D. Stock Flow Diagrams (SFD)
III. DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN
2) Peningkatan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan
7.4. Model Sistem Pengelolaan Sampah
7.4.3. Diagram Struktur Model Sistem Pengelolaan Sampah
Causal loop merupakan jalannya penentuan sistem yang menunjukkan akumulasi energi, materi dan informasi dari sistem, serta proses transformasi input menjadi output. Dalam sistem dinamika pengelolaan sampah, komponen utama yang mempengaruhi jumlah sampah pemukiman adalah jumlah penduduk. Variabel lain yang mempengaruhi diagram causal loop adalah sampah organik dan sampah anorganik, produk dari pengomposan, TPS dan TPA. Variabel-variabel penyusun model dinamika pengelolaan sampah, selanjutnya dicari hubungan antara setiap variabel. Hubungan yang ada setiap variabel penyusun model pengelolaan sampah dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Hal ini tergantung pengaruh antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Gambaran umum hubungan antara variabel yang menyusun model pengelolaan sampah seperti pada Gambar 18. Berdasarkan diagram causal loop tersebut, maka dibuat diagram model pengelolaan sampah Kota Depok dengan pola 3R+1P (Gambar 19).
Sisa Reduc e + Biaya & Manfaat + Recycle Penduduk Sampah pemukiman Sampah organik RT Kompos Partisipasi Sampah Organik Reduce Reus e Produk Semula Sisa TPS Produk Semula Biaya & Manfaat Recycle Reus e Sisa TPA Recycle Reduce Reuse Pembakara n Produk Semula Biaya & Manfaat + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + - - - - +
Gambar 19. Diagram model pengelolaan sampah berkelanjutan
Keterangan:
Akumulasi sampah RT = Jumlah total sampah rumah tangga dalam satuan m3 Laju sampah RT = Laju pertambahan sampah rumah tangga dalam satuan m3 per
tahun
Penduduk
Pertumbuhan penduduk Fraksi pertmbhn penddk
Sampah rumah tangga Fr sampah RT
Organik RT
Kompos Fr organik RT Fr kompos
Usia TPA dg pemilah RT Reduce sampah RT Fr reduce sampah RT Sisa kompos Bahan baku An Organik RT Reuse sampah RT Akumulasi sampah tdk terangkut
Sampah tdk terangkut Fr anorganik Recycle sampah RT Sisa RT Fr recycle RT Fr sisa RT Sampah TPS
Laju sampah TPS Laju pengambilan TPS
Fr TPS Laju Akumulasi
sampah tdk terangkut
Fr penyusutan mekanis
Usia TPA dgn pola 3R
Fr recycle TPA
Akumulasi sampah yang tdk tertampung
Sampah yang tidak tertampung di TPA Daya tampung TPA
Usia TPA dg pemlh TPS
Akumulasi Sampah RT Laju sampah RT
Sampah TPA
Laju sampah TPA
Sisa TPS Fr reuse TPS Laju penyusutan Fr penyusutan alamiah Fr reuse TPA Recycle TPS Reuse TPS Fr recycle TPS Fr Reuse Sampah
Model Pengelolaan Sampak dengan Pola 3R+1P
Sampah TPAdi proses secara sanitary landfill
Akumulasi sampah tidak terangkut(t) = Jumlah total sampah rumah tangga yang tidak terangkut dalam satuan m3.
Laju Akumulasi sampah tidak terangkut = Laju pertambahan sampah rumah tangga yang tidak terangkut dalam satuan m3 per tahun.
Akumulasi sampah yg tidak tertampung = Jumlah total sampah rumah tangga yang tidak tertampung pada TPA dalam satuan m3.
Sampah yang tidak tertampung di TPA = Laju pertambahan sampah rumah tangga yang tidak tertampung di TPA dalam satuan m3 per tahun.
Penduduk = Jumlah penduduk kota Depok
Pertumbuhan penduduk = Laju pertambahan penduduk dalam setiap tahun.
Sampah TPA = Jumlah total sampah yang ada di TPA dalam satuan m3.
Laju sampah TPA = Laju pertambahan sampah yang masuk ke TPA yang berasal pengambilan di TPS dalam satuan m3 per tahun.
Laju penyusutan = Laju penyusutan sampah yang terjadi di TPA akibat penerapan pola 3R+1P dalam satuan m3 per tahun.
