• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Mendongeng ( Story telling ) a.Metode Mendongeng ( Story telling ) a.Metode Mendongeng (Story telling)

Metode mendongeng atau dalam Bahasa Inggris story telling merupakan cara interaktif antar dua orang atau lebih dengan menyampaikan pesan-pesan, yaitu pesan pendidikan, keteladanan, dan kepahlawanan Nuraini (2010) dalam www.fedus.org. Menurut Kusumo Priyono (2006: 1) mendongeng merupakan berkomunikasi dan merekam peristiwa-peristiwa kehidupan mereka secara bertutur turun-temurun jauh sebelum munculnya peninggalan tertulis ataupun buku.

Hirmaningsih dalam (http://bintangbangsaku.com) mendefinisikan mendongeng/ bercerita sebagai penggambaran tentang sesuatu secara verbal yang merupakan stimulus yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental. Bercerita/ mendongeng merupakan suatu proses kreatif anak-anak. Ceritaatau dongeng menawarkan kesempatan menginterpretasi dengan mengenali kehidupan di luar pengalaman langsung mereka (Andi Yudha, 2009: 19).

commit to user

Menurut Handayu (2001) dalam Denok Wijayanti (2007: 26), mendongeng adalah salah satu bentuk atau cara yang dilakukan dalam upaya menjalin komunikasi dalam pendidikan anak. Mendongeng merupakan salah satu cara untuk mengungkap kemampuan berbicara siswa yang bersifat pragmatis. Agar dapat bercerita, paling tidak ada dua hal yang dituntut untuk dikuasai siswa, yaitu unsur linguistik (bagaimana cara bercerita, bagaimana memilih bahasa) dan unsur "apa" yang diceritakan. Ketepatan, kelancaran, dan kejelasan cerita akan menunjukkan kemampuan berbicara siswa.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode mendongeng (story telling) adalah suatu cara interaktif antara dua orang atau lebih dengan tujuan membagikan pengalaman, pengetahuan dan pesan-pesan lainnya kepada orang lain serta menuntut adanya keterlibatan mental.

b. Bentuk-bentuk Mendongeng (Story telling)

Dalam mendongeng, banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mendukung pelaksanaannyadan banyak pula macamnya. Menurut Raja Dongeng Indonesia, Kusuma Priyono (2006: 16) mendongeng (story telling) dibagi menjadi dua, yaitu :

1) Mendongeng tanpa alat peraga

Mendongeng tanpa alat peraga deperti yang dilakukan oleh seorang nenek kepada cucunya, ataupun seorang ibu kepada anaknya ketika menjelang tidur sebagai wujud kasih sayang.

2) Mendongeng dengan alat peraga

Pendongeng bisa mengunakan buku cerita bergambar, sambil memainkan boneka, atau dibantu oleh fragmen, tergantung pada kreativitas pendongeng.

Senada dengan yang disampaikan Kusumo Priyono, Andi Yudha juga menggolongkan bentuk mendongeng (story telling) menjadi dua, yaitu mendongeng tanpa alat peraga atau mendongeng langsung, dan mendongeng dengan alat peraga. Contoh media yang digunakan ketika mendongeng menurut Andi Yudha (2009: 130) adalah :

commit to user 1) Mendongeng menggunakan buku,

2) Mendongeng menggunakan boneka tangan, 3) Mendongeng menggunakan boneka utuh, 4) Mendongeng menggunakan flipchart lepas, 5) Mendongeng menggunakan flipchart ring, 6) Mendongeng menggunakan power point, 7) Mendongeng menggunakan kain,

8) Mendongeng menggunakan kantong kresek, 9) Mendongeng menggunakan benda-benda, 10) Mendongeng menggunakan gambar langsung, 11) Mendongeng menggunakan binatang hidup, 12) Mendongeng menggunakan barang bekas, 13) Mendongeng menggunakan komik,

14) Mendongeng menggunakan gerak jari-jari tangan, 15) Mendongeng menggunakan gitar,

16) Mendongeng menggunakan perkusi, 17) Mendongeng menggunakan seruling,

18) Mendongeng menggunakan wayang, dan lain-lain.

