• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.2. Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian

Dengan metode total sampling, didapatkan 81 pasien nyeri kepala pada lanjut usia yang dirawat di RSUP Haji Adam Malik Medan selama periode Januari – Desember 2018. Semua data pasien diambil dari data sekunder yaitu hasil rekam medis pasien. Dari keseluruhan pasien, variabel yang ditinjau adalah jenis nyeri kepala, usia, jenis kelamin, durasi, penyebab dan tatalaksana. Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi pasien berdasarkan usia.

Tabel 4.1. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi (n) Persentasi (%)

Lanjut Usia 45 55,6

Lanjut Usia Tua 36 44,4

Total 81 100,0

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa dari total 81 pasien nyeri kepala didapatkan, 45 pasien (54,9%) berusia 60 - 74 tahun yaitu lanjut usia dan 36 pasien (44,4%) berusia 75 – 90 yaitu lanjut usia tua. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ruiz et al., (2014) bahwa dari 361 pasien nyeri kepala, 262 pasien lanjut usia dan hanya 99 pasien lanjut usia tua.

Berdasarkan data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia atau setara dengan 9,03%

(Kemenkes RI, 2017). Sejalan dengan meningkatnya populasi lansia, maka meningkat pula jumlah kasus nyeri kepala. Prevalensi kasus nyeri kepala pada lansia berkisar antara 25-89% (Barus, 2015).

Karakteristik sampel penelitian dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, jenis nyeri kepala, penyebab, durasi dan tatalaksana. Berikut ini merupakan tabel karakteristik sampel penelitian :

Tabel 4.2. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentasi (%)

Laki - laki 38 46,9

Perempuan 43 53,1

Total 81 100,0

Berdasarkan tabel 4.2 dapat disimpulkan bahwa nyeri kepala pada lanjut usia lebih banyak pada perempuan sebanyak 43 pasien (53,1%) dan laki - laki 38 pasien (46,9%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ruiz, et al., (2014) bahwa lanjut usia dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami nyeri kepala dibandingkan laki - laki (62,1% dan 36,6%).

Hal ini juga didukung oleh pernyataan Grosberg BM, et al (2013), bahwa nyeri kepala lebih banyak dialami oleh perempuan karena diakibatkan oleh faktor psikologis, pengaruh psikososial dan faktor perilaku seperti contohnya, perempuan sering menghadapi sesuatu kejadian dengan tingkat stress lebih tinggi dibandingkan pria.

Tabel 4.3. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Jenis Nyeri Kepala

Jenis Nyeri Kepala Frekuensi (n) Persentasi (%)

Primer 29 35,8

Sekunder 52 64,2

Total 81 100,0

Berdasarkan tabel 4.3 distribusi frekuensi berdasarkan jenis nyeri kepala menunjukkan bahwa 29 pasien (35,8%) dengan jenis nyeri kepala primer dan 52 pasien (64,2%) jenis nyeri kepala sekunder. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Adnyana (2016), bahwa prevalensi nyeri kepala primer menurun seiring dengan bertambahnya usia, tetapi nyeri kepala sekunder lebih sering dijumpai pada lanjut usia.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ruiz et al., (2014) bahwa lanjut usia yang mengalami nyeri kepala sekunder lebih banyak dibandingkan nyeri kepala primer.

Nyeri kepala sekunder lebih banyak dialami oleh lanjut usia dikarenakan berbagai hal yaitu penyakit yang diderita oleh lanjut usia banyak dan biasanya kronik, perubahan kondisi tubuh dan serta banyaknya obat yang dikonsumsi (Setiati et al.,2006).

Tabel 4.4. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Penyebab

Penyebab Frekuensi (n) Persentasi (%) Migren

Berdasarkan tabel 4.4, distribusi frekuensi berdasarkan penyebab menunjukkan 1 pasien (1,2%) migren, 29 pasien (35,8%) Tension Type Headache, 4 pasien (4,9%) gangguan vaskular pada kranial dan servikal berupa stroke dan hipertensi, 34 pasien (42%) gangguan non vaskular pada pada intrakranial berupa malignant neoplasma, 4 pasien (4,9%) substansi / withdrawal, 8 pasien (9,9%) gangguan pada kranial, mata, telinga, rongga sinus, gigi, mulut atau struktur servikal lainnya dan 1 pasien (1,2%) gangguan kejiwaan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ruiz et al., (2014) yang menyatakan bahwa

nyeri kepala primer pada lanjut usia paling banyak disebabkan oleh Tension-type headache (28,7%) dibandingkan migren (23,8%).