Sampah TPS = Jumlah total sampah yang ada di TPS dalam satuan m3.
Laju sampah TPS = Laju pertambahan sampah yang masuk ke TPS yang berasal pengambilan sampah rumah tangga dalam satuan m3 per tahun.
Laju pengambilan TPS = Laju pengurangan sampah yang ada di TPS yang akan dibawah ke TPA dalam satuan m3 per tahun.
An Organik RT = Jumlah jenis sampah an organik yang berasal dari sampah rumah tangga dalam satuan m3.
Daya tampung TPA = Jumlah sampah pada yang bisa ditampung di TPA dalam satuan m3.
Fraksi pertambahan penduduk = Fraksi pertumbuhan penduduk kota Depok per tahun
Fraksi anorganik = Fraksi sampah anorganik rumah tanggga
Fraksi kompos = Fraksi sampah organik rumah tangga yang dikomposkan Fraksi organik RT = Fraksi sampah an organik rumah tanggga
Fraksi penyusutan alamiah = Fraksi penyusutan sampah secara alamiah di TPA per tahun
Fraksi penyusutan mekanis = Fraksi penyusutan sampah secara mekanis di TPA per tahun
Fraksi recycle RT = Fraksi recycle sampah rumah tangga per tahun Fraksi recycle TPA = Fraksi recycle sampah di TPA per tahun Fraksi recycle TPS = Fraksi recycle sampah di TPS per tahun
Fraksi reduce sampah RT = Fraksi reduce sampah rumah tangga per tahun Fraksi reuse Sampah = Fraksi reuse sampah rumah tangga per tahun Fraksi reuse TPA = Fraksi reuse sampah di TPA per tahun
Fraksi reuse TPS = Fraksi reuse sampah di TPS per tahun
Fraksi sampah RT = Fraksi jumlah sampah rumah tangga per tahun
Fraksi sisa RT = Fraksi jumlah sampah rumah tangga yang tersisa dari pola 3R+1P per tahun
Fraksi TPS = Fraksi jumlah sampah di TPS yang terangkut ke TPA Kompos = Jumlah kompos dari sampah organik dalam m3.
Organik RT = Jumlah sampah organik rumah tangga dalam m3.
Recycle sampah RT = Jumlah sampah an organik rumah tangga yang mengalami recycle dalam m3.
Recycle TPS = Jumlah sampah di TPS yang mengalami recycle dalam m3.
Reduce sampah RT = Jumlah sampah rumah tangga yang mengalami reduce dalam m3.
Reuse sampah RT = Jumlah sampah an organik rumah tangga yang mengalami reuse dalam m3.
Reuse TPS = Jumlah sampah di TPS yang mengalami reuse dalam m3. Sampah rumah tangga = Jumlah sampah rumah tangga dalam m3.
Sampah tidak terangkut = Jumlah sampah rumah tangga yang tidak terangkut di TPS dalam m3.
Sisa kompos = Jumlah sampah organik rumah tangga yang tidak mengalami pengomposan
Sisa TPS = Jumlah sampah yang tersisa di TPS setelah dikurangi recycle TPS. Usia TPA dengan pola 3R = Usia TPA dengan pola 3R+1P sesuai daya tampung
TPA dalam satuan %.
Usia_TPA_dengan_pemilah_RT = Usia TPA apabila dengan pola pemilahan di rumah tangga sesuai daya tampung TPA dalam satuan %.
Usia TPA dengan pemilah_TPS = Usia TPA apabila dengan pola pemilahan di TPS sesuai daya tampung TPA dalam satuan %.
Hasil analisis sistem model dinamik pengelolaan sampah dengan berbagai
skenario di Kota Depok dapat dilihat pada gambar-gambar berikut. Grafik Prediksi perkembangan jumlah sampah di TPS dan sampah di TPA,
sampah rumah tangga, sampah yang tidak terangkut dan sampah yang tidak tertampung di TPA dapat dilihat pada Gambar 20.
