KAJIAN PUSTAKA
C. Konsep Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga Beda Agama 1 Pengertian dan Hukum Menikah Beda Agama
Perkawinan antar agama yaitu perkawinan antara dua orang yang berbeda agama dan masing-masing tetap mempertahankan agama yang dianutnya (Eoh, 2001:36).
Perkawinan beda agama sering mengalami hambatan karena para pejabat pelaksana perkawinan dan pemimpin agama/ulama menganggap bahwa perkawinan yang demikian dilarang oleh agama dan karenanya bertentangan dengan UU Perkawinan.
Dalam memahami UU Perkawinan dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama terdapat perbedaan pemahaman antara lain yaitu ada yang memahami perkawinan antar agama merupakan pelanggaran terhadap UU Perkawinanberdasarkan landasan pasal 2 ayat (1) dan pasal 8 huruf (f) yang dengan tegas menyebutkan hal itu. Ditambah argumentasi bahwa setiap agama di Indonesia mencegah/ tidak menyenangi terjadinya perkawinan antar agama, ada juga yang memahami bahwa perkawinan antar agama adalah sah dan oleh karenanya dapat dilangsungkan, karena perkawinan tersebut tercakup dalam perkawinan campuran.
Titik berat pasal 57 tentang perkawinan campuran terletak pada “dua orang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan”. Dan tata cara pelaksanaannya diatur oleh pasal 6 Peraturan Perkawinan Campuran. Selain itu ada yang memahami bahwa UU Perkawinan tidak mengatur sama sekali masalah perkawinan antar agama.
Berdasarkan hal tersebut dengan merujuk pasal 66 UU Perkawinan, paham ini menganggap bahwa peraturan-peraturan lama selama UU Perkawinan belum mengaturnya, dapat diberlakukan. Oleh karena itu persoalan perkawinan antar agama, harus merujuk pada peraturan perkawinan campuran.
Suhadi (2006:19) Secara tekstual terdapat tiga ayat al-Qur’an yang secara khusus membahas perkawinan orang muslim dengan non muslim, yaitu: a. QS al-Baqarah:221
ْوَلَو ةَكِرْشُم ْنِم ٌرْ يَخ ٌةَنِمْؤُم ٌةَملأَو َّنِمْؤُ ي َّتََّح ِتاَكِرْشُمْلا اوُحِكْنَ ت لاَو
َّتََّح َينِكِرْشُمْلا اوُحِكْنُ ت لاَو ْمُكْتَبَجْعَأ
ْوَلَو كِرْشُم ْنِم ٌرْ يَخ ٌنِمْؤُم ٌدْبَعَلَو اوُنِمْؤُ ي
َيآ ُ ينَ بُ يَو ِهِنْذِإِب ِةَرِفْغَمْلاَو ِةَّنَْلْا َلَِإ وُعْدَي ُهَّللاَو ِراَّنلا َلَِإ َنوُعْدَي َكِئَلوُأ ْمُكَبَجْعَأ
ِهِتا
َنوُرَّكَذَتَ ي ْمُهَّلَعَل ِساَّنلِل
Artinya:Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik,sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang- orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya dan Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya)
kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. b. QS al-Mumtahanah:10
ُمَلْعَأ ُهَّللا َّنُهوُنِحَتْماَف تاَرِجاَهُم ُتاَنِمْؤُمْلا ُمُكَءاَج اَذِإ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اَي
لا ِراَّفُكْلا َلَِإ َّنُهوُعِجْرَ ت لاَف تاَنِمْؤُم َّنُهوُمُتْمِلَع ْنِإَف َّنِِنِاَيِإِب
ٌّلِح َّنُه
ْمُتْقَفْ نَأ اَم اوُلَأْساَو ِرِفاَوَكْلا ِمَصِعِب اوُكِسُْتُ لاَو َّنُهَروُجُأ َّنُهوُمُتْيَ تآ اَذِإ
ُكِلَذ اوُقَفْ نَأ اَم اوُلَأْسَيْلَو
ٌميِكَح ٌميِلَع ُهَّللاَو ْمُكَنْ يَ ب ُمُكَْيَ ِهَّللا ُمْكُح ْم
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka, maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami- suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir, dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar, dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan- Nya di antara kamu dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. c. QS al-Maidah:5
َّلِحُأ َمْوَ يْلا
ْمُكُماَعَطَو ْمُكَل ٌّلِح َباَتِكْلا اوُتوُأ َنيِذَّلا ُماَعَطَو ُتاَب يَّطلا ُمُكَل
اوُتوُأ َنيِذَّلا َنِم ُتاَنَصْحُمْلاَو ِتاَنِمْؤُمْلا َنِم ُتاَنَصْحُمْلاَو ْمَُلَ ٌّلِح
َرْ يَغ َينِنِصُْمُ َّنُهَروُجُأ َّنُهوُمُتْيَ تآ اَذِإ ْمُكِلْبَ ق ْنِم َباَتِكْلا
لاَو َينِحِفاَسُم
َنِم ِةَرِخلآا ِفِ َوُهَو ُهُلَمَع َطِبَح ْدَقَ ف ِناَيلإاِب ْرُفْكَي ْنَمَو ناَدْخَأ يِذِخَّتُم
َنيِرِساَْلْا
Artinya:“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan(sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar
mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang
merugi.”
