BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
1. Jenis-jenis kesalahan
Setelah menganalisis hasil soal tes tertulis yang telah dikelompokkan berdasarkan kategori jenis kesalahan, kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa adalah kesalahan konsep. Kesalahan konsep yang dilakukan oleh siswa tersebut antara lain:
a. Siswa melakukan kesalahan dalam memahami konsep aturan perkalian.
b. Siswa melakukan kesalahan dalam memahami konsep FPB dan KPK.
c. Siswa melakukan kesalahan dalam memahami makna soal.
d. Siswa melakukan kesalahan dalam mengurutkan bilangan terkecil hingga terbesar atau sebaliknya.
e. Siswa melakukan kesalahan dalam mengubah bentuk pecahan campuran ke bentuk pecahan biasa.
Presentase kesalahan konsep yang dilakukan oleh siswa adalah 36,65%.
Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Juliant (2016) pada
penelitian tersebut kesalahan konsep merupakan kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa, presentase kesalahan konsep sebesar 30,56%.
Kesalahan yang paling sedikit dilakukan oleh siswa adalah kesalahan prinsip. Kesalahan prinsip yang dilakukan oleh siswa adalah siswa tidak dapat menggunakan sifat-sifat penjumlahan atau perkalian dan siswa salah dalam menggunakan sifat-sifat penjumlahan atau perkalian. Presentase kesalahan prinsip yang dilakukan oleh siswa sebesar 9,95 %.
Kemudian siswa juga masih melakukan kesalahan teknik dan kesalahan menginterpretasi bahasa. Kesalahan teknik yang dilakukan oleh siswa adalah siswa masih melakukan kesalahan dalam menghitung dengan berbagai operasi mulai dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian. Tentu tidak hanya pada bilangan bulat melainkan yang sering terjadi pada bilangan pecahan. Presentase kesalahan operasi atau teknik yang dilakukan oleh siswa sebesar 23,56%. Hal ini sama dengan penelitan yang dilakukan oleh Ramlah (2016), kesalahan siswa yang sering terjadi adalah menghitung bilangan pecahan dengan penyebut yang berbeda maupun sama.
Kesalahan menginterpretasi bahasa yang dilakukan oleh siswa adalah siswa kurang memahami dalam menerjemahkan soal cerita kedalam bahasa matematika. Presentase kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah 29,84%. Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Farida (2015), siswa masih mengalami miskonsepsi pada diri
siswa, dan siswa melakukan kesalahan dalam mengubah informasi yang diberikan ke dalam ungkapan matematika.
2. Faktor penyebab kesalahan
Setelah menganalisis hasil wawancara siswa, diperoleh beberapa faktor penyebab kesalahan tersebut dilakukan oleh siswa yaitu:
a. Siswa bingung dalam mengurutkan bilangan terkecil hingga terbesar sehingga untuk mengurutkan bilangan terkecil hingga terbesar masih mengalami kesalahan,
b. Siswa kurang teliti dalam mengurutkan bilangan,
c. Siswa kurang memahami dalam mencari faktor dari suatu bilangan, d. Siswa lupa sifat-sifat penjumlahan atau perkalian,
e. Siswa kurang memahami dalam menghitung bilangan pecahan dengan penyebut yang sama maupun berbeda,
f. Siswa kurang memahami kata kunci pada soal cerita, dan siswa kurang memahami tiap-tiap kalimat pada soal cerita.
3. Rancangan Remedial
Berdasarkan deskripsi hasil tes dari 34 siswa, siswa melakukan 191 kesalahan untuk empat kategori kesalahan. persentase Kesalahan konsep sebesar 36,65%, persentase kesalahan operasi atau teknik sebesar 23,56%, persentase kesalahan prinsip sebesar 9,95%, dan persentase kesalahan menginterpretasi bahasa sebesar 29,84%. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulakan bahwa kesalahan yang paling
banyak adalah kesalahan konsep sebesar, kesalahan operasi atau teknik , dan kesalahan menginterpretasi bahasa.
Peneliti membuat program rancangan remedial sesuai dengan jenis kesalahan yang dilakukan oleh siswa. Program rancangan remedial tersebut diharapakan dapat dilakukan oleh guru untuk mengurangi kesalahan yang dilakukan siswa untuk materi bilangan.
Berikut rancangan program remedial sesuai menurut peneliti untuk ketiga kategori jenis kesalahan terbanyak.
1. Kesalahan konsep.
Kesalahan yang sering terjadi adalah siswa melakukan kesalahan dalam memahami makna soal, aturan perkalian, menentukan FPB atau KPK, dan mengubah bentuk pecahan campuran ke pecahan biasa. Untuk kasus ini, peneliti menyarankan guru untuk menggunakan alat peraga papan FPB dan KPK atau alat peraga Garis Bilangan, alat peraga untuk menyampaikan konsep bilangan bulat, konsep bilangan pecahan, aturan perkalian, konsep menentukan FPB atau KPK. Alat peraga dapat dilihat dibawah ini.
Gambar 4.10 Alat peraga papan FPB dan KPK
Gambar 4.11 Alat peraga Garis Bilangan
Peneliti juga menyarankan guru untuk mengingatkan kembali mengenai konsep bilangan bulat, konsep bilangan pecahan, aturan perkalian, konsep menentukan FPB atau KPK serta memberikan contoh dan non contoh mengenai bilangan bilangan bulat atau bilangan pecahan.
2. Kesalahan operasi atau teknik.
Kesalahan yang sering terjadi adalah siswa melakukan kesalahan dalam menghitung bilangan pecahan dengan penyebut yang sama maupun berbeda. Untuk kasus ini, peneliti menyarankan guru untuk menggunakan alat peraga Timbangan Bilangan atau Blok Pecahan sebagai media pembelajaran untuk membantu siswa dalam memahami aturan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan pecahan. Alat peraga dapat dilihat dibawah ini.
Gambar 4.12 Alat peraga Blok Pecahan
Gambar 4.13 Alat peraga Timbangan Bilangan
Gambar 4.14 Alat peraga Blok Dienes
Peneliti juga menyarankan guru untuk memberikan banyak latihan soal mengenai aturan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan pecahan kepada siswa dan mengingatkan mengenai aturan-aturan operasi pada bilangan pecahan kepada siswa dan menjelaskan dengan memberikan contoh soal.
3. Kesalahan Prinsip
Kesalahan yang sering terjadi adalah siswa lupa mengenai sifat-sifat penjumlahan atau perkalian. Sehingga siswa kesulitan dalam mengunakan sifat-sifat penjumlahan atau perkalian untuk menyelesaikan soal yang diberikan. Untuk kasus ini, peneliti menyarankan guru untuk menggunakan alat peraga Timbangan Bilangan agar memudahkan siswa memahami sifat-sifat penjumlahan atau perkalian. Alat peraga dapat dilihat dibawah ini.
Gambar 4.15 Alat peraga Timbangan Bilangan
Peneliti juga menyarankan guru untuk memberikan latihan soal terkait penggunaan sifat-sifat penjumlahan atau perkalian serta mengingatkan kembali sifat-sifat penjumlahan dan sifat-sifat
perkalian, tidak hanya semata-mata mengetahui saja namun siswa juga dapat menggunakan sifat-sifat penjumlahan atau perkalian tersebut.
4. Kesalahan menginterpretasi bahasa.
Kesalahan yang sering terjadi adalah siswa melakukan kesalahan dalam menerjemahkan soal cerita ke dalam bahasa matematika.
untuk kasus ini, peneliti menyarankan guru untuk memberikan latihan soal cerita yang bervariasi agar siswa terbiasa dengan menyelesaikan soal-soal cerita.