SEJARAH AKHBAR DI INDONESIA
5.3 Dewan Pers Indonesia
Dewan Pers pertama kali dibentuk tahun 1968. Pembentukannya berdasar Undang-Undang No. 11 tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers yang ditandatangani Presiden Soekarno, 12 hb Disember 1966. Dewan Pers kala itu, sesuai Pasal 6 ayat (1) UU No.11/1966, berfungsi mendampingi pemerintah, bersama-sama membina pertumbuhan dan perkembangan akhbar nasional. Sedangkan Ketua Dewan Pers dijabat oleh Menteri Penerangan (Pasal 7 ayat (1)).
Pemerintahan Orde Baru melalui Undang-Undang No. 21 Tahun 1982 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers Sebagaimana Telah Diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1967, yang ditandatangani Presiden Soeharto 20 hb September 1982 tidak banyak mengubah keberadaan Dewan Pers. Kedudukan dan fungsinya sama: lebih menjadi penasehat pemerintah, khususnya kantor Departemen Penerangan.
Sedangkan Menteri Penerangan tetap merangkap sebagai Ketua Dewan Pers.
(Sudibyo, 2013).
Perubahan yang terjadi, menurut UU No. 21 Tahun 1982 tersebut, adalah penyebutan dengan lebih jelas keterwakilan pelbagai unsur dalam ahli-ahli Dewan Pers. Pasal 6 ayat (2) UU No. 21 Tahun 1982 menyatakan “Ahli Dewan Pers terdiri dari wakil organisasi akhbar, Pemerintah dan masyarakat dalam hal ini ahli-ahli di bidang akhbar serta ahli-ahli di bidang lain”. Undang-Undang sebelumnya hanya menjelaskan “anggota Dewan Pers terdiri dari wakil-wakil organisasi akhbar dan ahli-ahli dalam bidang akhbar”.
Setelah jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998, di masa pemerintahan Presiden Soeharto, akhbar dalam posisi sangat mengkhawatirkan dikeranakan pada Orde Baru kalangan akhbar dan penerbitannya terkekang oleh peraturan yang keras, dan terlalu dikawal oleh penguasa, serta dianggap mengekang akhbar dalam memberikan informasi kepada masyarakat, memang pada masa itu akhbar berada dalam kawalan Departemen Penerangan, yang mempunyai fungsi mengawal setiap pemberitaan akhbar, dan melakukan penindakan apabila akhbarmelakukan pemberitaan yang menyudutkan pemerintah, dengan sanksi mulai dari dicabutnya
Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) atau pencabutan lesen tanpa pemberitahuan yang jelas (Sudibyo, 2013).
Perubahan dasar terjadi pada tahun 1999, seiring dengan terjadinya pergantian kekuasaan dari Orde Baru ke Orde Reformasi. Melalui Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers yang diundangkan 23 hb September 1999 dan ditandatangani oleh Presiden Bacharudin Jusuf Habibie, Dewan Pers berubah menjadi Dewan Pers (yang) Independen. Pasal 15 ayat (1) UU Pers menyatakan
“Dalam upaya mengembangkan kebebasan akhbar dan meningkatkan kehidupan akhbar nasional, dibentuk Dewan Pers yang independen”.
Fungsi Dewan Pers Independen tidak lagi menjadi penasehat pemerintah tapi pelindung kebebasan akhbar. Hubungan struktural antara Dewan Pers dengan pemerintah diputus, terutama sekali dipertegas dengan pembubaran Departemen Penerangan oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Tidak lagi ada wakil pemerintah dalam keanggotaan Dewan Pers seperti yang berlangsung selama masa Orde Baru.
Meskipun pengangkatan anggota Dewan Pers tetap melalui Keputusan Presiden, namun tidak ada lagi campur tangan pemerintah terhadap institusi maupun keanggotaan Dewan Pers yang independen. Jabatan Ketua dan Timbalan Ketua Dewan Pers tidak lagi dicantumkan dalam Keputusan Presiden namun diputuskan oleh seluruh anggota Dewan Pers dalam Rapat Pleno (Suwirta, 2008)
Dewan Pers/Akhbar mengakui kebebasan akhbar merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan demokrasi, keadilan, supremasi hukum, dan unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang demokratis.
Dengan demikian kebebasan mengeluarkan pikiran dan pendapat sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 dapat terjamin.
Kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat, hak memperoleh dan menyebarkan informasi, merupakan hak asasi manusia yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum.
Maka, dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Dewan Pers menetapkan Statuta Dewan Pers sebagai peraturan dasar untuk menjalankan fungsi, tugas, kewajiban, hak, dan peranannya demi melindungi kebebasan akhbar dan meningkatkan kehidupan akhbar nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (Sudibyo, 2013)
Dewan Pers adalah lembaga independen yang dibentuk untuk melindungi kemerdekaan pers dan meningkatkan kualiti kehidupan akhbar berdasarkan UU No.
40 Tahun 1999 tentang Pers. Dewan Pers melaksanakan fungsi dan tugas:
a. Melindungi kemerdekaan akhbar dari campur tangan pihak lain;
b. Melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan akhbar;
c. Menetapkan dan mengawal pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;
d. Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kes-kes yang berhubungan dengan pemberitaan akhbar;
e. Mengembangkan komunikasi antara akhbar, masyarakat, dan pemerintah;
f. Memfasilitasi organisasi-organisasi akhbar dalam menyusun peraturan-peraturan di bidang akhbar dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan;
g. Mendata syarikat akhbar
Data berikut ini, tahun 2011 Dewan Pers menerima 511 pengaduan tentang akhbar dari pelbagai pihak diseluruh Indonesia. Jumlah tersebut terdiri atas 345 pengaduan tembusan dan 157 pengaduan langsung, 9 pemintaan pendapat dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Pengaduan tembusan berarti ada phak-pihak yang mengajukan surat berisi keluhan atau hak jawab kepada media dan menembuskannya kepada Dewan Pers. Dewan Pers tidak secara langsung menangani subtansi surat tembusan ini, namun berkewajiban mengingatkan media segera melayani surat tersebut, pihak pengirim surat akan direkomendasikan untuk penagjuan pengaduan langsung (Sudibyo, 2013).
Pengaduan Dewan Pers juga dapat dibagi berasaskan kandungan pengaduan; pengaduan tentang produk jurnalistik dan pengaduan tentang perilaku jurnalistik. Sebagaimana telah dibahas dalam soalan tentang kandungan kode etik jurnalistik, produk jurnalistik mencakup berita, surat pembaca, artikel, opini dan editorial. Namun pengertian produk jurnalistik umumnya merujuk kepada berita dalam pelbagai bentuk. Sedangkan perilaku jurnalistik mencakup sikap, tindakan dan kebiasaan wartawan ketika menjalankan tugas jurnalistik (Sudibyo, 2013)
Pengaduan ke Dewan Pers di sisi lain juga dapat dipilih berasaskan subjek-subjeknya: pengaduan sumber berita atau subjek berita terhadap media atau wartawan serta sebaliknya, pengaduan pihak media atau wartawan atas perlakuan yang diterimanya dari sumber berita, subjek berita, polis atau masyarakat. Pendek kata, pengaduan dapat dipilih sebagai pengaduan tentang akhbar dan pengaduan oleh akhbar. Pengaduan oleh akhbar misalnya jika wartawan menjadi mangsa kekerasan,
atau jika perusahaan media menghadapi proses hukum dan meminta perlindungan Dewan pers (Sudibyo, 2013).