KAJIAN PUSTAKA
A. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar setelah selesai pendidikan tersebut anak dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam serta menjadi pandangan hidup (Shaleh, 1976:20).
Pendidikan agama Islam bisa diartikan “bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nila agama Islam, dan bertanggungjawab sesuai dengan nilai-nilai Islam” (Marimba, 1976:20).
2. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Menurut Mansur dalam bukunya Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam (2005:303) bahwa fungsi pendidikan agama Islam secara makro adalah memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumber daya insani yang ada pada subjek didik menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam atau terbentuknya kepribadian muslim. Selain itu ada beberapa fungsi pendidikan agama Islam, yaitu:
a. Mengembangkan wawasan yang benar dan tepat mengenai jati diri manusia, alam sekitarnya dan mengenai kebesaran Illahi, sehingga tumbuh kreatifitas yang benar.
b. Mensucikan diri manusia dari syirik dan berbagai sikap hidup dan perilaku yang dapat mencemari fitrah kemanusiaannya, dengan menginternalisasi nilai-nilai insani dan Illahi pada subjek didik. c. Mengembangkan ilmu pengetahuan untuk menopang dan memajukan
kehidupan baik individu maupun sosial.
Selain itu pendidikan Islam bertujuan untuk mengembangkan potensi-potensi baik jasmaniah maupun rohaniah, emosional maupun intelektual, serta ketrampilan agar manusia mampu mengatasi problema kehidupan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang mandiri dan sadar bahwa manusia mempunyai wewenang untuk hidup bebas baik dalam berkarya maupun berpikir. Inti dari tujuan pendidikan Islam adalah sama seperti tujuan penciptaan manusia sebagaimana firman Allah Q.S. Adz-Dzariaat:56
ِنوُدُبْعَ يِل لاِإ َسْنلإاَو َّنِْلْا ُتْقَلَخ اَمَو
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Dengan demikian tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan penghambaan kepada Allah dalam kehidupan manusia baik itu secara individual maupun secara sosial (Nahlawi, 2004:116-117).
3. Metode Pendidikan Agama Islam
Menurut Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Pendidikan Anak dalam Islam, metode-metode pendidikan anak yang efektif yaitu: a. Pendidikan dengan keteladanan
Masalah keteladanan pendidik atau orang tua menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya anak, karena pendidik atau orang tua adalah figur terbaik dalam pandangan anak, yang tindak-tanduknya dan sopan santunnya, disadari atau tidak, akan ditiru anak. Seorang pendidik kiranya sangat mudah untuk mengajari anak dengan berbagai materi pendidikan, tetapi teramat sangat sulit bagi anak untuk melaksanakannya ketika melihat orang yang memberikan pengarahan tidak mengamalkannya.
b. Pendidikan dengan adat kebiasaan
Seperti perkataan Imam Ghazali dalam bukunya Imam Ghazali yang dikutip oleh Ulwan, ia mengatakan:
“Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya, hatinya
yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkann seperti dibiarkannya binatang, ia akan celaka dan binasa. Sedang memeliharanya adalah dengan upaya pendidikan dan mengajari akhlak yang baik.
Menurut Ulwan metode Islam dalam memperbaiki anak- anak adalah mengacu pada dua pokok yaitu pengajaran dan pembiasaan, yang dimaksud dengan pengajaran adalah upaya teoritis dalam perbaikan dan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan pembiasaan adalah upaya praktis dalam pembentukan (pembinaan)
dan persiapan. Pengajaran dan pembiasaan sebaiknya dimulai sejak anak-anak yaitu ketika anak mulai memahami realita kehidupan. Maka hendaknya para pendidik, ayah, ibu dan pengajar, memusatkan perhatian pada pengajaran anak-anak tentang kebaikan dan upaya membiasakannya. Contoh dari mengajarkan dan membiasakan kebaikan pada anak yaitu para pendidik mengajarkan bahwa agar anak-anak mengerjakan shalat, selain itu pendidik juga mengajari tentang hukum shalat, rukun shalat, bilangan rekaatnya, tata caranya, kemudian biasakan mengerjakannya dengan berjamaah di masjid.
