Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
pada ketinggian tempat ± 25 meter dpl (di atas permukaan laut) pada bulan September sampai November 2012.
Bahan dan Alat Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini adalah,
aquades, Media Potato Dextrose Agar (PDA), tanaman kedelai yang terserang S. rolfsii, benih kedelai varietas Anjasmoro, cling wrap, kapas, alkohol, air suling
steril, spritus, alumunium foil, dan kertas steencil, beras, klorox. Alat
Adapun alat yang digunakan pada penelitian ini adalah cawan petri, erlemeyer, cutter, handsprayer, batang pengaduk, mikroskop binokuler, autoklaf, lampu bunsen, timbangan analitik, Laminar Air Flow, lampu UV dengan kriteria
short wave ultraviolet (Model EVF-240C/F, 230 VOLTS, 50 HZ 17 AMPS) 15 watt panjang gelombang 254 nm, tabung reaksi, polibeg, inkubator, oven, hot plate, mikropipet, pipet ukur, mortar, pestel, beaker glass, jarum inokulum,
pinset, glass root (batang L), kotak peletakan UV, jangka sorong. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 7 perlakuan, yaitu :
Isolat Mutan (M) : M0 M
: Kontrol (Tanpa Pemaparan) 1
M
: Pemaparan selama 5 menit 2
M
: Pemaparan selama 10 menit 3
M
: Pemaparan selama 15 menit 4
M
: Pemaparan selama 20 menit 5
M
: Pemaparan selama 25 menit 6
Dengan jumlah ulangan diperoleh dengan menggunakan rumus =
: Pemaparan selama 30 menit
(t-1)r ≥ 15 (7-1)r ≥ 15 6r ≥ 15 6r ≥ 15 r ≥ 15/6 r ≥ 2,5 ≈ 3
Ulangan yang digunakan adalah sebanyak 3 ulangan, Total unit percobaan : 21 Percobaan
Bagan penelitian yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
M0A M6C M0 M C 1A M2B M1 M C 4C M1B M2 M C 3A M6B M4 M B 4A M3C M2 M A 5A M3B M5 M C 6A M5B M0B
Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam dengan model linier sebagai berikut :
Yij Dimana :
= µ + αi + ∑ij
Yij
µ = efek nilai
= Respon atau nilai pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j
αi = efek blok dari taraf ke-i ∑ij = efek error
(Sastrosupadi, 2000). Pelaksanaan Penelitian
1. Pembuatan Media PDA
Kentang 250 g dipotong dadu kecil kemudian direbus dalam 1 liter air. Setelah air mendidih dan kentang matang, disaring dan diambil air saringannya. Selanjutnya dekstrosa 20 g dan agar 20 g dimasukkan dalam air hasil saringan. Dipanaskan lagi sampai agar larut dan homogen. Setelah mendidih disaring dan ditambah air sampai volume akhir 1 liter, dimasukkan dalam erlemeyer kemudian disumbat kapas dan ditutup dengan alumunium foil, disterilkan dengan autoclave pada suhu 121°C dengan tekanan 15 psi selama 15 menit (Nasikhah, 2008).
2. Penyediaan Sumber Inokulum a. Isolat TipeLiar S. rolfsii
Isolat tipe liar S. rolfsii diisolasi dari perakaran atau pangkal batang tanaman kedelai yang terinfeksi S. rolfsii. Bagian tanaman tersebut didisinfeksi dengan cara mencelupkan ke dalam larutan natrium hipoklorit 1 % selama lima detik, kemudian dicuci dengan air steril dan dikeringkan lalu ditanam di Media
PDA. Selanjutnya biakan diinkubasi selama 5 hari pada suhu kamar. Jamur yang tumbuh diamati secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil pengamatan diidentifikasi berdasarkan deskripsi yang dikemukakan oleh Barnett dan Hunter (1972). Biakan murni hasil isolasi jamur S. rolfsiidiperbanyak dalam Media PDA dan diinkubasi pada suhu kamar selama 5 hari (Astiko et al. 2009).
