• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Sarana Proteksi Kebakaran Pasif

Sarana proteksi kebakaran pasif dapat diidentifikasi sebagai system perlindungan terhadap kebakaran yang dilaksanankan dengan melakukan pengaturan terhadap komponen bangunan gedung dari aspek arsitektur dan struktur sedemikian rupa sehingga dapat melindungi penghuni dan benda dari keruskaan fisik saat terjadi kebakaran (Kepmen PU NO.10/KPTS/2008).

Dapat disimpulkan bahwa perencanaan struktur disini berkaitan dengan kemampuan bangunan untuk tetap kokoh pada saat terjadi kebakaran.

Sedangkan perencanaan knstruksi berkaitan dengan jenis material yang digunakan. Material yang mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap api akan lebih baik terhadap pencegahan penjalaran api, pengisolasian daerah yang terbakar serta memberikan waktu yang cukup untuk melakukan evaluasi penghuni. Hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan system ini antara lain :

1. Pemilihan material bangunan yang memperhatikan sifat material a) Sifat penjalaran dan penyebaran api

b) Kemampuan terbakarnya material c) Sifat penyalaan material bila terbakar

d) Sifat racun akibat reaksi kimia yang ditimbulkan pada saat bahan tersebut terbakar

2. Kemampuan atau daya tahan bahan struktur dari komponen-komponen struktur. Komponen struktur seperti rangka atap, lantai, dan balok adalah tulang-tulang kekuatan pada bangunan. Perencanaan yang optimal dari hal yang dimaksudkan adalah :

a) Meminimalkan kerusakan pada bangunan b) Mencegah penjalaran kebakaran

c) Melindungi Penghuni

3. Penataan ruang, terutama dengan areal yang rawan bahaya kebakaran, maka dipilih material struktur yang lebih tahan api.

2.4.1. Jalan Keluar Darurat

Menurut Perda DKI Jakarta No 7 tahun 2010, sarana jalan keluar adalah jalan yang tidak terputus atau terhalang menuju suatu jalan umum, termasuk di dalamnya pintu penghubung, jalan penghubung, tanggal kedap asap, pintu jalan keluar, dan halaman luar.

Sedangkan jalan keluar adalah jalan yang diamankan dari ancaman bahaya kebakaran dengan dinding, langit-langit, dan pinttu jalan keluar yang tahan api.

Sarana jalan keluar yang digunakan pada saat kebakaran di industi harus bebas dari halangan apapun juga karena untuk memperlancar jalannya evakuasi penghuni gedung untuk keluar menuju tempat yang aman. Selain itu, sarana jalan keluar harus tidak licin, mempunyai lebar 1,8 meter dan dilengkapi tanda-tanda petunjuk

yang menunjukkan arah ke pintu darurat atau pintu kebakaran (NFPA 101).

2.4.2. Tanda Petunjuk Keluar

Arah jalan keluar harus diberi tanda sehingga dapat terlihat dengan jelas dan dapat dengan mudah ditemukan. Tanda jalan keluar dan tanda yang menunjukkan jalan keluar harus mudah terlihat dan dapat terbaca. Tanda jalan keluar yang jelas akan memnudahkan dan mempercepat proses evakuasi karena menghilangkan keraguan penghuni gedung pada saat terjadi peristiwa kebakaran (NFPA 101).

2.4.3. Pintu Darurat

Pintu darurat adalah pintu yang digunakan sebagai jalan keluar untuk usaha penyelamatan penghuni gedung pada saat terjadi kebakaran. Dan pintu harus membuka keluar dan jika tertutup maka tidak bisa dibuka dari luar (Self-Closing Door). Pintu darurat tidak boleh ada yang menghalangi baik di depan maupun belakang dan tidak boleh dikunci (NFPA 101).

2.4.4. Penerangan Darurat

Pada peristiwa kebakaran biasanya disertai dengan padamnya listrik utama. Timbulnya produk pembakaran seperti asap dapat memperburuk keadaan karena kepekatan asap dapat membuat penghuni gedung menjadi sulit untuk melihat dan membuat penghuni gedung menjadi panik. Oleh karena itu, penting disediakan sumber

energi cadangan untuk penerangan darurat, baik tanda arah jalan keluar maupun jalan keluar darurat.

Adapun persyaratan NFPA 101 dari penerangan darurat, yaitu :

a) Sinar lampu berwarna kuning, sehingga dapat menembus asap serta tidak menyillaukan

b) Ruangan yang disinari adalah jalan menuju pintu darurat

c) Sumber tenaga didapat dari baterai atau listrik dengan instalasi kabel yang khusus, sehingga saat ada api, lampu tidak perlu dimatikan

2.4.5. Tempat Berhimpun

Tempat berhimpun adalah tempat di area sekitar atau di luar lokasi yang dijadikan sebagai tempat berhimpun atau berkumpul setelah proses evakuasi dan dilakukan perhitungan saat tejadi kebakaran. Tempat berhimpun darurat harus aman dari bahaya kebakaran dan alirannya. Tempat ini pula merupakan lokasi akhir yang dituju sebagai digambarkan dalam route evakuasi (NFPA 101).

