• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Wawancara

Pada kegiatan wawancara ini, peneliti melakukan wawancara memilih empat siswa secara acak yang mewakili setiap jenis kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal tes tertulis pada materi bilangan. Wawancara ini untuk mengetahui penyebab kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal tes tertulis pada materi bilangan. Kesalahan yang dilakukan oleh siswa dikelompokkan berdasarkan jenis kesalahan yang peneliti ambil dari beberapa ahli antara lain:

1. Kesalahan Konsep (A1)

Kesalahan konsep merupakan kesalahan yang berkaitan dengan pemahaman konsep yang digunakan dalam materi tersebut. Pada gambar berikut ditunjukkan bentuk kesalahan konsep yang dilakukan oleh S16 pada soal nomor satu.

Gambar 4.1 Kesalahan konsep pada siswa S16 soal nomor satu Kesalahan konsep yang ditunjukkan gambar 4.1, yaitu S16 tidak bisa mengurutkan dari bilangan terkecil ke bilangan terbesar. Berikut merupakan transkrip wawancara.

P : ehmmm, kakak mau tanya. Dari yang nomor satu ya, ini menurutmu benar apa tidak?

S16 : ehmmmmm, benar P : benar, oke

P : Coba kamu buat garis bilangan, (batuk) disini S16 : (Menggambar garis bilangan)

S16 : (Mengingat menggambar garis bilangan) P : Masih inget enggak garis bilangan?

S16 : enggak

P : nah kan, disuruh untuk mengurutkan dari yang terkecil sampai ke terbesar, nah dari bilangan ini yang paling terkecil yang mana, coba kamu sambil amati menggunakan garis bilangan tadi?

S16 : negatif sembilan

P : negatif sembilan, terus S16 : negatif tiga

P : terus S16 : negatif satu

P : terus, kalau satu sama nol yang paling kecil yang mana?

S16 : satu sama nol, nol

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S16 adalah S16 bingung dalam mengurutkan bilangan dari yang terkecil hingga ke terbesar, sehingga untuk mengurutkan bilangan terkecil hingga terbesar mengalami kesalahan.

Peneliti juga mewawancarai S16 pada soal nomor dua karena dari soal nomor satu dan dua konsepnya mengurutkan bilangan dari bilangan terkecil hingga bilangan terbesar namun soal nomor satu pada bilangan bulat dan soal nomor dua pada bilangan rasional. Pada gambar berikut ditunjukkan bentuk kesalahan konsep yang dilakukan oleh S16 pada soal nomor dua.

Gambar 4.2 Kesalahan konsep pada siswa S16 soal nomor dua Kesalahan konsep yang ditunjukkan pada gambar 4.2, yaitu S16 tidak bisa mengurutkan dari bilangan terkecil ke bilangan terbesar.

Berikut merupakan transkrip wawancara dengan S16.

P : kakak mau tanya yang nomor dua, nah soal yang inikan disuruh mengurutkan dari bilangan terkecil ke terbesar, nah dari bilangan bilangan pecahan, bilangan desimal, bentuk persen. Nah itu kan, adek kan mengubah dari bilangan pecahan dulu baru dibagi, pembilang dibagi penyebut. Tadi ketemunyakan bilangan desimal, nah menurutmu ada yang salah enggak?

S16 : ada

P : yang mana?

S16 : (mencari dan menunjukkan yang salah) S16 : gak jadi deh

P : gak ada?

S16 : iya

P : nah kakak mau tanya, kalau nol koma delapan sama nol koma dua tujuh lebih kecil yang mana?

S16 : lebih kecil nol koma dua tujuh

P : nol koma dua tujuh, kenapa ini (0,8) diurutan kedua?

P : kenapa?

S16 : (sambil tersenyum) P : salah lihat

S16 : nah disini kan, nol koma delapan P : ow ya, oke oke

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S16 adalah S16 kurang teliti dalam mengurutkan bilangan desimal dari bilangan terkecil hingga bilangan terbesar.

Peneliti juga mewawancarai S16 pada soal nomor 10, S16 melakukan kesalahan konsep dalam mencari faktor dari ketiga bilangan tersebut. S16 mencari faktor dari ketiga bilangan tersebut dengan metode pohon faktor, pada gambar berikut ditunjukkan kesalahan konsep S16 pada soal nomor 10.

Gambar 4.3 Kesalahan konsep pada siswa S16 soal nomor 10

P : lalu yang nomor sepuluh, ini kan mencari FPB dari ketiga bilangan yaitu 29, 37, 51. Untuk mencari FPB dari ketiga bilangan itu kamu tau enggak? Gimana?

S16 : dibagi P : dibagi?

