HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Diameter Koloni Isolat Mutan S. rolfsii
C.
Analisis sidik ragam rataan diameter koloni isolat mutan S. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 3 (Lampiran 4-6).
Tabel 3. Beda uji rataan diameter koloni isolat mutan S. rolfsii Perlakuan Diameter koloni (cm)
1 Hsi 2 Hsi 3 Hsi M0 1,39 c 4,30 a 6,83 a M1 1,73 b 3,98 a 6,85 a M2 1,57 b 3,74 b 7,50 a M3 1,77 b 3,23 c 6,07 b M4 1,65 b 3,70 b 6,36 b M5 2,11 a 3,36 b 6,34 b M6 1,47 c 2,52 d 4,76 c
Keterangan : angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
Hsi = Hari setelah inokulasi
Pada 1-2 hsi, diameter koloni isolat mutan relatif tidak stabil dengan pertumbuhan yang bersifat random dan tidak linear. Hal ini disebabkan karena setiap isolat S. rolfsii memiliki ketahanan dan respon yang berbeda dalam mentoleransi pengaruh yang disebabkan penetrasi sinar UV. Namun, Pada 3 hsi pertumbuhan dari setiap isolat mulai stabil. Perlakuan M6 (pemaparan 30 menit) berbeda sangat nyata dengan semua perlakuan dikarenakan pertumbuhan isolat tersebut yang lebih lambat. Hal ini mengindikasikan bahwa pemaparan UV selama 30 menit berpengaruh nyata terhadap kecepatan pertumbuhan isolat
mutan. Sebagaimana disebutkan oleh Sadana et al. (1979) bahwa irradiasi UV selama 20 menit terhadap isolat S. rolfsii berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dari isolat mutan menjadi lebih lambat dibandingkan dengan tetuanya.
Gambar 10. Histogram beda uji rataan diameter koloni isolat mutan S. rolfsii
Gambar 10 dan Tabel 3 menunjukkan bahwa diameter koloni isolat mutan S. rolfsii tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (pemaparan 10 menit) sebesar 7,50 cm (pada 3 hsi) (Lampiran 38). Rataan diameter koloni isolat mutan S. rolfsii terendah perlakuan terendah terdapat pada perlakuan M6
(pemaparan 30 menit) sebesar 4,76 cm (3 hsi) (Gambar 8 C kanan). Isolat S. rolfsii yang dipapari dengan waktu yang lebih singkat (5 dan 10 menit) menunjukkan pertumbuhan yang tidak berbeda nyata dengan isolat tipe liar (tanpa pemaparan), sehingga diasumsikan bahwa isolat tersebut mampu mentoleransi adanya pengaruh buruk yang diakibatkan oleh irradiasi UV.
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 M0 M1 M2 M3 M4 M5 M6 Di a m et er K o lo n i ( cm ) Perlakuan 1 Hsi 2 Hsi 3 Hsi A B
i i i i 4. Pengaruh Isolat Mutan S. rolfsii Terhadap Diameter Koloni Isolat
Tipe Liar S. rolfsii
Analisis sidik ragam rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap
diameter koloni isolat tipe liar S. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 4 (Lampiran 7-10).
Tabel 4. Beda uji rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap diameter koloni isolat tipe liar S. rolfsii
Perlakuan Diameter Koloni Isolat Liar (cm) 1 Hsi 2 Hsi 3 Hsi 4 Hsi M0 1,36 a 3,05 a 4,47 a 5,71 b M1 1,03 b 3,11 a 4,57 a 5,45 b M2 0,96 b 2,86 b 4,33 b 5,39 b M3 0,97 b 2,73 b 4,57 a 6,36 a M4 1,03 b 2,89 b 4,82 a 6,05 a M5 1,09 a 2,92 a 4,51 a 6,09 a M6 1,13 a 3,16 a 4,86 a 6,39 a
Keterangan : angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
Hsi = Hari setelah inokulasi
Pada 1-2 hsi, Tabel 4 menunjukkan bahwa isolat mutan S. rolfsii tidak berpengaruh terhadap isolat tipe liar S. rolfsii dikarenakan belum terjadi pertemuan miselium antara kedua isolat. Namun kecepatan tumbuh dari setiap
perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata. Pada 3 hsi, perlakuan M2
Pada 4 Hsi, pertumbuhan koloni kedua isolat telah memenuhi cawan petri. Perlakuan M
(4,33 cm) (pemaparan 10 menit) berbeda sangat nyata dengan semua perlakuan. Miselium antara isolat mutan S. rolfsii dan isolat tipe liar S. rolfsii telah bertemu. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan isolat mutan S. rolfsii yang dipapari UV selama 10 menit berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan isolat liar S. rolfsii dalam hal perebutan ruang dan nutrisi.
