• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Keluarga dan Model Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga Beda Agama

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A Gambaran Umum Perumahan Tegalrejo

D. Deskripsi Keluarga dan Model Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga Beda Agama

Deskripsi keluarga dan model pendidikan agama Islam pada anak keluarga seagama dan beda agama pastinya terdapat perbedaan karena keluarga yang seagama termasuk keluarga yang homogen, sedangkan keluarga beda agama adalah keluarga yang heterogen. Dibawah ini akan penulis paparkan deskripsi keluarga dan model pendidikan agama Islam pada anak dalam keluarga beda agama, berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis terhadap lima keluaga beda agama di Perumahan Tegalrejo Permai Salatiga.

a. Keluarga Ibu Suryati

Ibu Suryati berumur 57 tahun adalah seorang pensiunan perhutani begitu juga suaminya Bapak Sunardi (64 tahun), beliau juga pensiunan perhutani. Keluarga ini dikaruniai satu orang anak, yang sekarang sudah berumur 30 tahun dan sudah berkeluarga serta mempunyai anak.

Pendidikan terakhir Ibu Suryati adalah S1, sedangkan suaminya lulusan SLTA. Anak mereka adalah lulusan S1 di Universitas Kristen dan sebelumnya anak mereka sekolah di SMU Kristen.

Agama yang dianut oleh Ibu Suryati adalah Islam dan beliau sudah naik haji, begitu juga anaknya. Anak beliau juga beragama Islam dan

sudah naik haji.Berbeda dengan Bapak Sunardi, beliau beragama Kristen Protestan. Ibu Suryati dan Bapak Sunardi menentukan bahwa agama anak mereka Islam karena Ibu sebagai pendidik utama anak maka lebih baik agama anak mengikuti Ibu yaitu Islam, sedangkan Bapaknya sibuk kerja sehingga tidak bisa mendidik anaknya. Ibu Suryati dahulunya adalah seorang santri di salah satu pondok pesantren di Jawa Barat dan semua keluarganya beragama Islam. Sedangkan Bapak Sunardi dulu waktu kecilnya juga beragama Islam dan latar belakang keluarganya pun juga Islam, tetapi karena beliau dulu sekolah di sekolah Kristen, maka beliau terpengaruh dan pindah ke agama Kristen sampai sekarang.

Alasan mereka menikah beda agama, menurut mereka itu adalah takdir, suami istri berbeda tidak apa-apa karena lakum diinukum

waliyadiin, masalah agama itu adalah masalah individu yang penting tidak

saling merusak dan prinsip mereka mengenai agama adalah harus fanatik tetapi hanya dalam pribadi diri sendiri, dan jika diluar pribadi harus toleran. Orang ingin bilang apa terserah karena yang mengetahui tentang agama seseorang adalah diri sendiri dan Tuhan. Mereka dulu menikah beda agama di Dinas Pencatatan Sipil. Cara mereka bertoleransi di dalam keluarga adalah dengan saling mendukung kegiatan keagamaan masing- masing dan mereka dari dahulu sampai sekarang tidak pernah konflik dalam hal agama karena sejak awal mereka sudah saling memberikan pengertian.

“Prinsip kami lakum diinukum waliyadiin yang penting tidak

merusak jadi kami saling mengingatkan dan saling menghargai antara satu dengan yang lainnya, jika natal Bapak ikut menghadiri acara natal dan jika lebaran Ibu juga turut menghadiri begitu juga anak kami, sejak

kecil dididik untuk toleransi.” (SY/9-7-16)

Dari petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa di dalam keluarga Ibu Suryati terdapat sikap toleransi yang tinggi dan keyakinan agama yang kuat di dalam pribadi masing-masing keluarga Ibu Suryati.

Model Ibu Suryati dalam mendidik anak adalah dengan cara mendidik sendiri anaknya di rumah, memasukkam ke TPQ, meminta saudara-saudaranya yang Islam untuk mengajari, diajak ke majlisan dan sholat jama’ah di masjid.

