• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

2. Dewasa Awal

11

2. Dewasa Awal

Masa dewasa awal adalah masa pencarian kemantapan dan

masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan

ketegangan emosional, periode isolasi sosial, periode komitmen dan

masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreatifitas dan

penyesuaian diri pada pola hidup baru.

Menurut Hurlock masa dewasa awal dimulai dari umur 18

tahun sampai sekitar umur 40 tahun12. Sedangkan menurut ahli

psikologi perkembangan, dewasa awal ialah mereka yang berusia 20

tahun sampai 40 tahun13. Batas-batas dewasa awal berdasarkan

Hurlock dan Santrock maka disini penulis menyimpulkan untuk

batas dewasa awal yaitu 20 tahun sampai 40 tahun.

Masa dewasa dikatakan sebagai masa sulit bagi individu

karena pada masa ini seseorang dituntut untuk melepaskan

ketergantungannya terhadap orang tua dan berusaha untuk dapat

mandiri14.

Dalam penelitian ini, Wika yang merupakan obyek

peneliti tidak memiliki kedekatan hubungan dengan lawan jenis atau

bisa saja disebut tidak memiliki teman dekat. Begitu pula dengan

pekerjaan, Wika belum mempunyai pekerjaan. Masa dewasa awal ini

seharusnya seorang indvidu mulai mempersiapkan untuk mempunyai

12 Rosleney Mariani Perkembangan, (Bandung, Psikologi: CV Pustaka Setia, 2015), hlm. 182

13 Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Dewasa Muda, (Jakarta: PT Grasindo, 2003), hlm. 3

12

peran ganda. Karena masalah usia yang sudah 26 tahun belum juga

menikah dan bekerja menjadikan hal tersebut masalah sehingga

memunculkan tuntuttan-tuntuttan orang tua yang menjadi beban

baginya. Tuntuttan dari orang tua menjadikan beban bagi

kehidupannya sehingga gadis tersebut selalu berpikir terus-menerus

tentang apa yang di inginkan orang tua.

3. Insomnia

Insomnia berasal dari bahasa latin in-, yang artinya “tidak”

atau “tanpa”, dan somnus, yang artinya “tidur”. insomnia yang

muncul sewaktu-waktu terutama pada saat kita stres, bukanlah

sesuatu yang abnormal. Namun, insomnia yang terus ada dan

memiliki karakteristik kesulitan tidur atau untuk tetap tidur adalah

pola perilaku abnormal15. Tidur adalah fungsi biologis, yang

memiliki fungsi restoratif dan sebagaian besar dari kita

membutuhkan setidaknya 7 jam atau lebih untuk tidur pada malam

hari agar kita dapat berfungsi dengan baik. Masalah tidur yang

menyebabkan stres pribadi yang signifikan fungsi sosial, pekerjaan,

atau peran lain diklasifikasikan dalam sistem DSM sebagai

gangguan tidur (sleep disorder). Orang dengan gangguan tidur

biasanya menghabiskan beberapa malam dipusat tidur, dimana

mereka dihubungkan dengan kabel ke alat-alat yang mencatat respon

13

fisiologis mereka selama tidur atau berusaha untuk tidur, gelombang

otak, tingkat jantung dan pernafasan, dan seterusnya.

DSM mengelompokan gangguan tidur menjadi dua

kategori utama yaitu dissomnia dan parosomnia. Dissomnia

(dyssomnias) adalah gangguan tidur yang memiliki karakteristik

terganggunya jumlah, kualitas, atau waktu dari tidur. Salah satu jenis

dissomnia adalah insomnia. DSM (Diagnostic and Statistical

Manual of Mental Disorers) adalah kumpulan berbagai gangguan campur aduk yang dikelompokkan bersama dalam berbagai kelas

tanpa suatu kerangka konseptual yang konsisten16.

Dalam penelitian ini Wika mengalami kecemasan karena

pikiran-pikiran yang membuatnya cemas yaitu pertama, tentang

pekerjaan yang mana Wk belum mendapatkan pekerjaan selama ini.

Kedua, orang tua yang mana disini orang tua selalu bertanya tentang

kedekatan hubungannya dengan lawan jenis. Ketiga, usia yaitu

tetang usia Wika yang sudah 26 tahun tetapi belum juga menikah,

dan lain-lain. kecemasan-kecemasan yang muncul tersebut

menyebabkan mengalami gangguan tidur. Sehingga Wika selalu

kesulitan untuk tidur dan mendapatkan tidur yang berkualitas.

