BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Objek Penelitian
Suku Baduy adalah salah satu etnis yang tidak terpisahkan dari negara kesatuan republik Indonesia dengan posisi geografis dan administratif berada disekitar Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Gambar 1.1.
Baduy sering juga disebut orang Kanekes atau orang Rawayan. Menurut penuturan tokoh adat Baduy, istilah kata Baduy diambil dari sebuah nama sungai tempo dulu, yaitu sungai Cibaduy yang mengalir disekitar wilayah tempat Baduy tinggal, juga berdasar nama salah satu bukit yang berada dikawasan tanah ulayat suku Baduy, yaitu bukit Baduy. Sedangkat sebutan orang Kanekes adalah sebutan
nama wilayah Pemerintahan Desa tempat tinggal Baduy sekarang. Dan sebutan orang Rawayan didasarkan pada sebuah jembatan ditanah ulayat mereka yang menjadi sebuah ciri khas, jembatan tersebut terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai cukang (tempat untuk menyebrang), atau dalam i stilah mereka Rawayan.
Suku Baduy adalah suku yang unik, ini terlihat dari cara berpakaian, keseragaman bentuk rumah, penggunaan bahasa, kepercayaan dan adat istiadat. Suku Baduy hidup dengan gaya menutup diri dari pengaruh luar kelompok mereka dengan tujuan untuk menjalankan amanat Leluhur dan Pusaka Karuhunan
yang mewariskan wasiat untuk selalu menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta. Namun bukan berarti mereka adalah suku yang terasing dari kehidupan dunia luar.
Baduy adalah kelompok masyarakat yang prilaku kesehariannya sederhana dan apa adanya, tidak berlebih-lebihan hidup dengan pedoman pikukuh dan kaidah-kaidah yang sarat nasihat dan penuh makna. Kesederhanaan tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dapat dilihat dari bentuk rumah mereka yang seragam arah dan bentuknya, Baduy menyebutnya dengan istilah Nyulah Nyandah menghadap ke arah Utara-Selatan. Bentuk dan warna pakaian khas Baduy yaitu hanya dua warna hitam dan putih, keseragaman dalam bercocok tanam yaitu hanya berladang (Nga-Huma) dan yang tak kalah pentingnya tentang kepatuhan dan ketaatan mereka pada satu keyakinan, yaitu yakin pada agama Slam Sunda Wiwitan, keyakinan itu tidak untuk disebarluaskan kepada masyarakat luar adat Baduy. Kepatuhan masyarakat Suku baduy dalam
melaksanakan amanat leluhurnya sangat kuat, ketat dan serta tegas, tetapi tidak ada sifat pemaksaan kehendak.43
Gambar 1.2.
Baduy memiliki filosofi hidup yang bijaksana dan berwawasan jauh kedepan serta memiliki sikap waspada yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya dua komunitas generasi penerus kesukuan mereka sekaligus memiliki aturan adat masing-masing yang sarat dengan ciri khas dan perbedaan, namun mampu mengikat menjadi satu kesatuan Baduy yang utuh.
Pertama, komunitas menamakan dirinya suku Baduy dalam (Tangtu) atau Baduy asli, dimana pola hidup sehari-harinya masih sangat kuat dalam memegang hukum adat serta kukuh pangukuh dalam melaksanakan amanat leluhurnya. Baduy dalam lebih menunjukkan pada replika Baduy masa lalu (kehidupan primitif) yang mendekati pada pewaris asli budaya dan amanat leluhur kesukuan mereka. Pewaris asli yang dimaksud merujuk pada tingkat ketaatan dan kesadaran komunitas mereka dalam mempertahankan adat istiadatnya dan kekonsistenan menutup dirinya dari pengaruh-pengaruh kebudayaan asing yang dianggap
43
negatif. Baduy dalam terdiri dari tiga kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Masyarakat yang menghuni ketiga kampung di Baduy dalam tersebut memiliki batasan hukum yang tetap, tegas, serta mengikat ke semua pihak dan semua aspek kehidupannya.