Anak penting sekali diajari pendidikan shalat karena shalat dapat menjadi penawar paling mujarab bagi kesehatan, jiwa, rohani dan fisik manusia yang akan dimanifestasikan dalam sikap qanaah yang tinggi terhadap apa yang diterimanya dari Allah SWT selain itu shalat adalah sebagai tiangnya agama (Mansur, 2004:168-171). c. Pendidikan dengan nasihat
Metode lain yang penting dalam pendidikan, pembentukan keimanan, mempersiapkan moral, spiritual dan sosial anak, adalah pendidikan dengan pemberian nasihat. Sebab nasihat ini dapat membukakan mata anak-anak tentang hakikat sesuatu dan mendorongnya menuju situasi luhur, menghiasinya dengan akhlak yang mulia, serta membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam. d. Pendidikan dengan perhatian/pengawasan
Pendidikan dengan perhatian adalah mencurahkan, memperhatikan, dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan akidah dan moral, persiapan spiritual, dan sosial, disamping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan kemampuan ilmiahnya. Nash tentang keharusan memperhatikan dan melakukan pengawasan:
Q.S. at-Tahrim:6
اَهْ يَلَع ُةَراَجِْلْاَو ُساَّنلا اَهُدوُقَو اًراَن ْمُكيِلْهَأَو ْمُكَسُفْ نَأ اوُق اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اَي
َنوُلَعْفَ يَو ْمُهَرَمَأ اَم َهَّللا َنوُصْعَ ي لا ٌداَدِش ٌظلاِغ ٌةَكِئلاَم
َنوُرَمْؤُ ي اَم
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ayat di atas dapat mengandung penjelasan bahwa bagaimana pendidik memelihara keluarga dan anak-anak dari api neraka jika ia tidak memerintah dan melarang mereka, tidak memperhatikan dan mengontrol mereka?
Ali ra. menafsirkan, qu anfusikum, dengan “Didiklah dan
ajarilah mereka. Sayyidina Umar ra. menafsirkan: “melarang
mereka dari apa yang diperintahkan Allah, dan memerintah kepada mereka apa yang diperintahkan oleh Allah. Dengan demikian
tercipta pemeliharaan mereka dari api neraka.”
Dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam karya Abdullah Nashih Ulwan menuliskan bahwa perhatian yang perlu diperhatikan
antara lain adalah keimanan, moral, mental intelektual, jasmani, kejiwaan, sosial dan spiritual anak.
e. Pendidikan dengan memberi hukuman
Hukuman dalam syariat Islam itu berbeda-beda sesuai dengan usia, kultur, dan kedudukannya. Demikian pula hukuman yang diterapakan para pendidik di rumah atau sekolah, berbeda-beda dari segi jumlah dan tata caranya, tidak sama dengan hukuman yang diberikan kepada orang-orang umum (Ulwan, 1995:1-2).
Metode yang dipakai Islam dalam upaya memberikan hukuman kepada anak antara lain lemah lembut dan kasih sayang adalah dasar pembenahan anak, menjaga tabiat anak yang salah dalam menggunakan hukuman dan dalam upaya pembenahan hendaknya dilakukan secara bertahap, dari yang paling ringan hingga yang paling keras.
Metode pendidikan agama Islam meliputi: metode dialog
Qur’ani dan Nabawi, mendidik melalui kisah-kisah dan
perumpamaan Qur’ani dan Nabawi, mendidik melalui keteladanan, aplikasi dan pengalaman, ibarah dan nasihat serta targhib dan tarhib (Ananahrawi, 2004:204).
4. Tanggung Jawab Pendidikan Iman
Pendidikan iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syariah, sejak anak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu (Ulwan, 1995: 151-167).
