BAB III : PENYELESAIAN GUGATAN HARTA BERSAMA PASCA
A. Deskripsi Pengadilan Agama Jakarta Selatan
1. Dasar Hukum Pembentukan Pengadilan Agama Jakarta Selatan1
Pengadilan Agama Jakarta Selatan sebagai salah satu instansi yangmelaksanakan tugasnya memiliki dasar hukum dan landasan kerja sebagai berikut:
a. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 24;Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970; Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 ;
b. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 ; c. Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 ; d. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 ; e. Peraturan/instruksi/Edaran Mahkamah Agung RI ; f. Intruksi Dirjen Bimas Islam/ Bimbingan Islam ;
g. Keputusan Menetri Agama Agama RI. Nomor 69 Tahun 1963, tentang Pembentukan Pengadilan Agama Jakarta Selatan ;
h. Peraturan-peraturan lain yang berhubungan dengan tata Kerja dan Wewenang Pengadilan Agama.
1
2. Sejarah Pembentukan Pengadilan Agama Jakarta Selatan2
Pengadilan Agama Jakarta Selatan dibentuk berdasarkan surat keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1963. Pada mulanya Pengadilan Agama di wilayah DKI Jakarta hanya terdapat tiga kantor yang dinamakan Kantor Cabang, yaitu:
a. Kantor Cabang Pengadilan Agama Jakarta Utara. b. Kantor Pengadilan Agama Jakarta Tengah.
c. Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya sebagai Induk.
d. Semua Pengadilan Agama tersebut di atas termasuk Wilayah Hukum Cabang Mahkamah Islam Tinggi Surakarta. Kemudian setelah berdirinya Cabang Mahkamah Islam Tinggi Bandung berdasarkan surat keputusan Menteri Agama Nomor 71 tahun 1976 tanggal 16 Desember 1976. Semua Pengadilan Agama di Propinsi Jawa Barat termasuk Pengadilan Agama yang berada di Daerah Ibu Kota Jakarta Raya berada dalam Wilayah Hukum Mahkamah Islam Tinggi Cabang Bandung. Dalam perkembangan selanjutnya istilah Mahkamah Islam Tinggi menjadi Pengadilan Tinggi Agama (PTA).
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 61 tahun 1985 Pengadilan Tinggi Agama Surakarta dipindah di Jakarta, akan tetapi realisasinya baru terlaksana pada tanggal 30 Oktober 1987 dan secara otomatis Wilayah Hukum Pengadilan Agama di wilayah DKI Jakarta adalah menjadi Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Agama Jakarta.
2
3. Perkembangan dari masa ke masa3
Pada tahun 1967, terbentuklah kantor Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang merupakan cabang dari Pengadilan Agama Istimewa Jakarta Raya yang berkantor di jalan Otista Raya Jakarta Timur. Terbentuknya kantor Pengadilan Agama Jakarta Selatan ini dikarenakan tuntutan masyarakat Jakarta Selatan yang wilayahnya cukup luas sehingga keadaan kantor ketika itu masih dalam keadaan darurat yaitu menempati gedung bekas kantor Kecamatan Pasar Minggu, saat ini dikenal dengan gang Pengadilan Agama Pasar Minggu Jakarta Selatan dan pimpinan kantor dipegang olehH. Polana.Penanganan kasus-kasus hanya berkisar perceraian kalaupun ada tentang warisan masuk kepada Komparisi itu pun dimulai tahun 1969 kerjasama dengan Pengadilan Negeri yang ketika itu dipimpin oleh Bapak Bismar Siregar, S.H.
Sebelum tahun 1969 pernah pula membuat fatwa waris akan tetapi hal itu ditentang oleh pihak keamanan karena bertepatan dengan bertentangan dengan kewenangannya sehingga sempat beberapa orang termasuk Pak Hasan Mughni ditahan karena Penetapan Fatwa Waris sehingga sejak itu Fatwa Waris ditambah dengan kalimat “Jika ada harta peninggalan”.
Pada tahun 1976 gedung Kantor Cabang Pengadilan Agama Jakarta Selatan pindah ke Blok D Kebayoran Baru Jakarta Selatan dengan menempati serambi Masjid Syarief Hidayatullah dan sebutan Kantor Cabang pun dihilangkan menjadi Pengadilan Agama Jakarta Selatan dan pada masa itu diangkat pula beberapa Hakim honorer yang di antaranya adalah Bapak H. Ichtijanto, S.A., S.H.