b. Isolat Mutan S. rolfsii
Disediakan 8-10 sklerotia, lalu digerus dengan menggunakan mortar dan pestel steril kemudian ditambahkan 2 ml air steril. Selanjutnya 1 ml suspensi sklerotia yang telah digerus dimasukkan ke dalam tabung reaksi berisi 9 ml air steril. Setelah dilakukan pengenceran 10-1, diambil suspensi sklerotia sebanyak 0,1 ml kemudian dituang dan diratakan di seluruh permukaan Media PDA. Selanjutnya Media PDA tersebut dipaparkan terhadap radiasi lampu UV 15 W dengan panjang gelombang 254 nm dengan waktu pemaparan sesuai perlakuan. Jarak antara sklerotia yang diradiasi dengan lampu UV adalah 20 cm. Setelah irradiasi dengan sinar UV, sklerotia tersebut diinkubasi selama 48 jam dengan suhu 30°
3. Uji Antagonisme Isolat Mutan S. rolfsii Terhadap Isolat Tipe Liar
S. rolfsiidi Laboratorium
C, setelah itu diamati bentuk morfologi dari isolat mutan yang terbentuk (Sadana et al. 1979).
Pengujian kemampuan penghambatan isolat mutan S. rolfsii terhadap isolat tipe liar S. rolfsiidilakukan pada cawan petri diameter 9 cm yang telah diisi Media PDA. Selanjutnya isolat mutan S. rolfsii ditanam pada sisi kiri media biakan, sedangkan isolat liar S. rolfsii ditanam di tengah. Selanjutnya pertumbuhan dari kedua jamur tersebut diamati mulai 3 hari setelah inokulasi (hsi) hingga pertumbuhan koloni memenuhi cawan petri (Supriati et al. 2010).
Gambar 4. Bagan peletakan kedua isolat dalam cawan petri dengan metode dual culture Keterangan:
M = isolat mutan S. rolfsii L = tipe liar S. rolfsii
4. Uji Patogenesitas Isolat Mutan S. rolfsii a. Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah tanah ultisol yang telah disterilisasi lalu dimasukkan ke dalam polibeg ukuran ¼ kg.
b. Penanaman Benih Kedelai
Pada setiap polibeg ditanam 2 benih kedelai dengan 3 ulangan. Selanjutnya dipilih 1 tanaman yang paling sehat untuk diinokulasi isolat mutan S. rolfsii.
c. Perbanyakan Isolat Mutan S. rolfsii
Isolat mutan S. rolfsii diperbanyak dengan cara diinokulasi pada media beras 10 g steril (Lampiran 31). Kemudian biakan diinkubasi selama 7 hari pada suhu kamar. Selanjutnya biakan siap diaplikasikan ke tanaman kedelai setelah media beras ditumbuhi isolat mutan S. rolfsii (Nasikhah, 2008).
d. Inokulasi Isolat Mutan S. rolfsii
Inokulasi isolat mutan S. rolfsii dilakukan setelah tanaman kedelai
berumur 2 Minggu di sekitar perakaran dan pangkal batang tanaman (Astiko et al. 2009).
Peubah Amatan
1. Kemampuan Antagonis Isolat Mutan S. rolfsii Terhadap Isolat Tipe Liar S. rolfsii
Pengamatan kemampuan antagonis isolat mutan S. rolfsii terhadap isolat tipe liar dilakukan dengan mengukur daerah hambatan yang dihasilkan isolat mutan S. rolfsii terhadap isolat tipe liar S. rolfsii. Persentase hambatan pertumbuhan (%) diamati pada umur 3 hsi sampai pertumbuhan koloni memenuhi cawan petri dengan menggunakan rumus:
R1 – R I = x 100% 2 R dimana : 1 I = persentase daya hambat (%) R1
R
= jari-jari isolat tipe liar yang menjauhi isolat mutan S. rolfsii 2 = jari-jari isolat tipe liar yang mendekati isolat mutan S. rolfsii (Fokkema, 1976 dalam Rahaju, 2007).
2. Morfologi Isolat Mutan S. rolfsii
Pengamatan morfologi dari isolat mutan S. rolfsii diamati setelah suspensi gerusan sklerotia yang diirradiasi sinar UV diinkubasi selama 48 jam (2 hsi). Pengamatan dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Secara makroskopis meliputi warna, bentuk, kerapatan koloni serta jenis miselium dan hifa. Secara mikroskopis, dilakukan pengamatan hifa dan miselium dari isolat mutan S. rolfsii dengan menggunakan mikroskop binokuler perbesaran 100 x, 400 x, 1000 x.
