• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Pendekatan

Dalam dokumen Pusat Perbelanjaan Batangkuis (Halaman 4-120)

BAB III METODOLOGI

3.4 Kerangka Pendekatan

Diagram 3.1 Kerangka pendekatan (sumber : Olahan sendiri,2016)

Metode penelitian Metode yang dipakai adalah

metode kualitatif dengan penelitian deskriptif

Pengumpulan Data

Observasi 1 . Survey lapangan 2 . Mencatat data tapak 3 . Mengambil gambar Metode literatur Mengumpulkan data literature-literatur proyek sejenis. Studi Pustaka Mengumpulkan data melalui buku, jurnal dan teori para ahli.

Data Primer Data Sekunder

Teknik Diagnosa/Analisa

BAB IV

ANALISA PERANCANGAN 4.1 Analisa Kondisi Tapak dan Lingkungan

4.1.1 Lokasi

Peta Indonesia Peta Sumatera

Peta tapak perancangan Peta Deli Serdang Gambar 4.1 Lokasi Site

(sumber : google earth & google maps,2016)

Daerah Kecamatan Batang Kuis terletak di wilayah Kabupaten Deli Serdang dengan jarak dari Ibukota Kabupaten (Lubuk Pakam) sebesar 15 Km. Ketinggian wilayahnya dari atas permukaan laut antara 4 – 30 meter, dan dikategorikan daerah dataran rendah yang luasnya 40,34 Km2. Terdiri dari 11 Desa (Status Desa) dan 72 Dusun.

Komposisi penduduk yang multi etnis terdiri dari berbagai suku bangsa antara lain : Jawa, Tapanuli, Karo, Minang, Melayu dan lain-lain. Penduduk mayoritas adalah suku Jawa dan Melayu. Agama yang dianut terdiri dari Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha, dimana Islam sebagai agama mayoritas. Sebagian besar rumah tangga memiliki mata pencaharian utama disektor pertanian, perkebunan dan lahan pertanian pada umumnya sawah tadah hujan

Table 4.1 Letak dan Geografis Daerah Kecamatan Batang Kuis

No Uraian Letak dan Geografis

1 P u l a u P r o p i n s i Kabupaten Kecamatan L e t a k L u a s Ketinggian I k l i m Curah Hujan Kecepatan Angin Penguapan Keadaan Tanah Keadaan Topografi Kelurahan/Desa Penduduk Sumatera Sumatera Utara Deli Serdang Batang Kuis 335 - 341 LU 41 - 46 BT 4.034 Ha 4 – 30 meter Rata-rata Max. 32 C Min. 22,4 C 1.821 mm/tahun 1,33 mm/dt 4,08 mm/hr

Umumnya putih campur pasir Relatif Datar

11 Desa (status desa) 62.348 Jiwa 2 Batas-Batas Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat

Kecamatan Pantai Labu

Kec. Beringin & Kec. Pantai labu Kecamatan Tanjung Morawa Kecamatan Percut Sei Tuan Sumber : kecamatan batangkuis dalam angka 2015

a. Potensi Site :

 Site berada di kawasan pintu gerbang aerotropolis kualanamu ini berpontensi menjadi kawasan berkembang sehingga akan banyak penduduk yang bermigrasi ke kasawasan dan semakin

banyaknya wisatawan yang berkunjung. Sehingga berpotensi menambah pengunjung mall nantinya.

 Lahan sekitar site masih berupa tanah kosong yang di tanaman jagung dan pepohonan. Ini berpotensi kepada perancangan karena perancang tidak perlu beradaptasi terhadap eksisting bangunan sekitarnya.

 Keadaan topografi relative datar sehingga tidak perlu lagi menimbun ataupun meratakan lahan yang mengakibatkan penambahan biaya pekerjaan.

 Lokasi perancangan berada di hook, ini berpotensi bangunan menjadi icon di kawasan ini.

b. Permasalahan site :

 Lahan perancangan merupakan lahan kosong yang ditanami pohon, perancangan pusat perbelanjaan di lokasi ini mengakibatkan pengurangan RTH.

