BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN
3.4 Metode Pengumpulan Data
Data primer diperoleh langsung dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner yang langsung ditanyakan kepada responden (kuesioner terlampir).
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Kantor Kepala Desa Hapesong Lama yaitu berupa Buku Induk Kependudukan dan RPJMDES Desa Hapesong Lama. Data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Selatan meliputi data Laporan Kecamatan Batang Toru Tahun 2016 dan 2017.
3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah Kesehatan Reproduksi (Maternal dan Neonatal).
3.5.2 Definisi Operasional
Untuk memudahkan penelitian disajikan definisi operasional sebagai berikut : 1. Menikah usia muda adalah ibu yang menikah pada usia < 20 tahun.
49
2. Usia reproduksi sehat adalah ibu yang menikah pada usia ≥ 20 – 35 tahun.
3. Kesehatan Reproduksi (Maternal dan Neonatal) adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Berkaitan dengan keadaan manusia dapat menikmati seksualnya serta mampu menjalankan fungsi proses reproduksinya secara sehat dan aman.
4. Keguguran adalah terhentinya kehamilan sebelum usia mencapai 20 minggu dengan berat janin kurang dari 500 gram.
5. Anemia kehamilan adalah berkurangnya kadar hemoglobin di dalam darah yang terjadi pada saat kehamilan (≤ 11 gr/dl). Ditandai dengan pucat, keluhan lemah, mudah pingsan, tekanan darah masih dalam batas normal, mengalami malnutrisi, cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, merasa tidak sehat, lidah luka, nafsu makan menurun, kurang fokus, mudah tersinggung, daya ingat menurun.
6. Keracunan kehamilan (Preeklamsi dan eklamsi) : komplikasi kehamilan lanjut yang ditandai oleh hipertensi, edema dan adanya protein dalam urin, tahapan lanjut diiringi kejang dan koma disebut eklamsi.
7. Persalinan lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 18-24 jam sejak dimulai dari tanda-tanda persalinan.
8. Prematur dan BBLR adalah Persalinan yang terjadi sebelum janin genap berusia 37 minggu. Berat badan lahir rendah mengacu pada kelahiran dengan berat 500-2500 gram.
9. Perdarahan adalah kehilangan 500 ml atau lebih darah setelah selesainya kala 3 persalinan (pengeluaran plasenta).
3.5.3 Metode Pengukuran
Metode pengukuran variabel adalah menggunakan kuesioner dengan hasil pengukuran sebagai berikut :
1. Hasil pengukuran variabel keguguran dikategorikan menjadi 2 yaitu : a. Ya = jika kehamilan berakhir sebelum 20 minggu
b. Tidak = jika kehamilan tetap berlanjut > 20 minggu Skala : nominal
2. Hasil pengukuran variabel anemia kehamilan dikategorikan menjadi 2 yaitu : a. Ya = jika pernah mengalami anemia pada saat hamil
b. Tidak = jika tidak pernah mengalami anemia pada saat hamil Skala : nominal
3. Hasil pengukuran variabel keracunan kehamilan (preeklamsi/eklamsi) dikategorikan menjadi 2 yaitu :
a. Ya = jika mengalami keracunan kehamilan
b. Tidak = jika tidak mengalami keracunan kehamilan.
Skala : nominal
4. Hasil pengukuran variabel persalinan lama dikategorikan menjadi 2 yaitu : a. Ya = jika proses persalinan berlangsung hingga 18-24 jam
b. Tidak = jika proses persalinan berlangsung <18-24 jam Skala : nominal
5. Hasil pengukuran variabel prematur/BBLR dikategorikan menjadi 2 yaitu : a. Ya = jika melahirkan bayi < 37 minggu dan berat badan bayi < 2500 gram b. Tidak = jika melahirkan bayi > 37 minggu dan berat badan bayi >2500 gram
Skala : nominal
6. Hasil pengukuran variabel perdarahan dikategorikan menjadi 2 yaitu : a. Ya = jika mengalami perdarahan
b. Tidak = jika tidak mengalami perdarahan Skala : nominal
3.6 Analisis Data
Metode analisa data digunakan dengan analisis kuantitatif yang merupakan metode untuk menguji data dalam bentuk angka. Dalam pengolahan ini mencakup tabulasi data dan perhitungan statistik. Analisis data menggambarkan perbedaan status kesehatan reproduksi ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat yang dilihat berdasarkan kejadian keguguran, anemia kehamilan, keracunan kehamilan (preeklamsi/eklamsi), persalinan lama, prematur/BBLR dan perdarahan.