S16 : dibagi bilangan prima

P : kalau dua puluh sembilan ini bisa dibagi enggak?

S16 : enggak

S16 : kan hasilnya tetap dua puluh sembilan P : itu kan tetap bisa dibagi

S16 : iya (sambil tersenyum)

P : kalau dua puluh sembilan dibagi dengan satu berapa?

S16 : dua puluh sembilan

P : kalau tiga puluh tujuh, bisa dibagi?

S16 : tiga puluh tujuh tidak bisa dibagi, bisanya dibagi satu P : berarti bisakan?

S16 : bisa

P : kalau lima puluh satu?

S16 : kalau lima puluh satu kan bisa dibagi dengan tiga hasilnya tujuh belas

S16 : kan nggak bisa dibagi mas, setau sayakan gak bisa dibagi to, lalu satu kan enggak kepake to, soalnya bukan bilangan prima

P : ooo, taunya harus bilangan prima ya S16 : iya

P : oke, terima kasih ya S16 : iyaa

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S16 karena S16 kurang memahami memfaktorkan suatu bilangan. S16 memahami untuk

mencari faktor dari suatu bilangan hanya dapat dibagi dengan bilangan prima jika selain bilangan prima tidak dapat membagi bilangan tersebut.

2. Wawancara dengan S2

Kesalahan teknis merupakan kesalahan yang berkaitan dengan melakukan perhitungan. Pada gambar berikut ditunjukkan bentuk kesalahan teknis yang dilakukan oleh S24 pada soal nomor dua.

Gambar 4.4 Kesalahan teknis pada siswa S24 soal nomor dua Kesalahan teknis yang ditunjukkan pada gambar 4.24, yaitu S24 salah menghitung 5 dibagi dengan 4. S24 menuliskan hasil dari 5 dibagi dengan 4 yaitu 1,22. Seharusnya 5 dibagi dengan 4 hasilnya adalah 1,25.Berikut merupakan transkrip wawancara dengan S24.

P : ehmm dari soal nomor dua ini, coba kamu cek S24 : (mengangguk)

P : sudah?

S24 : iya

P : nah dari nomor dua ini apakah ada yang salah enggak?

S24 : enggak P : tidak?

S24 : iya

P : kalau, kamu mengubah ke bentuk pecahan lalu dibagikan, dari pembilang dibagi dengan penyebut. Kalau sebelas dibagi sepuluh S24 : satu koma satu

P : ehmm, kalau lima dibagi dengan empat berapa hasilnya?

S24 : satu koma ... (sambil membayangkan) P : bisa dicoret-coret

P : disini boleh

S24 : (menghitung lima dibagi dengan empat) S24 : (menunjukkan hasil pembagiannya)

P : berarti kan hasilnya satu koma dua lima ya?

S24 : iya

P : kenapa hasilnya satu koma dua dua?

S24 : (sambil tersenyum) P : kenapa?

S24 : kurang teliti (dengan volume nada yang kecil) P : oke

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S24 adalah S24 kurang teliti dalam menghitung pembagian atau kurang teliti dalam mengubah bentuk bilangan pecahan menjadi bilangan desimal.

Peneliti juga mewawancarai S24 pada soal nomor tujuh, karena S24 juga melakukan kesalahan teknis. Kesalahan teknis yang dilakukan oleh S24 dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.5 Kesalahan teknis pada siswa S24 soal nomor tujuh

Kesalahan yang dilakukan oleh S24 adalah S24 salah dalam perhitungan 24

21+33

21, S24 menuliskan hasil dari penjumlahan tersebut adalah 67

21. Seharusnya hasil penjumlahan tersebut adalah 57

21. Berikut transkrip wawancara dengan S24 pada soal nomor tujuh.

P : lalu, yang nomor tujuh. Coba kamu cek lagi jawabanmu S24 : sudah

P :menurut kamu ada yang salah tidak?

S24 : tidak tahu (dengan volume nada yang kecil) P : tidak tahu? Oke

P : coba kamu cek dibagian sini S24 : sudah

P : untuk mencari dua puluh empat sama tiga puluh tiga darimana?

S24 : (mencoba menghitung kembali) P : dari mana?

S24 : gak mudeng (dengna volume nada yang kecil) P : apa?

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S24 adalah S24 kurang teliti dalam menjumlahkan kedua bilangan tersebut, sehingga terjadi kesalahan teknis.

3. Kesalahan Prinsip

Kesalahan prinsip adalah kesalahan dalam memahami prinsip atau menerapkan prinsip dalam soal. Kesalahan tersebut, siswa salah dalam menggunakan atau menerapkan sifat-sifat penjumlahan atau perkalian.

