• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menejemen terapi Diabetes pada pasien geriatri menggunakan guideline

yang sama pada menejemen terapi pasien dewasa. Beberapa perhatian diperlukan dalam administrasi obat hipoglikemik oral pada pasien geriatri terutama pada pasien yang selain menderita DM juga mempunyai penyakit ginjal, hati dan jantung (Halapy, Henry, 2009).

Metformin, penghambat α-glukosidase, thiazolinediones, meglitinide dan sulfonilurea dapat digunakan pada pasien geriatri. Pada pasien geriatri, pengobatan yang diterima lebih dari satu macam sehingga perlu diperhatikan adanya interaksi antara obat hipoglikemik oral dan obat lain yang digunakan (Halapy, Henry, 2009).

H. Keterangan Empiris

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran evaluasi DTPs pada pasien geriatri penderita Diabetes Melitus di instalasi rawat inap di RSUD Sleman periode 2008 yang menggunakan obat hipoglikemik oral.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian mengenai Evaluasi Drug Therapy Problems (DTPs) pada Pengobatan Pasien geriatri penderita Diabetes Melitus di instalasi rawat inap RSUD Sleman periode 2008 merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif evaluatif yang bersifat retrospektif.

Penelitian non eksperimental merupakan penelitian yang observasinya dilakukan terhadap sejumlah ciri (variabel) subyek menurut keadaan apa adanya tanpa adanya intervensi peneliti (Pratiknya, 2001).

Rancangan penelitian deskriptif karena tujuan dari penelitian ini adalah membuat gambaran atau deskripsi mengenai suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005). Metode penelitian ini merupakan deskriptif evaluatif karena data yang diperoleh dari lembar rekam medis dievaluasi berdasarkan standar yang berlaku, dan dideskripsikan dengan memaparkan fenomena yang terjadi. Kemudian ditampilkan dalam bentuk table dan diagram.

Penelitian ini bersifat retrospektif karena data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dengan melakukan penelusuran dokumen terdahulu, yaitu pada lembar rekam medis pasien di instalasi rawat inap RSUD Sleman periode 2008.

B. Definisi Operasional

1. Pasien geriatri penderita Diabetes Melitus adalah pasien dengan usia 60 tahun keatas yang memiliki kadar glukosa puasa ≥126mg/dL atau pada rekam medis telah didiagnosis menderita DM serta pasien yang telah menerima terapi obat hipoglikemik oral tunggal maupun dengan kombinasi (baik kombinasi dengan OHO yang lain ataupun dengan insulin).

2. Karakteristik pasien DM adalah penggolongan pasien yang telah terdiagnosis Diabetes Melitus berdasarkan umur, jenis kelamin, lama perawatan, data seluruh obat yang digunakan oleh pasien pada saat pasien dirawat di instalasi rawat inap RSUD Sleman periode 2008.

3. DTPs adalah peristiwa yang tidak diinginkan yang dialami pasien yang memerlukan atau diduga memerlukan terapi obat dan berkaitan dengan tercapainya tujuan terapi yang diinginkan.

a. Terapi obat tanpa indikasi, meliputi tidak adanya indikasi medis yang valid untuk terapi obat yang digunakan saat itu, banyaknya pemakaian banyak obat untuk kondisi tertentu padahal hanya memerlukan terapi obat tunggal, kondisi medis lebih sesuai diobati tanpa terapi obat, terapi obat digunakan untuk menghilangkan adverse reactions yang berhubungan dengan pengobatan lain, penyalahgunaan obat, penggunaan alkohol, atau merokok yang menyebabkan masalah.

b. Indikasi penyakit yang tidak diberikan terapi, meliputi kondisi terapi yang memerlukan terapi inisiasi obat, kondisi yang memerlukan tambahan untuk mencapai efek adiktif.

c. Ketidakefektifan pemilihan obat, meliputi obat yang digunakan bukan obat yang paling efektif terhadap masalah medis yang dialami, kondisi medis terbiaskan dengan adanya obat, bentuk sediaan obat tidak sesuai dan obat tidak efektif terhadap indikasi yang dialami.

