• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Permasalahan Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Deskripsi Permasalahan Penelitian

Untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, manusia harus melakukan kerjasama, karena pada dasarnya manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Sebagian besar kebutuhan hidup manusia hanya dapat terpenuhi apabila yang bersangkutan mengadakan hubungan dengan orang lain. Hampir setiap orang tidak dapat melepaskan diri dari kebutuhan berkelompok karena keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri. Dengan masuk ke dalam suatu kelompok maka keterbatasan yang ada pada diri manusia akan dapat teratasi.

Manusia mendirikan organisasi dengan alasan organisasi dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai secara perseorangan. Organisasi dicirikan oleh perilakunya yang terarah pada tujuan. Tujuan dan sasaran organisasi dapat dicapai lebih efektif dan efisien melalui tindakan-tindakan individu dan kelompok yang diselenggarakan dengan persetujuan bersama. Organisasi juga sebagai tempat berkarya dan mengembangkan diri menjadi kebanggaan setiap individu yang pada gilirannya akan menumbuhkan citra baik organisasi.

commit to user

Jika suatu budaya organisasi terlaksana dengan baik maka akan membentuk kebudayaan yang kuat, yang akan menuntun perilaku dan memberi makna pada kegiatan organisasi. Para pekerja akan merasa puas dan memegang teguh komitmennya jika nilai-nilai mereka sesuai dengan nilai-nilai organisasi.

Bahwa selama penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka ditemukan PMI Kota Surakarta belum mempunyai budaya organisasi yang bersifat secara tertulis. Namun, PMI Kota Surakarta mempunyai nilai-nilai bersama yang kemudian menjadi budaya organisasi. Nilai-nilai bersama tersebut adalah profesional, tanggap dan dicintai masyarakat.

Berdasarkan hal diatas, maka untuk memberi gambaran yang berkaitan dengan permasalahan budaya organisasi dapat dilihat dari pelaksanaan budaya organisasi PMI Kota Surakarta, apa saja faktor penghambat dalam pelaksanaannya dan upaya-upaya apa sajakah yang dilakukan dalam mengatasi hambatan dalam pelaksanaan budaya organisasi. Mengenai gambaran data penelitian pelaksanaan budaya organisasi dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan Budaya Organisasi di PMI Kota Surakarta

Budaya organisasi merupakan sebuah sistem yang terbentuk dari nilai-nilai bersama. Nilai-nilai-nilai yang dibentuk merupakan cerminan spesifikasi dari suatu organisasi sehingga sumber daya manusia memiliki kesamaan pandangan. Dengan demikian nilai-nilai tersebut diimplementasikan dalam organisasi karena dengan budaya organisasi yang jelas setiap anggota organisasi dapat lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya, sehingga upaya untuk mewujudkan cita-cita atau tujuan perusahaan akan lebih terarah.

Nilai-nilai bersama yang kemudian menjadi budaya organisasi di PMI Kota Surakarta adalah profesional, tanggap dan dicintai masyarakat. Profesional mempunyai arti melayani masyarakat yang membutuhkan dengan penuh rasa tanggung jawab, ikhlas, tidak membeda-bedakan dan sepenuh hati. Tanggap mempunyai arti menolong dan melayani masyarakat dengan cepat dan tepat, cepat

commit to user

dalam menolong dan tepat dalam mengambil keputusan. Dicintai masyarakat mempunyai arti bahwa masyarakat sangat membutuhkan PMI dengan segala aktivitasnya sebagai mitra dalam kehidupan terutama menyangkut kehidupan manusia itu sendiri. Nilai-nilai tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :

a. Profesional

Profesional di PMI Kota Surakarta mempunyai pengertian yaitu

„bekerja 24 jam‟. Pengertian tersebut bukan dalam arti sebenarnya, tetapi

seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di PMI Kota Surakarta bekerja dengan tidak memandang waktu. Dimana seluruh SDM harus siap jika sewaktu-waktu tenaga mereka dibutuhkan baik di lapangan maupun di kantor.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Informan I pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,

“Di sini kita bekerja seperti jam kantor, ada pergantian jam juga.