Kedua, komunitas yang menamakan dirinya Baduy luar yang pada kegiatan sehari-harinya mereka lebih diberikan kebijakan atau kelonggaran dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum adat, tetapi aada batas-batas tertentu yang tetap mengikat mereka sebagai suatu komunitas adat khas suku Baduy. Baduy luar dipersiapkan sebagai penjaga, penyangga, penyaring, pelindung, dan sekaligus penyambung silaturahmi dengan pihak luar sebagai bentuk penghargaan, kerjasama, dan partisipasi aktif dalam kegiatan kenegaraan untuk menunjukkan bahwa mereka adalah salah satu suku bangsa yang sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya. Masyarakat suku Baduy adalah satu kelompok masyarakat yang unik, keunikan itu tampak dalam berbagai aspek kehidupan. Satu sisi mereka mengasingkan diri untuk menghindari pengaruh-pengaruh negatif dunia modern namun disisi lain terjadi suatu hubungan yang serasi dan berkesinambungan dengan dunia luar. Mereka menghargai program-program pemerintah dan bekerjasama dengan baik, tetapi dengan catatan harus disesuaikan dengan tatanan hukum adat.
Mereka bukan suku terasing yang tidak berbudaya karena mereka sejak lahir memiliki perangkat hukum adat yang lengka dengan sebutan Perangkat Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh, mereka adalah masyarakat yang sangat yakin kukuh
pikukuh terhadap tugas dan fungsi kesukuannya dan sangat menikmati pilihan hidupnya dengan segala konsekuensinya.
Suku Baduy sangat memegang teguh pikukuh karuhun, yakni sebuah doktrin yang mewajibkan mereka melakukan berbagai hal sebagai amanat leluhurnya.
Pikukuh karuhun tersebut antara lain mewajibkan masyarakat Baduy untuk bertapa bagi kesejahteraan dan keselamatan pusat dunia dan alam semesta, memelihara Sasaka Pusaka Buana, mengasuh Ratu memelihara Manak, menghormati Guriang dan melaksanakan Muja, melakukan Seba setahun sekali, menyelenggarakan dan menghormati upacara adat Ngalaksa, dan mempertahankan dan menjaga adat Bulan Kawalu.
Masyarakat Baduy meyakini bahwa alam semesta ini diciptakan dan dipelihara oleh kekuasaan Tuhan Maha Pencipta yang disebut Adam Tunggal. Masyarakat suku Baduy masih mempercayai roh-roh nenek moyang dengan sebutan Guriang,
mereka berpendapat Guriang selalu menjaga dan mendampingi hidup mereka. Mereka mempercayai Nabi Adam adalah leluhur dan Nabi Muhammad adlah saudara muda dari Nabi Adam yang memiliki amanat penutup kesempurnaan perjalanan sejarah keyakinan manusia untuk mengiblati Ka‟bah, sehingga pada upacara-upacara tertentu mereka membaca dua kalimat sahadat sebagai penyempurna dari sahadat-sahadat lainnya. Keyakinan dan kepercayaan semua itu mereka namakan Agama Slam Sunda Wiwitan.
Dalam menjalankan kehidupan adatnya erat sekali hubungannya dengan pemimpin atau pejabat negara atau yang mereka sebut Ratu dan Menak, karena
bagi mereka pemimpin dan pejabat negara adalah pelindung, pengayom, dan pengaman dalam pemenuhan kebutuhan aspek-aspek kehidupan kesukuan Baduy. Masyarakat suku Baduy memenuhi kebutuhan hidup dengan dua cara, yaitu
pertama, menanam padi diladang (huma) setahun sekali, hasil panennya tidak diperjual belikan namun untuk dikonsumsi pribadi dan sisimpan sebgai cadangan makanan di lumbung padi (Leuit). Kedua, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari mereka berusaha sekuat tenaga membeli beras dan kebutuhan lainnya dari para pedagang disekitar pemukiman mereka.
Gambar 1.3.