Hal ini juga sesuai dengan penelitian di Italia yang dilakukan oleh Pascual J et al., dalam Hershey dan Bednarczyk (2012) bahwa nyeri kepala primer paling banyak adalah jenis Tension-type headache dan nyeri kepala sekunder adalah jenis gangguan non vaskular pada intrakranial.

Tetapi hasil penelitian ini berbeda dari pernyataan Salomon G et al., dalam Grosberg BM et al., (2013) bahwa nyeri kepala sekunder pada lanjut usia paling banyak disebabkan oleh giant cell arteritis (GCA).

Gangguan non vaskular pada intrakranial berupa malignant neoplasma paling banyak dialami oleh responden lanjut usia pada penelitian ini dikarenakan kesadaran akan pola hidup sehat pada usia muda sering terabaikan sehingga beresiko terjadinya penyakit di usia tua serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya penyakit yang mengakibatkan keterlambatan dalam penanganan.

Tabel 4.5. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Durasi

Durasi Frekuensi (n) Persentasi (%)

< 30 menit 3 3,7 menit sebanyak 3 pasien (3,7%), > 30 menit - 4 jam sebanyak 6 pasien (7,4%), >

4 jam - 3 hari sebanyak 9 pasien (11,1%), dan > 3 hari sebanyak 63 pasien (77,8%). %). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Bunyaratavej et al., (2010) bahwa durasi nyeri kepala pada lanjut usia sesuai penyebab paling sering dirasakan selama 1 bulan.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian M Prencipe et al., (2001) bahwa durasi nyeri kepala selama 15 hari / lebih dilaporkan hanya dialami 37 pasien (8,7%) dari 425 pasien lanjut usia.

Pada hasil penelitian ini, durasi nyeri kepala pada lanjut usia paling banyak dirasakan < 3 hari diakibatkan oleh penyebabnya sendiri yaitu Tension-type headache dan gangguan non vaskular pada intrakranial dengan jenis malignant neoplasma yang durasi nyerinya bersifat menetap dan berangsur-angsur memberat selama berhari-hari.

Tabel 4.6. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Tatalaksana

Tatalaksana Frekuensi (n) Persentasi (%) Paracetamol dan Na

diclofenac

22 27,1

Ibupofen dan Amitriptyline

10 12,3

Paracetamol, Na Diclofenac dan

Amitriptyline

5 6,1

Paracetamol 9 11,1

Lainnya 35 43,4

Total 81 100,0

Berdasarkan tabel 4.6 distribusi frekuensi berdasarkan tatalaksana menunjukkan bahwa tatalaksana nyeri kepala pada pasien lanjut usia tidak hanya diberikan terapi tunggal, tetapi juga kombinasi terapi. Kombinasi terapi paling banyak dari pasien lanjut usia berupa Paracetamol dan Na Diclofenac 22 pasien (27,1%), Ibuprofen dan Amitriptyline 10 pasien (12,3%), Paracetamol, Na

Diclofenac dan Amitriptyline 5 pasien (6,1%) dan hanya 9 pasien (11,1%) yang mendapatkan terapi tunggal yaitu Paracetamol serta tatalaksana lainnya sebanyak 35 pasien (43,4%).

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Shapiro R (2008), yang menyatakan bahwa diantara tatalaksana nyeri kepala pada lanjut usia dapat diberikan obat golongan Acetaminophen yaitu Paracetamol dan NSAIDs yaitu Na diclofenac.

Pemberian kombinasi terapi diperbolehkan selama perhitungan efektivitas dan efek samping diperhatikan dengan baik, namun pemberian kombinasi analgesik yang berasal dari golongan yang sama harus dihindari (Barus, 2015).

