D. Stock Flow Diagrams (SFD)
III. DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN
2. Pengoperasian TPA
5.2. Metode Evaluasi Kualitas Lingkungan
5.2.2. Data Sekunder
5.3.1.1. Kualitas Air Sumur
Hasil analisis beberapa variabel kualitas air sumur pada tiga lokasi sampel di antaranya:
a. Kekeruhan
Hasil analisis kekeruhan pada 2 lokasi sumur pantau di rumah penduduk dan rumah penduduk seberang sungai masing-masing sebesar 0,75; 0,30; 0,15 NTU (nephelometric turbidity units). Hasil uji variabel kekeruhan air sumur pada ketiga lokasi masih di bawah nilai ambang batas (NAB). Kekeruhan dalam perairan dapat disebabkan oleh berbagai ukuran materi yang bervariasi dari bentuk koloid ke dispersi kasar tergantung pada tingkat turbulensinya. Tingkat kekeruhan juga dipengaruhi oleh padatan tersuspensi dan koloid yang terkandung di dalam perairan. Produksi perairan secara tidak langsung dipengaruhi oleh kekeruhan. Nilai kekeruhan yang tinggi akan mengurangi penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan, sehingga proses fotosintesis akan berlangsung pada lapisan air yang lebih tipis, dengan demikian produks i perairan akan semakin menurun. Kekeruhan juga dapat mempengaruhi kehidupan organisme air, derajat kekeruhan yang tinggi akan mengganggu organ-organ pernapasan atau alat penyaring makanan dari organisme air, sehingga dapat mengakibatkan kematian.
Kekeruhan merupakan suatu ukuran banyaknya bahan-bahan tersuspensi yang terdapat di dalam air, seperti senyawa organik. Air yang keruh akan memberi perlindungan pada kuman. Pada air yang mengandung zat organik dan anorganik, mikroorganisme dapat berkembang dan hidup baik. Oleh karena itu, bakteri terdapat pada semua sistem air yang dapat merugikan atau tidaknya tergantung pada kondisi optimum yang menunjang pertumbuhannya. Pe-nyimpangan terhadap standar kualitas yang telah ditetapkan yaitu 25 NTU (nephelometric turbidity unit) akan menyebabkan gangguan estetika dan mengurangi efektivitas desinfeksi air (Effendi, 2000). Hal serupa juga dinyatakan oleh Slamet (2007) kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik yang bersifat anorganik maupun organik. Zat anorganik, biasanya berasal dari lapukan batuan dan logam, sedangkan yang organik dapat berasal dari lapukan tanaman atau hewan. Zat organik dapat menjadi makanan bakteri, sehingga mendukung pertumbuhan bakteri tersebut. Bakteri juga merupakan zat organik tersuspensi, sehingga pertambahannya akan menambah pula kekeruhan air.
Demikian pula dengan algae yang berkembang biak karena adanya zat hara N,P,K akan menambah kekeruhan air.
b. Suhu
Hasil pengukuran suhu air di sumur pantau, rumah penduduk dan rumah penduduk seberang sungai seperti yang tersaji pada Tabel 14, suhu masing-masing pada tiga lokasi tersebut adalah 26,0 0C; 26,1 0C dan 25,2 0C, nilai-nilai suhu tersebut di atas NAB. Suhu yang diizinkan berdasarkan Permenkes No. 416/MenKes/PER/IX/1990 sekitar ± 30C. Hasil penelitian tersebut menunjukkan hal yang serupa dengan penelitian Royadi pada tahun 2006 di sumur atas TPA Bantar Gebang yang mempunyai suhu rata-rata 26,1oC dan sumur bawah TPA Bantar Gebang mempunyai suhu rata-rata 25,46 oC. Suhu pada dua lokasi tersebut sudah di atas NAB. Tingginya suhu pada lokasi sampel tersebut dipengaruhi pengambilan sampel air pada siang hari, sehingga menyebabkan suhu air di sumur meningkat.
Suhu air merupakan faktor ekologis yang berperan di lingkungan perairan. Sifat-sifat kimia seperti kelarutan oksigen (DO), kecepatan reaksi kimia dan daya racun bahan pencemar dipengaruhi oleh suhu air. Suhu air mempengaruhi proses-proses fisiologis, susunan jenis dan penyebaran organisme perairan. Berbagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi suhu air. Komposisi substrat, kecerahan, kekeruhan, pertukaran panas air dengan panas udara akibat respirasi, musim, cuaca, kedalaman perairan, kegiatan manusia di sekitar perairan maupun kegiatan dalam badan perairan itu sendiri dapat mempengaruhi suhu perairan.