 Lokasi berbatasan langsung dengan jalur cepat Bandar Udara Kualanamu.

c. Solusi:

 Pada perancang pusat perbelanjaan hendaknya meletakkan RTH di beberapa bagian bangunan agar RTH di lokasi eksisting sebelumnya tetap ada.

 Pembangunan jalur lambat kenderaan di site, sehingga pengunjung yang memasuki site tidak langsung dari jalur cepat yang menyebabkan kemacetan.

4.1.2 Analisa Sirkulasi

Gambar 4.2 analisa sirkulasi (sumber : olahan sendiri,2016) Keterangan :

- Jalur kenderaan 2 arah - Jalur kenderaan 1 arah 1. Potensi :

- Site terletak di kawasan yang cukup ramai di lalui kenderaan karena site dekat dengan Bandar Udara Kualanamu yang ramai di kunjungi masyarakat tiap hari. Jalan yang berada di kawasan cukup lebar.

2. Masalah :

- Jalan di depan site merupakan jalur cepat menuju bandara. 3. Solusi :

- Membuat jalur lambat di depan site untuk jalur kenderaan memasuki kawasan agar tidak terjadi kemacetan di jalur cepat.

Jalur kenderaan 2 arah, tidak padat

Jalur kenderaan 1 arah, padat dan

4.1.3 Analisa Ruang Terbuka

Gambar 4.3 analisa ruang terbuka (sumber : olahan sendiri,2016) 1. Potensi :

- Di sekitar site merupakan lahan kosong berupa pohon sejenis dan tanaman jagung yang merupakan ruang hijau. Pohon tertata rapi dan jarak antar pohon pun terukur. Ini berpotensi mengurangi pemanasan global di kawasan.

2. Masalah :

- Jenis pohon di sekitar site sama. Dari hasil analisa pohon yang di tanam di sekitar site untuk di jual setelah mencapai ukuran tertentu. Sehingga pohon di tanam bukan untuk kepentingan ruang hijau.

- Di sepanjang jalan tidak adanya pohon pembuffer polusi dari kenderaan yang melewati kawasan sehingga polusi langsung mengenai pemukiman warga sekitar dan juga site perancangan.

3. Solusi :

- Penanaman pohon di site yang bervariasi agar tidak terlihat monoton. Jenis dan ukuran pohon di pilih yang dapat menjadi peneduh. Pohon besar yang

mepunyai jenis yang sama

- Pohon yang di tanam sebagai ruang hijau dan tidak untuk diperjual belikan.

- Penanaman pohon di sisi jalan untuk mengurangi polusi yg di sebabkan kenderaan yang lewat.

4.1.4 Analisa Pedestrian

Gambar 4.4 analisa pedestrian (sumber : olahan sendiri,2016)

1. Potensi :

- Di sepanjang sisi jalan terdapat pedestrian dan drainase. Pedestrian ini mencakup sisi kanan dan kiri jalan.

2. Masalah :

- Pedestrian yang terdapat di sepanjang sisi jalan hanya berupa tanah, tidak adanya perbedaan ketinggian atara jalan dan pedestrian. 3. Solusi :

- Pedestrian di depan kawasan perlu dirancang, sehingga adanya perbedaan antara badan jalan dan pedestrian dan setiap pejalan kaki dapat aman saat berjalan di depan kawasan.

4.1.5 Analisa Penanda

Gambar 4.5 analisa penanda (sumber : olahan sendiri,2016)

1. Potensi :

- Di sepanjang sisi jalan terdapat beberapa penanda yang telah di tempatkan di titik yang tepat.

2. Masalah :

- Ada penanda yang tidak tepat seperti kenyataannya, seperti penanda zebra cross yang di tempatkan di suatu titik namun kenyataannya tidak ada zebra cross

3. Solusi :

4.1.6 Analisa Pendukung Kegiatan

Gambar 4.6 analisa pendukung kegiatan (sumber : olahan sendiri,2016)

1. Potensi :

- Pendukung kegiatan kawasan perancangan ini adalah Bandar udara kualanamu, terminal dan permukiman warga.

2. Masalah :

- Tidak adanya halte di sekitar kawasan perancangan mengakibatkan angkutan umum hanya melewati kawasan tanpa berhenti di tapak perancangan.