3
Pada bulan September 1979 Kantor Pengadilan Agama Jakarta Selatan pindah ke gedung baru di Jl. Ciputat Raya Pondok Pinang dengan menempati gedung baru dengan tanah yang masih menumpang pada areal tanah PGAN Pondok Pinang.
Pada tahun 1979 pada saat Pengadilan Agama Jakarta Selatan dipimpin oleh Bapak H. Alim BA diangkat pula Hakim-Hakim honorer untuk menangani perkara-perkara yang masuk, mereka diantaranya: KH. Ya’kub, KH. Muhdats Yusuf, Hamim Qarib, Rasyid Abdullah, Ali Imran, Drs.H. Noer Chazin.
Pada perkembangan selanjutnya yaitu semasa berkepimpinan Drs. H. Djabir Manshur, S.H., Kantor Pengadilan Agama Jakarta Selatan pindah ke Jalan Rambutan VII No. 48 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatandengan menempati gedung baru. Di gedung baru ini meskipun tidak memenuhi syarat untuk sebuah Kantor Pemerintah setingkat Walikota, karena gedungnya berada di tengah-tengah penduduk dan jalan masuk dengan kelas jalan III C. Namun sudah lebih baik ketimbang masih di Pondok Pinang, pembenahan–pembenahan fisik terus dilakukan terutama pada masa kepemimpinan Bapak Drs. H. Jayusman, S.H. Begitu pula pembenahan–pembenahan administrasi terutama pada masa kepemimpinan Bapak Drs. H. Ahmad Kamil, S.H. pada masa ini pula Pengadilan Agama Jakarta Selatan mulai mengenal komputer walaupun hanya sebatas pengetikan dan ini terus ditingkatkan pada masa kepemimpinan Bapak Drs. Rif’at Yusuf.
Pada masa perkembangannya selanjutnya tahun 2000 ketika kepemimpinan dijabat oleh Bapak Drs. H. Zainuddin Fajari, S.H. pembenahan-pembenahan semua bidang, baik fisik maupun non fisik diadakan sistem komputerisasi dengan online komputer, dan ini terus dibenahi sampai sekarang oleh Ketua Pengadilan Agama Bapak Drs. H. Syed Usman, S.H. Yang tujuannya adalah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan dan menciptakan peradilan yang mandiri dan berwibawa.
Perkembangannya selanjutnya tahun 2007-2008 ketika kepemimpinan dijabat oleh Bapak Drs. H. A. Choiri, S.H., M.H. pembenahan-pembenahan semua bidang, baik fisik maupun non fisik sudah terintegrasi dengan online komputer, pada periode ini juga Pengadilan Agama Jakarta Selatan berhasil pengadaan tanah untuk bangunan gedung baru seluas + 6000 m2 yang terletak di Jl. Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan.
Selanjutnya sejak tahun 2008 telah dibangun gedung baru yang sesuai dengan purwarupa Mahkamah Agung RI. Pembangunan dilaksanakan 2 tahap, tahap pertama tahun 2008 dan tahap kedua tahun 2009 pada saat itu Pengadilan Agama Jakarta Selatan diketuai oleh Bapak Drs. H. Pahlawan Harahap, S.H., M.A.
Selanjutnya pada akhir April 2010, gedung baru Pengadilan Agama Jakarta Selatan diresmikan bersama-sama dengan gedung-gedung baru lainnya di Pontianak (Kalimantan Barat) oleh Ketua Mahkamah Agung RI. Kemudian pada awal Mei 2010 diadakan tasyakuran dan sekaligus dimulainya aktifitas
perkantoran di gedung baru tersebut, pada saat itu Ketua Pengadilan Agama Jakarta Selatan dijabat olehDRS. H. Ahsin A.Hamid,S.H.