Analisis yang dilakukan menggunakan Statistik Nonparametrik dengan Uji Mann-Whitney. Untuk melihat tingkat kemaknaan menggunakan α = 0,05, sehingga apabila hasil uji statistik menunjukkan p value > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel tersebut tidak memiliki perbedaan signifikan. Sebaliknya bila p value < 0,05 maka secara statistik mempunyai perbedaan yang signifikan.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Desa Hapesong Lama memiliki luas wilayah 49 Ha atau 49.000 km2. Desa Hapesong Lama masuk dalam wilayah Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan berjarak ±5 km arah barat dari Kantor Camat Kecamatan batang Toru dengan batas-batas sebagai berikut:
1. Sebelah utara berbatasan dengan PTPN3 Perk. Hapesong 2. Sebelah selatan berbatasan dengan PTPN3 Perk. Hapesong 3. Sebelah timur berbatasan dengan PTPN3 Perk. Hapesong 4. Sebelah barat berbatasan dengan PTPN3 Perk. Hapesong
Desa Hapesong Lama berada pada ketinggian antara ±50m – 55m diatas permukaan laut terletak di jalur lintas antara Kecamatan Batang Toru dengan Kecamatan Sibabangun.
Jumlah penduduk Desa Hapesong Lama sebanyak 1.368 jiwa, yang terdiri atas 722 jiwa laki-laki dan 646 jiwa perempuan. Dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK), Desa Hapesong Lama dihuni oleh 324 kepala keluarga. Sebagian besar penduduk Desa Hapesong Lama memeluk agama islam.
Desa Hapesong Lama merupakan desa pertanian. Maka hasil ekonomi warga dan mata pencarian warga mayoritas sebagai petani. Dari 324 KK 80% bekerja sebagai petani, 15% pedagang, 5% pegawai negeri sipil dan lain-lain. Rendahnya
kemampuan produksi persawahan desa Hapesong Lama menggambarkan masih lemahnya kondisi perekonomian desa Hapesong Lama.
Kondisi sosial budaya masyarakat desa Hapesong Lama terdiri dari bermacam-macam suku. Mayoritas didomisili oleh suku jawa dan yang lainnya campuran.
Tradisi-tradisi sosial dan budaya masih melekat dalam kehidupan bermasyarakat seperti upacara perkawinan, khitanan, pemberian nama bayi, tujuh bulanan kehamilan dan sebagainya. Demikian juga rasa persaudaraan yang masih kental membuat kehidupan bertetangga menjadi rukun dan damai.
Kegotong royongan masyarakat desa Hapesong Lama tergolong masih kuat.
Beberapa kegiatan seperti bakti sosial kebersihan tanah wakaf, parit dan mendirikan tenda acara pernikahan, menjenguk tetangga sakit dan kemalangan masih tetap dilaksanakan
Kondisi kesehatan masyarakat tergolong cukup baik, dengan adanya polindes, posyandu, atau praktek bidan mandiri. Pada musim tertentu masyarakat sering mengalami gangguankesehatan, terutama pada saat musim hujan khusus untuk balita kurang gizi sudah tidak ditemui lagi di desa Hapesong Lama. Namun kekhawatiran timbul pada remaja, kasus pernikahan dini antar sesama pelajar semakin banyak terjadi (Rahman, 2016 dan BPS, 2017)
Sarana pendidikan yang terdapat di desa Hapesong Lama yaitu taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Terdapat salah satu sekolah tingkat menengah yaitu Madrasah Tsanawiyah Swasta Perkebunan Hapesong terletak di desa tetangga yaitu Desa Perkebunan Hapesong. Anak-anak yang tinggal di desa Hapesong Lama harus
melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP dan SMA Negeri yang letaknya di kecamatan Batang Toru dengan jarak sejauh ± 8 kilometer. Mayoritas siswa yang melanjutkan sekolah ke kecamatan menempuh perjalanan menggunakan speda motor pribadi dan sebagian kecilmenggunakan angkutan umum yang dibayar perbulan.