4:54 21 Jan 2009 Grafik Perkembangan Jumlah Sampah Rumah Tangga, Sampah yang Tidak Terangkut, Sampah di TPS dan Sampah di TPA Page 1 2009.00 2012.80 2016.60 2020.40 2024.20 2028.00 Years 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 4: 4: 4: 5: 5: 5: 0 20000000 40000000
1: Sampah TPA 2: Sampah TPS 3: Akum smph RT 4: Akum smph tdk terangkut5: Akum smph yg tdk trtam…
1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5
Gambar 20. Prediksi perkembangan jumlah sampah di TPS dan sampah di TPA, sampah rumah tangga, sampah yang tidak terangkut dan sampah yang tidak tertampung di TPA
Besarnya jumlah sampah awal di TPS adalah 98% dari akumulas i sampah yang tidak terangkut. Besarnya laju sampah di TPS tergantung jumlah sampah yang berasal dari rumah tangga. Laju pengambilan sampah di TPS yang akan
diangkut ke TPA sebanyak 34%, sehingga besarnya akumulasi jumlah sampah yang tidak terangkut sebanyak 66% dari jumlah sampah yang berasal dari rumah tangga. Besarnya akumluasi jumlah sampah rumah tangga dipengaruhi oleh jumlah awal sampah rumah tangga dan laju sampah rumah tangga yang berasal dari jumlah setiap penduduk. Jumlah penduduk tergantung dari laju pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk di Kota Depok sebanyak 3,3% per tahun. Data awal jumlah sampah rumah tangga didekati dari jumlah sampah yang sudah ada di TPA. Laju sampah rumah tangga didapat dari jumlah penduduk dikalikan dengan fraksi sampah rumah tangga yang sebesar 2,65 liter per hari atau dikonversi dalam m3 per tahun sebesar 2,65/1000 dikalikan 23 dan 12. Perhitungan bobot sampah pada kota-kota besar di Indonesia diperkirakan setiap orang menghasilkan sampah 2-2,5 liter/hari (Widyatmoko dan Sintorini, 2002), sedangkan WHO memberi ketentuan bahwa setiap orang menghasilkan sampah 2,5 liter/hari.
Akumulasi sampah yang tidak tertampung di TPA dipengaruhi oleh jumlah sampah yang masuk ke TPA dan daya tampung TPA. Apabila jumlah sampah yang masuk melebihi daya tampung TPA maka sisanya tidak akan tertampung. Untuk mencegah hal tersebut sangat diperlukan kegiatan pemilahan sampah mulai dari sumbernya, sehingga sampah yang masuk ke TPA dapat berkurang jumlahnya.
Grafik prediksi Usia TPA sampah Cipayung dengan berbagai pola pemilahan menunjukkan usia TPA semakin meningkat umurnya dengan menggunakan pola 3R, jika dibandingkan dengan pola pemilahan dari RT dan pemilahan di TPA (Gambar 21).
Prediksi usia TPA sampah Cipayung dengan pola pemilahan dari RT dan TPS pada tahun 2011 jumlah sampah yang masuk ke TPA sudah lebih dari daya tampung TPA yang mempunyai kapasitas 1.200.000 m3. Pada tahun 2012 sampah ditambah menjadi 1.500.000 m3, sehingga pada tahun 2013 kemampuan TPA untuk menampung sampah sudah melebihi daya tampung.
4:54 21 Jan 2009 Grafik Prediksi Usia TPA
Page 1 2009.00 2012.80 2016.60 2020.40 2024.20 2028.00 Years 1: 1: 1: 2: 2: 2: 3: 3: 3: 0 1350 2700
1: Usia TPA dg pemilah RT 2: Usia TPA dg pemlh TPS 3: Usia TPA dgn pola 3R
1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3
Gambar 21. Prediksi usia TPA pada berbagai pola (%)
Untuk mengantipasi masalah tersebut maka sangat perlu dilakukan peningkatan pola 3R+1P yang dimulai dari sumbernya. Dengan menerapkan pola 3R dari sumbernya, jumlah sampah diprediksikan akan terus berkurang, sehingga usia TPA akan bertambah.
