NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB KHULASHAH NURUL
YAQIN
A. Pengertian Nilai Pendidikan Akhlak
1. Pengertian nilai
Di antara definisi nilai yang dikemukakan para ahli, maka definisi oleh spranger (Asrori, 2008: 153), termasuk yang dikenal secara luas. Menurut Spranger nilai diartikan sebagai suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Dalam perspektif Spanger, kepribadian manusia itu terbentuk dan berakar pada tatanan nilai-nilai dan kesejahteraan. Meskipun penempatan konteks sosial sebagai dimensi nilai dalam kepribadian manusia, tetapi spranger tetap mengakui kekuatan individual yang dikenal dengan “roh subjektif” (subjective spirit). Sementara itu, kekuatan nilai-nilai budaya merupakan “roh subjektif” (objective spirit). Dalam kacamata Spranger, kekuatan individual atau roh subjektif didudukkan dalam posisi primer, karena nilai nilai budaya hanya akan berkembang dan bertahan apabila didukung dan dihayati oleh individu. (Asrori, 2008:153).
32
Nilai memeiliki 3 hiraki yaitu perasaan yang abstrak, norma-norma moral, dan keakuan. Ketiganya ditemukan dalam kepribadian seseorang. Perasaan dipakai sebagai landasan bagi seseorang untuk membuat keputusan dan menjadi standar untuk tingkah laku. Sedangkan norma-norma menjadi tingkah laku yang yang berfungsi sebagai kerangka patokan dalam berinteraksi. Keakuan berperan dalam membentuk kepribadian melalui proses pengalaman sosial. Karenanya nilai menjadi faktor penentu bagi pembentukan sikap. (FIP-UPI, 2007:41).
Dengan demikian pengertian nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya. Nilai merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial untuk membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai sesuatu yang ingin dicapai. Secara dinamis, nilai dipelajari dari produk sosial dan secara perlahan diinternalisasikan oleh individu ke dalam dirinya serta diterima sebagai milik bersama dengan kelompoknnya. Nilai merupakan standar konseptual yang relatif stabil yang secara eksplisit atau implisit membimbing individu dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai serta aktivitas dalam memenuhi kebutuhan psikologisnnya. (Asrori, 2008:153).
2. Pengertian Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata didik, yaitu memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan fikiran. (FIP-UPI, 2007:20).
33
Pendidikan dapat diartikan secara sempit, dan dapat diartikan secara luas. Secara sempit dapat diartikan: “bimbingan yang diberikan kepada anak-anak sampai ia dewasa” (Maribah, 1981:31). Sedangkan pendidikan dalam arti luas adalah “segala sesuatu yang menyangkut proses perkembangan dan pengembangan manusia, yaitu upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik”. (Nata, 2003:10).
Dalam buku kapita selekta pendidikan Islam, bahwa Untuk memahami pengertian pendidikan dengan benar, pendidikan dapat dibedakan dari dua pengertian, pengertian yang bersifat teoritik filosofis dan pengertian yang bersifat pendidikan dalam arti praktis.(Nata, 2003:210).
Pengertian pendidikan dalam arti teoritik filosofis adalah pemikiran manusia terhadap masalah-masalah kependidikan untuk memecahkan dan menyusun teori-teori baru dengan mendasarkan pada pemikiran normatif, spekulatif, rasional empirik, nasional filosofis, maupun historis filosofik. (Nata, 2003:210).
Pendidikan dalam arti praktis adalah suatu proses pemindahan pengetahuan ataupun pengembangan-pengembangan potensi-potensi yang dimiliki subyek didik untuk mencapai perkembangan secara optimal serta membudayakan manusia melalui transformasi nilai-nilai utama. (Nata, 2003:211).
34
Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional (UUSPN, BAB 1 pasal 1) pendidikan diartikan sebagai “ usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi perannya dimasa yang akan datang “. (Nata, 2003:211).
Pendidikan adalah semua perbuatan dan usaha dari seorang pendidik untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya, serta keterampilannya. (Saliman, Sudarsono, 1993:178).
Dikatakan dalam kitab „Idzhotun-Nasyiin, bahwa anak-anak itu dikemudian hari akan menjadi generasi penerus, jadi ketika telah terbiasa berperilaku baik yang bisa meningkatkan derajatnya, dan menghasilkan ilmu yang manfaat bagi negaranya. (al-Ghulayaini, 2009:69).
