• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATISTIK NILAI STATISTIK Subjek

2. Deskripsi siklus II

Tindakan siklus II sama seperti tindakan pada siklus I yaitu dilaksanakan tiga kali pertemuan pada tanggal 01, 06, dan 08 Februari 2012. Masing-masing pertemuan adalah 3 x 35 menit. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan

Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi diri pada tindakan siklus I, maka peneliti bersama dengan guru merencanakan tindakan siklus II agar kekurangan-kekurangan pada tindakan siklus I dapat diperbaiki.

Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki tindakan siklus II adalah:

1) Guru harus lebih mengoptimalkan pemberian motivasi kepada siswa untuk meningkatkan kerjasama antar kelompok.

2) Guru harus lebih tegas menegur atau memberi sangsi kepada murid yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan tidak mau bekerja sama dengan kelompoknya.

3) Guru harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana.

Selain hal-hal yang merupakan rencana perbaikan tindakan siklus I, peneliti harus mempersiapkan juga skenario pembelajaran seperti menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), mempersiapkan buku dan media yang akan digunakan dalam pembelajaran, membuat lembar observasi, dan menyiapkan soal test setelah dilaksanakan pembelajaran.

b. Tahap Pelaksanaan

Dalam tahapan ini guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.

Pada dasarnya tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I sama saja dengan tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I. Aspek yang membedakan kegiatan pembelajaran antara siklus I dan siklus II hanya pada aspek teknis yaitu dengan lebih mendorong siswa untuk lebih terlibat aktif menyelesaikan permasalahan yang diajukan kepadanya melalui kegiatan diskusi dalam kelompoknya. Guru juga melakukan tindakan perbaikan sebagaimana yang telah direncanakan pada tahap perencanaan. Materi yang diajarkan masih dalam pokok bahasan pecahan dengan sub pokok bahasan mengalikan dan membagikan pecahan. Pertemuan I pada tanggal 29 Januari 2014 yaitu perkalian pecahan, pertemuan II pada tanggal 30 Januari 2014 yaitu perkalian pecahan dengan bilangan asli, pertemuan III pada tanggal 04 Februari yaitu materi perkalian pecahan desimal.

c. Tahap Observasi dan Evaluasi 1) Hasil observasi

Data tentang sikap murid selama mengikuti pelajaran matematika pada siklus II ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 4.5. Hasil observasi sikap murid selama mengikuti pembelajaran siklus II.

No. Komponen yang diamati

Pertemuan

ke-(%)

I II III

1. Jumlah murid yang hadir pada saat

kegiatan pembelajaran 17 19 19 T

E 2. Murid yang memperhatikan pada saat

proses pembelajaran 16 16 18 87,73

3. Murid yang melakukan aktifitas negatif selama proses pembelajaran

(main-main, ribut, dll). 4 4 3 19,32

4. Murid yang bertanya tentang materi

pelajaran yang belum dimengerti. 6 4 4 24,58

5. Murid yang mengerjakan soal dengan

benar di papan tulis. 12 13 12 64,89

6. Murid yang masih perlu bimbingan

dalam mengerjakan soal. 7 7 6 35,11

7 Murid yang memperhatikan penjelasan guru dan mencatat pada saat pembelajaran.

13 15 14 73,68

8. Murid yang mengerjakan pekerjaan

rumah. - 14 17 81,57

Sumber: data diambil dari hasil observasi murid

Pada Tabel 4.5. diperoleh bahwa pada siklus II dari 19 murid, murid yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran sebanyak 96,47%; Murid yang memperhatikan pada saat proses pembelajaran sebanyak 87,3%; Murid yang melakukan aktifitas negatif selama proses pembelajaran (main-main, ribut, dll) sebanyak 19,32%; Murid yang bertanya tentang materi pelajaran yang belum dimengerti adalah 24,58%; Murid yang mengerjakan soal dengan benar di papan tulis pada saat pembahasan mencapai 64,89%; Murid yang masih perlu bimbingan dalam mengerjakan soal sebanyak 35,11%; Murid yang memperhatikan

penjelasan guru dan mencatat pada saat pembelajaran 73,68%; dan murid yang mengerjakan pekerjaan rumah sebanyak 81,75%.

2) Hasil Evaluasi

Data hasil belajar matematika siswa pada akhir siklus II diperoleh melalui pemberian tes, pada akhir siklus II. Adapun deskripsi secara kuantitatif skor hasil belajar matematika siswa pada akhir siklus II dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.6. Statistik Skor Hasil Belajar Murid pada Tes Akhir Siklus II

STATISTIK NILAI STATISTIK

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar matematika murid pada siklus II adalah 80 dari skor ideal 100. Skor tertinggi 100 dan skor terendah adalah 60 dengan standar deviasi 13,33 dan dengan rentang skor40yang berarti hasil belajar matematika yang dicapai murid kelas V SD Negeri 4 Maroangin tersebar dari skor terendah 60 sampai 100.

Apabila skor kemampuan murid dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi skor yang ditunjukkan pada tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Murid siklus II Kelas V SD Negeri 4 Maroangin.

No Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 1. Kelas V SD Negeri 4 Maroangin terdapat 4 murid atau sekitar 21,05% murid yang tingkat hasil belajar matematikanya pada kategori tinggi, dan pada kategori sangat tinggi ada 6 murid atau sekitar 31,58%.

