• Tidak ada hasil yang ditemukan

Detail

Dalam dokumen Pusat Perbelanjaan Batangkuis (Halaman 63-120)

BAB VI PERANCANGAN ARSITEKTUR

6.1 Gambar Arsitektural

6.1.8 Detail

6.2. Gambar Struktural 6.2.1 Pondasi

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Terminologi Judul

Judul perancangan ini adalah “Pusat Perbelanjaan Batang Kuis”. Adapun penjelasan dari judul tersebut adalah sebagai berikut :

Pusat dalam bahasa indonesia berarti tempat yang letaknya berada di

tengah.

Perbelanjaan dalam bahasa indonesia belanja berarti uang yang akan

dikeluarkan untuk kepentingan sesuatu. Sedangkan secara harfiah, belanja adalah suatu kegiatan membeli sesuatu untuk kebutuhan hidup yang mencakup kebutuhan primer, sekunder dan tersier.

Pusat Perbelanjaan dapat di artikan sebuah tempat yang didalamnya terjadi kegiatan jual beli kebutuhan masyarakat.

Menurut Jeffrey D. Fisher, Robert, Martin dan Paige Mosbaugh, definisi pusat perbelanjaan adalah sebuah bangunan yang terdiri dari beberapa toko eceran, yang umumnya dengan satu atau lebih toko serba ada,toko grosir dan tempat parkir. (1991 : 121)

Menurut Rubenstain (1978) mall adalah sebagai suatu area pergerakan (linier) pada suatu area pusat bisnis kota atau Central Bussiness Distric (CBD) yang lebih diorientasikan bagi pejalan kaki, berbentuk pedestrian dengan kombinasi plaza dan ruang-ruang interaksional.

Menurut maitland (1987), mall adalah pusat perbelanjaan yang berintikan suatu atau beberapa department store besar sebagai daya tarik dari retail-retail kecil dan rumah makan dengan tipologi bangunan seperti toko-toko yang menghadap ke koridor utama mall atau pedestrian yang merupakan unsur utama dari shopping mall, dengan fungsi sebagai sirkulasi dan sebagai ruang komunal bagi terselenggaranya interaksi antar pengunjung dan pedagang.

Batang kuis adalah salah satu kecamatan yang berada di kabupaten deli

serdang yang letaknya strategis yaitu berada di pintu gerbang utama menuju Bandar Udara Kualanamu, dan site ini merupakan lokasi perancangan. Berdasarkan batasan pengertian diatas, diambil kesimpulan bahwa Pusat Perbelanjaan Batang Kuis adalah tempat kegiatan jual beli dalam ruangan besar

yang memiliki jalur pedestrian yang di antaranya berderet retail yang mencakup banyak kegiatan baik berbelanja,berjalan-jalan, berkumpul, makan, maupun rekreasi yang berada di Batang Kuis.

2.2 Lokasi

2.2.1 Kriteria Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dari sebuah perancangan. Untuk memilih lokasi yang akan dijadikan sebagai tapak perancangan perlu terlebih dahulu membuat kriteria-kriteria pemilihan lokasi.

Table 2.1 kriteria pemilihan lokasi

No Kriteria Lokasi

1 Tinjauan terhadap struktur kota

Tapak harus berada pada wilayah RUTRK yang tata guna lahannya diperuntukkan daerah perdagangan dan jasa(RTRW Kabupaten Deli Serdang)

2 Pencapaian Lokasi terletak pada daerah yang mudah dicapai oleh kenderaan pribadi, kenderaan umum, ataupun pejalan kaki(NAD)

3 Area pelayanan Area di sekitar site hendaknya merupakan fungsi-fungsi yang dapat saling mendukung dengan bangunan yang direncanakan atau di sekitar sarana prasarana yang membutuhkan jasa atau pelayanan yang berhubungan dengan berbelanja, seperti permukiman penduduk, terminal dan pusat komersil lainnya(asumsi). 4 Status kepemilikan Lokasi yang di pilih hendaknya memiliki

status kepemilikan yang jelas seperti lokasi tersebut merupakan milik pemerintah atau pribadi(asumsi).

5 Nilai lahan Nilai lahan sebaiknya memiliki harga yang terjangkau agar dalam pembelian lahan tidak membutuhkan biaya yang begitu mahal.