14

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan jenis penelitian

Judul penelitian yang membahas masalah pribadi, dan

penelitian ini akan mengkaji dan mendeskripsikan tentang Cognitve

Behavior Therapy (CBT) Islami pada Seorang gadis yang Menderita Insomnia, peneliti menggunakan penelitian kualitatif. Metode

penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan

pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti kondisi

objek yang alamiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik

pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis

data bersifat induktif/kualitatif17.

Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dikarenakan

data-data yang di dapat nantinya adalah data-data kualitatif berupa

kata-kata atau tulisan tidak bentuk angka dan untuk mengetahui serta

memahami fenomena secara terperinci, mendalam, dan menyeluruh.

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi

khasus. Studi khasus adalah uraian dan penjelasan komprehensif

mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu

organisasi (komunitas) atau situasi sosial. Peneliti studi khasus

berupaya menelaah sebanyak mungkin data mengenai subjek yang

diteliti18.

17 Sugiyono, Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, R&D, (Bandung: ALFABETA, 2014). Hal.9

18 Dedy Mulyana, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hal.201

15

2. Sebjek penelitian

Nama : Wika

Tanggal lahir : 28 April 1990

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Perumahan Sumput Asri, Driyorejo,

Gresik

3. Tahap-tahap penelitian

a. Tahap pra-lapangan

Peneliti melakukan observasi pendahuluan melalui

pengamatan dan mencari suatu informasi dari salah satu

sebagaian sumber terhadap sesuatu, yang dijadikan tempat untuk

memperoleh judul, dan yang sesuai gambaran umum keadaan

dilapangan serta memperoleh kepastian antara judul dengan

kenyataan yang ada di lapangan.

b. Tahap pekerjaan lapangan

Peneliti berusaha menerapkan Cognitive Behavior

Therapy (CBT) Islami pada seorang gadis yang menderita insomnia.

c. Tahap penyelesaian/analisis data

Tahap selanjutnya menganalisis data yang telah

dikumpulkan selama kegiatan lapangan. Proses

16

kategori, dan suatu uraian dasar. Peneliti menganalisis data yang

dilakukan dalam suatu proses.

4. Jenis dan sumber data

a. Jenis data

Janis data adalah hasil pencatatan penelitian baik yang berupa

fakta ataupun angka, dengan kata lain segala fakta dan angka

yang dijadikan bahan untuk menyusun informasi. Penelitian

akan kurang valid jika tidak ditemukan jenis data atau sumber

datanya. Adapun jenis data penelitian ini adalah:

1) Data primer adalah data inti dari penelitian ini, yaitu proses

dalam pemberian teknik Cognitive Behavior Therapy (CBT)

Islami kepada seorang gadis di Driyorejo Gresik yang di

ambil dari observasi di lapangan, tingkah laku, kegiatan

keseharian, dan latar belakang, serta respon dari gadis yang

telah diberikan teknik Cognitive Behavior Therapy (CBT)

Islami.

2) Data sekunder adalah data yang diambil dari sumber kedua

atau berbagai sumber guna melengkapi data primer19.

Diperoleh dari keadaan lingkungan dan perilaku keseharian.

19 Berhan Bungin, Metode Penelitian Sosial : Format-Format Kuantitatif dan Kualitatif, (Surabaya: Universitas Airlangga, 2001), hal.128

17

b. Sumber data

Untuk mendapat keterangan dan informasi, peneliti

mendapatkan informasi dari sumber data, yang di maksud

sumber data adalah subjek dari mana data di peroleh20. Adapun

yang dijadikan sumber data adalah:

1) Sumber data primer, yaitu sumber data yang diperoleh

langsung dari konseli yakni Wika serta didapat dari peneliti

sebagai konselor.

2) Sumber data sekunder, yaitu data-data yang di peroleh dari

perpustakaan yang digunakan untuk mendukung dan

melengkapi data primer21.

5. Teknik pengumpulan data

Mendapatkan data dari sumber penelitian maka ada beberapa

teknik pengumpulan data yang sesuai yaitu:

a.Interview (wawancara)

Wawancara ini dilakukan pada konseli yaitu Wika ,

keluarga, dan orang-orang di lingkungan sekitar.

Menggunakan wawancara terstruktur yaitu digunakan sebagai

teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data

20 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hal.129

21 Hartono Boy Soedarmaji, Psikologi Konseling, (Surabaya: Press UNIPA, 2006). Hal.58

18

telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan

diperoleh.

b.Observasi (pengamatan)

Teknik observasi ini diklarifikasikan menurut tiga cara.