Lebih terperinci lagi penggolongan yang dilakukan oleh seorang Dosen UIN Pekanbaru, Hermaningsih dalam web-nya (http://bintangbangsaku.com) menggolongkan bentuk metode mendongeng (stor ytelling) menjadi lima besar, yaitu :

1) mendongeng tanpa alat peraga, hanya mengandalkan kemampuan verbal orang yang memberikan cerita,

2) mendongeng dengan menggunakan alat peraga seperti boneka, gambar, atau benda peraga dll,

3) mendongeng dengan menggunakan buku cerita,

4) mendongeng dengan menggunakan bahasa isyarat atau gerakan, 5) mendongeng melalui alat pandang dengar yaitu berupa kaset, TV, dsb.

commit to user

Dengan demikian dapat disimpulkan bentuk-bentuk story telling dapat digolongkan menjadi dua, yaitu mendongeng tanpa alat bantu dan mendongeng dengan alat bantu, baik alat peraga, alat music maupun alat bantu lainnya yang bersifat audio, visual, dan audio-visual.

c. Manfaat Mendongeng (Story telling)

Banyak orang meremehkan metode yang sederhana ini. Pada umumnya mereka menganggap mendongeng itu tidak ada gunanya, membosankan dan membuang-buang waktu. Namun sebenarnya banyak manfaat yang terkandung dalam metode mendongeng (story telling) ini. Manfaat mendongeng (story telling) menurut Hirmaningsih dalam web-nya http://bintangbangsaku.com adalah (1) mengembangkan fantasi dan kreativitas, (2) mengasah kecerdasan, (3) menumbuhkan minat, (4) membangun kedekatan dan keharmonisan, dan (5) media pembelajaran imajinatif. Sedangkan manfaat dari dongeng itu sendiri adalah untuk (1) mengasah daya pikir dan imajinasi, (2) menanamkan berbagai nilai dan etika, dan (3) menumbuhkan minat membaca.

Hal senada juga disampaikan oleh Kusumo Priyono (2006:15) yaitu : 1) Dapat merangsang dan menumbuhkan imajinasi dan daya fantasi anak

secara wajar,

2) Mengembangkan daya penalaran sikap kritis serta kreatif,

3) Mempunyai sikap kepedulian terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa, 4) Dapat membedakan perbuatan yang baik dan perlu ditiru dengan yang

buruk dan tidak perlu dicontoh,

5) Punya rasa hormat dan mendorong terciptanya kepercayaan diri dan sikap terpuji pada anak-anak.

Sedangkan menurut Sudarmadji (2010: 5) mendongeng dapat bermanfaat sebagai :

1) Kontak batin antara pendongeng dengan penyimak, 2) Media penyampai pesan moral dan nilai agama, 3) Pendidikan imajinasi/ fantasi,

commit to user 4) Pendidikan emosi,

5) Membantu proses identifikasi diri dan perbuatan, 6) Memperkaya pengalaman batin,

7) Hiburan dan penarik perhatian.

Metode mendongeng (story telling) menurut Nuraini dalam www.fedus.org mempunyai beberapa manfaat, diantaranya adalah :

1. Penceritaan mengembangkan kemampuan menyimak dan mendengar aktif pada diri anak.

2. Melalui dongeng dapat meningkatkan daya imajinasi anak, kemampuan sosial dan kognitif.

3. Penceritaan mengembangkan sikap positif anak terhadap buku dan membaca. Pencerita pun menjelaskan buku apa yang dibacanya sebagai sumber cerita yang disampaikannya.

4. Penceritaan membantu anak untuk mengembangkan sebuah sistem nilai etika, moral, hormat pada orang tua dan cinta tanah air.

5. Melalui penceritaan, anak-anak dapat belajar empati, dalam arti menempatkan diri pada posisi orang lain, mengembangkan kepedulian, serta memahami keterkaitannya dengan orang lain dalam dunia bersama.

Bisa dikatakan bahwa cerita, yang mengubah cara kita berpikir atau merasa tentang sesuatu, mungkin juga mengubah sesuatu dalam proses pikiran-tubuh kita. Apabila kita perhatikan pendengar yang hanyut dalam sebuah cerita, kita melihat beberapa tanda penyesuaian pikiran-tubuh yang bisa diteliti seperti

perubahan dalam respirasi, irama otot, dan detak jantung” (George W.Burns,

2001:30) dalam

http://episentrum.com/search/www%20pengertian%20mendongeng.

George W. Burns dalam

http://episentrum.com/search/www%20pengertian%20mendongeng. mengemukakan ada beberapa kekuatan cerita :

1) Kekuatan cerita untuk menumbuhkan sikap disiplin. 2) Kekuatan cerita untuk membangkitkan emosi. 3) Kekuatan cerita untuk memberi inspirasi.

commit to user

4) Kekuatan cerita untuk memunculkan perubahan.

5) Kekuatan cerita untuk menumbuhkan kekuatan pikiran-tubuh. 6) Kekuatan cerita untuk menyembuhkan.

