• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Sarana Proteksi Kebakaran Aktif

2.4.1. Detektor Kebakaran

Detektor adalah alat untuk mendeteksi kebakaran secara otomatis, yang dapat dipilih berdasarkan type yang sesuai dengan karakteristik ruangan, diharapkan dapat mendeteksi secara cepat, akurat, dan tidak memberikan informasi palsu (Depnerkertrans, 2008). Detektor dibagi menjadi 4 macam jenis, yaitu: Detektor panas, Detektor asap, Detektornyala api, dan Detektor gas kebakaran (SNI 03-3985-200).

1. Detektor Panas

Detektor panas adalah alat yang mendeteksi tempratur tinggi atau laju kenaikan temperatur yang tidak normal. Detektor panas dibagi menjadi:

- Detektor bertemperatur tetap yang bekerja pada suatu batas panas tertentu (fixed temperature)

- Detektor yang bekerja berdasarkan kecepatan naiknya temperatur ROR (Rate of Rise).

- Detektor Kombinasi yang bekerjanya berdasarkan kenaikan temperatur dan batas temperatur maximum yang ditetapkan.

2. Detektor Asap

Detektor asap adalah asap alat yang mendeteksi partikel yang terlihat atau yang tidak terlihat dari suatu pembakaran. Detektor asap terdapat 2 jenis, yaitu :

- Detektor optik, pekerja dengn berdasarkan sifat inframerah yang ditempatkan dalam suatu unit kecil. Jika asap masuk kedalam alat ini maka akan mengacaukan jalan nya inframerah dan dimanfaatkan untuk pendeteksian.

- Detektor ionisasi, mengandung sejumlah kecil bahan radio aktif yang mengionisasi udara diruang pengindra. Apabila partikel asap memasuki Chamber maka akan menyebakan daya hantar listrik.

Jika penurunan daya hantar tersebut jauh dibawah tingkat yang ditentukan detektor maka alarm akan berbunyi. (Peraturan menteri tenaga kerja nomor. Per02/Men/1983 tentang intslasi kebakaran otomatis).

3. Detektor nyala api

Menurut Peraturan menteri tenaga kerja nomor. Per02/Men/1983 tentang intslasi kebakaran otomatis, detektor nyala apai adalah

detektor yang bekerja berdasarkan radiasi nyala api. Terdapat 2 tipe detektor, yaitu:

o Detektor nyala api ultraviolet, yaitu detektor nyala api yang disiapkan untuk melidungi benda-benda yang bila terbakar banyak memancarkan cahaya putih kebiruan.

o Detektor nyala api infra merah yaitu detektor nyala api yang disispakan untuk melindungi benda-benda yang biala terbakar banyak memancrakan cahaya kemerah-merahan.

4. Detektor gas kebakaran

Detektor gas kebakaran adalah alat detektor bekerjanya berdasarkan kenaikan konsentrasi gas yang timbul akibat kebakaran ataupun gas- gas lainnya yang mudah terbakar (Peraturan menteri tenaga kerja nomor. Per02/Men/1983 tentang intslasi kebakaran otomatis).

2.4.2. Alarm

Alarm kebakaran adalah suatu komponen dari sistem yang memberikan isyarat atau tanda adanya suatu kebakaran. Menurut Kepmen PU No. 26/PRT/M/2008, tujuan pemasangan Alarm kebakaran adalah untuk memberikan isyarat peringatan kepada penghuni akan adanya bahaya kebakaran. Sehingga dapat melakukan tindakan proteksi dan penyelamatan dalam kondisi darurat dan juga untuk memudahkan petugas pemadam kebakaran mengidentifikasi

titik awal terjadinya kebakaran

Alarm terbagi menjadi 2 jenis menurut cara kerjanya, yaitu :

1. Alarm kebakaran yang memberikan isyarat atau tanda berupa bunyi khusus. Alarm kebakaran harus memnuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a) Mempunyai bunyi serta irama yang khas sehingga mudah dikenal sebagai alarm kebakaran

b) Bunyi alarm tersebut mempunyai frekuensi kerja antara 500-1000 Hz dengan tingkat kekerasan suara 65 dB.

c) Untuk ruangan dengan tingkat kebisingan normal yang tinggi, tingkat kekerasan alarm audio 5 dB lebih tinggi dari kebisingan normal.

d) Untuk ruangan yang kemungkinan digunakan untuk tidur atau istirahat, tingkat kekerasan alarm audio minimal 75 dB.