Pertama, pengamat bertindak sebagai partisipan atau observasi

partisipatif yaitu peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari

orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai

sumber penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti

ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut

merasakan suka dukanya, dengan observasi partisipan ini maka

data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai

mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang

nampak. Kedua, observasi dapat dilakukan secara terus terang

yaitu peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan

terus terang kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan

penelitian. Jadi meraka yang diteliti mengetahui sejak awal

sampai akhir tentang aktivitas peneliti. Ketiga, observasi yang

menyangkut latar penelitian dan dalam penelitian ini

digunakan teknik observasi yang mana pengamat bertindak

sebagai partisipan22.

22 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&d, (Bandung: ALFABETA, 2014), hlm.224

19

6. Teknik analisis data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan

lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke

dalam ketegori, menjabarkan ke unit-unit, melakukan sintesa,

menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan

dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh

diri sendiri mupun orang lain23.

Dalam penelitian ini setelah data terkumpul maka data tersebut

dianalisis. Sedangkan data pelaksanaan Cognitive Behavior Therapy

Islami yang dilakukan konselor untuk penderita insomia disajikan

dalam bentuk “deskriptif komparatif”, yakni membandingkan hasil

data pelaksanaan Cognitive Behavior Therapy Islami dilapangan

dengan teori yang ada pada umumnya, untuk membandingkan

kondisi gadis tersebut antara sebelum dan sesudah pelaksanaan

Cognitive Behavior Therapy (CBT) Islami, serta mengetahui berhasil tidaknya Cognitive Behavior Therapy (CBT) Islami dalam mengatasi

penderita insomnia seorang gadis di daerah Driyorejo Gresik.

Usaha untuk mengetahui hasil akhir menggunakan Cognitive

Behavior Therapy Islami ini dapat dilakukan dengan

membandingkan perilaku konseli antara sebelum dan sesudah

pelaksanaan Cognitive BehaviorTherapy (CBT) Islami.

23 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, R&D, (Bandung: ALFABETA, 2014), hlm.244

20

7. Teknik keabsahan data

Dalam penelitian kualitatif tidak menjamin pelaksanaan

penelitian akan mendapatkan hasil yang optimal, kesalahan pada

peneliti juga besar kemungkinan akan terjadi. Dalam hal ini, peneliti

menganalisa data langsung di lapangan untuk menghindari kesalahan

pada data-data tersebut. Maka dari itu, untuk mendapatkan hasil

yang optimal peneliti perlu memikirkan keabshan data. Peneliti

dalam melakukan pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik

sebagai berikut:

a. Ketekunan pengamatan

Melakukan ketekunan berarti melakukan pengamatan

secara lebih cermat dan berkesinambung dengan cara tersebut

maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam

secara pasti dan sistematis.

Memperdalam pengamatan terhadap hal-hal yang diteliti

yaitu tentang proses menggunakan Cognitive Behavior Therapy

(CBT) Islami pada seorang gadis yang menderita insomnia.

b. Observasi yang diperdalam

Menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang

sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari

21

c. Trinaggulasi

Teknik pemerksaan keabsahan data yang memanfaatkan

sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pemeriksaan

atau sebagai perbandingan terhadap data itu. Peneliti memeriksa

data-data yang diperoleh dengan subjek peneliti, baik melalui

wawancara maupun pengamatan, kemudian data tersebut

peneliti bandingkan dengan data yang ada di luar yaitu sumber

lain, sehingga keabsahan data bisa dipertanggung jawabkan.

G. Sistematika Pembahasan

Dalam pembahasan suatu penelitian diperlukan sistemtika

pembahasan bertujuan untuk mempermudahkan penelitian,

langkah-langkah pembahasan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan

Dalam bab ini berisi pendahuluan yang meliputi latarbelakang,

rumusan masalah, tujuan penelitian, definisi konsep, metode penelitian,

sistematika pembahasan.

Bab II Tinjauan Pustaka

Dalam bab ini berisi tinjauan pustaka yang meliputi kajian teoritik

dan penelitian terdahulu yang relevan.

22

Dalam bab ini berisi penyajian data yang terdii dari deskripsi

umum objek penelitian dan deskrpsi hasil penelitian.

Bab IV Analisis Data

Dalam bab ini berisi analisis data.