Sehingga biaya dapat di maksimalkan lebih banyak pada pembangunan proyek(asumsi). 6 Peraturan Daerah yang dipilih sebagai lokasi

perancangan harus memiliki peraturan pendirian bangunan yang jelas, agar ada batasan-batasan perancangan sehingga pembangunan yang dilakukan sejalan dengan rencana pengembangan di darah tersebut(asumsi).

Sumber : RTRW Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010-2030,2016 1. Tinjauan Terhadap Struktur Kota

Batang Kuis merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Deli Serdang yang mengalami pengembangan sistem Pusat Pelayanan Kecamatan (PPK). Konsep pelayanan PPK ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan Struktur Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro dan potensi pengembangan Kabupaten Deli Serdang, dengan kriteria dan pertimbangan sebagai berikut (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Deli Serdang tahun 2005-2025) :

 Peluang pengembangan Kabupaten Deli Serdang sebagai kawasan metropolitan yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Kawasan Metropolitan Mebidangro (Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo),  Keberadaan Bandara Kualanamu sebagai pusat transportasi

regional,

 Mensejajarkan Wilayah Sibolangit (bagian selatan) dengan bagian wilayah lainnya,

 Menghidupkan kembali bekas Stasiun Kereta Api menjadi pusat pelayanan sekaligus menjadi pusat kegiatan dengan mengintegrasikan antara penggunaan lahan yang ada (konsep pengembangan Transit Oriented Development/TOD),

 Peluang pengembangan potensi pertanian dan parawisata di selatan Kabupaten Deli Serdang,

 Ketersediaan jaringan jalan di selatan Kabupaten Deli Serdang yang menghubungkan dengan wilayah lainnya.

Berdasarkan konsep pengembangan diatas, maka strategi untuk mewujudkannya adalah sebagai berikut :

 Memaduserasikan dan kerjasama pembangunan kawasan industri dengan Kota Medan maupun Binjai,

 Pengembangan Kawasan Aerocity untuk mendukung keberadaan Bandara Kualanamu,

 Membuka jalur regional (akses) masuk dan keluar Kabupaten Deli Serdang dengan prioritas memberikan akses untuk simpul kegiatan di Selatan Kabupaten Deli Serdang,

 Rencana jalan Inner Ring Road dan Outer Ring Road Mebidangro,  Pengembangan sentra-sentra industri pertanian di bagian selatan

Kabupaten Deli Serdang,

 Peningkatan fungsi jalan yang menghubungkan simpul kegiatan wilayah selatan dengan Bandar Udara Internasional Kualanamu,  Pembangunan unit-unit pengumpul hasil pertanian di bagian selatan

Kabupaten Deli Serdang.

Sistem pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.2 Rencana Sistem Perkotaan di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2025

NO HIRARKI KOTA FUNGSI YANG DIKEMBANGKAN

1 Pusat Kegiatan Lokal (PKL)

Lubuk Pakam

 Pusat pemerintahan kabupaten;  Perdagangan dan jasa;

 Kota transit;

 Pusat pelayanan fasilitas sosial dan umum;

 Permukiman perkotaan

Pancur Batu  Perdagangan dan jasa regional (pasar induk dan terminal sayur);

NO HIRARKI KOTA FUNGSI YANG DIKEMBANGKAN

 Pendidikan dan olah raga;  Pariwisata;

 Perumahan dan permukiman. 2 Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) Tanjung Morawa

 Perdagangan dan jasa lokal;  Industri;

 Perumahan dan permukiman. Batang Kuis  Perdagangan dan jasa lokal;

 Pengolahan pertanian dan perkebunan;  TOD

 Perumahan dan permukiman;  Kota transit

Percut Sei Tuan

 Perdagangan dan jasa regional;  Pengolahan pertanian dan perikanan;  Perumahan dan permukiman.

 Industri;

 Pusat pendidikan dan olah raga; Hamparan

Perak

 Perdagangan dan jasa;  Industri;

 Kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam);

 Pariwisata, dan  Kegiatan Militer

 Perumahan dan permukiman. Sunggal  Perdagangan dan jasa lokal;

 Industri;

 Perumahan dan permukiman.

Deli Tua  Perdagangan dan jasa regional (pasar induk sayuran);

 TOD

NO HIRARKI KOTA FUNGSI YANG DIKEMBANGKAN

 Perumahan dan permukiman. Pagar

Merbau

 Perdagangan dan jasa lokal;

 Pengolahan pertanian dan perkebunan;  Perumahan dan permukiman.

