BAB II LANDASAN TEORI
B. Dewan Pengawas Syariah (DPS)
1. Pengertian DPS
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dewan pengawas berarti majelis atau badan yang terdiri atas beberapa orang anggota yang bertugas mengawasi kerja pengurus suatu organisasi (perkumpulan, koperasi, perseroan dan sebagainya).14 Sedangkan syariah adalah komponen ajaran Islam yang mengatur tentang kehidupan seorang muslim baik dari bidang ibadah (habluminallah) maupun dalam bidang muamalah (habluminannaz) yang merupakan aktualisasi akidah yang menjadi keyakinannya. Sementara muamalah sendiri meliputi berbagai bidang kehidupan antara lain yang menyangkut ekonomi atau harta dan perniagaan disebut muamalah
maliyah.15
Dewan pengawas syariah (DPS) adalah suatu badan yang bertugas mengawasi pelaksanaan keputusan Dewan Syariah Nasional (DSN) di lembaga keungan syariah. DPS diangkat dan diberhentikan di lembaga keuangan syariah melalui Rapat Umum Pengawas Syariah (RUPS) setelah mendapat rekomendasi dari DSN.16 Dewan pengawas syariah merupakan dewan pakar ekonomi dan ulama yang menguasai bidang Fiqh Muamalah (Islamic Commercial Jurisprudence) yang berdiri sendiri dan bertugas mengamati dan mengawasi operasional lembaga keungan syariah dan produk-produknya agar sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat Islam, yaitu
13 Amran Suadi, Sistem Pengawasan Badan Peradilan di Indonesia, (Depok: Rajawali Press, 2014) h.25
14
KBBI Online https://kbbi.web.id/dewan. Diakses pada Senin, 30 Maret 2020 Pukul 13.30 WIB
15 Amir Machmud, Rukmana, Bank Syariah Teori, Kebijakan dan Studi Empiris di Indonesia. (Jakarta: Erlangga, 2010) h.24
18
dengan mengawasi secara teliti bagaimana bentuk-bentuk perikatan/akad yang dilaksanakan oleh lembaga keuangan syariah.17 Namun seiring berkembangnya ekonomi syariah saat ini tidak hanya lembaga keuangan syariah saja yang pengawasannya diawasi oleh DPS, rumah sakit syariah dan hotel syariah juga diawasi oleh DPS dalam penyelenggaraan kegiatannya sesuai dengan keputusan DSN didalam fatwa DSN MUI. Supaya dewan tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dengan tetap berpijak pada fungsi amanah tersebut, maka keanggotaannya disyaratkan terdiri dari orang-orang yang ahli syariah dan sedikit banyak menguasai Hukum Dagang positif serta sudah berpengalaman dalam penyelenggaraan kontrak-kontrak bisnis. DPS juga merupakan unit yang hanya dimiliki oleh perusahaan atau organisasi yang dijalankan sesuai syariat Islam.18
DPS ini berkedudukan dibawah RUPS atau sejajar dengan Dewan Komisaris di dalam struktur suatu perusahaan atau organisasi syariah. Tugas utama DPS adalah mengawasi kegiatan usaha perusahaan syariah agar sesuai dengan ketentuan dan prinsip syariah yang telah difatwakan oleh DSN. Fungsi utama DPS adalah sebagai penasehat dan pemberi saran kepada direksi, pimpinan unit usaha syariah mengenai hal-hal yang terkait dengan aspek syariah dan sebagai mediator antara perusahaan syariah dengan DSN dalam mengkomunikasikan usul dan saran pengembangan produk dan jasa dari perusahaan yang memerlukan kajian dan fatwa dari DSN. Posisi DPS adalah wakil DSN dalam pelaksanaan fatwa-fatwa DSN di dalam perusahaan syariah yang bersangkutan.
2. Dasar Hukum Dewan Pengawas Syariah
Dasar hukum dibentuknya Dewan Pengawas Syariah dan implementasinya dapat dilihat dari perintah Allah sebagai berikut;
Q.S At-Taubah Ayat 105
َه َّشماَو ِبْيَغْما ِمِماَع َٰلَا َنوُّدَ ُتُ َسَو ۖ َنوُنِمْؤُمْماَو ُ ُلُو ُس َرَو ْ ُكَُلَ َعَ ُ َّللَّا ىَ َيَ َسَف اوُلَ ْعَا ِلُقَوِ
ْ ُكُُُِّبَنُيَف َِِدا
َنوُلَمْعَت ْ ُتُْنُك اَمِب
17 Heri Sudarsono, Bank & Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi. (Yogyakarta: Ekonisia, 2004) h.24
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”19
3. Tugas, Peran, dan Fungsi DPS
a. Tugas Dewan Pengawas Syariah20
1) Menilai dan memastikan pemenuhan prinsip syariah atas pedoman opersional dan produk yang dikeluarkan.