1 dan M2 (pemaparan 5 dan 10 menit) berbeda nyata dengan perlakuan lainnya tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan M0 (tanpa
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 M0 M1 M2 M3 M4 M5 M6 D iam e te r Kol on i (c m) Perlakuan Pengamatan- 1 Hsi Pengamatan- 2 Hsi Pengamatan- 3 Hsi Pengamatan- 4 Hsi pemaparan). Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan dari isolat mutan S. rolfsii dengan pemaparan yang singkat, mempengaruhi diameter koloni isolat tipe liar S. rolfsii. Isolat liar M0
(tanpa pemaparan) diketahui memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga mampu bersaing dengan sesamanya. Kompetisi yang terjadi adalah perebutan ruang tumbuh, nutrisi, dan bahan lainnya yang dibutuhkan kedua isolat. Sesuai Pracaya (1991), menyebutkan bahwa dalam pengendalian hayati pengertian antagonisme adalah gangguan atau hambatan terhadap proses kehidupan (pertumbuhan, perbanyakan, infeksi, penyebaran, dan lain-lain) dari suatu organisme (patogen) oleh organisme lain (antagonis). Proses ini dapat terjadi antara organisme dalam satu spesies maupun antar genus dan spesies yang berbeda.
Gambar 11. Histogram beda uji rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap diameter koloni isolat tipe liar S. rolfsii
Diameter koloni isolat tipe liar S. rolfsii tertinggi terdapat pada perlakuan M6 (pemaparan 30 menit) sebesar 6,39 cm dan terendah terdapat pada perlakuan M2 (pemaparan 10 menit) sebesar 5,39 cm. Isolat S. rolfsii yang dipapari UV selama 30 menit menyebabkan pertumbuhan isolat semakin lambat sehingga
Susanti et al. (2009) menyatakan bahwa tingkat inaktifasi mikroorganisme sangat tergantung pada dosis UV yang digunakan. Sadana et al. (1979) menyebutkan bahwa bahwa irradiasi UV selama 20 menit terhadap isolat S. rolfsii berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dari isolat mutan menjadi lebih lambat dibandingkan dengan tetuanya.
5. Luas Pertumbuhan Koloni Isolat Mutan S. rolfsii
Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa rataan luas
pertumbuhan koloni isolat mutan S. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 5 (Lampiran 11-13).
Tabel 5. Beda uji rataan luas pertumbuhan koloni isolat mutan S. rolfsii Perlakuan Luas pertumbuhan koloni (cm
2 ) 1 Hsi 2 Hsi 3 Hsi M0 1,46 c 16,34 a 38,54 a M1 2,93 b 12,93 b 40,00 a M2 2,44 b 12,68 b 45,12 a M3 3,42 a 10,49 c 32,19 b M4 2,93 b 11,71 b 34,15 b M5 4,15 a 10,49 c 33,66 b M6 1,95 c 6,10 d 18,54 c
Keterangan : angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
Hsi = Hari setelah inokulasi
Luas pertumbuhan koloni isolat mutan S. rolfsii sejalan dengan pertumbuhan diameter koloni S. rolfsii. Pada 1 hsi, luas pertumbuhan koloni isolat mutan S. rolfsii pada perlakuan M5 (4,15 cm2) (pemaparan 25 menit) dan M3 (3,42 cm2) berbeda nyata dibandingkan perlakuan lainnya karena pertumbuhannya yang lebih cepat dan lebar. Pada 2-3 hsi, perlakuan M6 (6,10 cm2) (pemaparan 30 menit) berbeda sangat nyata dengan semua perlakuan dikarenakan pertumbuhan isolat tersebut yang lebih lambat. Hal ini mengindikasikan bahwa pemaparan UV terhadap isolat S. rolfsii selama 30 menit
menurunkan kecepatan pertumbuhan dari isolat tersebut sehingga luas pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan dengan pemaparan UV dengan waktu yang lebih singkat.
