pemangsa atau menempelkan telurnya pada tanaman atau habitat lainnya (Nikolsky 1963).
Fekunditas ikan dapat ditentukan dengan metode gravimetrik yaitu suatu metode dengan cara mengukur berat gonad. Contoh ikan dibandingkan dengan berat gonad total, kemudian dikalikan dengan jumlah telur contoh. Menurut Elvira (2009), nilai fekunditas rata-rata pada O. hypophthalmus di Sungai Kampar Riau adalah sebesar 6.635 butir telur dengan diameter telur 0,77 mm.
F. Diameter telur dan tipe pemijahan
Diameter telur adalah garis tengah atau ukuran panjang suatu telur yang diukur dengan mikrometer berskala yang sudah ditera. Ukuran diameter telur dipakai untuk menentukan kualitas telur (Effendie 2002). Telur yang berukuran besar akan menghasilkan larva ikan yang berukuran lebih besar dibanding dengan larva ikan dengan telur yang lebih kecil. Perkembangan diameter pada telur yang semakin meningkat mengindikasikan meningkatnya tingkat kematangan gonad.
Masa pemijahan setiap spesies ikan berbeda-beda, ada pemijahan yang berlangsung singkat (total spawning), tetapi banyak pula dalam waktu yang panjang (partial spawning) ada pada ikan yang berlangsung sampai beberapa hari. Semakin meningkat tingkat kematangan, garis tengah telur yang ada dalam ovarium semakin besar pula (Effendie 1979). Lama pemijahan dapat diduga dari frekuensi ukuran diameter telur. Ovarium yang mengandung telur matang berukuran sama, menunjukkan waktu pemijahan yang pendek, sebaliknya waktu pemijahan yang panjang dan terus menerus ditandai dengan banyaknya ukuran telur yang berbeda di dalam ovarium. Pada spesies O. bimaculatus dari India mempunyai diameter telur berkisar dari 0,827 – 1,358 mm dan tipe pemijahan terjadi secara bertahap selama priode bulan Mai hingga Agustus (Malla dan Banik 2015).
Pemijahan ikan lais O. hypophthalmus di Sungai Kampar Riau berlangsung sebelum terjadinya banjir maksimum. Hal ini merupakan strategi adaptasi ikan lais untuk mendapatkan keuntungan dari sumber daya makanan alami yang tersedia bagi juvenil ikan. Beberapa bulan kemudian ketika musim banjir besar tiba, anak-anak ikan lais sudah dapat mengkonsumsi anak-anak spesies ikan lain yang baru menetas (Simanjuntak 2007).
Gambaran umum perairan di Sungai Mahakam
Daerah aliran sungai (DAS) Mahakam merupakan salah satu kawasan di Kalimantan Timur yang memiliki luas 8,2 juta hektar atau sekitar 41% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Timur. DAS Mahakam dengan luas 77.095.460 ha meliputi Kabupaten Kutai Barat, Kutai Timur, Malinau, Kutai Kertanegara dan Kota Samarinda. Bahkan daerah tangkapan airnya tidak hanya di Provinsi Kalimantan Timur, namun juga di Provinsi Kalimantan Tengah dan diduga sebagian kecil di Serawak yang merupakan negara bagian Malaysia.
DAS Mahakam, terbagi dalam tujuh subDAS, yaitu subDAS Mahakam Hulu (25.530 km), subDAS Kedang Pahu (7.520 km), subDAS Seberang Muara (4.980 km), subDAS Danau Melintang dan Danau Semayang (2.430 m), subDAS
Belayan (10.350 km), subDAS Kedang Kepala dan Kedang Rantau (20.190 km), dan subDAS Mahakam Hilir (6.910 km) (Fakhrudin dan Kosman 1997).
