,00-1,00 1,01-2,00 2,01-3,00 3,01-4,00 4,01-5,00
Gambar 7. Grafik Minat Membaca Siswa Siklus I Melalui Wawancara
Pada gambar 7 di atas ditunjukkan frekuensi dari masing-masing kelas interval. Siswa yang mempunyai minat membaca rendah termasuk dalam kelas interval 1,01–2,00 sebanyak 6 siswa dan dalam kelas interval 2,01–3,00 sebanyak 5 siswa dengan kriteria minat membaca sedang. Sedangkan 19 siswa lainnya mempunyai minat membaca tinggi dan sangat tinggi, 15 siswa termasuk dalam kelas interval 3,01–4,00 dengan kriteria minat membaca tinggi dan sebanyak 4 siswa dalam kelas interval 4,01–5,00 dengan kriteria minat membaca sangat tinggi. Dengan jumlah keseluruhan 30 siswa, masih terdapat 11 siswa yang belum mempunyai minat membaca lebih dari 3,00 (kriteria tinggi maupun sangat tinggi).
3) Minat Membaca Siswa Siklus I
Minat membaca siswa pada siklus I diperoleh berdasarkan data gabungan antara minat membaca siswa melalui angket (kuesioner) dan wawancara dalam lampiran 20 (halaman 126). Hasil minat membaca siswa pada siklus I diperjelas dalam tabel 6 berikut ini:
commit to user
Tabel 6. Minat Membaca Siswa Siklus I
No Kelas Minat Membaca Kriteria
f % 1 0,00 – 1,00 0 0 Sangat Rendah 2 1,01 – 2,00 6 20 Rendah 3 2,01 – 3,00 5 16,67 Sedang 4 3,01 – 4,00 15 50 Tinggi 5 4,01 – 5,00 4 13,33 Sangat Tinggi JUMLAH 30 100
Berdasarkan tabel 6 di atas dapat diketahui persentase siswa di tiap kelas. Persentase jumlah siswa yang mempunyai minat membaca rendah pada kelas interval 1,01–2,00 sebanyak 20%, persentase siswa yang mempunyai minat membaca sedang pada kelas interval 2,01–3,00 sebanyak 16,67%, persentase siswa yang mempunyai minat membaca tinggi pada kelas interval 3,01–4,00 sebanyak 50%, dan siswa yang mempunyai minat membaca sangat tinggi pada kelas interval 4,01–5,00 sebanyak 4%.
Data pada tabel 6 akan disajikan dalam bentuk grafik pada gambar 8 berikut ini :
0 6 5 15 4 0 2 4 6 8 10 12 14 16
minat membaca siswa
, – , , – , , – , , – , , – ,
commit to user
Berdasarkan gambar 8 di depan dapat diketahui adanya persamaan jumlah siswa di tiap kelas. Jumlah siswa yang mempunyai minat membaca rendah pada kelas interval 1,01–2,00 sebanyak 6 siswa, jumlah siswa yang mempunyai minat membaca sedang pada kelas interval 2,01–3,00 sebanyak 5 siswa, jumlah siswa yang mempunyai minat membaca tinggi pada kelas interval 3,01–4,00 sebanyak 15 siswa, dan siswa yang mempunyai minat membaca sangat tinggi pada kelas interval 4,01–5,00 sebanyak 4 siswa.
Berdasarkan data hasil minat membaca siswa melalui angket dan wawancara diperoleh kesimpulan persentase banyaknya siswa yang mempunyai minat membaca lebih dari 3,00 ( kriteria tinggi dan sangat tinggi) adalah 63,33%, yaitu 19 siswa dan siswa yang mempunyai minat membaca kurang dari 3,00 (kriteria sedang, rendah, dan sangat rendah) adalah 36,67%, yaitu sebanyak 11 siswa. Sedangkan rata-rata minat membaca secara klasikal sesuai dengan lampiran 20 (halaman 126) diperoleh 3,03.
d. Refleksi
Selama tindakan siklus I diperoleh data berupa rekap angket minat membaca siswa, data hasil pengamatan kegiatan siswa, rekap hasil wawancara guru dan siswa, serta data hasil dokumentasi, baik foto maupun rekaman.
Dalam siklus I indikator kinerja yang telah ditentukan telah tercapai, yaitu 63,33% siswa mempunyai minat membaca lebih dari 3,00 (kriteria tinggi dan sangat tinggi), yaitu sebanyak 19 siswa. Setelah pelaksanaan siklus I, peneliti masih mengharapkan bisa meningkatkan lagi minat membaca siswa.
Setelah berdiskusi dengan guru kolabolator, diperoleh kesimpulan mengenai hal-hal yang menyebabkan peningkatan minat membaca anak kurang maksimal, antara lain :
commit to user
1) Penyediaan bahan bacaan kurang memadai, karena sistem peminjaman di perpustakaan dibatasi dengan hari kunjungan dan hari peminjaman. Hal ini berakibat siswa yang tidak mempunyai koleksi bahan bacaan sulit untuk mendapatkan bahan bacaan.
2) Perhatian anak untuk menyimak teman yang bercerita kurang terpusat, karena kurang adanya tindak lanjut setelah mendongeng selain kegiatan tanya jawab dari guru. Hal ini mengakibatkan hanya anak yang memperhatikan dengan sungguh-sungguh yang dapat menjawab pertanyaan dari guru.