“Mendidiknya di rumah dengan mengajari sholat dan ngaji

sehabis maghrib, dimasukkan ke TPQ, meminta saudara-saudaranya yang

Islam untuk mengajari, diajak ke majlis tadarusan, diajak sholat jama’ah

di masjid.” (SY/9-7-16)

Hal di atas adalah upaya yang dilakukan Ibu Suryati di dalam memberikan pendidikan agama pada anaknya, meskipun Ibu Suryati sibuk bekerja di Perhutani tetapi Ibu Suryati masih bisa mengajari anaknya ketika habis maghrib dan karena keterbatasan di dalam mendidik anak maka Ibu Suryati meminta pada saudara-saudara/keponakan- keponakannya yang Islam untuk mengajari anaknya agama Islam.

Yang ditanamkan Ibu Suryati mengenai agama yang terpenting adalah sholat.

“Yang saya tanamkan ke anak yang terpenting adalah sholat.”

Sholat adalah tiangnya agama, oleh karenya menjalankan sholat termasuk hal yang banyak ditanamkan oleh para orang tua.

Meskipun suami Ibu Suryati beragama Kristen, suami Ibu Suryati juga ikut andil di dalam mengingatkan bahkan mengajari agama kepada anak-anak karena suami Ibu Suryati kurang lebih juga tahu tentang agama Islam. Do’a-do’a maupun surat-surat pendek beliau juga hafal karena dahulu latar belakang suami dan orang tua suami Ibu Suryati Islam.

“Iya, Bapak meskipun Kristen beliau hafal do’a-do’a, surat-surat pendek karena dulu orang tua Bapak Islam, jadi Bapak juga ikut andil mengajari anak dan beliau sering mengingatkan anak jika tidak

beribadah.” (SY/9-7-16)

Dari petikan wawancara di atas, berarti ada nilai tambah dari suami Ibu Suryati, yaitu suaminya mempunyai latar belakang Islam sehingga dalam mendidik agama Islam anaknya, suaminya juga bisa.

Dari uraian diatas pula maka dapat disimpulkan bahwa materi- materi pendidikan agama Islam yang diajarkan kepada anak dalam keluarga Ibu Suryati antara lain adalah tentang sholat, ngaji, do’a-do’a dan surat-surat pendek

Jika anak-anak tidak mau beribadah yang Ibu Suryati lakukan adalah memotivasi dan tidak memaksakan anak tetapi mengalihkan ke hal-hal yang positif.

“Memotivasinya dan tidak memaksakan anak tetapi mengalihkan

ke hal-hal positif.” (SY/9-7-16)

Dari petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa ada hal yang berbeda yang dilakukan Ibu Suryati jika anak tidak mau beribadah yaitu

mengalihkannya ke hal-hal positif sehingga anak Ibu Suryati bisa terhindar dari perilaku-perilaku negatif.

Prinsip Ibu Suryati dalam mengajar agama Islam adalah anak harus menjadi orang Islam yang toleran dan menghomati yang lain.

“Anak harus mengikuti agama Ibu, Islam tapi harus toleran dan

menghormati yang lain.” (SY/9-7-16)

Prinsip Ibu Suryati demikian adalah agar anak bisa hidup rukun dengan yang lain dan terhindar dari konflik, serta bisa hidup harmonis dengan yang lain.

b. Keluarga Bapak Haryoto

Pekerjaan Bapak Haryoto adalah wiraswasta. Beliau lahir 53 tahun yang lalu. Istrinya bernama Sulistyowati seorang PNS yang sekarang berumur 54 tahun. Di usia pernikahan mereka yang sudah 30 tahun ini, mereka dikaruniai tiga orang anak yaitu anak pertama perempuan (29 tahun), anak kedua laki-laki (25 tahun) dan anak ketiga juga laki-laki (24 tahun). Anak pertama dan kedua sudah menikah dan anak yang terakhir masih kuliah.

Pendidikan terakhir Bapak Haryoto adalah S1 dan dahulu ketika SMA beliau pernah sekolah di sekolah katolik satu kelas dengan istrinya. Sedangkan pendidikan terakhir istrinya SMA, anak pertama D3, anak kedua S1 dan anak ketiga SMA.

Adapun agama yang dianut oleh Bapak Haryoto adalah Islam, begitu juga anak pertamanya yang perempuan, sedangkan istri dan kedua anaknya yang laki-laki beragama Katolik. Hanya anak pertama yang

beragama Islam karena sesuai kesepakatan bahwa anak pertama harus Islam dulu, kemudian dikarenakan Bapak Haryoto tidak dapat memperhatikan agama anak karena kesibukannya maka anak Bapak Haryoto beragama Katolik disesuaikan dengan Ibunya yang dapat memperhatikan pendidikan agama anak mereka. Mengenai agama anak, Bapak Haryoto tidak memaksa, beliau memberikan kebebasan kepada anaknya untuk menentukan agamanya sendiri.