Dasar-dasar iman adalah segala sesuatu yang ditetapkan melalui pemberitaaan secara benar, berupa hakikat keimanan dan masalah ghaib, seperti beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat, beriman kepada kitab-kitab samawi, beriman kepada rasul, beriman bahwa manusia akan ditanya oleh dua malaikat, beriman kepada siksa kubur, hari kebangkitan, hisab, surga, neraka, dan seluruh perkara ghaib lainnya.
Rukun Islam adalah setiap ibadah yang bersifat badani dan harta, yaitu shalat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu melakukannya.
Dasar-dasar syariat adalah segala yang berhubungan dengan sistim atau aturan Illahi dan ajaran-ajaran Islam, berupa akidah, ibadah, akhlak, perundang-undangan, peraturan dan hukum.
Kewajiban pendidik adalah menumbuhkan anak atas dasar pemahaman dan dasar-dasar pendidikan iman dan ajaran Islamsejak masa pertumbuhannya. Sehingga anak akan terikat dengan Islam, baik akidah maupun ibadah, disamping penerapan metode maupun peraturan. Setelah petunjuk dan pendidikan ini, ia hanya akan mengenal Islam sebagai agamanya, al-Qur’an sebagai pedomannya, dan Rasulullah SAW. sebagai pemimpin dan teladannya.
Pemahaman tentang pendidikan ini berdasarkan pada wasiat- wasiat Rasulullah SAW. dan petunjuknya di dalam menyampaikan dasar- dasar iman dan rukun-rukun Islam kepada anak. Berikut ini petunjuk dan wasiat Rasulullah SAW:
a. Membuka kehidupan anak dengan Laa Ilaaha Illallaah, rahasianya adalah agar kalimat tauhid dan syi’ar masuk Islam itu merupakan sesuatu yang pertama masuk ke dalam pendengaran anak. Hal ini mempunyai pengaruh terhadap penanaman dasar-dasar akidah, tauhid, dan iman bagi anak.
b. Mengenakan hukum-hukum halal dan haram kepada anak, rahasianya agar ketika akan mebukakan kedua matanya dan tumbuh besar, ia telah mengenal perintah-perintah Allah sehingga ia dapat melaksanakannya, dan mengerti larangan-larangan-Nya sehingga dapat menjauhnya.
c. Menyuruh anak untuk beribadah pada usia tujuh tahun, rahasianya adalah agar anak dapat mempelajari hukum ibadah ini sejak masa pertumbuhannya.
d. Mendidik anak untuk mencintai rasul, keluarganya, dan membaca al- Qur’an, rahasianya adalah agar anak-anak mampu meneladani perjalanan hidup orang-orang terdahulu.
Sebagai seorang pendidik pada umumnya dan orang tua pada khususnya yang mempunyai rasa tanggungjawab dan kewajiban yang besar untuk melahirkan anak-anak dengan berpijak pada landasan iman dan prinsip dasar Islam, selayaknya tahu batasan-batasan tanggung jawab dan kewaji ban yang dipikulnya. Adapun batasan tanggung jawab dan kewajiban tersebut adalah sebagai berikut:
a. Membina anak-anak agar beriman kepada Allah, kekuasaan-Nya, dan ciptaan-Nya, dengan cara tafakur akan kebesaran-Nya.
Bimbingan ini diberikan ketika anak-anak sudah dapat mengenal dan membeda-bedakan sesuatu. Dalam pembinaan ini, sebaiknya para pendidik dan orang tua menggunakan metode
sosialisasi berjenjang. Yaitu dari hal-hal yang dapat dicerna dengan
menggunakan indra, kemudian meningkat pada hal-hal yang bersifat umum dan tersusun secara teratur. Hingga pada akhirnya, para pendidik dapat mengantarkan anak-anak kepada iman dengan cara yang logis dan argumentatif.