Tembung  Perdagangan dan jasa;  Industri;

 Perumahan dan permukiman. Galang  Perdagangan dan jasa lokal;

 Pengolahan pertanian dan perkebunan;  TOD

 Militer

 Perumahan dan permukiman. Sibolangit  Perdagangan dan jasa lokal;

 Pariwisata;  Agropolitan

 Kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam)

 Perumahan dan permukiman. Gunung Meriah  Pengolahan pertanian;  Kehutanan Namo Rambe  Pengolahan pertanian;  Perumahan  Pariwisata Bangun Purba

 Pengolahan pertanian dan perkebunan;  Perumahan dan permukiman;

Patumbak  Pengolahan pertanian dan perkebunan;  Perumahan;

NO HIRARKI KOTA FUNGSI YANG DIKEMBANGKAN

 Perdagangan dan jasa. 3 Pusat

Pelayanan Lingkungan (PPL)

STM Hulu  Pengolahan pertanian;  Kehutanan

 Pariwisata

Kutalimbaru  Pengolahan pertanian dan perkebunan;  Perumahan dan permukiman;

 Kehutanan

Biru-biru  Pengolahan pertanian;  Pariwisata

STM Hilir  Pengolahan pertanian;  Kehutanan

Labuhan Deli

 Pengolahan pertanian dan perikanan;  RTH;

 Perumahan dan permukiman;  Perdagangan dan jasa.

Pantai Labu  Pengolahan pertanian dan perikanan;  Transpotasi;

 Perdagangan dan jasa;  Perumahan dan permukiman Beringin  Pengolahan pertanian;

 Transpotasi;

 Perdagangan dan jasa;  Perumahan dan permukiman Sumber : RTRW Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010-2030,2016

Dari tabel diatas, fungsi yang dikembangkan di Kecamatan Batang Kuis adalah perdagangan dan jasa lokal, pengolahan pertanian dan perkebunan, TOD, perumahan dan permukiman, dan kota transit.

Gambar 2.1 Tata Ruang Kuala Namu

(Sumber : RTRW Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010-2030,2016)

Ditinjau dari tata ruang Kuala Namu kawasan batang kuis diperuntuhkan untuk sawit, hutan kota, perdagangan dan jasa. Dari data di atas dapat di simpulkan bahwa perancangan sebuah fasilitas pusat perbelanjaan di kawasan batang kuis merupakan tapak yang tepat.

2. Pencapaian

Ada beberapa akses untuk mencapai lokasi tapak perancangan. Seperti dari gerbang utama kualanamu, jalan tol dan kereta api. Masing- masing akses ini memiliki jarak tempuh yang berbeda-beda.

Gambar 2.2 Medan-site (sumber : google maps,2016)

Gambar 2.3 Lubuk pakam-site (sumber :google maps,2016)

Gambar 2.4 Tj morawa – site (sumber : google maps,2016) 3. Area pelayanan

Lokasi site dekat dengan Bandar Udara Kualanamu yang berjarak 6,8 Km dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Lokasi site juga dekat dengan pemukiman penduduk dan hotel.

4. Status kepemilikan

Status kepemilikan site merupakan pemilik pribadi. Karena lokasi site berada dekat dengan pemukiman penduduk.

5. Nilai lahan

Nilai lahan lokasi perancangan tergolong sedang di banding dengan lahan yang berada di kota. Namun kemungkinan besar nilai lahan dapat berubah seiring dengan perkembangan kawasan. Sebelum Bandar udara

direncanakan di daerah ini, harga lahan sangat murah namun setelah Bandar udara di bangun di kawasan ini harga lahan pun ikut naik.

6. Peraturan

Peraturan pembangunan di kawasan ini masih dalam tahap perencanaan. Sehingga peraturan yang dipakai yaitu peraturan pembangunan fasilitas yang berada di luar Bandar udara Kualanamu dan juga MEBIDANGRO.

2.2.2 Deskripsi Kondisi Eksisting Lokasi Tapak Perancangan

Lokasi tapak yang menjadi tempat perancangan telah dipilih oleh dosen pembimbing tugas akhir. Lokasi berada di kabupaten deli serdang, kecamatan batang kuis yang merupakan pintu gerbang utama Bandar udara kualanamu. Adapun kondisi tapak adalah sebagai berikut :

Gambar 2.5 lokasi perancangan (sumber : google earth,2016) a. Luas lahan : 1,5 hektar

b. Kontur : Relative datar

c. GSB : 11 meter

d. KDB : 70% - 80%

e. KLB : 4

f. Pemilik : Pribadi

g. Bangunan eksisting : Lahan kosong h. Keistimewaan site :

- Site berada di jalan utama menuju kualanamu. - Site dekat dengan Bandar Udara Kualanamu. - Site masuk dalam kawasan MEBIDANGRO.