Hidayat (2008) mengemukakan permasalahan yang terjadi di TPA adalah tidak adanya pengelolaan yang baik terhadap timbunan sampah yang masuk ke dalam TPA. Akhirnya TPA hanya merupakan lokasi open dumping. Alasan yang melatar belakangi kondisi tersebut adalah kurangnya pendanaan untuk persampahan. Contoh TPA yang berhasil melakukan kerjasama dengan pihak Swasta adalah TPA Batulayang di Pontianak dengan PT. Gikoko Kogyo yang menawarkan jasa pengelolaan sampah. Keunikan dari penawaran PT. Gikoko Kogyo adalah kerjasama yang ditawarkan dikaitkan dengan protokol Kyoto yang membuka peluang kerjasama antara negara berkembang yang tidak dikenai pengurangan emisi karbon, termasuk Indonesia, dengan negara maju yang dikenai pengurangan emisi karbon termasuk metan. Kerjasama ini biasa disebut clean development mechanism (CDM). Permasalahan lain dalam pengelolaan sampah Kota di TPA adalah adanya keterbatasan lahan, polusi, dan masalah sosial. Oleh
karena itu, pengelolaan sampah di TPA harus memenuhi persyaratan sebagai berikut a) memanfaatkan lahan TPA yang terbatas dengan efektif; b) memilih teknologi yang mudah, murah dan aman terhadap lingkungan; c) memilih teknologi yang memberikan produk yang bisa dijual dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat; d) produk harus dapat terjual habis.
Grafik prediksi usia TPA pada berbagai simulasi skenario recycle yaitu tidak ada recycle (0%), recycle 5% dan recycle 10% (Gambar 22). Jumlah sampah di TPS tergantung pada besarnya jumlah sampah awal di TPS, laju sampah di TPS yang berasal dari sampah rumah tangga, laju pengambilan sampah di TPS, dan kegiatan reuse dan recycle di TPS.
7:08 22 Jan 2009 Grafik Usia TPA dengan Pola 3R+1P pada Berbagai Skenario Recycle
Page 2 2009.00 2013.75 2018.50 2023.25 2028.00 Years 1: 1: 1: 0 135 270 Usia TPA dgn pola 3R: 1 - 2 - 3 -
1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3
Gambar 22. Prediksi usia TPA dengan pola 3R+1P pada berbagai skenario (%)
Prediksi usia TPA dengan pola 3R+1P pada berbagai skenario recycle 0 % dan 5% menunjukkan usia TPA semakin rendah. Usia TPA dengan skenario recycle 10% menunjukkan usia TPA semakin meningkat. Sampah rumah tangga terdiri atas 72,97 % sampah organik dan sisanya adalah sampah anorganik yang berasal dari hasil reduce sebesar 70%. Sampah organik dilakukan reuse dan recycle masing-masing sebesar 1%. Contoh kegiatan reuse yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan kembali botol-botol bekas, atau menggunakan
wadah atau kantong yang dapat digunakan kembali, sedangkan contoh kegiatan recycle adalah dengan melakukan pengolahan sampah-sampah organik menjadi kompos, kertas, plastik bekas untuk didaur ulang kembali. Sampah organik dilakukan pengomposan sebesar 10% dan sisanya digunakan untuk bahan baku.
Grafik prediksi jumlah sampah di TPA pada berbagai skenario recycle, terus meningkat dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 23.
20:43 19 Jan 2009 Grafik Jumlah Sampah di TPA pada Berbagai Skenario Recycle
Page 3 2009.00 2013.75 2018.50 2023.25 2028.00 Years 1: 1: 1: 0 2500000 5000000 Sampah TPA: 1 - 2 - 3 - 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3
Gambar 23. Prediksi jumlah sampah di TPA pada berbagai skenario recycle
Peningkatan jumlah sampah tersebut diakibatkan karena pertambahan jumlah penduduk dari tahun ketahun. Hal lain yang mempengaruhi peningkatan jumlah sampah rumah tangga adalah tingkat kesejahteraan dan gaya hidup masyarakat, dan pola pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah dengan skenario recycle dari tingkat rumah tangga dan TPS menunjukkan jumlah sampah semakin tinggi di TPA, sedangkan dengan skenario 3R+1P yang dilakukan dari sumber sampah menunjukkan jumlah sampah di TPA semakin rendah.
