• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Nyeri Kepala Pada Lanjut Usia

2.2.4. Hypnic Headache

Hypnic headache merupakan nyeri kepala primer yang terjadi saat tidur terutama pada lanjut usia. Timbul pertama kali pada umur setelah usia 50 tahun.

Serangan terjadi antara jam 1-3 dini hari, sehingga sering disebut alarm clock headache. Nyeri kepala bilateral dengan intensitas sedang sampai berat. Nyeri berlangsung 15-180 menit. Gambaran seperti migren yaitu nausea, vomiting, foto dan fonofobia jarang dijumpai (Adnyana, 2016).

- Terapi Hypnic Headache

Pengobatan dengan asam salisilat memberikan hasil yang moderat. Litium karbonat efektif untuk pencegahan. Obat lain indometasin, flunarizin, atenolol, verapamil, prednison dan gabapentin (Konsensus nasional Pokdi Nyeri Kepala Perdossi, 2013).

2.2.5. Giant cell artertitis ( GCA )

GCA adalah suatu arteritis genaulamatosa sistemik. Paling sering terjadi pada umur pertengahan. Umur rata-rata kejadiannya adalah 70 tahun, dan jarang pada umur dibawah 50 tahun. Gejala klinik: nyeri kepala difus atau terlokalisir di daerah oksiput disertai gejala visual seperti amourosis, diplopia, penurunan visus.

Gejala lainnya yaitu : penurunan berat badan, jaw claudication, polimialgia reumatik, panas yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya. Pemeriksaan penunjang laju endap darah meningkat. Biopsi arteri temporalis merupakan standard emas.

Hasil hitopatologi memperlihatkan inflamasi granulomatus disertai infiltrasi limposit, makrofag dan multinucleated giant cell. Diagnsosis giant cell arteritis

menurut American College of Rheumatology critteria for classification of giant cell aretritis adalah sebagai berikut (Bhat et al., 2010) dalam (Adnyana, 2016).

• Gejala-gejala muncul setelah umur 50 tahun

• Gejala awal nyeri kepala

• Pada palpasi arteri temporalis terjadi penebalan dan penurunan pulsasi

• Laju endap darah 50 mm/jam

• Biopsi arteri: tanda -tanda vaskulitis dengan inflitrasi sel mononuklear atau inflamasi granulomatus, disertai dengan mulinucleated giant cells - Terapi Giant Cell Ateritis

Steroid adalah obat pilihan untuk giant cell artertis. Efektif untuk manisfestasi klinik maupun untuk komplikasi iskemik. Tujuan terapi dengan steroid adalah mengurangi gangguan visus lebih berat, menekan terjadi penyakit sistemik. Prednison merupakan obat pilihan dengan dosis 40-60 mg. Pasien dengan risiko tinggi terjadi komplikasi iskemik dosis prednison 1mg/kg berat badan /hari, kemudian di turunkan perlahan sesuai dengan perbaikan gejala klinik (Bath et al., 2010) dalam (Adnyana, 2016).

2.2.6. Nyeri kepala servikogenik

Gejala klinik yang khas adalah nyeri di oksipital dan tengkuk, terbatasnya gerakan leher, spasme otot servikal. Nyeri menjalar sepanjang radik saraf servikal.

Diagnosisnya sering berlebihan karena pada foto servikal sering dijumpai spondilosis servikalis pada lanjut usia.

Gejala klinis (Konsensus Nyeri kepala Perdossi, 2013) :

1. Nyeri kepala atau wajah unilateral, (selalu ditempat yang sama) atau bilateral

2. Lokasi nyeri bersumber di leher, menjalar/dirasakan pada regio kepala daerah oksipital/suboksipital, frontal, temporal atau orbita

3. Intensitas nyeri sedang, terasa dalam, tidak berdenyut, serta dapat dicetuskan oleh gerakan leher atau posisi tertentu, atau dengan menekan jari tangan pada kuduk daerah suboksipital, radik C1, C2, C3 dan C4, atau dapat juga dicetuskan oleh batuk-bersin, serta dalam kondisi tegang