2.3 Tinjauan Fungsi

Fungsi dari bangunan yang yang di rencanakan adalah sebuah pusat perbelanjaan. Pusat perbelanjaan adalah sekelompok penjual eceran dan usaha komersil yang merencanakan, mengembangkan, mendirikan, memiliki dan mengelola sebuah property tunggal. Pada lokasi property ini berdiri disediakan juga tempat parkir.

Tujuan dan ukuran besar dari pusat perbelanjaan ini umumnya ditentukan dari karakteristik pasar yang dilayani. Konfigurasi umum pusat perbelanjaan contohnya adalah gedung tertutup dan pasar terbuka, (International Council of Shopping Center,1999). Selain sebagai tempat berbelanja pusat perbelanjaan juga adalah tempat berkumpul dan berekreasi. Ketiga unsur itu umumnya ada pada suatu pusat perbelanjaan dimana pada perkembangannya saling mempengaruhi.

Klasifikasi pusat perbelanjaan , yaitu:

a. Berdasarkan Aspek Perkotaan menurut U.L.I. standar (Shopping Centers, Planning, Development & Administration, Edgar Lion P.Eng):

1. Neighborhood Centre (Pusat Perbelanjaan Lokal)

Melayani kebutuhan sehari hari yang meliputi supermarket dan toko-toko yang luas.Lantai penjualan (Gross Leasable Area /GLA) antara 30.000-100.000 square feet (2787-9290 m2).Jangkauan pelayanan antara 5.000-40.000 jiwa penduduk (skala lingkup).Unit terbesar berupa supermarket, memiliki 35-40 toko dan luas site yang dibutuhkan antara 3-10 Ha.

2. Community Centre (Pusat Perbelanjaan Distrik)

Melayani jenis barang yang lebih luas, meliputi Department Store, Variety Store, Shop Unit dengan GLA antara 100.000- 300.000 square feet (9290-27.870 m2). Jangkauan pelayanan antara 40.000- 150.000 jiwa penduduk.Unit penjualan berupa Junior Department Store, Supermarket, dan toko-toko.

3. Main Centre / Regional Centre (Pusat Perbelanjaan Regional) Pusat perbelanjaan dengan skala kota yang memiliki jangkauan pelayanan diatas 150.000 jiwa penduduk, dengan fasilitas-fasilitas meliputi pasar, toko, bioskop, dan bank yang terletak pada tempat strategis dan bergabung dengan perkantoran, tempat rekreasi dan kesenian. Luas lantai penjualan / GLA antara 300.000-1.000.000 squarefeet (27.870-92.900 m2).Pusat perbelanjaan tersebut terdiriatas dua atau lebih Department Store dan memiliki 80 jenis toko.

b. Berdasarkan Cara Pelayanan

1. Shopping Existing Personal Services

Pembeli dilayani langsung oleh para pelayan.Setelah transaksi, pelayan langsung meminta pembayaran dan membungkus barang tersebut.

2. Self Selection

Pembeli dapat memilih dan membeli barang-barang, kemudian mengumpulkan ke pelayan dan meminta bon pembayaran, lalu ke kasir untuk membayar dan mengambil barang. 3. Self Services

Pembeli dapat memilih dan mengambil barang-barang yang dibutuhkan, kemudian diletakkan pada keranjang / kereta dorong yang telah disediakan, lalu langsung dibawa ke kasir untuk pembayaran dan pembungkusan.

c. Berdasarkan Bentuk Fisik 1. Market

Rangkaian petak (stall) dan warung (booth) yang diatur berderetderet pada ruang terbuka atau tertutup. Merupakan bentuk sarana fisik yang tertua dari suatu tempat perbelanjaan.

2. Shopping Street

Toko-toko berderet di kedua sisi jalan, dengan pencapaian langsung dari jalan utama.

