• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.3 Determinan Pengetahuan Responden terhadap Perilaku Ibu dalam

Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

Pengetahuan itu adalah sesuatu yang ada secara niscaya pada diri manusia.

Keberadaannya diawali dari kecenderungan psikis manusia sebagai bawaan kodrat

manusia, yaitu dorongan ingin tahu yang bersumber dari kehendak atau kemauan.

Sedangkan kehendak adalah salah satu unsur kekuatan kejiwaan. Adapun unsur

lainnya adalah akal pikiran (ratio) dan perasaan (emotion). Ketiganya berada dalam satu kesatuan, dan secara terbuka bekerja saling pengaruh mempengaruhi

menurut situasi dan keadaan. Artinya, dalam keadaan tertentu yang berbeda-beda,

pikiran atau perasaan atau keinginan biasa lebih dominan. Pengetahuan seseorang

bisa menjadi faktor yang memengaruhi dalam menentukan perilaku individu

termasuk perilaku dalam melakukan perawatan kehamilan selama masa

kehamilan.

Determinan pengetahuan terhadap perilaku ibu dalam melakukan

perawatan kehamilan yang meliputi pemntauan berat badan ibu selama masa

kehamilan, perawatan payudara, pemenuhan nutrisi, pemberian imunisasi tetanus

toksoid (TT) pada ibu di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupten Aceh

Universitas Sumatera Utara

5.3.1 Determinan Pengetahuan Responden terhadap Pemantauan Berat Badan Ibu Selama Masa Kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

Kenaikan berat badan yang seharusnya selama kehamilan bervariasi

untuk setiap wanita hamil, juga tergantung dari beberapa faktor. Selama

kehamilan, ibu perlu pertambahan berat badannya karena membawa si calon

bayi yang tumbuh dan berkembang dalam rahimnya, dan juga untuk persiapan

proses menyusui. Jadi, ibu hamil tidak perlu kwatir bila badannya menjadi besar,

tetapi sebaliknya mulai merencanakan dan melakukan apa yang terbaik

dan sehat bagi kehamilan (Suririnah, 2012).

Kenaikan berat badan setiap wanita hamil berbeda, tergantung dari

tinggi badan dan berat badanya sebelum kehamilan, ukuran bayi dan

plasenta, dan kualitas diet makan sebelum dan selama kehamilan. Berdasarkan

dari perhitungan BMI (Body Mass Index), peningkatan berat badan selama kehamilan tergantung dari berat badan sebelum hamil. Perhitungan BMI

menggunakan ukuran berat badan dan tinggi badan untuk memperkirakan

jumlah total lemak dalam tubuh.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa determinan

pengetahuan terhadap perilaku ibu dalam melakukan perawatan kehamilan dalam

hal pemantauan berat badan ibu selama masa kehamilan di Puskesmas Biakmuli

Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara yang paling dominan dan sudah

baik ialah sebagian besar responden yakni sebanyak 65 orang responden (66,3%)

sudah mengetahui bahwa hal yang harus dilakukan ibu hamil yang berkaitan

Universitas Sumatera Utara

menghitung berat badan selama masa kehamilan saat secara rutin kunjungan ANC

ke fasilitas kesehatan, dan sebanyak 60 orang responden (87%) sudah mengetahui

bahwa perawatan payudara merupakan hal yang penting untuk persiapan

menyusui nanti, pasca melahirkan, dan 60 orang responden (61,2%) sudah

mengetahui bahwa salah satu hal yang dapat menunjukkan kenaikan berat badan

pada ibu hamil ialah perhitungan BMI (Body Mass Index).

