BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Desa Hapesong Lama memiliki luas wilayah 49 Ha atau 49.000 km2. Desa Hapesong Lama masuk dalam wilayah Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan berjarak ±5 km arah barat dari Kantor Camat Kecamatan batang Toru dengan batas-batas sebagai berikut:
1. Sebelah utara berbatasan dengan PTPN3 Perk. Hapesong 2. Sebelah selatan berbatasan dengan PTPN3 Perk. Hapesong 3. Sebelah timur berbatasan dengan PTPN3 Perk. Hapesong 4. Sebelah barat berbatasan dengan PTPN3 Perk. Hapesong
Desa Hapesong Lama berada pada ketinggian antara ±50m – 55m diatas permukaan laut terletak di jalur lintas antara Kecamatan Batang Toru dengan Kecamatan Sibabangun.
Jumlah penduduk Desa Hapesong Lama sebanyak 1.368 jiwa, yang terdiri atas 722 jiwa laki-laki dan 646 jiwa perempuan. Dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK), Desa Hapesong Lama dihuni oleh 324 kepala keluarga. Sebagian besar penduduk Desa Hapesong Lama memeluk agama islam.
Desa Hapesong Lama merupakan desa pertanian. Maka hasil ekonomi warga dan mata pencarian warga mayoritas sebagai petani. Dari 324 KK 80% bekerja sebagai petani, 15% pedagang, 5% pegawai negeri sipil dan lain-lain. Rendahnya
kemampuan produksi persawahan desa Hapesong Lama menggambarkan masih lemahnya kondisi perekonomian desa Hapesong Lama.
Kondisi sosial budaya masyarakat desa Hapesong Lama terdiri dari bermacam-macam suku. Mayoritas didomisili oleh suku jawa dan yang lainnya campuran.
Tradisi-tradisi sosial dan budaya masih melekat dalam kehidupan bermasyarakat seperti upacara perkawinan, khitanan, pemberian nama bayi, tujuh bulanan kehamilan dan sebagainya. Demikian juga rasa persaudaraan yang masih kental membuat kehidupan bertetangga menjadi rukun dan damai.
Kegotong royongan masyarakat desa Hapesong Lama tergolong masih kuat.
Beberapa kegiatan seperti bakti sosial kebersihan tanah wakaf, parit dan mendirikan tenda acara pernikahan, menjenguk tetangga sakit dan kemalangan masih tetap dilaksanakan
Kondisi kesehatan masyarakat tergolong cukup baik, dengan adanya polindes, posyandu, atau praktek bidan mandiri. Pada musim tertentu masyarakat sering mengalami gangguankesehatan, terutama pada saat musim hujan khusus untuk balita kurang gizi sudah tidak ditemui lagi di desa Hapesong Lama. Namun kekhawatiran timbul pada remaja, kasus pernikahan dini antar sesama pelajar semakin banyak terjadi (Rahman, 2016 dan BPS, 2017)
Sarana pendidikan yang terdapat di desa Hapesong Lama yaitu taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Terdapat salah satu sekolah tingkat menengah yaitu Madrasah Tsanawiyah Swasta Perkebunan Hapesong terletak di desa tetangga yaitu Desa Perkebunan Hapesong. Anak-anak yang tinggal di desa Hapesong Lama harus
melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP dan SMA Negeri yang letaknya di kecamatan Batang Toru dengan jarak sejauh ± 8 kilometer. Mayoritas siswa yang melanjutkan sekolah ke kecamatan menempuh perjalanan menggunakan speda motor pribadi dan sebagian kecilmenggunakan angkutan umum yang dibayar perbulan.
Jauhnya jarak tempuh dari rumah menuju sekolah, melewati daerah perkebunan yang sepi dan adanya fasilitas kendaraan pribadi yang digunakan setiap hari menjadi penyebab kurangnya kontrol orang tua terhadap pergaulan anak remaja di desa Hapesong Lama. Di beberapa kasus remaja yang berangkat dari rumah dengan tujuan ke sekolah ternyata tidak sampai di sekolah untuk mengikuti pelajaran. Kegiatan mereka saat jam pelajaran beragam, mulai dari mengunjungi warung internet (warnet), pacaran, adu balap motor atau bahkan hanya sekedar berkumpul menikmati rokok dan handphone di tangan.