Luas pertumbuhan koloni isolat mutan S. rolfsii tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (pemaparan 10 menit) sebesar 45,12 cm2 (3 hsi) (Lampiran 38). Luas pertumbuhan koloni isolat mutan S. rolfsii terendah terdapat pada perlakuan M6 (pemaparan 30 menit) sebesar 18,54 cm2
6. Pengaruh Isolat Mutan S. rolfsii Terhadap Luas Pertumbuhan Koloni Isolat Tipe Liar S. rolfsii
(3 hsi).
Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap luas pertumbuhan koloni isolat tipe liar S. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 6 (Lampiran 14-17).
Tabel 6. Beda uji rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap luas pertumbuhan koloni isolat tipe liar S. rolfsii
Perlakuan Luas pertumbuhan koloni (cm 2
) 1 Hsi 2 Hsi 3 Hsi 4 Hsi M0 3,42 a 10,00 b 27,10 c 37,02 c M1 1,76 b 12,02 a 28,56 c 36,03 c M2 1,68 b 9,34 b 26,85 c 31,54 d M3 1,73 b 8,36 b 33,98 b 52,66 a M4 2,17 b 9,37 b 37,80 a 42,19 b M5 2,24 b 9,51 b 29,71 b 42,34 b M6 2,95 a 13,66 a 40,86 a 53,51 a
Keterangan : angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
Hsi = Hari setelah inokulasi
Pada 1-2 hsi (Tabel 6), isolat mutan S. rolfsii tidak berpengaruh terhadap isolat tipe liar S. rolfsii dikarenakan belum terjadi pertemuan miselium antara kedua isolat. Namun luas pertumbuhan dari setiap perlakuan menunjukkan
perbedaan yang nyata. Pada 3 hsi menunjukkan bahwa pada perlakuan M1, dan M2 (tanpa pemaparan, pemaparan 5 dan 10 menit) berbeda nyata dengan
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 M0 M1 M2 M3 M4 M5 M6 L uas pe r tum buhan ( c m 2) Perlakuan Pengamatan- 1 Hsi Pengamatan- 2 Hsi Pengamatan- 3 Hsi Pengamatan- 4 Hsi perlakuan lainnya tetapi tidak berbeda nyata dengan M0 (tanpa pemaparan). Sementara pada 4 hsi, perlakuan M2 (pemaparan 10 menit) berbeda sangat nyata dengan semua perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa isolat S. rolfsii yang dipapari UV selama 10 menit memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan isolat tipe liar S. rolfsii dalam hal perebutan ruang tumbuh dan nutrisi. Sementara perlakuan lainnya dengan waktu pemaparan UV lebih lama, pertumbuhannya lebih lambat sehingga kurang mampu bersaing dengan isolat tipe liar S. rolfsii dalam memperebutkan ruang tumbuh dan nutrisi. Meskipun demikian, isolat mutan S. rolfsii tersebut masih mampu untuk tumbuh di media biakan walaupun terhambat oleh pertumbuhan isolat tipe liarnya. Sebagaimana
dalam penelitian Susanti et al. (2009) menyebutkan bahwa dari jamur F. oxysporum f.sp lycopersici yang telah dimutasi memiliki kemampuan dan
ketahanan untuk mentoleransi pengaruh-pengaruh yang bersifat merugikan menyebabkan beberapa konidia jamur dapat tetap ditumbuhkan pada media biakan.