Grafik prediksi jumlah sampah yang tidak tertampung di TPA pada berbagai skenario dapat dilihat pada Gambar 24
20:43 19 Jan 2009 Grafik Akumulasi Sampah Yang Tidak Tertampung di TPA pada Berbagai Skenario Recycle
Page 4 2009.00 2013.75 2018.50 2023.25 2028.00 Years 1: 1: 1: 0 8500000 17000000 Akum smph yg tdk trtampung: 1 - 2 - 3 - 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3
Gambar 24. Prediksi jumlah sampah yang tidak tertampung di TPA pada berbagai skenario (m3)
Meningkatnya jumlah sampah disebabkan oleh semakin banyak sampah yang langsung dimasukkan ke TPA, sehingga daya tampung sampah di TPA semakin rendah. Grafik prediksi jumlah sampah yang tidak tertampung di TPA menunjukkan bahwa sampah dari rumah tangga dan TPS jika langsung dimasukkan ke TPA tanpa dilakukan pengolahan terlebih dulu akan berpengaruh terhadap usia TPA, sedangkan sampah yang dimasukkan ke TPA setelah program 3R+1P menunjukkan jumlah sampah yang masuk ke TPA semakin rendah dan hal ini akan berpengaruh terhadap usia TPA sendiri.
Berdasarkan beberapa skenario yang telah dihasilkan dapat dibuat rekomendasi bahwa pada tahun 2013 sampah yang masuk ke TPA sudah melebihi kapasitas. Langkah yang dapat diambil oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok dengan menambah luas TPA dan memaksimalkan program 3R+1P lebih optimal lagi dimulai dari sumber sampahnya, sehingga sampah yang akan masuk ke TPA semakin sedikit yang menyebabkan usia TPA dapat bertambah. Menurut MENLH (2007) untuk mengurangi dampak dari pembuangan sampah tersebut perlu dilakukan upaya pengurangan pembuangan sampah, melalui program 3R (reuse, reduce, recycle). Penerapan 3R yang makin dekat dengan sumber sampah tidak saja dapat mereduksi sampah yang dibuang ke TPA, selain
itu juga dapat mengurangi biaya operasional pengangkutan sampah ke TPA. Beberapa contoh kegiatan 3R yang dilakukan di antaranya:
1. Kegiatan 3R di rumah tangga yang dapat dilakukan a) Reuse (menggunakan kembali). Menggunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya, menggunakan wadah/kantong yang dapat digunakan berulang-ulang, menggunakan baterai yang dapat di-charge kembali, menjual atau berikan sampah yang telah terpilah kepada pihak yang memerlukan; b) Reduce (mengurangi). Memilih produk dengan pengemasan yang dapat didaur-ulang, menghindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah yang besar, menggunakan produk yang dapat diisi ulang (refill), mengurangi penggunaan bahan sekali pakai; c) Recycle (mendaur ulang). Memilih produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai, melakukan pengolahan sampah organik menjadi kompos, melakukan pengolahan sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.
2. Kegiatan 3R di sekolah/perkantoran/fasilitas umum yang dapat dilakukan a) Reuse. Menggunakan alat kantor yang dapat digunakan berulang-ulang, Menggunakan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali, menggunakan sisi kertas yang kosong untuk menulis; b) Reduce. Menggunakan kedua sisi kertas untuk penulisan dan fotokopi, menggunakan alat tulis yang dapat diisi kembali, menyediakan jaringan informasi dengan komputer (tanpa kertas), memaksimumkan penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus dan ditulis kembali, menggunakan produk yang dapat diisi ulang (refill), mengurangi penggunaan bahan sekali pakai; c) Recycle. Mengolah sampah kertas menjadi kertas/karton kembali, Mengolah sampah organik menjadi kompos.
3. Kegiatan 3R di industri/kegiatan komersil yang dapat dilakukan a) Reuse. Menggunakan kembali sampah yang masih dapat dimanfaatkan untuk produk lain, seperti pakan ternak, memberikan insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri, atau wadah belanjaan yang diproduksi oleh swalayan yang bersangkutan sebagai bukti sebagai pelanggan setia.
Menyediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi ulang (minyak, minuman); b) Reduce. Memberikan insentif oleh produsen
bagi pembeli yang mengembalikan kemasan yang dapat digunakan kembali, memberikan tambahan biaya bagi pembeli yang meminta bungkusan untuk produk yang dibelinya, memberikan kemasan/bungkusan hanya kepada produk yang benar-benar memerlukannya, mengenakan biaya tambahan untuk permintaan kantong plastik belanjaan; c) Recycle. Menjual produk-produk hasil daur ulang sampah dengan lebih menarik, memberikan insentif kepada masyarakat yang membeli barang hasil daur ulang sampah, mengolah kembali buangan dari proses yang dilakukan sehingga bermanfaat bagi proses lainnya.