Suku Baduy memiliki pemerintah sendiri dalam sukunya. Pemimpin tertinggi disebut Puun. Ada tiga Puun yang bertempat di tiga desa di Baduy dalam, tiga Puun tersebut yaitu Puun Cibeo, Puun Cikartawana, dan Puun Cikeusik. Dari ketiga Puun tersebut keputusan yang diambil adalah satu keputusan yaitu keputusan bersama diantara ketiganya. Pemerintahan di Baduy pusatnya berada di Baduy dalam, yang didalamnya digabungkan antara pemimpin adat Baduy dalam dan Baduy luar. Pimpinan adat tersebut lebih dikenal dengan sebutan tangtu tilu jaro tujuh. Yang dimaksud dengan tangtu tilu adalah ketiga Puun yang melimpahkan wewenang dan keputusan untuk mengatur tentang pelaksanaan pemerintahan adat kepada tiga Jaro tangtu, yaitu jaro tangtu Cibeo, jaro tangtu Cikartawana, dan jaro tangtu Cikeusik. Pengertian dari tangtu tilu adalah ketiga kampung kepuunan yang berfungsi sebagai penentu kebijakan dan keputusan hukum adat suku Baduy.
Baduy luar dipimpin oleh pimpinan adat yang disebut jaro tujuh. Fungsinya lebih menitik beratkan pada pelaksanaan kebijakan keputusan hukum adat, sekaligus mengawasi pelaksanaan hukum adat pada masyarakat Baduy, termasuk mengawasi pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum adat baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun yang dilakukan oleh orang luar Baduy. Disebut jaro tujuh karena jumlahnya ada 7 orang ditambah dengan 2 orang sebagai atasan mereka, yaitu pertama saksi jaro tujuh dengan sebutan jaro tanggungan dua belas, dan yang kedua sebagai penasihat jaro tujuh dengan sebutan tangkesan. Struktur pemerintahan Baduy luar dipercayakan pada masyarakat Baduy luar dengan persetujuan dari lembaga adat tangtu tilu jaro tujuh. Pusat pemerintahan
berada di kampung Cipondok/Babakan jaro/Kaduketung III dengan nama desa Kanekes, dipimpin oleh seorang kepala desa yang disebut jaro pamarentah.
Gambar 1.5.
Masyarakat suku Baduy, baik Baduy dalam maupun Baduy luar dilarang bersekolah secara formal, sebab sekolah formal dianggap membutuhkan bangunan dan fasilitas modern yang dapat merubah bentuk dan struktur tanah ulayat. Bentuk rumah nyulah nyanda, di Baduy dalam sangat dilarang menggunakan barnag-barang elektronik, dahulu dilarang menggunakan alat-alat makan dan minum yang terbuat dari gelas, plastik dan barang-barang kebutuhan sehari-hari yang berasal dari luar (produk tekhnologi modern). Di Baduy dalam pembuatan rumah tidak diperkenankan menggunakan paku, hanya menggunakan pasak dan tali dari rotan dan hanya memiliki satu pintu. Baduy dalam dilarang menggunakan alas kaki, dilarang menggunakan atau menaiki kendaraan.
Sementara itu, masyarakat Baduy luar memiliki pola hidup yang sudah mulai longgar dan terbuka. Hal ini terjadi karena memang aturan/hukum adat
memberikan kelonggaran. Baduy luar sudah banyak mengadopsi pola hidup masyarakat luar Baduy. Dari mulai bentu rumah yang sudah dibebaskan bentuknya meskipun arahnya harus mengikuti aturan (Nyulah nyanda), Baduy luar diperbolehkan menggunakan kendaraan dan bahkan banyak yang memilikinya, dan dapat menggunakan dan memiliki alat komunikasi modern seperti telepon genggam.
Setara dengan derasnya kebutuhan, perubahan, dan perkembangan zaman, masyarakat suku Baduy pun tidak bisa menghindari terhadap adanya teori evolusi. Selayaknya etnis-etnis lain, suku Baduy sedang menjalani proses evolusi kebudayaan dengan percepatan yang luar biasa walaupun mereka tidak menyadarinya.