Sedangkan pengetahuan responden mengenai pemantauan berat badan ibu

selama masa kehamilan yang dinilai masih kurang baik dan perlu ditingkatkan

ialah diketahui hanya ada sebanyak 30 orang responden (30,6%) yang sudah

mengetahui bahwa faktor lingkungan eksternal yang memengaruhi peningkatan

berat badan selama masa kehamilan yaitu pendapatan keluarga dan keharmonisan

kehidupan berkeluarga, kemudian hanya ada sebanyak 28 orang responden

(28,6%) yang sudah mengetahui bahwa faktor lingkungan internal yang

memengaruhi peningkatan berat badan selama masa kehamilan yaitu umur ibu,

jarak kelahiran, paritas, kadar hemoglobin, status gizi ibu hamil, pemeriksaan

kehamilan, dan penyakit pada saat kehamilan, dan hanya ada sebanyak 27 orang

responden (27,6%) yang sudah mengetahui bahwa penyebab kenaikan berat badan

ibu selama masa kehamilan antara lain ialah karena adanya cairan ketuban,

pembesaran organ-organ, perubahan metabolisme dan bertambanya volume sel

darah.

Kenaikan berat badan ibu selama kehamilan berhubungan langsung

dengan berat badan bayinya, dan risiko melahirkan BBLR meningkat dengan

Universitas Sumatera Utara

hubungan yang signifikan antara Kenaikan berat badan ibu hamil dengan berat

bayi. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Parapat (2014) yang

menjelaskan bahwa dari 46 orang responden yang diteliti, didapatkan hasil

penelitian ibu hamil mempunyai pengetahuan baik tentang perawatan payudara

selama kehamilan yaitu 26 orang (56,5 %), pengetahuan cukup 19 orang (41,3 %),

dan pengetahuan kurang satu orang (2,2 %).

5.3.2 Determinan Pengetahuan Responden terhadap Perilaku Ibu dalam Melakukan Perawatan Kehamilan dalam hal Pemeriksaan Payudara di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupten Aceh Tenggara Payudara perlu dipersiapkan sejak sebelum bayi lahir sehingga dapat

berfungsi dengan baik pada saat diperlukan. Payudara merupakan sumber air susu

ibu yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya

sudah harus dirawat. Kutang yang dipakai harus sesuai dengan pembesaran buah

dada, yang sifatnya adalah menyokong buah dada dari bawah suspension, bukan

menekan dari depan. Dua bulan terakhir dilakukan massage. Bila putting susu

masuk kedalam, hal ini diperbaiki dengan menarik-narik keluar.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa determinan pengetahuan

terhadap perilaku ibu dalam melakukan perawatan kehamilan dalam hal

perawatan payudara selama masa kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan

Bambel Kabupaten Aceh Tenggara yang paling dominan dan dinilai sudah baik

ialah sebagian besar responden yakni sebanyak 90 orang responden (91,8%)

sudah mengetahui bahwa tujuan dari perawatan payudara selama kehamilan

adalah merangsang kelenjar Air Susu Ibu (ASI) sehingga produksi ASI banyak

Universitas Sumatera Utara

bahwa perawatan payudara merupakan hal yang penting untuk persiapan

menyusui nanti, pasca melahirkan, dan sebanyak 81 orang responden (82,7%)

mengetahui.bahwa jika ibu tidak melakukan perawatan payudara maka puting

susu tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap.

Sedangkan pengetahuan responden mengenai perawatan payudara selama

masa kehamilan yang dinilai masih kurang baik dan perlu ditingkatkan ialah

hanya ada sebanyak 66 orang responden (67,3%) yang sudah mengetahui bahwa

perawatan payudara sebaiknya dilakukan saat sejak terjadi kehamilan, dan hanya

ada sebanyak 47 orang responden (48%) yang sudah mengetahui bahwa pemijatan

payudara boleh dilakukan pada dua bulan terakhir masa kehamilan.

Perawatan payudara untuk mengeluarkan sekresi dan membuka duktus dan

sinus lateferus sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan benar karena pengurutan

yang salah dapat menimbulkan kontraksi pada rahim sehingga terjadi kondisi

seperti pada uji kesejahteraan janin menggunakan uterotonika. Basuhan lembut

setiap hari pada areola dan puting susu akan dapat mengurangi retak dan lecet

pada area tersebut. Untuk sekresi yang mengering pada puting susu, lakukan

pembersihan dengan menggunakan campuran gliserin dan alkohol, karena

payudara menegang sensitif dan menjadi lebih berat maka sebaiknya gunakan

penopang payudara yang sesuai

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Parapat (2014) yang

menjelaskan bahwa dari 46 orang responden yang diteliti, didapatkan hasil

Universitas Sumatera Utara

selama kehamilan yaitu 26 orang (56,5 %), pengetahuan cukup 19 orang (41,3 %),

dan pengetahuan kurang satu orang (2,2 %).

