BAB I. PENDAHULUAN
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.3. Manfaat Bagi Penelitian Lain
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan dan manfaat bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
5
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. NYERI KEPALA 2.1.1. Definisi
Nyeri kepala adalah rasa nyeri atau rasa tidak mengenakkan pada seluruh daerah kepala dengan batas bawah dari dagu sampai kedaerah belakang kepala ( area oksipital dan sebahagian daerah tengkuk )(Sjahrir, 2008).
Nyeri kepala adalah kondisi umum yang selalu mengganggu. Gangguan yang diakibatkan oleh nyeri kepala mulai dari yang ringan seperti gangguan fungsional sampai yang berat (mengancam nyawa). Dan menurut beberapa ahli dan atau sumber, nyeri kepala adalah suatu gejala penyerta dari beberapa penyakit (Hidayati, 2016).
2.1.2. Etiologi
Penyebab nyeri kepala banyak sekali, meskipun kebanyakan adalah kondisi yang tidak berbahaya (terutama bila kronik dan kambuhan), namun nyeri kepala yang timbul pertama kali dan akut awas ini adalah manifestasi awal dari penyakit sistemik atau suatu proses intrakranial yang memerlukan evaluasi sistemik yang lebih teliti (Bahrudin, 2013).
Nyeri kepala bisa dirangsang karena faktor intra kranial (misalnya: meningitis, Sub Arachnoid Haemorhage (SAH), tumor otak) atau faktor ekstra kranial yang umumnya bukan kasus neurologi (misalnya: sinusitis, glaukoma) yang keduanya digolongkan sebagai nyeri kepala sekunder (Bahrudin, 2013).
2.1.3. Epidemiologi
The Atlas of Headache Disorders menyajikan data yang diperoleh oleh WHO bekerja sama dengan Lifting The Burden: The Global Campaign againts headache. Data – data dikumpulkan dalam bentuk survei kuesioner dari ahli saraf, praktisi umum dan perwakilan pasien dari 101 negara, dilakukan dari Oktober 2006 sampai Maret 2009. Hasil yang diperoleh yaitu gangguan nyeri kepala
termasuk migrain dan nyeri kepala tipe tegang, merupakan gangguan yang paling sering terjadi. Studi prevalensi memperkirakan setengah sampai tiga perempat dari orang dewasa berusia 18 - 65 tahun di dunia telah memiliki nyeri kepala pada tahun lalu. Menurut studi ini, lebih dari 10% memiliki migrain, dan 1,7-4% dari populasi orang dewasa dipengaruhi oleh nyeri kepala selama 15 hari atau lebih pada setiap bulannya. Di seluruh dunia, sekitar 50% dari orang-orang dengan nyeri kepala lebih memilih untuk mengobati dirinya sendiri dan tidak menghubungi praktisi kesehatan. Sampai dengan 10% populasi dunia berkonsultasi ke ahli saraf, meskipun hanya sedikit di negara Afrika dan Asia Tenggara. Tiga penyebab konsultasi untuk nyeri kepala, baik perawatan primer dan spesialis yaitu migrain, nyeri kepala tipe tegang dan kombinasi keduanya.
2.1.4. Patofisiologi
Menurut Sjahrir (2008), beberapa teori yang menyebabkan timbulnya nyeri kepala terus berkembang hingga sekarang. Seperti, teori vasodilatasi kranial, aktivasi trigeminal perifer, lokalisasi dan fisiologi second order trigeminovascular neurons, cortical spreading depression, aktivasi rostral brainstem.
Rangsang nyeri bisa disebabkan oleh adanya tekanan, traksi, displacement maupun proses kimiawi dan inflamasi terhadap nosiseptor-nosiseptor pada struktur peka nyeri di kepala. Jika struktur tersebut yang terletak pada atau pun diatas tentorium serebelli dirangsang maka rasa nyeri akan timbul terasa menjalar pada daerah didepan batas garis vertikal yang ditarik dari kedua telinga kiri dan kanan melewati puncak kepala ( daerah frontotemporal dan parietal anterior ).
Rasa nyeri ini ditransmisi oleh saraf trigeminus (Sjahrir,2008).