Menurut Pescod dalam Royadi (2006) untuk menjamin kehidupan ikan dan organisme dalam air dengan baik, maka dianjurkan agar perubahan suhu air pada perairan mengalir yang disebabkan oleh limbah bersuhu tinggi tidak lebih dari 2,8oC, sedangkan untuk perairan tergenang tidak lebih dari 1,7 oC. Menurut Khitoliya (2004) kenaikan suhu di atas normal akan mengakibatkan: (1) jumlah oksigen terlarut akan menurun, (2) peningkatan nilai BOD, (3) terjadi eutropikasi, (4) pengurangan nilai DO.
b. Bau
Bau merupakan salah satu dampak negatif yang timbul pada peng-operasian TPA. Bau timbul mengikuti aktivitas penguraian sampah, yang menghasilkan gas-gas tertentu penyebab bau. Manusia dapat menerima bau melalui syaraf pembau. Bau dapat berasaldari bahan-bahan organik dari limbah pemukiman, limbah industri ataupun sumber alami. Selain itu bau juga berasal dari hasil kegiatan mikroorganisme. Air yang memenuhi kualitas standar harus bebas dari bau (tidak berbau).
Bau akan menjadi dampak penting walaupun tidak menimbulkan penyakit secara langsung. Dampak bau lebih ke arah estetika dan gangguan kenyamanan, serta memberikan indikasi bahwa proses pengolahan sampah belum dilakukan secara tepat. Diperkirakan jika tidak dilakukan penanganan, maka pengaruh bau akan meningkat terutama pada musim hujan, karena proses pembusukan sampah akan berlangsung secara cepat.
Wardhana (2004) mengemukakan bau yang keluar dari dalam air dapat berasal langsung dari bahan buangan atau air limbah dari kegiatan industri, atau dapat juga berasal dari hasil degradasi bahan buangan oleh mikroba yang hidup di dalam air. Mikroba di dalam air akan mengubah bahan buangan organik, terutama gugus protein, yang secara degradasi menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau. Timbulnya bau pada air lingkungan secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya tingkat pencemaran air yang cukup tinggi. Suriawiria (2003) mengemukakan bahwa air yang berbau dan mempunyai rasa sangat tidak baik untuk dikonsumsi. Air yang mempunyai bau dan rasa menunjukkan kemungkinan adanya organisme penghasil bau dan rasa yang tidak enak serta adanya senyawa-senyawa asing yang mengganggu kesehatan. Selain itu dapat pula menunjukkan kemungkinan timbulnya kondisi anaerobik sebagai hasil kegiatan penguraian kelompok mikroorganisme terhadap senyawa-senyawa organik.
c. Rasa
Hasil analisis sampel air sumur tidak berasa hal tersebut, masih di bawah NAB yang diizinkan. Rasa merupakan variabel fisik air yang dirasa secara
langsung. Air bersih biasanya tidak memberikan rasa. Wardhana (2004) mengemukakan apabila air mempunyai rasa (kecuali air laut) maka berarti telah terjadi pelarutan garam-garaman. Air yang mempunyai rasa biasanya berasal dari garam-garam yang terlarut. Bila hal ini terjadi diduga telah ada pelarutan ion- ion logam yang dapat mengubah konsentrasi ion Hidrogen dalam air. Adanya rasa dalam air pada umumnya diikuti pula dengan perubahan pH air.
d. Kemasaman (pH)
Hasil analisis pH pada tiga lokasi masih di bawah NAB yang diizinkan. Kualitas air sumur ditentukan oleh kemasaman (pH). Nilai pH dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba dalam air, oleh sebab itu menjadi penting untuk mengetahui variabel pH air sumur di lokasi penelitian. Kemasaman (pH) suatu perairan mencirikan keseimbangan antara kandungan asam dan basa dalam air serta merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan. Kemasaman dapat mempengaruhi jenis dan susunan zat dalam lingkungan perairan, serta mempengaruhi tersedianya unsur hara serta beracun dari unsur renik. Derajat kemasaman (pH) berperan penting dalam menentukan nilai guna perairan untuk kehidupan organisme, keperluan rumah tangga. Berubahnya nilai pH menimbulkan perubahan terhadap keseimbangan kandungan karbondioksida, bikarbonat, dan karbonat di dalam air. Kemasaman (pH) juga akan mempengaruhi rasa, korosivitas air dan efisiensi chlorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih beracun dalam bentuk molekular, disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh pH. Logam- logam berat di dalam suasana asam lebih bersifat racun (Suriawiria, 2003).
