Shiraev (2012: 314) mengatakan bahwa pengalaman masa dewasa bervariasi dari satu kultur ke kultur lain dan tergantung pada usia, gender, status ekonomi, pekerjaan, stuktur keluarga, dan berbagai peristiwa hidup. Sehingga peneliti disini menarik kesimpulan bahwa dewasa memiliki tingkat relational mobility dan nilai kerja yang berbeda pula.
Menurut Mappiare (1990: 21) masa dewasa memiliki ciri-ciri yaitu usia
reproduktif atau “reproductive age”, usia memantapkan letak kedudukan atau
hal emosi atau “emotional tension”. Masa dewasa merupakan usia pemantapan
letak kedudukan atau “dettling-down age”. Membahas persoalan yang berhubungan dengan pekerjaan dan jabatan. Kompleksnya persoalan pekerjaan ini disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan intern individu itu sendiri, faktor-faktor lingkungan sosial termasuk orang tua, faktor kesempatan kerja dan lapangan kerja yang tersedia. Faktor intern yang meliputi ciri-ciri pribadi, sikap, kemampuan dan ketrampilan khusus tertentu haruslah dimiliki seseorang untuk dapat memasuki suatu lapangan pekerjaan tertentu.
Mappiare (1990: 17) juga mendefinisikan bahwa dewasa boleh dikenakan kepada individu-individu yang telah memiliki kekuatan tubuh secara maksimal dan siap bereproduksi dan telah dapat diharapkan memiliki kesiapan kognitif, afektif, psikomotor, serta dapat diharapkan memainkan peranannya bersama individu-individu lain dalam masyarakat.
Menurut Levinson (1978) (dalam Shiraev, 305: 2012) disemua kultur, masa dewasa mempresentasikan kematangan, tanggung jawab, dan akuntabilitas. Periode ini biasanya dibagi menjadi tiga tahap: dewasa awal, dewasa pertengahan, dan dewasa akhir. Dewasa awal biasanya berkaitan dengan proses pembentukan, sedangkan tahap dewasa pertengahan dan akhir diasosiasikan dengan pencapaian beberapa hal. Tetapi garis yang memisahkan periode-periode ini tidak tegas.
Menurut Hurlock (dalam buku Tim pengembangan MKDK IKIP Semarang Psikologi Perkembangan 1990: 86) menegaskan bahwa dewasa dibagi menjadi dewasa awal; 21-40 tahun, dewasa menengah; 40-60 tahun, dewasa lanjut; 60 tahun keatas. Fielman memberikan periodesasi yaitu firs period of
maturity (periode pernyataan diri, mulai mempraktekkan tanggung jawab) dan second of maturity yaitu periode penghargaan diri. Permulaan mengadakan retrospeksi atas karir / jabatan tertentu. Maturity berada pada usia 20 sampai 60 tahun. Dari pendapat para ahli di bidang perkembangan dapat disimpulkan bahwa fase perkembangan manusia masa dewasa berawal dari 21 sampai 60 tahun lebih.
Menurut Hurlock (1968) (dalam Mappiare, 1990: 19) masa dewasa awal
atau “early adulthood” tebentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kira usia empat puluh tahun (dialami seseorang sekitar dua puluh tahun). Selanjutnya adalah masa setengah baya atau “middle age,” yang umumnya dimulai pada usia empat puluh tahun dan terakhir dalam usia enam puluh tahun (juga dialami dalam kurun waktu dua puluh tahun). Dan akhirnya masa tua atau
“old age” yang dimulai sejak berakhirnya masa setengah baya sampai seseorang meninggal dunia.