Jauhnya jarak tempuh dari rumah menuju sekolah, melewati daerah perkebunan yang sepi dan adanya fasilitas kendaraan pribadi yang digunakan setiap hari menjadi penyebab kurangnya kontrol orang tua terhadap pergaulan anak remaja di desa Hapesong Lama. Di beberapa kasus remaja yang berangkat dari rumah dengan tujuan ke sekolah ternyata tidak sampai di sekolah untuk mengikuti pelajaran. Kegiatan mereka saat jam pelajaran beragam, mulai dari mengunjungi warung internet (warnet), pacaran, adu balap motor atau bahkan hanya sekedar berkumpul menikmati rokok dan handphone di tangan.
Adanya fasilitas sepeda motor pribadi dari orang tua dengan tujuan agar mempermudah perjalanan remaja untuk bersekolah ke kecamatan ternyata tidak selamanya dimanfaatkan oleh remaja untuk menimba ilmu. Remaja yang sedang dalam masa peralihan penuh dengan rasa keingintahuan yang tinggi mulai mencoba berbagai hal baru. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah kegiatan pacaran.
Untuk remaja yang tidak mampu mengontrol diri, rendahnya motivasi belajar, adanya sepeda motor, lemahnya kontrol orang tua dan kegiatan pacaran yang dianggap hal biasa dan tradisi anak remaja di desa Hapesong Lama berakhir dengan hal yang tidak diharapkan. Sebagian pernikahan di kalangan remaja harus dilakukan akibat kehamilan remaja putri karena pergaulan bebas.
Tidak seluruh pernikahan yang terjadi pada remaja diakibatkan oleh pergaulan bebas. Remaja yang bertanggung jawab dan mengontrol diri sendiri mampu membuktikan bahwa dirinya dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik.
Sebagian melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi atau berusaha untuk dapat bekerja di perusahaan BUMN Perkebunan Hapesong atau bahkan mengelola usaha pribadi.
Kurangnya minat dan motivasi remaja baik putri maupun putra dalam bidang pendidikan menghasilkan pola pikir yang sederhana. Bagi remaja putri yang telah menyelesaikan SMA biasanya akan mulai berpikir kapan untuk menikah. Hal ini didukung oleh pemahaman orang tua yang menganggap perempuan hanya akan kembali mengurus rumah tangga saja. Mayoritas laki-laki dewasa bekerja sebagai karyawan perkebunan, berjualan atau sebagai petani. Hal ini yang menjadi pemandangan setiap hari yang dilihat remaja laki-laki. Tidak perlu untuk sekolah sampai jenjang perguruan tinggi karena akan bekerja sebagai karyawan, berjualan atau sebagai petani yang hanya cukup dengan ijazah SMA.
Suku Jawa merupakan suku mayoritas yang terdapat di desa Hapesong lama.
Masyarakat Jawa memiliki budaya yang di dalam tradisinya terdapat nilai-nilai keluhuran dan kearifan budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Budaya yang tidak pernah lepas dalam kehidupan masyarakat Jawa yaitu adat perkawinan.
Seperti halnya pada masyarakat Desa Hapesong Lama yang mayoritas penduduknya adalah suku Jawa, dalam melaksanakan acara perkawinan menggunakan adat perkawinan Jawa dengan tujuan untuk memperoleh ketenteraman hidup lahir batin.
Bagi masyarakat suku jawa sudah menjadi kebiasaan untuk menikahkan anak perempuan pada usia yang muda. Masyarakat berpendapat bahwa perempuan yang menikah muda lebih subur dan mudah untuk memiliki keturunan tanpa mengetahui dampak buruk apa yang akan terjadi pada kesehatan reproduksi anak perempuan yang hamil dalam kondisi organ reproduksi belum optimal.. Budaya yang berkembang di lingkungan masyarakat seperti anggapan negatif dan kekhawatiran terhadap istilah perawan tua jika belum menikah pada saat usia mencapai 20 tahun atau setelah menyelesaikan sekolah tingkat SMA. Hal ini menjadi salah satu penyebab pernikahan di usia yang muda masih terjadi di desa Hapesong Lama.
