• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dibuat judul,skala,legenda,dan memcantumkan sumber peta yang dibuat.

Dalam dokumen LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGR (Halaman 78-88)

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGINDERAAN JAUH

III METODE PRAKTIKUM

B. Bahan dan Alat

4. Dibuat judul,skala,legenda,dan memcantumkan sumber peta yang dibuat.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Konversi 1° ke meter = 30,92 m Skala 1:10.000

 Lintang A – B  7°23’00”

- Titik A (perempatan watu sinom) 7°23’4,7” = 04,7” x 30,92 m = 145,32 m Jarak pada peta = 14532

10.000=1,45cm

- Titik B (pertigaan Tambak Sogra) 7°23’19,6” = 19,6” x 30,92 m = 606,32 m Jarak pada peta = 60632

10.000=6,06cm  Lintang C – D  7°25’00”

- Titik C (Jl. SMP 4 Purwokerto) 7°24’57,9” = 2,1” x 30,92 m = 64,93 m Jarak pada peta = 10.0006493 =0,65cm

- Titik D (Lapangan Bojongsari) 7°25’00,3” = 0,3” x 30,92 m = 9,28 m Jarak pada peta = 10.0009280 =0,09cm

 Bujur A – C  109°12’00”

- Titik A (perempatan watu sinom) 109°12’6,6”= 6,6” x 30,92 m = 204,07 m Jarak pada peta = 2047

10.000=2,04cm

- Titik C (Jl. SMP 4 Purwokerto) 109°12’2,7” = 2,7” x 30,92 m = 83,48 m Jarak pada peta = 83,48

10.000=0,83cm  Bujur B – D  109°17’00”

- Titik B (pertigaan Tambak Sogra) 109°16’32,4” = 19,6” x 30,92 m = 853,39 m Jarak pada peta = 10.00085339=8,53cm

= 228,8 m Jarak pada peta = 10.00022880=2,29cm

 Interval antar lintang

Interval antar lintang 30” = 30” x 30,92 = 927,6 Interval pada peta = 92760

10.000=9,3cm  Interval antar bujur

Interval antar bujur 30” = 30” x 30,92 = 927,6 Interval pada peta = 10.00092760=9,3cm

 Sehingga diperoleh besar nilai koordinat pada lintang sebagai berikut : Garis lintang I = 7°22’00”

Garis lintang II = 7°22’00” + 0°00’30” =7°22’30” Garis lintang III = 7°22’30” + 0°00’30” =7°23’00” Garis lintang IV = 7°23’00” + 0°00’30” =7°23’30” Garis lintang V = 7°23’30” + 0°00’30” =7°24’00” Garis lintang VI = 7°24’00” + 0°00’30” =7°24’30” Garis lintang VII = 7°24’30” + 0°00’30” =7°25’00” Garis lintang VIII= 7°25’00” + 0°00’30” =7°25’30”

 Sehingga diperoleh besar nilai koordinat pada bujur sebagai berikut: Garis bujur I = 109°11’30”

Garis bujur II = 109°11’30” + 0°00’30” = 109°12’00” Garis bujur III = 109°12’00” + 0°00’30” = 109°12’30” Garis bujur IV = 109°12’30” + 0°00’30” = 109°13’00” Garis bujur V = 109°13’00” + 0°00’30” = 109°13’30” Garis bujur VI = 109°13’30” + 0°00’30” = 109°14’00” Garis bujur VII = 109°14’00” + 0°00’30” = 109°14’30” Garis bujur VIII = 109°14’30” + 0°00’30” = 109°15’00” Garis bujur IX = 109°15’00” + 0°00’30” = 109°15’30”

Garis bujur X = 109°15’30” + 0°00’30” = 109°16’00” Garis bujur XI = 109°16’00” + 0°00’30” = 109°16’30” Garis bujur XII = 109°16’30” + 0°00’30” = 109°17’00” Garis bujur XIII = 109°17’00” + 0°00’30” = 109°17’30” Garis bujur XIV = 109°17’30” + 0°00’30” = 109°18’00” Garis bujur XV = 109°18’00” + 0°00’30” = 109°18’30” Table 6.1. Kesimpulan Lintang Bujur I. 7°22’00” II. 109°11’30” I. 7°22’30” III. 109°12’00” II. 7°23’00” IV. 109°12’30” III. 7°23’30” V. 109°13’00” IV. 7°24’00” VI. 109°13’30” V. 7°24’30” VII. 109°14’00” VI. 7°25’00” VIII. 109°14’30” VII. 7°25’30” IX. 109°15’00” X. 109°15’30” XI. 109°16’00” XII. 109°16’30” XIII.109°17’00” XIV. 109°17’30” XV. 109°18’00” XVI.109°18’30” 109o11’00” 12’00” 12’30” 13’00” 13’39” 14’00” 14’30” 15’00” 15’30” 16’00” 16’30” 17’00” 17’30” 18’00” 109o18’30” 7o22’00” 7o22’30” 7o23’00” 7o23’30” 7o24’00” 7o24’30” 7o25’00” B A C D 7o25’30”