Teori psikologi perkembangan pembagian masa hidup manusia disebut fase-fase perkembangan. Fase perkembangan ini mempunyai ciri-ciri yang relatif sama, berupa kesatuan-kesatuan peristiwa yang bulat, dan setiap fase akan ditandai dengan ciri-ciri tingkah laku tertentu sebagai karakteristik dari fase tersebut. Dalam keseluruhan proses hidupnya individu akan menghadapi serangkaian tugas-tugas perkembangan. Individu harus mempelajari tugas-tugas perkembangan yang akan dijumpai dalam fase demi fase perkembangan. Individu harus mempelajari tugas-tugas perkembangan sebagai sesuatu yang dapat membawa kebahagiaan dan kepuasan perkembangan dalam kehidupan masyarakat. Teori tugas perkembangan menyatakan bahwa proses kehidupan
manusia yaitu dari lahir sampai meninggal dunia terdiri dari satu serangkaian tugas-tugas perkembangan dari satu tingkat ke tingkat berikutnya dengan memecahkan masalah yang ditemui pada setiap tingkat perkembangan. Masalah yang harus ditemui inilah yang disebut tugas-tugas perkembangan. Apabila sesaeorang berhasil didalam menyelesaikan setiap tugas, ia akan merasa bahagia dan diterima dengan baik oleh masyarakat. Keberhasilan ini mempunyai peranan yang penting dalam tugas berikutnya. Sebaliknya bila individu gagal dalam menyelesaikan tugasnya, ia merasa tidak bahagia, masyarakat kurang dapat menerima dan akan mengalami kesulitan atau hambatan dalam menyelesaikan tugas berikutnya. Havigurst menyatakan bahwa tugas perkembangan adalah satu tugas yang timbul pada satu periode tertentu dalam hidupnya, dimana dalam keberhasilan dalam menyelesaikan tugas ini menimbulkan perasaan bahagia serta keberhasilan pada tugas berikutnya, sedangkan kegagalan menimbulkan ketidakbahagiaan dan kesulitan atau hambatan dalam menyelesaikan tugas berikutnya. Tugas-tugas perkembangan itu hendaknya selalu diperhitungkan oleh individu sebagai sesuatu yang harus dicapai demi untuk mencapai kepuasan dan kebahagiaan (tim pengembangan MKDK IKIP Semarang 1990: 91).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan secara prinsip dapat dikemukakan ke dalam empat faktor, yaitu : faktor pembawaan, faktor lingkungan yang dipengaruhi oleh kebudayaan, golongan sosial/social class, keluarga, teman sepermainan, faktor kematangan, dan faktor belajar (tim pengembangan MKDK IKIP Semarang dalam Psikologi perkembangan 1990: 9).
Masa dewasa jika seseorang telah mencapai kemasakan kognitif, efektif, dan psikomotor sebagai hasil pengajaran atau latihan yang ditunjang kesiapan. Lain halnya yang memandang dari sudut biologis, fisiologis, masa dewasa telah dicapai bila keadaan pertumbuhannya ukuran-ukuran tubuh dan mencapai kekuatan maksimal serta siap berproduksi. Dewasa sama halnya dengan kematangan atau psikologis maturity.
Ada 7 ciri-ciri kematangan menurut Anderson dalam bukunya yang berjudul psychology of developmen and personal adjustment (1951), yaitu:
a. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri sendiri atau ego; minat orang matang berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya, dan tidak condong pada perasaan – perasaan diri sendiri atau untuk kepentingan pribadi.
b. Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efisien; seseorang yang matang melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat didefinisikannya secara cermat dan tahu mana yang pantas dan tidak serta bekerja secara terbimbing menuju arahnya.
c. Mengendalikan perasaan pribadi; seseorang yang matang dapat menyetir perasaan-perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaan-perasaannya dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang-orang lain. Dia tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi mempertimbangkan pula perasaan perasaan orang lain.
d. Keobjektifan; orang matang memiliki sikap objektif yaitu berusaha mencapai keputusan dalam keadaan yang bersesuaian dengan kenyataan. e. Menerima kritik dan saran; orang matang memiliki kemauan yang
realistis, paham bahwa dirinya tidak selalu benar, sehingga terbuka terhadap kritik-kritik dan saran-saran orang lain demi peningkatan dirinya. f. Pertanggung jawaban terhadap usaha-usaha pribadi; orang yang matang
mau memberi kesempatan pada orang-orang lain membantu usaha- usahanya untuk mencapai tujuan. Secara realistis diakuinya bahwa beberapa hal tentang usahanya tidak selalu dapat dinilainya secara sungguh-sungguh, sehingga untuk itu dia menerima bantuan orang lain, tetapi tetap dia bertanggung jawab secara pribadi terhadap usaha- usahanya.
g. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; orang yang matang memiliki ciri fleksibel dan dapat menempatkan diri seirama dengan kenyataan - kenyataan yang dihadapinya dalam situasi-situasi baru (dalam Mappiare, 1990: 19).
Ciri-ciri masa dewasa menurut Mappiare (1990: 21):
a. Usia reproduktif atau “Reproductive Age.” Yaitu suatu masa dimana individu-individu sudah siap fisik dan psikologis, telah siap atau matang untuk melanjutkan keturunan. Pada masa ini paling banyak terjadi perkawinan dan kelahiran.
b. Usia memantapkan letak kedudukan atau “Settling-Down Age”. Kedudukan orang dewasa ditunjukkan dengan penentuan pola-pola prilaku, peranan, kedudukan ekonomi keluarga dan jabatan pekerjaan. c. Usia banyak masalah atau “Problem Age”. Pada masa ini dihadapkan pada
masalah yang cukup ruwet mengenai pekerjaan dan jabatan, pemilihan teman hidup dan penyesuaian perkawinan dan kesulitan keuangan.
d. Usia tegang dalam hal emosi atau “Emotional Tention”. Ketegangan emosi itu timbul karena faktor-faktor penyesuaian yang sukar, faktor lingkungan yang dirasa tidak cocok dan kerap dinampakkan melalui rasa takut atau khawatir yang berlebihan terhadap masalah keuangan.