Penelitian Dhusia et al., (2013) menyatakan bahwa kombinasi antara NSAIDs dan Paracetamol untuk mengatasi nyeri sering digunakan, tetapi masih menjadi kontroversial. Menhinick et al menyatakan bahwa kombinasi antara NSAIDs dan Paracetamol lebih baik dibandingkan NSAIDs saja. Akan tetapi pada penelitian Raisan et al menyatakan bahwa terapi kombinasi tidak memberikan efek lebih dibandingkan NSAID saja. Hasil penelitian Zahra AP et al., (2017) menyatakan bahwa pemberian obat golongan Acetaminophen yaitu Paracetamol sering digunakan pada lanjut usia karena diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna serta golongan NSAIDs yaitu Na diclofenac mempunyai kelebihan utama yaitu kemampuannya untuk memblokir isoenzim cyclooxygenase-2 (COX-2) 10 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan NSAIDs lain. Hal ini menyebabkan berkurangnya insiden gangguan gastrointestinal, tukak lambung, dan perdarahan gastrointestinal. Maka dari itu terapi kombinasi Paracetamol dan Na Diclofenac aman digunakan.

Ibuprofen merupakan golongan NSAIDs turunan asam propionat yang juga mempunyai kemampuan untuk menghambat COX, suatu enzim yang mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin, dengan demikian obat ini berguna sebagai antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik. Obat ini mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibanding NSAIDs lain, tetapi aktivitas anti inflamasinya lebih lemah (Moore N et al., 2015). Amitriptyline merupakan golongan Trisiklik antidepresan (TCAs). Obat ini umumnya digunakan untuk

mengatasi kecemasan dan depresi, tetapi pada dosis yang rendah obat ini banyak digunakan untuk mengatasi nyeri. Golongan Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang juga digunakan untuk mengatasi depresi, bekerja menghambat CYP2C9 yaitu sebuah enzim yang berperan dalam metabolisme NSAIDs, akan tetapi berbeda dengan Amitritptyline yang tidak menghambat CYP2C9, sehingga kombinasi Ibuprofen dan Amitriptyline aman digunakan (Moore N et al., 2015).

Menurut hasil penelitian Moore N et al., (2015), dalam mengatasi nyeri NSAIDs jika dikombinasikan dengan SSRI akan menimbulkan efek samping berupa perdarahan saluran cerna, akan tetapi hal itu dapat diatasi dengan mengganti NSAIDs dengan obat seperti Paracetamol yang memiliki waktu paruh pendek (1-3 jam) dan SSRI diganti dengan golongan TCAs ( dosis yang lebih rendah dibandingkan SSRI ) sehingga dapat mengurangi terjadinya perdarahan saluran cerna. Sejauh ini tidak ada laporan tentang efek yang merugikan dari kombinasi ini. Amitriptyline juga merupakan terapi ajuvan untuk mengatasi nyeri pada malignant neoplasma yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu obat yang bekerja sebagai ko-analgesik ( meningkatkan kerja analgesik ) dan obat yang bekerja mengurangi efek samping analgesik. Maka dari itu sesuai beberapa penyataan diatas, terapi kombinasi antara Paracetamol, Na diclofenac dan Amitriptyline aman digunakan.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian cross-sectional dengan pengambilan data sekunder dari rekam medis, dimana data yang didapat hanya menunjukkan kejadian yang terjadi selama proses pengambilan data, sehingga tidak dapat diketahui apakah terapi tunggal ataupun kombinasi lebih baik dalam memberikan efek penghilang rasa nyeri kepala ataupun dalam meminimalisir efek samping yang dialami pasien saat mendapatkan terapi untuk mengatasi nyeri kepala.

41 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan pada penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan tentang gambaran nyeri kepala pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik sebagai berikut :

a. Nyeri kepala yang dialami pasien lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas pada kelompok lanjut usia 60 -74 tahun (55,6%) dengan jenis kelamin perempuan (53,1%).

b. Jenis nyeri kepala pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas nyeri kepala sekunder (63,4%).

c. Penyebab nyeri kepala pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas diakibatkan oleh gangguan non vaskular pada intrakranial berupa malignant neoplasma (42%).

d. Durasi nyeri kepala pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas selama > 3 hari (77,8%).

e. Tatalaksana nyeri kepala yang diberikan pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas berupa terapi kombinasi yaitu Paracetamol dan Na diclofenac (27,1%).