5.3.3 Determinan Pengetahuan Responden terhadap Perilaku Ibu dalam Melakukan Perawatan Kehamilan dalam hal Pemenuhan Nutrisi Selama Masa Kehmailan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupten Aceh Tenggara

Wanita hamil harus betul-betul mendapat perhatian susunan dietnya,

terutama mengenai jumlah kalori, protein yang berguna bagi pertumbuhan janin

dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus,

partus prematurus, inertia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis puerperalis,

dan lain-lain. Sedangkan makan berlebihan, karena dianggap untuk ibu dan janin,

dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, pre-eklamsi, janin besar, dan

sebagainya.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa determinan pengetahuan ibu

hamil terhadap perawatan kehamilan dalam hal pemenuhan nutrisi selama masih

kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

yang paling dominan dan dinilai sudah baik ialah bahwa sebagian besar responden

yakni sebanyak 92 orang responden (93,9%) mengetahui bahwa asupan nutrisi

yang kurang selama kehamilan dapat menyebabkan bayi dengan berat badan lahir

rendah, bisa diikuti dengan pembentukan organ yang tidak sempurna, kemudian

Universitas Sumatera Utara

pada ibu hamil bertujuan untuk mencegah anemia, dan sebanyak 67 orang

responden (684%) sudah mengetahui bahwa pada ibu hamil saat hamil muda, ibu

hamil dapat mengalami kurang nafsu makan karena mual dan muntah, agar

kebutuhan gizi ibu hamil tetap tercukupi maka makan dalam jumlah sedikit

namun sering.

Sedangkan pengetahuan ibu hamil terhadap perawatan kehamilan dalam

hal pemenuhan nutrisi selama masih kehamilan di Puskesmas Biakmuli

Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara yang masih dinilai kurang baik

dan perlu ditingkatkan ialah hanya ada sebanyak 61 orang responden (62,2%)

yang sudah mengetahui bahwa asupan nutrisi yang berlebih selama kehamilan

dapat menyebabkan obesitas ibu diikuti terjadinya pre eklampsia, dan hanya ada

sebanyak 17 orang responden (17,3%) yang sudah mengetahui bahwa makanan

sehari-hari ibu hamil hendaknya terdiri dari makanan pokok (contoh nasi), lauk,

sayuran, buah-buahan dan ditambah minum susu beserta camilan antara jam

makan.

Seseorang yang didasari dengan pengetahuan gizi yang baik akan

memperhatikan keadaan gizi setiap makanan yang akan dikonsumsinya. Makanan

yang bergizi bukanlah suatu makanan yang mahal dan enak rasanya. Pengetahuan

gizi sangat diperlukan dalam upaya pemilihan makanan yang akan dikonsumsinya

dengan tujuan agar makanan tersebut memberikan gizi yang sesuai dengan yang

dibutuhkan oleh tubuh atau sering disebut dengan gizi seimbang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Fitriana (2013) yang

Universitas Sumatera Utara

responden yang paling banyak dalam hal pemenuhan gizi selama masa kehamilan

adalah pada pengetahuan yang cukup yaitu sebanyak 24 responden (44,4%),

sedangkan yang paling sedikit adalah pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 14

responden (25.9%). Hal ini mungkin disebabkan karena perbedaan karakteristik

responden (pendidikan, penghasilan, pekerjaan), kesadaran responden tentang

pentingnya asupan nutrisi, dan perbedaan kemudahan mendapatkan informasi

tentang gizi selama kehamilan.

