• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori

2. Diagnosis Kesulitan Belajar

Diagnosis kesulitan belajar merupakan usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis kesulitan belajar yang dialami beserta hal-hal (faktor-faktor) yang menjadi penyebabnya sehingga dapat ditentukan kemungkinan-kemungkinan cara mengatasinya.

3. Remediasi

Remediasi merupakan suatu bentuk usaha untuk memperbaiki proses belajar mengajar sehingga siswa dapat memperbaiki kesalahan-kesalahannya dan mendapat hasil belajar yang optimal. Remediasi hanya dilakukan terhadap siswa yang diidentifikasi mengalami kesulitan belajar.

4. Pola Bilangan

Pola bilangan merupakan susunan angka-angka yang mempunyai bentuk teratur dari bentuk yang satu ke bentuk berikutnya. Susunan bilangan yang mengikuti pola tertentu dikelompokkan dalam pola bilangan aritmetika, pola bilangan geometri, dan pola bilangan manipulatif.

5. Koordinat Kartesius

Sistem koordinat Kartesius digunakan untuk menentukan objek titik-titik pada suatu bidang dengan menggunakan dua bilangan yang biasa disebut dengan koordinat š‘„ dan koordinat š‘¦ dari titik-titik tersebut.

6. Relasi

Relasi adalah suatu aturan yang memasangkan anggota-anggota suatu himpunan ke anggota-anggota himpunan lainnya. Relasi dapat dinyatakan dengan diagram panah, himpunan pasangan berurutan, dan diagram Kartesius.

G. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

Penelitian ini diharapkan dapat membantu siswa mengatasi kesulitan belajarnya dalam menyelesaikan soal-soal pola bilangan, koordinat Kartesius, dan relasi sehingga proses belajarnya dapat optimal.

2. Bagi Guru

Penelitian dapat memberikan gambaran mengenai kesulitan-kesulitan belajar yang sering dialami siswa serta faktor-faktor penyebabnya dalam menyelesaikan soal-soal pola bilangan, koordinat Kartesius, dan relasi.

3. Bagi Peneliti

Peneliti memperoleh pengetahuan serta keterampilan dalam melakukan kegiatan diagnosis dan remediasi terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika, khususnya dalam menyelesaikan soal-soal pola bilangan, koordinat Kartesius, dan relasi.

8

BAB II LANDASAN TEORI LANDASAN TEORI

A. Deskripsi Teori 1. Belajar

Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian. Dalam konteks menjadi tahu atau proses memperoleh pengetahuan, menurut pemahaman sains konvensional, kontak manusia dengan alam diistilahkan dengan pengalaman (experience).

Pengalaman yang terjadi berulang kali melahirkan pengetahuan (knowledge), atau a body of knowledge. Definisi ini merupakan definisi umum dalam pembelajaran sains secara konvensional, dan beranggapan bahwa pengetahuan sudah terserak di alam, tinggal bagaimana siswa atau pembelajar bereksplorasi, menggali dan menemukan kemudian memungutnya untuk memperoleh pengetahuan.

Noer Rohmah (2012) menyatakan bahwa belajar adalah key term, ā€œistilah kunciā€ yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Menurut Muhibbin Syah (2008), belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik di sekolah, di lingkungan rumah, atau di dalam keluarga.

a. Belajar tuntas (mastery learning)

Belajar tuntas adalah suatu upaya belajar dengan penekanan siswa harus menguasai seluruh bahan ajar. Karena menguasai 100% bahan ajar amat sukar, maka yang dijadikan ukuran biasanya menguasai 85% tujuan atau kompetensi yang harus dicapai. Biasanya tiap jenis mata pelajaran menetapkan tingkat ketuntasan yang berbeda sesuai dengan persepsi terhadap tingkat kesukaran mata pelajaran tersebut. Dalam konsep KTSP, kriteria ini disebut sebagai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). KKM di setiap sekolah, di setiap mata pelajaran umumnya memang berbeda, penentuan KKM biasanya ditetapkan dalam rapat guru sesuai pengalaman sekolah masing-masing serta standar yang ditetapkan dalam standar kelulusan.