Bab V Penutup

Dalam bab ini berisi tentang penutup yang di dalamnya terdapat

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritik

1. Cognitive Behavior Theraphy (CBT) Islami

a. Pengertian Cognitive Behavior Therapy

Cognitive Behavior Therapy adalah terapi yang dikembangkan oleh Beck tahun 1976, yang konsep dasarnya meyakini bahwa pola

pemikiran manusia terbentuk melalui proses rangkaian Stimulus –

Kognisi – Respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk

semacam jaringan dalam otak manusia, dimana proses cognitive akan

menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia

berpikir, merasa, dan bertindak24.

Terapi perilaku kognitif (CBT- Cognitive Behavior Therapy)

menggunakan teori dan riset tentang proses-proses kognitif. Pada

faktanya terapi tersebut menggunakan gabungan paradigma kognitif

dan belajar. Para terapis perilaku kognitif memberikan perhatian pada

peristiwa-peristiwa dalam diri, pemikiran, persepsi, penilaian,

pernyataan diri, bahan asumsi-asumsi yang tidak diucapkan (tidak

disadari), dan telah mempelajari serta memanipulasi proses-proses

24

Kasandra, Oemardi, Pendekatan Cognitive Behavior dalam Psikoterapi, (Jakarta: Kreativ Media Jakarta, 2003), hlm.6

24

tersebut dalam upaya memahami dan mengubah perilaku bermasalah

yang terlihat maupun tidak terlihat25.

Terapi kognitif-behavioral (cognitive behavioral therapy) ini

berusaha untuk mengintegrasi teknik-teknik terapeutik yang berfokus

untuk membantu individu melakukan perubahan-perubahan, tidak

hanya perilaku nyata tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan, dan

sikap yang mendasarinya. Terapi kognitif-behavioral memiliki asumsi

bahwa pola pikir dan keyakinan mempengaruhi perilaku, dan

perubahan pada kognisi ini dapat menghasilkan perubahan perilaku

yang diharapkan26.

b. Sejarah perkembangan psikoterapi dengan Cognitive Behavior

Therapy (CBT)

Penerapan terapi pada klien dengan berbagai gangguan klinis

psikologis telah banyak dipermasalahkan sejak awal munculnya

psikoterapi. Kasus klasik Anna O. yang ditangani dengan aliran

Freudian dan khasus manusia tikus merupakan salah satu contoh

penggunaan psikoterapi pada khasus gangguan kepribadian. Berbagai

bentuk yang berbeda tentang terapi Cognitive Behavior dikembangkan

oleh beberapa ahli27.

25 Gerald C. Davision, Psikologi Abnormal edisi ke-9, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm.74

26 Jeffrey S. Nevid, Psikologi Abnormal/Edisi Kellima/Jilid 1, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005), hlm.113

27 Kasandra, Oemardi, Pendekatan Cognitive Behavior dalam Psikoterapi, (Jakarta: Kreativ Media Jakarta, 2003), hlm.14

25

Pada tahun 1960, salah satu psikolog penting di Amerika yaitu

Aaron (Tim) Beck merasa dikecewakan oleh terapi psikoanalisis, yang

dia anggap tidak cukup ampuh atau mujarab. Beck menjadi sangat

tertarik pada emosi yang ditampilkan oleh klien-kliennya, dimana

emosi tersebut tidak terlihat berhubungan dengan kisah-kisah masa

kecil yang mereka ceritakan kepadanya.

Ketika bekerja dengan beberapa klien, Beck menjelaskan

contoh pertamanya yang sangat jelas, tentang rentetan pikiran

kliennya yang muncul seiring dengan kisah yang diceritakan

kliennya28. Latar belakang sebagai seorang psiokanalisis dimana Ia

sering menemukan adanya karakteristik pola pikir yang menyimpang

dalam kasus-kasus klinis yang ditanganinya, membuat Beck tertarik

untuk menjajah pikiran otomatis klien dalam teori cognitivenya. Beck

meyakinkan bahwa klien dengan gangguan emosi cenderung memiliki

kesulitan berpikir logis yang menimbulkan gangguan pada kapasitas

pemahamannya, yang disebut dengan distorsi cognitve antara lain:

1) Mudah membuat kesimpulan tanpa data yang mendukung,

cenderung berpikir secara ‘catastrophic’ atau berpikir

seburuk-buruknya.

2) Memiliki pemahaman yang selektif, membatasi kesimpulan

berdasarkan hal yang terbatas.

28 Cristine, Wilding, dan Aileen, Milne, Cognitive Behavioural Therapy, (Jakarta: Indeks, 2003), hlm.8

26

3) Mudah melakukan generalisasi, sebagai proses meyakini suatu

kejadian untuk diterapkan secara tidak tepat pada situasi lain.