2) Mengawasi proses pengembangan produk baru.
3) Meminta fatwa kepada DSN-MUI untuk produk baru yang belum ada fatwanya.
4) Melakukan evaluasi secara berkala atas pemenuhan prinsip syariah terhadap mekanisme pelayanan jasa yang dilakukan perusahaan.
5) Meminta data dan informasi terkait dengan aspek syariah dari satuan kerja perusahaan dalam rangka pelaksanaan tugasnya.
b. Peran dan Fungsi Dewan Pengawas Syariah
Dewan Pengawas Syariah memiliki peran dan fungsi sebagai perwakilan DSN yang ditempatkan pada lembaga keuangan syariah wajib:21
1. Mengikuti fatwa DSN
2. Merumuskan permasalahan yang memerlukan pengesahan DSN
3. Melaporkan kegiatan usaha serta perkembangan lembaga keuangan syariah yang diawasinya kepada DSN sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun Artinya bahwa tugas penting DPS adalah:
1. DPS adalah seorang ahli (pakar) yang menjadi sumber dan rujukan dalam penerapan prinsip-prinsip syariah termasuk sumber rujukan fatwa
19 Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya Al-Halim (Surabaya: UD. Halim, 2014), h.203
20
Abdul Mujib, “Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Wilayah Jawa Tengah", Jurnal Az Zarqa‟ Vol. 9 No. 1 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2017
21 Tim Penulis Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa Dewan Syariah
20
2. DPS mengawasi pengembangan semua produk untuk memastikan tidak adanya fitur yang melanggar syariah
3. DPS menganalisa segala situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang tidak didasari fatwa untuk memastikan kepatuhan dan kesesuaiannya kepada syariah
4. DPS menganalisis segala kontrak dan perjanjian mengenai transaksi-transaksi untuk memastikan kepathan kepada syariah
5. DPS memastikan koreksi pelanggaran dengan segera (jika ada) untuk mematuhi syariah. Jika ada pelanggaran, anggota DPS harus mengkoreksi penyimpangan itu dengan seger agar disesuaikan dengan prinsip syariah 6. DPS memberikan supervise untuk program pelatihan syariah bagi staf dan
pengurus
7. DPS menyusun sebuah laporan tahunan yang akan dilaporkan kepada DSN 4. Struktur DPS
Adapun struktur DPS adalah sebagai berikut:22
a. Kedudukan DPS dalam struktur perusahaan berada setingkat dengan fungsi komisaris sebagai pengawas direksi.
b. Jika fungsi komisaris adalah pengawas dalam kaitan dengan kinerja manajemen, maka DPS melakukan pengawasan kepada manajemen dalam kaitan dengan implementasi sistem dan produk-produk agar tetap sesuai dengan syariah Islam.
c. Bertanggung jawab atas pembinaan akhlak seluruh karyawan berdasarkan sistem pembinaan keIslaman yang telah diprogramkan setiap tahunnya.
d. Ikut mengawasi pelanggaran nilai-nilai Islam di lingkungan perusahaan tersebut.
e. Bertanggung jawab atas seleksi syariah karyawan baru yang dilaksanakan oleh Biro Syariah.
5. Anggota DPS
Anggota DPS terdiri dari ahli syariah yang sedikit banyak menguasai hukum
22 Irwan Misbach, “Kedudukan dan Fungsi Dewan Pengawas Syariah Dalam Mengawasi Transaksi Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia”, Jurnal Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar
dagang yang berlaku dan terbiasa dengan kontrak-kontrak bisnis. Anggota DPS bersifat independen, dalam arti bahwa mereka tidak tunduk kepada pimpinan perusahaan yang diawasinya. Dalam rangka menjamin independensi DPS, hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:23
a. Anggota DPS bukan staf atau karyawan perusahaan mereka tidak tunduk di bawah kekuasaan administrasi perusahaan
b. Mereka dipilih oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) c. Honorarium mereka ditentukan oleh RUPS
d. DPS mempunyai sistem kerja dan tugas-tugas tertentu seperti halnya badan pengawas lainnya.
Dalam keputusan DSN MUI No. 03 Tahun 2000 disebutkan tentang keanggotaan Dewan Pengawas Syariah yaitu:
1. Jumlah anggota DPS untuk bank umum syariah sekurang-kurangnya 2-5 orang. Sedangkan untuk BPR syariah sekurang-kurangnya harus berjumlah 2-3 orang
2. Salah satu dari jumlah tersebut ditetapkan sebagai ketua
3. Masa tugas anggota DPS adalah empat tahun dan akan mengalami pergantian antar waktu apabila meninggal dunia, minta berhenti, diusulkan oleh lembaga keungan syariah yang bersangkutan, atau telah merusak citra DSN