Pola hidup masyarakat suku Baduy yang dulunya relatif baku dan kaku, sederhana, watak dan tabiat sosialnya yang selama berabad-abad secara konsisten selalu dipaduserasikan dengan jiwa dan karakter alam semesta, kini mulai menunjukkan penurunan. Dalam artian, timbul sikap terbuka terhadap pola-pola hidup modern bahkan sudah mengadopsi gaya-gaya hidup modern walaupun tidak drastis.
4.1.2. Masuknya Wisatawan ke Baduy
Pada tahun 1968 pemerintahan Jawa Barat (Banten pada waktu itu masih tergabung dalam Provinsi Jawa Barat) mengeluarkan sebuah surat keputusan bernomor 03/B.V/Pem./SK/68 tentang Penetapan Status Hutan Larangan Desa Kanekes Daerah Baduy sebagai hutan lindung mutlak dalam kawasan hutan ulayat
Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1986 tepatnya delapan belas tahun kemudian, Gubernur mengeluarkan surat keputusan kepala daerah tingkat I Jawa Barat bernomor 140/Kep.526-Pemdes/1986, yang menetapkan Desa Kanekes Kecamatan leuwidamar kabupaten Lebak dijadikan desa definitif dengan luas 5.101 Ha dengan jumlah penduduk pada saat itu 7181 jiwa. Pada 15 Agustus 1990 pemerintah daerah mengeluarkan peraturan daerah kabupaten daerah tingkat II Lebak No.13 Tahun 1990 tentang pembinaan dan pengembangan lembaga adat masyarakat baduy di daerah tingkat II Lebak. Bersamaan dengan pemekaran jawa Barat menjadi Dua Propinsi dan Lebak masuk ke dalam propinsi Banten. pengakuan tersebut kemudian diteguhkan lewat peraturan daerah kabupaten daerah Lebak No. 32/2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy.
Pembuatan Peraturan Derah No.32 tahun 2001 merupakan artikulasi dari niatan Pemerintah Daerah Lebak dan masyarakat Baduy yang sebagian berhimpun dalam wadah musyawarah masyarakat Baduy (WAMMBY). Forum ini dideklarasikan tahun 1999 dengan salah satu tujuannya adalah memperjuangkan hak ulayat masyarakat Baduy. Wadah musyawarah masyarakat Baduy kemudian mengeluarkan surat kuasa dari masyarakat Adat Baduy untuk mengajukan permohonan tanah wilayah desa Kanekes sebagai hak Ulayat Masyarakat Baduy. Surat kuasa tersebut diajukan kepada pemerintah daerah kabupaten Lebak, surat ini menjadi alasan pemerintah daerah untuk mengajukan rancangan Perda tentang perlindungan atas hak ulayat masyarakat Baduy pada tanggal 9 Mei 2001 kepada DPRD. Pada tanggal 13 Agustus 2001 peraturan daerah disetujui dan
diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Lebak tahun 2001 Nomor 65 Seri C.44
Sejak Banten masih tergabung dalam provinsi Jawa Barat, Baduy sudah didatangi oleh orang-orang dari luar Baduy, akan tetapi masih dalam jumlah yang sedikit, karena Baduy saat itu memang bukan sebuah objek pariwisata. Namun pada tahun 1990 saat dikeluarkan peraturan daerah Nomor 13 tentang pembinaan dan pengembangan lembaga adat masyarakat Baduy di daerah tingkat II Kabupaten Lebak, pengunjung lebih sering datang ke Baduy. Dan pada tahun 2001 sejak ditetapkan peraturan pemerintah daerah nomor 32 oleh Bupati Lebak, semakin banyak pengunjung yang datang ke Baduy dan terus bertambah jumlahnya setiap tahun. Banyaknya jumlah wisatawan yang datang ke Baduy karena dorongan rasa ingin tahu tentang kehidupan suku Baduy yang mereka anggap masih asli, khas dan unik.
Banyaknya jumlah pengunjung yang datang ke Baduy berangsur-angsur dan dalam jangka waktu yang panjang memberikan pengaruh kepada masyarakat Baduy. Hal ini terjadi karena proses komunikasi antar budaya yang sangat intensif antara masyarakat Baduy dan wisatawan yang berbeda latar belakang kebudayaan.
44