Anak-anak itu akan menjadi pondasi kokoh yang akan menjadi landasan bagi umat, ketika membiasakan budi pekerti yang baik dan meninggalkan ilmu yang dapat merusak negara yang ditempati umat itu sendiri. (al-Ghulayaini, 2009:69).
Pendidikan bagi kaum muslim itu merupakan hal yang wajib, sebagaimana dikatakan Imam Ghozali bahwa, mendidik anak adalah suatu kewajiban bagi kedua orang tuanya, sebab anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya, hati anak yang bersih itu merupakan hal yang paling berharga dibanding berlian, karena anak yang dididik dan terbiasa berbudi baik dan ia menjadi ahli kebaikan, maka orang yang mendidik dan kedua orang tuanya dapat pahala dari amal yang dikerjakan oleh anak tersebut. (al-Ghulayaini, 2009:70).
35
Mendidik anak itu adalah menanamkan pekerti yang baik di hatinya para pemuda, sehingga dapat menciptakan generasi yang ikhlas beramal, lebih mementingkan maslahah umat dan akan menjadikan negara yang makmur dan diridhai Allah SWT. (al-Ghulayaini, 2009:70).
Jadi, pendidikan itu merupakan sesuatu yang mendasar bagi manusia yang harus diberikan, karena pendidikan kunci kesuksesan dalam menjalankan kehidupan ini, baik berkeluarga, bermasyarakat ataupun bernegara dan berbangsa.
Seseorang yang dididik akan menimbulkan suatu talenta tersendiri yang dapat dilihat dalam perilaku atau moralitasnya setiap memberikan keputusan, setiap bertindak dan bersosialisasi dengan masyarakat.
3. Pengertian Akhlak
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasan) dan pendekatan
terminologik (peristilahan). (Nata, 2002:1).
Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar dari kata akhlaka, yukhliqu, ikhlaqan, yang berarti al-sajiyah
(perangai), ath-thabi‟ah (kelakuan, tabi‟at, watak dasar), al-„adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru‟ah (peradaban yang baik), dan al-din
(agama). (Nata, 2002:1).
Secara linguistik kata akhlaq merupakan isim jamid dan isim ghair musytaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan kata tersebut memang sudah demikian adanya. Kata akhlaq bentuk jamak dari kata
36
khilqun atau khuluqun yang artinya sama dengan arti akhlaq sebagaimana telah disebutkan di atas. (Nata, 2002:2).
Akhlak menurut imam al-Ghazali dalam “Ihya‟ Ulumuddin” adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari sifat itu timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. (Tadjab, 1994: 243).
Akhlak Menurut Ibnu Maskawih dalam kitabnya Tahdzibul Akhlaq
Wa Tathhirul A‟raq adalah sikap jiwa seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan (terlebih dahulu). (Siroj, 2009:2).
Berangkat dari beberapa definisi dan uraian di atas, dapat kita peroleh suatu kesimpulan bahwa akhlak merupakan gerakan spontan yang keluar dari dalam lubuk hati manusia. Dorongan jiwa yang melahirkan akhlak tersebut bersumber dari kekuatan batin manusia. (Tualeka, 2011:178).
B. Pemikiran Muhammad Khudhari Bek tentang Nilai Pendidikan Akhlak
dalam kitab Khulāshah Nūrul Yaqīn
Pada hakikatnaya aktivitas pendidikan selalu berlangsung dengan melibatkan pihak-pihak sebagai aktor penting yang ada di dalam aktivitas pendidikan tersebut. Aktor penting itu oleh Noeng Muhadjir (1994) disebut sebagai subjek yang menerima disatu pihak dan subjek yang memberi dipihak yang lain dalam suatu interaksi pendidikan. Subjek yang memberi disebut
37
pendidik, sedang subjek yang menerima disebut dengan peserta didik. (Rohman, 2013:105).