d. Dosis yang kurang, meliputi dosis terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang diinginkan, interval dosis terlalu rendah untuk dapat menghasilkan respon yang diinginkan, interaksi obat menurunkan jumlah zat aktif yang tersedia dan durasi obat terlalu singkat untuk menghasilkan respon yang diinginkan.

e. Dosis yang berlebih, meliputi dosis terlalu tinggi, frekuensi pemakaian obat terlalu singkat, durasi obat terlalu panjang, interaksi obat terjadi karena hasil dari reaksi toksik dari obat dan dosis obat diberikan terlalu cepat.

f. Adverse drug reactions, meliputi produk obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan dosis, produk obat yang aman diperlukan karena terkait dengan faktor risiko, interaksi obat menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan yang tidak berhubungan dengan dosis, pengaturan dosis yang diberikan atau diganti dengan sangat cepat, produk obat yang menyebabkan reaksi alergi dan produk obat yang kontraindikasi terhadap faktor risiko.

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah semua pasien geriatri penderita DM yang dirawat di instalasi rawat inap RSUD Sleman periode 2008 kemudian diambil sesuai kriteria inklusi yaitu: pasien dengan usia 60 tahun keatas yang memiliki kadar glukosa puasa ≥126mg/dL atau pada rekam medis telah didiagnosis menderita DM serta pasien yang telah menerima terapi obat hipoglikemik oral tunggal maupun dengan kombinasi (baik kombinasi dengan OHO yang lain ataupun dengan insulin).

D. Bahan Penelitian

Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar rekam medis pasien geriatri DM di instalasi rawat inap RSUD Sleman periode 2008.

E. Tata Cara Penelitian 1. Analisis situasi

Analisis situasi dimulai dengan melihat pola penyakit dan obat yang digunakan pada pasien geriatri penderita DM yang ada di instalasi rawat inap RSUD Sleman periode 2008 yang di peroleh dari instalasi catatan medik rumah sakit.

2. Pengambilan data

Ditemukan 60 pasien yang berusia di atas 60 tahun pada saat itu. Selanjutnya dari 60 pasien yang didapatkan, dipilih sesuai dengan syarat inklusi

yang ditetapkan oleh penulis dan didapatkan 22 kasus yang menggunakan obat hipoglikemik oral dan akan dievaluasi dengan metode SOAP.

Tahap pengambilan data dilakukan beberapa proses, yaitu :

a. Penelusuran data, dilakukan dengan cara melihat data komputer di bagian rekam medis yang memuat laporan jenis penyakit pasien geriatri rawat inap. Berdasarkan laporan tersebut, didapatkan nomor rekam medis, umur, jenis kelamin, lama rawat inap, keadaan pasien setelah menjalani rawat inap penderita DM untuk pasien rawat inap.

b. Pengumpulan data, dilakukan dengan mencari pasien geriatri yang sesuai dengan definisi operasional diatas berdasarkan nomor rekam medik yang didapat. Selain itu, peneliti juga melakukan tanya jawab dengan farmasis yang berada di RSUD Sleman dan melakukan kunjungan ke bangsal untuk menanyakan data dari rekam medik yang kurang jelas serta melihat Formularium RSUD Sleman tahun 2008.

c. Pencatatan data, dilakukan dengan mencatat data pasien geriatri penderita DM yang mendapat terapi obat hipoglikemik oral tunggal maupun dengan kombinasi obat hipoglikemik oral yang lain atau kombinasi bersama insulin yang digunakan bersama dengan obat selain obat hipoglikemik oral dan insulin pada periode 2008 yang disalin dari rekam medik.

Data yang dikumpulkan meliputi nomor rekam medik, umur, tanggal penggunaan obat hipoglikemik oral, dosis, frekuensi, obat lain yang digunakan, data laboratorium, diagnosis penyakit, dan diagnosis lain serta keluhan yang

dialami pasien selama rawat inap, kadar glukosa darah pada awal masuk Rumah Sakit dan keluar Rumah Sakit.