5.2. SARAN

Dari penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut : 1. Bagi Institusi Pendidikan dibidang Kesehatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk studi secara komprehensif dalam mengembangkan strategi kesehatan bagi lanjut usia dalam menghadapi nyeri kepala yang dialaminya.

2. Bagi Pelayanan Kesehatan

a. Diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan lanjut usia untuk mengetahui tanda - tanda nyeri kepala agar dapat diatasi sebaik mungkin.

a. Diharapkan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama pada lanjut usia untuk memeriksakan diri sedini mungkin terkait dengan keluhan nyeri kepala.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

Diharapkan dapat melakukan penelitian yang dapat menilai nyeri kepala pada lanjut usia yang lebih luas, tidak hanya gambaran pada nyeri kepala tetapi juga dapat menilai risiko-risiko yang dapat menyebabkan nyeri kepala pada lanjut usia.

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana IMO., Headache in elderly. Pokdi Nyeri Kepala Perdossi cab. Denpasar.

Akbar, M. Diagnosis Vertigo. 2003. [Acessed 15 December 2016].

Available from: www.goo.gl/yssJbL

Amira Puri Zahra & Novita Carolia | Obat Anti-inflamasi Non-steroid (OAINS):

Gastroprotektif vs Kardiotoksik

Bahrami P, Zebardast H, Zibaei M. Prevalence and Characteristics of Headache in Khoramabad, Iran. 2012:327-332.

Bahrudin, M. Neurologi Klinis. Malang : UMM Press. 2013.

Barus, J. 2015. Continuing Medical Education Penatalaksanaan Farmakologis Nyeri pada Lanjut Usia, 42(3), pp. 167-171.

Bendsent L., Jensen R. Mistazapin is effective in the prophylactic treatment of chronic tension-type headache. Neurology; 62: 1706-171.

Bettucci D., Testa L., Calzoni S., Mantegazza P., Monaco P. 2007. Combination tizanidene and amitriptyline in the prophylaxis of chronic tension-type headache: evaluation of efficacy and impact quality of life. J

Headache Pain. 7(1): 34-36.

Boehnke, C., Reuter U, Flach U. 2004. High dose riboflavin is efficatius migren prophylaxis: an open study. in tertiarycare centre. Eur. J Neurol. 11 (7):

475-477.

Bunyaratavej, Siwanuwatn, Chantra & Khaoroptham, 2010.

Darowski A., Chambers S., A., Chambers D., J. 2009. Antidepresant and fall in the elderly. Drug Aging; 26 95): 381-394.

Dee B., Jakcson R., C., Hersey L., A. 2013. Managing migraine and other headache syndrome in thise over 50. Maturitas; 76: 241-246.

Diener H, Hartung E, Chrusbasik J, A. 2001. Comparitive study oral acetylsalisilc acid and mateprolo for the prophylactic treatment of migraine: a randomized, controlled, double blind, parallel-group phase-III study.

Cephalalgia.; 21:120-128.

Dodick, D. W., & Capobianco, D. J. (2001). Treatment and management of cluster headache. Current pain and headache reports, 5, 83-91.

Friedman B., Corbo J., Lipton R. 2005. A trial of metoclopramide vs sumatriptan for emergency of departement teratment of migraines. Neurology.; 45;

42-46.

Galloway. D. A. et al. 2016 ‘HHS Public Access’, 32(4), pp. 87-92. Doi:

10.1016/j.coviro.2015.09.001.Human.

Gantenbein A., R., Lutz N., J., Riederer F., Sandor P., S. 2012. Efficacy and safety of 121 Ijnection of the greater occipital nerve in episodic and chronic cluster headache. Cephalagia; 32(8): 630-634.

Godberg, SW, Silberstein S, Grosberg BM. 2014 ;. Considetarion in the Treatment of tension type headache in Elderly. Drugs Aging; 31: 797- 804.

Gorelick PB, Scuteri A, Black SE, et al. Vascular Contributions to Cognitive Impairment and Dementia: A Statement for Healthcare Professionals From the American Heart Association/American Stroke Association.Stroke.

2011;42(9):2672-2713.

Grosberg BM, Friedman BW, Solomon S. Approach to the Patient with Headache in Robbins MS, Grosberg BM, Lipton RB (Eds), Headache. Hong Kong, Wiley Blackwell: 2013. p. 16-25.