Wardhana (2004) mengemukakan air bersih seharusnya netral, tidak asam atau basa. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5-7,5. Apabila pH lebih kecil atau lebih besar dari kadar yang
ditentukan dapat berakibat (1) menimbulkan rasa tidak enak pada air; (2) menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air yang terbuat dari logam dan; (3) menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
d. Total Disolved Solid (TDS)
Hasil pengukuran TDS (total disolved solid) pada tiga lokasi tersebut masing- masing nilainya sebesar 520 mg/l, 282 mg/l, dan 88 mg/l . Nilai TDS tersebut di bawah NAB yang diizinkan. Baku mutu air bersih yang diizinkan sebesar 1.500 mg/l.
Padatan terlarut total (TDS) merupakan bahan yang masih tetap tinggal dalam air, padatan tersebut merupakan sisa dari lapukan selama penguapan dan pemanasan. Effendi (2000) mengemukakan padatan terlarut (total dissoved solid/TDS) adalah bahan-bahan terlarut dan koloid berupa senyawa-senyawa kimia yang tidak tersaring pada kertas saring berdiameter 0,45µm. Endapan dan koloid yang melayang di dalam air akan menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam lapisan air. Sinar matahari sangat diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan proses fotosintesis. Apabila sinar matahari terhalang masuk, maka proses fotosintesis tidak akan berlangsung dan mengkibatkan terganggunya kehidupan mikroorganisme (Wardhana, 2004).
e. Nitrat (NO3-)
Hasil analisis nitrat pada tiga lokasi sampel tersebut sebesar 0,30 mg/l, 0,25 mg/l dan 1,82 mg/l. Nilai nitrat tersebut masih di bawah NAB yang diizinkan yaitu 10 mg/l. Pencemaran intensif dari tempat pembuangan sampah, penimbunan tinja, jarak sumur terhadap peresapan air limbah akan mempengaruhi konsentrasi nitrat dalam sumur. Effendi (2000) mengemukakan nitrat adalah bentuk nitrogen utama di perairan alami. Nitrat merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat salah satu senyawa nitrogen yang paling stabil dibandingkan dengan nitrit dan ammonia.
Nitrat dapat menjadi pupuk pada tanaman air. Bila terjadi hujan lebat air akan membawa nitrat dari tanah masuk ke dalam aliran air sungai, danau dan waduk, kemudian menuju lautan dalam kadar yang cukup tinggi. Hal ini akan merangsang tumbuhnya algae dan tanaman air. Kelimpahan unsur nutrisi nitrat dalam air disebut euthrophication. Pengaruh negatif eutropikasi adalah terjadinya perubahan keseimbangan kehidupan antara tanaman air dengan hewan air,
sehingga beberapa spesies ikan akan musnah dan tanaman air akan dapat menghambat laju arus air (Darmono, 2001).
f. Nitrit (NO2)
Hasil analisis nitrit pada tiga lokasi sampel yaitu 0,05 mg/l, 0,004 mg/l dan
0,08 mg/l. Nilai nitrit masih di bawah NAB yang diizinkan 10 mg/l. Nitrit merupakan salah satu ion nitrogen anorganik dalam air. Ion tersebut dapat
terjadi dari adanya reduksi nitrat ataupun oksidasi ammonia. Ion nitrit lebih berbahaya dari pada ion nitrat. Effendi (2000) mengemukakan nitrit biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit di perairan alami, kadarnya lebih kecil dari pada nitrat karena nitrit bersifat tidak stabil jika terdapat oksigen. Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik dengan kadar oksigen terlarut sangat rendah. Kadar nitrit pada perairan relatif kecil karena segera dioksidasi menjadi nitrat. Konsumsi nitrit yang berlebihan dapat mengakibatkan terganggunya proses pengikatan oksigen oleh hemoglobin darah yang selanjutnya membentuk methemoglobin yang tak mampu mengikat oksigen.
