Peringkat 2 dengan poin 44
2.3 Tinjauan Fungsi
2.3.1 Deskripsi Penggunaan dan Kegiatan 1.Pusat Perbelanjaan
Pusat perbelanjaan memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah: Menurut De Chiara, Joseph and Callender, John Hancock (1973,577) Pusat perbelanjaan adalah sebuah kompleks yang didalamnya terdapat toko toko eceran yang disatukan dengan fasilitas- fasilitas yang direncanakan untuk memberikan kenyaman berbelanja yang maksimum dan keleluasaan maksimum bagi barang dagangan.
Menurut Beddington, Nadine (1981,1)
Pusat perbelanjaan adalah suatu kompleks perbelanjaan yang terencana dibawah suatu manajemen pusat yang menyewakan unit-unit pertokoan kepada para pedagang eceran dengan pengelolaan oleh manajemen yang bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pusat perbelanjaan.
Menurut Dewan Internasional Pusat Perbelanjaan (International Council of Shopping Center)
Pusat perbelanjaan adalah sekelompok penjual eceran dan usahawan komersil lainnya yang merencanakan, mengembangkan, mendirikan, memiliki dan mengelola sebuah properti tunggal. Pada lokasi properti ini berdiri disediakan juga tempat parkir. Tujuan dan ukuran besar dari pusat perbelanjaan ini umumnya ditentukan dari karakteristik pasar yang dilayani. Dari berbagai pengertian diatas, terdapat beberapa kata kunci terkait dengan pusat perbelanjaan, yaitu:
b. Dapat berfungsi juga sebagai tempat berkumpul dan berekreasi
a. Klasifikasi Pusat Perbelanjaan
Pusat Perbelanjaan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Berdasarkan Skala Pelayanan
Berdasarkan skala pelayanannya, pusat perbelanjaan dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
Pusat perbelanjaan lokal (neighborhood center)
Pusat perbelanjaan kelas ini mempunyai jangkauan pelayanan yang meliputi 5.000 sampai 40.000 penduduk (skala lingkungan), dengan luas bangunan berkisar antara 2.787-9.290 m2. Unit penjualan terbesar pada pusat perdagangan golongan ini adalah supermarket.
Pusat perbelanjaan distrik (community center)
Pusat perbelanjaan kelas ini mempunyai jangkauan pelayanan 40.000 sampai 150.000 penduduk (skala wilayah), dengan luas bangunan berkisar antara 9.290-27.870 m2. Unit-unit penjualannya terdiri atas junior department store, supermarket dan toko-toko.
Pusat perbelanjaan regional (main center)
Pusat perbelanjaan kelas ini mempunyai jangkauan pelayanan seluas daerah dengan 150.000 sampai 400.000 penduduk, dengan luas bangunan 27.870-92.990 m2. Pusat perbelanjaan golongan ini terdiri dari 1-4 departement store dan 50-100 toko retail, yang tersusun mengitari pedestrian, dan dikelilingi oleh daerah parkir.
Tabel 2.5 Tabel Persyaratan perencanaan menurut SNI
(Sumber: SNI 03-1733-1989)
.
2. Berdasarkan Fungsi dan Kegiatan 1. Pusat Perbelanjaan Murni
Pusat perbelanjaan yang berfungsi sebagai tempat berbelanja dan sebagai tempat pertemuan masyarakat (community center) untuk segala urusan, baik untuk bersantai, mencan hiburan. Misalnya Plaza Senayan, Blok M Plaza, Pondok Indah Mall dll.
2. Pusat Perbelanjaan Multi Fungsi
Fungsi sebagai pusat perbelanjaan di campur dengan fungsi lain yang berbeda namun saling menunjang dan meningkatkan nilai komersialnya.
3. Berdasarkan Sistem Transaksi
Berdasarkan sistem transaksinya, sebuah pusat perbelanjaan dapat dibedakan sebagai berikut :
Toko Grosir
Barang-sedangkan yang ada di toko grosir hanya contohnya.oleh karena penjualan dilakukan dalam partai besar, biasanya etalase pada pada toko grosir hanya memerlukan tempat yang relatif kecil, sedangkan bagian terbesarnya adalah gudang atau tempat penyimpan persediaan. Aktifitas lain yang juga tidak kalah penting pada toko seperti ini adalah pengepakan. Oleh karena penjualannya dilakukan dalam jumlah besar sekaligus, maka pengepakan memerlukan ruang tersendiri yang juga relatif besar, yaitu ruang dropping barang. Area ini sebaiknya berdimensi cukup besar yang memungkinkan kendaraan pengangkut barang berhenti pada proses pembongkaran atau pemuatan barang belanjaan.