4. Leher tampak kaku atau berkuranngnya gerakan leher baik secara katif/pasif

5. Tanda dan gejala ikutan seperti migren dapat dijumpai seperti mual, muntah, foto/fonofobia, penglihatan kabur, dizziness, edema dan kemerahan pada konjungtiva

- Terapi Nyeri Kepala Servikogenik

Terapi pada nyeri kepala servikogenik adalah blokade anestesi nervus oksipitalis mayor atau cabang medial radik C2, C2-3, atau C3-4, radiofrequensi, analgesi sedrhana, NSAIDs, pelemas otot, fisioterapi (Dodick and Capobianco. 2002) dalam (Adnyana, 2016).

2.3. KERANGKA TEORI

Gambar 2.3. Kerangka Teori

Lanjut Usia

Nyeri Kepala Primer

1. Migren

2. Tension Type Headache ( TTH ) 3. Cefalgias Otonom Trigeminal 4. Nyeri Kepala Primer Lainnya

1. Trauma

2. Gangguan vaskular pada kranial atau servikal

3. Gangguan non vaskular pada intrakranial 4. Suatu subtansi atau withdrawal

5. Infeksi

6. Gangguan homeostasis

7. Gangguan pada kranial, leher, mata, telinga, hidung, rongga sinus, gigi, mulut, atau struktur wajah atau servikal lainnya 8. Gangguan kejiwaan

Nyeri kepala

1. Karakteristik demografik 2. Jenis - jenis

3. Penyebab 4. Durasi 5. Tatalaksana

Nyeri Kepala Sekunder

2.4. KERANGKA KONSEP

Gambar 2.4. Kerangka Konsep

Lanjut Usia Nyeri Kepala

1. Karakteristik demografik 2. Jenis - jenis

3. Penyebab 4. Durasi 5. Tatalaksana

28

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu membuat suatu gambaran karakteristik penderita nyeri kepala pada lanjut usia di RSUP Haji Adam Malik periode Januari-Desember 2018, dengan menggunakan desain penelitian cross sectional yaitu pengambilan data dari rekam medis pasien yang terdiagnosa menderita nyeri kepala di RSUP Haji Adam Malik periode Januari- Desember 2018.

3.2. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 3.2.1. Lokasi penelitian

Pengambilan data penelitian ini dilakukan di Poliklinik Neurologi R.S.U.P Haji Adam Malik Medan.

3.2.2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret sampai November 2019.

3.3. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1. Populasi penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien lanjut usia yang tercatat dalam rekam medis sebagai pasien nyeri kepala di Poliklinik Neurologi RSUP Haji Adam Malik periode Januari-Desember 2018.

3.3.2. Sampel penelitian

Sampel dari penelitian ini adalah pasien nyeri kepala pada lanjut usia di Poliklinik Neurologi RSUP Haji Adam Malik dengan kriteria pemilihan sampel adalah sebagai berikut :

a. Kriteria Inklusi

Semua pasien nyeri kepala pada lanjut usia (60 tahun) yang berobat di Poliklinik Neurologi RSUP Haji Adam Malik periode Januari-Desember 2018.

b. Kriterika Ekslusi

Rekam medis yang tidak lengkap.

3.4. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Besar sampel pada penelitian ini dengan menggunakan Total Sampling.

3.5. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari rekam medis di RSUP Haji Adam Malik periode Januari- Desember 2018 dan dilakukan pencatatan sesuai variabel yang dibutuhkan.

3.6. P ENGOLAHAN DAN ANALISA DATA a. Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul kemudian akan diolah : 1. Editing

memeriksa validitas yang masuk 2. Coding

Memberikan tanda atau kode tertentu terhadap data yang telah di edit.

3. Entry

Memasukkan data untuk diolah ke dalam program komputer yang telah ditetapkan.

4. Cleaning Data

Pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam computer guna mengindari terjadinya kesalahan dalam memasukkan data.

b. Analisa Data

Data dimasukkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian dicari persentase untuk masing-masing distribusi frekuensi tersebut, kemudian diberi penjelasan secara deskriptif.