Jika sejak masa kecilnya, anak telah memiliki keimanan yang mantap dan dalam pikirannya telah tertanam dalil-dalil Tauhid secara mendalam, maka tidak ada seorang pun yang mampu menggoncangkan jiwa mereka yang mukmin. Sebab mereka telah mencapai iman yang mantap, keyakinan yang mendalam dan pikiran yang sempurna.
b. Menamkan jiwa yang khusyu’, taqwa, dan ubudiyah kepada Allah SWT. di dalam jiwa anak-anak dengan jalan membuka mata mereka, agar dapat melihat kekuasaan Allah yang mengagumkan, dengan begitu jiwa akan merasa khusyu’ dan tergugah akan keagungan Allah.
Diantara cara yang digunakan untuk menanamkan rasa
melatih dan membiasakan anak sejak usia dini agar selalu khusyuk di dalam shalat, selalu sedih atau menangis jika mendengar bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an. Dengan begitu anak menjadi orang yang beriman.
c. Para pendidik dan orang tua harus menanamkan perasaan selalu ingat kepada Allah SWT.
Pada diri anak-anak dalam setiap tindakan dan prilaku mereka setiap waktu. Mereka hendaklah ditanamkan pengertian bahwa Allah Swt selalu memperhatikan, melihat, mengetahui rahasia dan keinginannya, serta apapun yang dikhianati dan disembunyikan hati.
Agar anak dapat selalu mengingat Allah SWT hendaknya anak dilatih untuk selalu ikhlas kepada Allah dalam setiap perkataan, perbuatan dan tindakannya. Setiap kali akan melakukan sesuatu hendaknya ia melakukan sesuatu dengan niat demi mencapai ridha Allah.
5. Materi Pendidikan Agama Islam
Materi pendidikan agama Islam yang biasanya diajarkan didalam keluarga antara lain akhlak yaitu pendidikan mengenai budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat sehari-hari seperti sikap jujur, tanggungjawab, berkata baik dan sebagainya; aqidah atau keimanan seperti rukun iman; dan syariat atau patokan hidup setiap orang muslim contohnya seperti tata cara sholat, wudhu, puasa dan sebagainya.
6. Hambatan-Hambatan Pendidikan Agama Islam
Hambatan-hambatan pendidikan agama Islam antara lain sulitnya anak-anak untuk mau belajar pendidikan agama Islam karena terkena pengaruh negatif dari media-media elektronik seperti handphone, televisi, internet dan sebagainya, banyak masyarakat yang tidak memprioritaskan pendidikannya kepada pendidikan agama Islam karena pendidikan agama Islam dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi, kurangnya pengetahuan atau wawasan keagamaan orang tua karena rendahnya pendidikan orang tua atau orang tua merasa cukup dengan tahu tentang agama hanya sekedarnya saja sehingga mereka kesulitan dalam mendidik anak-anaknya, orang tua kadang terjebak pada pikiran bahwa tugas mereka adalah membuat anak menjadi “anak baik” dan lupa mendorong, melatih, memberikan teladan untuk berbuat baik. B. Konsep Pendidikan Agama Islam dalam Kelurga Seagama
Definisi agama yaitu sebagai: (1) kepercayaan kepada hal-hal yang bersifat spiritual (2) perangkat kepercayaan dan praktek spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri (3) ideologi mengenai hal-hal yang bersifat supranatural (Soekanto, 1985:140).
Agama dapat dianggap sebagai akumulasi pengalaman manusia dalam perjumpaan dan keberhadapannya dengan suatu realitas yang diyakini menguasai dan menentukan nasibnya. Pengalaman manusia dalam beragama tadi mengekspresi diri dalam tiga bentuk atau sifat: (1) teoritis atau pemikiran, seperti dogma, doktrin, ajaran dan konsep-konsep; (2) praktis atu
perbuatan, yaitu ibadat dan berbagai tingkah laku keagamaan; dan (3) sosiologi atau kelompok, yakni berbagai kelompok persekutuan atau kelompok keagamaan (Djam’annuri, 2000:4).
Agama menjadi dasar perkawinan, sebagaimana tercantum dalam UU Perkawinan (Pasal 1) tentang perkawinan yaitu ikatan lahir batin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa (Eoh, 2001:27).