5.3.4 Determinan Pengetahuan Responden terhadap Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan penting dilakukan

untuk mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kematian ibu dan janin. Jenis

imunisasi yang diberikan adalah tetanus toksoid yang dapat mencegah penyakit

tetatus. Imunisasi TT pada ibu hamil harus terlebih dahulu ditentukan status

kekebalan/imunisasinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinan pengetahuan ibu hamil

terhadap perawatan kehamilan dalam hal pemberian imunisasi tetanus toksksoid

(TT) pada masa kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel

Kabupaten Aceh Tenggara yang paling dominan dan dinilai sudah baik ialah

sebagian besar responden yakni sebanyak 86 orang responden (87,8%) sudah

mengetahui bahwa imunisasi yang dibutuhkan ibu hamil ialah imunasi Tetanus

Toksoid (TT), kemudian sebanyak 84 orang responden (85,7%) sudah mengetahui

bahwa yang dimaksudkan dengan imunisasi tetanus toksoid (TT) ialah sejenis

Universitas Sumatera Utara

mengetahui bahwa cara mencegah penyakit tetanus ialah dengan imunisasi anti

tetanus.

Sedangkan pengetahuan ibu hamil terhadap perawatan kehamilan dalam

hal pemberian imunisasi tetanus toksksoid (TT) pada masa kehamilan di

Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara yang dinilai

kurang baik dan perlu ditingkatkan ialah diketahui bahwa hanya ada sebanyak 66

orang responden (67,3%) yang sudah mengetahui bahwa ibu hamil harus

mendapatkan imunisasi tetanus toksoid (TT) minimal 2 kali, dan hanya ada

sebanyak 57 orang responden (58,) yang sudah mengetahui bahwa manfaat dari

imunisasi tetanus toksoid (TT) pada saat kehamilan dapat mencegah penyakit

kejang pada ibu dan bayi baru lahir.

Vaksin tetanus harus diberikan pada wanita hamil untuk mencegah

kemungkinan tetanus neonatorum, untuk memilih imunisasi apa yang aman

selama kehamilan sebaiknya ibu berkonsultasi dengan petugas pelayanan

kesehatan. Wanita hamil sebaiknya memberitahukan kepada petugas pelayanan

kesehatan bahwa dia sedang hamil sebelum imunisasi ditetapkan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Suryati (2014) yang

menjelaskan bahwa dari hasil analisis univariat pada variabel pengetahuan dari 42

orang respoonden diketahui bahwa mayoritas ibu hamil memiliki pengetahuan

buruk tentang imunisasi TT yaitu sebanyak 25 orang (59,5%) dan paling sedikit

ibu hamil memiliki pengetahuan baik yaitu 3 orang (7,1%). Hal ini dapat dilihat

dari distribusi jawaban ibu hamil yang menyebutkan bahwa sebesar 90,5% ibu

Universitas Sumatera Utara

ibu hamil tidak tahu bahwa imunisasi TT adalah adalah sejenis suntikan yang

berisi kuman yang telah dilemahkan dan sebesar 64,3% ibu hamil tidak tahu

bahwa jarak pemberian antara imunisasi TT1 dan TT2 adalah minimal 4 minggu.

Hasil penelitian ini didukung oleh Sabirin (2012) dengan hasil

penelitiannya yang menunjukkan adanya hubungan pengetahuan dengan

kepatuhan ibu hamil melakukan imunisasi TT. Hasil penelitian ini juga sejalan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukmawati (2014) di Puskesmas Mandai

Kelurahan Bontoa Kecamatan Mandai Kabupaten Maros yang menyebutkan

bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan

ibu hamil dalam melakukan imunisasi tetanus toksoid (TT).

5.3.5 Determinan Pengetahuan Responden terhadap Kunjungan Kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

Pemeriksaan kehamilan secara berkala selama masa kehamilan (antenatal care) merupakan bagian terpenting dari seluruh rangkaian perawatan ibu hamil. Melalui pengawasan tersebut dapat ditetapkan kesehatan ibu hamil kesehatan

janin dan hubungan keduanya sehingga dapat direncanakan pertolongan

persalinan yang tepat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum determinan

pengetahuan ibu hamil terhadap perawatan kehamilan dalam hal pemeriksaan

pada masa kehamilan (antenatal care) di dinilai sudah baik yaitu sebagian besar responden yakni sebanyak 83 orang responden (84,7%) sudah mengetahui bahwa