Darmono (2001) mengemukakan kandungan nitrit yang tinggi dalam air minum akan menyebabkan gangguan sistem peredaran darah pada bayi berumur di bawah 3 bulan. Penyakit ini disebut gejala “bayi biru” (blue baby syndrom), dengan gejala yang khas yaitu terlihat warna kebiruan pada daerah sekitar bibir dan pada beberapa bagian tubuh. Hal ini disebabkan oleh sejenis bakteri di dalam lambung yang mengubah nitrat menjadi nitrit. Hemoglobin darah dari bayi mengambil nitrit yang seharusnya oksigen, akibatnya bayi mengalami kegagalan dalam pernapasan. Beberapa peneliti melaporkan, nitrit dapat mengakibatkan kanker pada lambung dan saluran pernapasan pada orang dewasa.
g. Kesadahan
Hasil analisis kesadahan di tiga lokasi sampel yaitu 130,40 mg/l, 115,20 mg/l, dan 25,60 mg/l. Nilai kesadahan pada tiga lokasi tersebut masih di bawah NAB yang diizinkan yaitu sebesar 10 mg/l. Kesadahan air disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam
bentuk ion maupun ikatan molekul. Elemen terbesar yang terkandung di air adalah kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), natrium (Na+) dan kalium (K+). Jenis hewan budidaya di dalam air membutuhkan kesadahan tertentu, namun kebanyakan menyukai di dalam air yang kurang sadah. Pertumbuhan dan perkembangan hewan air secara umum lebih menyukai air dengan tingkat kesadahan 3-10o dH (Kordi dan Tancung, 2007).
Suriawiria (2003) mengemukakan kesadahan air yang tinggi akan mempengaruhi efektivitas pemakaian sabun, namun sebaliknya dapat memberikan rasa yang segar. Air sadah tidak bisa digunakan dalam kegiatan industri (air ketel, air pendingin atau pemanas). Achmad (2004) mengemukakan air sadah tidak menguntungkan atau mengganggu proses pencucian menggunakan sabun. Sabun digunakan pada air sadah, mula-mula sabun harus bereaksi lebih dahulu dengan setiap ion kalsium dan magnesium yang terdapat dalam air sebelum sabun dapat berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Hal ini bukan saja akan memboroskan penggunaan sabun, tetapi gumpalan-gumpalan yang terjadi akan mengendap sebagai lapisan tipis pada alat-alat yang dicuci sehingga mengganggu proses pembersihan dan pembilasan oleh air.
h. Besi (Fe)
Hasil analisis besi pada tiga lokasi sumur pantau menunjukkan di atas NAB yaitu 1.50 mg/l, sedangkan pada lokasi rumah penduduk dan rumah penduduk seberang sungai, nilainya besi masih di bawah NAB yaitu <0.01 mg/l yang diizinkan. Tingginya kandungan besi di sumur pantau diduga karena kandungan bahan organik yang berlebihan yang bersifat anaerob akibat proses dekomposisi bahan organik yang berlebihan. Jadi apabila perairan memiliki kadar besi (Fe2+) yang tinggi maka berkolerasi dengan kadar bahan orgnik yang tinggi atau air tersebut berasal dari air tanah dalam dengan suasana anaerob atau dari
lapisan dasar perairan yang sudah tak ada oksigen (Effendi, 2000). Besi merupakan unsur penting dalam air permukaan dan air tanah. Perairan yang
mengandung besi sangat tidak diinginkan untuk keperluan rumah tangga, karena dapat menyebabkan bekas karat pada pakaian, porselin serta menimbulkan rasa yang tidak enak pada air minum (Achmad, 2004). Slamet (2007) mengemukakan
walaupun besi dibutuhkan oleh tubuh, akan tetapi dalam dosis yang tinggi dapat merusak dinding usus.
i. Timbal (Pb)
Hasil analisis timbal pada tiga lokasi sampel menunjukkan masih di bawah NAB sebesar 0,05 mg/l. Timbal/timah hitam (Pb) ditemukan dalam bentuk terlarut dan tersuspensi pada perairan. Timbal terdapat dalam air yang dikeluarkan oleh sejumlah industri dan pertambangan. Daya racun timbal yang akut pada perairan alami menyebabkan kerusakan hebat pada ginjal, sistem reproduksi, hati, otak, dan sistem syaraf pusat, sehingga menyebabkan kematian. Proses pelapisan kertas-kertas timbal, dan cat-cat dengan kandungan timbal tinggi diperkirakan menyebabkan hambatan perkembangan mental pada anak-anak. Timbal di-gunakan sebagai bahan solder dan penyambung pipa air, sehingga air untuk rumah tangga kemungkinan dapat kontak dengan timbal. Air yang tersimpan dalam alat-alat yang dibuat dari hasil pematrian, untuk jangka waktu lama dapat mengakumulasi sejumlah timbal yang sangat tinggi (Achmad, 2004).