3.7. DEFENISI OPERASIONAL 1. Variabel : Nyeri Kepala

Defenisi : Rasa nyeri atau rasa tidak enak pada daerah kepala, termasuk meliputi daerah wajah dan tengkuk leher Cara Ukur : Observasi rekam medis

Defenisi : Satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan sesuatu yaitu berupa tahun, bulan dan hari

Cara Ukur : Observasi rekam medis Alat Ukur : Rekam medis

Hasil Ukur : - Lanjut usia : 60 - 74 tahun - Lanjut usia tua : 75 - 90 tahun Skala Ukur : Nominal

3. Variabel : Jenis kelamin

Defenisi : Sifat jasmani atau rohani yang membedakan dua makhluk sebagai laki - laki dan perempuan

Cara Ukur : Observasi rekam medis Alat Ukur : Rekam medis

Hasil Ukur : - Laki - laki - Perempuan Skala Ukur : Nominal

4. Variabel : Durasi nyeri kepala

Defenisi : Rentang waktu atau lamanya nyeri kepala berlangsung Cara Ukur : Observasi rekam medis

Alat Ukur : Rekam medis Hasil Ukur : - 30 menit

- 30 menit - 4 jam

- 4jam - 3 hari - 3 hari

Skala Ukur : Ordinal

5. Variabel : Penyebab nyeri kepala

Defenisi : Hal atau sesuatu yang membuat nyeri kepala terjadi Cara Ukur : Observasi rekam medis

Alat Ukur : Rekam medis Hasil Ukur : - Primer

1. Migren

2. Tension Type Headache 3. Cefalgias Otonom Trigeminal 4. Nyeri Kepala Primer Lainnya - Sekunder

1. Trauma/cedera pada kepala dan/leher

2. Gangguan vaskular pada kranial atau servikal 3. Gangguan non vaskular pada intrakranial 4. Substansi atau withdrawal

5. Infeksi

6. Gangguan homeostasis

7. Gangguan pada kranial, leher, mata, telinga, hidung, rongga sinus, gigi, mulut atau struktur wajah/

servikal lainnya 8. Gangguan kejiwaan Skala Ukur : Nominal

6. Variabel : Tatalaksana nyeri kepala

Defenisi : Perawatan kesehatan untuk mempertahankan dan

- Non-Farmakologi Skala Ukur : Ordinal

33 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) kota Medan Provinsi Sumatera Utara. RSUP Haji Adam Malik berlokasi di Jalan Bunga Lau no. 17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan. Rumah Sakit ini merupakan Rumah Sakit Pemerintah dengan Kategori Kelas A. Selain itu, RSUP Haji Adam Malik Medan juga merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah Sumatera yang meliputi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Riau sehingga dapat dijumpai pasien dengan latar belakang yang sangat bervariasi. Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Ri No. 502/ Menkes/ IX/ 1991 tanggal 6 September 1991, RSUP Haji Adam Malik Medan ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

4.1.2 Deskripsi Karakteristik Subjek Penelitian

Dengan metode total sampling, didapatkan 81 pasien nyeri kepala pada lanjut usia yang dirawat di RSUP Haji Adam Malik Medan selama periode Januari – Desember 2018. Semua data pasien diambil dari data sekunder yaitu hasil rekam medis pasien. Dari keseluruhan pasien, variabel yang ditinjau adalah jenis nyeri kepala, usia, jenis kelamin, durasi, penyebab dan tatalaksana. Berikut ini adalah tabel distribusi frekuensi pasien berdasarkan usia.

Tabel 4.1. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi (n) Persentasi (%)

Lanjut Usia 45 55,6

Lanjut Usia Tua 36 44,4

Total 81 100,0

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa dari total 81 pasien nyeri kepala didapatkan, 45 pasien (54,9%) berusia 60 - 74 tahun yaitu lanjut usia dan 36 pasien (44,4%) berusia 75 – 90 yaitu lanjut usia tua. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ruiz et al., (2014) bahwa dari 361 pasien nyeri kepala, 262 pasien lanjut usia dan hanya 99 pasien lanjut usia tua.