Gambar 12. Histogram beda uji rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap luas pertumbuhan koloni isolat tipe liar S. rolfsii
Isolat S. rolfsii yang dipapari UV selama 10 menit (Gambar 6 B) paling efektif mempengaruhi pertumbuhan koloni dari isolat tipe liar S. rolfsii yang mengakibatkan luas pertumbuhannya hanya sebesar 31,54 cm2 (4 hsi). Sementara isolat S. rolfsii yang dipapari UV selama 30 menit (Gambar 6 A) kurang efektif mempengaruhi pertumbuhan koloni dari isolat tipe liar S. rolfsii sehingga pertumbuhan dari liarnya relatif cepat dengan luas pertumbuhan sebesar 53,51 cm2
7. Jumlah Sklerotia dari Isolat Mutan S. rolfsii
(4 hsi). Hal ini disebabkan irradiasi UV terhadap isolat S. rolfsii mengalami perubahan yang bersifat genetis. Hut et al. (2008) menyebutkan bahwa mutasi dapat berakibat pada kesalahan menyandi protein dan keadaan ini jika tidak bersifat letal, biasanya menimbulkan penampakan fenotip yang berbeda dari keadaan normalnya. Karena merupakan perubahan pada materi genetik, maka mutasi diwariskan pada keturunannya.
Berdasarkan analisis sidik ragam, beda uji rataan jumlah sklerotia dari isolat mutan S. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 7 (Lampiran 18-21).
Tabel 7. Beda uji rataan jumlah sklerotia dari isolat mutan S. rolfsii
Keterangan : angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
Msi = Minggu setelah inokulasi Perlakuan Jumlah sklerotia
1 Msi 2 Msi 3 Msi 4 Msi
M0 0,00 b 17,33 b 19,00 b 30,67 b M1 0,00 b 10,33 b 17,33 b 28,33 b M2 1,00 b 9,33 b 16,67 b 29,67 b M3 8,67 b 23,33 b 60,33 b 75,00 b M4 0,00 b 22,00 b 27,67 b 30,00 b M5 0,67 b 12,33 b 25,67 b 42,67 b M6 75,67 a 200,33 a 234,67 a 244,00 a
0,00 50,00 100,00 150,00 200,00 250,00 300,00 M0 M1 M2 M3 M4 M5 M6 Ju mlah s k le rot ia Perlakuan Pengamatan- 1 Msi Pengamatan- 2 Msi Pengamatan- 3 Msi Pengamatan- 4 Msi Tabel 7 menunjukkan bahwa pada 1-4 msi, perlakuan M6 (pemaparan 30 menit) berbeda sangat nyata terhadap perlakuan lainnya sekaligus sebagai rataan
tertinggi dengan rataan jumlah sklerotia dari isolat mutan S. rolfsii sebesar 244 sklerotia. Rataan jumlah sklerotia dari isolat mutan S. rolfsii terendah terdapat pada perlakuan M1 (pemaparan 5 menit)
Grafik histogram jumlah sklerotia dari isolat mutan S. rolfsii dapat dilihat pada Gambar 13.
sebesar 28,33 sklerotia.
Gambar 13. Histogram jumlah sklerotia dari isolat mutan S. rolfsii
Sklerotia merupakan bahan perbanyakan, pemencaran, sekaligus sebagai pertahanan diri dari S. rolfsii dalam kondisi tertekan atau kurang menguntungkan baggi pertumbuhannya. Namun pemaparan UV selama 30 menit secara signifikan merangsang pembentukan sklerotia menjadi lebih cepat dan banyak di bandingkan dengan pemaparan yang lebih singkat. Hal ini mungkin disebabkan adanya mekanisme perubahan biokimia yang bersifat genetis, yang menyebabkan terjadinya perubahan materi genetik yang dikandung oleh S. rolfsii yang berdampak pada pembentukan sklerotia. Radiasi sinar UV ini dilaporkan mempunyai energi yang sangat tinggi yang dapat menyebabkan rusaknya sebagian
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 M0 M1 M2 M3 M4 M5 M6 J um la h s kle r o tia is o la t lia r Perlakuan 1 Msi 2 Msi 3 Msi 4 Msi atau bahkan keseluruhan sel dari isolat yang tekena paparan sinar UV. Sesuai dengan Freeman et al. (2002) yang menyatakan bahwa pengaruh radiasi sinar UV ini pada proses mutagenesis disebabkan oleh kemampuan sinar UV dalam menginduksi perubahan secara genetis pada patogen.