Gambar 2.6 Dongmen street

(sumber : https://www.google.com/search?q=dongmen+street,2016) 3. Shopping Precint

Toko-toko yang membentuk sebuah lingkaran yang bebas dari kendaraan, dan khusus untuk pejalan kaki.

Gambar 2.7 Dresden shopping spezial

(sumber : https://www.google.com/search?q=dongmen+street&biw,2016) 4. Department Store

Kumpulan beberapa toko yang berada di bawah satu atap bangunan. Luas lantainya berkisar antara 2.500 – 10.000 m2. 5. Supermarket

Toko dengan ruangan yang luas dan menjual bermacam- macam barang yang diatur secara berkelompok dengan sistem self service. Luas lantainya berkisar 1.000 – 2.500m2.

Setiap supermarket mempunyai sekuen kejadian, diawali dengan masuknya konsumen sehingga proses pembelian, pembayaran dan perginya konsumen. Sekuen kejadian ini perlu di kaji melalui sebuah program yang termasuk di dalamnya adalah

perilaku pembeli dan penjual seperti disampaikan dalam Lang(1987:114).

6. Shopping Centre

Bangunan atau kompleks pertokoan yang terdiri dari stan- stan took yang disewakan atau dijual.

7. Shopping Mall

Bangunan atau kompleks pertokoan yang memilih sistem selasar atau satu koridor utama disepanjang toko-toko yang menerus.

d. Berdasarkan Luas dan Macam-Macam Desain 1. Full Mall

Full mall terbentuk oleh sebuah jalan, di mana jalan tersebut sebelumnya digunakan untuk lalu lintas kendaraan, kemudian diperbaharui menjadi jalur pejalan kaki, plaza (alun-alun) yang dilengkapi paving, pohon-pohon, bangku-bangku, pencahayaan dan fasilitas-fasilitas baru lainnya seperti patung dan air mancur.

2. Transit Mall

Transit mall atau transit way dikembangkan dengan memindahkan lalu lintas mobil pribadi dan truk ke jalur lain dan hanya mengijinkan angkutan umum seperti bus dan taksi. Area parkir direncanakan tersendiri dan menghindari sistem parkir pada jalan (on-street parking), jalur pejalan kaki diperlebar dan dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas seperti : paving, bangku, pohon- pohon, pencahayaan, patung, air mancur dan lain-lain. Transit mall telah dibangun di kota-kota dengan rata-rata ukurannya lebih besar dari full mall maupun semi mall.

3. Semi Mall

Semi mall lebih menekankan pada pejalan kaki, oleh karena itu areanya diperluas dan melengkapinya dengan pohon-pohon dan tanaman, bangku-bangku, pencahayaan dan fasilitas buatan lainnya.Sedangkan jalur kendaraan dan area parkir dikurangi.

A. Bentuk Pusat Perbelanjaan 1. Pusat perbelanjaan terbuka

Semua jalan yang direncanakan mengutamakan kenyamanan pejalan kaki, letaknya dapat di pusat kota, sistem penghawaannya dengan system penghawaan alami. Pusat perbelanjaan terbuka cocok untuk daerah beriklim sedang. Berjalan-jalan di dalamnya menjadi suatu keistimewaan tersendiri dan lebih menghemat energi.

2. Pusat perbelanjaan komposit

Pusat perbelanjaandengan bagian yang terbuka dan tertutup. Bagian yang tertutup diletakkan di tengah sebagai pusat dan menjadi magnet yang menarik pengunjung untuk masuk ke pusat perbelanjaan. 3. Pusat perbelanjaan tertutup

Pusat perbelanjaan tertutup adalah mal dengan pelingkup atap. Keuntungannya berupa kenyamanan dengan kontrol iklim, dan kerugiannya adalah biaya menjadi sangat mahal dan terkesan menjadi kurang luas.

B. Karakteristik pusat perbelanjaan secara umum 1. Karakteristik kegiatan fasilitas perbelanjaan:

Adanya variasi kegiatan, dengan pola umum, convenience shopping, comparismshopping (membandingkan harga barang dengan pusat perbelanjaan lain sebelum membeli).

Kegiatan berlangsung terus menerus, tidak menetap. Beban kegiatan relatif sama pada setiap waktu. Pelaku kegiatan : individu, small group. 2. Karakteristik Fisik Shopping Mall

 Koridor : Tunggal  Lebar koridor : 8-16 meter

 Jumlah lantai : Maksimal 3 lantai

 Parkir : Mengelilingi bangunan pusat perbelanjaan  Pintu masuk : Dapat dicapai dari segala arah

 Atrium : Di sepanjang koridor

 Jarak antar magnet : 50-100 meter 3. Variasi barang yang dijual

 Speciality shop : toko yang menjual barang jenis seperti sepatu, pakaian, dan sebagainya.