3. Solusi :

- Membuat halte di sekitar tapak perancangan demi mempermudah wisatawan yang datang dari luar sumatera utara dan juga masyarakat yang tidak memiliki kenderaan pribadi untuk mengunjung kawasan.

Pemukiman warga

Jalan menuju Badar Udara kualanamu

4.2Analisa Fungsional 4.2.1 Analisa Ruang

a. Ruang pengelola

Tabel 4.2 Ruang Pengelola

No Fungsi Jenis ruangan Standard m2/orang

Sumber Jumlah (unit)

Kapasitas Luas (m2)

1 Ruang pengelola Resepsionis 0,7 NAD 1 50 35

Ruang GM 4,5 NAD 1 5 22,5

Ruang wakil GM 4,5 NAD 1 4 18

Ruang sekretaris 4,5 NAD 1 2 9

Ruang tamu GM 5,4 NAD 1 4 21,6

Ruang kerja kabag

4,5 NAD 1 3 13,5

Ruang sekretaris 4,5 NAD 1 2 9

Ruang tamu 5,4 NAD 1 2 10,8

Ruang kerja kabag

4,5 NAD 1 3 13,5

Ruang sekretaris 4,5 NAD 1 2 9

Ruang tamu 5,4 NAD 1 2 10,8

Ruang staff 5-6 NAD 1 15 75

Ruang rapat 2 NAD 1 30 60

Ruang arsip 12 NAD 1 3 36

Ruang toilet 3 NAD 1 50 150

Ruang janiator 4 NAD 1 3 12

Ruang pantry 8 NAD 1 2 16

Sub total luas 521,7

Sirkulasi 20% 104,34 total 626.04

b. Fasilitas umum

Tabel 4.3 Fasilitas Umum

No

Fungsi Jenis ruangan Standard m2/orang

Sumber Jumlah (unit)

Kapasitas Luas (m2)

1 R. Informasi R. Informasi 2 NAD 1 6 12

2 Hall Hall 1,5 SB 1 500 750

3 ATM Center ATM Center 1 NAD 1 100 100

4 Mushollah Area sholat 2 NAD 1 70 140

Wudhu 1,2 NAD 2 18 36

Toilet 1,5 NAD 2 20 60

5 Toilet pria Bilik KM 1,5 NAD 75 1 112.5

Urinoir 0,24 NAD 25 1 60

Wastafel 0,3 NAD 25 1 75

6 Toilet wanita Bilik KM 1,5 NAD 25 1 112.5

Wastafel 0,3 NAD 25 1 75

Sub total luas 2.058

Sirkulasi 20% 411,6

total 2.469,6

(sumber : olahan sendiri,2016)

c. Fasilitas belanja

Tabel 4.4 Ruang Belanja

No

Fungsi Jenis ruangan Standard m2/orang Sumber Jumlah (unit) Kapasitas Luas (m2) 1 Men’s and Woman fashion