Tapi meskipun ada pergantian jam kita itu seperti bekerja seharian penuh. Kenapa? Ya karena kita semua harus siap setiap waktu jika terjadi hal-hal di luar kendali kita, seperti bencana alam.”

Keprofesionalan mereka juga diuji pada waktu mereka sedang sakit. Jika sakit mereka masih ditoleransi dalam arti sakit mereka masih terbilang ringan, mereka tetap bekerja sepenuh hati. Berdasarkan hasil observasi, menunjukkan bahwa ada beberapa pegawai yang sedang tidak enak badan, tapi masih melaksanakan tugas mereka dengan baik.

Pernyataan yang hampir sama dikemukakan oleh Informan III pada wawancara tanggal 8 Mei 2012,

“Di sini itu kerjanya shift-shift-an ya mbak. Meskipun ada pergantian

jam tapi jika ada yang membutuhkan bantuan kita, kita juga harus siap. Namanya juga organisasi kemanusiaan apalagi PMI sendiri adalah bank darah. Yang mana kadang malam-malam sekalipun pihak rumah sakit membutuhkan bantuan kita jika mereka tidak ada persediaan kantong darah. Jadi ya kita benar-benar bekerja seperti 24 jam. Sedangkan kalau misal pegawai ada yang sakit terus sakitnya tidak terlalu berat, tidak mengganggu pekerjaan mereka dan mereka masih bisa bekerja ya mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka.

commit to user

Pernyataan tersebut didukung oleh Informan VI pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,

“Dari sisi pandang saya dalam bekerja PMI selalu mengutamakan

kepentingan orang lain. Karena kita harus siap dalam 24 jam, bukan berarti 24 jam kita bekerja. Tapi jika ada yang membutuhkan bantuan, semua personel harus siap. Contohnya waktu bencana alam. Tapi misal pegawai ada yang sakit, dalam arti sakit ringan, mereka tetap bekerja kok. Seperti yang saya bilang tadi, PMI mengutamakan

kepentingan orang lain.”

Seluruh SDM PMI Kota Surakarta dalam melayani masyarakat dituntut secara profesional. Karena setiap hari selama 24 jam mereka harus siap setiap saat siap menghadapi berbagai macam situasi. Keprofesionalan mereka benar-benar diuji pada waktu terjadi bencana (banjir, tanah longsor, gunung meletus), di mana mereka terjun ke daerah bencana yang dapat

dikatakan membahayakan nyawa mereka. Selain memperhatikan

keselamatan mereka sendiri, mereka juga memperhatikan keselamatan orang lain di mana orang tersebut terkena musibah bencana alam.

b. Tanggap

Tanggap di PMI Kota Surakarta mempunyai pengertian bahwa seluruh SDM yang ada di PMI Kota Surakarta harus mengerti, cepat, cekatan dan tepat dalam melayani masyarakat. Mengerti akan permasalahan yang dialami oleh masyarakat/apa yang sedang terjadi. Cepat dalam bertindak/mengambil keputusan. Dan cekatan dalam bekerja baik itu di lapangan maupun di kantor. Serta tepat dalam cara menangani.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Informan II pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,

“Sudah jelas ya mbak, bahwa kita di PMI ini selain profesional juga

harus tanggap dan dicintai masyarakat. Profesional sendiri kita harus siap setiap saat. Tanggap berarti kita harus benar-benar mengerti akan permasalahan yang sedang dihadapi. Tidak hanya mengerti tapi juga cepat dan tepat dalam penanganan. Dicintai masyarakat sendiri mempunyai arti meski kita sibuk tapi setidaknya kita meluangkan waktu untuk lebih mendekatkan dengan masyarakat yaitu dengan

commit to user

Selain profesional, tanggap juga menjadi bagian yang sangat penting dalam pekerjan di PMI Kota Surakarta. Contohnya waktu bencana alam terjadi. Mereka harus cepat mempersiapkan segala sesuatu yang akan menjadi keperluan dalam menolong masyarakat di tempat bencana alam. Cekatan dalam menangani korban juga penting untuk diperhatikan. Terlebih lagi jumlah korban yang dapat dikatakan tidak sedikit. Tepat dalam penanganan juga diperhatikan oleh seluruh pegawai PMI. Apalagi mereka sudah mendapat pelatihan cara-cara menangani korban sakit.