Berdasarkan data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017 terdapat 23,66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia atau setara dengan 9,03%

(Kemenkes RI, 2017). Sejalan dengan meningkatnya populasi lansia, maka meningkat pula jumlah kasus nyeri kepala. Prevalensi kasus nyeri kepala pada lansia berkisar antara 25-89% (Barus, 2015).

Karakteristik sampel penelitian dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin, jenis nyeri kepala, penyebab, durasi dan tatalaksana. Berikut ini merupakan tabel karakteristik sampel penelitian :

Tabel 4.2. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentasi (%)

Laki - laki 38 46,9

Perempuan 43 53,1

Total 81 100,0

Berdasarkan tabel 4.2 dapat disimpulkan bahwa nyeri kepala pada lanjut usia lebih banyak pada perempuan sebanyak 43 pasien (53,1%) dan laki - laki 38 pasien (46,9%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ruiz, et al., (2014) bahwa lanjut usia dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami nyeri kepala dibandingkan laki - laki (62,1% dan 36,6%).

Hal ini juga didukung oleh pernyataan Grosberg BM, et al (2013), bahwa nyeri kepala lebih banyak dialami oleh perempuan karena diakibatkan oleh faktor psikologis, pengaruh psikososial dan faktor perilaku seperti contohnya, perempuan sering menghadapi sesuatu kejadian dengan tingkat stress lebih tinggi dibandingkan pria.

Tabel 4.3. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Jenis Nyeri Kepala

Jenis Nyeri Kepala Frekuensi (n) Persentasi (%)

Primer 29 35,8

Sekunder 52 64,2

Total 81 100,0

Berdasarkan tabel 4.3 distribusi frekuensi berdasarkan jenis nyeri kepala menunjukkan bahwa 29 pasien (35,8%) dengan jenis nyeri kepala primer dan 52 pasien (64,2%) jenis nyeri kepala sekunder. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Adnyana (2016), bahwa prevalensi nyeri kepala primer menurun seiring dengan bertambahnya usia, tetapi nyeri kepala sekunder lebih sering dijumpai pada lanjut usia.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ruiz et al., (2014) bahwa lanjut usia yang mengalami nyeri kepala sekunder lebih banyak dibandingkan nyeri kepala primer.

Nyeri kepala sekunder lebih banyak dialami oleh lanjut usia dikarenakan berbagai hal yaitu penyakit yang diderita oleh lanjut usia banyak dan biasanya kronik, perubahan kondisi tubuh dan serta banyaknya obat yang dikonsumsi (Setiati et al.,2006).

Tabel 4.4. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Penyebab

Penyebab Frekuensi (n) Persentasi (%) Migren

Berdasarkan tabel 4.4, distribusi frekuensi berdasarkan penyebab menunjukkan 1 pasien (1,2%) migren, 29 pasien (35,8%) Tension Type Headache, 4 pasien (4,9%) gangguan vaskular pada kranial dan servikal berupa stroke dan hipertensi, 34 pasien (42%) gangguan non vaskular pada pada intrakranial berupa malignant neoplasma, 4 pasien (4,9%) substansi / withdrawal, 8 pasien (9,9%) gangguan pada kranial, mata, telinga, rongga sinus, gigi, mulut atau struktur servikal lainnya dan 1 pasien (1,2%) gangguan kejiwaan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ruiz et al., (2014) yang menyatakan bahwa

nyeri kepala primer pada lanjut usia paling banyak disebabkan oleh Tension-type headache (28,7%) dibandingkan migren (23,8%).

Hal ini juga sesuai dengan penelitian di Italia yang dilakukan oleh Pascual J et al., dalam Hershey dan Bednarczyk (2012) bahwa nyeri kepala primer paling banyak adalah jenis Tension-type headache dan nyeri kepala sekunder adalah jenis gangguan non vaskular pada intrakranial.

Tetapi hasil penelitian ini berbeda dari pernyataan Salomon G et al., dalam Grosberg BM et al., (2013) bahwa nyeri kepala sekunder pada lanjut usia paling banyak disebabkan oleh giant cell arteritis (GCA).