Display area 1,9 NAD 1 70 133,5

Fiting room 1,2 NAD 4 4 4,8

Kasir 2 NAD 1 2 4

Gudang 6,5 NAD 1 3 19,5

Sub Total Luas (9 retail) 9 x 161.3 1,451.7

2 Bakery Area makan 1,6 NAD 1 25 40

Storage 16 SB 1 1 16

Kasir 2 NAD 1 2 4

Sub Total Luas (2 retail) 2 x 67 128

3 Batik fashion Display area 1,9 NAD 1 40 76

Fiting room 1,2 NAD 4 2 2,4

Kasir 2 NAD 1 2 4

Gudang 6,5 NAD 1 3 19,5

Sub Total Luas ( 4 retail ) 4 x 101.9 407.6 4 Sportwear

equipment

Display area 1,9 NAD 1 35 85,5

Fiting room 1,2 NAD 4 2 2,4

Kasir 2 NAD 1 2 4

Fitting area(shoes) 0,36 NAD 4 10 14,4

Gudang 6,5 NAD 1 3 19,5

Sub Total Luas ( 2 retail ) 2 x 125.8 251.6

5 Beauty care Display area 1,9 NAD 1 48 91,2

Fiting room 1,2 NAD 4 10 12

Kasir 2 NAD 1 2 4

Gudang 6,5 NAD 1 2 13

Sub Total Luas ( 3 retail ) 3 x 120.2 360.6 6 Accessories

shop

Display area 1,9 NAD 1 15 28,5

Kasir 2 NAD 2 2 4

Sub Total Luas ( 6 retail ) 195

7 Hypermart Display area 1,5 NAD 1 2.400 3.600

Kasir 2 NAD 8 2 32

R.Penitipan 0,6 NAD 1 100 60

R.Pengelola 2,4 NAD 1 10 24

Gudang 200/unit NAD - - 200

Sub Total Luas (1) 3.916

8 Departemen store

Display area 1,5 NAD 1 7.000 10.500

Kasir 2 NAD 20 3 120

R.Pengelola 2,4 NAD 1 10 24

R.Karyawan 2,4 NAD 1 70 168

Gudang 100/unit NAD 5 - 500

Sub Total Luas (1) 11.492

9 Baby shop Ruangan 152 SB 1 - 152

10 Retail Ruangan 4x6/unit SB 270 - 6480

11 Souvenir Display area 1,9 NAD 1 11 20,9

Kasir 2 NAD 1 2 4

Sub Total Luas (34) 34 x 24,9 846,6

Sub total luas 25.505,1 Sirkulasi 20% 5.101,02 total 30.606,12

(sumber : olahan sendiri,2016)

d. Fasilitas Rekreasi

Tabel 4.5 Fasilitas rekreasi

No

Fungsi Jenis ruangan Standard m2/orang

Sumber Jumlah (unit)

Kapasitas Luas (m2)

1 Fast food Order area 1.2 NAD 1 8 9.6

Area makan 1.6 NAD 1 100 160

Dapur 1.4 NAD 1 10 14

Storage 16 SB 1 2 32

Wastafel 0.3 NAD 4 4 4.8

Sub Total Luas ( 4 Retail) 4 x 220 880

2 Café Entrance 1.2 NAD 1 6 7.2

Food & drink stealing 1.2 NAD 1 6 7.2

Area makan 1.6 NAD 1 55 88

Kasir 2 NAD 1 2 4

Dapur 1.4 NAD 1 7 9,8

Storage 12 SB 1 1 12

Sub Total Luas ( 16 Retail) 16 x 128,2 2.051

Area makan 1,6 NAD 1 70 112

Dapur 1,4 NAD 1 20 28

Storage 16 SB 1 2 32

Kasir 2 NAD 1 2 4

Westafel 0,3 NAD 1 4 1,2

Sub Total Luas ( 6 Retail) 6 x 220 1.320 4 Food

court

Area makan 1,6 NAD 1 200 320

Westavel 0,3 NAD 10 8 24

Counter 16/unit SB 10 - 160

Pantry 1,4 SB 10 10 140

Sub Total Luas 644

5 Bioskop Auditorium 0,8 NAD 5 200 800

Lobby 0,6 NAD 1 300 180 Loket 6,85 NAD 4 4 27,4 R.Karyawan 1,2-2 NAD 1 20 40 R.Admin 4,8-8 NAD 1 4 20 R.Proyektor 10-15 NAD 5 2 100 Gudang 25-30 NAD 1 2 60 Toilet 24 NAD 2 4 192 Cafeteria 4-5 NAD 1 10 50

Sub Total Luas 1.469,4

6 Fitness center

Fitness center 7,1 NAD 1 254 1800

7 Game zone

Game zone 2 NAD 1 500 1.000

Sub total luas 11.215,4 Sirkulasi 20% 2.243,08

total 13.458,48

e. Fasilitas Service

Table 4.6 fasilitas service

No Fungsi Jenis ruangan Standard m2/orang

Sumber Jumlah (unit)

Kapasitas Luas (m2)