Toko Eceran
Menjual barang dalam partai kecil atau per satuan barang. Toko eceran lebih banyak menarik pembeli karena tingkat variasi barangnya yang tinggi. Pada toko semacam ini, area display barang dagangan memerlukan ruang dengan dimensi yang relatif besar untuk mewadahi variasi barang dagangan yang tinggi. Sebaliknya, gudang mungkin hanya memerlukan area dengan dimensi yang lebih kecil. Area dropping barang merupakan area vital pada toko jenis ini.
4. Bedasarkan Lokasi Pasar (market),
Merupakan kelompok fasilitas perbelanjaan sederhana (los, toko, kios, dan sebagainya) yang berada disuatu area tertentu pada suatu wilayah. Fasilitas perbelanjaan ini dapat bersifat terbuka atauun berada di dalam bangunan, biasanya berada dekat kawasan pemukiman, merupakan fasilitas perbelanjaan untuk memennuhi kebutuhan (biasanya sehari-hari) masyarakat di sekitarnya.
Gambar 2.6 Pasar Sekip Ujung Gambar 2.7 Market Near Helens
(Sumber: Internet)
(Sumber: Internet) Shopping Street
Merupakan pengelompokan sarana perbelanjaan yang terdiri dari deretan toko atau kios trebuka pada suatu penggal jalan. Area perbelanjaan ini merupakan jenis pasar yang berlokasi di sepanjang tepi suatu penggal jalan. Jenis perbelanjaan semacam ini biasanya berkembang di kawasan-kawasan wisata, atau kawasan pertokoan yang menarik dkunjungi wisatawan.
Gambar 2.8 New York City dan Carnaby Street (Sumber: Internet)
Shopping Precint
Merupakan kompleks pertokoan terbuka yang menghadap pada suatu ruang terbuka yang bebas. Perbelanjaan ini biasanya tumbuh di dekat obyek atau kawasan wisata.Contohnya yaitu Nakamise-dori, Senso-ji‟s temple precint’s shopping street, Asakusa, Tokyo, Jepang.
Gambar 2.9 Nakamise-dori (Sumber: Internet)
Shopping Center
Merupakan pengelompokan fasilitas perbelanjaan (toko dan kios) yang berada di bawah satu atap. Pada shopping center, barang yang diperdagangkan didominasi oleh kebutuhan sekunder dan tersier, sedangkan pada jenis pasar, barang yang diperdagangkan terutama didominasi oleh kebutuhan primer manusia. Shopping center secara khusus mempunyai pola visual dan sirkulasi yang diperuntukkan bagi pengunjung untuk berjalan mengelilinya, bahkan tidak hanya mencakup kompleks yang berukuran besar berskala monumental, tetapi juga berskala manusia.
Gambar 2.10 Villach Atrio Shopping Center
(Sumber: Internet)
Department Store
Merupakan wadah perdagangan eceran besar dari berbagai jenis barang yang berada di bawah satu atap. Pada perbelanjaan ini transaksi masih menggunakan tenaga pelayan untuk membantu konsumen memilih dan mencari benda yang dikehendaki. Penataan
barang-barangnya memiliki tata letak khusus yang memudahan sirkulasi dan mencapai kejelasan akses. Luas lantainya berkisar antara 10.000 sampai 20.000 m2.
Supermarket
Merupakan toko yang menjual barang kebutuhan sehari-hari dengan cara pelayanan mandiri (self service). Pemilihan dan pencarian produk dilakukan secara mandiri oleh konsumen. Pelayan hanya digunakan untuk membantu proses pembayaran. Jumlah bahan makanan yang dijual pada toko jenis ini kurang dari 15% dari seluruh barang yang diperdagangkan. Luas lantainya berkisar antara 1.000 sampai dengan 2.500 m2.
Setiap supermarket mempunyai sekuen kejadian, diawali dengan masuknya konsumen sehingga proses pembelian, pembeyaran dan perginya konsumen. Sekuen kejadian ini perlu dikaji melalui sebuah program yang termasuk di dalamnya adalah perilaku pembeli dan penjual seperti disampaikan dalam Lang (1987:114). Superstore
Merupakan pusat perdagangan dengan luas area penjualan lebih dari 2.500 m2. Pada umumnya luas superstore berkisar antara 5.000 m2 sampai dengan 7.000 m2. Superstore ini menempati satu lantai bangunan dan terletak di pusat kota. Sistem pelayanan yang digunakan adalah sistem self timer. Oleh Karena system pelayanannya mandiri, perlu penataan dan pengelompokan barang yang jelas sehingga memudahkan pembeli menemukan barang yang diinginkan.