Sesungguhnya segala bentuk pendidikan adalah bersumber pada Rasulullah SAW, karena beliau merupakan suri tauladan yang baik, dan sebaik-baik tauladan dari zaman sebelum Rasulullah SAW ataupun setelah Rasulullah SAW. Peri kehidupan Rasulullah SAW merupakan suri tauladan bagi kaum muslimin, karena itu wajib bagi setiap muslim mengetahuinya untuk diikuti dan diamalkan sesuai dengan petunjuknya. (Bek, 2014:iv)
Nabi Muhammad SAW adalah sosok pribadi yang agung dimana beliau telah berhasil membawa misi risalahnya sebagai seorang Nabi dan Rasul dengan sangat gemilang, yakni dengan jalan berdakwah secara damai dan simpatik dalam kurun waktu 23 tahun telah banyak mengislamkan jutaan orang penduduk dunia. Sosok Nabi Muhammad SAW telah dianggap sebagai manusia sempurna (insanul kamil) dan telah diakui oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu di dunia baik muslim maupun non muslim akan keberhasilanya mengubah wajah dunia yang biadab menjadi beradab, dari zaman jahiliah menjadi zaman yang penuh hidayah. Keberhasilan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pribadi, seorang kepala rumah tangga, pemimpin umat sedunia, dan juga kepala pemerintahan Madinah telah banyak menginspirasi dan memberi teladan kebaikan bagi seluruh umat manusia di dunia sebagaimana misi risalahnya adalah rahmatan lil„alamin. Sehingga tidaklah berlebihan dan sangatlah tepat jika nama beliau diletakan diperingkat
38
pertama sebagai tokoh berpengaruh dan idola tingkat dunia dari 100 tokoh yang disurvei. (Hermawan, 2015:1)
Rasulullah SAW memiliki beberapa sifat sempurna sehingga beliau menjadi panutan seluruh alam semesta ini, sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW tersebut, yaitu: shidiq, amanah, tabligh, fathanah. (Saberanity, 2006:57)
Dalam kiab Khulāshah Nūrul Yaqīn karya Muhammad Khudhari Bek, menyebutkan bahwa malaikat Jibril mengajar Nabi bagaimana hendaknya beliau memimpin manusia kejalan yang lurus dan bagaimana mestinya, Rasulullah SAW menutuntun mereka supaya menurut agama yang benar. (Djabbar, tt:15).
Aisyah menjelaskan akhlak Rasulullah SAW sangat sempurna, tidak ada cela sedikitpun sebagaimana halnya Al-Qur‟an. Bahkan bisa dikatakan bahwa Rasulullah SAW adalah Al-Quran yang berjalan. (Tualeka, 2011:8).
Pendidikan akhlak tersebut dijelaskan dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin diantaranya:
a. Pendidikan kejujuran dalam amanah
Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:
ًََِّؼٌْ ا َزٌَِٙ ُْٗرَس بَزْخْإ ِذَلَٚ
ِخَفْ٠ِشَّشٌا ِِٗل َلَْخَأَٚ ِِٗزَٔ بََِأَٚ ِِٗلْذِصِث ْذَؼَِّس بَْٙٔ َ ِلِ
Artinya: Khadijah memilih Nabi untuk pekerjaanya itu, karena ia pernah mendengar tentang kebenaran Nabi SAW tentang amanat-amanatnya dan tentang akhlak-akhlak beliau yang mulia. (djabbar, tt:9).
39
Rasulullah SAW adalah orang yang terkenal sangat jujur dalam ucapanya bahkan beliau senantiasa mengatakan dengan sejujur-jujurnya sekalipun pahit dirasakan dan mengandung resiko yang tinggi bagi dirinya sendiri sehingga karena kejujurannya itulah Rasulullah SAW mendapat gelar al-amin, artinya dapat dipercaya. Sifat jujur itu sudah dimulai sejak beliau kecil. Ini terbukti ketika beliau berdagang, mengabdi kepada saudagar Arab yang bernama Khadijah. Dengan modal kejujuranya itu, Rasulullah SAW dijadikan sebagai orang kepercayaan dan akhirnya Khadijah jatuh cinta kepada beliau. (Siroj, 2009:52).
Rasulullah SAW ketika beliau berdagang selalu mengatakan kepada pembeli bahwa barang yang baik dikatakan baik dan barang yang ada sedikit cacat dikatakan cacat dan ditunjukan cacat, barang yang kualitasnya bagus di katakan bagus serta barang yang kurang bagus kulitasnya dikatakan kurang bagus. Dari situlah perbuatan beliau tidak merugikan orang lain. (Al-arif, 2009:53).