1 Fasilitas service Loading dock 1,5 NAD 5 100 750

Tempat pengumpulan sampah

20 AS

2 2 40

Ruang fiterized tank

(air kotor) 20 AS

2 4 80

Ruang genset 60 NAD 2 2 120

Ruang PABX 50 NAD 2 1 50

Ruang ME 20 NAD 2 1 20

Ruang kontrol AHU 40 NAD 2 1 40

Ruang chiller 70 NAD 2 1 70

Ruang cooling

tower 50 NAD

2 1 50

Ruang ground tank 80 NAD 2 1 80

Ruang Monitor 20 AS 2 2 40

R.trafo 20 NAD 2 2 40

Ruang pompa air 20 NAD 2 2 40

Lift orang dan barang

1 NAD 2 20 10

Sub total luas 1.510

Sirkulasi 20% 302

Total 1.812 (sumber: olahan sendiri,2016)

Keteranagan:

NAD : Neufart Arsitek Data AS : Asumsi

f. Luas Seluruh Bangunan

Tabel 4.7 luas seluruh bangunan

No Nama Perzoning Luas

1 Ruang Pengelola 626.04 m2 2 Ruang Umum 2.469,6 m2 3 Fasilitas Belanja 30.606,12 m2 4 Fasilitas Rekreasi 13.458,48 m2 5 Fasilitas Service 1.812 m2 Total 48.972,24 m2

(sumber : olahan sendiri,2016)

g. Parkir

Berdasarkan standart jumlah parkir (Ir. Jimmy S Juwana, MSAE, Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Erlangga, Jakarta 2004), adalah:

 Menurut tingkat wilayah :

- 1 mobil untuk setiap 100 m2 lantai bruto: 48.972,24/100 = 490 mobil. 1 mobil memerlukan lahan 15 m2, jadi untuk 490 mobil memerlukan lahan: 15 x 490 = 7.350 m2. Sirkulasi 20%: 7.350 x 20/100 = 1.470 m2. Jadi lahan untuk parkir shopping mall sebesar 7.350 + 1.470 = 8.820 m2

- Jumlah 3 sepeda motor = 1 mobil sehingga 490 mobil: 3 x 490 = 1.470 motor. Setiap 1 motor memerlukan lahan 2 m2 : 2 x 1.470 = 2.940 m2

- Total keseluruhan parkir : 8.820 + 2.940 = 11.760 m2 4.2.2 Analisa Suasana Ruang

Tabel 4.8 analisa suasana ruang

Fungsi Kebutuhan ruang Persyaratan

Pusat

perbelanjaan

Kantor pengelola Pencapaian mudah

Hall Luas

Restoran Memerlukan view yang bagus

Café Memerlukan view yang bagus, suasana tenang dan nyaman

Supermarket Di sesuaikan dengan modul struktur Food court Memerlukan view yang bagus, suasana

tenang dan nyaman

Retail Di sesuaikan dengan modul struktur Mushollah Nyaman dan tenang

Area parkir Kemudahan dalam pencapaian (sumber : olahan sendiri,2016)

4.2.3 Analisa Bentuk

Massa bangunan terdiri dari massa tunggal yang disesuaikan dengan zona dan fungsinya, dimana satu sama lain saling berkaitan. Massa bangunan dapat mencerminkan fungsi dan identitasnya melalui simbol-simbol tertentu yang dapat diolah pada massa bangunan.

Transformasi bentuk massa bangunan :

 Karakter dan sifat dari sebuah pusat perbelanjaan dapat di transformasikan dalam betuk sebagai berikut :

A B C

A. Bentuk yang menunjukkan sesuatu yang murni dan rasional. Bentuk ini merupakan bentuk yang statis dan netral serta tidak memiliki arah ketentuan.

B. Bentuk yang terpusat, berarah kedalam dan pada umumnya bersifat stabil dan dengan sendirinya menjadi pusat dari lingkarannya. Penempatan sebuah lingkaran akan memperkuat sifat dasarnya sebagai poros.

C. Bentuk yang dapat menunjukkan stabilitas. Selain dari karakter dan fungsi bangunan tersebut bentukan massa dapat juga terbentuk dari respon atau tanggapan terhadap kondisi tapak dan iklim lingkungan. Dari analisa di atas massa bangunan

berbentuk kotak yang akan diterapkan pada pusat perbelanjaan dengan pertimbangan untuk memberi ketegasan dalam bangunan. Dan merespon fungsi bangunan yang bentuk ruangnya berbentuk grid.

