BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Hasil Penelitian Tindakan Bimbingan dan
Penelitian tindakan yang telah dilaksanakan menghasilkan lembar observasi, hasil skala kiraan sifat, hasil skala motivasi siswa, rata-rata hasil siklus I, rata-rata hasil siklus II, hasil rata-rata siklus III dan hasil wawancara dengan siswa dan guru.
1. Hasil Lembar Observasi
Hasil dari lembar observasi yang telah disusun dan diisi sesuai dengan motivasi siswa dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal dapat dilihat seperti di bawah ini.
Tabel 16
Data Hasil Observasi Motivasi Siswa Kelas VII D SMP BOPKRI 3 Yogyakarta dalam Mengikuti Layanan Bimbingan Klasikal Menggunakan Media Permainan Edukatif (Siklus I, Siklus II dan Siklus
III)
Siklus Persentase Rata-rata
Aktivitas Siswa Kategori
Siklus I 65,5 % Sedang
Siklus II 82,7 % Tinggi
Siklus III 89,6 % Sangat Tinggi
Dari table hasil observasi diatas, terjadi peningkatan motivasi siswa saat mengikuti layanan bimbingan klasikal menggunakan media permainan edukatif dibandingkan dengan metode ceramah. Hal tersebut dapat dilihat dalam grafik peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti layanan bimbingan kalsikal menggunakan media permainan edukatif dibawah ini.
Gambar 6
Grafik Hasil Observasi Motivasi Siswa Kelas VII D SMP BOPKRI 3 Yogyakarta dalam Mengikuti Layanan Bimbingan Klasikal Menggunakan Media Permainan Edukatif (Siklus I, Siklus II dan Siklus
III) 2. Hasil Skala Motivasi Siswa
Skala motivasi siswa disusun untuk mengamati motivasi siswa terhadap layanan bimbingan klasikal melalui media permainan edukatif. Skala motivasi memiliki 2 aspek yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Hasil analisis persentase skala motivasi siswa terhadap layanan bimbingan klasikal melalui media permainan edukatif dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.
Siklus I, , 65.50% Siklus II, , 82.70% Siklus III, , 89.60% Siklus I Siklus II Siklus III
Tabel 17
Persentase dan Kriteria Peningkatan Motivasi Siswa Kelas VII D SMP BOPKRI 3 Yogyakarta dalam Mengikuti Layanan Bimbingan Klasikal
Menggunakan Media Permainan Edukatif Rentang
Skor Kategori Pra Tindakan Siklus I Pertemuan Siklus II Siklus III Keterangan
Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase Jumlah Persentase
26-45 SR 6 20,7% 0 0 0 0 0 0 -
46-58 R 9 31% 4 14,8% 0 0 0 0 Meningkat
59-71 S 9 31% 7 25,9% 3 11,1% 0 0 Meningkat 72-84 T 5 17,3% 13 48,2% 15 55,6% 7 25% Meningkat 85-104 ST 0 0 3 11,1% 9 33,3% 21 75% Meningkat
Dari data table di atas dapat dilihat bahwa hasil analisis skala motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan klasikal melalui media permainan edukatif mengalami peningkatan pada setiap siklusnya, hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Pada pra tindakan persentase siswa yang memiliki motivasi sangat rendah (SR) berjumlah 6 siswa dengan persentase 20,7% dan siswa yang memiliki motivasi rendah (R) berjumlah 9 siswa dengan persentase 31%. Pada siklus I, kategori motivasi siswa yang sangat rendah (SR) tidak ada dan siswa yang memiliki motivasi rendah (R) menurun menjadi 4 siswa dengan persentase 14,8%.
b) Pada siklus I siswa yang memiliki motivasi rendah (R) berjumlah 4 siswa dengan persentase 14,8% dan siswa yang memiliki motivasi sedang (S) berjumlah 7 siswa dengan persentase 25,9%. Pada siklus II, kategori motivasi siswa lebih banyak tinggi (T) dan sangat tinggi (ST). Sedangkan siswa yang memiliki motivasi sedang 3 siswa dan tidak ada siswa yang
memiliki motivasi dengan kategori rendah pada siklus II.
c) Pada siklus I persentase siswa yang memiliki motivasi dengan kategori tinggi (T) mencapai 48,2% akan tetapi peneliti masih merasa belum puas karena masih ada siswa yang memiliki motivasi dengan kategori rendah (R) sebanyak 14,8% dan motivasi dengan kategori sedang mencapai 25,9%. Peneliti melakukan tindakan siklus II untuk meningkatkan siswa yang memiliki motivasi dengan kategori rendah (R) dan kategori sedang (S).
d) Ada beberapa siswa pada siklus I yang memiliki motivasi dengan kategori sangat tinggi (ST) yaitu 3 siswa dengan persentase 11,1%. Pada siklus II siswa yang memiliki motivasi dengan kategori sangat tinggi (ST) sebanyak 9 dengan persentase 33,3% dan siklus III siswa yang memiliki motivasi dengan kategori sangat tinggi (ST) sebanyak 21 dengan persentase 75%. Dengan demikian, motivasi siswa dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal dapat ditingkatkan menggunakan media permainan edukatif.