Allah SWT berfirman:
Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki
40
bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah
mendapat kemenangan yang besar”. (Q.S. Al-Ahzab:70-71).
Dalam kitab Izhatun Nasi‟in karya Mushtafa al-Ghulayani, halaman 12 mengatakan bahwa dusta dan jujur dalam masalah ini bukanlah sifat (budi pekerti) yang sudah dimaklumi dalam masyarakat karena dusta dan jujur yang seperti ini adalah salah satu perkara dengan mudah untuk diketahui, anak kecil pun mengetahui hal ini. Karena dusta dan jujur dalam pekerjaan inilah yang akan menjadi hasil dari ucapan ketika jujur atau berdusta. (Ghulayaini, 2009:12).
b. Pendidikan keadilan
Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:
َيََّٚأ َُُىَحٌْا َُْْٛىَ٠ َْْأ ٍََٝػ اُْٛمَفَّرا َُُّث َُٗٔبَىَِ َدَْٛسَ ْلِاَشَجَحٌْا ُغَضَ٠ َّْْٓ١ِف ٌشْ٠َشُل ْذَفٍََزْخاَٚ
ِالل ُيُْٛسَس ًٍِخاَد َيََّٚأ َْبَىَف ِذِجْسٌَّْا َِِٓ ًٍِخاَد
بِث بَْٕ١ِضَس اٌُْٛبَلَٚ ِِٗث ٌشْ٠َشُل ْذَحِشَفَف
ِْٓ١َِِ ْلِ
Artinya: Kaum Quraisy berselisihan tentang siapa yang harus menaruhkan Al-Hajarul Aswad di tempatnya, kemudian mereka sepakat, bahwa pendamainya, ialah orang yang pertama masuk Masjidil Haram.(Muhammad Khudhari Bek, tt: 11)
Saat peristiwa peletakan hajar-aswad, kaum quraisy berselisih pendapat tentang siapa yang berhak meletakan hajar-aswad tersebut, Quraisy bersepakat bahwa pendamainya, ialah orang yang pertama masuk masjidil-haram, maka Rasulullah SAW saat itu yang pertama kali masuk masjidil-haram, orang-orang Quriasy bergembira karena Rasulullah SAW setelah meletakan batu itu disatu kain selendang dan beliau minta setiap
41
ketua Quraisy supaya masing-masing memegang ujung selendang itu. (Djabbar, tt:11).
Maka Nabi Muhammad SAW meletakkan batu itu disatu kain selendang dan beliau meminta dari tiap-tiap ketua Quraisy supaya masing-masing memegang ujung selendang itu. Kemudian Nabi Muhammad SAW menyuruh mereka mengangkat batu tadi. Tatkala mereka sampai ditempatnya, Rasulullah SAW mengambil batu itu dengan tangan beliau sendiri, dan meletakkan batu tersebut ditempatnya dengan tangan beliau sendiri, dengan begini hilanglah perselisihan dalam penetapan urusan itu, serta kaum Quraisy ta‟jub akan kecerdasan fikiran Rasulullah SAW. (Djabbar, tt:11).
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan
berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (Q.S.
An-Nahl:90).
Rasulullah SAW terkenal sebagai seorang yang cerdas, cerdik atau pandai. Bahkan, tidak hanya sekedar cerdas akan tetapi sangat arif dan bijaksana. Di dalam mengambil keputusan Rasulullah SAW selalu didasari dengan pertimbangan dan pemikiran yang cukup matang.
42
Ucapanya senantiasa dijadikan sebuah konsep, tingkah lakunya dijadikan sebuah tuntunan dan percontohan. (Siroj, 2009:83).
Sikap atau tindakan bijaksana dalam menyelesaikan sebuah permasalahan apapun bentuknya, merupakan sebuah keharusan yang harus dilakukan oleh seorang muslim, tidak terkecuali itu pelajar, orang tua, ustadz, pegawai dan lain sebagainya. (Tualeka, 2011:119).
c. Pendidikan kesabaran
Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:
ِث بَمُ٠ ٍَََُّسَٚ ِْٗ١ٍََػ ُالل ٍََّٝص َْبَوَٚ
ِْٛفَؼٌْاَٚ ِفْطٌٍُّاَٚ ِشْجَّصٌاَٚ ٍُِِْحٌْ بِث ٍُُُْٙ
Artinya: Adalah Rasulullah SAW menghadapi mereka dengan sifat tidak lekas marah, sabar, lemah-lembut dan suka mema‟afkan. (Djabbar, tt:23). Kaum Quraisy mulai menyakiti Rasulullah SAW tetapi beliau menghadapi mereka dengan tenang dan sabar. (Djabbar, tt:25).