Gupta P. Singh S, Shukla G, Behar M. 2007. Low dose topiramate versus lamotrigine in migraine prophylaxis. Headache.; 402-412.

Hemant L Dhusia., Prasad D Bhange., Mahesh D Sonar., Sanjaykumar H Maroo., Ketan R Patel., Rakesg U Ojha. 2013. Combination Of Diclofenac with Paracetamol Offer Better Pain Relief Than Ibuprofen Alone.

Hidayati, H.B. (2016). The Clinician’s Aprroach to the Management of Headache.

Hersey L., A., Bednarczyk E., M. 2013. Treatment headache in the elderly.

Current Treatment Opinion in Neurology; 15: 56-62.

Holroyd K., Donnel F., Stensland M. 2001. Management of chronic tension-type headache with tricyclic antidepresant medication, stress management therapy, and their combination: a randomized controll trial. JAMA; 285:

2208-2215.

IASP. 2011. IASP Taxonomy. Diakses dari International Association for the Study of Pain IASP Taxonomy.htm: www.iasp-pain.org

Jatmiputri SS., Belladonna M., P. Eka F. 2017. JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Volume 6, Nomor 2, April 2017 Online :

www.ejournals1.undip.ac.id/index.php/medico

Kemenkes RI. 2017. Analisis lansia di Indonesia, Pusat data dan informasi, pp.

1-2.

Klapper J., Staton J. Ketorolac versus DHE and metoclopramid in the treament of migraine headache. 1991; 31: 523-524.

Konsensus Nasional IV Diagnsotik dan Penatalaksanaan Nyeri Kepala.

Perdossi. 2013.

Kristefferson E.S., Lundqvist C. 2014. Medication-overuse headache:

epidemiology, diagnosis and treatment. Ther Adv Drug Saf; 5(2): 87-99).

Lampl C., marecek S., May A., Bendtsen L., 2006. A prospective, open label, l ongterm study of the efficacy and tolerability of topiramate in the prophylaxis of chronic tension-type headache. Cephalalgia; 26(10) 1203-1208.

Leninger T, Pageler L, Stude P, Diener H, Limmroth V. 2005. Comparison of intravenous valproate with intravenous lysine-acetylsalicilic acid in acute migraine attacks. Headache;; 45: 42-46.

Lipton R., Stewart W., Diamond S. 2001.Prevalence and burden of migraine in the United States: data from the American Migraine study II. Headache.; 41:

646-657.

Liu W., Q., Kanungo A., Toth C. 2014. Equivalency of tricyciclic antidepressant in open- label neuropathic pain study. Acta Neurol Scand; 129(2): 132-141.

MacGregor E. A., Jason D. R., Tobias Kurth. 2011. Sex-Related Differences in Epidemiological and Clinic-Based Headache Studies. Am Head Soc, 51:843-859.

Mathew NT, Kaup AO, 2002.The use of botulinom toxin type A in headachen teratment. Curr Treat Options Neurol; 4(5):365-373.

Mauskop A, Alternative therapies in headache: miss the role?. 2004. Med Clin

attack frequentcy disability and use medication. J Neurol Neurosurg Psychiatri; 170: 377-381.

Rao B, Das D, Taraknath V, Sarma Y. 2008. A double-blind controlled study of propranolol and cyproheptadine in migraine prophylaxis. Neurol India;

223-226.

Ruiz M, Pedraza MI, de la Cruz C, et al. Headache in the elderly: characteristics in a series of 262 patients. Neurologia. 2014;29:321-326.

Sandor PS, Di Clemente L, Coppola G. 2005.Efficacy of Co-enzym Q in migraine prophilaxis; a randomized control trial. Neurology. 64(4): 713-715.

Setiati S, Harimurti K, Roosheroe AG. 2006. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia. hlm. 1335-1340.

Shapiro R . Caffeine and headaches . Curr Pain Headache Rep 2008 ; 12 ( 4 ): 311 – 5 .

Sjahrir H. Nyeri Kepala dan Vertigo. Yogyakarta. Pustaka Cendikia Press.

Stanley, M. & Beare, P. G. (2006). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC.