Suwarto (2013) dalam bukunya Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran juga mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan belajar tuntas, antara lain:

a) Belajar tuntas adalah suatu sistem belajar yang mengharapkan sebagian besar siswa dapat menguasai tujuan instruksional umum dari suatu unit pembelajaran (dikutip dari Ischak & Warji, 1987 dalam Suwarto, 2013). Tujuan umum dilaksanakannya prinsip belajar tuntas adalah agar tujuan instruksional dapat dicapai secara optimal sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih efektif dan efisien.

b) Ada empat prinsip yang utama dalam pembelajaran tuntas, yaitu: (1) kompetensi yang harus dicapai siswa dirumuskan dengan urutan yang hierarkis; (2) evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan

patokan, dan setiap komponen harus diberikan feedback; (3) pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan di mana diperlukan; (4) pemberian program pengayaan bagi siswa yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal (dikutip dari Departemen Pendidikan Nasional, 2008 dalam Suwarto, 2013).

b. Kesulitan Belajar

1) Pengertian Kesulitan Belajar

Menurut Mulyadi (2010), kesulitan merupakan suatu kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan mencapai tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih giat lagi untuk dapat mengatasinya Berdasarkan makna dari kata

ā€œkesulitanā€, dapat diartikan bahwa kesulitan belajar merupakan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan tersebut dapat disadari atau bahkan tidak disadari oleh orang yang mengalaminya, dan dapat bersifat sosiologis, psikologis ataupun fisiologis dalam keseluruhan proses belajarnya. Kesulitan belajar dapat mencakup ketergangguan belajar, ketidakmampuan belajar, ketidakfungsian belajar, pencapaian rendah, atau lambat belajar.

Kesulitan belajar mempunyai pengertian yang luas dan kedalamannya termasuk pengertian-pengertian seperti:

(1) Learning Disorder (Ketergangguan Belajar)

Adalah keadaan di mana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya orang yang mengalami gangguan belajar, prestasi belajarnya tidak terganggu, akan tetapi proses belajarnya yang terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan.

Dengan demikian hasil belajar yang dicapai akan lebih rendah dari potensi yang dimiliki (Rosyidan, 1998 dalam Mulyadi, 2010).

(2) Learning Disabilities (Ketidakmampuan Belajar)

Adalah ketidakmampuan seseorang murid yang mengacu kepada gejala di mana murid tidak mampu belajar (menghindari belajar), sehingga hasil belajarnya di bawah potensi intelektualnya.

(3) Learning Disfunction (Ketidakfungsian Belajar)

Menunjukkan gejala di mana proses belajar tidak berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnya tidak ada tanda-tanda subnormalitas mental, gangguan alat dria atau gangguan-gangguan psikologis lainnya.

(4) Under Achiever (Pencapaian Rendah)

Adalah mengacu kepada murid-murid yang memiliki tingkat potensi intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.

(5) Slow Learner (Lambat Belajar)

Adalah murid yang lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu dibandingkan dengan murid-murid yang lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

Ciri-ciri atau tingkah laku yang merupakan pernyataan manifestasi gejala kesulitan belajar antara lain:

a. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimiliki.

b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada murid yang sudsh berusaha untuk belajar dengan giat, tetapi nilai yang dicapainya selalu rendah.

c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajar. Selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan. Misalnya rata-rata anak dapat menyelesaikan suatu tugas dalam waktu 40 menit, maka anak yang mengalami kesulitan belajar memerlukan waktu yang lebih lama, karena dengan waktu yang tersedia ia tidak dapat menyelesaikan tugasnya.

d. Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, menentang berpura-pura, dusta, dan sebagainya.

e. Menunjukkan tingkah laku yang kurang wajar seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak tertib dalam kegiatan belajar mengajar, mengasingkan diri, tidak mau bekerja sama dan sebagainya.

f. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, kurang gembira dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih dan menyesal, dan sebagainya.

Setiap murid mempunyai bakat yang berbeda-beda, dan bakat mempunyai pengaruh yang besar terhadap prestasi hasil belajar.

Murid yang kurang berbakat dalam suatu pelajaran tertentu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menguasai suatu bahan dibandingkan dengan murid yang berbakat dalam mata pelajaran tersebut.

2) Faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar menurut Burton (1952) dalam Entang (1984) dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:

a) Faktor-faktor yang terdapat dalam diri siswa, antara lain:

(1) Kelemahan secara fisik ,seperti:

(a) Suatu pusat susunan syaraf tidak berkembang secara sempurna luka atau cacat, sakit, sehingga sering membawa gangguan emosional.

(b) Penyakit menahun (asma, dan sebagainya) menghambat usaha-usaha belajar secara optimal.