2.4.6. Penghalang api

Penghalang api yang digunakan untuk membentuk ruangan tertutup, pemisah ruangan atau proteksi sesuai persyaratan teknis ini dan ketentuan yang berlaku tentang “Persyaratan Teknis Keselamatan Jiwa” dan peraturan ini diklasifikasikan sesuai dengan salah satu tingkat ketahanan api sebagai berikut : (1) Tingkat ketahanan api 3

jam (2) Tingkat ketahanan api 2 jam (3) Tingkat ketahanan api 1 jam (4) Tingkat ketahanan api ½ jam

2.4.7. Pintu dan Jendela Tahan Api

Bukaan yang dipersyaratkan memiliki tingkat ketahanan api harus diproteksi dengan pasangan konstruksi pintu atau jendela tahan api yang disetujui, terdaftar (listed) dan berlabel, termasuk dalam hal ini semua rangka, peralatan penutup, angker dan ambang pintu/jendela (sill) harus memenuhi persyaratan kecuali ditentukan lain dalam persyaratan teknis ini. Tingkat ketahanan api untuk produk yang harus memenuhi persyaratan butir 4.7.3 harus ditentukan dan dilaporkan oleh lembaga uji nasional, sesuai dengan persyaratan teknis ini dan ketentuan yang berlaku tentang, “StandarMetoda Uji untuk Pengujian Api untuk Pasangan Konstruksi PintuKebakaran6. Ketentuan yang berlaku tentang "Standar tata cara pengujian untuk pengujian api dari pasangan konstruksi pintu, termasuk Uji Tekanan Positif untuk Pasangan Konstruksi Pintu Ayunjenis Pengunci Samping (Side Hinged) dan jenis Poros (Pivoted”)8 , Ketentuan yang berlaku tentang

“Standar Uji Pasangan Konstruksi Pintu Kebakaran”9 atau, “Standar UjiPintu Kebakaran dengan Tekanan Positif,10 atau “Standar Pengujian Api terhadap Pasangan Konstruksi Jendela dan Blok Kaca

(Glass Block)

2.4.8. Bahan Pelapis Interior

Bahan pelapis interior dalam bangunan gedung dan struktur harus memenuhi persyaratan teknis ini dan ketentuan yang berlaku tentang “Persyaratan Teknis Keselamatan Jiwa”. Kelengkapan bangunan gedung, perabot, dekorasi dan bahan pelapis yang diberi perlakuan pada bangunan gedung dan struktur harus memenuhi persyaratan teknis ini dan ketentuan yang berlaku tentang

“PersyaratanTeknis Keselamatan Jiwa”

2.4.9. Kontstruksi

Apabila dipersyaratkan dalam persyaratan teknis ini, jenis konstruksi bangunan gedung harus memenuhi Ketentuan baku atau standar yang berlaku tentang, “Standar Tipe Konstruksi Bangunan gedung”. Hal-hal pokok menyangkut kontruksi pengamanan terhadap bahaya kebakaran untuk hunian baru dan yang sudah ada harus memenuhi persyaratan teknis ini dan ketentuan baku atau standar yang berlaku tentang “Persyaratan Teknis Keselamatan Jiwa”.

2.4.10. Dinding

Bahan, pasangan konstruksi dan sistem tahan api yang digunakan harus dibatasi pada bahan, pasangan konstruksi dan sistem yang diperbolehkan menurut persyaratan teknis ini. Hanya kaca tahan api yang telah diuji menurut persyaratan teknis ini dan ketentuan yang berlaku tentang “Standar Tatacara Pengujian Ketahanan Api pada

Bahan kaca tahan api jenis baru harus mencantumkan label W-XXX, dimana XXX adalah tingkat ketahanan api dalam ukuran menit.

Penandaan semacam itu harus secara permanen dibubuhkan. Bahan dan detil konstruksi untuk pasangan konstruksi dan sistem tahan api untuk dinding, harus memenuhi persyaratan teknis ini kecuali ada modifikasi. Dinding-dinding dan partisi dalam yang terbuat dari konstruksi yang tidak simetris harus di evaluasi dari kedua arah dan ditentukan tingkat ketahanan api didasarkan pada ukuran terkecil yang diperoleh dari hasil pengujian sesuai persyaratan teknis ini dan ketentuan yang berlaku tentang, “Standar Tatacara Pengujian Ketahanan Api pada BahanBangunan gedung dan Konstruksi”5.

Apabila dilakukan pengujian pada dinding dengan hanya sebagian kecil dari permukaan dinding yang tahan api terekspos ke tungku, maka dinding tersebut tidak dipersyaratkan untuk dilakukan pengujian dari arah sebaliknya.

Dokumen terkait