2. Pandangan Agama-Agama tentang Perkawinan Beda Agama
Di Indonesia, pengertian tentang perkawinan berbeda-beda antara yang terdapat dalam UU tentang Perkawinan dan hukum agama dari tiap-tiap agama yang ada di Indonesia yaitu Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha. Secara universal dapat dikatakan bahwa pengaruh agama akan terasa sekali pada hukum perkawinan dan keluarga. Bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi pegangan hidup bahwa mengenai perkawinan, kelahiran, dan kematian sangat dipengaruhi oleh ketentuan-ketentuan agama. Adapun pendapat agama- agama mengenai perkawinan beda agama yaitu:
a. Agama Islam
Dalam agama Islam, terdapat dua pendapat mengenai perkawinan beda agama, yaitupendapat pertama dimungkinkan apabila pihak pria beragama Islam, sementara pihak perempuan beragama non Islam. Jika kemudian kondisinya sebaliknya, maka tidak diperkenankan. Pendapat yang kedua yaitu apapun kondisinya, perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan.
Dalam agama Kristen (Protestan) perkawinan beda agama tidak dapat dilkukan. Alasan apapun yang mendasarinya, agama ini perkawinan beda agam dilarang.
c. Agama Katolik
Bagi agama Katolik, pada prinsipnya perkawinan beda agama tidak dapat dilakukan, hal ini dikarenakan agama Katolik memandang perkawinan sebagai sakramen. Namun dengan adanya proses dispensasi, maka dimungkinkan adanya perkawinan beda agama.
d. Agama Budha
Dalam agama Budha sebenarnya perkawinan beda agama tidaklah terlalu bermasalah. Hanya saja, memang di sarankan untuk satu agama. Hal ini disebabkan pertimbangan kehidupan nantinya dalam perkawinan itu sendiri.
e. Agama Hindu
Dalam agama Hindu tidak dikenal adanya perkawinan beda agama. Hal ini terjadi karena sebelum perkawinan harus dilakukan terlebih dahuluupacara keagamaan. Apabila salah seorang calon mempelai tidak beragama Hindu, maka dia diwajibkan sebagai penganut agama Hindu, karena kalau calon mempelai yang bukan Hindu disucikan terlebih dahulu, dan kemudian dilaksanakan perkawinan.
3. Macam-Maam Cara Pelaksanaan Perkawinan Beda Agama
Pelaksanaan pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agama Islam dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah, Talak dan Rujuk pada Kantor Urusan Agama (KUA).
pencatatan perkawinan dari mereka yang melangsungkan perkawinannya menurut agama dan kepercayaan selain agama Islam dilakukan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan. (Eoh, 200: 129)
Jika melihat hal di atas maka apabila seseorang ingin melakukan perkawinan antar agama akan terjadi kebingungan dalam cara pelaksanaan perkawinannya. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukanlah macam-macam cara pelaksanaan perkawinan antar agama, yaitu dengan:
a. Salah satu pihak beralih mengikuti agama suami atau istri
Dalam hal ini calon istri beralih agama mengikuti agama suaminya atau sebaliknya. Peralihan agama ini dilakukan karena ada agama tertentu yang melarang penganutnya untuk mengadakan perkawinan dengan penganut agama lain (Eoh, 2001: 130).