2. Alarm kebakaran yang memberikan isyarat atau tanda yang tertangkap pada pandangan mata secara jelas (Permennaker No.Per02/Men/1983).

2.4.3. Sprinkler

Sprinkler merupakan pemadam kebakaran yang paling efektif jika dibandingkan dengan sistem yang lain. Oleh karena itu sistem sprinkler sangat penting digunakan pada bangunan gedung termasuk tempat parkir. Dalam SNI 03-3989-2000 butir 3.1, disebutkan instalasi sprinkler adalah suatu sistem instalasi pemadam kebakaran yang

memadamkan kebakaran secara otomatis dengan menyemprotkan air di tempat mula terjadinya kebakaran. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomer. 26/PRT/M/2008, menjelaskan sprinkler otomatis harus dipasang dan sepenuhnya siap beroperasi dalam jenis hunian yang dimaksud dalam persyaratan teknis ini atau dalam persyaratan teknis/standar yang dirujuk, dan pemasangannya harus sesuai dengan SNI 03-3989-2000, dalam hal teknik pemasangan, teknik dan syarat pemasokan air, dan lain-lain. (Taufan, 2011).

Menurut NFPA 13 Sistem sprinkler dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

1. Dry Pipe System

Adalah suatu sistem yang menggunakan sistem sprinkler otomatis yang disambungkan dengan sistem perpipaannya yang mengandung udara atau nitrogen bertekanan. Pelepasan udara tersebut akibat adanya panas mengakibatkan api bertekanan membuka Dry Pipe valve

2. Wet Pipe System

Sistem sprinkler yang bekerja secara otomatis tergabung dengan pipa yang berisi air dan terhubung dengan supply air sehingga air yang dikeluarkan dengan segera dari sprinkler yang terbuka oleh

adanya panas api.

3. Deluge System

Adalah suatu sistem yang menggunakan kepala sprinkler terbuka disambungkan pada sistem perpipaan yang dihubungkan ke supply air melalui valve. Valve ini dibuka dengan cara mengoperaskan sistem deteksi yang terpasang pada area yang sama dengan sprinkler.

Ketika valve dibuka, maka air akan mengalir ke dalam sistem perpipaan dan dikeluarkan dari seluruh sprinkler yang ada.

4. Pre-action System

Sistem sprinkler yang bekerja secara otomatis yang disambungkan dengan sistem pipa udara yang bertekanan atau tidak, dengan tambahan sistem deteksi yang tergabung pada area yang sama dengan sprinkler. Penggerak sistem deteksi membuka katup yang membuat air dapat mengalir ke sistem pipa sprinkler dan air akan dikeluarkan melalui beberapa sprinkler yang terbuka.

5. Combine Dry Pipe - Pre-action

Sistem sprinkler bekerja secara otomatis dan terhung dengan sistem yang mengandung air dibawah tekanan yang dilengkapi dengan sistem deteksi yang terhubung pada suatu area dengan sprinkler.

Sistem operasi deteksi menemukan sesuatu dengan janggal yang dapat membuka pipa kering secara simultan dan tanpa adanya kekurangan tekanan air di dalam sistem tersebut.