Informasi dari bagian rekam medis, terdapat 60 kasus Diabetes Melitus pada pasien geriatri periode 2008, namun yang masuk dalam kriteria inklusi peneliti ada 22 kasus, sehingga yang digunakan dalam penelitian adalah 22 pasien yang masuk dalam kriteria inklusi.

3. Pengolahan data

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan diagram dengan beberapa keterangan yang meliputi data tentang profil penggunaan obat, golongan dan jenis obat hipoglikemik oral yang digunakan, dosis, frekuensi, data laboratorium,serta diagnosis penyakit.

F. Tata Cara Analisis Hasil

Data kualitatif dibahas dalam bentuk uraian dan data dibahas secara deskriptif dalam bentuk tabel atau gambar diagram. Sebelumnya, data pasien terlebih dahulu dikelompokkan berdasarkan kategori sebagai berikut ini :

1. Karakteristik pasien

a. Persentase jenis kelamin pasien geriatri penderita DM, dikelompokkan menjadi laki-laki dan perempuan pada periode 2008 masing-masing dibagi jumlah total kasus pada periode 2008 dikali 100%.

b. Persentase lama rawat inap

Lama perawatan disajikan menurut lama pasien geriatri penderita DM yang dirawat dengan menghitung masing-masing keadaan pasien membaik

ataupun belum sembuh dibagi jumlah total kasus pada periode 2008 dikali 100%.

c. Persentase jenis komplikasi penyerta pasien geriatri penderita DM dengan cara menghitung jumlah pasien masing-masing jenis komplikasi penyerta dibagi dengan total kasus kemudian dikali 100%.

d. Persentase jenis penyakit penyerta pasien geriatri penderita DM dengan cara menghitung jumlah pasien masing-masing jenis komplikasi penyerta dibagi dengan jumlah total kasus pasien kemudian dikali 100%.

e. Persentase lama perawatan pasien geriatri penderita Diabetes Melitus dengan cara menghitung jumlah pasien yang terdapat pada range lama perawatan tertentu dibagi dengan jumlah total kasus dan dikalikan 100%. 2. Pola pengobatan

a. Persentase jenis obat yang digunakan pada pasien geriatri penderita DM dihitung dengan cara menghitung jumlah terapi yang digunakan pada masing-masing golongan dibagi dengan total masing-masing jenis kelas terapi dan dikalikan 100%.

3. Perhitungan identifikasi Drug Therapy Problems (DTPs)

Persentase jumlah Drug Therapy Problems (DTPs) pasien geriatri penderita Diabetes Melitus dengan menghitung jumlah masing-masing kasus

Drug Therapy Problems (DTPs) dibagi dengan jumlah keseluruhan kasus pasien dan dikalikan 100%.

Kemudian dilakukan evaluasi kerasionalan obat dengan acuan Drug Therapy Problems menggunakan metode SOAP. Evaluasi DTPs dilakukan

dengan referensi standar pertama yang digunakan adalah Drug information handbook 14thedition (Lacy, Armstrong, Goldman, Lance, 2006) dan Drug Interaction Fact (Tatro, 2007), dan standar kedua AHFS drug information

2004 (McEvoy dkk, 2003). Untuk mengetahui kelas terapi yang digunakan pasien geriatri, digunakan Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000 sebagai standard referensi yang pertama dan standard kedua digunakan Informasi Spesialite Obat Indonesia volume 44 tahun 2009.

45

Terdapat 22 kasus yang memenuhi kriteria inklusi dari 60 pasien yang berusia 60 tahun keatas.

A. Karakteristik Subyek Penelitian 1. Berdasarkan Jenis Kelamin

Pada penelitian ini diketahui subyek penelitian wanita adalah 68,2% dan pria 31,8%. Besarnya jumlah geriatri wanita pada penelitian ini dikarenakan pada awal pengambilan data, jumlah wanita penderita Diabetes Melitus (DM) yang terbanyak. Walaupun dalam suatu survei, penderita DM pada usia 60-74 tahun serta usia ≥75 tahun, risiko terkena DM pada jenis kelamin pria lebih tinggi daripada wanita. Hal ini tidak sesuai dengan yang didapatkan penulis dimana wanita mempunyai persentase lebih besar untuk menderita DM.