(2) Kelemahan-kelemahan secara mental (baik kelemahan yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman) yang sukar diatasi oleh individu yang bersangkutan dan juga oleh pendidikan, antara lain:

(3) Kelemahan mental (taraf kecerdasannya memang kurang).

(4) Nampaknya seperti kelemahan mental, tetapi sebenarnya:

kurang minat, kebimbangan, kurang usaha, aktivitas yang tidak terarah, kurang semangat (kurang gizi), kelelahan (overwork) dan sebagainya, kurang menguasai keterampilan dan kebiasaan fundamental dalam belajar.

(5) Kelemahan-kelemahan emosional, antara lain:

(a) Terdapatnya rasa tidak aman (insecurity).

(b) Penyesuaian yang salah (adjustment) terhadap orang-orang, situasi dan tuntutan-tuntutan tugas dan lingkungan.

(c) Tercekam rasa fobia (takut, benci dan antipati), mekanisme pertahanan diri.

(d) Ketidakmatangan (immaturity).

(6) Kelemahan yang disebabkan oleh karena kebiasaan dan sikap-sikap yang salah, antara lain:

(a) Banyak melakukan aktivitas yang bertentangan dan tidak menunjang pekerjaan sekolah, menolak atau malas belajar.

(b) Kurang berani dan gagal untuk berusaha memusatkan perhatian.

(c) Kurang kooperatif dan menghindari tanggung jawab.

(d) Sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

(e) Gugup.

(7) Tidak memiliki keterampilan-keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan, seperti:

(a) Ketidakmampuan membaca, berhitung, kurang menguasai pengetahuan dasar untuk sesuatu bidang studi yang sedang diikutinya secara sekuensial (meningkat dan beruntun), kurang menguasai bahasa asing.

(b) Memiliki kebiasaan belajar dan cara bekerja yang salah.

b) Faktor-faktor yang terletak di luar diri siswa (situasi sekolah dan masyarakat), antara lain:

(1) Kurikulum yang seragam (uniform), bahan dan buku-buku (sumber) yang tidak sesuai dengan tingkat-tingkat kematangan dan perbedaan-perbedaan individu.

(2) Ketidaksesuaian standard administratif (sistem pengajaran, penilaian, pengelolaan kegiatan dan pengalaman belajar mengajar, dan sebagainya).

(3) Terlalu berat beban belajar (siswa) dan atau mengajar (guru), terlampau besar populasi siswa dalam kelas, terlalu banyak menuntut kegiatan di luar, dan sebagainya.

(4) Terlalu sering pindah sekolah, atau program, tinggal kelas dan sebagainya.

(5) Kelemahan dari sistem belajar mengajar pada tingkat-tingkat pendidikan (dasar asal) sebelumnya.

(6) Kelemahan yang terdapat dalam kondisi rumah tangga (pendidikan, status sosial ekonomi, keutuhan keluarga, ketentraman dan keamanan sosial psikologis dan sebagainya).

(7) Terlalu banyak kegiatan di luar jam pelajaran sekolah atau terlalu banyak terlibat dalam kegiatan extra-curricular.

(8) Kekurangan makan (gizi) dan sebagainya.

2. Diagnosis Kesulitan Belajar

Langkah-langkah diagnosis kesulitan belajar menurut Burton (1952: 640-652) dalam Entang (1984) berdasarkan teknik dan instrumen yang digunakan dalam pelaksanaannya sebagai berikut:

a. Diagnosis umum

Pada tahap ini, lazimnya digunakan tes baku seperti yang digunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologik dan hasil belajar. Sasarannya ialah untuk menemukan siapakah siswa yang diduga mengalami kelemahan tertentu.

b. Diagnosis analitik

Pada tahap ini, lazimnya digunakan ialah tes diagnostik. Sasarannya ialah untuk mengetahui di mana letak kelemahan tersebut.

c. Diagnosis psikologik

Pada tahap ini, teknik pendekatan dan instrumen yang digunakan antara lain:

1) Observasi terkontrol (controlled observation).

2) Analisis karya tulis (analysis of written work).

3) Analisis proses dan respons lisan (analysis of oral responses and accounts of procedures).

4) Analisis berbagai catatan obyektif (analysis of objective record of various types).

5) Wawancara (interviews).

6) Pendekatan laboratoris dan klinis (laboratory and clinical methods).