Abu Lahab pernah meletakan kotoran didepan pintu rumah Rasulullah SAW, dan mencekik Nabi disaat beliau shalat, tapi Rasulullah selalu berbuat baik dan tetap menggaulinya dengan baik, dengan hormat dan bijaksana.
Ketika Nabi Muhammad SAW ingin berangkat ke masjid, ada seorang Quraisy yang melemparkan kotoran kepada beliau, bahkan berkali-kali dan pada suatu saat orang tersebut sakit, Nabi Muhammad SAW menjenguk orang tersebut dan saat itu juga orang itu masuk Islam.
43
Artinya: “bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat
kebaikan”.(Q.S. An-Nahl:127-128).
Sifat sabar Rasulullah SAW juga dapat kita lihat dalam perjuangan beliau yang tidak pernah mengenal lelah dan putus asa, sekalipun menghadapi banyak cobaan, hambatan, gangguan, serta rintangan, yang luar biasa. Sikap kesabaranya yang luar biasa inilah sehingga Rasulullah SAW termasuk golongan Rasul Ulul Azmi (golongan rasul-rasul yang memiliki kesabaran luar biasa). (Siroj, 2009:25).
d. Pendidikan keberanian
Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:
ِدبَجَّثٌا َِِٓ ُالل ُٖبَطْػَأ بَِّث بٍََََّّٙحَر ٌخَّْ١ِظَػ ُذِئاِذَش ََ َّلََسٌاَٚ ُح َلََّصٌا ِْٗ١ٍََػ َُٗثبَصَأ ْذَلَٚ
ِشْجَّصٌاَٚ
Artinya: Dalam perang itu, beliau ditimpa kesusahan dan bahaya yang besar. Tetapi sekalipun demikian, dapat diterima dengan teguh dan kebesaran hati, apa yang diberikan Alah SWT kepadanya itu. (Djabbar, tt:18)Rasulullah SAW telah banyak mengikuti keadaan yang amat sulit dalam peperangan. Pada saat itu semua orang kuat dan para pendekar perang sering sekali meninggalkan Rasulullah SAW. Akan tetapi
44
Rasulullah SAW tetap teguh bertahan menghadapi musuh dan tidak lari serta tidak goyah dari posisinya dalam berbagai peperangan. Tiada seorangpun yang dibilang pemberani yang tidak pernah terpukul mundur dan tidak pernah melarikan diri kecuali Rasulullah SAW. (Bek, 2014:364).
Rasulullah SAW pantang mundur ataupun lari dari peperangan, pada saat perang Uhud umat Islam kalah karena tidak mengikuti peraturan Nabi Muhammad SAW, tapi Nabi Muhammad SAW tetap berperang dengan gigih dan berani penuh semangat bahkan sampai Rasulullah SAW masuk ke jurang, dan luka-luka pada badan Rasulullah SAW.
Sahabat Abdullah Ibnu Umar r.a. meceritakan, “aku belum pernah melihat seseorang yang lebih berani, lebih suka menolong, dan lebih rela dari pada Rasulullah SAW”. Sahabat Ali r.a menceritakan pula, “sesungguhnya, apabila keadaan sangat kritis dalam menghadapi suatu peperangan dan suasana peperangan sedang berkecamuk dengan hebatnya, kami berlindung di belakang Rasulullah SAW. Pada saat itu tiada seorangpun dari kaum Muslimin yang lebih dekat kepada musuh dari pada Rasulullah SAW. (Bek, 2014:364).
e. Pendidikan kepemimpinan
Di dalam kitab Khulashah Nurul Yaqin dikatakan:
ِْٗ١ٍََػ ُالل ٍََّٝص ُيُْٛسَّشٌاَضََّٙج
ٌَُُْٗٛسَس اٍَُْٛزَل َِْٓ ِيبَزِمٌِ ًٍُجَس ِف َلََا َخَث َلََث َخَرْؤُِ ٌَِٝإ ٍَََُّسَٚ
45
Artinya: Rasulullah SAW menyiapkan balatentaranya sebesar 3.000
orang ke Mu‟tah untuk memerangi golongan yang membunuh utusan
beliau, ketika dia diutus kepada Amir (gubernur Busra). (Djabbar, tt:45) Rasulullah SAW selain seorang Nabi dan Rasul, beliau juga seorang pemimpin dalam Negara Islam yang mengatur segala hal yang bersangkutan dengan kenegaraan baik dari pembangunan, ekonomi, politik dan dalam peperangan.