Gambar 11. Karakteristik Subyek Penelitian Pasien Geriatri Penderita Diabetes Melitus di Instalasi Rawat Inap RSUD Sleman Periode 2008 Berdasarkan Jenis

Adanya perbedaan jumlah pasien pria dan wanita ini tidak menandakan bahwa pria lebih berisiko untuk menderita DM karena jenis kelamin bukan faktor risiko DM. Yang merupakan faktor risiko dari DM antara lain riwayat penyakit keluarga DM, obesitas, tekanan darah tinggi dan kebiasaan hidup tidak sehat (Meilani, 2005).

2. Berdasarkan Lama Rawat Inap

Rata-rata lama perawatan pasien geriatri penderita DM adalah satu hingga tujuh hari (seminggu). Lama perawatan dibagi menjadi tiga yaitu 1-7 hari (50,0%), 8-14 hari (40,9%) dan 15-21 hari (9,1%).

Tabel V. Karakteristik Subyek Penelitian Pasien Geriatri Penderita Diabetes Melitus di Instalasi Rawat Inap RSUD Sleman Periode 2008 Berdasarkan Lama

Rawat Inap

No. Lama Perawatan Persentase

1. 1- 7 hari 50,0%

2. 8-14 hari 40,9%

3. 15-21 hari 9,1%

Lama perawatan antara 1-7 hari, hal tersebut dapat dipengaruhi kesehatan pasien yang sudah membaik maupun untuk menghindari biaya perawatan yang mahal jika terlalu lama dirawat karena rata-rata pasien rawat inap merupakan pasien yang kurang mampu (masalah ekonomi).

3. Berdasarkan Status Keluar

Status keluar dari 19 pasien (86,4%) adalah dikatakan membaik dan 3 pasien (13,6%) keluar dengan status di rekam medik belum sembuh. Kriteria status keluar dilihat dari keadaan terakhir pasien rawat inap pada hari

Pemeriksaan gula darah pasien yang terakhir menunjukkan range gula darah sewaktu 171-365mg/dL, gula darah puasa 111-319 mg/dL dan gula darah 2 jam post prandial 121-303mg/dL.

4. Berdasarkan Komplikasi dan Penyakit Penyerta

Komplikasi yang banyak diderita oleh pasien geriatri penderita Diabetes Melitus adalah hipertensi. Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskuler dan komplikasi mikroangiopati seperti retinopati dan nefropati. Prevalensi terjadinya hipertensi 2 kali lebih besar pada pasien diabetes daripada non diabetes (Votey, 2007)

Komplikasi selanjutnya yang banyak diderita oleh pasien DM adalah dislipidemia dan ulkus. Dislipidemia terjadi akibat kadar kolesterol total dan trigliserida melebihi normal. Hal tersebut dikarenakan glukosa yang terbentuk tidak dapat diubah menjadi energi. Akibatnya sumber energi yang lain dibuat dari lemak ataupun protein. Oleh karena itu kadar kolesterol dapat menumpuk dalam darah.

Tabel VI. Karakteristik Pasien Geriatri Penderita Diabetes Melitus Instalasi Rawat Inap di RSUD Sleman periode 2008 berdasarkan Komplikasi

No. Komplikasi Jumlah

kasus Persentase (%) 1. DM tanpa komplikasi 7 31,8 2. Penyakit Kardiovaskuler DM+ Hipertensi 6 27,3 DM+ Dislipidemia 4 18,2 3. DM+ Ulkus 4 18,2 4. DM+ Hipoglikemik 1 4,5

Komplikasi ulkus pada pasien geriatri penderita DM umum terjadi. Hal ini disebabkan tidak terkontrolnya gula darah sehingga dapat

menyebabkan kerusakan pada saraf perifer sehingga pada penderita DM ini kehilangan sensoriknya dan tidak menyadari apabila terluka (Susanti, 2007). Pada pasien geriatri penderita DM yang mempunyai komplikasi dengan ulkus dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Oleh karena itu, pasien geriatri yang menderita ulkus memerlukan perawatan antibiotik untuk mencegah infeksi yang terjadi agar infeksi tersebut tidak bertambah luas.