Pernyataan yang senada juga diungkapkan oleh Informan IV pada wawancara tanggal 17 Mei 2012,

“Nah, untuk tanggap sendiri berarti kita harus tahu permasalahan

yang dihadapi. Setelah itu kita harus bertindak gimana, kita harus tahu dan kita harus cepat dan tepat. Selain itu kita juga berkoordinasi dengan bagian lain. Tidak bisa bertindak sendiri. Pelatihan yang kita dapatkan selama bekerja juga sangat berguna di tempat terjadinya bencana alam. Jadi penanganan terhadap korban bencana alam tersebut dapat ditangani dengan tepat.”

Pernyataan tersebut juga didukung oleh Informan V pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,

“Di sini itu kita tidak hanya ikhlas, mampu dan mau tapi kita juga harus tanggap terhadap permasalahan atau peristiwa yang sedang terjadi. Tanggap tidak hanya cepat saja tapi juga tepat cara menanganinya. Dan kita juga harus berkoordinasi dengan bidang lain. Karena kan ada keterkaitan juga bidang satu dengan yang lain.

Contohnya waktu bencana alam.”

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, seluruh pegawai PMI Kota Surakarta memang sangat tanggap dalam menangani masyarakat. Baik itu di poliklinik maupun bagian donor darah. Jika ada pegawai yang keluar dari ruangan, baik itu untuk istirahat atau untuk urusan yang lain masih ada pegawai lain yang siap di ruangan tersebut. Ikhlas, mampu, mau dan tanggung jawab menjadi bagian penting dalam diri seluruh pegawai PMI Kota Surakarta. Selain tuntutan pekerjaan, mereka juga sadar akan hal tersebut sewaktu menjadi bagian dari PMI Kota Surakarta.

commit to user

c. Dicintai masyarakat

Dicintai masyarakat mempunyai pengertian bahwa PMI Kota Surakarta yang merupakan organisasi kemanusiaan juga menjalin hubungan dengan masyarakat Kota Surakarta. Yaitu dengan mempunyai poliklinik dan pelayanan ambulans gratis serta mengadakan donor darah di sekolah, universitas, instansi pemerintah dan instansi swasta. Selain itu juga mengadakan jalan sehat yang diikuti oleh masyarakat Kota Surakarta.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Informan II pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,

“Ya. PMI sering mengadakan donor darah di sekolah, kampus,

instansi pemerintah maupun swasta. Tetapi itu permintaan dari pihak yang terkait. Kita diundang dan tinggal datang saja. Selain itu jika mereka rutin donor darah mereka akan mendapatkan kartu yang

berisi catatan kapan mereka donor darah.”

Selain donor darah, PMI Kota Surakarta juga mengadakan jalan sehat untuk masyarakat umum. Hal tersebut menjadi program kerja PMI Kota Surakarta setiap 6 bulan sekali. Program kerja tersebut berganti terus. Jika jalan sehat sudah pernah diadakan maka akan berganti fun bike dan senam massal. Dalam setiap acara tersebut, PMI juga memasukkan donor darah sebagai bagian dari acara.

Pernyataan yang sama juga dikemukakan oleh Informan III pada wawancara tanggal 8 Mei 2012,

“Ya memang kita sering keliling untuk mengadakan donor darah.

Selain itu juga jalan sehat yang kita adakan antara 3-6 bulan sekali, seperti contohnya yang baru-baru ini diadakan di Lapangan Kota Barat. Masyarakat tinggal mendaftar dan membayar sekitar Rp 25.000 - Rp 40.000 dan itu sudah mendapatkan baju, snack dan

doorprize. Dan kita juga menyiapkan area untuk donor darah jadi

apabila mereka berminat untuk donor darah mereka bisa donor darah

di situ.”