8. Pengaruh Isolat Mutan S. rolfsii Terhadap Jumlah Sklerotia Isolat Tipe Liar S. rolfsii
Analisis sidik ragam rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap jumlah sklerotia isolat liar S. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 8 (Lampiran 22-25). Tabel 8. Beda uji rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap jumlah sklerotia isolat
liar S. rolfsii
Perlakuan Jumlah sklerotia isolat tipe liar
1 Msi 2 Msi 3 Msi 4 Msi
M0 5,67 26,00 a 34,67 a 40,00 a M1 24,33 49,67 a 56,33 a 62,00 a M2 23,67 29,33 a 36,67 a 41,67 a M3 0,67 0,67 b 0,67 b 0,67 b M4 0,00 11,00 b 16,33 b 19,33 b M5 5,67 14,00 a 17,33 b 23,67 b M6 0,00 0,00 b 0,00 c 0,00 b
Keterangan : angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
Msi = Minggu setelah inokulasi
Grafik histogram beda uji rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap jumlah sklerotia isolat tipe liar S. rolfsii dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14. Histogram beda uji rataan rataan pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap jumlah sklerotia isolat tipe liar S. rolfsii
Tabel 8 dan Gambar 14 diketahui bahwa rataan jumlah sklerotia dari
isolat tipe liar S. rolfsii pada perlakuan M3 (pemaparan 15 menit) dan M6 (pemaparan 30 menit) berbeda nyata dengan semua perlakuan. Hal ini
membuktikan bahwa adanya pengujian antara isolat mutan S. rolfsii terhadap isolat tipe liar S. rolfsii mempengaruhi pembentukan sklerotia yang dilakukan oleh kedua isolat tersebut seperti yang terlihat pada Gambar 15.
Gambar 15. Pembentukan sklerotia pada perlakuan M3 (kiri) dan perlakuan M6 (kanan) pada 4 msi (A) isolat mutan (B) isolat liar
Gambar 15 menunjukkan bahwa akibat adanya pertumbuhan isolat mutan S. rolfsii pada perlakuan M3 (pemaparan 15 menit) dan M6 (pemaparan 30 menit), berpengaruh terhadap isolat tipe liar S. rolfsii yang
tidak mampu membentuk sklerotia (Gambar 14, Gambar 15 dan Tabel 8) menjadi 0,67 sklerotia (M3) dan 0 sklerotia (M6). Sementara pada perlakuan M4 (pemaparan 20 menit) dan M5 (pemaparan 25 menit), pembentukan sklerotia pada isolat mutan tersebut tidak banyak namun kedua isolat mampu mempengaruhi pembentukan sklerotia tipe liarnya. Hal ini mengindikasikan adanya mekanisme antagonis berupa hiperparasitisme. Isolat mutan S. rolfsii menjadi memiliki kemampuan untuk merusak lisis miselium atau mendegradasi suatu senyawa dari isolat tipe liar S. rolfsii yang berperan dalam pembentukan
A
sklerotia yang mengakibatkan pembentukan sklerotia pada isolat liar S. rolfsii menjadi sedikit bahkan tidak mampu lagi membentuk sklerotia sebagaimana mestinya. Hut et al. (2008) menyebutkan bahwa mutasi adalah suatu perubahan pada rangkaian nukleotida dari suatu asam nukleat. Mutasi dapat berakibat pada kesalahan menyandi protein dan keadaan ini jika tidak bersifat letal, biasanya menimbulkan penampakan fenotip yang berbeda dari keadaan normalnya. Karena merupakan perubahan pada materi genetik, maka mutasi diwariskan pada keturunannya. Dan dalam keadaan seperti ini diharapkan nantinya isolat mutan dari S. rolfsii yang terbentuk mampu mengendalikan tipe liarnya.