Gambar 2.1. Patofisiologi Nyeri Kepala
1. Rangsangan yang menganggu diterima oleh nosiseptor ( reseptor nyeri ) polimodal dan mekanoreseptor di meninges dan neuron ganglion trigeminal
2. Pada innervasi sensoris pembuluh darah intrakranial ( sebagian besar berasal dari ganglion trigeminal ) di dalamnya mengandung neuropeptida seperti CGRP / Calcitonin Gene Related Peptide, Substance P, Nitric oxide, bradikinin, serotonin yang semakin mengaktivasi / mensensitisasi nosiseptor.
3. Rangsangan di bawa menuju cornu dorsalis cervical atas.
4. Transmisi dan modulasi nyeri terletak pada batang otak ( periaquaductal grey matter, nucleus raphe magnus, formasio retikularis ).
5. Hipotalamus dan sistem limbik memberikan respon perilaku dan emosional terhadap nyeri.
6. Pada talamus hanya terjadi persepsi nyeri .
7. Dan terakhir pada korteks somatosensorik dapat mengetahui lokasi dan derajat intensitas nyeri (Jatmiputri et al, 2017).
Menurut Bahrudin (2013), banyak faktor yang berperan dalam mekanisme patofisiologi nyeri kepala primer ini, akan tetapi pada dasarnya secara umum patofisiologisnya hampir mirip satu sama lainnya dengan disertai adanya sedikit perbedaan spesifik yang masing-masing belum diketahui dengan benar.
2.1.5. Klasifikasi nyeri kepala
Klasifikasi dan kriteria diagnostik headache dikeluarkan oleh International Headache Society (IHS) tahun 2019 dalam wujud ICHD-3 (The International Classification of Headache Disorders 3rd edition). Bagi dokter dan para tenaga kesehatan, klasifikasi dari nyeri kepala ini merupakan patokan dasar untuk menganalisa dan membuat diagnostik dari nyeri kepala yang diderita oleh pasiennya. Oleh IHS, nyeri kepala dikelompokkan menjadi 3 kategori umum, yaitu Nyeri kepala Primer (Primary Headaches), Nyeri kepala Sekunder (Secondary Headaches), dan Nyeri kepala dengan neuropati kranial, nyeri wajah lain dan nyeri kepala lainnya (Painful cranial neuropathies, other facial pains and other headaches).
2.1.5.1. Nyeri kepala primer
Nyeri kepala primer merupakan nyeri kepala yang tidak diasosiasikan dengan patologi atau kelainan lain yang menyebabkannya. Nyeri kepala ini masih dibagi berdasarkan profil gejalanya menjadi:
1. Migren
Migren adalah nyeri kepala dengan serangan nyeri yang berlangsung 4-72 jam. Nyeri biasanya unilateral, sifatnya berdenyut, intensitas nyerinya sedang sampai berat dan diperberat oleh aktivitas, dan dapat disertai mual, muntah, fotofobia dan fonofobia (ICHD-3,2018).
Migren memiliki dua subtipe mayor. Migrain tanpa aura dan migrain dengan aura. Migrain dengan aura terutama ditandai oleh gejala neurologis yang biasanya mendahului atau kadang-kadang menemani saat nyeri kepala.
Beberapa pasien juga mengalami fase premonitory (fase pertanda), terjadi beberapa jam atau hari sebelum nyeri kepala, dan fase resolusi. Yg memberi pertanda dan gejala resolusi seperti menguap berulang, kelelahan dan leher kaku dan / atau sakit (ICHD-3,2018).
2. Tension Type Headache ( TTH )
Tension type headache sangat umum terjadi, dengan prevalensi seumur hidup dalam populasi umum berkisar antara 30% dan 78% dalam studi yang berbeda, dan memiliki dampak sosial-ekonomi yang sangat tinggi (ICHD-3,2018).
Tiga bentuk TTH adalah : (ICHD-3,2018).
1. Infrequent episodic
Episode nyeri kepala yang jarang, bilateral, menekan atau mengikat dan intensitas ringan sampai sedang, berlangsung menit sampai hari. Rasa sakitnya tidak memburuk dengan aktivitas fisik rutin dan tidak berkaitan dengan mual, tetapi fotofobia atau fonofobia mungkin ada.