DAS Mahakam dengan seluruh subDASnya berperan penting bagi kehidupan masyarakat dan berfungsi strategis secara ekonomis maupun ekologis (hidrologis). Secara ekonomis, DAS Mahakam telah dimanfaatkan sebagai jalur transportasi kapal penumpang dan kapal pengangkut barang, industri yang berkaitan dengan basil hutan (kehutanan), pertambangan (batu bara, emas, dan minyak bumi), pertanian dan perkebunan (tanaman pangan dan kelapa sawit), budidaya perikanan dan sumber bahan baku air bersih, serta untuk pariwisata (ekowisata). Selain itu, pinggiran Sungai Mahakam (kanan-kiri) dimanfaatkan sebagai permukiman dan usaha ekonomi penduduk setempat. DAS Mahakam juga berfungsi secara ekologis dan berperan penting dalam pengaturan hidrologi, yaitu sebagai pengendali banjir dengan berfungsinya tiga danau (Danau Jempang, Semayang, dan Melintang) sebagai tempat resapan air yang dapat menciptakan keseimbangan lingkungan antara ekosistem danau dan aliran sungai secara fisik (daerah pengaliran sungai). SubDAS Danau Semayang, Melintang, dan Jempang berperan penting dalam pengendalian banjir yang terjadi pada Sungai Mahakam. Ketiga danau tersebut akan berfungsi sebagai daerah resapan atau penghambat lajunya air menuju outlet ke Sungai Mahakam. Danau Semayang dan Melintang merupakan danau dangkal yang mempunyai fluktuasi tinggi permukaan air yang dipengaruhi oleh musim (curah hujan) dan merupakan tipe danau paparan banjir (flood plain). Selama musim penghujan di Sungai Mahakam terjadi penambahan volume air dan menyebabkan banjir. Kelebihan volume air tersebut menggenangi daerah aliran sungai (DAS) di sekitar sungai utama dan membentuk paparan banjir (flood plain) yang menutupi beberapa tipe habitat di sekitarnya (Yogaswara 2007).
Sejarah geologi menunjukkan bahwa sungai-sungai di Sumatera bagian tengah dan Sungai Kapuas di Kalimantan Barat merupakan bagian aliran sungai sunda utara purba, sedangkan sungai di Kalimantan Selatan, Jawa dan sebagian timur Sumatera termasuk aliran sungai sunda timur purba (Voris 2000, McConnell 2004). Sejarah geologi Sungai Mahakam tidak pernah berhubungan dengan sungai sunda utara dan timur purba sehingga secara biogeografi pola distribusi spesies ikan di Kalimantan Timur lebih mirip dengan Kalimantan Utara dibandingkan dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan (Yap 2002). Perbedaan sejarah geologi ini diduga akan berkaitan dengan jenis dan keragaman fauna ikan di Sungai Mahakam.
Sungai Mahakam juga termasuk salah satu bagian dari perairan umum yang memegang peranan penting dalam menghasilkan ikan air tawar di Indonesia. Perairan ini memiliki beragam jenis ikan air tawar dan sudah lama berfungsi sebagai tempat penangkapan ikan oleh nelayan (Samuel et al. 2002). Laporan dari Christensen (1992) dalam penelitiannya selama tahun 1982-1987 menemukan 147 spesies ikan air tawar di Sungai Mahakam, sedangkan Kottelat (1994) melaporkan 174 spesies ikan air tawar dan 9% di antaranya adalah spesies endemik. Menurut Purnomo (1994), ikhtiofauna Danau Semayang dan Melintang terdiri dari 31 jenis ikan, 14 jenis di antaranya mempunyai nilai ekonomis, sedangkan Lukman dan Gunawan (1998) melaporkan ada 34 jenis. Riyanto (1996) dalam penelitiannya di beberapa tipe habitat di Danau Semayang mendapatkan 29 jenis ikan. Nasution et al. (2008) menemukan ikhiofauna di Sungai Muara Kaman sebanyak 19 jenis dan
Danau Semayang sebanyak dan 24 jenis, selanjutnya jenis ikan dominan ada dua kelompok, yang pertama adalah ikan repang (Osteochilus repang) dan lalang
(Chela oxygasteroides) di Sungai Muara Kaman dan yang kedua adalah lais (K. micronema) dan kendia (Thinnichthys vaillanti) di Danau Semayang.