B. Pembahasan

Djauhari Noor, 2009 juga menyatakan peta pada dasarnya adalah sebuah data yang dirancang untuk mampu menghasilkan sebuah informasi geografis melalui proses pengorganisasian dari kolaborasi data lainnya yang berkaitan dengan bumi untuk menganalisis, memperkirakan dan menghasilkan gambaran kartografi. Informasi ruang mengenai bumi sangat kompleks, tetapi pada umunmya data geografi mengandung 4 aspek penting, yaitu:

1. Lokasi-lokasi yang berkenaan dengan ruang, merupakan objek-objek ruang yang khas pada sistem koordinat (projeksi sebuah peta).

2. Atribut, informasi yang menerangkan mengenai objek-objek ruang yang diperlukan. Hubungan ruang, hubungan lojik atau kuantitatif diantara objek-objek ruang, Waktu, merupakan waktu untuk perolehan data, data atribut dan ruang.

3. Pemetaan adalah suatu proses menyajikan informasi muka Bumi yang berupa fakta, dunia nyata, baik bentuk permukaan buminya maupun sumberdaya alamnya, berdasarkan skala peta, sistem proyeksi peta, serta simbol-simbol dari unsur muka Bumi yang disajikan. 4. Penyajian unsur-unsur permukaan bumi di atas peta dibatasi oleh garis tepi kertas serta

grid atau gratikul. Diluar batas tepi daerah peta, pada umumnya dicantumkan berbagai keterangan yang disebut tepi. Keterangan tepi ini dicantumkan agar peta dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh pemakai peta. Penyusunan dan penempatan keterangan tepi bukan merupakan hal yang mudah, karena semua informasi yang terletak disekitar peta harus memperlihatkan keseimbangan.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dengan perhitungan Lintang

 A – B  7°23’00”

- Titik A (perempatan watu sinom) 7°23’4,7” = 04,7” x 30,92 m = 145,32 m

Jarak pada peta = 10.00014532=1,45cm

- Titik B (pertigaan Tambak Sogra) 7°23’19,6” = 19,6” x 30,92 m = 606,32 m Jarak pada peta = 10.00060632=6,06cm

 Lintang C – D  7°25’00”

- Titik C (Jl. SMP 4 Purwokerto) 7°24’57,9” = 2,1” x 30,92 m = 64,93 m Jarak pada peta = 6493

10.000=0,65cm

- Titik D (Lapangan Bojongsari) 7°25’00,3” = 0,3” x 30,92 m = 9,28 m Jarak pada peta = 9280

10.000=0,09cm  Bujur A – C  109°12’00”

- Titik A (perempatan watu sinom) 109°12’6,6”= 6,6” x 30,92 m = 204,07 m Jarak pada peta = 10.0002047 =2,04cm

- Titik C (Jl. SMP 4 Purwokerto) 109°12’2,7” = 2,7” x 30,92 m = 83,48 m Jarak pada peta = 83,48

10.000=0,83cm  Bujur B – D  109°17’00”

- Titik B (pertigaan Tambak Sogra) 109°16’32,4” = 19,6” x 30,92 m = 853,39 m Jarak pada peta = 10.00085339=8,53cm

- Titik D (Lapangan Bojongsari) 109°16’52,6” = 7,4” x 30,92 m = 228,8 m Jarak pada peta = 10.00022880=2,29cm

Garis bujur dijadikan sebagai dasar penentuan pembagian waktu di seluruh bumi. Setiap jarak 15 derajat ke arah bujur timur atau ke arah bujur barat akan menunjukkan selisih waktu sebanyak 1

jam (60 menit).

Garis bujur digunakan untuk memperagakan gerak rotasi bumi. Selama sehari bumi akan berotasi hingga 360 derajat. 360 derajat tersebut akan terbagi menjadi 24 jam. Karena itu dalam pembagian waktu di bumi, setiap jarak 15 derajat akan menghasilkan selisih waktu sebanyak 1 jam. Dasarnya yaitu 360°/24 jam = 15°. Jadi setiap rotasi bumi sebanyak 15 derajat artinya menghabiskan waktu sebanyak 1 jam.