Steiner T., J. Lang R., Voleker M. 2003. Aspirin in episodic tension-type headache: placebo controlled dose-ranging comparison with paracetamol.

Cephalalgia; 23: 59-66.

Terri F., O. Catherine D., Jonathan P., Barbara J. 2014. Use nonsteroid antiinflamatory drugs inthe older adult. J Am Assoc Nurse Pract; 26(8) 414- 423.

The International Classification of Headache Disorders 3rd edition (Beta Version), 2018, Available from: www.ichd-3.org

White. L., Duncan. G & Baumle. W. 2012. Medical surgical nursing :An integrated approach 3rd edition. USA : Delmar.

Zahra, A. P. et al. (2017). Obat Anti-inflamasi Non-steroid (OAINS):

Gastroprotektif vs Kardiotoksik Non-steroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAIDs): Gastroprotective vs Cardiotoxic, 6, pp. 153-158.

Lampiran A. Biodata Penulis

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Tassa Nasirah

NIM : 160100105

Tempat / Tanggal Lahir : Medan / 30 Januari 1999

Agama : Islam

Nama Ayah : Alm. Ir.H.Agus Budiarto Nama Ibu : Ir.Hj.Tapi Sonda Sari Lintang Alamat : Jl. Eka Rasmi no 39 Medan Johor Riwayat Pendidikan :

1. SD Sutomo 1 Medan (2004-2010) 2. SMP Negeri 1 Medan (2010-2013) 3. SMA Negeri 1 Medan (2013-2016)

4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2016-Sekarang) Riwayat Pelatihan :

1. Peserta PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru) FK USU 2016

2. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU 2016

3. Seminar Dokter Keluarga dan Workshop Sirkumsisi SCOPH FK USU 2016

Riwayat Kepanitiaan :

1. Panitia Seksi Acara PORSENI FK USU 2017 2. Bendahara Sahur On The Road FK USU 2017 3. Bendahara PORSENI FK USU 2018

Lampiran B. Surat Izin Survei Awal Penelitian

Lampiran C. Surat Izin Penelitian

Lampiran D. Ethical Clearence

52 Lampiran E. Data Induk Penelitian

No Nama Usia

Jenis Kelamin

Jenis nyeri

kepala Diagnosa Durasi Tatalaksana

1 FP

75

thn 1 2

Malignant

neoplasma 5 bulan

Paracetamol tab 500mg, Amitripline 25mg, Ranitidine tab 150mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50 mg

2 BH

60

thn 1 2

Malignant

neoplasma 3 bulan

Deksametason tab 0,5mg, Ranitidin tab 150mg, Kodein tab 10mg, Parasetamol tab 500mg

Paracetamol tab 500mg, Amitripline 25mg, Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50 mg

7 ERT

66

thn 1 2

Chronic suppurative

otitis media 3 hari Ranitidin tab 150mg, Paracetamol tab 500mg

8 KS

minggu Ibuprofen tab 200mg, Vit B kompleks, Amitripline 25mg 11 RW

60

thn 2 1 CTTH 4 bulan Ranitidin tab 150mg, Paracetamol tab 500mg

12 NR

61

thn 2 2 Psikoterapi

2

minggu Ranitidin tab 150mg, Paracetamol tab 500mg 13 AS

69

thn 1 2

Malignant

neoplasma 5 menit Ranitidin tab 150mg, Deksametason tab 0,5mg, Paracetamol tab 500mg 14 DR

73

thn 1 2

Malignant

neoplasma 1 bulan Betahistine 6mg, Paracetamol tab 500mg, Vit B kompleks 15 MSK

Paracetamol tab 500mg, Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 25mg

17 TF

70

thn 2 1 CTTH 6jam

Paracetamol tab 500mg, Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 25mg

Paracetamol tab 500mg, Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 25mg

neoplasma 1 bulan Paracetamol tab 500mg

23 HH

Paracetamol tab 500mg, Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 25mg

25 LP

72

thn 2 2 HIV

3

minggu Paracetamol tab 500mg

26 RK

62

thn 1 1 CTTH 3 hari Ibuprofen tab 200mg, Vit B kompleks, Amitripline 25mg

28 RT

73

thn 2 2

Malignant

neoplasma 2 hari

Paracetamol tab 500mg, Amitripline 25mg, Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50 mg