 Variety shop : toko yang menjual bermacam-macam barang dengan skala kecil.

4. Elemen-elemen pusat perbelanjaan a. Anchor (magnet)

Adalah transformasi dari nodes, dapat juga berfungsi sebagai landmark, perwujudannya berupa plaza dan mall. b. Secondary Anchor

Adalah transformasi dari district, perwujudannya berupa toko-toko pengecer, retail, supermarket, superstore, bioskop, dan lain-lain.

c. Street Mall

Adalah transformasi bentuk paths, perwujudannya berupa pedestrian yang menghubungkan magnet-magnet. d. Landscaping (pertamanan)

Adalah transformasi bentuk edges, sebagai pembatas pusat pertokoan dengan tempat-tempat luar.

C. Ketentuan Pedestrian Way di Pusat Perbelanjaan

Pusat perbelanjaan biasanya mempunyai pedestrian way utama yang berfungsi sebagai shopping street. Jika terdapat pusat perbelanjaan kedua, maka harus mempunyai hubungan langsung dengan mal utama dan juga berhubungan dengan pencapaian ke area parkir.

a. Semua toko secara prinsip memiliki pintu masuk dari pusat perbelanjaan utama atau dekat dengan pusat perbelanjaan. Toko- toko tersebut juga harus memiliki entrance tambahan dari parkir/jalan.

b. Jumlah lantai pada pusat perbelanjaan dapat 1 lantai, 2 lantai atau lebih. Setiap pusat perbelanjaan seharusnya menghindari daerah-

daerah yang curam untuk menghindari gangguan dalam berbelanja dan sumber kecelakaan.

c. Pusat perbelanjaan dapat :

- Terbuka, dengan perlindungan terhadap musim melalui penggunaan kanopi menerus sepanjang muka toko.

- Sama sekali terlindung, tetapi berhubungan dengan udara luar. - Sama sekali tertutup, tetapi menggunakan alat pemanas untuk

daerah beriklim dingin.

D. Penempatan magnet (anchor) dalam pusat perbelanjaan.

Komponen utama dari pusat perbelanjaan adalah anchor tenant yang berfungsi sebagai magnet. Penempatan komponen utama berdasarkan proses evolusi pusat perbelanjaan (Lion Edger, Shopping center, Planning and Administration, John Wiley and Sons. Inc. USA,1976), yaitu:

Basic Center Additional Store Mall Added Keterangan: S : Supermarket St : Store additional D : Departement Store Gambar 2.8 Penempatan magnet pada pusat perbelanjaan

( sumber : Lion Edger,1976)

E. Tipologi pusat perbelanjaan menurut komposisi bentuk dan ukuran Tipologi pusat perbelanjaan memiliki beberapa bentuk,yaitu: 1. Bentuk L (L Shape)

2. Bentuk Segitiga (Triangel Shaped) 3. Bentuk jalur (Strip Shaped)

4. Dumb Bell Shaped 5. Bentuk U (U Shaped)

6. Bentuk Cluster (Cluster Shaped) 7. Double Dumbbell Shaped 8. Bentuk T (T Shaped)

F. Bentuk mall berdasarkan system parkir 1. Strip center with curb parking 2. Strip center with off-street parking 3. ouble-strip center with off-street parking 4. Mall center with only one magnet

5. Mall center with magnet centrally placed 6. Cluster-type center

7. Introverted center

2.3.1 Dekskripsi Penggunaan dan Kegiatan

Pengguna pusat perbelanjaan batang kuis terdiri dari pengunjung, penyewa, pengelola dan servis. Adapun kegiatan yang di lakukan dapat di golongkan menurut pengguna pusat perbelanjaan.

Table 2.3 dekskripsi penggunaan dan kegiatan

No

Pengguna Kegiatan

1 Pengunjung Berbelanja

Makan dan minum Menonton

Rekreasi Berkumpul Bersosialiai

Menggunakan fsilitas penunjang Melihat barang dan jassa

2 Penyewa retail

Mengelola retail

Menjual barang dan jasa Membayar sewa retail

3 Pengelola Mengelola administrasi dan marketing pusat perbelanjaan

Mengawasi aktivitas di pusat pebelanjaan 4 Service Membersihkan bangunan

Melakukan perawatan dan perbaikan terhadap bangunan dan peralatan-peralatan yang ada didalamnya

Mengurus utilitas bangunan Menjaga keamanan

Sumber : Olahan sendiri,2016.