Pada gambar dibawah ini merupakan kesalahan S12.

Gambar 4.6 Kesalahan prinsip pada siswa S12 soal nomor tiga Kesalahan yang dilakukan oleh S12 adalah S12 tidak bisa menerapkan sifat-sifat penjumlahan atau perkalian pada soal tersebut. S12 hanya menuliskan hasil dari perkalian tersebut tanpa menjelaskan langkah-langkah untuk mendapatkan hasil tersebut. Berikut merupakan transkrip wawancara dengan S12.

P : saya Tanya yang nomor tiga, nah lima puluh Sembilan kali tujuh itu kan empat ratus tiga belas, itu caranya gimana?

S12 : (sambil tersenyum) P : kemarin caranya gimana?

S12 : kemarin cuma aku kali ke ininya P : cara mengkalikannya?

P : nah, kamu masih ingat sifat-sifat penjumlahan tidak? Sifat-sifat penjumlahan dan sifat-sifat perkalian

S12 : agak lupa

P : oke, seperti itu sudah

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S12 adalah karena lupa sifat-sifat penjumlahan atau sifat-sifat perkalian atau kurang memahami sifat-sifat penjumlahan atau sifat-sifat perkalian.

Peneliti juga mewawancarai S8 karena, S8 kurang menjelaskan langkah-langkah secara urut dan jelas. Pada gambar dibawah ini merupakan kesalahan yang dilakukan oleh S8.

Gambar 4.7 Kesalahan prinsip pada siswa S8 soal nomor tiga Kesalahan yang dilakukan oleh S8 adalah S8 kurang menjelaskan langkah-langkah secara urut dan jelas mendapatkan 59 × 7 = 420 − 7.

Berikut merupakan transkrip wawancara dengan S8.

P : bisa jelaskan yang nomor tiga dek S8 : (sambil memikirkan)

S8 : enam puluh dikali dengan tujuh kan hasilnya empat ratus dua puluh

P : he’em

S8 : lima puluh Sembilan dikali dengan tujuh hasilnya empat ratus dua puluh dikurangi dengan tujuh sama dengan empat ratus tiga belas

P : iya, lalu empat ratus dua puluh dikurangi dengan tujuh itu dapat darimana?

S8 : enam puluh dikali tujuh

P : maksud saya empat ratus dua puluh dikurangi dengan tujuh itu didapatkan darimana?

S8 : perkalian dari enam puluh dikali tujuh sama lima puluh Sembilan dikali tujuh itu selisihnya tujuh.

P : kalau enam puluh dengan lima puluh Sembilan itu selisihnya

P : coba kamu, pakai sifat-sifat itu S8 : dimana?

P : disini (menunjukkan tempat yang akan dicoret-coret)

P : untuk mendapatkan nilai lima puluh sembilan ini, bagaimana caranya dari enam puluh

S8 : dikurangi Satu

P : berarti lima puluh Sembilan ini dari enam puluh dikurangi Satu P : coba enam puluh dikurangi satu

S8 : (mencoret-coret)

P : ini kan ada tanda dikali, lalu dikalikan dengan tujuh S8 :dikali tujuh

P : ini kurung

S8 : lima puluh Sembilan dikali tujuh

P : sebelum ke langkah ini, ada langkah lain enggak?

S8 : (memikirkan) S8 : ada

P : langkahnya bagaimana? Kalau misalkan tujuh dikalikan dengan enam puluh, lalu tujuh dikalikan dengan satu bisa tidak?

S8 : bisa P : coba

S8 : (menghitung)

P : sama tidak dengan jawabanmu S8 : sama

P : kenapa langkah ini tidak kamu tulis?

S8 : lupa P : lupa apa?

S8 : lupa sifat-sifat

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S8 adalah karena lupa sifat penjumlahan atau pengurangan atau kurang memahami sifat-sifat penjumlahan atau perkalian.

4. Kesalahan menginterpretasi bahasa

Kesalahan menginterpretasi bahasa merupakan kesalahan dalam mengartikan bahasa yang satu ke bahasa yang lain ataupun sebaliknya.

Kesalahan tersebut siswa salah dalam menerjemahkan soal cerita ke dalam bahasa matematika. Seperti kesalahan yang dilakukan oleh S14 dalam menerjemahkan soal cerita ke dalam bahasa matematika. Pada gambar dibawah ini merupakan kesalahan yang dilakukan oleh S14 pada soal nomor 4.

Gambar 4.8 Kesalahan menginterpretasi bahasa pada siswa S14 pada soal nomor empat

Kesalahan yang dilakukan oleh S14 adalah S14 menjumlahkan nomor lantai tersebut karena lift tersebut naik, namun jika turun mengartikan mengurangi. Seharusnya cukup mencari selisihnya tiap lift bergerak.