Dalam kegiatan yang dilakukan di masyarakat, PMI Kota Surakarta tidak lupa untuk memasukkan donor darah ke dalam kegiatan tersebut. Tetapi untuk musibah bencana alam, PMI tidak mungkin melakukan donor darah. yang ada hanyalah cek kesehatan seperti memberikan pertolongan

commit to user

bagi masyarakat yang terluka, mengecek tekanan darah dan mengecek kesehatan serta memberikan obat yang sesuai dengan sakit yang sedang diderita.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Informan IV pada wawancara tanggal 17 Mei 2012,

“Dalam program kerja kita, PMI tidak lupa untuk memasukkan unsur

donor darah. Karena kita kan sebagai pusatnya ya mbak. Siapapun kalau butuh darah pasti datang ke sini, apalagi kalau rumah sakit kehabisan persediaan kantong darah golongan darah tertentu. Jadi ya kita di PMI harus stock banyak. Untuk memenuhi permintaan di

masyarakat maupun rumah sakit.”

Masyarakat pun juga sangat terbantu dengan adanya poliklinik dan ambulans gratis. Karena mereka tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit hanya untuk berobat dalam arti di sini adalah berobat untuk penyakit yang tidak terlalu berat. Terutama bagi masyarakat yang tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari PMI Kota Surakarta.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Informan IX pada wawancara tanggal 28 Agustus 2012,

“Iya mbak. Kebetulan rumah saya belakang PMI jadi sangat terbantu

dengan adanya poliklinik ini. Selain petugas dan dokter yang ramah, obat yang diberikan pun sangat manjur mbak. Dan kita tinggal membayar resep obatnya saja. Jadi cukup terjangkau untuk

masyarakat seperti saya ini.”

Poliklinik di PMI Kota Surakarta berusaha memberikan layanan yang baik kepada masyarakat. Yang mempunyai fasilitas lumayan lengkap seperti tempat tidur pasien, lemari obat dan ruang konsultasi dokter. Biaya yang terjangkau juga menjadi salah satu keuntungan masyarakat di poliklinik PMI Kota Surakarta.

Pernyataan serupa diungkapkan oleh Informan X pada wawancara tanggal 28 Agustus 2012,

“Saya sering periksa di sini mbak. Memeriksakan anak saya.

Kebetulan rumah saya juga di belakang sini jadi dekat kalau mau periksa. Pelayanannya baik mbak, petugasnya juga ramah, dokternya juga. Fasilitasnya juga lumayan komplit kalau menurut saya mbak. Kadang saya sering konsultasi sama dokternya juga kalau ada hal-hal

commit to user

yang belum saya tahu. Untuk biaya sendiri sangat terjangkau. Jadi

poliklinik PMI ini sangat membantu masyarakat di sekitar sini.”

Selain poliklinik, PMI Kota Surakarta juga mempunyai ambulans gratis yang dapat digunakan masyarakat. Masyarakat tinggal datang atau menghubungi melalui telepon. Dan masyarakat sangat antusias dengan pelayanan ambulans gratis tersebut.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Informan XI pada wawancara tanggal 29 Agustus 2012,

“Kan selain poliklinik, di sini ada ambulans gratis yang disediakan

oleh PMI. Jadi masyarakat sangat terbantu dengan adanya pelayanan ambulan gratis ini. Dulu saya pernah membantu teman saya yang sedang kebingungan mencari transport ke rumah sakit untuk membawa salah satu keluarganya yang sedang sakit. Lantas saya menghubungi ambulans gratis ini. Tinggal kasih alamat lengkap dan nomor yang dapat dihubungi. Ya sudah ambulans tersebut yang mengantarkan sampai ke rumah sakit. Meskipun namanya pelayanan gratis, tapi kita sebagai manusia kan juga punya rasa ewuh perkewuh terhadap orang lain ya mbak. Jadi setelah bantuan ambulans tersebut datang dan mengantar sampai rumah sakit. Keluarga teman saya memberikan sejumlah uang untuk pelayanan ambulans itu, istilahnya membayar dengan sukarela sebagai ucapan terima kasih karena telah

membantu mengantarkan keluarganya.”