Gangguan non vaskular pada intrakranial berupa malignant neoplasma paling banyak dialami oleh responden lanjut usia pada penelitian ini dikarenakan kesadaran akan pola hidup sehat pada usia muda sering terabaikan sehingga beresiko terjadinya penyakit di usia tua serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya penyakit yang mengakibatkan keterlambatan dalam penanganan.

Tabel 4.5. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Durasi

Durasi Frekuensi (n) Persentasi (%)

< 30 menit 3 3,7 menit sebanyak 3 pasien (3,7%), > 30 menit - 4 jam sebanyak 6 pasien (7,4%), >

4 jam - 3 hari sebanyak 9 pasien (11,1%), dan > 3 hari sebanyak 63 pasien (77,8%). %). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Bunyaratavej et al., (2010) bahwa durasi nyeri kepala pada lanjut usia sesuai penyebab paling sering dirasakan selama 1 bulan.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian M Prencipe et al., (2001) bahwa durasi nyeri kepala selama 15 hari / lebih dilaporkan hanya dialami 37 pasien (8,7%) dari 425 pasien lanjut usia.

Pada hasil penelitian ini, durasi nyeri kepala pada lanjut usia paling banyak dirasakan < 3 hari diakibatkan oleh penyebabnya sendiri yaitu Tension-type headache dan gangguan non vaskular pada intrakranial dengan jenis malignant neoplasma yang durasi nyerinya bersifat menetap dan berangsur-angsur memberat selama berhari-hari.

Tabel 4.6. Tabel Distribusi Frekuensi Pasien Berdasarkan Tatalaksana

Tatalaksana Frekuensi (n) Persentasi (%) Paracetamol dan Na

diclofenac

22 27,1

Ibupofen dan Amitriptyline

10 12,3

Paracetamol, Na Diclofenac dan

Amitriptyline

5 6,1

Paracetamol 9 11,1

Lainnya 35 43,4

Total 81 100,0

Berdasarkan tabel 4.6 distribusi frekuensi berdasarkan tatalaksana menunjukkan bahwa tatalaksana nyeri kepala pada pasien lanjut usia tidak hanya diberikan terapi tunggal, tetapi juga kombinasi terapi. Kombinasi terapi paling banyak dari pasien lanjut usia berupa Paracetamol dan Na Diclofenac 22 pasien (27,1%), Ibuprofen dan Amitriptyline 10 pasien (12,3%), Paracetamol, Na

Diclofenac dan Amitriptyline 5 pasien (6,1%) dan hanya 9 pasien (11,1%) yang mendapatkan terapi tunggal yaitu Paracetamol serta tatalaksana lainnya sebanyak 35 pasien (43,4%).

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Shapiro R (2008), yang menyatakan bahwa diantara tatalaksana nyeri kepala pada lanjut usia dapat diberikan obat golongan Acetaminophen yaitu Paracetamol dan NSAIDs yaitu Na diclofenac.

Pemberian kombinasi terapi diperbolehkan selama perhitungan efektivitas dan efek samping diperhatikan dengan baik, namun pemberian kombinasi analgesik yang berasal dari golongan yang sama harus dihindari (Barus, 2015).

Penelitian Dhusia et al., (2013) menyatakan bahwa kombinasi antara NSAIDs dan Paracetamol untuk mengatasi nyeri sering digunakan, tetapi masih menjadi kontroversial. Menhinick et al menyatakan bahwa kombinasi antara NSAIDs dan Paracetamol lebih baik dibandingkan NSAIDs saja. Akan tetapi pada penelitian Raisan et al menyatakan bahwa terapi kombinasi tidak memberikan efek lebih dibandingkan NSAID saja. Hasil penelitian Zahra AP et al., (2017) menyatakan bahwa pemberian obat golongan Acetaminophen yaitu Paracetamol sering digunakan pada lanjut usia karena diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna serta golongan NSAIDs yaitu Na diclofenac mempunyai kelebihan utama yaitu kemampuannya untuk memblokir isoenzim cyclooxygenase-2 (COX-2) 10 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan NSAIDs lain. Hal ini menyebabkan berkurangnya insiden gangguan gastrointestinal, tukak lambung, dan perdarahan gastrointestinal. Maka dari itu terapi kombinasi Paracetamol dan Na Diclofenac aman digunakan.