4.3 Analisa Teknologi 4.3.1 Struktur

Tipe tanah tapak perancangan ini adalah tipe tanah putih campur pasir dengan topografi yang relative datar. Agar bangunan dapat berdiri kokoh di tapak ini maka perlu analisa struktur.

V Sistem struktur suatu bangunan pada umumnya terdiri dari struktur bawah (lower structure) dan struktur atas (upper structure).

a. Lower Structure

Lower Structure adalah struktur bawah bangunan atau pondasi. Karakter struktur tanah dan jenis tanah sangat menentukan jenis pondasi.. Ada beberapa persyaratan pokok struktur, yaitu:

 Keseimbangan, agar massa bangunan tidak bergerak

 Kestabilan, agar bangunan tidak goyah akibat gaya luar dan punya daya tahan terhadap gangguan alam, misalnya gempa, angin, dan kebakaran.

 Kekuatan, berhubungan dengan kesatuan seluruh struktur yang menerima beban.

 Fungsional, agar sesuai dengan fungsinya yang didasarkan atas tuntutan besaran ruang, fleksibilitas terhadap penyusunan unit-unit hunian, pola sirkulasi, system utilitas, dan lain-lain.

 Ekonomis, baik dalam pelaksanaan maupun pemeliharaan.

 Estetika struktur dapat merupakan bagian integral dengan ekspresi arsitektur yang serasi dan logis.

b. Upper Structure

Suatu bangunan dapat berdiri dengan kokoh memerlukan beberapa struktur di atas tanah atau yang di sebut dengan Upper Structure. Upper Structure atau Struktur atas suatu gedung adalah seluruh bagian struktur

gedung yang berada di atas muka tanah (SNI 2002). Struktur atas ini terdiri atas kolom, pelat, balok,dinding geser dan tangga, yang masing-masing mempunyai peran yang sangat penting.

 Material struktur

Penggunaan bahan – bahan secara tepat dan efisien membutuhkan pengetahuan yang luas akan sifat – sifat mekanisnya. Diantara sifat – sifat ini yang paling penting adalah kekuatan, kekakuan dan elastisitas. Secara umum ada 4 bahan struktur utama, yaitu : pasangan bata, kayu, baja, dan beton bertulang. Berikut ini akan dijelaskan kelebihan dan kekurangan masing – masing material struktur :

 Bata

 Kelebihan :

1. Memiliki kekuatan tekan yang cukup

2. Dapat digunakan pada bangunan dalam dan luar bangunan 3. Mudah didapat dan harganya relatif murah

 Kekurangan :

1. Biasanya sangat rapuh atau getas, berat dan tidak punya daktilitas.

2. Kekuatan tarik dan geser relatif rendah

3. Ketika momen lentur yang besar terjadi akibat tekanan angin pada dinding luar, maka tingkat tegangan lentur tarik harus dipertahankan supaya tetap rendah sehingga dibutuhakan ketebalan dinding yang besar.

 Kayu

 Kelebihan :

1. Kemuluran terjadi sedikit pada suhu kamar

2. Bisa digunakan dalam bentuk alamiahnya, hanya perlu diolah menjadi bentuk yang sesuai untuk penggunaan praktis

 Kekurangan :

1. Mudah rusak karena pembusukan, pengrusakan akibat jamur dan serangga

2. Mudah terbakar

3. Mengalami kembang susut akibat kelembaban relatif lingkungan yang berubah terus – menerus sehingga kadar kelembaban dan ukuran kayu juga berubah terus – menerus

4. Kekuatan kayu dipengaruhi oleh arah serat kayu dan arah beban yang bekerja. Kekuatan kayu dalam tarik dan tekan relatif sama jika beban bekerja sejajar serat kayu, tetapi jika beban tegak lurus terhadap serat kayu, mengakibatkan kekuatannya kecil karena serat dengan mudah dapat dihancurkan

5. Tidak cocok untuk struktur dengan bentang yang sangat panjang dan struktur yang sangat tinggi.  Baja

 Kelebihan :