Berikut merupakan transkrip wawancara S14

P : kakak, mau Tanya yang nomor empat, coba kamu pahami soal yang nomor empat

S14 : sudah P : sudah?

S14 : dah

P : satu ditambah lima itu untuk mencari apa?

S14 : lantai satu menuju lantai lima

P : inikan ada seseorang menuju dari lantai satu ke lantai lima, berarti naik berapa lantai?

S14 : empat

P : lalu kenapa ini satu ditambah lima?

S14 : (tersenyum) S14 :gak tau kak

P : itu kan jarak dari lantai itu kan? Tiap lantai tingginya empat P : berartikan, empat ditambah empat ditambah empat ditambah

P : ini kenapa kok lima dikurangi dua sama dengan tiga S14 : karena turun, jadi lima dikurangi dua

P : dari lantai 5 itu, satu, dua, tiga (menghitung dengan ilustrasi pada soal)

P : lalu yang ini? Dari lantai dua menuju lantai empat, jadi berapa lantai

S14 : satu, dua (menghitung dengan ilustrasi pada soal) P : kenapa ini ditambah?

S14 : karena naik

P : kan naik tidak harus ditambah to?

S14 : iya kak (sambil tersenyum) P : okee

P : jadi yang salah itu bagian sininya (bagian menentukan banyaknya perpindahan lantai), disoalkan ada ilustrasi, kenapa enggak gunakan ilustrasi itu?

S14 :nggak tau kak

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S14 karena kurang memahami makna dari kata Jauh. S14 juga kurang memahami setiap kalimat pada soal tersebut.

Peneliti juga mewawancarai S14 pada soal nomor lima, S14 juga melakukan kesalahan menginterpretasi bahasa pada soal nomor lima.

Kesalahan tersebut berupa salah menerjemahkan kalimat soal cerita ke dalam bahasa matematika. Pada gambar dibawah ini merupakan kesalahan menginterpretasi bahasa yang dilakukan oleh S14.

Gambar 4.9 Kesalahan menginterpretasi bahasa S14 pada soal nomor 10

Kesalahan yang dilakukan oleh S14 adalah S14 melakukan kesalahan dalam menerjemahkan tiap kalimat pada soal tersebut. Berikut transkrip wawancara dengan S14 pada soal nomor 10.

P : lalu soal yang nomor lima, coba kamu pahami jawabanmu nomor lima dulu

S14 : dah

P : nah menurutmu ada yang salah enggak?

S14 : enggak ada

P : rudi mempunyai buah apel sebanyak dua ratus dua puluh lima, buah apel tersebut diberikan kepada ibunya sebanyak dua puluh lima, berarti

S14 : dua ratus dua puluh lima dibagi dua puluh lima.

P : kan diberikan ke ibunya S14 : kan dibagi kak

P : misalnya saya mempunyai apel dua ratus dua puluh lima, saya berikan dua puluh lima apel ke kamu. Nah sisa apel yang saya punya ada berapa?

S14 : dua ratus kak P : kok bisa?

S14 : kan diberikan kan, jadi dikurangi

P : lalu kalimat selanjutnya ada kata dibagikan ketemannya. Tiap temannya diberi sepuluh buah

S5 : dikurangi P : dikurangi bisa

P : tadikan dikurangi sampai apel yang saya punya dikurangi sampai habis, jadi pengurangan itu berapa kali?

S14 : dua ratus dikurangi sepuluh

P : berarti masih sisa seratus Sembilan puluh, jadi saya bisa berikan ke temannya lagi sepuluh, sampai habis berarti temannya ada kali sisa seratus Sembilan puluh terus dikurangi lagi sepuluh jadi dua kali pengurangan sisa seratus delapan puluh, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas,enam belas, tujuh belas, delapan belas, Sembilan belas, dua puluh

P : berarti temannya ada S14 : dua puluh

P : misalkan dua ratus dibagi dengan sepuluh bisa tidak?

S14 : bisa P : hasilnya?

S14 : dua puluh

P : dari jawabanmu maksudnya bagaimana?

S14 : (sambil tersenyum) S14 : gak dong

Faktor penyebab kesalahan yang dilakukan oleh S14 karena kurang memahami setiap kalimat pada soal cerita, sehingga S14 melakukan

kesalahan mengubah bahasa pada soal cerita ke dalam bahasa matematika. Faktor penyebab kesalahan yang lain karena S14 kurang memahami beberapa kata kunci pada soal tersebut sehingga S14 melakukan kesalahan.

Dokumen terkait