PMI Kota Surakarta benar-benar sangat mementingkan hal-hal yang bersifat sosial seperti menolong masyarakat tanpa memandang siapa mereka. Dengan adanya poliklinik dan pelayanan ambulans gratis juga sangat membantu masyarakat dalam periksa kesehatan. Poliklinik yang mempunyai fasilitas yang lumayan lengkap dan biaya yang terjangkau dapat membantu masyarakat dalam memeriksakan kesehatan mereka. Pelayanan ambulans gratis juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan transport ke rumah sakit. PMI Kota Surakarta juga sangat bekerja keras untuk mendapatkan persediaan kantong darah guna memenuhi permintaan yang dapat dikatakan sangat tinggi. PMI Kota Surakarta juga mendorong masyarakat agar lebih sadar untuk mendonorkan darah mereka bagi orang lain yang membutuhkan. Selain untuk kepentingan orang banyak, donor

commit to user

darah juga sangat berguna bagi diri sendiri karena jika rutin untuk donor darah maka di tubuh akan terasa segar.

Peneliti memperoleh 3 (tiga) nilai diatas menjadi budaya organisasi di PMI Kota Surakarta yaitu profesional, tanggap dan dicintai masyarakat. Meskipun budaya organisasi di PMI Kota Surakarta belum dinyatakan secara tertulis tetapi 3 (tiga) nilai tersebut sangat melekat dalam pelaksanaan pekerjaan mereka dan pegawai sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut.

Dalam pelaksanaannya, PMI Kota Surakarta menanamkan nilai-nilai yang ditentukan dalam budaya organisasi melalui 3 (tiga) hal, yaitu melalui perilaku tokoh panutan, pendidikan dan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) dan rapat rutin yang diadakan setiap 2 minggu sekali. Pelaksanaan budaya organisasi tersebut dibahas sebagai berikut :

a. Tokoh panutan

Dimana tokoh panutan tersebut dalam tugasnya di PMI Kota Surakarta juga sangat baik. Yang mana tokoh tersebut tidak segan-segan turun langsung dalam melayani masyarakat. Para pengurus inilah yang dilihat sebagai tokoh panutan oleh bawahannya baik dalam kinerjanya maupun perilakunya. Dan jiwa sosial yang pengurus miliki dijadikan teladan oleh seluruh pegawai PMI Kota Surakarta. Dengan demikian budaya organisasi tersebut diperkenalkan kepada para kepala bagian.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Informan I, pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,

“Ya awalnya itu tadi, pimpinan (pengurus) dijadikan teladan dalam

kita bekerja. Pimpinan (pengurus) meskipun beliau-beliau semua sibuk tapi mereka tetap meluangkan waktu yang ada buat PMI. Beliau-beliau tetap memperhatikan PMI dan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Kadang beliau-beliau (pengurus) pula yang menyerahkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Pegawai-pegawai di sini itu sampai menyebut beliau-beliau itu dengan istilah tidak jaim (jaga image) dan jiwa sosial beliau-beliau tersebut pantas untuk dijadikan teladan.”

commit to user

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Informan III pada wawancara tanggal 8 Mei 2012,

“...Selain itu juga mengacu pada pimpinan kami. Kami menjadikan pimpinan kami sebagai panutan. Dalam artian menjadi contoh untuk para karyawan yang lain. Seperti misalnya pimpinan kami juga ikut

ambil bagian menangani masalah bencana yang terjadi.”

Sebagai pengurus PMI Kota Surakarta bukanlah pekerjaan yang mudah. Mereka (pengurus) memperhatikan diri sendiri terlebih dahulu sebelum mereka menjadi teladan bagi bawahannya. Istilahnya siap atau tidak untuk menjadi pengurus organisasi sosial. Karena PMI Kota Surakarta bergerak di bidang sosial yang mengutamakan kepentingan masyarakat. Jadi, orang-orang yang benar-benar mempunyai jiwa sosial, keikhlasan dan tanggung jawab yang bisa memimpin sebuah organisasi sosial. Tidak ada artinya kalau orang yang memimpin itu tidak mempunyai kesadaran lebih dalam bermasyarakat dan tidak bertanggungjawab.