2. Frequent episodic
Episode nyeri kepala yang sering, bilateral, menekan atau mengikat dan intensitas ringan sampai sedang, berlangsung menit sampai hari. Rasa sakitnya tidak memburuk dengan aktivitas fisik rutin dan tidak berkaitan dengan mual, tetapi fotofobia atau fonofobia mungkin ada.
3. Kronis
Sebuah gangguan berkembang dari nyeri kepala tipe tegang episode sering, dengan episode nyeri kepala harian atau sangat sering, bilateral, kualitas menekan atau mengikat dan intensitas ringan sampai sedang, berlangsung jam sampai hari, atau tidak ada hentinya. Rasa sakit tidak memburuk dengan aktivitas fisik rutin, tetapi mungkin terkait dengan mual ringan, fotofobia atau fonofobia.
3. Cefalgias Otonom Trigeminal
Gangguan nyeri kepala ini memiliki gambaran klinis unilateral dan biasanya disertai dengan gejala otonom parasimpatis di daerah kepala, lateralisasi dan pada sisi yang sama dengan nyeri kepala. Studi eksperimental manusia menunjukkan bahwa sindrom ini mengaktifkan refleks trigemino-parasimpatis yang normal, sedangkan gejala klinis disfungsi simpatis yang terlokalisir secara kranial adalah sekunder (ICHD-3,2018).
4. Gangguan Nyeri Kepala Primer Lainnya
Dibagi menjadi empat kategori dan dikodekan dalam urutan yang sesuai di ICHD-3 :
1. Nyeri kepala terkait aktivitas fisik
2. Nyeri kepala yang disebabkan rangsangan fisik langsung 3. Nyeri kepala epikranial
4. Berbagai gangguan nyeri kepala primer lainnya
Nyeri kepala dengan karakteristik yang serupa karena kelainan ini mungkin merupakan gejala kelainan lain ( yaitu nyeri kepala sekunder ).
Ketika pertama kali terjadi, nyeri kepala ini membutuhkan penilaian yang cermat dengan CT-scan dan pengujian yang sesuai. Timbulnya beberapa nyeri kepala ini mungkin akut ataupun gawat darurat. Pemeriksaan yang memadai dan lengkap wajib dilakukan dalam kasus ini (ICHD-3,2018).
2.1.5.2. Nyeri kepala sekunder
Nyeri kepala sekunder merupakan nyeri kepala yang dikarenakan penyakit lain sehingga terdapat peningkatan tekanan intrakranial atau nyeri kepala yang jelas terdapat kelainan anatomi maupun struktur.
Nyeri kepala ini dapat dibagi menjadi :
1. Nyeri kepala karena trauma/cedera pada kepala dan/ leher
Merupakan nyeri kepala sekunder yang paling umum. Selama 3 bulan pertama sejak dirasakan nyeri maka dianggap akut, jika melebihi periode tersebut dianggap kronik.
Menurut IHS ( 2019 ) tidak ada gejala khusus yang dapat membedakan jenis nyeri kepala ini, tetapi nyeri kepala tipe migren dan tension type headache paling menyerupai. Akibatnya diagnosis dari penyakit ini sangat bergantung pada kejadian trauma atau cedera pada kepala dan/leher. Nyeri kepala yang disebabkan oleh trauma atau cedera pada kepala dan/leher diharuskan merasakan nyeri telah bertambah setelah 7 hari pasca trauma atau cedera atau dalam 7 hari setelah mendapatkan kesadaran kembali dan / dalam 7 hari pulih untuk merasakan dan menjelaskan rasa sakit.
Meskipun interval 7 hari ini sewenang-wenang, dan beberapa ahli berpendapat bahwa nyeri kepala dapat berkembang setelah interval yang lebih lama pada sebagian kecil pasien, tidak ada cukup bukti untuk mengubah persyaratan ini.