Apabila hasil tes akhir murid pada siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar murid tes akhir siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel. 4. 8 Deskripsi Ketuntasan Belajar Matematika Siklus II Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 0 – 64

Pada awal pertemuan siklus II, perhatian, keaktifan dan motivasi murid semakin meningkat lagi dibandingkan dengan pada akhir siklus I karena pada siklus II ini hampir semua murid dapat melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan model pengajaran yang diterapkan, murid sudah mampu

mempersentasekan hasil kerja kelompoknya, murid sudah mampu mengemukakan pendapat, bahkan cara menyelesaikan tugasnya sudah cukup bagus dibandingkan dengan sebelumnya karena sudah banyak murid yang mampu mengerjakan soal dengan benar di papan tulis sehingga murid-murid lain yang belum mampu menyelesaikan tugasnya dapat termotivasi untuk mengerjakannya. Partisipasi dan keaktifan murid meningkat terjadi karena dalam kelompok sebagian besar sudah mampu berinteraksi dengan teman kelompoknya.

Secara umum pelaksanaan tindakan berjalan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran telah dilaksanakan dengan sempurna oleh guru. Hanya masih ada sedikit kelemahan pada pihak murid yaitu ada beberapa murid yang belum mampu mengemukakan pendapat. Ketuntasan siswa telah mencapai sekitar 89,47 jadi tidak dilanjutkan kesiklus berikutnya.

B. Pembahasan

Dari hasil analisis kualitatif dan kuantatif terlihat bahwa pada dasarnya pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) memberikan perubahan kepada murid.

Pada siklus I selama kegiatan pembelajaran berlangsung, terlihat bahwa murid sedikit lebih termotivasi untuk mengikuti pelajaran karena model pembelajaran yang diberikan sesuai dengan kondisi murid dikelas meski murid merasa canggung dengan model pembelajaran yang diberikan.

Setelah diadakan refleksi pada siklus I, maka dilakukan perbaikan kegiatan yang dianggap perlu demi peningkatan hasil belajar murid pada siklus II, terlihat bahwa motivasi murid sudah meningkat. Yang semula murid kurang aktif dalam kelompoknya atau pada saat murid mengalami kesulitan dalam menyampaikan pendapatnya pada saat mempersentasikan hasil kerja kelompoknya, setelah masuk siklus II, sebagian besar murid sudah mampu mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Setelah diberikan tes akhir siklus II, skor rata-rata yang dicapai akhir siklus pada siklus II sebesar 89,97 berada pada kategori tinggi bila dibandingkan dengan tes akhir pada siklus I. Jadi, tidak dilanjutkan lagi pada tes berikutnya.

Hal ini juga sempat diamati oleh peneliti pada siklus II ini adalah tingkat kemandirian murid dalam belajar cukup baik, dimana pada semula masih banyak murid yang bersandar pada teman-temannya yang lain yang menyebabkan mereka tidak percaya kepada diri sendiri dan kurang semangat sehingga murid banyak menganggap pelajaran matematika susah. Jadi, data ini memperkuat data sebelumnya, yakni terjadinya peningkatan jumlah murid yang mampu mengerjakan soal-soal yang diberikan.

Peningkatan baik keaktifan, kehadiran maupun hasil belajar murid pada siklus II, terjadi setelah diadakan perbaikan-perbaikan yang dianggap tidak terlaksana secara maksimal pada siklus sebelumnya yang diperoleh pada hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Adapun perbaikan yang sempat terlaksana adalah jika pada siklus I hanya murid tingkat kecerdasan diatas rata-rata yang aktif dalam proses pembelajaran maka pada siklus II dilakukan

pendekatan-pendekatan kepada muridmurid yang tingkat kecerdasan di bawah rata-rata untuk mendapatkan bimbingan secara langsung agar mereka lebih aktif dan dapat melibatkan diri dalam proses pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan. Menurut Arends (Gerson, 2004: 132) bahwa model pembelajaran Kooperatif yang dikembangkan mencakup tujuan belajar sangat menguntungkan baik bagi murid yang memiliki kemampuan tinggi maupun kemampuan rendah. Murid berkemampuan lebih tinggi dapat menjadi tutor bagi murid yang berkemampuan lebih tinggi secara akademis mendapat keuntungan, karena pengetahuannya dapat lebih mendalam.

Sudah banyak penelitian yang membahas tentang model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Togethet (NHT) diantaranya penelitian yang dilaksanakan oleh Irmayanti dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Pada Murid Kelas V SD Negeri 45 Pappaka Kabupaten Maros”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) prestasi belajar matematika murid dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil siklus I adalah 69,47 meningkat menjadi 80 pada siklus II.

Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Mantasia dengan judul

“Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Murid Kelas IV SD Inpres Balang Boddong I Kota Makassar”. Berdasarkan hasil penelitiannya terbukti bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe nht dapat

meningkatkan hasil belajar matematika murid. Hal ini dapat dilihat dari ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 58,62% meningkat menjadi 89,29 % pada siklus II.

Penelitian yang juga dilaksanakan oleh Nadia Sahara dengan judul

“Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Murid Kelas VIII SMP Negeri 1 Batuatas pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Peubah Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Togother (NHT).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) prestasi belajar matematika murid dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes awal, murid yang memperoleh nilai minimal 6,0 sebanyak 25,71 % meningkat pada siklus I menjadi 42,86%, murid yang memperoleh nilai minimal 6,0 pada siklus II meningkat pula menjadi 65,71%.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan pada siklus II pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT berjalan lebih baik lagi dibandingkan dengan siklus sebelumnya, ini menunjukkan bahwa perubahan sikap murid dari siklus I ke siklus II selalu mengarah pada hal–

hal yang telah direncanakan sesuai dengan langkah–langkah yang telah disiapkan pada prosedur penelitian.

BAB V

Dokumen terkait