Selain menjadi dasar perkawinan, agama juga menjadi faktor yang mempengaruhi kualitas keturunan. Oleh karenanya agama suami dan istri harus seagama, tidak seharusnya dalam satu keluarga terdapat lebih dari satu agama, agar dalam menjalankan roda kehidupan berumah tangga ada satu kesatuan yang berkesinambungan. “Toleransi kerukunan beragama” tidak berarti dan tidak seharusnya dalam satu keluarga itu terdapat lebih dari satu agama (Mansur, 2004:112).
Faktor persamaan agama penting bagi stabilitas keluarga. Perbedaan agama dalam suatu keluarga dapat menimbulkan dampak merugikan yang pada gilirannya dapat mengakibatkan disfungsi perkawinan. Perbedaan agama antara ayah dan ibu akan membingungkan anak dalam hal memilih agamanya kelak, bahkan bisa terjadi anak tidak mengikuti agama dari salah satu orang tuanya (Mansur, 2004:28).
Islam memandang keluarga sebagai lingkungan yang pertama bagi individu. Oleh karenanya dari awal Islam sangat memperhatikan pendidikan
anak dari saat ia dilahirkan misalkan dikumandangkannya adzan dan ikamah saat anak dilahirkan, diberi nama dengan nama yang baik dan diadakannya aqiqah (Ulwan, 1995:57).
Keluarga adalah suatu ikatan laki-laki dengan perempuan berdasarkan hukum dan undang-undang perkawinan yang sah.Keluarga terdiri atas dua bagian. Pertama disebut dengan keluarga inti dan kedua adalah keluarga besar. Keluarga inti adalah anggota keluarga yang hanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anak mereka. Sedangkan keluarga besar adalah keluarga yang diperluas secara lepas dipergunakan bagi sistem dimana masyarakatnya menginginkan bahwa beberapa generasi itu hidup di bawah satu atap (Goode, 1995:90).
Dalam keluarga inti atau besar inilah terjadi pendidikan pertama dan utama bagi anak yang akan menjadi pondasi dalam pendidikan selanjutnya. Dalam keluargalah anak mengerti tentang dunia dan tentang Penciptanya dan orang tualah yang menjadi guru pertama dan utama bagi anak. Orang tua menjadi guru agama, bahasa maupun guru sosial bagi anak, sehinggaperan orang tua sebagai pendidik pertama dalam mendidik anak antara lain yaitu berperilaku sesuai dengan ajaran agama, memahami karakter dan kemampuan anak, berperan aktif dalam memberikan bimbingan dan nasehat (Rif’ani, 2013:115).
Orang tua dalam memberikan pendidikan anaknya harus menjadi teladan yang baik dalam ilmu dan amal, memberikan materi pendidikan
akidah dan akhlak, sabar menghadapi berbagai karakter anak serta bersikap pemaaf dan tawadhu’(Rif’ani, 2013:117-120).
Di dalam Al Qur’an contoh orang tua terbaik bagi anak-anaknya adalah Lukman Hakim. Orang bijak ini mengajarkan dan mewasiatkan anak- anaknya kesadaran tentang ketuhanan (keesaan Tuhan), kewajiban beribadah (shalat, puasa, dll) dan keharusan melakukan amal perbuatan baik yang membawa kemaslahatan bagi kemanusiaan (Monib, 2008: 202).
Di dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya, tiap-tiap keluarga memiliki pola yang berbeda. Menurut Barnadip (1987:122-129), terdapat tiga pola atau tipe keluarga yaitu:
Pertama, pola keluarga otoriter yaitu pola keluarga dimana anak
harus patuh dan taat atas semua perintah orang tua dan orang tua tidak pernah mengenal kompromi.
Kedua, pola keluarga liberal yaitu pola kepemimpinan orang tua di
dalam keluarga kurang tegas dan anak menentukan sendiri apa yang dikehendaki, orang tua memberikan kebebasan kepada anaknya.
Ketiga, pola keluarga demokratis yaitu pola asuh yang
memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan anak.
C. Konsep Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga Beda Agama