Alasan mereka menikah beda agama adalah karena cinta dan sudah sangat saling mengenal. Sebenarnya orang tua Bapak Haryoto menginginkan dapat menantu yang seiman tapi karena melihat kondisi, dan sudah cocok serta jika melihat yang seiman tidak menjamin tidak ada problem dalam berumah tangga, maka akhirnya orang tua merestui. Sehingga akhirnya Bapak Haryoto dan istrinya menikah di Dinas Pencatatan Sipil. Untuk mertua Bapak Haryoto, mereka merestui. Dahulu mertua Bapak Haryoto pernah beragama Islam kemudian karena sebab terentu keduanya pindah menjadi katolik begitu juga anak-anaknya pun Katolik. Cara bertoleransi antara Bapak Haryoto dengan keluarganya adalah saling menghargai, mengingatkan dan tidak membatasi.

Mengenai pendidikan agama anak, Bapak Haryoto tidak begitu memperhatikan. Ketika kecil anaknya yang pertama yang beragama Islam dimasukkan di Sekolah Katolik. Sedangkan pendidikan agama anaknya beliau pasrahkan ke pihak TPQ, karena jika mendidik sendiri Bapak Haryoto tidak sempat, Bapak Haryoto sibuk dengan pekerjaannya. Istrinya

yang beragama Katolik tidak bisa jika mengajari anaknya agama Islam. Istri Bapak Haryoto hanya bisa mengingatkan saja jika waktunya sholat atau ngaji.

“Saya masukkan TPQ dan juga saya serahkan pendidikan

agamanya di sekolah mbak karena saya tidak sempat untuk mengajar ngaji sendiri anak, dan dulu ketika kecil dia pernah masuk di sekolah

katolik mbak.”(HY/15-8-2015)

Memasukkan anak ke TPQ adalah upaya efektif untuk memberikan pendidikan agama kepada anak, tetapi menyerahkan pendidikan agama anak ke TPQ dan tidak pernah menyempatkan diri untuk memperhatikan pendidikan agama anak menunjukkan Bapak Haryoto termasuk kurang peduli terhadap pendidikan agama anak.

Tetapi meskipun begitu ada nilai plus dari Bapak Haryoto yaitu beliau menekankan kepada anaknya untuk berjilbab. Selain itu Bapak Haryoto menanamkan kepada anak harus mengikuti ajaran dengan baik dan menjadi orang yang takut akan Tuhannya.

“Harus takut akan Tuhannya, harus mengikuti ajaran dengan baik dan memakai jilbab.” (HY/15-8-2015)

Dengan takut akan Tuhan, mengikuti ajaran agama dengan baik, dan memakai jilbab Bapak Haryoto berharap anaknya tidak terjerumus ke hal-hal negatif.

Hambatan Bapak Haryoto dalam membimbing agama anak adalah anak suka malas dan kesibukan Bapak Haryoto.

“Anak malas bangun pagi dan kesibukan orang tua.” (HY/15-8-

Anak malas bangun pagi merupakan hal yang dilakukan kebanyakan anak sehingga hal tersebut mrupakan hambatan yang umum dihadapi oleh orang tua. Cara Bapak Haryoto jika anak tidak mau melakukan ibadah adalah dengan diperingatkan, diberi pengarahan dan

dislentik jika tidak mau.

“Diingatkan, dikasih pengarahan, dan dislentik kalau tidak mau mbak.” (HY/15-8-2015)

Dari petikan wawancara diatas menunujukkan bahwa Bapak Haryoto menggunakan sedikit kekerasan di dalam mendidik anak. Tetapi kekerasan disini digunakan jika anak benar-benar sulit bila di peringatkan. c. Keluarga Bapak Djoko Susanto

Bapak Djoko Susanto berumur 44 tahun, lulusan S1 bekerja sebagai advokat, sedangkan istrinya Agnes Dwi Kartika yang juga lulusan S1 dan berumur 44 tahun bekerja sebagai ibu rumah tangga. Mereka dikaruniai dua orang anak, berumur 16 tahun dan 13 tahun yang sekarang masih duduk di bangku SMA dan SMP. Anak mereka sekolah di SMA dan SMP Umum.