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka
selalu menyembah”. (Q.S. Al-Anbiya:73).
Rasulullah SAW selalu pertama kali dalam terjun di lapangan sebelum menyuruh sahabat untuk melakukannya dan Rasulullah selalu mengiringi perkataannya dengan perbuatan, sehingga para sahabat sangat terkagumkan dengan sosok seorang Rasulullah SAW.
Selain sifat-sifat di atas, disebutkan juga mengenai sifat Rasulullah SAW yang agung dan mulia dalam buku Pesona Akhlak Rasulullah SAW
karya Syaikh Abdurrahman Ya‟qub (2005) tentang beberapa gambaran akhlak mulia Rasulullah SAW sebabgai berikut:
1) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling hebat dalam berjihad di jalan Allah dan paling kuat dalam bersabar.
46
2) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling mengasihi semua makhluk.
3) Rasulullah adalah manusia yang paling murah hati dan mempunyai toleransi yang tinggi.
4) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling mulia dalam bermasarakat.
5) Rasulullah SAW adalah manusia yag paling menepati janji.
6) Rasulullah adalah manusia yang paling tawadhu‟, lapang dada, lemah lembut, ramah, penuh dengan belas kasih, dan selalu tampak riang gembira, baik kepada keluarganya maupun kepada para sahabatnya. 7) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling wara‟ sehingga beliau
mengharamkan harta baitul mal bagi diri dan keluarganya.
8) Rasulullah SAW adalah manusia yang paling pemalu, bahkan lebih pemalu daripada seorang perawan di dalam kamarnya.
9) Rasulullah SAW lebih banyak diam dan tidak bicara jika tidak ada keperluan.
10) Rasulullah SAW adalah seorang pemaaf.
11) Rasulullah SAW itu indah dan suka akan keindahan. 12)Rasulullah SAW adalah orang yang paling zuhud di dunia.
13)Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah dan dermawan. 14)Rasulullah SAW dalah manusia yang paling adil dalam perkataan,
47
15)Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling tawakal kepada Allah SWT.
16)Rasulullah SAW selamanya takut kepada Allah SWT.
17)Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling banyak bersyukur dan memuji.
18)Rasulullah SAW selalu merenungi kerajaan langit, bumi dan semua ciptaan allah SWT.
19)Al-Quran adalah penyenang mata, pengobat hati, penenang jiwa, dan penghidup semangat Rasulullah SAW.
20)Rasulullah adalah makhluk yang paling kuat berzikir dan paling banyak berdoa.
Al-Qur‟an mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan bahwa konsideran pengakuan beliau sebagai Nabi adalah keluhuran budi pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ke 3 yang antara lain menyatakan: (Shihab, 199:51).
Artinya:“dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang
agung”. ( QS. Al-Qalam:4 ).
Tidak ada jalan lain bagi kaum Muslim selain mencontoh sosok Nabi Muhammad SAW dalam mengikuti jejak langkah dan peninggalan beliau, baik dalam urusan yang kecil maupun yang besar, menjalankan ketetapan
48
hukum dan syariat, beribadah dan berpikir, berjihad dan melakukan perenungan, berpolitik dan berdakwah, serta menuntut ilmu dan mengambil hikmah. Semua jalan menuju Allah tertutup, kecuali jalan yang ditempuh Rasulullah SAW. Seandainya semua orang datang dari berbagai penjuru dan mereka minta dibukakan semua pintu serta jendela, tidak akan dibukakan kecuali pintu yang dimasuki oleh Nabi Muhammad SAW. Dan tidak akan dibentangkan kecuali jalan yang dilalui oleh beliau. (Ya‟qub, 2005:257-258).
49 BAB IV