Sejak menempati gedung baru yang cukup megah dan representatif tersebut di Pengadilan Agama Jakarta Selatan dilakukan pembenahan dalam segala hal, baik dalam hal pelayanan terhadap pencari keadilan maupun dalam hal peningkatkan T.I. (Teknologi Informasi) yang sudah semakin canggih disertai dengan program-program yang menunjang pelaksanaan tugas pokok, seperti program SIADPA(Sistem Informasi Administrasi Perkara Pengadilan Agama) yang sudah berjalan dan terintegrasi dengan TV Media Center, Touch Screen (KIOS-K) serta beberapa fitur tambahan dari Situs Web http://www.pa-jakartaselatan.go.id
B. Proses Pemeriksaan Penyelesaian Harta Bersama di Pengadilan Agama Jakarta Selatan
Proses pemeriksaan penyelesaian Harta Bersama di Pengadilan Agama Jakarta Selatan sama halnya dengan proses pemeriksaan perkara perdata tertentu khususnya untuk yang beragama Islam diberbagai Pengadilan Agama di Indonesia.4
Sebelum proses pemeriksaan penyelesaian perkara harta bersama berjalan hakim memeriksa surat permohonan atau surat gugatan terlebih dahulu. Hakim memeriksa apakah isi surat permohonan atau surat gugatan itu sudah memenuhi
4
Tama, Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Wawancara Pribadi, Jakarta, 04 Oktober 2011.
beberapa hal, yaitu identitas para pihak, posita dan fundamentum petendi, petitum atau tuntutan, serta memeriksa yuridiksi relatif surat gugatan atau surat permohonan yang diajukan apakah telah sesuai dengan kekuasaan dan kewenangan Peradilan.
Apabila telah melewati tahap diatas hakim tetap berkewajiban mendamaikan kedua belah pihak walaupun perkara tersebut perihal harta bersama.Apabila terjadi kemufakatan antara keduanya maka proses pemeriksaannya dihentikan dan gugatan tersebut dicabut. Apabila hakim berhasil mendamaikan, gugatan tersebut umumnya dicabut maka dibuatlah akta perdamaian dan kedua belah pihak dihukum untuk menaati perdamaian tersebut, kekuatannya sama dengan putusan, mengikat dan dapat dieksekusi.5
Sedangkan apabila hakim tidak berhasil mendamaikan maka proses persidangan tetap berjalan yang berlanjut keperihal jawaban tergugat, replik, duplik serta pembuktian. Hakim wajib untuk memeriksa satu demi satu benda-benda yang disebutkan dalam dasar tuntutan/petitum apakah benar-benar ada hubungan hukumnya sehingga dapat dinyatakan menjadi harta bersama dan berusaha menemukan peristiwa (feitvender, fact finding), sehingga diharapkan dapat menjatuhkan putusan yang seadil-adilnya. Pemeriksaan pembuktian ini adalah berdasarkan bukti surat, bukti saksi, persangkaan, pengakuan, dan sumpah. Dalam perihal perkara harta bersama hakim juga melakukan pemeriksaan
5
Tama, Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Wawancara Pribadi, Jakarta, 04 Oktober 2011.
setempat (descente), yaitu pemeriksan mengenai perkara-perkara oleh hakim karena jabatannya yang dilakukan diluar gedung atau tempat kedudukan pengadilan agar hakim dengan melihat sendiri memperoleh gambaran atau keterangan yang memberi kepastian tentang peristiwa-peristiwa yang menjadi sengketa.6
Dalam perkara harta bersama ini, pemeriksaan setempat yang dilakukan oleh hakim ketua persidangan adalah berkenaan dengan letak gedung atau rumah serta batas-batas tanah yang dinyatakan oleh penggugat atau pemohon sebagai harta bersama dalam isi petitum. Setelah melakukan pemeriksaan setempat, hakim pun meminta keterangan ahli (expertise) /saksi ahli yang bertujuan untuk membantu hakim dalam pemeriksaan dan guna menambah pengetahuan hakim sendiri. Pada umumnya hakim menggunakan keterangan seorang ahli yang memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang sesuatu yang berkenaan dengan perkara yang sedang diperiksa. Setelah semua proses pemeriksaan pembuktian selesai, maka majelis hakim dapat mengadakan musyawarah majelis hakim untuk mengambil keputusan akhir guna menyelesaikan perkara yang diajukan.
C. Putusan Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan Tentang Harta Bersama