Manusia dewasa digolongkan sebagai manusia produktif dimana manusia tersebut mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari apa yang dikerjakannya. Seseorang yang telah menyandang status dewasa, berharap dirinya siap menerima kewajiban dan tanggung jawab kedewasaannya. Hal ini ditunjukkan dengan pola-pola tingkah laku wajar seperti yang berlaku pada kebudayaan sekitarnya.
Menurut Havighurst (1953) (dalam Mappiare, 1990: 32) telah mengemukakan tugas-tugas perkembangan dalam masa dewasa sebagai berikut :
a. Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri). b. Belajar hidup bersama dengan suami atau istri.
c. Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga. d. Belajar mengasuh anak-anak.
f. Mulai bekerja dalam suatu jabatan.
g. Mulai bertanggung jawab sebagai warga Negara secara layak.
h. Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai pahamnya. Menurut Kagitcibasi (1985) (dalam Shiraev, 306: 2012) dimasa dewasa, kebanyakan orang mengembangkan pemahaman identitas, yakni pandangan tentang diri sendiri sebagai individu dan anggota masyarakat. Formasi identitas tak dapat dipahami diluar konteks kulturnya. Dalam masyarakat tradisional misalnya, orang menerima identitasnya dalam lingkungan yang sistematis dan koheren. Masyarakat semacam ini umumnya memberi rasa aman pada warganya. Individu terus menerus mempertimbangkan pertimbangan orang lain.
Manusia dewasa mempunyai seperangkat kemungkinan untuk dapat menggunakan potensinya untuk sadar diri, pemahaman diri, serta berlanjut ke membangkitkan diri sendiri. Orang-orang dalam masa dewasa dapat memetik makna dari pengetahuan tentang diri mereka sendiri dan diri orang lain.
Masalah utama dari kedewasaan menurut Wyngaarden (dalam Simanjuntak & Pasaribu, 1984: 186) ada 4 yaitu:
a. Penerimaan (acceptance) terhadap diri sendiri.
Orang yang mencapai kedewasaan adalah yang selalu damai dengan diri sendiri, sedang seorang puber selalu dalam keadaan perang dengan diri sendiri, merasa tegang, karena belum cukup mengenal penyesuaian diri sendiri. Puber selalu melihat bagaimana pendapat orang terhadap dirinya sendiri, bercermin pada orang lain. Ia belum berhasil mendamaikan dirinya, cemas terhadap pendapat orang lain. Menerima dirinya sendiri itu tak berarti bangga dengan dirinya sendiri.
Penerimaan diri sendiri menyiratkan tugas dalam kehidupannya, jujur terhadap diri sendiri, dapat menerima kehidupan dalam suka dan duka, dapat menyerahkan diri terhadap kehidupannya.
b. Penerimaaan terhadap orang lain
Kita harus dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. Ini menyiratkan bahwa kita mengakui orang lain menpunyai pandangan sendiri. Seorang dewasa harus bertindak sesuai dengan masyarakat, menerima masyarakat dengan segala kelemahannya. Orang yang tidak menerima masyarakat selalu mengeluh. Menerima tidak selalu menyetujui, tetapi harus dengan sikap kritis. Memang sukar menerima seseorang yang kita benci tetapi biar bagaimanapun perasaan benci itu harus diatasi agar dapat menerima orang lain.
c. Penerimaan terhadap teman hidup (partner)
Penerimaaan akan teman (pemuda/pemudi) tentu didasarkan pada janji hidup bersama. Hidup bersama berarti saling menerima walaupun ada perbedaan pendirian. Perbedaan pendirian dapat diatasi dengan adanya cinta. Inilah kegunaan masa pertunangan untuk membiasakan diri dalam perbedaan itu. Tiap pernikahan tentu memperkaya diri secara psikologis, yang berarti yang tadinya kita miliki sekarang kita miliki. Dalam hal inilah kita menolak pendirian yang romantis bahwa 1+1=1. Ini tak dapat dibenarkan secara psikologis tetapi dalam arti dwi- tunggal hal itu benar. Pernikahan didasari bahwa laki-laki membutuhkan anima sedangkan wanita membutuhkan animus.
d. Penerimaan terhadap makna kehidupan
Sering kita berkonfronasi dengan ucapan untuk apa hidup ini. Bagi orang dewasa menerima hidup itu bermakna.penerimaan ini benar-benar sesuatu yang dihayati. Juga melihat perbuatan sehari-hari dengan makna kehidupan. Makna kehidupan itu dihayati tidak lepas dari ideologi yang dianutnya.
2.5 Hubungan antara Relational Mobility dengan Work Value pada