2.3.2 Dekskripsi Perilaku

Perilaku pengguna mall dapat di kategorikan menjadi 2 sifat, yaitu: a. Bersifat statis

Pengguna menetap pada satu tempat dalam waktu yang cukup lama dan telah menjadi rutinitas. Pengguna yang bersifat ini adalah penyewa retail, pengelola dan servis.

b. Bersifat dinamis

Pengguna tidak selalu menetap, cenderung berpindah-pindah dari suatu tempat ketempat lain. Pengguna yang bersifat ini adalah pengunjung.

2.3.3 Dekskripsi Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang

a. Kebutuhan Ruang

Berikut ini adalah kebutuhan ruang yang di kelompokkan menurut pengguna:

1. Kelompok pengelola:

Tabel 2.4 kebutuhan ruang kelompok penglola

No Aktivitas Pelaku Sifat Ruang

1 Mengelola seluruh bangunan . General manager sekretaris Private Ruang kerja. Ruang rapat Ruang sekretaris

2 Mengelola pemasaran seluruh Kabig pemasaran Sekretaris Staff pemasaran Private Ruang kerja kabag Ruang rapat Ruang sekretaris Ruang staff 3 Mengelola administrasi seluruh pusat perbelanjaan Kabig administrasi Sekretaris Staff pemasaran Private Ruang kerja kabag Ruang rapat Ruang sekretaris Ruang staff 4 Menerima tamu dan memberikan informasi kepada tamu.

Resepsionis Public Lobby Ruang tunggu

5 Menjaga

kebersihan seluruh bangunan.

House keeping Private Ruang janiator Pantry

Ruang laundry 6 Mengawasi dan

menjaga keamanan seluruh bangunan.

Security Private Pos security Ruang cctv

7 Memaintanance seluruh fasilitas dan utilitas yang ada dalam bangunan.

Teknisi Private Ruang control Ruang genset Ruang panel Ruang chiller Ruang ahu Ruang ground water tank Ruang pompa Shaft utilitas

Ruang septitank Ruang service Sumber : Olahan sendiri,2016.

2. Kelompok pengunjung

Tabel 2.5 kebutuhan ruang kelompok pengunjung

No Aktivitas Pelaku Sifat Ruang

1 Berbelanja Makan minum Pengunjung / pembeli Public Retail 2 Memakai fasilitas umum Pengunjung / pembeli Public Parkir

Sumber : Olahan sendiri,2016.

3. Kelompok penyewa retail

Tabel 2.6 kebutuhan ruang kelompok penyewa retail

No Aktivitas Pelaku Sifat Ruang

1 Mengelola retail. Pemilik / penyewa retail Public Retail 2 Menjual makan dan minuman Menjual barang Menjual baju

Staff Public Kasir

Loading dock Dapur R. makan minum

R.penyimpanan Sumber : Olahan sendiri,2016.

b. Besaran Ruang.

Besaran ruang tiap ruangan berdasarkan standard, yaitu: 1. Kelompok pengelola

Tabel 2.7 besaran ruang kelompok pengelola

Sumber : Olahan sendiri, 2016. 2. Kelompok pengunjung

Tabel 2.8 besaran ruang kelompok pengunjung

No Kebutuhan ruang Standard (m2/orang)

Sumber

1 Hall 0.4 NAD

2 Retail 2 NAD

No Kebutuhan ruang Standard (m2/orang)

Sumber

1 Resepsionis 0.7 NAD

2 Ruang GM 4.5 NAD

3 Ruang wakil GM 4.5 NAD

4 Ruang sekretaris 4.5 NAD

5 Ruang tamu GM 5.4 NAD

6 Ruang kerja kabag 4.5 NAD

7 Ruang sekretaris 4.5 NAD

8 Ruang tamu 5.4 NAD

9 Ruang kerja kabag 4.5 NAD

10 Ruang sekretaris 4.5 NAD

Dalam dokumen Pusat Perbelanjaan Batangkuis (Halaman 63-120)

Dokumen terkait