Skala motivasi siswa yang telah diisi oleh siswa pada pra tindakan memiliki rata-rata 64,308. Saat melakukan tindakan siklus I dan II skala motivasi siswa menunjukkan peningkatan dari data pra tindakan. Pada siklus I memiliki rata-rata 77,077 dan pada siklus II meningkat menjadi 82,15. Dibawah ini merupakan grafik hasil pengolahan item skala motivasi siswa dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal
menggunakan media permainan edukatif.
Gambar 7
Grafik Perbandingan Hasil Skala Motivasi Siswa Kelas VII D SMP BOPKRI 3 Yogyakarta dalam Mengikuti Layanan Bimbingan
Klasikal Menggunakan Media Permainan Edukatif Pra Tindakan, Siklus I dan Siklus II
Pada data grafik item di atas menunjukkan adanya peningkatan saat melakukan pra tindakan, siklus I dan siklus II. Namun pada siklus II Nampak ada satu item yang tidak mengalami peningkatan yaitu item no 4 dan satu item yang mengalami penurunan yaitu item no 26 yang membuktikan bahwa siswa masih suka mengobrol dengan teman yang lainnya ketika bimbingan telah berlangsung. Berpacu dari grafik di atas peneliti melakukan tindakan siklus III dengan harapan item yang tidak mengalami peningkatan dan yang mengalami penurunan dapat mengalami peningkatan seperti item yang lain. Berikut di bawah ini merupakan grafik hasil skala motivasi siswa siklus II dan siklus III.
Pra Tindakan Siklus I Siklus II
Gambar 8
Grafik Perbandingan Hasil Skala Motivasi Siswa Kelas VII D SMP BOPKRI 3 Yogyakarta dalam Mengikuti Layanan Bimbingan Klasikal Menggunakan Media Permainan Edukatif Siklus II dan
Siklus III
Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa semua item mengalami peningkatan, walau masih ada beberapa item yang mengalami peningkatan sangat sedikit. Namun dari hasil pengolahan data pada siklus III menunjukkan hasil rata-rata yang memuaskan yaitu 94,34.
Penelitian berakhir pada siklus III dengan pertimbangan bahwa dari hasil pengolahan data keseluruhan, skor rata-rata siklus I hingga siklus III sudah berada di atas skor rata-rata pengolahan data pra tindakan atau data awal sebelum dilakukan tindakan. Dibawah ini dapat dilihat grafik hasil skala motivasi siswa dari pra tindakan, siklus I, siklus II dan siklus III.
Siklus II Siklus III
Gambar 9
Grafik Skala Motivasi Siswa Kelas VII D SMP BOPKRI 3 Yogyakarta dalam Mengikuti Layanan Bimbingan Klasikal Menggunakan Media Permainan Edukatif (Pra Tindakan, Siklus I,
Siklus II dan Siklus III)
Dari grafik diatas dapat dilihat dengan jelas dari pra tindakan hingga siklus III setiap siklus mengalami peningkatan. Grafik di bawah ini akan memperlihatkan perbandingan hasil skala motivasi siswa dari pra tindakan, siklus I, siklus II dan siklus III.
Pra Tindakan Siklus I Siklus II Siklus III
Gambar 10
Grafik Perbandingan Hasil Skala Motivasi Siswa Kelas VII D SMP BOPKRI 3 Yogyakarta dalam Mengikuti Layanan Bimbingan Klasikal Menggunakan Media Permainan Edukatif Pra Tindakan,
Siklus I, Siklus II dan Siklus III
Dari grafik di atas dapat dilihat peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal menggunakan media permainan edukatif. Secara keseluruhan jumlah rata-rata motivasi siswa setelah diberi tindakan masih lebih besar dibandingkan jumlah rata-rata motivasi siswa sebelum diberi tindakan.