Kedua anak Bapak Djoko semuanya Islam seperti Bapak Djoko, sedangkan agama istrinya adalah Katolik. Kedua anak beliau Islam adalah atas kesepakatan mereka berdua tetapi tetap yang lebih menentukan adalah Bapak.

Dahulu pernikahan Bapak Djoko, awalnya di Gereja tetapi tidak dibaptis, dan karena surat keterangan dari Gereja maupun catatan sipil

tidak bisa keluar maka Bapak Djoko dan istrinya memutuskan untuk menikah lagi secara Islam.

Cara Bapak Djoko dan istrinya bertoleransi agama di dalam keluarga adalah dengan saling menghargai dan mengingatkan. Tetapi meskipun begitu Bapak Djoko berharap istrinya bisa masuk Islam dengan berusaha memberi pengetahuan-pengetahuan mengenai agama Islam.

Mengenai pendidikan agama anak-anaknya, Bapak Djoko intinya mengajarkan hal-hal yang sesuai syariat tetapi dalam proses pendidikaannya Bapak Djoko lebih menyerahkannya ke pihak sekolah dan guru ngaji.

“Saya ikutkan ngaji di guru ngaji belakang rumah dan selain itu saya serahkan pendidikan agamanya di sekolahan mbak.” (DS/15-8-2015) Dari petikan wawancara diatas menunjukkan bahwa rumah Bapak Djoko agak jauh dari TPQ sehingga anak tidak dimasukkan ke TPQ tetapi diikutkan ngaji di rumah orang yang pandai dalam agamanya. Selain itu, petikan wawancara diatas menunjukkan bahwa Bapak Haryoto kurang memperhatikan pendidikan agama anak di dalam keluarga, padahal pendidikan agama di dalam keluarga itu sangat penting.

Istri Bapak Djoko meskipun beragama katolik, beliau juga turut mendukung pendidikan agama anaknya yaitu dengan cara selalu menyiapkan baju muslim anak-anaknya untuk pergi mengaji.

“Iya mbak istri ikut mendukung, keperluan anak untuk ngaji slalu dia siapkan.” (DS/15-8-2015)

Yang dilakukan istri Bapak Haryoto diatas merupakan upaya istri Bapak Djoko untuk ikut andil di dalam memperhatikan pendidikan agama anak. Tetapi yang dilakukan istri Bapak Haryoto hanya sekedar itu saja karena beliau tidak bisa jika disuruh mengajari agama anaknya karena beliau tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut.

Yang dilakukan Bapak Djoko jika anak-anaknya tidak mau menjalankan ibadah adalah dengan diberi pengertian dan kadang-kadang dimarahi.

“Dikasih pengertian dan kadang-kadang ya dimarahi.” (DS/15-8-

2015)

Dari petikan wawancara diatas menunjukkan bahwa Bapak Djoko terkadang memarahi anak jika anak benar-benar sulit untuk disuruh ibadah. Hal tersebut adalah upaya Bapak Djoko agar anak mau beribadah karena ibadah itu penting.

Prinsip Bapak Djoko mengenai agama untuk anak-anaknya adalah anak menjalankan kewajiban ibadahnya.

Sedangkan hambatan Bapak Djoko dalam mendidik agama Islam bagi anaknya adalah pengaruh media elektonik.

d. Keluarga Bapak Djohan Purnomo

Bapak Djohan Purnomo adalah pensiunan PNS yang lahir 64 tahun lalu. Istrinya Ibu Susi Herniyati adalah Ibu rumah tangga yang lahir 60 tahun yang lalu. Mereka mempunyai empat orang anak, anak yang pertama 37 tahun, kedua 34 tahun, ketiga 30 tahun dan yang keempat 28 tahun.

Pendidikan terakhir Bapak Djohan dan istrinya adalah SMA. Untuk anak yang pertama dan kedua lulusan D3, sedangkan anaknya yang ketiga S1 dan yang keempat lulusan D3.