1. Mempunyai kekuatan tarik dan tekan yang tinggi dan sangat kuat

2. Ulet, daktil dan elastik

3. Effisiensi struktur tinggi, yaitu perbandingan antara kekuatan terhadap beratnya

4. Memungkinkan diperolehnya hasil struktur yang ringan, ramping, rapi dan presisi yang tinggi

5. Cocok untuk struktur dengan bentang yang sangat panjang dan struktur yang sangat tinggi

6. Cocok untuk struktur yang bersifat statis tentu  Kekurangan :

1. Mahal

3. Mudah terkena korosi akibat ketidak stabilan kimianya yang tinggi

4. Bila digunakan untuk kerangka bangunan yang sifatnya kaku atau frame, potongan – potongan baja yang terpisah harus disambung secara efektif dan tidak mudah untuk mendapatkan hasil sambungan kaku yang benar – benar bagus

5. Sambungan baut kurang efektif untuk penyebaran beban karena lubang baut mengurangi ukuran efektif penampang elemen(perlemahan) dan mengakibatkan konsentrasi tegangan

6. Sambungan keling dapat rusak bila mengalami beban diluar kemampuan ketahanannya, baik kerusakan dalam arah geser, dukung ( tekan ) maupun tarik 7. Sambungan las lebih rapi dan menyebarkan tegangan

lebih efektif tapi berbahaya jika dikerjakan secara tidak sempurna. Proses pengelasan menuntut ketrampilan dan keahlian yang tinggi. Untuk alasan

– alasan tersebut pengelasan di tempat bangunan biasanya dihindari dan dilakukan di pabrik tapi konsekuensinya kebutuhan pengangkutan elemen ke lokasi membatasi ukuran dan bentuk dari komponen itu sendiri.

 Beton

 Kelebihan : 1. Murah

2. Kuat terhadap tekan 3. Tahan api

4. Mudah dicetak kedalam variasi bentuk yang luas sesuai yang diinginkan

5. Bahan – bahan lain dapat ditambahkan atau digabungkan kedalamnya dengan mudah untuk menambahkan sifat yang dimilikinya

6. Proses pencetakan memberikan sambungan antar elemen yang sangat efektif dan menghasilkan struktur yang menerus yang bisa menaikkan effisiensi struktur

7. Cocok untuk struktur dengan bentang yang sangat panjang dan sangat tinggi

 Kekurangan :

1. Kekuatan dalam arah tarik dan geser relatif rendah 2. Berat jenis tinggi

 Struktur kolom dan balok

Pusat perbelanjaan memiliki ruangan-ruangan berbentuk grid. Struktur yang dipakai adalah struktur rigid frame. Sistem struktur ini terdiri dari kolom dan balok yang bekerja saling mengikat satu dengan yang lainnya.

 Struktur kolom

Kolom merupakan elemen tekan, karena disamping memikul gaya tekan juga memikul momen lentur dalam dua arah (biaxial bending). Dengan adanya gaya tekan ini maka timbul fenomena tekuk (buckling) yang harus ditinjau pada kolom, terutama terjadi pada kolom panjang. Apabila kolom tersebut telah menekuk maka kolom tersebut tidak mempunyai kemampuan lagi untuk menerima beban tambahan. Sedikit 38 saja penambahan beban akan terjadi keruntuhan.

Dengan demikian kapasitas memikul beban untuk elemen kolom ini adalah besar beban yang menyebabkan elemen tersebut mengalami tekuk awal. Elemen kolom menerima beban lentur dan beban aksial, menurut SKSNI 03- 1726-2002 pasal 3.2.2 untuk perencanaan kolom yang menerima beban lentur dan beban aksial ditetapkan koefisien reduksi bahan 0,8 sedangkan pembagian

tulangan pada kolom ( berpenampang segi empat ) dapat dilakukan dengan:

- Tulangan dipasang simetris pada dua sisi kolom (two faces) - Tulangan dipasang pada empat sisi kolom (four faces) Pada perencanaan gedung ini dipakai perencanaan kolom dengan menggunakan tulangan pada empat sisi penampang kolom (four faces).

 Struktur balok

Dalam pradesain tinggi balok menurut RSNI 2002 merupakan fungsi dari bentang dan mutu baja yang digunakan. Secara umum pradesain tinggi balok direncanakan L/10 - L/15, dan lebar balok diambil 1/2H - 2/3H dimana H adalah tinggi balok.