2. Nyeri kepala karena gangguan vaskular pada kranial atau servikal Nyeri kepala jenis ini mudah didiagnosa karena berhubungan dengan kondisi seperti stroke iskemik atau hemoragik. Timbul secara akut maupun dengan tanda -tanda neurologis. Pada beberapa orang lain, seperti perdarahan subaraknoid, nyeri kepala biasanya merupakan gejala yang menonjol. Dalam sejumlah kondisi lain yang dapat menyebabkan nyeri kepala dan stroke, seperti diseksi, trombosis vena serebral, giant cell arteritis, dan angitis system saraf pusat, nyeri kepala merupakan gejala peringatan awal. Oleh karena itu penting untuk mengenali hubungan nyeri kepala dengan gangguan vaskular untuk mendiagnosis dengan benar dan memberikan pengobatan yang tepat sedini mungkin (ICHD-3,2018).
3. Nyeri kepala karena gangguan non vaskular pada intrakarnial
Nyeri kepala yang disebabkan perubahan tekanan intrakranial. Tekanan cairan serebrospinal (CSF) yang meningkat dan menurun dapat menyebabkan nyeri kepala. Penyebab lain dari nyeri kepala ini adalah penyakit inflamasi non-infeksi, neoplasia intrakranial, kejang, kondisi langka seperti suntikan intratekal dan malformasi Chiari tipe I, dan gangguan intrakranial non-vaskular lainnya (ICHD-3,2018).
4. Nyeri kepala karena suatu substansi atau withdrawal
Hubungan antara nyeri kepala dan zat seringkali anecdotal, berdasarkan laporan banyak reaksi obat yang merugikan. Tetapi, hubungan antara nyeri kepala dan paparan suatu zat mungkin hanya kebetulan. Nyeri kepala mungkin merupakan gejala penyakit sistemik (ICHD-3,2018).
5. Nyeri kepala karena infeksi
Pada infeksi intrakranial, nyeri kepala biasanya merupakan gejala pertama dan paling sering dijumpai. Nyeri kepala adalah gejala umum dari infeksi
virus sistemik seperti influenza. Hal serupa juga terjadi pada sepsis (ICHD-3,2018).
6. Nyeri kepala karena gangguan homeostasis
Mekansime dibalik penyebab nyeri kepala jenis ini beragam. Namun demikian, dimungkinkan untuk menetapkan kriteria diagnostik umum (ICHD-3,2018).
7. Nyeri kepala atau nyeri wajah karena gangguan pada kranial, leher, mata, telinga, hidung, rongga sinus, gigi, mulut, atau struktur wajah atau servikal lainnya
Gangguan pada tulang belakang leher, struktur leher dan kepala telah dianggap sebagai penyebab umum nyeri kepala. Perubahan degeneratif pada tulang belakang leher dapat ditemukan pada hampir semua orang diatas 40 tahun (ICHD-3,2018).
8. Nyeri kepala karena gangguan kejiwaan
Nyeri kepala tentu saja dapat terjadi dalam hubungan dengan gangguan kejiwaan, termasuk gangguan depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan terkait trauma dan stress. Dalam kasus seperti itu, tidak ada hubungan sebab akibat, diagnosis nyeri kepala dan diagnosis psikiatrik yang terpisah harus dibuat (ICHD-3,2018).
2.1.5.3. Nyeri neuropati kranial, nyeri wajah dan nyeri kepala lainnya 1. Lesi yang nyeri pada saraf kranial dan nyeri wajah lainnya 2. Gangguan nyeri kepala lainnya
2.1.6. Pemeriksaan
Menurut Hidayati (2016) dalam Bahrudin (2013), seperti bidang ilmu kedokteran lainnya, pertama, tentu saja, secara umum adalah anamnesis dan pemeriksaan. Pemeriksaan pasien nyeri kepala terdiri dari:
A. Anamnesis
B. Pemeriksaan obyektif C. Pemeriksaan dengan alat D. Pemeriksaan laboratorium
A. Anamnesis
Menurut Bahrudin (2013), anamnesis sangat penting karena pada pasien nyeri kepala gejala obyektif sering hanya sedikit.