Hypermarket
Merupakan bentuk perluasan dari superstore, dengan luas lantai minimum 5.000 m2. Hypermarket merupakan simbol perdagangan disuatu kota kota karena tempat tersebut mencerminkan adanya kecendrungan penduduk yeng mengikuti tren perdagangan dengan
pun dibedakan antara pembeli eceran adan pembeli sistem grosir. Pada hypermarket yang bergabung dengan plaza atau shopping
park, kecendrungannya adalah ruangan untuk hypermarket
diletakkan di area paling belakang karena membutuhkan lahan bangunan yang paling luas sehingga tidak menutupi area retail atau
counter lain yang luasannya lebih kecil.
Shopping mall
Merupakan sebuah plaza umum, jalan-jalan umum, atau sekumpulan sistem dengan belokan-belokan dan dirancang khusus untuk pejalan kaki. Jadi mall dapat disebut sebagai jalan pada area pusat usaha yang terpisah dari lalu lintas umum, tetapi memiliki akses mudah terhadapnya, sebagai tempat berjalan-jalan, duduk-duduk, bersantai, dan dilengkapi dengan unsur-unsur dekoratif untuk melengkapi kenyamanan.
b. Karakteritik Pusat Perbelanjaan
Karakteristik pusat perbelanjaan secara umum meliputi: 1. Karakteristik kegiatan fasilitas perbelanjaan:
Adanya variasi kegiatan, dengan pola umum, convenience
shopping, comparismshopping (membandingkan harga barang
dengan pusat perbelanjaan lain sebelum membeli). Kegiatan berlangsung terus menerus, tidak menetap. Beban kegiatan relatif sama pada setiap waktu. Pelaku kegiatan : individu, small group. 2. Karakteristik Fisik Shopping Mall
Koridor : Tunggal Lebar koridor : 8-16 meter
Jumlah lantai : Maksimal 3 lantai
Parkir : Mengelilingi bangunan pusat perbelanjaan Pintu masuk : Dapat dicapai dari segala arah
Atrium : Di sepanjang koridor
Magnet : Di setiap ujung koridor (hubungan horizontal) Jarak antar magnet : 50-100 meter
3. Variasi barang yang dijual
Speciality shop : toko yang menjual barang jenis seperti sepatu, pakaian, dan sebagainya.
Variety shop : toko yang menjual bermacam-macam barang dengan skala kecil.
4. Elemen-elemen pusat perbelanjaan a. Anchor (Magnet)
Adalah transformasi dari nodes, dapat juga berfungsi sebagai landmark, perwujudannya berupa plaza dan mall.
b. Secondary Anchor
Adalah transformasi dari district, perwujudannya berupa toko-toko pengecer, retail, supermarket, superstore, bioskop, dan lain-lain.
c. Street Mall
Adalah transformasi bentuk paths, perwujudannya berupa pedestrian yang menghubungkan magnet-magnet.
d. Landscaping (Pertamanan)
Adalah transformasi bentuk edges, sebagai pembatas pusat pertokoan dengan tempat-tempat luar.
c. Ketentuan Jalur Pedestrian
Pusat perbelanjaan biasanya mempunyai pedestrian way utama yang berfungsi sebagai shopping street. Jika terdapat pusat perbelanjaan lebih dari satu, maka harus mempunyai hubungan langsung dengan bangunan pusat perbelanjaan utama dan juga berhubungan untuk pencapaian ke area parkir.
a. Semua toko secara prinsip memiliki pintu masuk dari pusat perbelanjaan utama atau dekat dengan pusat perbelanjaan. Toko-toko tersebut juga harus memiliki entrance tambahan dari parkir/jalan.
b. Jumlah lantai pada pusat perbelanjaan dapat 1 lantai, 2 lantai atau lebih. Setiap pusat perbelanjaan seharusnya menghindari daerah-daerah yang curam untuk menghindari gangguan dalam berbelanja dan sumber kecelakaan.
c. Pusat perbelanjaan dapat :
- Terbuka, dengan perlindungan terhadap musim melalui penggunaan kanopi menerus sepanjang muka toko.