Menurut SNI 03-3989-2000 sistem sprinkler dikenal dengan dua macam, yaitu : sprinkler berdasarkan arah pancaran dan sprinkler berdasarkan kepekaan terhadap suhu. Berikut ini klasifikasi kepala sprinkler :

1. Berdasarkan arah pancaran : - Pancaran ke atas

- Pancarkan ke bawah - Pancaran arah dinding

2. Berdasarkan kepekaan terhadap suhu 1. Warna segel

- Warna putih pada temperatur 93ºC - Warna biru pada temperatur 141 ºC - Warna kuning pada temperatur 182 ºC - Warna merah pada temperatur 227ºC

- Tidak berwarna pada temperatur 68 ºC / 74 ºC 2. Warna cairan dalam tabung gelas :

- Warna jingga pada temperatur 53ºC - Warna merah pada temperatur 68ºC - Warna kuning pada temperatur 79ºC - Warna hijau pada temperatur 93ºC - Warna biru pada temperatur 141ºC - Warna ungu pada temperatur 182ºC

- Warna hitam pada temperatur 201ºC / 260 ºC

Menurut Kepmen PU No.02/KPTS/1985 penyedian air sprinkler dapat diusahakan melalui :

1. Tangki Gravitasi

Tangki tersebut harus direncanakan dengan baik yaitu dengan mengatur perletakan, ketinggian, kapasitas penampungnya sehingga dapat menghasilkan aliran dengan tekanan yang cukup pada kepala sprinkler.

2. Jaringan Air Bersih

Jaringan air bersih digunakan apabila kapasitas dan tekanannya memenuhi syarat yang ditentukan. Diameter pipa air bersih yang dihubungkan dengan pipa tegak sprinkler harus berdiameter sama, dengan ukuran minimum 100 mm. Pipa yang menuju ke jaringan air bersih harus sama dengan pipa sprinkler dengan pipa minimum 100 mm.

3. Tangki Bertekanan

Tangki tersebut harus direncanakan baik, yaitu dengan memberikan alat deteksi yang dapat memberikan tanda apabila tekanan dan tinggi muka air dalam tangki turun melalui batas yang ditentukan. Isi tangki harus selalu terisi 2/3 bagian kemudian diberi tekanan sekurang-kurangnya 5Kg/cm².

4. Tangki Mobil Kebakaran

Bila tangki gravitasi tangki bertekanan dan jaringan air bersih tidak berfungsi dengan normal dapat dipompakan air dari tangki

mobil unit pemadam kebakaran dengan ukuran minimum 100 mm.

2.4.4. Hydrant

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 10/KPTS/2000 hydrant adalah alat yang dilengkapi dengan selang dan mulut pancar untuk mengeluarkan air yang betekanan, yang digunakan bagi keperluan pemadam kebakaran. Sistem hydrant terdiri dari :

1. Sumber persediaan air yaitu air harus diperhitungkan untuk digunakan minimum selama 30 menit.

2. Pompa kebakaran dan peralatan listrik yaitu harus memiliki sumber aliran dari sumber dari sumber listrik darurat.

3. Selang kebakaran yaitu berdiameter 1,5 inchi terbuat dari bahan yang tahan panas dan memiliki panjang minimum30 meter.

4. Harus ada kopling penyambung yang sama dengan kopling pemadam kebakaran dan peralatan lainnya.

5. Semua peralatan hydrant harus dicat merah.

Klafikasi hydrant kebakaran berdasarkan jenis dan penempatannya dibagi dua jenis, yaitu:

1. Hydrant gedung (indoor hydrant)

Hydrant gedung adalah hydrant yang terletak didalam suatu bangunan atau gedung dan instalasi serta peralatan disediakan serta dipasang

dalam bangunan atau gedung tersebut. Hydrant gedung menggunakan pipa tegak 4 inchi, pajang selang selang minimum 15 meter, berdiameter 1,5 inchi serta mampu mengalirkan air 380 liter/menit.