Slamet (2007) mengemukakan Pb adalah racun sistemik. Keracunan Pb akan menimbulkan gejala: rasa mual di mulut, garis hitam di gusi, anorexia, muntah-muntah, kolik, enchepalitis, perubahan kepribadian, kelumpuhan dan kebutaan.
j. Mangan (Mn)
Hasil analisis mangan di lokasi sumur pantau menunjukkan di atas NAB yaitu 1,90 mg/l, sedangkan pada lokasi sumur rumah penduduk dan rumah penduduk seberang sungai masih di bawah NAB 0,5 mg/l. Di lokasi sumur pantau kandungan mangan tinggi, kemungkinan disebabkan karena keadaan perairan dalam kondisi anaerob akibat dekomposisi bahan organik yang tinggi. Menurut Effendi (2000) meskipun mangan tidak bersifat racun, tetapi keberadannya dapat mengendalikan kadar unsur racun lainnya di perairan seperti logam berat. Slamet (2007) mengemukakan bahwa mangan merupakan metal kelabu-kemerahan. Keracunan mangan seringkali berakibat kronis sebagai akibat menghirup debu dan uap logam. Gejala yang timbul berupa gangguan susunan
saraf dimulai dengan insomnia, kemudian lemah pada kaki dan otot muka sehingga ekspresi muka menjadi beku. Bila pemaparan masih berlanjut menyebabkan bicara melambat dan monoton sehingga terjadi hyperrefleksi, clonus pada patella dan tumit menyebabkan berjalan seperti penderita parkinson.
Achmad (2004) mengemukakan toksisitas mangan (Mn), relatif sudah tampak pada konsentrasi rendah. Tingkat kandungan mangan yang diizinkan dalam air yang digunakan untuk keperluan domestik sangat rendah, yaitu di bawah 0,05 mg/l, dalam kondisi aerob, mangan dalam perairan terdapat dalam bentuk MnO2 dan pada dasar perairan tereduksi menjadi Mn2+ atau dalam air yang berasal dari dasar sumber air, sering ditemukan mangan dalam konsentrasi tinggi. Air yang berasal dari sumber tambang asam dapat mengandung mangan terlarut, dan pada konsentrasi ± 1 mg/l dapat ditemukan pada perairan dengan aliran yang berasal dari tambang asam. Pada pH yang agak tinggi dan kondisi aerob terbentuk mangan yang tidak larut seperti, MnO2. Mn3O4, atau MnCO3 meskipun oksidasi dari Mn2+ itu relatif lambat. Perairan yang diperuntukkan bagi irigasi pertanian untuk tanah yang bersifat asam sebaiknya memiliki kadar mangan sekitar 0,2 mg/l, sedangkan untuk tanah yang bersifat netral dan alkalis sekitar 10 mg/l.
k. Tembaga (Cu)
Hasil analisis tembaga pada tiga lokasi sampel masih di bawah NAB yang diizinkan yaitu 1.0 mg/l. Tembaga merupakan logam berat esensial, biasanya menimbulkan keracunan pada ternak ruminansia terutama pada domba. Keracunan terjadi apabila garam Cu langsung kontak dengan dinding usus domba, sehingga menimbulkan radang (gastro-enteritis). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hewan percobaan yang defesiensi Cu dapat menurunkan jumlah sel T-limposit dan menghambat respon poliklonal sel T dan B mitogenesis serta dapat menurunkan aktivitas sel pagosit untuk membunuh mikroba, sehingga hewan menjadi lebih peka terhadap infeksi penyakit (Darmono, 2001).
Air tanah dapat mengandung tembaga sekitar 12 mg/l. Defisiensi tembaga dapat mengakibatkan anemia. Kadar tembaga yang berlebihan di dalam air dapat mengakibatkan air menjadi berasa jika diminum. Konsumsi air yang mengandung tembaga yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan pada hati. Keberadaan
tembaga yang tinggi dapat mengakibatkan korosi pada besi dan aluminium (Effendi, 2000)
l. Kadmium (Cd)
Hasil analisis kadmium pada tiga lokasi sampel menunjukkan di bawah NAB yang diizinkan yaitu 0,005 mg/l. Keberadaan kadmium (Cd) dalam air sangat sedikit (renik) dan tidak larut dalam air. Garam-garam kadmium (klorida, nitrat, dan sulfat) dapat berupa senyawa kompleks organik dan anorganik atau terserap ke dalam bahan-bahan tersuspensi dan sedimen dasar. Pada pH yang tinggi kadmium mengalami presipitasi/pengendapan. Achmad (2004) mengatakan bahan pencemar kadmium dalam air berasal dari pembuangan limbah industri dan limbah pertambangan. Kadmium secara luas digunakan dalam proses pelapisan logam.