Alasan lain keluarga dan remaja tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yaitu keterbatasan ekonomi. Akses jaringan internet di desa Hapesong Lama termasuk baik. Pemanfaatan akses internet yang baik ini jika digunakan dengan bijak oleh para remaja dan orang tua akan membawa dampak kebaikan seperti informasi tentang majunya dunia pendidikan di Indonesia. Terdapat banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang memberi keringanan biaya perkuliahan. Didukung juga dengan banyaknya beasiswa yang diberikan baik dari pemerintah maupun pihak swasta, dari dalam negeri atau luar negeri. Secara umum kurangnya pengetahuan dan motivasi dari orang tua, lingkungan dengan pergaulan yang terlalu bebas, kurangnya dorongan dan motivasi untuk bersaing dalam prestasi dan kebaikan, serta sudah merasa cukup puas dengan keadaan sederhana menjadikan menikah muda sebagai pilihan berikutnya dalam menjalani hidup bagi para remaja.
4.2 Sosial Demografi
Data karakteristik ibu diketahui bahwa pada saat penelitian mayoritas ibu berusia 20-35 tahun (65,4%), terdiri dari 59 orang (75,6%) memiliki suku jawa, 39 orang (50%) dengan jumlah anak 2-3. Dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Demografi Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
No Karakteristik Jumlah
(n)
Hasil dari analisis memberikan gambaran distribusi frekuensi dari kejadian menikah usia muda, kejadian keguguran, anemia kehamilan, keracunan kehamilan (preeklamsi/eklamsi), persalinan lama, prematur dan perdarahan serta status kesehatan reproduksi berjumlah 78 orang.
Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh hasil bahwa mayoritas responden menikah pada usia reproduksi sehat sebanyak 43 orang (55,1%), tidak mengalami keguguran sebanyak 67 orang (85,9%), tidak mengalami anemia kehamilan sebanyak 55 orang
(70,5%), tidak menglami keracunan kehamilan (preeklamsi /eklamsi) sebanyak 60 orang (76,9%), tidak mengalami persalinan lama sebanyak 57 orang (73,1%), tidak melahirkan bayi prematur/BBLR sebanyak 64 orang (82,1%) tidak mengalami perdarahan sebanyak 69 orang (88,5%).
Jumlah komplikasi yang dialami responden masing-masing yaitu mayoritas tidak ada sebanyak 27 orang (34%), mengalami 1 komplikasi 21 orang (26,9%), mengalami 2 komplikasi sebanyak 17 orang (21,8%), mengalami 3 komplikasi sebanyak 11 orang (14,1%) mengalami 4 komplikasi 2 orang (2,6%). Dari jumlah komplikasi yang dialami responden ditentukan bahwa ibu yang mengalami salah satu atau lebih komplikasi kehamilan, persalinan maupun nifas digolongkan kedalam kategori kesehatan reproduksi yang berisiko meningkatkan kesakitan dan kematian ibu sehingga diperoleh hasil bahwa responden yang memiliki status kesehatan reproduksi berisiko adalah sebanyak 51 orang (65,4%) dan responden dengan status kesehatan reproduksi sehat sebanyak 27 orang (34,6%).
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Kesehatan Reproduksi (Maternal Neonatal) Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa
Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
No Variabel Jumlah Persentase
1 Kelompok Menikah Berdasarkan Usia a. Usia Muda (<20 tahun)
b. Usia Reproduksi Sehat (≥20-35 tahun)
35
Tabel 4.2 (Lanjutan)
4 Keracunan Kehamilan (Preeklamsi /Eklamsi) a. Ya
8 Jumlah Komplikasi yang Dialami Responden a. Tidak ada
9 Status Kesehatan Reproduksi a. Kespro Berisiko
Untuk mengetahui perbedaan kejadian komplikasi pada kelompok ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat dilakukan analisa data menggunakan uji Mann-Whitney. Jika dari hasil uji tersebut diperoleh nilai p value < 0,05, maka dinyatakan ada perbedaan yang signifikan dan jika nilai p value > 0,05, maka dinyatakan tidak ada perbedaan yang signifikan.