b. Salah satu pihak menundukan diri pada hukum agama suami atau istri
Dalam hal ini calon suami atau istri masing-masing tetap mempertahankan agama yang dianutnya, akan tetapi pada saat perkawinan dilangsungkan salah satu phak harus menundukkan diri
pada hukum agama suami atau istri, baru perkawinan dapat dilangsungkan (Eoh, 2001: 135)
c. Perkawinan hanya dilangsungkan di kantor catatan sipil
Perkawinan hanya dilakukan di Kantor Catatan Sipil artinya kedua calon suami istri tetap mempertahankan agama yang dianutnya sehingga hanya dilakukan perkawinan sipil. Jadi perkawinan tidak dilakukan menurut hukum agama atau kepercayaan yang dianut oleh suami atau istri. Cara perkawinan ini dilakukan, karena kedua calaon suami istri sama-sama tidak ada yang mau untuk beralih agama atau menundukkan diri pada hukum agama salah satu pihak pada saat perkawinan dilangsungkan (Eoh, 2001:138).
4. Prolematika Keluarga Beda Agama
Problem terberat pasangan nikah beda agama bukan terletak pada agama. Problem rumah tangga nikah beda agama terletak pada ketidakmampuan mereka dalam mengeola perbedaan hobby, ego, dan karakter masing-masing. Masalah terberat ada pada perbedaan kualitas kepribadian, kedewasaan diri, perilaku, dan miskomunikasi mereka (Monib, 2008:226).
Benar yang dikhawatirkan penentang nikah beda agama bahwa rumah tangga, nikah beda agama lebih berat karena sejak awal sudah ketahuan bahwa ada “tambahan masalah” yang harus dihadapi, yaitu
perbedaan agama itu sendiri. Kendati demikian, dengan paradigma lain juga bisa dikatakan bahwa justru karena sejak awal sadar adanya perbedaan, pasanga nikah beda agama bisa menghadapi masalah yang penting sebobot dengan masalah agama (Monib, 2008:227)
Intinya problematika nikah beda agama antara lain yaitu:
a. Split of Personality Anak
Anak yang lahir dari orang tua yang beda agama dan keyakinan, berpotensi sekurang-kurangnya dua arah pembentukan yang tidak sinkron, bahkan tarik menarik karena berlawanan.Secara sadar maupun tidak sadar misalnya ayahnya yang muslim akan berusaha mewarnai dan membentuk sang anak dengan konsep dan wawasan etika, nilai dan moralitas keislaman, begitu juga ibunya yang katolik misalnya. Meskipun ada kesamaan dalam hal-hal mendasar, ada banyak pula perbedaan dalam hal-hal permukaan, dan karena anak tidak memahami hal-hal yang mendalam, bisa saja dia hanya memahami hal-hal luaran yang membingungkan dia karena perbedaan tersebut sehingga anak bisa saja mengalami split of
personality atau keterpecahan kepribadian(Monib, 2008:228).
b. Subjektifitas Keagamaan
Keyakinan dan agama apapun akan menanamkan kebenaran di hati yang meyakininya. Setiap keyakinan akan mmbelenggu dan mengikat hati dan perasan pemeluknya. Setiap pengiman “akidah” agama akan merasa diri dan agama lebih unggul, superior, dan inilah
identitas yang lurus dan benar. Sehingga pasangan nikah beda agama dalam perjalanan rumah tangga akan mengalami subjektifitas- subjektifitas yang sangat alami dimiliki oleh para penganut agama. (Monib, 2008:232)
Oleh karenanya pasangan nikah beda agama sangat penting memiliki sikap objektif dalam beragama. Cara pandang dan sikap objektif yaitu pertama, menyadari bahwa agama merupakan hak dasar setiap manusia. Kedua, mengakui semua orang berhak meyakini dan mengimani agamanya. Ketiga, semua agama pasti mengajarkan prinsip-prinsip kebenaran, etika, sikap yang baik dan benar, kasih sayang, dan hidup dalam jalan kebenaran (Monib, 2008: 222-223).