Gambar 16. Pembentukan sklerotia pada perlakuan M1
Gambar 16 menunjukkan bahwa rataan jumlah sklerotia isolat tipe liar S. rolfsii tertinggi terdapat pada perlakuan M1 (pemaparan 5 menit) sebesar 62,00 sklerotia. Isolat mutan S. rolfsii dengan waktu pemaparan UV yang lebih
singkat, hanya mampu bersaing dalam hal perebutan ruang tumbuh dan nutrisi. Namun tidak berpengaruh terhadap pembentukan sklerotia yang dilakukan oleh tipe liarnya yang tidak berbeda nyata terhadap perlakuan M0 (tanpa pemaparan).
Seperti yang dilaporkan Susanti et al. (2009) yakni perubahan pigmen dari strain F. oxysporum f.sp Lycopersici yang telah dipapari UV ada yang bersifat genetis
sementara. Perubahan pigmen yang bersifat sementara ini mungkin hanya disebabkan oleh kerusakan pigmen karena adanya pengaruh dari radiasi sinar UV, sehingga tidak diwariskan ke keturunannya. Selain itu pada salah satu isolat, kembalinya warna pigmen ini mungkin disebabkan jamur tersebut karena
memiliki kemampuan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh sinar UV.
9. Patogenesitas Isolat Mutan S. rolfsii
Analisis sidik ragam rataan keparahan penyakit dari isolat mutan S. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 9 (Lampiran 26-30).
Tabel 9. Beda uji rataan keparahan penyakit isolat mutan S. rolfsii terhadap tanaman kedelai.
Perlakuan Keparahan penyakit (%)
1 Hsi 2 Hsi 3 Hsi 4 Hsi 5 Hsi M0 20,00 b 33,33 a 60,00 a 80,00 a 100 a M1 26,67 a 33,33 a 66,67 a 93,33 a 100 a M2 20,00 b 33,33 a 60,00 a 93,33 a 100 a M3 20,00 b 33,33 a 60,00 a 93,33 a 100 a M4 20,00 b 33,33 a 60,00 a 93,33 a 100 a M5 20,00 b 26,67 a 60,00 a 80,00 a 100 a M6 20,00 b 20,00 b 33,33 b 40,00 b 53,33 b
Keterangan : angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan berbeda nyata pada uji jarak duncan taraf 5%.
Hsi : Hari setelah inokulasi
Tabel 9 menunjukkan bahwa pada 1 hsi, perlakuan M1 (pemaparan 5 menit) berbeda nyata dengan semua perlakuan lainnya yang masih sehat dan
segar. Hal ini dikarenakan infeksi S. rolfsii telah masuk ke dalam jaringan tanaman melalui pelukaan mekanis yang dilakukan pada pangkal batang tanaman kedelai sehingga menggangu sistem metabolisme dari tanaman dan menampakkan
gejala agak layu. Seperti yang disebutkan oleh Ferreira & Boley (1992) bahwa S. rolfsii pertama sekali menyerang batang, meskipun mungkin menginfeksi
beberapa bagian tanaman dibawah kondisi lingkungan yang sesuai termasuk akar, buah, petiole, daun dan bunga. Tanda pertama infeksi, meskipun biasanya tidak terdeteksi, adalah coklat gelap pada batang atau di bawah tanah. Gejala pertama yang mungkin adalah proses penguningan dan kelayuan pada daun. Gejala berikutnya terlihat jamur lapisan putih atau benang miselium pada jaringan yang terinfeksi dalam tanah.