2. Hydrant halaman (outdoor hydrant)

Hydrant halaman adalah hydrant yang terletak diluar bangunan atau gedung, sedangkan instalasi serta peralatannya disediakan serta di pasang dilingkungan bangunan atau gedung tersebut. Hydrant halaman biasanya menggunakan pipa induk 4-6 inchi. Panjang selang 30 meter dengan diameter 2,5 inchi serta mampu mengalirkan 950 liter/menit. Setiap bangunan industry harus dilindungi dengan instalasi hydrant kebakaran dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Panjang selang dan pancaran air dapat menjangkau seluruh bangunan yang dilindungi.

2. Setiap bangunan dengan bahaya kebakaran ringan yang mempunyai luas lantai 1000 m² dan maksimum 2000m² harus dipasang minimum dua titik hydrant, setiap penambahan luas lantai maksimum 1000m², harus ditambah minimum satu titik hydrant.

3. Setiap bangunan industry dengan bahaya kebakaran sedang yang mempunyai luas 800 m² dan maksimum 1600 m² harus dipasang minimum dua titik hydrant, setiap penambahan luas

lantai maksimum 800 m² harus ditambah minimum satu titik hydrant.

4. Setiap bangunan industry dengan bahaya kebakaran tinggi yang mempunyai luas 600 m² dan maksimum 1200 m² harus dipasang minimum dua titik hydrant, setiap penambahan luas lantai maksimum 600 m² harus ditambah minimum satu titik hydrant.

5. Pemasangan hydrant maksimal 50 feet (15 meter) dari unit yang dilindungi. Untuk system persediaan air untuk hydrant dapat berasal dari PDAM, sumur arthesis, sumur gali, dengan system penampungan, tangka gravitasi, tangka bertekanan reservoir air dengan system pemompaan.

Pompa kebakaran harus tersedia dua unit dengan kapasitas yang sama ditambah dengan satu unit pompa pacu, dimana satu unit sebagai pompa utama dan lainnya sebgai cadangan. Kalau bangunan mempunyai smberdaya listrik dari disel, genset sebagai cadangan, maka popma hydrant dalam bangunan tersebut harus terdiri dari pompa hydrant listrik, satu beroperasi dn satu sebagai cadangan.

Selang pemadam kebakaran dibuat secara khusus dari bahan kanfas, polyester dan karet sesuia dengan fungsi yang diperlukan dalam pemadam , yaitu:

a) Harus kuat menahan tekana air yang tinggi

b) Tahan gesekan

c) Tahan pengaruh zat kimia d) Mempunyai sifat yang kuat e) Ringan dan elastis

f) Panjang selang air 30 meter dengan ukuran diameter 1.5 inchi sampai dengan 2.5 inchi

Nozzle memiliki dua tipe yaitu jet (fixed Nozzle) dan Nozzle kombinasi. Jenis jet digunakan untuk semprotan jauh, sedangkan Nozzle kombinasi dapat diatur dengan bentuk jenis pancaran lurus dan pancaran spray (Kepmen PU No.10/KPTS/2008).

Untuk pemasangan hydrant, menurut Kepmen PU No.10/KPTS/2008 dan NFPA sebagai berikut :

a) Pipa pemancar harus sudah terpasang pada selang kebakaran.

b) Hydrant gedung mengunakan pipa tegak 6 inchi, harus dilengkapi dengan kopling berdiameter 2.5 inchi dengan bentuk dan ukuran yang sama dengan kopling unit pemadam kebakaran dan ditempatkan pada tempat yang mudah dijangkau unit pemadam kebakaran

c) Hydrant halaman disambung dengan pipa dengan ukuran 6 inchi dan ditempatkan pada tempat yang mudah dijangkau unit pemadam kebakaran.

d) Hydrant halaman mempunyai 2 kopling pengeluaran dengan diameter minimum 4 inchi dan mempunyai 3 kopling pengeluaran dengan diameter pembuka 6 inchi

e) Kotak hydrant harus mudah dibuka, dilihat, dijangkau dan tidak terhalang dengan benda lain.

f) Kabinet hydrant berada pada ketinggian 30.5 cm dari lantai.

Dokumen terkait