3) Siswa masih malu untuk mendongeng di depan kelas, karena siswa tidak terbiasa untuk menampilkan sesuatu dengan mandiri di depan teman-temannya.
3. Siklus II
Pada tindakan siklus II dilaksanakan selama dua minggu mulai tanggal 16 s/d 28 Februari 2010. Pada siklus ini dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan, adapun perincian tahapan yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut :
a.Perencanaan
Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi pelaksanaan tindakan pada siklus I diketahui bahwa peningkatan minat membaca siswa dengan menggunakan metode mendongeng (story telling) telah memenuhi target. Akan tetapi, meningkatnya minat membaca siswa tersebut kurang memuaskan, maka perlu dilakukan tindakan lanjutan untuk meningkatkan minat membaca siswa lagi. Karena pada dasarnya metode mendongeng ini didasarkan pada pembiasaan untuk membaca dan menceritakan kembali hasil bacaannya, maka penyusunan rencana pembelajaran masih sama seperti siklus I hanya saja materi pelajaran yang disampaikan berbeda. Pembiasan membaca perlu dibiasakan dan dijaga kelangsungannya agar tetap bertahan siswa tersebut membaca. Untuk beberapa saat mungkin bisa
commit to user
dikatakan paksaan/ tuntutan, tetapi kemudian waktu dapat berubah menjadi kebiasaan bahkan hingga kesenangan membaca.
Mengingat hasil analisis terhadap pekerjaan siswa pada siklus I tersebut sebagian siswa masih rendah minat membacanya. Hal ini karena siswa sulit mendapatkan bahan bacaan dan kurang adanya tindak lanjut sebagai wujud paksaan/ tuntutan setelah mendongeng. Oleh karena itu diadakan pembedaan dalam pelaksanaan peningkatan minat membaca melalui metode mendongeng (story telling) antara siklus I dengan siklus II. Perbedaannya terletak pada penyediaan bahan bacaan dan bentuk tindak lanjut setelah mendongeng, yaitu siswa dapat mengunjungi perpustakaan di setiap istirahat dan dibolehkan meminjam buku bacaan dalam waktu dua hari, serta bentuk tindak lanjut berupa lembar menyimak yang harus dikerjakan oleh setiap siswa.
b. Pelaksanaan
Tindakan pada siklus II ini berdasarkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Siklus II dilaksanakan dalam tiga pertemuan.
1) Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama pada tindakan siklus II dilaksanakan selama tiga jam pelajaran yaitu 105 menit. Kegiatan diawali dengan berdoa dan melakukan presensi. Selanjutnya apersepsi, tanya jawabuntuk mengingat kembali materi yang telah diajarkan pada siklus I. Siswa diberi pertanyaan tentang pengumuman.
Pada kegiatan inti, siswa dikelompokkan dengan jumlah anggota 4 anak untuk melakukan diskusi. Guru membagikan sebuah bacaan kepada setiap kelompok. Siswa diminta untuk mendiskusikan karangan tersebut untuk mencari kalimat utama dalam setiap paragraf. Salah satu perwakilan kelompok maju mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya tentang kalimat utama di tiap paragraph. Kelompok lain
commit to user
memperhatikan dan mengoreksi apabila ada perbedaan pendapat. Guru dan siswa bersama-sama mengkonfirmasi jawaban yang benar.
Kegiatan akhir dilaksanakan pemantapan mengenai materi kalimat utama dengan merangkum hasil pembelajaran dan mengerjakan soal secara individu. Setelah evaluasi selesai, dilanjutkan dengan kegiatan mendongeng. Semua siswa mengumpulkan hasil ringkasan bacaan yg telah dibacadan salah satu maju ke depan kelas untuk menceritakan bacaan yang telah dibacanya. Siswa lain menyimak teman yang bercerita. Selesai bercerita, guru membagikan lembar simakan yang berisi tentang isi dari bacaan tersebut. Bacaan ini difokuskan kepada cerita rakyat, karena siswa usia kelas empat lebih suka tertarik dengan cerita khayalan, bukan karya ilmiah. Setelah selesai mengerjakan, lembar simakan dikumpulkan dan dilanjutkan sesi tanya jawab. Setelah selesai, siswa diberikan tugas untuk membaca dan meringkas bahan bacaan tersebut untuk dikumpulkan di pertemuan selanjutnya.
2) Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua di siklus II ini tidak ada perbedaan dalam kegiatan mendongeng, yang berbeda terletak pada materi pembelajarannya. Materi pembelajaran yang dibahas adalah lanjutan dari materi sebelumnya, masih dalam lingkup kalimat utama.
Pada kegiatan awal guru melakukan kegiatan rutin yaitu presensi dan berdoa. Untuk memusatkan perhatian siswa guru menggunakan permainan konsentrasi. Guru melakukan apersepsi dengan mengulang pembahasan materi kalimat utama dalam paragraf yaitu melalui tanya jawab tentang materi kalimat utama dalam paragraf dan menghubungkan dengan materi selanjutnya, yaitu jenis paragraph berdasarkan letak kalimat utamanya. Guru juga menyampaikan tujuan pembelajaran agar siswa mengetahui kompetensi yang hendak ingin dicapai dalam pembelajaran.
commit to user
Kegiatan inti berjalan secara berkelompok, yaitu dengan diskusi kelompok kecil menurut teman sebangku untuk menentukan letak kalimat utama dan jenis paragraph berdasarkan letak kalimat