Lebih detailnya, manfaat mendongeng bagi anak-anak dijabarkan oleh Andi Yudha (2009: 28-73) yaitu sebagai berikut :

1) Media komunikasi yang menarik perhatian anak, 2) Mampu melatih daya konsentrasi anak,

3) Cara belajar yang menyenangkan, 4) Mengajak anak-anak ke alam fantasi, 5) Melatih anak berasosiasi,

6) Mengasah kreativitas anak, 7) Media bersosialisasi,

8) Memupuk rasa keindahan, kehalusan budi, ketulusan, dan kasih sayang, 9) Membangkitkan keharuan dan kepekaan,

10) Media komunikasi, baik dengan dirinya maupun orang lain, 11) Merangsang jiwa petualang anak,

12) Pemicu daya kritis dan curiosity anak, 13) Melatih berpikir sistematis,

14) Pengantar tidur anak,

15) Jendela pengalaman bermakna bagi anak, 16) Media rekreasi atau hiburan,

17) Alternatif pengobatan tanpaobat, 18) Melatih kemampuan bahasa anak, 19) Menggiring anak menyukai buku,

20) Memancing anak berekspresi lewat tulisan dan gambar,

21) Dapat memacu dan memicu kreativitas (multiple intelegences) anak, dan sebagainya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manfaat dari mendongeng sangatlah banyak. Baik dari segi kebahasaan maupun segi kecerdasan dan hiburan. Setelah mengetahui manfaat dari metode

commit to user

mendongeng (story telling), tidak dapat dipungkiri bahwa penerapan dalam kegiatan pembelajaran akan sangat dinantikan. Akan tetapi perlu diingat bahwa mendongeng dengan ceramah adalah berbeda.

d. Faktor Metode Mendongeng (Story telling)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mendongeng menurut Sudarmadji (2010) antara lain :

1) Pemilihan tema dan judul yang tepat

Seorang pakar psikologi pendidikan bernama Charles Buhler mengatakan bahwa anak hidup dalam alam khayal. Anak-anak menyukai hal-hal yang fantastis, aneh, yang membuat imajinasinya “menari-nari”.

Bagi anak-anak, hal-hal yang menarik, berbeda pada setiap tingkat usia, misalnya:

a) Di bawah usia 4 tahun, anak menyukai dongeng fabel dan horor, seperti: Si Kancil, Anak ayam yang Manja, Nenek Sihir, Raksasa yang menyeramkan dan sebagainya.

b) Usia 4-8 tahun, anak-anak menyukai dongeng jenaka, tokoh pahlawan/hero dan kisah tentang kecerdikan, seperti; Perjalanan ke planet Biru, Robot Pintar dan sebagainya.

c) Usia 8-12 tahun, anak-anak menyukai dongeng petualangan fantastis rasional (sage), seperti: Persahabatan si Pintar dan si Pikun, Karni Juara Menyanyi dan sebagainya.

2) Waktu Penyajian

Dengan mempertimbangkan daya pikir, kemampuan bahasa, rentang konsentrasi dan daya tangkap anak, maka para ahli dongeng menyimpulkan sebagai berikut:

a) Di bawah usia 4 tahun, waktu cerita hingga 7 menit. b) Usia 4-8 tahun, waktu cerita hingga 10-15 menit. c) Usia 8-12 tahun, waktu cerita hingga 25 menit.

Namun tidak menutup kemungkinan waktu bercerita menjadi lebih panjang, apabila tingkat konsentrasi dan daya tangkap anak

commit to user

dirangsang oleh penampilan pencerita yang sangat baik, atraktif, komunikatif dan humoris.

3) Suasana (situasi dan kondisi)

Suasana disesuaikan dengan acara/ peristiwa yang sedang atau akan ber langsung, seperti acara kegiatan keagamaan, hari besar nasional, ulang tahun, pisah sambut anak didik, peluncuran produk, pengenalan profesi, program sosial dan lain-lain, akan berbeda jenis dan materi ceritanya. Pendidik dituntut untuk memperkaya diri dengan materi cerita yang disesuaikan dengan suasana. Jadi selaras materi cerita dengan acara yang diselenggarakan, bukan satu atau beberapa cerita untuk segala suasana.

Sedangkan menurut Andi Yudha (2010: 88) tekniknya adalah (1) mengenali audiens, (2) memilih cerita atau dongeng, baik dari tema, alur maupun jenis dongeng, (3) menyesuaikan dongeng dengan usia, (4) waktu mendongeng, (5) penciptaan suasana, (6) tempat mendongeng, (7) memberi perhatian kepada audiens, dan (8) penggunaan media.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada banyak hal yang harus diperhatikan sebelum mendongeng, yaitu (1) tema atau judul, (2) waktu, (3) suasana, (4) audiens, (5) tempat, dan (6) penggunaan media atau alat peraga.

Dokumen terkait