4) Kecenderungan memperbesar dan memperkecil masalah,

membuat klien tidak mampu menilai masalah secara obyektif.

5) Personalisasi, membuat klien cenderung menghubungkan antara

kejadian eksternal dengan diri sendiri dan menyalahkan diri

sendiri.

6) Pemberian label atau kesalahan memberi label, menentukan

identitas diri berdasarkan kegagalan atau kesalahan.

7) Pola pemikiran yang terpolarisai, kecenderungan untuk berpikir

dan menginterpretasikan segala sesuatu dalam bentuk ‘ all-or-nothing’ (semua atau tidak sama sekali).

Perinsip dasar terapi ini menekankan kepada kapasitas klien

dalam menemukan diri sendiri dan merubah pola pikirnya demi

memperoleh cara pandang yang berbeda terhadap diri dan

sekelilingnya29.

c. Konsep dasar Cognitive Behavior Therapy

Teori Cognitive Behavior pada dasarnya meyakini bahwa pola

pemikiran manusia terbentuk melalui proses rangkaian stimulus –

kognisi – respon (SKR), yang saling berkaitan dan membentuk

semacam jaringan SKR dalam otak manusia, dimana proses cognitive

29 Kasandra, Oemardi, Pendekatan Cognitive Behavior dalam Psikoterapi, (Jakarta: Kreativ Media Jakarta, 2003), hlm.16

27

akan menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia

berpikir, merasa dan bertindak. Sementara dengan adanya keyakinan

bahwa manusia memiliki potensi untuk menyerap pemikiran yang

rasional dan irasional, dimana pemikiran yang irasional dapat

menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku, maka Terapi

Cognitive Behavior diarahkan kepada modifikasi fungsi berpikir, merasa dan bertindak, dengan menekankan peran otak dalam

menganalisa, memusatkan, bertanya, berbuat, dan memutuskan

kembali. Dengan merubah status pikiran dan perasaannya, klien

diharapkan dapat mengubah tingkah lakunya dari yang negatif

menjadi positif.

Bagaimana seseorang menilai situasi dan bagaimana cara

mereka mengintepretasikan suatu kejadian akan sangat berpengaruh

terhadap kondisi reaksi emosional yang kemudian akan

mempengaruhi tindakan yang dilakukan. Demi memahami

psikopatologi gangguan mental dan perilaku, Cognitive Behavior

mencoba menguraikan penyebabkan sebagai akibat dari: 1) Adanya

pikiran dan asumsi irasional, 2) Adanya distorsi dalam proses

pemikiran manusia30.

30 Kasandra, Oemardi, Pendekatan Cognitive Behavior dalam Psikoterapi, (Jakarta: Kreativ Media Jakarta, 2003), hlm.6

28

d. Tujuan Cognitive Behavior Therapy

Tujuan Cognitive Behvior Therapy adalah untuk mengajak

konseli menentang pikiran dan emosi yang salah dengan

menampilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan keyakinan

mereka tentang masalah yang dihadapi31. Terapis diharapkan mampu

menolong klien untuk mencari keyakinan yang sifatnya dogmatis

dalam diri klien dan secara kuat mencoba menguranginya. Terapis

harus waspada terhadap munculnya pemikiran yang tiba-tiba

mungkin dapat dipergunakan untuk merubah mereka.

Dalam proses ini, beberapa ahli cognitive-behavior memiliki

pendapat bahwa masa lalu tidak perlu menjadi fokus penting dalam

terapi, karenanya cognitive-behavior lebih banyak bekerja pada

status kognitif masa kini untuk dirubah dari negatif menjadi positif32.

e. Teknik Cognitive Behavior Therapy (CBT)

CBT adalah pendekatan psikoterapeutik yang digunakan oleh

konselor untuk membantu individu kearah yang lebih positif.

Berbagai variasi teknik perubahan kognisi, emosi, dan tingkah laku

menjadi bagaian terpenting dalam Cognitive Behavior Therapy.

Metode ini berkembang sesuai dengan kebutuhan konseli, dimana

31 Kasandra, Oemardi, Pendekatan Cognitive Behavior dalam Psikoterapi, (Jakarta: Kreativ Media Jakarta, 2003), hlm.9

32 M.Hafiz, Akhiriwan, “Bimbingan Konseling Islam dengan Cognitive Behavior Therapy (CBT) dalam Mencegah Masalah Kesehatan Mental (ANXIETY) Seorang Siswa di Madarasah Aliyah Bilingual Krian Sidoarjo”, (Skripsi Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya, 2014), hlm.45

29

konelor bersifat aktif, direktif, terbatas waktu, berstruktur, dan

berpusat pada konseli.