Gambar 17. Tanaman kedelai yang telah diaplikasikan isolat mutan S. rolfsii (A) perlakuan M6 (B) perlakuan M2
Gambar 17 menunjukkan bahwa pada 4 hsi, perlakuan M6 (Pemaparan selama 30 menit) berbeda sangat nyata terhadap semua perlakuan dikarenakan tanaman terlihat lebih sehat dengan keparahan penyakit sebesar 40,00 %.. Sementara perlakuan M1 (Pemaparan selama 5 menit) sampai perlakuan M5 (Pemaparan selama 25 menit) tidak berbeda nyata dengan M0 (tanpa pemaparan) yang menunjukkan gejala kelayuan pada tanaman dan akhirnya mati pada 5 hsi dengan keparahan penyakit mencapai 100 % dan pada hari yang sama perlakuan M6 baru menunjukkan tanaman kedelai yang agak layu. Hal ini membuktikan bahwa irradiasi UV selama 30 menit terhadap S. rolfsii mampu menurunkan patogenesitasnya. Hal ini dikarenakan karena adanya mekanisme perubahan biokimia yang bersifat genetis, yang menyebabkan S. rolfsii mulai kehilangan
A
kemampuannya untuk dapat menimbulkan penyakit pada tanaman kedelai. Sebagaimana telah dilaporkan oleh Susanti et al. (2009) bahwa dari penelitian yang dilakukannya terhadap F. oxysporum f.sp lycopersici bahwa isolat-isolat mutan yang diinokulasikan pada tanaman tomat baik dengan cara perendaman akar tanaman tomat atau pencampuran pada media tanam, menunjukkan adanya perubahan tingkat patogenesitas yang berbeda. Berdasarkan hasil tersebut, hanya dua isolat yang masih tetap bersifat patogenik, sedangkan isolat-isolat lainnya mengalami kehilangan patogenesitasnya.
Selain gejala kelayuan, penampakan gejala abnormal terlihat pada perakaran tanaman setelah di bongkar (Lampiran 35). Dari perlakuan M0 sampai M5, akar terbentuk abnormal yakni banyak menghasilkan akar-akar skunder. Hal ini mungkin disebabkan akibat adanya serangan dari S. rolfsii pada pangkal batang, mengakibatkan terganggu proses metabolisme di sekitar perakaran yaitu tersumbatnya pengangkutan air dan unsur hara ke seluruh bagian dari tanaman. Akibatnya sebagai pertahanan diri, akar primer membentuk sejumlah akar-akar
skunder dan menampakkan gejala abnormal yang berlebihan (Gambar 18 A dan B). .
Gambar 18. Perbandingan perakaran kedelai antara kontrol dengan perlakuan (A) perlakuan M4 (B) perlakuan M5 (C) perlakuan M6
A C
B A
Perakaran dari perlakuan M6 (Pemaparan 30 menit) (Gambar 18 C) menunjukkan pembentukan akar primer yang normal, tidak ada akar skunder yang terbentuk berlebihan. Hal ini semakin membuktikan bahwa pengaruh irradiasi UV
selama 30 menit mampu mengubah dan menurunkan patogenesitas S. rolfsii seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Seperti dikemukakan oleh Day (1974)
dalam penelitiannya diperoleh informasi bahwa mutan P. expansum dan F.oxysporum f.sp. lycopersici yang diradiasi dengan sinar UV menunjukkan
penurunan patogenesitasnya.
Gambar 19. Sklerotia yang terbentuk di masing- masing media tanam setelah dibongkar (A) sklerotia yang terbentuk di bagian polibeg (B) sklerotia yang terbentuk di sekitar
perakaran skunder tanaman kedelai pada perlakuan M3 (C) sklerotia yang terbentuk di bongkahan tanah Pada perlakuan M1 D) sklerotia belum tebentuk pada perlakuan M6
Pembentukan sklerotia di dalam tanah pada wadah polibeg yang diinokulasikan perlakuan isolat mutan, menunjukkan perbedaan jumlah sklerotia yang terbentuk. Ada yang terbentuk di bagian polibeg (Gambar 19 A) , di perakaran kedelai (Gambar 19 B), dan ada yang terbentuk di tanah (Gambar 19 C). Sementara pada perlakuan M6 (Pemaparan selama 30 menit) sklerotia belum terbentuk (Gambar 19 D). Sehingga dapat disimpulkan bahwa perlakuan M6 lebih cepat membentuk sklerotia, apabila diinokulasikan dalam media biakan (in vitro) namun apabila diinokulasikan ke lapangan (in vivo), pembentukan sklerotia pada perlakuan M6 menjadi lebih lambat.
C D
B A