3. Diameter Koloni Isolat Mutan S. rolfsii
Isolat mutan S. rolfsii dibiakkan dengan metode one point (satu titik) pada media PDA di cawan petri berdiameter 9 cm volume 20 ml/petri, dilakukan pengukuran diameter koloni isolat mutan S. rolfsii mulai dari 1-3 hsi, dengan cara mempolakan bentuk perkembangan koloni pada cawan petri menggunakan plastik transparan lalu digambar mengikuti pola perkembangan koloni tersebut. Perhitungan diameter koloni dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. 4. Pengaruh Isolat Mutan S. rolfsii Terhadap Diameter Koloni Isolat
Tipe Liar S. rolfsii
Isolat mutan S. rolfsii dan isolat tipe liar S. rolfsii dibiakkan dengan metode two point (dua titik) pada media PDA di cawan petri berdiameter 9 cm volume 20 ml/petri, dilakukan pengukuran diameter koloni isolat tipe liar S. rolfsii mulai dari 1-4 hsi, dengan cara mempolakan bentuk perkembangan koloni pada cawan petri menggunakan plastik transparan lalu digambar mengikuti pola perkembangan koloni tersebut. Perhitungan diameter koloni dilakukan dengan menggunakan jangka sorong.
5. Luas Pertumbuhan Koloni Isolat Mutan S. rolfsii
Isolat mutan S. rolfsii dibiakkan dengan metode one point (satu titik) pada media PDA di cawan petri berdiameter 9 cm volume 20 ml/petri, dilakukan pengukuran luas pertumbuhan koloni isolat mutan S. rolfsii mulai dari 1-3 hsi, dengan cara mempolakan bentuk perkembangan koloni pada cawan petri menggunakan plastik transparan lalu digambar mengikuti pola perkembangan
koloni tersebut. Perhitungan luas pertumbuhan koloni dengan menggunakan leaf area meter.
6. Pengaruh Isolat Mutan S. rolfsii Terhadap Luas Pertumbuhan Koloni Isolat Tipe Liar S. rolfsii
Isolat mutan S. rolfsii dan isolat tipe liar S. rolfsii dibiakkan dengan metode two point (dua titik) pada media PDA di cawan petri berdiameter 9 cm volume 20 ml/petri, dilakukan pengukuran luas pertumbuhan koloni isolat tipe liar S. rolfsii mulai dari 1-4 hsi, dengan cara mempolakan bentuk perkembangan koloni pada cawan petri menggunakan plastik transparan lalu digambar mengikuti pola perkembangan koloni tersebut. Perhitungan luas pertumbuhan koloni dengan menggunakan leaf area meter.
7. Jumlah Sklerotia dari Isolat Mutan S. rolfsii
Jumlah sklerotia dari isolat mutan S. rolfsii diamati mulai 1 minggu setelah inokulasi (msi) hingga 4 msi.
8. Pengaruh Isolat Mutan S. rolfsii Terhadap Jumlah Sklerotia Isolat Tipe Liar S. rolfsii
Pengaruh isolat mutan S. rolfsii terhadap jumlah sklerotia dari isolat tipe liar S. rolfsii diamati mulai 1-4 msi.
9. Patogenesitas Isolat Mutan S. rolfsii
Pengamatan terhadap patogenesitas dari isolat mutan S. rolfsii diamati tiap hari. Tanaman yang menunjukkan gejala kelayuan (terserang) dinilai berdasarkan skala di bawah ini:
Skala 1 = tidak ada gejala kelayuan Skala 2 = sebagian daun layu (ringan) Skala 3 = secara umum daun layu (sedang) Skala 4 = layu permanen
Keparahan penyakit isolat mutan S. rolfsii dihitung berdasarkan nilai skala yang diperoleh dengan menggunakan rumus yang digunakan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman, Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan (2000) sbb: ∑ (ni x vi KP = --- x 100 % ) Z x N Keterangan : KP = Keparahan Penyakit
ni = Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh dengan skala kerusakan v
v
i i
N = Jumlah tanaman atau bagian tanaman contoh yang diamati = Nilai skala kerusakan contoh ke-i