Penyakit penyerta merupakan penyakit yang menyertai DM. Penyakit DM menjalani rawat inap karena dirasa keluhannnya amat mengganggu. Keluhan tersebut dapat terjadi akibat menderita Diabetes sendiri maupun dikarenakan oleh komplikasi yang mereka derita. Oleh karena itu diperlukan terapi selain obat DM untuk menanganinya.

Tabel VII. Karaketristik Pasien Geriatri Penderita Diabetes Melitus Instalasi Rawat Inap di RSUD Sleman periode 2008 Berdasarkan Penyakit Penyerta

No. Penyakit penyerta Jumlah kasus Persentase (%) Gangguan pencernaan Gastritis 4 18,2 1. Diare 1 4,5 2. Asam urat 2 9,2 3. Malaria 1 4,5 4. Anemia 1 4,5 5. Urtikaria 1 4,5 6. Tanpa penyerta 12 54,6

Penyakit penyerta yang paling banyak diderita oleh pasien adalah gastritis. Pasien geriatri penderita DM mengeluh gastritis dikarenakan efek samping dari pengobatan yang diterima maupun pola makan yang kurang baik.

5. Berdasarkan Golongan Obat yang Digunakan a. Obat Hormonal

Yang termasuk dalam obat-obat hormonal dalam penelitian ini adalah obat hipoglikemik dan kortikosteroid.

Tabel VIII. Obat Hormonal yang Digunakan pada Terapi Diabetes Melitus Pasien Geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Sleman Periode 2008

Terapi Komposisi Persentase (%) metformin+ insulin 9 40,9 metformin 6 27,3 glikazid + metformin 6 27,3 glikazid+metformin+ insulin 1 4,5 Total 22 100

Penulis tidak menemukan penggunaan vildagliptin walaupun dalam pustaka penulis mencantumkan obat golongan DPP-4 inhibitor

Golongan obat hipoglikemik oral yang paling banyak digunakan adalah golongan Biguanida yaitu metformin. Metformin mempunyai beberapa keunggulan yang tidak didapatkan pada obat hipoglikemik oral yang lainnya yaitu penggunaan metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan dan tidak terjadinya hipoglikemik.

Metformin merupakan lini pertama bagi pasien yang menderita Diabetes Melitus (Schernthaner, Guntram dan Schernthaner, G.Holger, 2007). Metformin digunakan karena metformin menghasilkan perubahan kontrol glikemik yang menguntungkan dan dapat memberikan keuntungan dalam penurunan berat badan, lipid, dan tekanan darah. Sulfonilurea, penghambat α -glucosidase ,thiazolidinediones, meglitinides, insulin, dan diet, gagal dalam

menunjukkan keuntungan dalam kontrol hipoglikemik, berat badan dan lipid dibandingkan dengan metformin (Sainz, Esteban, Mataix, 2009).

Selain penggunaan tunggal obat hipoglikemik oral, penggunaan kombinasi antara obat hipoglikemik oral dan insulin banyak digunakan (40,9%). Penggunaan kombinasi antara metformin dengan insulin dapat memberikan keuntungan karena dapat menghindari terjadinya hipoglikemik dan mengurangi berat badan (Schernthaner, 2007). Penggunaan metformin dan insulin dapat lebih menguntungkan dibandingkan jika penggunaan tunggal sulfonilurea maupun insulin dalam dosis yang rendah (Valsaraj, Augusti, Chemmanam, & Jose, 2009).

Insulin yang banyak digunakan adalah insulin reguler. Hal ini dikarenakan pada pasien geriatri kadar gula darah tidak stabil atau tidak terkontrol, selain itu juga digunakan untuk menentukan unit insulin yang akan digunakan.

Selain obat hipoglikemik, dalam kasus ditemukan adanya dua kasus yang menggunakan kortikosteroid sebagai obat hormonal.

b. Obat yang Bekerja pada Sistem Saluran Cerna

Golongan obat yang bekerja pada sistem saluran pencernaan antara lain antitukak, antispasmodik, laksatif dan antidiare.