Agama Bapak Djohan Islam begitu juga anaknya yang kedua, ketiga dan keempat. Istrinya Bapak Djohan beragama Katolik, sama dengan anaknya yang pertama. Bapak Djohan dan Ibu Susi menentukan agama anaknya dengan cara kesepakatan bahwa anak yang lahir pertama akan ikut ibunya yaitu beragama Katolik dan untuk anak yang lahir selanjutnya semuanya akan ikut agama Bapaknya yaitu Islam. Kemudian anak yang lahir tenyata empat orang, jadi akhirnya untuk agama anak sesuai dengan kesepakatan yaitu anak yang pertama mengikuti agama Ibu yaitu Katolik dan tiga anak selanjutnya mengikuti agama Bapak yaitu Islam.

Bapak Djohan dan Ibu Susi dahulu menikah beda agama dengan secara Islam yaitu di KUA pada tahun 1997. Cara bertoleransi beragama di dalam keluarga mereka adalah dengan saling mendukung.

“Saling mendukung, saling menghadiri ke acara natal maupun

lebaran, ketika ada yasinan ya saya dipersilahkan untuk berangkat, ketika

istri waktunya berdo’a ya saya antar ke gereja.” (DP/6-8-2015)

Petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa toleransi di dalam keluarga Bapak Djohan juga tinggi sama seperti keluarga Ibu Suryati. Istri Bapak Djohan meskipun beragama Katolik, beliau ikut andil di dalam pendidikan agama Islam anaknya.

“Ibu ikut andil, ketika bulan puasa Ibu ikut puasa, ikut menyuruh ngaji, sholat dan ikut membelikan krudung untuk anak perempuannya

yang Islam.” (DP/6-8-2015)

Dari petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa istri Bapak Djohan sangat menghargai agama anak dan suminya karena ketika bulan puasa , istri Bapak Djohan juga rela untuk berpuasa.

Model Bapak Djohan mendidik agama Islam kepada anaknya adalah dengan cara mengajak, dicarikan tempat ngaji.

“Saya carikan tempat ngaji, setiap jum’at saya ajak sholat

jum’at.” (DP/6-8-2015)

Metode mendidik anak di atas merupakan metode yang umum di gunakan oleh orang tua, begitu juga dengan Bapak Djohan. Kemudian yang ditanamkan Bapak Djohan kepada anak tentang agama terutama adalah akhlak.

“Yang saya ajarkan ya sesuai dengan ajaran Islam dan yang

benar-banar saya tanamkan kepada anak adalah sikap jujur, disiplin,

ikhlas, kesederhanaan, tanggungjawab, rajin, pinter dan bener.” (DP/6-

8-2015)

Sikap-sikap diatas ditanamkan oleh Bapak Djohan kepada anaknya adalah karena sikap-sikap tersebut adalah sikap yang baik yang sangat dibutuhkan di dalam kehidupan. Kemudian yang dilakukan Bapak Djohan jika anak tidak mau beribadah adalah dengan peringatan dan sedikit ketegasan.

“Diperingatkan dan sedikit saya tegasi.” (DP/6-8-2015)

Petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa Bapak Djohan termasuk orang tua yang tegas di dalam mendidik anak. Selanjutnya

prinsip Bapak Djohan dalam mendidik anak yaitu anak bisa menjadi orang yang berguna serta sukses dunia maupun akhirat.

“Prinsip saya adalah anak dapat menjadi anak yang berguna, dan

sukses dunia maupun akhirat.” (DP/6-8-2015)

Prinsip di atas merupakan hal yang diinginkan oleh setiap orang tua, oleh karenanya Bapak Djohan berprinsip hal tersebut. Hambatan yang dihadapi Bapak Djohan dalam mendidik anak adalah Bapak Djohan belum bisa maksimal dalam mendidik anak dikarenakan kesibukan Bapak Djohan.

“Kesibukan mbak jadinya saya tidak bisa maksimal dalam

mendidik anak.” (DP/6-8-2015)

Hampir semua orang tua di Perumahan Tegalrejo adalah orang tua yang sibuk, termasuk Bapak Djohan. Oleh karenanya banyak anak yang pendidikan agama di dalam keluarganya kurang maksimal.

e. Keluarga Ibu Sri Yulianti

Ibu Sri Yulianti dan suaminya Imawan Sudarmadi bekerja sebagai buruh. Mereka menikah sepuluh tahun yang lalu dengan status sebelumnya adalah janda dengan empat orang anak dan duda dengan satu orang anak. Jadi setelah mereka menikah, mereka mempunyai lima orang anak.