Ibuprofen merupakan golongan NSAIDs turunan asam propionat yang juga mempunyai kemampuan untuk menghambat COX, suatu enzim yang mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin, dengan demikian obat ini berguna sebagai antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik. Obat ini mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibanding NSAIDs lain, tetapi aktivitas anti inflamasinya lebih lemah (Moore N et al., 2015). Amitriptyline merupakan golongan Trisiklik antidepresan (TCAs). Obat ini umumnya digunakan untuk

mengatasi kecemasan dan depresi, tetapi pada dosis yang rendah obat ini banyak digunakan untuk mengatasi nyeri. Golongan Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang juga digunakan untuk mengatasi depresi, bekerja menghambat CYP2C9 yaitu sebuah enzim yang berperan dalam metabolisme NSAIDs, akan tetapi berbeda dengan Amitritptyline yang tidak menghambat CYP2C9, sehingga kombinasi Ibuprofen dan Amitriptyline aman digunakan (Moore N et al., 2015).

Menurut hasil penelitian Moore N et al., (2015), dalam mengatasi nyeri NSAIDs jika dikombinasikan dengan SSRI akan menimbulkan efek samping berupa perdarahan saluran cerna, akan tetapi hal itu dapat diatasi dengan mengganti NSAIDs dengan obat seperti Paracetamol yang memiliki waktu paruh pendek (1-3 jam) dan SSRI diganti dengan golongan TCAs ( dosis yang lebih rendah dibandingkan SSRI ) sehingga dapat mengurangi terjadinya perdarahan saluran cerna. Sejauh ini tidak ada laporan tentang efek yang merugikan dari kombinasi ini. Amitriptyline juga merupakan terapi ajuvan untuk mengatasi nyeri pada malignant neoplasma yang dibagi menjadi 2 bagian yaitu obat yang bekerja sebagai ko-analgesik ( meningkatkan kerja analgesik ) dan obat yang bekerja mengurangi efek samping analgesik. Maka dari itu sesuai beberapa penyataan diatas, terapi kombinasi antara Paracetamol, Na diclofenac dan Amitriptyline aman digunakan.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian cross-sectional dengan pengambilan data sekunder dari rekam medis, dimana data yang didapat hanya menunjukkan kejadian yang terjadi selama proses pengambilan data, sehingga tidak dapat diketahui apakah terapi tunggal ataupun kombinasi lebih baik dalam memberikan efek penghilang rasa nyeri kepala ataupun dalam meminimalisir efek samping yang dialami pasien saat mendapatkan terapi untuk mengatasi nyeri kepala.

41 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan pada penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan tentang gambaran nyeri kepala pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik sebagai berikut :

a. Nyeri kepala yang dialami pasien lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas pada kelompok lanjut usia 60 -74 tahun (55,6%) dengan jenis kelamin perempuan (53,1%).

b. Jenis nyeri kepala pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas nyeri kepala sekunder (63,4%).

c. Penyebab nyeri kepala pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas diakibatkan oleh gangguan non vaskular pada intrakranial berupa malignant neoplasma (42%).

d. Durasi nyeri kepala pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas selama > 3 hari (77,8%).

e. Tatalaksana nyeri kepala yang diberikan pada lanjut usia di poliklinik neurologi RSUP Haji Adam Malik mayoritas berupa terapi kombinasi yaitu Paracetamol dan Na diclofenac (27,1%).

5.2. SARAN

Dari penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut : 1. Bagi Institusi Pendidikan dibidang Kesehatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk studi secara komprehensif dalam mengembangkan strategi kesehatan bagi lanjut usia dalam menghadapi nyeri kepala yang dialaminya.