Tabel IX. Obat yang Bekerja pada Sistem Saluran Cerna yang Digunakan pada Terapi Diabetes Melitus Pasien Geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Sleman

Periode 2008

Golongan Sub Golongan Komposisi Jumlah kasus Persentase (%) Antitukak Antagonis Reseptor H2 ranitidin 8 36,4

Golongan Sub Golongan Komposisi Jumlah kasus Persentase (%) Antasida alumunium/mag nesium 8 36,4 Penghambat pompa proton pantoprazol 1 4,5 Antidiare loperamid HCl 2 9,2 1 4,5

Laksatif parafin cair

bisakodil 1 4,5

Antispasmodik timepidium

bromida

1 4,5

Total 22 100

Golongan yang paling banyak digunakan adalah antitukak (77,3%). Tujuan terapi dengan menggunakan antitukak untuk meringankan atau menghilangkan gejala, mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi yang serius (hemoragi) dan mencegah kekambuhan (Anonim, 2000).

Obat saluran cerna ini juga digunakan untuk mengatasi efek samping yang terjadi akibat pemakaian metformin. Penggunaan metformin dapat menyebabkan gangguan pada gastrointestinal seperti mual, muntah dan diare.

Pengobatan dengan antidiare disebabkan pada saat pasien menjalani perawatan, pasien mengalami diare, sedangkan pada pasien yang mengalami konstipasi diberikan obat pencahar (laksatif). Konstipasi dapat disebabkan oleh penggunaan antasida.

Dilihat dari tabel diatas, pemakaian obat untuk tukak lambung mempunyai persentase yang paling banyak. Obat ini digunakan dalam menghambat sekresi asam lambung. Zat aktif yang banyak digunakan adalah ranitidin (36,4%) dan antasida (36,4%). Penghambat reseptor H2 bekerja dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai hambatan reseptor H2

sedangkan antasida mempunyai kemampuan dalam menetralkan asam klorida.

c. Obat yang digunakan untuk penyakit pada sistem kardiovaskuler

ADA (American Diabetes Association) menyebutkan bahwa penghambat ACE, penghambat reseptor Angiotensin (ARB), penghambat β

(β-blocker), diuretik dan antagonis kalsium diberikan sebagai terapi awal untuk mengurangi kejadian penyakit kardiovaskuler pada pasien DM.

Penyakit kardiovaskuler merupakan komplikasi pada DM. Penyakit kardiovaskuler jika tidak ditangani lebih lanjut dapat mengakibatkan keparahan dan kematian pada penderita DM. Faktor risiko yang dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskuler adalah hipertensi, dislipidemia. Oleh karena itu, diperlukan pengobatan untuk mencegah ataupun mengobati faktor risiko tersebut yaitu dengan menggunakan antihipertensi dan dislipidemia.

Tabel X. Obat yang Digunakan untuk Penyakit pada Sistem Kardiovaskuler yang Digunakan pada Terapi Diabetes Melitus Pasien Geriatri di Instalasi Rawat Inap

RSUD Sleman Periode 2008

Golongan Sub golongan Komposisi Jumlah kasus Persentase (%) kaptopril 12 37,5 ACE inhibitor moeksipril HCl 2 6,3 Antihipertensi yang bekerja sentral klonidin hidroklorid 3 9,4 Antagonis Angiotensin II valsartan 1 3,1 Antihipertensi Diuretik furosemid 1 3,1 Antiangina Antagonis kalsium amlodipin maleat 4 12,5

Golongan Sub golongan Komposisi Jumlah kasus Persentase (%) nifedipine 1 3,1 Antagonis kalsium amlodipin besilat 1 3,1 Antiangina Nitrat isosorbit dinitrat 2 6,3 Obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah Antiplatelet asetosal 4 12,5

Penurun lipid simvastatin 1 3,1 Total 32 100

Penggunaan obat yang digunakan dalam sistem kardiovaskuler mencapai 32 jenis obat. Hal tersebut disebabkan dalam suatu kasus penggunaan obat kardiovaskuler ini lebih dari satu golongan. Contohnya pada kasus nomor 6, golongan yang dipakai yaitu antihipertensi (kaptopril), antiangina (nifedipine) dan obat yang mempengaruhi sistem koagulasi darah. Pada kasus nomor 9, terdapat empat zat aktif yang digunakan yaitu amlodipin, simvastatin, kaptopril dan klonidin.

