Sekretariat: MPR / DPA- RI, Nusantara I, Lantai VI, Ruang 0608, JI. Jend. Gatot Subroto, Jakarta 10270 tr (021) 575 6187, 575 6180, 575 6162, Fax. 575 6188, 575 6181
PENDAPAT AKHIR
FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
ATAS
Disampaikan Oleh : H. Muhammad Yunus Lamuda, SH Anggota No : A - 78
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam Sejahtera Bagi Kita Semua.
Yang Terhormat Saudara Ketua Dan Para Wakil Ketua;
y
Yang Terhormat Menteri Kehakiman Dan HAM beserta jajarannya;
Saudara Anggota Dewan dan Sidang Dewan Yang Kami Muliakan
MERDEKA Ill
Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang senantiasa memberikan berkah, rahmat dan karunia-Nya, kepada kita bersama sehingga pada hari ini dapat bertemu dan melaksanakaQ Sidang Paripurna Dewan yang mulia ini, dengan agenda penyampaian Pendapat Akhir fraksi-fraksi terhadap Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentan9 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Saudara Pimpinan dan Anggota Dewan Yang Terhormat;
Saudara Menteri Kehakiman dan HAM Yang Terhormat; serta Hadirin sekalian yang berbahagia;
Setelah melakukan beberapa kali sidang serta rapat pembahasan naskah RUU tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, akhirnya sampai pufa kita pada saat yang dinanti-nanti, untuk menyampaikan pendapat akhir, sebelum RUU tersebut disahkan menjadi undang-undang.
ARSIP DPR RI
Tidaklah berlebihan untuk mengatakan. bahwa perubahan terhadap UU Pemberatasan Tindak Pidana Korupsi sangat ditunggu-tunggu masyarakat dan Bangsa Indonesia pada umumnya serta institusi dan aparat penegak hukum khususnya.
Dengan perubahan ini diharapkan dapat membawa kejelasan dan ketegasan dalam penegakan hukum untuk mencegah dan melawan kejahatan ekonomi khususnya korupsi. Fraksi POI Perjuangan DPR-RI berpendapat bahwa selama ini telah terjadi perdebatan yang sangat tajam dan menimbulkan multiinterpretasi mengenai materi peraturan perundang-undangan tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang justru pada gilirannya meloloskan para pelaku dan perancang Tindak Pidana Korupsi.
Akibatnya penegakan hukum mendapat kendala serius dan signifikan serta amat merugikan publik.
Dalam rangka menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik -praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), diperlukan tindakan nyata, tegas, jelas, dan terarah sebagai komitmen kita bersama untuk mencegah dan memberantas praktik-praktik KKN. Sistem bekerjanya praktik-praktik-praktik-praktik KKN selama ini telah berjalan sistemik dan sistematis sehingga pem~erantasannya juga membutuhkan strategi dan kebijakan sistemik dan sistematis pula.
Suatu ketentuan hukum yang dibangun dalam peraturan perundang-undangan tidaklah cukup untuk menunjukkan komitmen kita kepada upaya pemberatasan KKN.
Jauh dari itu semua, tindakan nyata, jelas dan tegas dalam upaya pemberantasan korupsi, merupakan tindakan yang ditunggu-tunggu masyarakat dan Bangsa lndoensia serta masyarakat lnternasional. Tindakan nyata terhadap pemberantasan korupsi sebagai wujud nyata dari aspirasi untuk memberantas tindak pidana korupsi yang sangat merugikan bangsa dan negara. Pemberantasan Korupsi bagi Fraksi POI Perjuangan DPR-RI bukanlah hanya sekedar keinginan, tetapi merupakan suatu kebutuhan segera dan mendesak. Bahkan telah menjadi tekad perjuangan terus-menerus dari Fraksi POI Perjuangan DPR-RI. Oleh karena itu tindakan nyata, jelas, dan tegas terhadap pemberantasan Tindak Pidana Korupsi harus senantiasa dilaksanakan tidak sepotong-sepotong.
P~rubahan terhadap undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, merupakan upaya untuk mempermudah proses penegakan hukum sehingga tidak meloloskan pelaku dan perancang tindak pidana korupsi. Kesulitan-kesulitan yang selama ini terjadi dan dialami dalam proses penegakan hukum, telah diantisipasi dengan dilakukannya perubahan-perubahan mendasar terhadap Undang-Undang No.
31 Tahun 1999. Perubahan yang dilakukan tiada lain dikarenakan tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas, tidak hanya berakibat merugikan keuangan
2
ARSIP DPR RI
negara, tetapi sudah merupakan pelanggaran ter~adap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat luas, sehingga adalah layak digolongkan sebagai suatu kejahatan yang pencegahan dan pemberantasannya dilakukan secara luar biasa.
Saudara-Saudara dan Para Hadirin Yang Berbahagia,
Tindak Pidana Korupsi merupakan kejahatan ekonomi dan merupakan kejahatan yang paling sulit untuk dibuktikan. Hal ini dapat dimengerti mengingat kejahatan korupsi merupakan kejahatan yang dilakukan dengan cara sistemik dan canggih, melibatkan banyak orang, dengan system jaringan yang luas, dengan metode kejahatan yang tangguh, dan dengan peralatan yang canggih. Di sisi lain, kejahatan korupsi di Indonesia, telah berkembang sedemikian suburnya, sehingga upaya pemberantasannya sering mengalami hambatan-hambatan serius dan signifikan dari berbagai pihak yang berkepentingan. Dengan demikian bukanlah merupakan hal yang mudah untuk memberantas tindak pidana korupsi. Namun hal ini bukan alasan pembenaran dan tidak akan mematikan tekad perjuangan Fraksi POI Perjuangan DPR-RI untuk bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa memberantas kejahatan korupsi.