Pada perencanaan balok maka pelat dihitung sebagai beban dimana pendistribusian gayanya menggunakan metode amplop. Dalam metode amplop terdapat 2 macam bentuk yaitu pelat sebagai beban segi tiga dan pelat sebagai beban trapesium.

Perhitungan penulangan balok struktur beton menggunakan program SAP 2000. Prosedur desain elemen-elemen balok dari

struktur dengan SAP 2000 terdiri tiga tahap sebagai berikut: • Desain tulangan pokok untuk menahan momen lentur • Desain

tulangan geser (sengkang) untuk menahan gaya geser • Desain

tulangan untuk menahan torsi.  Analisa plat lantai

Pelat merupakan panel-panel beton bertulang yang mungkin bertulangan dua atau satu arah saja tergantung sistem strukturnya. Apabila pada struktur pelat perbandingan bentang panjang terhadap lebar kurang dari 2, maka akan mengalami lendutan pada kedua arah sumbu. Beban pelat dipikul pada kedua arah oleh balok pendukung sekeliling panel pelat, dengan demikian pelat akan melentur pada kedua arah. Dengan sendirinya pula penulangan untuk pelat tersebut harus menyesuaikan. Apabila panjang pelat sama dengan lebarnya, perilaku keempat balok keliling dalam

menopang pelat akan sama. Sedangkan bila panjang tidak sama dengan lebar, balok yang lebih panjang akan memikul beban lebih besar dari balok yang pendek (penulangan satu arah). 24 Dimensi bidang pelat dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Gambar 2.2 Dimensi bidang pelat Langkah perencanaan penulangan pelat adalah sebagai berikut ini: 1. Menentukan syarat-syarat batas, tumpuan dan panjang bentang. 2. Menentukan tebal pelat lantai (berdasarkan rumus SKSNI 03-xxxx-2002).

 Analisa tangga

Struktur tangga digunakan untuk melayani aksebilitas antar lantai pada gedung yang mempunyai tingkat lebih dari satu. Pada bangunan berlantai banyak tangga merupakan komponen yang harus ada karena selain sebagai akses vertikal juga difungsikan untuk tangga darurat jika peralatan transportasi vertikal lainnya tidak berfungsi atau bila terjadi kebakaran.

Gambar 4.7 Sketsa tangga (sumber : olahan sendiri,2016) Adapun parameter yang perlu diperhatikan pada perencanaan struktur tangga adalah sebagai berikut:

- Tinggi antar lantai - Tinggi Antrede - Jumlah anak tangga - Kemiringan tangga - Tebal pelat beton - Tinggi Optrede - Lebar bordes

- Lebar anak tangga - Tebal selimut beton - Tebal pelat tangga

Gambar 4.8 pendemensian tangga (sumber : olahan sendiri,2016)

Keterangan : - o = langkah naik - a = langkah datar

Perhitungan gaya-gaya dalam yang terjadi pada struktur tangga dilakukan dengan menggunakan program SAP 2000. Untuk perhitungan penulangan pelat tangga dapat mengikuti prosedur yang sama dengan penulangan pelat lantai setelah didapat gaya - gaya dalam yang ada dalam output SAP 2000.

 Analisa lift

Lift merupakan alat transportasi manusia dalam gedung dan satu tingkat ke tingkat lain. Perencanaan lift disesuaikan dengan pemikiran jumlah lantai dan perkiraan jumlah pengguna lift. Dalam perencanaan lift, metode perhitungan yang dilakukan merupakan analisis terhadap konstruksi ruang tempat lift dan balok penggantung katrol lift. Ruang landasan diberi kelonggaran supaya pada saat lift mencapai lantai paling bawah, lift tidak menumbuk dasar landasan, disamping berfungsi pula menahan lift apabila terjadi kecelakaan, misalnya tali putus.

4.3.2 Analisa Utilitas

A. Pencahayaan

Pencahayaan pada bangunan terbagi dua yaitu pencahayaan alami dan buatan. Pemakaian pencahayaan buatan terlalu banyak dapat

Dalam dokumen Pusat Perbelanjaan Batangkuis (Halaman 4-120)

Dokumen terkait