Obat yang paling banyak digunakan pada pasien geriatri penderita DM di instalasi rawat inap RSUD Sleman periode 2008 adalah golongan antihipertensi (59,4%). Hipertensi merupakan faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler sehingga diperlukan penanganan untuk pengobatan hipertensi ini. Terjadinya hipertensi pada pasien DM yaitu, adanya resistensi insulin. Akibat resistensi insulin ini, glukosa darah hasil proses metabolisme dari makanan yang dimakan tidak dapat disimpan dalam sel baik dalam bentuk energi maupun sebagai cadangan makanan.

Akibatnya, glukosa tersebut tertimbun dalam ginjal dan pada akhirnya dapat melebihi ambang batas ginjal dan terjadilah proses diuresis osmotik dimana ginjal mengeluarkan cairan berlebih melalui urin untuk mengurangi kadar glukosa darah, sehingga dalam tubuh terjadi dehidrasi karena berkurangnya cairan ekstrasel dan kompensasi, cairan intrasel ditarik keluar sehingga cairan tubuh berlebih, terjadi hipertensi (Meirinawati, 2006). Terapi aspirin ini digunakan sebagai strategi pencegahan primer risiko kardiovaskular, termasuk pasien dengan usia >40 tahun yang memiliki riwayat keluarga penyakit kardiovaskular dan kebiasaan merokok, menderita hipertensi, dislipidemia, atau albuminuria (ADA, 2009). Terapi ini bekerja dengan cara agregasi platelet sehingga menghambat pembentukan trombus pada sirkulasi arteri.

Faktor risiko yang perlu diperhatikan adalah dislipidemia karena jika tidak ditangani dapat menjadi faktor terjadinya penyakit kardiovaskuler. Untuk itu digunakan golongan statin dalam pengobatan dislipidemia ini. Golongan statin digunakan untuk penurun lipid. Golongan ini diberikan pada pasien dengan kolesterol total >200mg/dL.

d. Obat yang Digunakan untuk Pengobatan Infeksi

Pada golongan ini terdiri atas golongan antimikroba, antiprotozoa, antelmintik dan antimalaria.

Tabel XI. Obat yang Digunakan untuk Pengobatan Infeksi yang Digunakan pada Terapi Diabetes Melitus Pasien Geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Sleman

Periode 2008

Golongan Sub golongan Komposisi Jumlah kasus Persentase (%) sefalosporin seftriakson 5 19,3 seftizoksim 2 7,8 seftazidim 1 3,8 sefadroksil 1 3,8 kuinolon siprofloksasin 4 15,4 pefloksasin 2 7,8 levofloksasin 1 3,8 Antimikroba sulfonamid dan trimetoprim kotrimoksazol 1 3,8 Antiprotozoa metronidazol metronidazol 6 23,1

klorokuin 1 3,8 Antimalaria

primakuin 1 3,8 Antelmintik pirantel pamoat 1 3,8 Total 26 100

Penggunaan obat untuk pengobatan infeksi ini mencapai 26 kasus karena pasien dapat menerima lebih dari satu golongan obat. Misalnya pada kasus nomor 3, digunakan dua golongan obat yaitu metronidazole (antiprotozoa) dan golongan antimikroba (kotrimoksazol).

Obat antimikroba ini digunakan dalam menangani pasien yang mempunyai ulkus atau luka pada bagian tubuhnya. Golongan antimikroba ini digunakan untuk mencegah atau mengobati jika terjadi infeksi pada luka tersebut. Selain itu digunakan jika hasil laboratorium menunjukkan adanya infeksi.

Antimikroba yang banyak digunakan adalah sefalosporin. Sefalosporin termasuk antibiotik β-laktam yang bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel mikroba. Selain itu, sefalosporin aktif terhadap gram

Dokumen terkait