Perubahan terhadap UU yang telah ada, bukan merupakan jaminan bahwa korupsi dapat dihilangkan dan dilenyapkan dari bumi ini. Kelengkapan dan kesempurnaan suatu UU hanya merupakan suatu pedoman bagi institusi dan aparat penegak hukum di lapangan. Faktor-faktor lainnya yang berpengaruh antara lain adalah komitmen moral yang kuat, kemauan politik yang tulus, kerja koordinasi yang proporsional dan professional untuk sungguh-sungguh memberantas tindak pidana korupsi dari institusi dan aparat penegak hukum untuk memberantas tindak pidana korupsi.
Saudara -Saudara dan Para Hadirin Yang Terhormat,
Diterimanya asas pembuktian terbalik, merupakan suatu upaya untuk menembus kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam proses penegakan hukum dalam rangka pemberantasan korupsi, yang terjadi selama ini. Asas ini akan mempermudah pembuktian terhadap adanya dugaan terjadinya korupsi.
Asas pembuktian . terbalik bukan merupakan pengingkaran terhadap asas praduga tak bersalah (presumption of innocence), yang selama ini dijunjung tinggi dalam proses peradilan pidana. Dalam proses pembuktian terbalik, justru diberikan kesempatan kepada si terdakwa untuk membela dirinya dan menyangkal perbuatan
3
ARSIP DPR RI
korupsi yang didakwakan kepadanya. Dengan demi~ian terdapat perimbangan, di mana para penegak hukum tidak dapat melakukan dakwaan secara semena-mena.
Perubahan UU ini juga telah mengatur masalah yang berkaitan dengan pemberian/gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara. Gratifikasi dibedakan berdasarkan nominal tertentu dengan dikaitkan pada pembebanan pembuktian.
Perubahan-perubahan yang tidak kalah pentingnya adalah berkaitan dengan perubahan sanksi pidana, baik pidana penjara maupun denda, dengan mempertimbangkan berat ringannya kejahatan yang dilakukan. Dengan adanya perubahan ini, sanksi pidana disesuaikan dengan berat ringannya kejahatan yang dilakukan. Dengan demikian, dapat dihindari orang yang melakukan korupsi dalam jumlah kecil dikenakan sanksi pidana yang berat, demikian pula sebaliknya.
Demikian pula dengan adanya ketentuan Peralihan, yang selama ini menjadi perdebatan, telah dilakukan perubahan. Dengan perubahan ini diharapkan tidak akan ··
terjadi kesalahan dalam proses pidana dengan alasan waktu terjadinya tindak pidana (temp us delicti).
I
Saudara Menteri dan Para anggota Dewan serta hadirin sekalian Yang kami Hormati,
Semua perubahan, pada
dasar~dimaksudkan
agar perubahan undang-undang ini memberikan kejelasan dan kepastian, sehingga tidak menimbulkan perbedaan pandangan dalam proses penegakan, yang pada akhirnya akan menguntungkan si tersangka/terdakwa dan menyebabkan gagalnya upaya pemberantasan korupsi.Perubahan-perubahan terhadap UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, merupakan penyempurnaan suatu ketentuan hukum yang ada guna memerangi tindak pidana korupsi. Ketentuan ini akan sangat signifikan bila nanti telah dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK), enba9ai00ana dia"1aRatkaR ele~ UU hilli.
KPTPK yang memiliki kewenangan yang demikian luas dan signifikan terhadap penanganan kasus-kasus korupsi merupakan tumpahan harapan masyarakat, untuk memberantas tindak pidana korupsi dari negeri ini, yang sudah barang tentu dengan tetap pada koridor bahwa negar~ kita adalah negara hukum.
4
ARSIP DPR RI
Berdasarkan uraian yang kami paparkan diatas, maka dengan ini kami, Fraksi POI Perjuangan DPR-Rt· menyatakan menyetujui RUU Perubahan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ini untuk dapat disahkan menjadi Undang-undang.
Akhirnya, Kami Fra'ksi POI Perjuangan menyampaikan terima kasih atas kerjasamanya dan penghargaan tulus kepada yang terhormat Saudara Pimpinan dan Para anggota Dewan, dan kepada yang terhormat Saudara Menteri Kehakiman dan HAM beserta segenap jajarannya dan semua Anggota Komisi II DPR-RI yang selalu dengan cermat dan berkejasama dengan penuh dedikasi serta rasa terima kasih kami sampaikan kepada segenap Stat Sekretariat yang selalu cekatan dalam menyiapkan sarana administrasi pendukung sehingga rapat-rapat pembahasan Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ini dapat berjalan dengan baik dan lancar, Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada para wartawan yang telah menyebarluaskan pembahasan RUU ini.
I
Harapan Kami ad~lah bahwa setelah diundangkannya Undang-Undang tentang Perubahan terhadap Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, maka proses penegakan hukum dapat berjalan dengan baik ..
Dengan d,emikian, aparat penegak hukum dapat melaksanakan fungsinya dalam rangka menciptakan pemerinahan yang bersih, bebas dari praktik KKN.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
MERDEKAI
PIMPINAN FRAKSI
PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT-RI
5