yang dilakukan pada saat pemeriksaan kehamilan ialah penimbangan berat badan

Universitas Sumatera Utara

mengetahui bahwa tujuan pemeriksaan kehamilan atau antenatal care ialah untuk memantau kemajuan kehamilan dan sudah mengetahui bahwa sebaiknya pertama

kali pemeriksaan kehamilan dilakukan pada masa trimester pertama kehamilan (1

– 3 bulan), sebanyak 80 orang responden (81,6%) sudah mengetahui bahwa tujuan pemeriksaan kehamilan atau antenatal care ialah untuk memantau kemajuan kehamilan, kemudian sebanyak 77 orang responden (78,6%) sudah mengetahui

bahwa sebaiknya pemeriksaan kehamilan dilakukan minimal 4 kali selama dalam

masa kehamilan, dan sebanyak 73 orang responden (74,5%) sudah mengetahui

bahwa pengertian pemeriksaan kehamilan adalah pemeriksaan yang diberikan

kepada ibu hamil secara berkala untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya.

Pemeriksaan kehamilan sebaiknya dilakukan sedini mungkin, segera

setelah seorang wanita merasa dirinya hamil. Dalam pemeriksaan antenatal selain

kuantitas (jumlah kunjungan), perlu diperhatikan pula kualitas pemeriksaannya.

Kunjungan Prenatal dijadwalkan sekali sebulan selama tujuh bulan, sekali dua

minggu pada bulan kedelapan, dan sekali seminggu pada bulan terakhir pada

kehamilan yang normal.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden

yakni sebanyak 48 orang responden (49%) memiliki pengetahuan terhadap

perilaku ibu dalam melakukan perawatan kehamilan di Puskesmas Biakmuli

Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara dalam kategori yang sedang,

kemudian sebanyak 39 orang responden (39,8%) memiliki pengetahuan terhadap

perilaku ibu dalam melakukan perawatan kehamilan di Puskesmas Biakmuli

Universitas Sumatera Utara

baik, dan hanya sebanyak 11 orang responden (11,2%) yang sudah memiliki

pengetahuan terhadap perilaku ibu dalam melakukan perawatan kehamilan di

Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara dalam

kategori yang baik.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rahmadina (2016) yang

menjelaskan bahwa dari 46 orang responden yang diteliti sebagian besar

responden yakni sebanyak 20 orang responden (43,5%) memiliki pengetahuan

terhadap perilaku ibu dalam melakukan perawatan kehamilan dalam kategori yang

sedang, kemudian sebanyak 19 orang responden (41,3%) memiliki pengetahuan

dalam kategori yang kurang baik, dan hanya sebanyak 7 orang responden (15,2%)

yang memiliki pengetahuan dalam kategori yang baik. Hasil penelitian ini juga

sejalan dengan hasil penelitian dari Andika (2012) yang menjelaskan bahwa dari

hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan

pengetahuan ibu dengan tindakan perawatan kehamilan dan persalian diwilayah

kerja Puskesmas Simpang Gambir Kecamatan Lingga Bayu, dan sebagian

responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori yang sedang.

5.4 Determinan Sikap Responden terhadap Perilaku Ibu dalam Melakukan Perawatan Kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk

merespon (secara positif atau negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu.

Sikap mengandung suatu penelitian emosional/afektif (senang, benci, sedih, dan

sebagainya). Selain bersifat positif dan negatif, sikap memiliki tingkat kedalaman

Universitas Sumatera Utara

sama dengan perilaku dan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang.

Sebab sering kali terjadi bahwa seseorang dapat berubah dengan memperlihatkan

tindakan yang bertentangan dengan sikapnya. Sikap seseorang dapat berubah

dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tersebut melalui persuasi

serta tekanan dari kelompok sosialnya. Sikap seseorang bisa menjadi faktor yang

memengaruhi dalam menentukan perilaku individu termasuk sikap dalam

melakukan perawatan kehamilan selama masa kehamilan.

Determinan sikap responden terhadap perilaku ibu dalam melakukan

perawatan kehamilan yang meliputi pemantauan berat badan selama masa

kehamilan pemeriksaan payudara, pemenuhan nutrisi selama masa kehamilan,

pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT), dan kunjungan hamil pada ibu di

Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara.