Slamet (2007) mengemukakan tubuh manusia tidak memerlukan kadmium dalam fungsi dan pertumbuhannya, kadmium bersifat kumulatif dan sangat toksik bagi manusia karena dapat mengakibatkan gangguan fungsi ginjal dan paru-paru, meningkatkan tekanan darah dan mengakibatkan mandul pada pria dewasa.
m. Arsen (As)
Hasil analisis arsen pada tiga lokasi sampel menunjukkan di bawah NAB yang diizinkan yaitu 0.05 mg/l. Arsen telah dikenal sebagai zat kimia yang berbahaya. Keracunan arsen (warangan) yang akut dapat berasal dari makanan yang jumlahnya lebih dari 100 mg/l. Pembakaran bahan bakar fosil terutama batu bara, mengeluarkan sejumlah warangan (As2O3) ke lingkungan dan akan masuk ke dalam perairan alami (Achmad, 2004). Senyawa arsenit (Na3AsO3) juga bisa digunakan sebagai pestisida untuk membasmi tumbuhan pengganggu, jamur dan tikus. Menurut Slamet (2007) keracunan arsen pada manusia menimbulkan gejala muntaber disertai darah, disusul dengan koma, dan bila dibiarkan dapat menyebabkan kematian.
n. Selenium (Se)
Hasil analisis selenium pada tiga lokasi sampel menunjukkan masih di bawah NAB yang diizinkan yaitu 0.01 mg/l. Keberadaan selenium di perairan
diperkirakan dapat menurunkan toksisitas arsen dan merkuri. Selenium banyak dipergunakan pada industri besi baja, cat, fotografi, pengolahan karet, elektronik dan sebagai insektisida. Menurut Slamet (2007) selenium adalah logam yang berbau bawang putih, didapat bersama-sama dengan senyawa Cu, Au, Ni dan Ag. Selenium dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan gejala muntah dan diare. Bila pemaparan berlanjut, maka akan terjadi gangguan susunan saraf seperti hilangnya reflex, iritasi cerebral. Selenium merupakan racun sistemik, dan mungkin juga bersifat karsinogenik.
o. Kromium 6 (Cr6+)
Hasil analisis kromium pada tiga lokasi sampel menunjukkan di bawah NAB yang diizinkan yaitu 0.05 mg/l. Kromium termasuk unsur yang jarang ditemukan pada perairan alami. Kromium yang ditemukan di perairan adalah kromium trivalen (Cr3+) dan kromium hexavalen (Cr6+). Kromium trivalen tidak ditemukan pada perairan yang memiliki pH lebih besar dari 5. Apabila kromium trivalen masuk ke parairan maka akan dioksidasi menjadi kromium hexavalen yang lebih toksik (Effendi, 2000).
Slamet (2007) mengemukakan kromium sebetulnya tidak beracun, tetapi senyawanya sangat iritan dan korosif sehingga dapat menimbulkan ulcus yang dalam pada kulit dan selaput lendir. Menghirup kromium dapat menimbulkan kerusakan pada tulang hidung, paru-paru bagian dalam, dan dapat menyebabkan kanker.
p. Sianida (CN)
Hasil analisis sianida pada tiga lokasi sampel menunjukkan di bawah NAB yang diizinkan yaitu 0.1 mg/l. Sianida adalah kelompok senyawa anorganik dan organik dengan siano (CN) sebagai struktur utamanya. Sianida biasanya dihasilkan pada saat pemrosesan logam. Sianida tersebar luas di perairan dalam bentuk ion sianida (CN-), hidrogen sianida (HCN), dan metallosianida. Keberadaan sianida sangat dipengaruhi oleh pH, suhu, oksigen terlarut, dan salin itas (Effendi, 2000).
Achmad (2004) mengemukakan bahwa CN- merupakan salah satu bahan pencemar anorganik yang paling penting. Sianida banyak digunakan secara luas dalam industri, terutama untuk pembersihan logam dan pengelasan listrik. Gas tersebut merupakan salah satu gas utama efluen pencemar dari dapur gas dan oven batu bara. Sianida digunakan juga dalam prosesing mineral-mineral tertentu, seperti dalam pencucian biji emas. Sianida merupakan gas yang mudah larut