29 SH

60

thn 2 1 CTTH

1

minggu Paracetamol tab 500mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50mg 30 IM

70

thn 2 2

Low Back

Pain 4 bulan

Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Amitripline 25 mg, Betahistine 6mg, Na diclofenac tab 50mg

31 IS

70

thn 2 1 CTTH

3

minggu Na diclofenac 50mg, Ranitidin 150mg, Amitriplin 25mg 32 ID 35 BBS 91thn 1 2 Hipertensi 2 bulan Vit B kompleks, Paracetamol tab 500mg, Na diclofenac tab 25mg 36 IR

timbul Ibuprofen tab 200mg, Vit B kompleks, Amitripline 25mg 38 SB

Paracetamol tab 500mg, Amitripline 25mg, Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50 mg

40 FLL

neoplasma 5 menit Na diclofenac tab 50mg, Amitripline 25mg, Paracetamol tab 500mg

43 MW 91thn 1 1 CTTH 2 bulan Paracetamol tab 500mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50mg

thn 2 2 Hipertensi 2 bulan Na diclofenac tab 50mg, Vit B kompleks, diazepam tab 2mg 46 KL

76

thn 1 2

Malignant

neoplasma 2 bulan Paracetamol tab 500mg, Vit B Kompleks, Amitripline 25mg 47 ML

78

thn 1 1 TTH

2

minggu Ibuprofen tab 200mg, Vit B kompleks, Amitripline 25mg

48 NA 91thn 2 2

Malignant

neoplasma 2 jam Paracetamol tab 500mg, Vit B kompleks, Ranitidin tab !50 mg

49 LP 92thn 2 2

Malignant

neoplasma 4 bulan Paracetamol tab 500mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50mg

50 SK 91thn 2 2

Malignant

neoplasma 3 bulan Na diclofenac 50mg, Ranitidin 150mg, Vit B Kompleks

51 ME 92thn 2 2

Malignant

neoplasma 1 bulan Paracetamol tab 500mg, Ranitidin tab 150mg, Na diclofenac tab 25mg 52 SM

77

thn 2 1

Migren

tanpa aura 3 jam Paracetamol tab 500mg, Ranitidin tab 150mg, Na diclofenac tab 50mg

53 JS 91thn 1 2

Malignant

neoplasma 1 bulan Betahistine 6mg, Vit B kompleks, Amlodipin 5mg, Paracetamol tab 500mg

54 ET 92thn 1 2

Malignant

neoplasma 40 detik Ranitidin tab 150mg, Deksametason tab 0,5mg, Paracetamol tab 500mg

55 AG 92thn 1 2 Hipertensi

1

minggu Ranitidin tab 150mg, Paracetamol tab 500mg

56 MA 91thn 2 2 Hipertensi 2 bulan Ranitidin tab 150mg, Ibuprofen tab 400mg, Paracetamol tab 500mg 57 DS

62

thn 1 2

Malignant

neoplasma 5 bulan Paracetamol tab 500mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50mg

58 MM

63

thn 1 2

Malignant

neoplasma 4 bulan Ranitidin tab 150mg, Vit B kompleks, Asam Mefenamat 500mg

60 LM 91thn 2 2

Malignant

neoplasma 6 bulan Asam Mefenamat 500mg, Ranitidin tab 150mg, Vit B Kompleks 61 IJ

60

thn 1 2

Malignant

neoplasma 2 bulan Paracetamol tab 500mg, Vit B Kompleks, Amitripline 25mg 62 RD

79

thn 2 2

Malignant

neoplasma 2 tahun Na diclofenac tab 50mg, Dekasametason tab 0,5 mg, Ranitidin tab 150mg 63 NH

71

thn 2 2

Malignant

neoplasma 17 jam Na diclofenac 50mg, Vit B Kompleks 64 ZK

66

thn 1 1 CTTH 20 tahun Paracetamol tab 500mg, Vit B kompleks, Na diclofenac tab 50mg 65 RC

Intrakranial 1 tahun Fenitoin inj 100mg, Ranitidine inj 50mg, Dekasametason inj

Intrakranial 1 tahun Fenitoin inj 100mg, Ranitidine inj 50mg, Dekasametason inj

Dokumen terkait