5.4.1 Determinan Sikap Responden terhadap Pemantauan Berat Badan Ibu Selama Masa Kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

Berdasarkn hasil penelitian diketahui bahwa determinan sikap responden

terhadap perilaku ibu dalam hal pemantauan berat badan ibu selama masa

kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

yang paling dominan dan sudah baik mengenai perawatan payudara ialah sebagian

besar responden yakni sebanyak 94 orang responden (95,9%) menyatakan setuju

pada pernyataan bahwa semakin bertambah usia kandungan maka berat badan ibu

hamil semakin bertambah, kemudian sebanyak 81 orang responden (82,7%)

menyatakan setuju pada pernyataan bahwa perlu untuk mengukur berat badan ibu

Universitas Sumatera Utara

sebanyak 80 orang responden (81,6%) mennyatakan setuju pada pernyataan

bahwa perlu untuk mengukur kenaikan berat badan selama kehamilan secara rutin.

Sedangkan sikap responden terhadap perilaku ibu dalam hal pemantauan

berat badan ibu selama masa kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan

Bambel Kabupaten Aceh Tenggara yang dinilai masih kurang baik dan perlu

ditingkatkan ialah masih ada sebanyak 35 orang responden (35,7%) yang

menyatakan setuju pada pernyataan bahwa peningkatan berat berat badan ibu

hamil tidak berhubungan dengan berat badan bayi baru lahir, dan sebanyak 19

orang responden (19,4%) yang menyatakan setuju pada pernyataan bahwa berat

badan ibu hamil tidak berhubungan dengan status gizi ibu pada masa kehamilan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Parapat (2014) yang

menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap responden

dengan tindakan pemnatuain berat badan secara berkala selama masa kehamilan

sampa setelah melahirkan, yang mana berdasarkan kategori sikap menunjukkan

seluruh ibu hamil mempunyai sikap positif tentang perawatan payudara selama

kehamilan.

5.4.2 Determinan Sikap Responden terhadap Perawatan Payudara Selama Masa Kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa determinan sikap responden

terhadap perilaku ibu dalam melakukan perawatan payudara selama masa

kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

yang paling dominan dan dinilai sudah baik yaitu sebagian besar responden yakni

Universitas Sumatera Utara

ibu akan melakukan perawatan payudara sedini mungkin karena hal tersebut

berguna untuk kebutuhan ASI bayi, dan sebanyak 84 orang responden (85,7%)

menyatakan setuju pada pernyataan bahwa ASI tidak keluar dan puting susu yang

tidak menonjol adalah pengaruh dari tidak melakukan perawatan payudara.

Sedangkan determinan sikap responden terhadap perilaku ibu dalam

melakukan perawatan payudara selama masa kehamilan di Puskesmas Biakmuli

Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara yang dinilai kurang baik dan perlu

ditingkatkan ialah hanya ada sebanyak 58 orang responden (59,2%) yang

menyatakan setuju pada pernyataan bahwa jika ibu mandi ibu membersihkan

puting payudara menggunakan sabun agar lebih bersih.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Parapat (2014) yang

menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap responden

dengan tindakan pemriksaan payudara untuk persiapan menyusui setelah

melahirkan, yang mana berdasarkan kategori sikap menunjukkan seluruh ibu

hamil mempunyai sikap positif tentang perawatan payudara selama kehamilan.

5.4.3 Determinan Sikap Responden terhadap Pemenuhan Nutrisi Selama Masa Kehamilan di Puskesmas Biakmuli Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa determinan sikap ibu hamil

terhadap pemenuhan nutrisi selama masih kehamilan di Puskesmas Biakmuli

Kecamatan Bambel Kabupaten Aceh Tenggara yang paling dominan dan dinilai

sudah baik ialah bahwa sebagian besar responden yakni sebanyak 86 orang

responden (87,8%) menyatakan bahwa setuju pada pernyataan jika ibu mengalami

Universitas Sumatera Utara

tersebut merupakan hal yang wajar untuk ibu hamil, dan sebanyak 83 orang

Dokumen terkait