3. Hasil Wawancara
Setelah peneliti melakukan wawancara kepada siswa dan guru tentang tanggapan mereka terhadap bimbingan klasikal melalui media permainan edukatif, peneliti mendapat hasil dan dirangkum seperti dibawah ini:
64.308 % 77.077% 82.15% 94.34%
Pra Tindakan Siklus I Siklus II Siklus III
a) Hasil Wawancara Siswa
Wawancara dilakukan dengan siswa setelah bimbingan klasikal siklus III berakhir. Hasil wawancara tersebut mendapat hasil sebagai berikut: 1) Siswa merasa bosan karena setiap selesai bimbingan mereka diminta
untuk mengisi skala motivasi siswa yang sama seperti itu terus.
2) Secara garis besar siswa merasa senang mengikuti bimbinga kalsikal menggunakan media permainan edukatif, karena bimbingan ini membuat mereka merasa bersemangat, tidak membosankan dan membuat mereka menantikan lagi bimbingan klasikal menggunakan media permainan edukatif seperti ini.
3) Siswa mengungkapkan bahwa dengan bimbingan klasikal menggunakan media permaian edukatif mereka lebih paham dan lebih mengerti maksud dan tujuan dari materi bimbingan yang diberikan. 4) Siswa berharap semoga bimbingan menggunakan permainan edukatif
seperti ini sering-sering diberikan oleh guru BK mereka. b) Hasil Wawancara Guru BK
Setelah melakukan wawancara dengan guru BK, peneliti mendapatkan hasil seperti berikut:
1) Guru berpendapat bahwa bimbingan klasikal menggunakan media permainan edukatif ini baik diberikan keada siswa, karena selama bimbingan siswa nampak bersemangat dan senang.
memudahkan siswa untuk memahami materi yang diberikan.
3) Guru berpendapat bahwa siswa sangat antusias ketika mereka mendapat bimbingan menggunakan media permaian edukatif dibandingkan dengan bimbingan yang menggunakan media ceramah.
4. Hasil Uji t Motivasi Siswa
Tabel 18
Hasil Uji t Motivasi Pra Tindakan sampai Siklus III
Setelah dilakukan ujian uji-t dapat dilihat hasilnya seperti di atas. Jika melihat tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai uji-t berpasangan berbeda rata-rata motivasi siswa pra tindakan dengan motivasi siswa siklus I sebesar 12,769. Artinya peningkatan motivasi siswa setelah diberi tindakan sebesar 12,769. Nilai t hitung sebesar 11,392 dengan Sig 0,00. Karena Sig < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan motivasi siswa secara signifikan antara pra tindakan dengan siklus I dalam mengikuti layanan bimbingan
Paired Samples Test
Paired Differences t Df Sig. (2-tailed) Mean Std. Devia tion Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1 Pretest - Siklus1 -12.769 5.71530 1.12086 -15.0776 -10.4607 -11.392 25 .000 Pair 2 Siklus1 - Siklus2 -5.07692 3.96911 .77841 -6.68008 -3.47376 -6.522 25 .000 Pair 3 Siklus2 - Siklus3 -12.1923 4.67349 .91655 -14.0799 -13.302 -13.302 25 .000
klasikal melali media permainan edukatif. Dengan begitu dapat dinyatakan bahwa pemberian tindakan mempengaruhi motivasi siswa secara signifikan.
Sesuai dengan uji-t berpasangan, terlihat pebedaan rata-rata motivasi siswa pada siklus I terhadap motivasi siswa siklus II sebesar 5,076. Dengan demikian dapat diartikan bahwa antara siklus I dengan siklus II terjadi peningkatan motivasi siswa sebesar 5,076. Nilai t hitung sebesar 6,522 dengan Sig 0,00. Karena Sig < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan yang signifikan antara siklus I dengan siklus II dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal melalui permaian edukatif. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa motivasi siswa dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal menggunakan media permainan edukatif mengalami peningkatan secara signifikan.
Hasil uji-t berpasangan, terlihat perbedaan rata-rata motivasi siswa pada siklus II terhadap motivasi siswa pada siklus III sebesar 12,19. Dengan demikian dapat diartikan bahwa antara siklus II dengan siklus III terjadi peningkatan motivasi siswa sebesar 12,19. Nilai t hitung sebesar 13,302 dengan Sig 0,00. Karena Sig <0,05 maka dapat disimpilkan bahwa telah terjadi peningkatan yang signifikan antara siklus II dengan siklus III dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal melalui media permaian edukatif. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa motivasi siswa dalam mengikuti layanan bimbingan klasikal menggunakan permaian edukatif mengalami peningkatan secara signifikan.