4.3.1 Perbedaan Kejadian Keguguran Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 35 orang ibu menikah usia muda yang mengalami keguguran sebanyak 8 orang (22,9%) dan 27 orang (77,1%) yang tidak mengalami keguguran, sedangkan dari 43 orang ibu menikah usia reproduksi sehat yang mengalami keguguran sebanyak 3 orang (7,0%) dan 40 orang (93,0%) yang tidak mengalami keguguran. Dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Keguguran Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Kelompok menunjukkan bahwa ada perbedaan kejadian keguguran yang signifikan antara ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat. Dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4 Perbedaan Kejadian Keguguran Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Keguguran n Mean Rank p value
a Ya 11 28,64
0,046
b Tidak 67 41,28
4.3.2 Perbedaan Kejadian Anemia Kehamilan Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 35 orang ibu menikah usia muda sebanyak 15 orang (42,9%) mengalami anemia kehamilan dan 20 orang (57,1%) yang mengalami anemia kehamilan, sedangkan dari 43 orang ibu menikah usia reproduksi sehat yang mengalami anemia kehamilan sebanyak 8 orang (18,6%) dan 35 orang (81,4%) yang mengalami anemia kehamilan. Dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut :
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Anemia Kehamilan Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Kelompok menunjukkan bahwa ada perbedaan kejadian anemia kehamilan yang signifikan antara ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat. Dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.4 Perbedaan Kejadian Anemia Kehamilan Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Anemia Kehamilan n Mean Rank p value
a Ya 23 31,57
0,020
b Tidak 55 42,82
4.3.3 Perbedaan Kejadian Keracunan Kehamilan (Preeklamsi /Eklamsi) Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 35 orang ibu menikah usia muda sebanyak 13 orang (37,1%) yang mengalami keracunan kehamilan (preeklamsi /eklamsi) sedangkan dari 43 orang ibu menikah usia reproduksi sehat yang mengalami keracunan kehamilan (preeklamsi / eklamsi) sebanyak 5 orang (11,6%).
Dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut :
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Keracunan Kehamilan (Preeklamsi /Eklamsi) Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat
di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Kelompok menunjukkan bahwa ada perbedaan kejadian keracunan kehamilan (preeklamsi /eklamsi) yang signifikan antara ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat. Dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut:
Tabel 4.8 Perbedaan Kejadian Kejadian Keracunan Kehamilan (Preeklamsi /Eklamsi) Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa
Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018 Keracunan Kehamilan
(Preeklamsi /Eklamsi) n Mean Rank p value
a Ya 18 28,83
0,008
b Tidak 60 42,70
4.3.4 Perbedaan Kejadian Persalinan Lama Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 35 orang ibu menikah usia muda sebanyak 14 orang (40%) yang mengalami persalinan lama dan 21 orang (60%) yang tidak mengalami persalinan lama, sedangkan dari 43 orang ibu menikah usia reproduksi sehat yang mengalami persalinan lama sebanyak 7 orang (16,3%) dan 36 orang (83,7%) yang tidak mengalami persalinan lama. Dapat dilihat pada Tabel 4.9 berikut :
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Persalinan Lama Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Kelompok menunjukkan bahwa ada perbedaan kejadian persalinan lama yang signifikan antara ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat. Dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut:
Tabel 4.10 Perbedaan Kejadian Persalinan Lama Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru
Tahun 2018
Persalinan Lama n Mean Rank p value
a Ya 21 31,00
0,020
b Tidak 57 42,63
4.3.5 Perbedaan Kejadian Prematur/BBLR Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 35 orang ibu menikah usia muda sebanyak 10 orang (28,6%) yang mengalami prematur/BBLR dan 25 orang (71,4%) yang tidak mengalami prematur/BBLR, sedangkan dari 43 orang ibu menikah usia reproduksi sehat yang mengalami prematur/BBLR sebanyak 4 orang (9,3%) dan 39 orang (90,7%) yang tidak mengalami prematur/BBLR. Dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut :
Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Prematur/BBLR Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Kelompok menunjukkan bahwa ada perbedaan kejadian prematur/BBLR yang signifikan antara ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat. Dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut:
Tabel 4.12 Perbedaan Kejadian Prematur/BBLR Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang
Toru Tahun 2018
Prematur/BBLR n Mean Rank p value
a Ya 14 29,14
0,028
b Tidak 64 41,77
4.3.6 Perbedaan Kejadian Perdarahan Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 35 orang ibu menikah usia muda sebanyak 4 orang (11,4%) yang mengalami perdarahan dan 31 orang (88,6%) yang tidak mengalami perdarahan, sedangkan dari 43 orang ibu menikah usia reproduksi sehat yang mengalami perdarahan sebanyak 5 orang (11,6%) dan 38 orang (88,4%) yang tidak mengalami perdarahan. Dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut :
Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Perdarahan Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong
Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Kelompok menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kejadian perdarahan yang signifikan antara ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat. Dapat dilihat pada Tabel 4.14 berikut:
Tabel 4.14 Perbedaan Kejadian Perdarahan Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Perdarahan n Mean Rank p value
a Ya 9 39,67
0,978
b Tidak 69 39,48
4.3.7 Perbedaan Kesehatan Reproduksi Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Perbedaan kesehatan reproduksi ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat diambil berdasarkan komplikasi yang dialami oleh ibu. Ibu yang mengalami salah satu atau lebih komplikasi dinyatakan berisiko meningkatkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi, sedangkan ibu yang tidak mengalami komplikasi dinyatakan memiliki kesehatan reproduksi sehat.
Hasil penelitian diperoleh bahwa dari 35 orang ibu yang menikah pada usia muda, sebanyak 32 orang (91,4%) yang memiliki kesehatan reproduksi berisiko dan 3 orang (8,6%) yang memiliki kesehatan reproduksi sehat, sedangkan dari 43 orang ibu yang menikah usia reproduksi sehat yang memiliki kesehatan reproduksi berisiko sebanyak 19 orang (44,2%) dan 24 orang (55,8%) yang memiliki kesehatan reproduksi sehat. Dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut :
Tabel 4.15 Perbedaan Kesehatan Reproduksi Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Kelompok
Kesehatan Reproduksi
Jumlah Berisiko Sehat
n % n % n %
a. Usia Muda (<20 tahun) 32 91,4 3 8,6 35 100
b. Usia Reproduksi Sehat (≥20 – 35 tahun) 19 44,2 24 55,8 43 100 Hasil uji statistik diperoleh nilai p value = 0,000 lebih kecil dari α =0,05 menunjukkan bahwa ada perbedaan kesehatan reproduksi yang signifikan antara ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat. Dapat dilihat pada Tabel 4.16 berikut:
Tabel 4.16 Perbedaan Kesehatan Reproduksi Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama
Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Kesehatan Reproduksi n Mean Rank p value
a Ya 51 32,53
0,000
b Tidak 27 52,67
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Perbedaan Kejadian Keguguran Ibu Menikah Usia Muda dan Ibu Usia Reproduksi Sehat di Desa Hapesong Lama Kecamatan Batang Toru Tahun 2018
Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan uji Mann-Whitney diketahui bahwa, ada perbedaan kejadian keguguran yang signifikan antara ibu menikah usia muda dan ibu usia reproduksi sehat yang ditunjukkan dengan p value = 0,046 lebih kecil dari α = 0.05. Dari 35 orang ibu menikah pusia muda yang mengalami keguguran sebanyak 8 orang (22,9%), sedangkan dari 43 orang ibu yang usia reproduksi sehat yang mengalami keguguran sebanyak 3 orang (7,0%).
Hal ini sesuai dengan penelitian Andrian dan Kuntoro (2013), yang mengamati kejadian abortus spontan pada pernikahan dini. Dari hasil penelitian Andrian dan
Hal ini sesuai dengan penelitian Andrian dan Kuntoro (2013), yang mengamati kejadian abortus spontan pada pernikahan dini. Dari hasil penelitian Andrian dan