- Sama sekali terlindung, tetapi berhubungan dengan udara luar. - Sama sekali tertutup, tetapi menggunakan alat pemanas untuk
daerah beriklim dingin.
d. Penempatan Magnet Anchor
Komponen utama dari pusat perbelanjaan adalah anchor, tenant yang berfungsi sebagai magnet. Penempatan komponen utama berdasarkan proses evolusi pusat perbelanjaan (Lion Edger, Shopping center, Planning
Basic Center Additional Store Mall Added Keterangan: S : Supermarket St : Store additional D:Departement Store
Gambar 2.12 Penempatan magnet pada pusat perbelanjaan ( Sumber : Lion Edger,1976)
2.Plaza
a. Pengertian Plazad
Plaza sebagai salah satu ruang buatan manusia yang dirancang dengan aturan tertentu. Dengan tujuan sebgai pusat perbelanjaan dan pusat kegiatan bagi masyarakat. Plaza ynag baik adalah plaza yang tidak terlalu besar, sehingga pengunjung merasa nyaman (Alexander, 1977).
Menurut Ching (1994), plaza adalah ruang terbuka dalam sebuah kota. Menut Lynch (1981), plaza adalah pusat kegiatan pada suatu area kota, sedangkan menurut Marcus & Francis (1998), plaza adalah suatu area perkerasan berupa ruang publik dan kendaraan tidak dapat memasukinya. Dari beberapa defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Plaza merupakan suatu ruang publik terbuka kota yang digunakan sebagai tempat untuk melakukan beberapa aktivitas.
b. Klasifikasi Plaza
1. The Street Plaza
Street plaza adalah suatu ruang publik dengan ukuran kecil dan biasanya berbatasan
dengan pedestrian yang terhubung atau dekat dengan jalan. Terkadang street plaza adalah bentuk perluasan dari jalur pedesterian atau arcade.
Gambar 2.13 Calle Florida Street Gambar 2.14 Wall Street Plaza (Sumber: Internet)
(Sumber: Internet)
2. The Corporate Foyer The Corporate Foyer adalah bagian dari komplek bangunan- bangunan
tinggi. Fungsi utamanya adalah untuk memberikan daya tarik, seperti pintu masuk degan citra elegan.
3. Urban Oasis
Urban oasis merupakan jenis plaza yang memilki citra seperti taman, dan
terpisah dari jalan. Lokasi dan racangannya diatur jauh dari kebisingan dan aktivitas kota.
Gambar 2.15 Contoh Urban Oasis ( Sumber :Internet)
4. The Transit Foyer
The Transit Foyer adalah jenis ruang plaza yang dibuat dengan akses
5. The Grand Public Space
The Grand Public Space merupakan area ruang terbuk hijau seperti plaza
pada zaman dahulu.
Gambar 2.16 Contoh The Grand Public Space ( Sumber :Internet)
6. The Street Plaza- Pedesterian transit Malls
Suatu area terbuka atau jalan yang ramai dimana banyak dilakukan banyak aktivitas seperti duduk, berjalan-jalan, makan dan lain-lain.
Dari keenam jenis plaza tersebut, plaza yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah jenis Plaza urban oasis dan corporate foyer.
c. Ciri Bangunan Pusat Pebelanjaan dengan Tipe Plaza
Bangunan pusat perbelanjaan merupakan tempat publik tertutup yang memiliki atap dan dinding, yang terdiri dari sekelompok pertokoan, dan dilengkapi dengan fasilitas kebutuhan manusia dan sarana hiburan. Untuk bangunan pusat perbelanjaan dengan tipe Plaza memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Bangunan pusat perbelanjaan memilki atrium di bagian tengah dan terletak di lantai bawah. Area ini berfungsi sebagai tempat melakukan aktivitas seperti berkumpul, berinteraksi dan sosialisas
Setiap jalur sirkulasi selalu mengarah ke bagian plaza atau sirkulasi utama pada bangunan pusat perbelanjaan dengan tipe plaza berada diarea plaza, serta psisi plaza tersebut berada pada pertemuan jalur sirkulasi horizontal dan vertikal. Untuk mencipkan sirkulasi vertikal dibutuhkan
pennjang mempunyai alasan untuk tetap bergerak ke lantai atas bangunan.
Kenyamanan terhadap luas plaza yang disesuaikan dengan kenyamana pengunjung plaza, dimana hal-hal yang diperhatikan adalah luas bangunan, luas sirkulasidan lainnya.
Di sekitar Plaza terdapat retail-retail yang dapat menarik pengunjung untuk berada di tempat tesebut.