7) Studi kasus (case studies).

Langkah-langkah diagnosis dan pemecahan kesulitan belajar menurut Entang (1991) dalam Mulyadi (2010) adalah sebagai berikut:

a. Identifikasi murid yang mengalami kesulitan belajar

Beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah sebagai berikut:

a) Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan dalam belajar baik yang sifatnya umum maupun yang sifatnya lebih khusus dalam mata pelajaran tertentu. Caranya ialah dengan membandingkan posisi atau kedudukan siswa dalam kelompoknya atau dengan kriteria tingkat ketuntasan penguasaan yang telah ditetapkan sebelumnya (Penilaian Acuan Patokan- PAP) untuk suatu mata pelajaran atau suatu bahan tertentu.

b) Teknik yang dapat ditempuh bermacam-macam antara lain:

(1) Meneliti nilai ujian yang tercantum dalam catatan akademik kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas (PAN) atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut (PAP).

(2) Menganalisa hasil ujian dengan melihat tipe kesalahan yang dibuatnya.

(3) Observasi pada saat siswa dalam proses belajar mengajar.

(4) Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas bimbingan.

(5) Melaksanakan sosiometri untuk melihat hubungan sosial psikologis yang terdapat pada para siswa.

b. Melokalisasi jenis dan sifat kesulitan belajar

Sesudah ditemukan murid yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka langkah selanjutnya adalah melokalisasi jenis dan sifat kesulitan belajar. Tiga persoalan pokok yang harus dikaji yaitu:

a) Mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu

Dengan membandingkan angka nilai prestasi individu yang bersangkutan dari mata pelajaran lain yang diikutinya atau angka nilai rata-rata prestasi (mean) dari setiap mata pelajaran kalau kebetulan kasus ini adalah kelas, maka akan dengan mudah ditemukan pada pelajaran manakah individu atau kelas mengalami kesulitan.

b) Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bagian ruang lingkup bahan pelajaran manakah kesulitan terjadi

Dalam mendeteksi langkah ini dapat menggunakan tes diagnostik karena hakekat tes ini adalah Tes Prestasi Belajar (TPB atau THB).

Dengan demikian dalam keadaan belum tersedia tes diagnostik yang khusus dipersiapkan untuk keperluan ini, maka analisis masih tetap dapat dilangsungkan dengan menggunakan naskah jawaban (answer sheet) ujian tengah semester atau akhir semester.

c) Analisis terhadap catatan mengenai proses belajar

Hasil analisis empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran (absensi), kurang aktif dan partisipasi, kurang penyesuaian sosial sudah cukup jelas menunjukkan posisi dari kasus-kasus yang bersangkutan. Setelah tiga persoalan pokok tersebut mendapat jawaban dengan pasti, maka dapat dilanjutkan dengan langkah berikutnya, tetapi apabila belum maka dapat dilakukan:

(1) Tes formatif: berfungsi untuk memperbaiki proses belajar yang lebih baik dan mengetahui sejauh mana penguasaan murid tentang bahan yang diajarkan dalam suatu program satuan pelajaran atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) apakah sesuai dengan tujuan instruksional yang telah ditetapkan atau tidak. Sedang aspek yang dinilai dapat berupa pengetahuan, keterampilan, sikap, dan penguasaan bahan.

(2) Tes diagnostik: baik yang standar maupun yang disusun oleh guru.

Misalnya bidang studi IPS, IPA, Bahasa, Pendidikan Agama dan sebagainya.

(3) Memeriksa buku catatan harian.

(4) Memeriksa buku catatan yang ada pada petugas bimbingan di sekolah dan guru lain yang sesuai dengan murid yang diduga.

Pada tahap ini dapat dilakukan pula analisis dokumenter, wawancara, observasi, tes, sosiometri dan pertemuan kasus (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989 dalam Mulyadi, 2010).

c. Memperkirakan sebab-sebab kesulitan belajar

Faktor penyebab kesulitan belajar menurut Abdurrahman dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Penyebab utama kesulitan belajar adalah faktor internal, yaitu kemungkinan adanya disfungsi neurologis; sedangkan penyebab utama problema belajar adalah faktor eksternal, yaitu antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan yang tidak cepat (Abdurrahman, 1999 dalam Mulyadi, 2010).

Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya dapat menyebabkan kesulitan belajar antara lain faktor genetik, luka pada otak karena trauma fisik atau karena kekurangan oksigen, biokimia yang hilang (misalnya zat pewarna pada makanan), pencemaran lingkungan (misalnya pencemaran timah hitam), gizi yang tidak memadai, dan pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak (deprivasi lingkungan). Dari berbagai penyebab tersebut dapat menimbulkan gangguan dari tarafnya ringan hingga yang tarafnya berat.

d. Proses pemecahan kesulitan belajar

Adapun langkah-langkah dalam proses pemecahan kesulitan belajar meliputi:

a) Memperkirakan kemungkinan bantuan

Kalau letak kesulitan yang dialami murid sudah dipahami baik jenis dan sifat kesulitan dengan berbagai macam latar belakangnya maupun faktor-faktor penyebabnya, maka guru akan memperkirakan apakah murid tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak; berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami murid tertentu; kapan dan di mana pertolongan itu dapat diberikan; siapa yang dapat memberikan pertolongan/bantuan; bagaimana cara menolong murid yang efektif sehingga murid dapat mengatasi kesulitan; dan siapa saja yang harus dilibatkan dalam menolong murid dan apakah sumbangan/peranan yang dapat diberikan oleh masing-masing pihak.

b) Menetapkan kemungkinan cara mengatasi

Perlu disusun suatu rencana yang berisi tentang beberapa alternatif yang mungkin dilakukan untuk mengatasi kesulitan yang dialami murid. Rencana itu hendaknya berisi:

(1) Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan yang dialami murid.

(2) Menjaga agar kesulitan serupa jangan sampai terulang lagi.

Alangkah baiknya jika rencana ini dapat didiskusikan dan dikomunikasikan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pemberian bantuan tersebut. Misalnya kepala sekolah, guru kelas/guru bidang studi, orang tua murid, konselor dan sebagainya. Pada dasarnya secara khusus kegiatan ini hanya dapat dilakukan oleh guru bidang studi yang mengetahui secara persis tentang berbagai kesulitan yang dialami oleh seorang murid dalam mata pelajarannya.

c) Tindak lanjut

Tindak lanjut adalah kegiatan melakukan pengajaran remedial (remedial teaching) yang diperkirakan paling tepat dalam membantu murid yang mengalami kesulitan belajar. Kegiatan tindak lanjut ini dapat berupa:

(1) Melaksanakan bantuan berupa pengajaran remedial (remedial teaching) pada bidang studi tertentu yang dilakukan oleh guru,

pada mata pelajaran tertentu yang dilakukan oleh guru, yang dapat dibantu oleh guru pembimbing (konselor) dan pihak lain yang dianggap dapat menciptakan suasana belajar murid yang penuh motivasi.

(2) Pembagian tugas dan peranan orang-orang tertentu (wali kelas dan guru pembimbing) dalam memberikan bantuan kepada murid dan kepada guru yang sedang melaksanakan kegiatan pengajaran remedial.

(3) Senantiasa recek dan mencek kemajuan yang dicapai murid baik pemahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan berupa bahan, maupun mencek tepat guna dari program remedial yang dilakukan untuk setiap saat diadakan revisi. Dalam pelaksanaan pemberian bantuan hendaknya dilakukan secara kontinyu dan setiap kegiatan seharusnya senantiasa disertai dengan pencatatan yang tepat.

(4) Mentransfer murid yang diperkirakan tidak mungkin ditolong karena di luar kemampuan atau wewenang guru/konselor.

Transfer kasus semacam itu bisa dilakukan kepada orang lain atau lembaga lain (psikolog, psikiater, lembaga psikologi dan sebagainya) yang diperkirakan dapat dan lebih tepat membantu murid yang bersangkutan.

Setelah murid mendapat bantuan maka dapat dilakukan tindak lanjut sebagai berikut:

(1) Men-test hasil belajar murid dalam bidang studi yang dianggap sulit.

(2) Melakukan wawancara dengan murid yang bersangkutan untuk mengetahui pendapat murid tentang kesulitannya.

(3) Wawancara dengan guru dan orang tua mengenai perubahan yang telah terjadi.

(4) Menganalisa hasil belajar yang telah dicapai dan informasi lainnya.

(5) Observasi kegiatan murid dalam belajar (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989 dalam Mulyadi, 2010).

Dengan demikian langkah-langkah dalam mendiagnosis kesulitan belajar telah selesai, sebagai bagian integral adalah pengajaran remedial.

Dokumen terkait