Ibu Sri Yulianti beragama Islam dan Bapak Imawan Sudarmadi suaminya, beragama kristen protestan. Empat orang anak dari Ibu Sri beragama Islam dan satu orang anak dari suaminya beragama seperti Bapaknya Kristen Protestan.

Umur Ibu Sri adalah 50 tahun sedangkan anaknya yang pertama 35 tahun, anak yang kedua 33 tahun, anak yang ketiga 30 tahun dan anak yang keempat 13 tahun. adapun umur suami Ibu Sri Yulianti adalah 40 tahun sedangkan umur anak dari suaminya sama dengan anaknya yang terakhir yaitu 13 tahun.

Pendidikan terakhir dari Ibu Sri Yulianti yaitu SMP dan suaminya adalah SMA. Sedangkan anak-anaknya yang pertama lulusan S1, anak yang kedua dan ketiga lulusan SMA, anak yang keempat dan anak yang dari suaminya masih sekolah kelas 2 SMP. Anak Ibu Sri Yulianti semuanya sekolah di sekolah umum.

Daerah asal Ibu Sri Yulianti adalah Magelang, sedangkan suaminya adalah asli Salatiga. Alasan mereka menikah beda agama adalah mereka menganggap bahwa itu adalah jodoh karena awal mula mereka berdua saling kenal adalah karena tidak sengaja ada sms nyasar. Mereka dahulu menikah dengan cara Kristen yaitu Ibu Sri Yulianti pindah dahulu ke agama kristen setelah prosesi pernikahan selesai Ibu Sri Yulianti kembali lagi ke agama Islam.

Cara bertoleransi Ibu Sri Yulianti dan keluarganya adalah dengan menjalankan ibadahnya masing-masing dengan tanpa melarangnya, saling menghargai dan saling mengingatkan, sehingga Ibu Sri Yulianti dan keluarganya tidak pernah bertengkar dalam hal agama.

“Tidak pernah bertengkar dalam hal agama, dalam menjalankan

ibadah sesuai dengan agama masing-masing, saling mengingatkan, dan ketika lebaran maupun natal saling menghandiri kemarin pas puasa suami

Petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa dalam keluarga Ibu Sri Yulianti terdapat toleransi yang tinggi. Mengenai agama anak, Ibu Sri Yulianti menyerahkannya kepada anak itu sendiri. Dahulu pernah anak Ibu Sri Yulianti yang kecil masih SMP ingin pindah agama dan Ibu Sri Yulianti tidak melarangnya yang penting jika sudah yakin dengan satu agama harus bersungguh-sungguh dalam agama tersebut tetapi anak Ibu Sri Yulianti yang Kristen tersebut akhirnya tidak jadi pindah.

Mengenai pendidikan agama Islam anak-anaknya, Ibu Sri Yulianti menyerahkannya ke TPQ dan menyerahkannya kepada diri sendiri anaknya, di karenakan Ibu Sri Yulianti sibuk di dalam bekerja.

“Anak sudah tau belajar sendiri mbak jadi saya cuma mengingatkan saja, dulu ketika kecil saya masukkan TPA tapi anak saya yang paling kecil sekarang jarang berangkat TPA mbak karena sekolahnya sampai sore terus, dan saya juga sibuk jadi saya biarkan dia

belajar sendiri.” (SYL/20-8-2015)

Dari petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa dalam memberikan pendidikan agama anak Ibu Sri agak liberal karena anak dibiarkan untuk belajar sendiri tentang agamanya tanpa di kendalikan oleh orang tuanya. Hal tersebut dilakukan Ibu Sri mungkin karena beliau sudah percaya terhadap anaknya.

Suami Ibu SriYulianti meskipun beragama kristen dan sering pergi suami beliau ikut andil dalam pendidikan agama Islam anaknya.

“Iya ikut andil mbak, suami saya ikut mengingatkan, kadang kalau

sedang pergi jauh mengingatkan lewat sms dan kemarin pas bulan puasa

Petikan wawancara di atas menunjukkan bahwa suami Ibu Sri termasuk suami yang perhatian terhadap keagamaan kelurganya karena meskipun sedang tidak di rumah, beliau tetap mengingatkan anak melalui sms dan bliau juga ikut puasa jika bulan puasa datang. Yang ditanamkan Ibu Sri Yulianti mengenai agama kepada anaknya adalah kita semua harus saling rukun, tidak boleh saling bertengkar dan saling mengejek dalam