Cara melakukan anamnesis pada pasien nyeri kepala adalah sebagai berikut :
1. Pertanyaan yang pertama dilakukan adalah tentang menceritakan mengenai keluhan nyeri kepala pasien. Hal ini penting untuk mengetahui karakteristik nyeri kepala yang dikeluhkan pasien seperti apa
2. Pertanyaan selanjutnya adalah tentang bila terjadi serangan nyeri kepala, apa yang dirasakan oleh pasien tersebut
3. Selanjutnya ada tiga pertanyaan yang harus ditanyakan sehubungan dengan waktu :
a. Sudah berapa lama pasien menderita nyeri kepalanya (misal, sejak masih sekolah, dst)
b. Mengenai frekuensi nyeri kepalanya yaitu, apakah nyeri kepala seperti ini sering dirasakan dan apakah nyeri kepala ini terjadi sebelum, selama, atau sesudah menstruasi
c. Pada saat terjadi serangan nyeri kepala tersebut, perlu ditanyakan mengenai berapa lama nyeri kepala tersebut dirasakan (beberapa detik, menit, jam, atau hari)
4. Mengenai lokasi nyeri kepalanya, ada tiga pertanyaan yang harus diajukan, diantaranya yaitu:
a. Pada bagian yang mana nyeri kepala tersebut mulai dirasakan dan apakah mulai dari kening
b. Apakah nyeri kepala yang dirasakan pada bagian dalam (seperti pada migrain) atau pada permukaan kepala saja
c. Apakah nyeri kepala yang dirasakan pada pasien tersebut ini berpindah-pindah.
5. Tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya nyeri kepala:
a. Apa yang dapat menyebabkan timbulnya serangan nyeri kepala (misalnya, nyeri kepala timbul setelah minum anggur merah, makan coklat, dll.)
b. Hal apa saja yang dapat menambah rasa nyeri kepala pada pasien tersebut (misalnya, batuk, mengejan, sering kali berhubungan dengan meningkatnya tekanan intrakranial)
c. Obat apa yang dapat mengurangi rasa nyeri tersebut 6. Mengenai sifat (kualitas) nyeri kepala, perlu ditanyakan:
a. Bagaimana sifat nyeri kepala yang pasien rasakan (misalnya, panas, seperti ditusuk pisau, atau berdenyut)
b. Apabila mengalami serangan nyeri kepala, apakah pasien masih dapat bekerja, tidur, dan sebagainya (misalnya bila tidak dapat tidur badan semakin kurus, tidak dapat melihat TV menunjukkan nyeri kepala hebat)
7. Masih ada empat pertanyaan lain yang perlu diajukan:
a. Apakah yang pasien rasakan selain nyeri kepala (misalnya, selama serangan nyeri kepala pasien merasakan mual, muntah)
b. Upaya pengobatan yang pasien lakukan sebelumnya dan selain obat dan suntikan perlu ditanyakan juga tentang akupuntur, pijat, dsb c. Menurut anda, apa penyebab nyeri kepala anda (misalnya, pasien
takut mengalami perdarahan otak, tumor otak, dsb)
d. Setelah pasien lama menderita nyeri kepala, mengapa baru sekarang berobat (misalnya, karena mendengar adanya obat baru, dsb)
8. Sebaiknya, pada akhir anamnesis ditanyakan, apakah pasien masih ingin menambahkan sesuatu.
Jawaban yang diungkapkan pasien dari pertanyaan yang kita barikan seperti di atas dapat digunakan untuk membedakan jenis nyeri kepala (Bahrudin, 2013).
B. Pemeriksaan obyektif
Menurut Bahrudin (2013), pemeriksaan objektif mencakup pemeriksaan kesadaran (GCS), pemeriksaan nervus kranialis, dan pemeriksaan neurologis lainnya. Pemeriksaan ini terutama ditujukan ke arah dugaan tentang tipe nyeri kepala sesuai dengan anamnesis. Adanya defisit neurologi merujuk kepada nyeri kepala sekunder.
Apabila dokter umum menemukan tanda bahaya, maka tindakan selanjutnya adalah segera merujuk pasien ke neurolog. Apabila dokter neurolog yang menemukan tanda bahaya, maka tindakan selanjutnya adalah segera melakukan pemeriksaan penunjang dan memberi terapi sesuai dengan diagnosis yang telah ditetapkan (Hidayati, 2016).
C. Pemeriksaan dengan alat
Pemeriksaan tambahan tidak selalu diperlukan, sangat bergantung pada hasil pemerikaan klinis dan ada atau tidaknya defisit neurologis.
Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain : 1. Elektroensefalografi (EEG)
Menurut Bahrudin (2013), pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui lokasi dari proses, bukan untuk mengetahui etiologisnya. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan serial, dan biaya masih dapat dijangkau oleh sebagaian besar masyarakat. Indikasi untuk EEG:
a. Bila terdapat gangguan lapangan penglihatan b. Bila terdapat gangguan fungsi saraf otak
c. Bila pasien mengeluh black-out (epilepsi?, sinkope?)
d. Nyeri kepala yang menetap pada satu sisi disertai dengan gangguan saraf otak ringan
e. Perubahan dari lamanya dan sifat nyeri kepala
f. Bila setelah diberikan pengobatan tidak ada perbaikan dari nyeri kepala
2. CT scan
Menurut Bahrudin (2013), dengan pemeriksaan ini dapat diketahui tidak hanya letak dari proses tapi sering juga etiologi dari proses tersebut. Sayangnya, biaya pemeriksaan masih mahal.
Menurut Bahrudin (2013), indikasi terdapat kejang fokus:
a. Bila terdapat kejang fokal
b. Bila terdapat defisit neurologis yang persisten
c. Nyeri kepala pada satu sisi yang tidak berubah disertai dengan kelainan neurologis kontralateral dengan adanya suatu bruit
d. Perubahan dari pola nyeri kepala baik mengenai frekuensi, sifat, dan lamanya
e. Penurunan kesadaran yang lebih lama dari satu jam disertai gangguan saraf otak
D. Pemeriksaan laboratorium
Menurut Bahrudin (2013), pemeriksaan ini dikerjakan hanya bila ada indikasi :
a. Darah, bila diduga adanya infeksi atau gangguan penyakit dalam (anemia, gangguan metabolik)
b. Cairan serebro spinal (CSS) bila pada pemeriksaan klinis dicurigai adanya meningitis
Secara ringkas dapat disimpulkan bila pasien mengeluh nyeri kepala pastikan ada tanda meningeal atau bila tidak ada tanda meningeal lakukan pemeriksaan CT scan (Bahrudin, 2013).
2.1.7. Tatalaksana
Menurut Bahrudin (2013), sebelum memberikan terapi pada pasien nyeri kepala, diagnosis harus ditegakkan lebih dahulu. Pemberian obat-obat simtomatis kadang-kadang diperlukan untuk meringankan keluhan pasien. Jika nyeri kepala tersebut merupakan gejala yang berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya, maka pengobatan harus diberikan sesuai dengan etiologinya.
Saat nyeri timbul dapat diberikan beberapa obat untuk menghentikan atau mengurangi sakit yang dirasakan saat serangan muncul. Penghilang sakit yang sering digunakan adalah: acetaminophen dan NSAID seperti aspirin, ibuprofen, naproxen, dan ketoprofen (Akbar, 2010).
Acetaminophen efektif untuk sakit kepala sedang sampai berat dalam dosis tinggi. Efek samping acetaminophen lebih jarang ditemukan, tetapi penggunaan dalam dosis besar untuk waktu yang lama bisa menyebabkan kerusakan hati yang berat (Akbar, 2010).
NSAID efektif dalam dosis yang lebih rendah. Efek samping yang ditemukan antara lain mual, diare atau konstipasi, sakit perut, perdarahan dan ulkus (Akbar, 2010).
Pengobatan kombinasi antara acetaminophen atau aspirin dengan kafein atau obat sedatif biasa digunakan bersamaan. Cara ini lebih efektif untuk menghilangkan sakitnya, tetapi jangan digunakan lebih dari 2 hari dalam seminggu dan penggunaannya harus diawasi oleh dokter (Akbar, 2010).
Kebanyakan orang dengan nyeri kepala mencoba berbagai langkah non-farmakologi untuk meredakan nyeri. Namun, masih belum diketahui kebiasaan apa yang memberi respon yan baik untuk nyeri kepala (Akbar, 2010).