Konselor atau terapis Cognitive Behavior biasanya

menggunakan berbagai teknik intervensi untuk mendapatkan

kesepakatan perilaku sasaran dengan konseli. Teknik yang biasa

dipergunakan oleh para ahli dalam Cogniive Behavior Therapy (CBT)

yaitu:

1) Menata keyakinan irasional.

2) Bibliotherapy, menerima kondisi emosional internal sebagai

sesuatu yang menarik ketimbang sesuatu yang menakutkan.

3) Mengulang kembali penggunaan beragam pernyataan diri dalam

role play dengan konselor.

4) Mencoba berbagai penggunaan pernyataan diri yang berbeda

dalam situasi riil.

5) Mengukur perasaan, misalnya mengukur perasaan cemas yang

dialami pada saat ini dengan skala 0-100.

6) Menghentikan pikiran. Konseli belajar untuk menghentikan

pikiran negatif dan mengubahnya menjadi pikiran positif.

7) Desensitization systematic. Digantinya respon takut dan cemas

dengan respon relaksasi dengan cara mengemukakan

permasalahan secara berulang-ulang dan berurutan dari respon

takut terberat sampai yang teringan untuk mengurangi intensitas

30

8) Pelatihan keterampilan sosial. Melatih konseli untuk dapat

menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya.

9) Assertiveness skill training atau pelatihan keterampilan supaya

bisa bertindak tegas.

10)Penugasan rumah. Mempraktikan perilaku baru dan strategi

kognitif antara sesi konseling.

11)In vivo exposure. Mengatasi situasi yang menyebabkan masalah

dengan memasuki situasi tersebut.

12)Convert conditioning, upaya pengkondisian tersembunyi dengan

menekankan kepada proses psikologis yang terjadi didalam diri

individu. Peranannya didalam mengontrol perilaku berdasarkan

kepada imajinasi dan presepsi33.

f. Prinsip-prinsip Cognitive Behavior Therapy

Berikut ini adalah prinsip-prinsip dari CBT berdasarkan

kajian yang diungkapkan oleh Aron T Beck:

1) Prinsip 1: Cognitive Behavior Therapy berdasarkan pada

formulasi yang terus berkembang dai permasalahan konseli

dan konseptualisasi kognitif konseli. Formulasi konseling terus

diperbaiki seiring dengan perkembangan evaluasi dari setiap

sesi konseling. Pada momen yang strategis, konselor

mengkoordinasikan penemuan-penemuan konseptualisasi

33 Khusnul Maulidyah, “Bimbingan Konseling Islam dengan Cognitive Behavior Therapy untuk Mengurangi Kecemasan Akibat Culture Shock Mahasiswi dari Malaysia di UIN Sunan Ampel Surabaya” (Skripsi, Fakultas Dakwah, 2015), hlm.61-62

31

kognitif konseli yang menyimpang dan meluruskannya

sehingga dapat membantu konseli dalam penyesuaian antara

berpikir, merasa, dan bertindak.

2) Prinsip 2: Cognitive Behavior Therapy didasarkan pada

pemahaman yang sama antara konselor dan konseli terhadap

permasalahan yang dihadapi konseli. Melalui situasi konseling

yang penuh dengan kehangatan, empati, peduli, dan orisinilitas

respon terhadap permasalahan konseli akan membuat

pemahaman yang sama tehadap permasalahan yang dihadapi

konseli. Konseli tersebut akan menunjukan sebuah

keberhasilan dari konseling.

3) Prinsip 3: Cognitive Behvior Therapy memerlukan kolaborasi

dan partisipasi aktif. Menempatkan konseli sebagai tim dalam

konseling. Maka keputusan konseling merupakan keputuasan

yang dispakati dengan konseli. Konseli akan lebih aktif dalam

mengikuti setiap sesi konseling, karena konseli mengetahui apa

yang harus dilakukan dari setiap sesi konseling.

4) Prinsip 4: Cognitive Behavior Therapy berorentasi pada tujuan

dan berfokus pada permasalahan. Setiap sesi konseling selalu

dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pencapaian

tujuan. Melalui evaluasi ini diharapkan adanya respon konseli

terhadap pikiran-pikiran yang mengganggu tujuannya, dengan

Dokumen terkait