Adanya fasilitas sepeda motor pribadi dari orang tua dengan tujuan agar mempermudah perjalanan remaja untuk bersekolah ke kecamatan ternyata tidak selamanya dimanfaatkan oleh remaja untuk menimba ilmu. Remaja yang sedang dalam masa peralihan penuh dengan rasa keingintahuan yang tinggi mulai mencoba berbagai hal baru. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kegiatan pacaran.
Untuk remaja yang tidak mampu mengontrol diri, rendahnya motivasi belajar, adanya sepeda motor, lemahnya kontrol orang tua dan kegiatan pacaran yang dianggap hal biasa dan tradisi anak remaja di desa Hapesong Lama berakhir dengan hal yang tidak diharapkan. Sebagian pernikahan di kalangan remaja harus dilakukan akibat kehamilan remaja putri karena pergaulan bebas.
Tidak seluruh pernikahan yang terjadi pada remaja diakibatkan oleh pergaulan bebas. Remaja yang bertanggung jawab dan mengontrol diri sendiri mampu membuktikan bahwa dirinya dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik.
Sebagian melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi atau berusaha untuk dapat bekerja di perusahaan BUMN Perkebunan Hapesong atau bahkan mengelola usaha pribadi.
Kurangnya minat dan motivasi remaja baik putri maupun putra dalam bidang pendidikan menghasilkan pola pikir yang sederhana. Bagi remaja putri yang telah menyelesaikan SMA biasanya akan mulai berpikir kapan untuk menikah. Hal ini didukung oleh pemahaman orang tua yang menganggap perempuan hanya akan kembali mengurus rumah tangga saja. Mayoritas laki-laki dewasa bekerja sebagai karyawan perkebunan, berjualan atau sebagai petani. Hal ini yang menjadi pemandangan setiap hari yang dilihat remaja laki-laki. Tidak perlu untuk sekolah sampai jenjang perguruan tinggi karena akan bekerja sebagai karyawan, berjualan atau sebagai petani yang hanya cukup dengan ijazah SMA.
Suku Jawa merupakan suku mayoritas yang terdapat di desa Hapesong lama.
Masyarakat Jawa memiliki budaya yang di dalam tradisinya terdapat nilai-nilai keluhuran dan kearifan budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Budaya yang tidak pernah lepas dalam kehidupan masyarakat Jawa yaitu adat perkawinan.
Seperti halnya pada masyarakat Desa Hapesong Lama yang mayoritas penduduknya adalah suku Jawa, dalam melaksanakan acara perkawinan menggunakan adat perkawinan Jawa dengan tujuan untuk memperoleh ketenteraman hidup lahir batin.
Bagi masyarakat suku jawa sudah menjadi kebiasaan untuk menikahkan anak perempuan pada usia yang muda. Masyarakat berpendapat bahwa perempuan yang menikah muda lebih subur dan mudah untuk memiliki keturunan tanpa mengetahui dampak buruk apa yang akan terjadi pada kesehatan reproduksi anak perempuan yang hamil dalam kondisi organ reproduksi belum optimal.. Budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat seperti anggapan negatif dan kekhawatiran terhadap istilah perawan tua jika belum menikah pada saat usia mencapai 20 tahun atau setelah menyelesaikan sekolah tingkat SMA. Hal ini menjadi salah satu penyebab pernikahan di usia yang muda masih terjadi di desa Hapesong Lama.
Alasan lain keluarga dan remaja tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yaitu keterbatasan ekonomi. Akses jaringan internet di desa Hapesong Lama termasuk baik. Pemanfaatan akses internet yang baik ini jika digunakan dengan bijak oleh para remaja dan orang tua akan membawa dampak kebaikan seperti informasi tentang majunya dunia pendidikan di Indonesia. Terdapat banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang memberi keringanan biaya perkuliahan. Didukung juga dengan banyaknya beasiswa yang diberikan baik dari pemerintah maupun pihak swasta, dari dalam negeri atau luar negeri. Secara umum kurangnya pengetahuan dan motivasi dari orang tua, lingkungan dengan pergaulan yang terlalu bebas, kurangnya dorongan dan motivasi untuk bersaing dalam prestasi dan kebaikan, serta sudah merasa cukup puas dengan keadaan sederhana menjadikan menikah muda sebagai pilihan berikutnya dalam menjalani hidup bagi para remaja.