Penggunaan self manipulation pada penanggulangan nyeri kepala primer misalnya penekanan pada daerah yang sakit, kompres dingin, pijat, serta kompres panas, dapat mengurangi nyeri secara sementara sekitar 8% saja. Penanganan nyeri juga dapat melalui biofeedback, terdiri dari EMG (elektromiografi), temperature measuring sensors, heart rate monitor. Akupuntur, merupakan suatu ilmu pengobatan tusuk jarum dari Cina yang telah banyak dibuktikan dapat menyembuhkan suatu nyeri kepala kronis. Acu-points terletak didekat saraf, jika dirangsang maka akan dikirim ke SSP sehingga melepas endorphin (Akbar, 2010).
2.2. NYERI KEPALA PADA LANJUT USIA 2.2.1. Migren
Migren umumnya dijumpai pada orang muda, tetapi pada lanjut usia kejadiannya menurun. Gejala klinisnya hampir sama yaitu nyeri kepala berdenyut, vomitus, foto dan fonofobia. Migren dengan aura sering terjadi pada lanjut usia, tetapi aura juga bisa tanpa disertai nyeri kepala. Gejala aura tanpa nyeri kepala pada lanjut usia sering dijumpai dan disebut late-life migraineaccompaniments, yang ditandai dengan serangan berulang dan stereotipik defisit neurologi oleh karena efek skunder cortical spreading depression (CSD), yaitu gangguan hemisensorik, disfungsi berbahasa, abnormal visual. Gejala ini sering sukar dibedakan dengan TIA (Transient Ischaemic Attack) (Dee et al., 2013) dalam (Adnyana, 2016).
- Terapi migren
Terapi migren pada lanjut usia sangat sulit dan harus memperhatikan komorbid. Diagnosis yang akurat, sangat pasti dan pengetahuan yang memadai mengenai obat dan farmakologi masing-masing obat sangat diperlukan.
Hal yang harus diperhatikan pada pengobatan migren pada lanjut usia adalah : 1. Dosis yang tepat dan pasti.
2. Naikkan dosis secara perlahan sampai efek terapi dicapai dan gunakan jenis obat yang sederhana.
3. Jika memungkinkan gunakan terapi non farmakologi
Terapi migren pada lanjut usia umumnya sama seperti orang muda seperti ergotamin dan sumatriptan bisa digunakan kecuali pada orang dengan kardiovaskuler. Obat golongan triptan bisa digunakan bila tidak ada atau hanya satu faktor resiko kardiovaskuler. Pasien yang sudah jelas menderita penyakit jantung koroner tidak boleh diberikan triptan, dan pasien dengan ≥ 2 faktor risiko penyakit jantung koroner harus dilakukan evaluasi kardiovaskuler sebelum diterapi dengan triptan. Penyekat beta dan kalsium bisa memperberat gagal jantung kongestif dan depresi. Antidepresan trisiklik digunakan dengan memperhatian adanya gejala pembesaran prostat, glaukoma dan gagal jantung (Hersey and Bednarczyk, 2013) dalam (Adnyana, 2016).
Obat yang dapat digunakan untuk migren akut pada lanjut usia adalah : a. Magnesium sulfat IV dengan dosis 2 gr dilarutkan dalam 100 ml NaCl
habis dalam > 10 menit. Hasilnya sebanding dengan metoklopramid IV 10 mg. Kontra indikasi: alergi MGSO4, perubahan status mental, penyakit jantung/ginjal (Friedman et al., 2005, Dee et al., 2013) dalam (Adnyana, 2016).
b. Ketorolak: 30 mg IV dilarutkan dalam 30 ml NaCl atau dekstrose 5 % habis dalam > 30 menit.
Kontra indikasi: pasien sedang memakai antikonvulsan, antidepresan atau transquilizer. Riwayat alergi NSAIDs, kehamilan dan penggunaan alkohol (Klepper and Staton, 1991, Dee et al., 2013) dalam (Adnyana, 2016).
c. Asam valproat: 500-1000 mg dalam 100 ml NaCl habis > 30 menit.
Kontra indikasi : alergi asam valproat, kehamilan dan penyakit hati. Efek samping nausea, sedasi dan diare (Leninger et al., 2005) dalam (Adnyana, 2016).
- Terapi profilaksis migren
a. Topiramat 25-200 mg (mulai 25 mg dalam minggu pertama kemudian 2
a. Topiramat 25-200 mg (mulai 25 mg dalam minggu pertama kemudian 2