c. Kerinduan Kesamaan Akidah
Wajar pasangan nikah beda agama mengalami kerinduan kesamaan akidah karena prinsipnya agama dan keyakinan itu mengarahkan kepada ketenangan dan kedamaian dan pasangan nikah beda agama akan dihadapkan pada perasaan rindu seagama dan seibadah.
d. Persepsi Negatif Masyarakat
Mayoritas penduduk Indonesia menolak nikah beda agama sehingga jika ada seseorang yang menikah beda agama sulit untuk menghindari penilaian, kecaman, kritik dn penolakan. Oleh
karenanya pasangan beda agama membutuhkan mental dan kesiapan untuk menjawab serta menghadapi hal tersebut dengan ekstra hati- hati dan lapang dada.
5. Masa Depan Anak-Anak
Hal yang dikhawatirkan di dalam pernikahan beda agama adalah melahirkan anak-anak yang tidak berkepribadian utuh (Split of
Personality), kurang peduli pada perkara iman dan agama. Sehingga
dikhawatirkan menyebabkan ketidakjelasan dan rusaknya akidah anak- anak. Hal tersebut dikhawatirkan karena bagaimanapun keimanan anak- anak akan amat bergantung pada upaya orang tua. Karena itu meski dibangun komitmen bersama yang kuat untuk menjadi rel dan panduan bersama menyangkut hal-hal yang amat penting bagi masa depan anak- anak, antara lain:
a. Masalah Iman/Agama
Pasangan nikah beda agama amat perlu mengikat komitmen mengenai iman atau agama anak-anak mereka. Perlu disepakati sedini mungkin kemana akan diarahkan pilihan keimanan anak-anak mereka. Jangan sampai masalah keimanan anak-anak memicu keretakan rumah tangga. Yang terbaik adalah mengararahkan dan menanamkan dalam diri mereka kesadaran berakhlak mulia, menumbuhkan rasa simpati dan empati pada sesama. Mengembangkan dalam jiwa mereka kesantunan, kasih sayang, kedermawanan, dan kemauan untuk beramal. Menyuburkan dalam
jiwa mereka kecintaan pada sesama. Yang terpenting dalam pola mendidik anak tidak dengan gaya membujuk-bujuk atau bahkan memaksa, karena hal itu akan berdampak negatif (Monib, 2008:58).
Memperkenalkan agama pada anak-anak pasangan nikah beda agama, ada banyak ragam cara misalnya melalui perjanjian pranikah, dengan memperkenalkan sejak balita ajaran kedua orangtua sekaligus dan lain sebagainya (Monib, 2008:59).
Adapun dalam metode atau pengajaran agama pada anak pasangan nikah beda agama biasanya agak mengalami kebingungan yaitu kebingungan antara memprioritaskan doktrin atau ritual (norma-norma dan peribadatan) atau subtansi-subtansi dari ajaran agama itu sendiri (Monib, 2008:60)
Dalam mengatasi hal tersebut menurut Monib (2008:61) adalah dengan mengambil jalan tengah. Doktrin dan ritual peribadatan diajarkan secara bersamaan dan berimbang dengan tetap menjaga kemampuan dan pemahaman anak yang masih terbatas, sekaligus pula menekankan nilai-nilai atau ajaran universal dari kedua agama yang justru memiliki persamaan.intinya adalah mengedepankan “bagaimana sebaiknya beragama”.
b. Masalah Lembaga Pendidikan
Dalam memilih lembaga pendidikan untuk anak, pasangan nikah beda agama juga mengalami kebingungan. Kebingungannya
terletak pada, buah hati akan di masukkan ke sekolah berlebel agama tertentu atau sekolah umum.
Menurut Monib (2008:61) lembaga pendidikan yang baik adalah lembaga pendidikan yang mampu menanamkan pemahaman keagamaan dan keberagaman. Selain itu pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang mampu memekarkan potensi dan ragam kecerdasan (multiple inteligent).