2. Bagi Pelayanan Kesehatan

a. Diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara tenaga kesehatan dengan lanjut usia untuk mengetahui tanda - tanda nyeri kepala agar dapat diatasi sebaik mungkin.

a. Diharapkan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama pada lanjut usia untuk memeriksakan diri sedini mungkin terkait dengan keluhan nyeri kepala.

3. Bagi Penelitian Selanjutnya

Diharapkan dapat melakukan penelitian yang dapat menilai nyeri kepala pada lanjut usia yang lebih luas, tidak hanya gambaran pada nyeri kepala tetapi juga dapat menilai risiko-risiko yang dapat menyebabkan nyeri kepala pada lanjut usia.

DAFTAR PUSTAKA

Adnyana IMO., Headache in elderly. Pokdi Nyeri Kepala Perdossi cab. Denpasar.

Akbar, M. Diagnosis Vertigo. 2003. [Acessed 15 December 2016].

Available from: www.goo.gl/yssJbL

Amira Puri Zahra & Novita Carolia | Obat Anti-inflamasi Non-steroid (OAINS):

Gastroprotektif vs Kardiotoksik

Bahrami P, Zebardast H, Zibaei M. Prevalence and Characteristics of Headache in Khoramabad, Iran. 2012:327-332.

Bahrudin, M. Neurologi Klinis. Malang : UMM Press. 2013.

Barus, J. 2015. Continuing Medical Education Penatalaksanaan Farmakologis Nyeri pada Lanjut Usia, 42(3), pp. 167-171.

Bendsent L., Jensen R. Mistazapin is effective in the prophylactic treatment of chronic tension-type headache. Neurology; 62: 1706-171.

Bettucci D., Testa L., Calzoni S., Mantegazza P., Monaco P. 2007. Combination tizanidene and amitriptyline in the prophylaxis of chronic tension-type headache: evaluation of efficacy and impact quality of life. J

Headache Pain. 7(1): 34-36.

Boehnke, C., Reuter U, Flach U. 2004. High dose riboflavin is efficatius migren prophylaxis: an open study. in tertiarycare centre. Eur. J Neurol. 11 (7):

475-477.

Bunyaratavej, Siwanuwatn, Chantra & Khaoroptham, 2010.

Darowski A., Chambers S., A., Chambers D., J. 2009. Antidepresant and fall in the elderly. Drug Aging; 26 95): 381-394.

Dee B., Jakcson R., C., Hersey L., A. 2013. Managing migraine and other headache syndrome in thise over 50. Maturitas; 76: 241-246.

Diener H, Hartung E, Chrusbasik J, A. 2001. Comparitive study oral acetylsalisilc acid and mateprolo for the prophylactic treatment of migraine: a randomized, controlled, double blind, parallel-group phase-III study.

Cephalalgia.; 21:120-128.

Dodick, D. W., & Capobianco, D. J. (2001). Treatment and management of cluster headache. Current pain and headache reports, 5, 83-91.

Friedman B., Corbo J., Lipton R. 2005. A trial of metoclopramide vs sumatriptan for emergency of departement teratment of migraines. Neurology.; 45;

42-46.

Galloway. D. A. et al. 2016 ‘HHS Public Access’, 32(4), pp. 87-92. Doi:

10.1016/j.coviro.2015.09.001.Human.

Gantenbein A., R., Lutz N., J., Riederer F., Sandor P., S. 2012. Efficacy and safety of 121 Ijnection of the greater occipital nerve in episodic and chronic cluster headache. Cephalagia; 32(8): 630-634.

Godberg, SW, Silberstein S, Grosberg BM. 2014 ;. Considetarion in the Treatment of tension type headache in Elderly. Drugs Aging; 31: 797- 804.

Gorelick PB, Scuteri A, Black SE, et al. Vascular Contributions to Cognitive Impairment and Dementia: A Statement for Healthcare Professionals From the American Heart Association/American Stroke Association.Stroke.

2011;42(9):2672-2713.

Grosberg BM, Friedman BW, Solomon S. Approach to the Patient with Headache

Grosberg BM, Friedman BW, Solomon S. Approach to the Patient with Headache

Dokumen terkait