Garis bujur dapat dijadikan sebagai alat peraga siang dan malam. Siang dan malam muncul sebagai akibat adanya rotasi bumi dan penyinaran matahari. Melalui pengertian terhadap adanya rotasi bumi beserta pembagian bumi menjadi bujur timur dan bujur barat kita akan mengetahui bagaimana suatu proses siang dan malam itu terjadi. Selain itu, garis bujur juga akan menjelaskan mengenai perbedaan penanggalan. Pada Garis bujur 180 derajat yang melewati benua di dunia yakni Samudera Pasifik dianggap sebagai garis penanggalan internasional. Pada garis bujur 180 derajat inilah perbedaan penanggalan akan terjadi. Bila di bagian timur sudah memasuki hari selasa, maka di bagian barat masih berada pada hari senin.

Peta adalah suatu penyajian pada bidang datar dari seluruh atau sebagian unsur permukaan bumi digambar dalam skala tertentu dan sistem proyeksi tertentu. Peta seringkali sangat efektif untuk menunjukkan lokasi dari obyek obyek alamiah maupun obyek buatan manusia, baik ukuran maupun hubungan antara satu obyek dengan obyek lainnya (Djauhari Noor, 2009).

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Interpretasi citra adalah perbuatan mengkaji foto udara dan atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi obyek dan menilai arti pentingnya obyek tersebut. (Estes dan Simonett dalam Sutanto, 1994:7) Menurut Lintz Jr. dan Simonett dalam Sutanto (1994:7),

ada tiga rangkaian kegiatan yang diperlukan dalam pengenalan obyek yang tergambar pada citra, yaitu:Deteksi, adalah pengamatan adanya suatu obyek,Identifikasi, adalah upaya mencirikan obyek yang telah dideteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup,Analisis, yaitu pengumpulan keterangan lebih lanjut.

2. Teknik mengutip peta yang berasal dari peta dasar adalah salah satu keterampilan dasar untuk mengetahui keberadaan suatu wilayah berdasarkan fungsinya, seperti peta DAS, peta penggunaan lahan, peta aliran sungai, peta kemiringan lereng, dan lain-lain.Peta dasar yang digunakan dalam teknik ini ialah peta fotografi atau rupa bumi. Semakin detail informasi yang ingin dicapai, maka skala peta yang dibutuhkan harus semakin besar, yaitu skala 1 : 25.000 atau yang lebih besar.

B.Saran

Berdasarkan praktikum acara 6 tentang membuat peta dari hasil tutupan lahan foto udara seharusnya praktikan lebih teliti dalam hal penyusunan supaya tidak terjadi kesalahan dalam penyusunan.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, J.B. (1987). Introduction To Remote Sensing : Third Edition. NewYork : The Guilford Press

Djauhari Noor, 2009. Pengantar Geologi.Jakarta

Estes J.E et al.1983. Fundamentals Of Image Analysis: Analysis Of Visible and Thermal Infared Data, In : Manual Of Remote Sensing, vol.1 , Second Edition, R.N. Colwell : ed. –in- chief , American Society Of Photogrammetry , Falls Church, Virginia.

Lillsand Use Planning and Remote Sensing, Martinus Nijhoof Publisher,Doldrecht.

Lintz,J.Jr. and D.S.Simonett ,1976, Remote Sensing of Environtment, Addison – Wesley Publishing Company , London.

Lo, C.P.1976.Geographical Application of Remote Sensing, David and Charles, London.

T.M. and R.W. Kiefer,1994.Remote Sensing and Image Interpretation.Third Edtion.John Wiley and sons ,New York Lindgren,D.T.,1985, Land

Malingreau, J.P. (1978), Penggunaan Lahan Pedesaan Penafsiran Citra untuk Inventarisasi dan Analisisnya. : Pusat Pendidikan Interpretasi

Citra PJ dan Survey Terpadu UGM BAKO-SURANAL Yogyakarta

Rinaldi Munir. 2004. Pengolahan Citra Digital. Bandung : Informatika

Sandy, I Made, 1987. Esensi Kartografi. Jakarta : Jurusan Geografi FMIPA Ul

Dalam dokumen LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM INFORMASI GEOGR (Halaman 78-88)

Dokumen terkait