Pernyataan yang sama juga diungkapkan oleh Informan VI pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,

“Otomatis kepala markas dan kepala UDD kita. Tanpa beliau kita

tidak tahu mau ke mana. Para bawahan mengacu pada atasan. Meskipun mereka beruang tapi kepada yang membutuhkan bantuan, mereka tidak memandang sebelah mata. Mereka juga peduli dengan

orang lain.”

Meskipun peneliti baru bertemu sekali dengan pengurus PMI Kota Surakarta, tetapi peneliti dapat menilai beliau-beliau dari cara mereka (pengurus) melihat dan menerima orang lain. Cara mereka (pengurus) menerima orang lain sangat ramah. Mereka (pengurus) tidak memandang sebelah mata orang lain meski dapat dikatakan kehidupan mereka (pengurus) menengah ke atas tapi ternyata jiwa sosial mereka (pengurus) sangat tinggi.

b. Pendidikan dan pelatihan SDM

Untuk pendidikan dan pelatihan Sumber Daya Manusia di PMI Kota Surakarta dibawahi Bidang PPSDM (Pendidikan dan Pengembangan

commit to user

Sumber Daya Manusia). Dalam hal ini bukan hanya pegawai baru saja yang menerima pendidikan dan pelatihan tapi juga pegawai yang sudah lebih dulu masuk di PMI Kota Surakarta. Berlaku untuk seluruh pegawai PMI Kota Surakarta.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Informan II pada wawancara tanggal 3 Mei 2012,

“Di sini pendidikan dan pelatihan SDM tidak hanya untuk pegawai

baru tapi juga pegawai lama. Dimana pendidikan difokuskan pada siswa yang belajar di LPK PMI selama 1 tahun, pelatihan juga diberikan di sela-sela masa pendidikan. Sedangkan pelatihan diberikan pada saat dibutuhkan terutama jika ada alat-alat baru yang datang dan penanganan bencana alam. Untuk pegawai lama sendiri banyak juga yang melanjutkan pendidikan.”

Bidang PPSDM (Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) mempunyai peran yang sangat besar dalam hal ini. Karena berkaitan langsung dengan SDM di PMI Kota Surakarta.

Pernyataan tersebut juga didukung oleh Informan VII pada wawancara tanggal 15 Mei 2012,

“Ya mbak, di sini kita sebagai bidang PPSDM memberikan

pendidikan dan pelatihan kepada seluruh pegawai baik yang baru maupun yang lama. Untuk pendidikan sendiri kita fokuskan pada siswa yang mendaftar di LPK PMI. Mereka belajar selama 1 tahun. Sedangkan untuk pelatihan kalau ada alat baru dan penanganan bencana alam atau pada saat dibutuhkan”

Pendidikan di PMI Kota Surakarta difokuskan pada siswa yang belajar di LPK PMI Kota Surakarta. Tidak lupa pula pelatihan juga diberikan pada saat pendidikan tersebut. Untuk pegawai lama diberikan pelatihan pada saat dibutuhkan terutama waktu alat-alat baru yang datang dan penanganan bencana alam. Banyak pula pegawai yang juga melanjutkan pendidikan untuk karir mereka. Hal tersebut dapat dilihat oleh peneliti, seluruh pegawai bisa bekerja dengan baik dan memberikan pelayanan yang baik. Dan pegawai dapat menggantikan pegawai yang lain jika ada pegawai yang sedang sibuk atau ada urusan di lapangan.

commit to user

c. Rapat rutin 2 minggu sekali

Rapat rutin yang diadakan 2 minggu sekali di mana rapat tersebut tidak hanya membahas evaluasi kerja dan program kerja tetapi juga lebih diingatkan lagi tentang budaya organisasi di PMI Kota Surakarta.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Informan III pada wawancara tanggal 8 Mei 2012,

“Ada rapat koordinasi yaitu setiap 2 minggu sekali. Entah itu rapat

antar bagian atau per bagian. Dari rapat itu kita mengingatkan lagi visi, misi, tujuan dan budaya organisasi yang kita miliki. Agar bisa memacu kerja mereka supaya lebih giat lagi dan bisa mencapai

Dokumen terkait